PERJALANAN panjang musik pop Bali menjadi sorotan dalam bedah buku Kéné Kéto: Musik Pop Bali karya I Made Adnyana pada ajang Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII. Diskusi yang berlangsung di Kalangan Ayodya, Taman Budaya Bali, Selasa, 21 Juli 2026, menghadirkan penulis buku, I Made Adnyana, sebagai narasumber utama, serta dosen Program Studi Sastra Jawa Kuno Universitas Udayana, I Ketut Eriadi Ariana, S.S., M.Hum., sebagai pembahas.
Bedah buku yang diselenggarakan Beranda Pustaka ini mengusung tema “Memotret Perjalanan Musik Pop Bali”. Kegiatan tersebut menjadi ruang untuk mengulas sejarah, perkembangan, hingga tantangan industri musik populer Bali di tengah perubahan zaman. Acara ini tidak hanya dihadiri para pencinta buku, tetapi juga siswa, mahasiswa, serta masyarakat yang penasaran terhadap perjalanan musik pop Bali dari masa ke masa.
Pada kesempatan itu, Adnyana memaparkan bahwa perkembangan musik pop Bali yang semakin masif dalam beberapa dekade terakhir merupakan fenomena yang menarik untuk dicermati. Ia mengajak peserta menelusuri perjalanan musik pop Bali sejak kemunculan rekaman lagu-lagu pop Bali pada era 1970-an, perubahan tren pada dekade 1980-an, 1990-an, hingga 2000-an, serta transformasi media distribusinya.
Peserta juga diajak melihat bagaimana musik pop Bali berkembang melalui berbagai fase, mulai dari era kaset, kemunculan grup-grup musik, peran penting studio rekaman, hingga perubahan industri musik di era digital.
“Awalnya berpangkasan, kemudian beralih ke VCD, DVD, YouTube, hingga akhirnya memasuki era media digital,” ujarnya.
Menurut Adnyana, perubahan medium distribusi tersebut menunjukkan bahwa lagu pop berbahasa Bali tetap memiliki tempat di hati masyarakat. Meski demikian, perkembangannya sangat dinamis karena dipengaruhi perubahan selera pendengar dan tren musik global.
“Memang ada kecenderungan, setelah dua dekade lagu pop Bali melahirkan berbagai tren, termasuk koplo, kini mulai muncul upaya membawakan kembali lagu-lagu pop Bali dengan nuansa lama seperti era 1990-an,” ungkapnya.
Melalui buku Kéné Kéto: Musik Pop Bali, ia menghadirkan catatan yang kritis sekaligus apresiatif mengenai perjalanan musik populer Bali beserta berbagai dinamika yang membentuk identitasnya hingga saat ini.
Penerima Penghargaan Bali Jani Nugraha 2019 yang dikenal sebagai pengamat musik, jurnalis, sekaligus akademisi itu juga membahas berbagai isu kontemporer, di antaranya perlindungan hak cipta bagi musisi lokal, perubahan pola konsumsi musik, serta peluang dan tantangan yang dihadapi pelaku industri kreatif di tengah perkembangan teknologi.
Diskusi ini diharapkan menjadi ruang temu bagi musisi, pegiat seni, akademisi, mahasiswa, hingga penikmat musik untuk bersama-sama merefleksikan perjalanan musik pop Bali. Kegiatan ini tidak hanya membedah sebuah buku, tetapi juga menjadi momentum untuk memahami bagaimana musik populer Bali terus beradaptasi dengan perkembangan teknologi, industri, dan selera masyarakat tanpa kehilangan akar budaya yang menjadi identitasnya.
Melalui bedah buku ini, Beranda Pustaka juga ingin mendorong lahirnya diskusi yang lebih luas mengenai dokumentasi sejarah musik Bali, sekaligus membuka perspektif baru tentang masa depan industri musik lokal di tengah berkembangnya ekosistem digital.[T]
Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Jaswanto






























