14 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kebaya Hari Ini, Masihkah Menutup Sesuai Adabnya?

Pande Susan by Pande Susan
July 24, 2026
in Esai
Kebaya Hari Ini, Masihkah Menutup Sesuai Adabnya?

Kebaya Tahun 80-an | Foto Pande Susan

KEMERIAHAN saya sebagai generasi milenial dalam berpakaian pada masa kanak kanak sangat jauh berbeda dengan gen alpha dan gen beta hari ini. Ngomong-ngomong, Selamat Hari Anak Nasional untuk anak-anak Indonesia.

Sebagai anak milenial yang datang dari keluarga sangat biasa-biasa saja, pakaian bukan menjadi suatu yang diperbaharui dalam periode waktu yang singkat. Tentunya saat itu belum ada online shop semasif hari ini, toko orange, toko hijau, tik tok bahkan facebook. Ditambah lagi saya adalah anak bungsu yang pada masa itu pewarisan pakaian dari kakak ke adik adalah hal yang wajar selama masih muat, padahal kakak saya adalah laki laki.

Barangkali karena pikiran itulah saya tidak begitu mempermasalahkan soal pakaian kebaya ketika pergi sembahyang ke pura. Tidak ada rengekan pada ibu agar saya punya kebaya baru setiap galungan dan kuningan. Sebuah kebaya hijau muda dipasangkan dengan kain endek kuning adalah pakaian kebaya pertama yang saya ingat miliki secara jelas. Tidak ada protes, tidak ada penolakan, langsung terima jadi.

Kebaya Pertama | Foto Pande Susan

Kebaya : Adab Ketimuran yang Dibawa Bangsa Barat

Kebaya, sebagai pakaian khas perempuan  muncul pada abad ke-15 dan ke-16. Pada masa ini, kebaya dikenakan oleh wanita bangsawan dan memiliki desain yang sederhana. Kebaya awalnya terbuat dari bahan yang ringan dan sering dihiasi dengan bordir halus. Pakaian ini menjadi simbol status dan kecantikan bagi perempuan pada saat itu. Asal usul nama Kebaya berasal dari Bahasa Arab “habaya” yang artinya busana yang memiliki labuh dan belahan di bagian depan. Lombar mengatakan ‘kebaya’ dari bahasa Arab ‘kaba’ yang memiliki arti pakaian. Bentuk-bentuk budaya kemudian berkembang sesuai dengan daerah di Indonesia.

Bali pada masa sebelum penjajahan Belanda belum mengenal kebaya secara luas, kebaya hanya digunakan oleh kaum bangsawan. Ketika itu eksotika perempuan Bali tanpa balutan busana tubuh bagian atas, hanya mengenakan kemben atau kamen. Tidak ada rasa malu karena begitulah adab pada masa itu. Pariwisata yang kemudian menjadi promosi pulau tropis ini membawa adab baru, bagian tubuh yang dianggap aurat haruslah ditutup. Kebaya Bali sendiri memiliki ciri khas pada bagian pelengkapnya yaitu adanya kain yang melingkar pada bagian pinggang disebut selendang atau senteng dalam bahasa Bali. Kebaya kemudian menjadi busana wajib jika pergi sembahyang ke Pura, melekatlah kebaya dengan aktivitas adat di Bali, termasuk kegiatan adat di masyarakat. Kebaya menjadi ciri khas orang Bali padahal Jawa lebih dahulu mengenalnya.

Ragam Kebaya Indonesia | Foto: Pinterest           

            

Kebaya Bali | Foto Pande Susan

 

Tradisi dan Formalitas : Peraturan Pemerintah Atau Desa Kalapatra?

Ingatan saya kembali pada model kebaya yang sering ibu kenakan saat saya masih taman kanak-kanak. Model kebaya awal tahun milenium kedua masih memiliki tangan panjang dengan bet (kain tambahan di bagian dada) untuk meletakkan kancing pet, sebutan kancing yang khas pada kain kebaya karena suaranya yg ditimbulkan ketika disatukan berbunyi “klepet-klepet”. Model kebaya ini disebut kutu baru, masih ada hingga saat ini. Kain yang digunakan dominan brokat bermotif padat dengan lubang lubang motif yang tidak terlalu banyak. Bentuk kerah lehernya pun dilipat sederhana, menutupi seluruh pundak hingga di atas dada. Kain atau kamen pelengkap bawahan adalah kain lembaran endek atau batik. Kesederhanaan tanpa modifikasi bisa jadi terlihat kuno tapi, bukankah demikian seharusnya adab berkebaya?

