FESTIVAL Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 dipastikan hadir lebih semarak. Festival yang menjadi ruang apresiasi seni modern, kontemporer, dan inovatif ini akan melibatkan sedikitnya 2.649 seniman melalui puluhan sajian, mulai dari pergelaran, parade, lomba, lokakarya, sarasehan, pameran, hingga penganugerahan Bali Jani Nugraha. Pembukaan FSBJ VIII akan berlangsung pada Sabtu, 11 Juli 2026, di Taman Budaya Provinsi Bali, bertepatan dengan penutupan Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII.
Kepala Dinas Kebudayaan (Disbud) Provinsi Bali, Ida Bagus Alit Suryana, mengatakan FSBJ VIII akan berlangsung selama 15 hari, 11–25 Juli 2026. Tahun ini festival mengusung tema “Atma Kerthi: Kembara Sukma (Pengembaraan Menuju Jiwa Mahasuci)”, yang dimaknai sebagai perjalanan jiwa menuju kemahardikaan yang suci. Tema tersebut diterjemahkan ke dalam lima konsep utama penyelenggaraan, yakni eksplorasi, eksperimentasi, lintas batas, kontekstual, dan kolaborasi.
“Penutupan PKB XLVIII sekaligus menjadi pembukaan FSBJ VIII. Sanggar atau kelompok seni yang tampil telah melalui proses kurasi,” ujar Alit Suryana didampingi Kepala Bidang Kesenian Disbud Bali, Putu Agus Yudiantara, di Kantor Disbud Bali, kemarin.
Malam pembukaan akan dimeriahkan pergelaran drama klasik kolosal Sumpah Drupadi garapan Sanggar Teater Mini yang diawali penampilan Tari Baris Bandana Manggala Yudha.
Menurut Alit Suryana, FSBJ diharapkan menjadi ruang lahirnya karya-karya baru yang tetap berakar pada nilai dan budaya Bali. Festival ini merupakan implementasi Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 4 Tahun 2020 tentang Penguatan dan Pemajuan Kebudayaan Bali. Jika PKB lebih menitikberatkan pada seni tradisi, klasik, dan kerakyatan, FSBJ menjadi panggung bagi seni modern, kontemporer, dan inovatif.
Ia menilai karakter FSBJ yang lebih dekat dengan seni modern akan menarik minat generasi muda. Selain sebagai ruang pertunjukan, festival ini juga menjadi wadah regenerasi bagi pelaku seni kreatif.
“Kita juga ingin meregenerasi generasi muda melalui kegiatan-kegiatan yang memang sebagian besar pesertanya berasal dari kalangan mereka,” ujarnya.
Tahun ini FSBJ menghadirkan sejumlah pengembangan dibandingkan penyelenggaraan sebelumnya. Seluruh program tetap mengacu pada tema festival, sementara beberapa cabang lomba yang sebelumnya hanya berskala regional Bali kini diperluas menjadi tingkat nasional dan diselenggarakan secara terbuka maupun daring. Empat cabang yang dibuka secara nasional ialah Menulis Cerpen, Menulis Naskah Drama, Film Pendek, dan Konten Kreatif.
Warna baru juga hadir melalui Pergelaran Band Rock Pregina Production yang memperkuat posisi FSBJ sebagai ruang ekspresi lintas genre bagi generasi muda. Kehadiran musik modern tersebut tidak sekadar menjadi hiburan, tetapi juga bagian dari upaya memperluas ruang berekspresi bagi pelaku seni muda.
Untuk meningkatkan kunjungan masyarakat, Disbud Bali menggandeng media massa dan memanfaatkan media sosial sebagai sarana promosi. Pemerintah Provinsi Bali menargetkan 23 ribu pengunjung selama festival berlangsung, meningkat dibandingkan FSBJ tahun lalu yang mencatat sekitar 18.178 pengunjung dalam 10 hari penyelenggaraan.
Selama 15 hari pelaksanaan, FSBJ VIII menghadirkan delapan materi utama, yakni Pawimba (Lomba), Adilango (Pergelaran), Utsawa (Parade), Beranda Pustaka atau Bursa Buku, Aguron-guron (Lokakarya), Timbang Rasa (Sarasehan), Pameran Megarupa, dan Bali Jani Nugraha.
Kategori Pawimba menghadirkan sembilan cabang lomba, yaitu Teater se-Bali, Tari Modern se-Bali, Film Pendek Tingkat Nasional, Musikalisasi Puisi, Konten Kreatif, Baca Puisi, Menulis Cerpen, Menulis Naskah Drama, dan Menyanyi Lagu Pop Bali.
Total keterlibatan mencapai 2.649 orang, terdiri atas 1.365 seniman pergelaran, 375 peserta parade, 745 peserta lomba, 76 peserta Beranda Pustaka, 76 peserta Pameran Megarupa, 150 peserta lokakarya, dan 300 peserta sarasehan.
