31 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mahindu, Si Perempuan Tembikar

Mas Ruscitadewi by Mas Ruscitadewi
July 10, 2026
in Ulas Buku
Mahindu, Si Perempuan Tembikar

Risalah Perempuan-Perempuan Tembikar yang dipakai sebagai judul kumpulan puisi ini mengisyaratkan pilihan, penilaian dan sudut pandang penyair dalam membahas masalah (risalah) sebagai penulis yang berjenis kelamin perempuan, yang dimaknai mewakili bumi/ibu, sebagai tanah, variasi, jenis, campuran, turunannya dalam bentuk, rupa, sifatnya sebagai “tembikar”, wadah dari tanah liat yang dibuat atau “diciptakan” oleh manusia yang berbentuk wadah (mengandung ruang dalam waktu) dengan budi dan dayanya, dengan memanfaatkan bantuan air, api, orang lain, unsur alam lain, alat sederhana maupun mesin. Tembikar sebagai hasil karya manusia, bisa berarti satu, dua, banyak juga bagian, pecahan, dari yang utuh, besar, kecil sampai yang terkecil, penting, sangat penting, tidak penting, sampai yang sangat tidak penting.

Masalah perempuan bagi penyair (Mahindu) seberapa pun penting dan tidak pentingnya, harus dicatat dan semuanya dapat tempat (meminjam istilah Chairil Anwar dalam puisi “Catatan Tahun 1946”). Keluasan bahasan membuat penulis membagi bidang-bidang bahasannya menjadi lima tema besar: Perempuan dan Air, Perempuan dan Udara, Perempuan dan Eter, Perempuan dan Tanah, dan Perempuan dan Api.

Buku kumpulan puisi karya Mahindu

Lima Subtema

Pembagian tema menjadi lima (5) subtema ini pada akhirnya tidaklah bisa berlaku secara mutlak karena unsur-unsur masalah yang dihadapi penulis (sebagai perempuan) dan perempuan-perempuan lainnya tak pernah terbangun dari hanya satu unsur yang berdiri sendiri, tetapi selalu saling bersinggungan dan saling kait-mengait dengan unsur-unsur lainnya. Hal ini terbaca, terlihat, dan terpahami dari puisi Mahindu, baik secara sendiri-sendiri maupun keseluruhan.

Memudahkan Pembaca

Dalam hal pembagian lima subtema itu marilah kita pahami sebagai usaha penulis memudahkan pembaca dalam memasuki, memahami, mengkaji dan menghayati puisinya. Pembagian ini menjadi penting bagi pembaca pemula, tetapi akan menghambat pembebasan bagi pembaca yang sesungguhnya.
Pembagian subtema ini sebaiknya kita pahami dalam kaitan dengan posisi pengarang yang selain sebagai pencipta, juga seorang guru yang merasa memiliki tanggung jawab pada murid “pembaca” agar tak tersesat. Selain itu, juga merupakan “rambu” mengenai masalah perempuan yang disajikan oleh perempuan (Mahindu) dan ditujukan oleh perempuan-perempuan lainnya.

Secara umum puisi-puisi yang ditulis Mahindu itu sangat kuat dan mendalam dengan pilihan diksi yang singkat, padat, indah dan penuh makna. Pada puisi-puisi pendeknya karya Mahindu menunjukkan jenis puisi ekspresif (menuliskan apa yang dilihat, didengar, dipikirkan dan dirasakan oleh penyair terhadap seseorang tokoh (diri/orang lain) terhadap suatu masalah, kondisi, peristiwa dan lain-lain.

Perempuan dan Air

Pada puisi dengan subtema “Perempuan dan Air”, ada puisi di bawah ini:

Lelap

Ibu dobrak pintu lelapku
Terjaga ruas dini berserakan waktu

Siksa dingin nalar nafas bau
Sampah mendesak ingin menenggelamkanku
menutup langit-langit berselimut salju
menggelegar ungu di atas tungku
kuda madu kaki mata beradu
menekan dagu jendela atas suhu
tepuk lutut ibu
terjaga mata kaku
usap tugu buku
Ayo keluar pintu
Suara tertahan pilu

Esensi puisi “Lelap” itu terletak pada dua baris akhir puisi: “….Ayo keluar pintu.Suara tertahan pintu. “

Puisi menarik lainnya adalah puisi berjudul “Risalah Perempuan Tembikar” , seperti berikut:

Perempuan itu lahir dari tembikar pecah
Atas jukung-jukung arwah
Serpihan darah dan nadinya adalah lautan sekam merah
Menumpuk di atas bara kolektor penjelajah
Samudra liar angin mereda arah
Tinggalkan jangkar keinginan bersekolah