Mode Kebaya Awal Tahun 2000-an | Foto Pande Susan

                  

Sebagai gadis yang tumbuh dengan memprioritaskan kegiatan pendidikan sekaligus tradisi, ada pertanyaan yang justru timbul ketika saya sedang aktif-aktifnya bersekolah. Kenapa harus ada arahan menggunakan kain kebaya setiap hari purnama, tilem dan akhirnya wajib setiap hari Kamis?

Peraturan resminya baru terbit tahun 2018 lewat PERATURAN GUBERNUR BALI NOMOR 79 TAHUN 2018 TENTANG HARI PENGGUNAAN BUSANA ADAT BALI, tetapi sekolah-sekolah negeri sudah lebih dulu melaksanakannya. Bukan tanpa alasan munculnya kemangkelan dalam hati ketika harus terlilit kain dan longtorso selama 6 jam. Selain itu, berboncengan dan naik sepeda motor pun jadi sulit. Penggunaan kebaya di sekolah tidak memiliki peraturan khusus tetapi kami tetap mengikuti adab, pun dengan peraturan gubernur menyebutkan tata busana bali perempuan terdiri dari kebaya, kamen, senteng dan tata rambut yang rapi.

Ketika saya SMA, tahun 2010, sudah mulai bermunculan gaya kebaya baru, dengan mode utama kebaya bordiran di Bali. Sependek yang saya ingat, kain yang ditambah dengan motif bordiran berbahan tebal dan tidak menerawang. Lengan kebaya pun masih dibuat sepanjang lengan, bahkan panjang kebaya hingga sebatas paha. Model kutu baru masih berkembang karena pengguna kebaya mayoritas ibu-ibu di kegiatan adat. Pada masa ini mode kartini mulai naik daun karena potongannya yang lebih modis untuk anak muda yang mulai dituntut mengenakan kebaya lebih sering.

Berbeda dengan aturan pemerintah, beberapa daerah memiliki peraturan tertentu terkait penggunaan busana kebaya. Jika di desa saya tidak boleh menggunakan kebaya lengan pendek jika sembahyang ke pura, di Desa Munggu,Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, perempuan yang sudah menikah tidak boleh menggunakan selendang terurai. Lalu apakah kita harus tetap berbusana seperti tahun 90-an ke bawah?

Kebaya Tahun 80-an | Foto Pande Susan

                                     

Mode Berkembang, Makna Tumbang

Internet kemudian mulai masuk dalam genggaman alias kemunculan smartphone. Manusia menolak untuk tetap ada pada masa yang sama. Tumbuh, Berubah dan Berkembang adalah doa setiap manusia. Busana mengikuti mode masuk tidak lagi hanya lewat majalah, bombardier informasi menyerbu, termasuk gaya berbusana. Bermunculan berbagai mode kebaya anyar seperti lengan pendek dan kerah Sabrina yang tidak lagi menutupi seluruh pundak. 

Kebaya tidak lagi sebatas paha, ujungnya hanya sebatas pinggul. Kain-kain bordir dengan anyaman yang terbuka bukan lagi hal yang tabu. Sebuah pertanyaan yang wajar saja ditanyakan orang luar, kenapa baju kebaya orang bali seterbuka?. Belum lagi munculnya kain sifon yang lambat laun berbahan menerawang. Kain ini memang murah dan mau cari warna apa saja ada.

 Kain bahan kebaya sifon crepe | Foto: pinterest

Modifikasi pun meliarkan makna apa sebenarnya tujuan berkebaya. Apa identitas yang melekat antara perempuan Bali dan kebaya. Tidak hanya kerah, lengan pun dijadikan bentuk lonceng, kerut setengah, balon, terompet dan lain sebagainya.  Jika dulu orang harus menjahit di tukang jahit khusus untuk membuat kebaya, munculnya online shop mulai menyediakan kebaya yang sudah siap pakai dengan berbagai ukuran dan mode. Ini diikuti juga dengan kemunculan “kamen jadi”, tidak perlu sibuk melilitkan kain lembaran. Cukup pakai seperti menggunakan rok.

Kebaya dengan modifikasi lengan, leher, dan kamen jadi | Foto pinterest

Modifikasi lain yang muncul adalah penambahan payet atau manik-manik pada permukaan kain kebaya setelah kebaya selesai di jahit. Ongkosnya kadang lebih mahal daripada ongkos menjahitnya sendiri, ini belum termasuk harga kain kebaya premium yang bahkan bisa tembus jutaan rupiah. Semakin jauhlah makna kebaya sebagai penutup tubuh, pergeseran menjadi sekadar ajang pamer mode dan status sosial.