Pada kategori lomba, cabang Menulis Cerpen menjadi yang paling diminati dengan 242 peserta. Selanjutnya Baca Puisi (88 peserta), Menulis Naskah Drama (66), Film Pendek (57), Menyanyi Lagu Pop Bali (43), Tari Modern (18), Musikalisasi Puisi (12), Konten Kreatif (12), dan Teater (9). Untuk menjaga kualitas penilaian, Disbud Bali melibatkan dewan juri dari kalangan akademisi, seniman, dan praktisi sesuai bidang masing-masing.
Sementara itu, kategori Adilango menghadirkan 21 paket pergelaran yang terdiri atas tiga pergelaran kolosal kolaborasi, 11 pergelaran kolosal, dan tujuh pergelaran sedang. Pergelaran kolosal kolaborasi akan diisi Sanggar Teater Mini pada pembukaan, Musika Jani Sanggar Rare Angon Sejati, serta Sanggar Seni Kokar Bali pada malam penutupan.
Pergelaran kolosal lainnya melibatkan Teater Selem Putih, Teater Agustus, PT Kuta Tunas Visual, Teater Kini Berseri, Komunitas Kertas Budaya, Komunitas Mahima, Orkestra ISI Bali, Naluri Manca, Kuta Kumara Agung, CV Pregina Production, hingga IODI Provinsi Bali. Adapun pergelaran sedang menampilkan Sekolah Musik Sangaji, Lawak STI Bali, Sanggar Kertha Art, Eternals Community, Teater ISI Bali, Sanggar Eka Mahardika, dan Komunitas Dermaga Seni Buleleng.
Kategori Utsawa (Parade) akan diikuti sembilan SMA/SMK dari berbagai kabupaten/kota di Bali, yakni SMA Negeri 1 Denpasar, SMA Katolik Santo Yoseph Denpasar, SMA Negeri 3 Denpasar, SMA Negeri 1 Tabanan, SMA Negeri 1 Gianyar, SMA Negeri 1 Semarapura, SMA Negeri 1 Amlapura, SMA Negeri 2 Kuta Selatan, dan SMK Negeri 4 Bangli.
Festival juga menghadirkan Beranda Pustaka yang dikelola Komunitas Aghumi di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali. Program ini tidak hanya menghadirkan pameran buku nasional dan buku penerima Bali Jani Nugraha, tetapi juga pameran kartun, dialog bersama penulis, sketsa mural, serta berbagai aktivitas literasi.
Di bidang seni rupa, Pameran Megarupa digelar melalui kolaborasi Komunitas Nata Citta Krama bersama ISI Bali di Gedung Kriya Taman Budaya Bali dan sejumlah lokasi strategis lainnya.
FSBJ VIII juga menyelenggarakan dua lokakarya dan dua sarasehan. Lokakarya mengangkat tema “Sastra Masuk Kurikulum: Di Mata Para Guru” dan “Kreasi Ogoh-ogoh di Era AI”. Sementara itu, sarasehan membahas “Karya Seni di Era Kecerdasan Buatan (Kolaborasi) dan Etika” serta “Dekolonisasi Narasi Lokal: Memposisikan Sastra/Seni Lokal di Tengah Pasar Nasional.”
Sebagai bentuk apresiasi kepada insan seni, Pemerintah Provinsi Bali kembali menganugerahkan Bali Jani Nugraha kepada 10 penerima yang dinilai memiliki prestasi, dedikasi, dan kontribusi terhadap perkembangan seni modern, kontemporer, dan inovatif di Bali. Saat ini proses penilaian masih berlangsung.
Selain menghadirkan berbagai aktivitas seni dan budaya, kawasan sisi selatan Taman Budaya Bali juga akan diramaikan 25 stan kuliner UMKM yang menjadi bagian dari ekosistem festival sekaligus ruang promosi bagi pelaku usaha lokal.
Rangkaian FSBJ VIII berlangsung setiap hari selama 11–25 Juli 2026. Masyarakat akan disuguhi pertunjukan teater, musik, tari modern, lawak, wayang boneka, orkestra, parade seni pelajar, pameran seni rupa, hingga forum diskusi dan lokakarya.
Festival akan ditutup pada 25 Juli 2026 di Panggung Terbuka Ardha Candra. Penutupan dirangkaikan dengan penganugerahan Bali Jani Nugraha, penyerahan hadiah juara I seluruh cabang lomba, serta pergelaran Sanggar Seni Kokar Bali sebagai puncak FSBJ VIII Tahun 2026.[T]
Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Jaswanto