Suara bergemuruh bocah karang-karang celah
Mengarah jangkar menimbun ikan, garam lembah
Di palung kayu ini saja kau belajar menghitung curah
Berapa lubang kepiting kau hafal jumlah
Sudahkah rumput laut berbiak alkisah
Semangat menulis upah
Ceria camar bernyanyi anugerah

Esensi dari puisi ini terletak pada kalimat penutupnya, “….. Ceria camar bernyanyi anugerah. “

Perempuan dan Udara

Pada puisi subtema “Perempuan dan Udara”, ada puisi berjudul “Antara Tabanan Denpasar. ” :

Lewati tumpukan tembikar
Kilatan cahaya mekar menebar
Udara pengap memar
Saringan pembuangan mencakar liar

Bukan kucing sangar
Tutupi tinja belukar
Bukan monyet rambat kubur
Saudara senyap lumpur

Namun wangi tapak jailmu
Tanjaki tangki septik tuna debu
Apatah hidupmu penuh jentik jalur kuru
Esensi dari puisi ini terletak pada kalimat penutupnya;…. Apakah hidupmu penuh jentik jalur kuru.

Perempuan dan Eter

Pada puisi subtema “Perempuan dan Eter”, ada puisi berjudul:

‘Langkah Kaki”

Sepak kerikil
Kaki-kaki jail
Langkah degil
Anak-anak bedil
Suara-suara batil

Baris mengupil
Debu-debu bintil
Lewati bambu-bambu bugil
Sungai-sungai bangil
Jatuh pagi memanggil
Esensi dari puisi ini terletak pada kalimat penutupnya;…. Jatuh pagi memanggil.

Perempuan dan Tanah

Pada puisi subtema “Perempuan dan Tanah”, ada puisi berikut ini:

Lembar Museum Sejati
Tujuhbelas perempuan beruban
Kenakan pantalon panjang merah bata
Bersimpuh bibir putri malu pinggir sawah
Didampingi sesosok laki-laki
pintal mentari penuhi kuali
putih benang sari
kuning benang sesaji
hitam benang amunisi
merah benang tradisi
abu-abu benang tak pasti
Tenun setiap hari
Lembar museum sejati

Penaka bocah kunyah gulali
Semangka, melon ini hari
Padi tak ada lagi
Esok lusa ambil tembikar, pasir, atau rumput cabuti
Petik angkut bawa pedati
Kepala sangga sambil bernyayi
Kaki menapak lekuk menari
Lembar museum sejati

Esensi dari puisi ini terletak judulnya yang diulang pada kalimat penutupnya;”….Lembar museum sejati.”

Perempuan dan Api

Pada puisi subtema “Perempuan dan Api”, ada puisi seperti ini: “Api”

Api Lebur Diri
Api Suara Hati
Api Sakti Suci
Api Durga Api Kali
Api Brahma Api Agni
Api Asap Api Tembikar

Esensi dari puisi ini terletak pada dua kata dan kalimat penutupnya;” …. Api Sumbu penyangga alam semesta.

Mahindu saat ujian

Juga bisa dibaca pada pusi berjenis narasi yang lebih panjang berjudul “Mesatya”

Mesatya

Tiga ribu langkah kaki kuda aku menapak Orang-orang sudah penuh sesak
Ada juga abdi yang sudah di sini di hari ke tujuh sebelum pengabenan Menghaturkan beras, kopi, tembakau, janur, kelapa, pisang,
Manggis, Durian, Rambutan, Duku, Langsat, Salak, Binjai, Nanas, Alpukat, Jambu Biji, Jambu Mawar, Jamblang, Kecapi, Kedondong, Kepundung, Mangga, Gowok, Buni, talas, ketela, jagung, seisi kebun Penuhi jineng-jineng di ujung Barat Daya bencingah Kerajaan
Saksikan pelaksanaan pesucian atau upacara ngeringkes, ngelelet, Pangeringkesan, Singaskara, mapegat terkhusus keluarga, mapag toya, persiapan Bade dan lembu, sehari sebelum pengabenan
Sambil menghayati alunan kidung-kidung Pitra Yadnya kidung ketenangan roh, lancarkan prosesi penyucian
Kidung Tantri persiapan dan penurunan jenazah
Kidung Wasenari, kidung Ranggalawe, apa yang bisa dilantunkan
Parasatya dipingit, kaki tak boleh menapak, hiburan disuguhkan, wejangan kerohanian diberikan, didampingi selalu pendeta perempuan sebelum hari penghakiman
Jempiring, kau takutkah akan kematianmu nantiJepun, tidak, karena ini awal keabadian hidupku, derajatku akan meninggi, martabat keluargaku dipertaruhkan di sini Jempiring, bukankah ini pamrih, bukankah ini konyol, aku tak ingin mati sia-sia, hidupku masih panjang
Jepun, pamrih, bukan, keiklasan menuju kesucian, ketenaran, kemasyuran, kewibawaan, sulit ditemukan, sekarang saatnya mengubah darah hitamku jadi biru langit, aku bisa naik Bade Tumpang Pitu, aku tak mau mayatku diusung dengan hanya bambu, ditutupi kasa saja Jempiring, aku tak mau ditikam punggawa, dan didorong ke api, pasti kesakitan, kepanasan, aku tak rela

Jepun, makanya ikuti saja prosesi ini, hidup atau mati, kita pasti ditikam, tidak kita tidak ditikam sebelum terbakar, bayangkan romantisnya, bukankah Dewi Madri, adik Salya Raja Madra membakar dirinya bersama jenazah Pandu, ayah Nakula-Sadewa, bukankah Sita membakar dirinya demi kesucian cintanya pada Rama bukan Alengka Rahwana Jempiring, tidak ini konyol, tidak ini diam, tidak ini jebakan, dari awal sudah terjebakJepun, tidak ini diam, tidak ini sunyi, menarilah buatlah Dewa Krisna senang, buatlah Dewa Siwa bahagia Jempiring, jangan bawa nama-nama dewaPendeta perempuan mendengar percakapan mata batin mereka, tapa kalian, tapa suara, yoga suara, yoga brata, yoga pengendalian diri, tak ada kata untuk diri sendiri, hanya kesucian, keikhlasan, kebenaran sejati
Perapian telah menyala mulai pagi tiba di hari Mesatya Redite Wage Wuku Landep Bade Tumpang Solas karya Pelebonan Nyawa Ngasti Wedana Bade menara pengusung jenazah Bangkiang tempat transisi jiwa, istana tingkatan roh sementara sampai peristirahatan terakhir Kemegahan, keseimbangan Karang Boma penyucian roh, penghancuran energi negatif Burung Garuda di atasnyaLembu wadah pembakaran Diusung, melingkar tiga kali saat sampai di Catus Pata persimpangan jalan, kuburan, haturkan Purwa daksina, gambelan Baleganjur, alunannya semakin energik, Gambang, Angklung, Selonding, Gender Wayang
Jepun, Raja Bulan mangkat jenazahnya telah diturunkan dari Bade Tumpang Solas, kita juga turun dari bade kita, katanya di sela-sela tarian Baris Memedi, Baris Dadap, Baris BidugJempiring, kita mau diarak ke mana, sesekali meraba pecahan tembikar di balik kain putihnya
Jepun, ketika burung perkutut yang nanti disematkan di atas kepala kita lepas, kita pasti tidak sadarkan diri, kita akan terjun ke tungku segi empat itu, setelah jenazah Raja Bulan dimasukkan ke lembu dan raga beliau habis dibakarJempiring, memejamkan mata, api tetap berkobar, Gender Wayang membuat terhanyut, kita akan naik di tangga bambu itu dan menunggu dalam rumah yang sudah disediakan di tengah tangga itu Jepun, betul, kita ganti dulu kain warna putih kuning ini jadi putih-putih, biarkan pendeta perempuan itu memakaikan selendang ikat putih di dahi, biarkan perkutut menuntun Masing-masing burung perkutut digenggam atas kepala terlepas, raga pun lemas. Suara gedebug nyaring bergantian terdengar, api pembakaran membiru, bau kulit terbakar, retakan kering mendesing ringan di udara
Hancurkan pilar kekuasaannya, pasukan caping anyaman daun kelapa siapkan laras panjang ketegasan, Mesatya sudah tak layak, sepatu kekuasaan baru harus ditegakkan, kuasa akan bertumpu kepadaku, akhiri peradaban cacing tanah api yang tak pernah mau menyerah

Esensi dari puisi ini terletak pada bait terakhirnya;”…..Hancurkan pilar kekuasaannya, pasukan caping anyaman dauh kelapa siapkan laras panjang ketegasan, Mesatya sudah tak layak, sepatu kekuasaan baru harus ditegakkan, kuasa akan bertumpu kepadaku, akhiri peradaban cacing tanah api yang tak pernah mau menyerah. “

Selain puisi berjudul “Api” yang saya kutip di atas, Mahindu juga menuliskan puisi lain yang baris-barisnya juga hanya terdiri dari satu kata, seperti terlihat pada puisi berjudul “Air, “Udara” dan “Tanah”.

Saya sangat menghargai usaha pengarang untuk memperpanjang kata, kalimat dalam bait-baitnya untuk berbagi isi sajak agar bisa dipahami lebih dalam bagi lebih banyak orang dan kalangan.

Mahindu dan para penguji

Untuk kepentingan yang lebih luas, sebagai penyair, sebagai mahasiswa, sebagai guru, untuk pembaca, untuk kampus dan pembelajaran, Mahindu (penyair pendiam ini, nyaris seperti Umbu Landu Paranggi, sebagai batu bisu), semoga kumpulan puisi ini akhirnya mampu lebih bersuara panjang dan lantang, tanpa meninggalkan jati diri penyairnya sebagai perempuan dan kesejatiannya sebagai tembikar yang tegar untuk menjadi lebih berguna dan bermakna. [T]

  • Kumpulan Puisi berjudul “Risalah Perempuan- Perempuan Tembikar” karya I Gusti Ayu Putu Mahindu Dewi Purbarini disampaikan dalam Ujian Tugas Akhir Proyek Inovatif Karya Sastra Mahasiswa S2 Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni Universitas PGRI Mahadewa Indonesia.
Tags: BukuUlasan BukuUPMI Bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Festival Seni Bali Jani VIII, Panggung Kolaborasi dan Eksperimentasi Seni Bali

Next Post

‘Sanè Kantun Ring Manah’: Ketika Marlowe Bandem Menghidupkan Ingatan Budaya di Singaraja Literary Festival 2026

Mas Ruscitadewi

Mas Ruscitadewi

Sastrawan, dramawan, pecinta anak-anak. Penggagas berbagai acara seni-budaya di Denpasar termasuk Bali Mandara Nawanatya yang digelar pada setiap akhir pecan selama setahun.

Related Posts

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

by I Wayan Sujana Suklu
July 26, 2026
0
SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

SEBUAH buku yang selesai dibaca ketika halaman terakhir ditutup. Ada pula buku yang baru mulai dibaca justru setelah kita menutupnya....

Read moreDetails

Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

by Azwar
July 17, 2026
0
Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

Singkarak, Riang dan Sendunya merupakan kumpulan cerpen karya Ragdi F Daye yang diterbitkan Rumahkayu Pustaka pada Mei 2026. Buku ini...

Read moreDetails

“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

by I Made Sujaya
July 16, 2026
0
“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

Novel Koloni pertama kali diluncurkan oleh Gramedia pada 22 Agustus 2025. Sejak diluncurkan hingga kini, novel ini terus mendapat perhatian...

Read moreDetails

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

by IRZI
July 12, 2026
0
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

Read moreDetails

“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

by I Nyoman Darma Putra
July 9, 2026
0
“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love...

Read moreDetails

Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen

by Dede Putra Wiguna
July 3, 2026
0
Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen

Judul             : Rumah Penulis          : JS Khairen Penerbit        : PT Elex Media Komputindo Editor             : Trian Lesmana dan Dion Rahman...

Read moreDetails

Rahim, Luka, dan Hak atas Tubuh –Membaca “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama

by Dede Putra Wiguna
July 1, 2026
0
Rahim, Luka, dan Hak atas Tubuh  –Membaca “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama

Judul             : Korpus Uterus Penulis          : Sasti Gotama Penerbit        : Gramedia Pustaka Utama Editor             : Ruth Priscilia Angelina Tebal buku  ...

Read moreDetails

Menata Luka, Merawat Jiwa  —Pengantar Buku ‘Laki-laki yang Menata Lukanya di Rak Buku’ karya Angga Wijaya

by dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ
May 31, 2026
0
Menata Luka, Merawat Jiwa  —Pengantar Buku ‘Laki-laki yang Menata Lukanya di Rak Buku’ karya Angga Wijaya

SAYA masih ingat pertemuan pertama dengan Angga Wijaya di sebuah rumah sakit besar di Denpasar, bertahun-tahun lalu, ketika saya masih...

Read moreDetails

Membaca Racauan Arman Dhani

by Wayan Esa Bhaskara
May 30, 2026
0
Membaca Racauan Arman Dhani

Judul               : 30 Tahun dan Gagal Penulis            : Arman Dhani Tahun terbit    : Februari 2026 Penerbit          : EA Books...

Read moreDetails

Reruntuhan di Sekitar Sosok Ayah dalam ‘Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong’

by Inno Koten
May 20, 2026
0
Reruntuhan di Sekitar Sosok Ayah dalam ‘Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong’

TERBIT pada tahun 2024, Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong (selanjutnya disingkat AMKM) menjadi semacam pemenuhan keinginan Eka Kurniawan untuk menulis novel...

Read moreDetails
Next Post
‘Sanè Kantun Ring Manah’: Ketika Marlowe Bandem Menghidupkan Ingatan Budaya di Singaraja Literary Festival 2026

‘Sanè Kantun Ring Manah’: Ketika Marlowe Bandem Menghidupkan Ingatan Budaya di Singaraja Literary Festival 2026

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi
Khas

Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi

Evoria Baleganjur semakin menggeliat, “di sana tumbuh di sini tumbuh”. Baleganjur tidak saja sebagai musik prosesi, namun makin berkembang menjadi...

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena
Ulas Pentas

Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

MALAM itu, 20 Juli 2026, jam di ponsel menunjukan pukul 18:52 Wita, di depan gedung Ni Ketut Reneng, kampus Institut...

by Dewa Purwita Sukahet
July 31, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Insolvensi dan Kewajiban Debitur Pailit

PUTUSAN Mahkamah Konstitusi Nomor 181/PUU-XXIII/2025 menjadi salah satu penegasan penting dalam perkembangan hukum kepailitan di Indonesia. Melalui putusan tersebut, Mahkamah...

by I Made Pria Dharsana
July 31, 2026
Membincangkan Makna Pulang dalam Novel “Rumah” Karya J.S. Khairen di Singaraja Literary Festival 2026
Panggung

Membincangkan Makna Pulang dalam Novel “Rumah” Karya J.S. Khairen di Singaraja Literary Festival 2026

 “Rumah itu sebenarnya apa?” Pertanyaan itu terus mengemuka sepanjang diskusi buku Rumah karya J.S. Khairen pada hari ketiga Singaraja Literary...

by Dede Putra Wiguna
July 31, 2026
Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’
Ulas Pentas

Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

MALAM pembukaan Festival Bale Nagi 2026 di Taman Kota Felix Fernandez, Larantuka, Flores Timur, NTT, menyuguhkan sebuah pertunjukan yang memicu...

by Anselmus Dore Woho Atasoge
July 31, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

by Sugi Lanus
July 31, 2026
“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit
Ulas Film

“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

MALAM itu, gelap menggantung di langit Pantai Melasti, Ungasan, Badung, Bali. Debur ombak bersahutan dengan suara "cak... cak... cak..." yang...

by Angga Wijaya
July 31, 2026
SAMATRA: Membaca Isyarat-Isyarat Kecil dari Buki Gallery di Bumi Kinar Ubud
Ulas Rupa

SAMATRA: Membaca Isyarat-Isyarat Kecil dari Buki Gallery di Bumi Kinar Ubud

Di tepian aliran sungai Petanu, sebuah ruang seni baru tumbuh di tengah lanskap hijau Ubud. Buki Gallery di Bumi Kinar...

by Gustra Adnyana
July 31, 2026
13 Tahun Bersetia Dengan Jazz  ——Cerita Menjelang Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026
Panggung

13 Tahun Bersetia Dengan Jazz  ——Cerita Menjelang Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

Di tengah menjamurnya festival musik yang kian mengaburkan batas antar-genre demi menjangkau pasar yang lebih luas, Sthala Ubud Village Jazz...

by Wahyu Mahaputra
July 30, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
Klinik Seni Taxu Itu Akhirnya Cuma Urban Legend di Bali—Tanggapan Tulisan Made Chandra
Kritik Seni

Klinik Seni Taxu Itu Akhirnya Cuma Urban Legend di Bali—Tanggapan Tulisan Made Chandra

TULISAN Made Chandra berjudul “Let Them Cook: Saat Klinik Seni Taxu Hadir Mengacak-ngacak Arena Percaturan Seni Rupa Bali” menyentil pemikiran...

by Savitri Sastrawan
July 30, 2026
Ketika Semut Membangun Seorang Ratu—Membaca “Memayu Hayuning Bawana: Build the Queen” karya Dyan Brew
Ulas Rupa

Ketika Semut Membangun Seorang Ratu—Membaca “Memayu Hayuning Bawana: Build the Queen” karya Dyan Brew

ADA perubahan yang menarik dalam lanskap seni kriya Indonesia dalam dua dekade terakhir. Jika dahulu kriya lebih sering dipahami sebagai...

by Angga Wijaya
July 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co