Ilustrasi gaya busana ke pura yang sempat viral | Foto: pinterest

                               

Memang belum ada regulasi resmi terkait bagaimana seharusnya berbusana adat ke pura untuk keseragaman, namun secara implisit Lontar Kramapura menyebutkan tiga kerangka dasar ajaran hindu. Ajaran ini dapat menjadi pedoman bagaimana berbusana yang termasuk dalam adab manusia berperilaku. Tattwa adalah pengetahuan atau ajaran agama yang harus dipahami masyarakat. Susila adalah sikap dan perilaku dalam pelaksanaannya agar manusia memiliki kebajikan dan kebijakan. Acara adalah tata cara pelaksanaan dalam wujud tradisi untuk berkomunikasi dengan Tuhan.

Perempuan : Identitas Terdekat dengan Kebaya

Perkembangan teknologi membawa perubahan hampir di semua lini, termasuk bagaimana manusia berperilaku. Saat ini kebaya bukan lagi hanya sekadar busana ke Pura atau acara formal. Tidak ada yang salah akan perkembangan budaya namun apa yang sering tampak di media sosial justru hanya untuk menarik mata bukan makna.

Masih segar barangkali di ingatan kita, MPLS salah satu sekolah di Bali yang mengharuskan mengunggah twibbon siswa baru ke instagram. Bukannya perkenalan hangat yang di dapat, justru pertanyaan yang menjurus SARA memenuhi kolom komentar. Lebih disayangkan lagi beberapa siswi mengenakan kebaya yang -maaf- mengumbar bagian yang seharusnya ditutupi pada twibbon tersebut. Apakah hari ini demi views, like dan komen tidak cukup dengan konten bermakna?

Tidak cukup sampai di situ, sebelumnya dan masih berjalan, perempuan sebagai pengguna kebaya kerap kali jadi objek visual dewasa untuk promosi produk secara online. Belum lagi unggahan-unggahan yang saya sendiri tidak berani berasumsi apakah dilakukan secara sengaja atau tidak. Yang jelas keindahan yang seharusnya dihormati bersama balutan kain yang adabnya mesti menutupi malah dipertontonkan demi warna merah berbentuk hati dan jumlah penjualan yang tinggi. Sejauh yang saya amati di platform digital, konten soft porn ini justru masif pada generasi Z yang lupa memfilter apa yang seharusnya ditampilkan, apa yang seharusnya menjadi privasi.

Jangan sampai kebebasan ini kemudian menganggu adat istiadat, norma kesopanan dan kesucian ketika kita hendak sujud bakti di Pura sebagai masyarakat Bali. Budaya memang seharusnya berkembang tapi bukan berarti makna luhur harus berubah. Kita memang datang telanjang ke dunia, bukan berarti harus menelanjangi diri.

Selamat Hari Kebaya Nasional [T]

Catatan : Kebaya was inscribed on the UNESCO Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity on December 4, 2024, recognizing its cultural significance across Southeast Asia.

Penulis: Pande Susan
Editor: Adnyana Ole

Tags: fashionHari Kebaya NasionalKebaya
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Lewat Digitalisasi dan “Green Tourism”, Mahasiswa Politeknik Negeri Bali Menghidupkan Potensi Desa Muncan, Karangasem

Next Post

Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”

Pande Susan

Pande Susan

Perempuan unyil yang punya rasa ingin tahu maksimal dengan latar belakang pendidikan ilmu pengetahuan alam dan praktik tradisional. Si unyil senang mengumpulkan pengalaman di berbagai bidang, seperti farmasi, lingkungan, dan basis data serta penelitian, praktik, dan dokumentasi budaya. Sedang tertarik mengawinkan sains-sosial untuk membedah pengetahuan tradisional sebagai dasar untuk kemajuan budaya. Keep in touch with me on instagram @earth_susan

Related Posts

Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

by Angga Wijaya
October 13, 2026
0
Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

Pagi ini, Selasa, 13 Oktober 2026, saya ikut mengantre bensin. Bukan di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), melainkan di...

Read moreDetails

Panggung Megah, Akar Goyah — Ketika Festival Seni Tidak Cukup Hanya Menjadi Tontonan, Tetapi Harus Meninggalkan Ingatan, Identitas, dan Pertanyaan Tentang Masa Depan Kebudayaan

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
0
Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada

SAYA merindukan sebuah festival seni dan budaya. Bukan semata-mata karena kemeriahannya, kerinduan saya justru tertuju pada sesuatu yang mungkin semakin...

Read moreDetails

Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

by I Ketut Suar Adnyana
October 12, 2026
0
Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

ADA satu pertanyaan mendasar yang seharusnya diajukan sebelum pemerintah memutuskan bahwa mulai 2027 siswa tidak lagi otomatis naik kelas: ketika...

Read moreDetails

Dalang di Antara Dirinya dan Tokohnya: Sebuah Pembacaan Teatrikal Atas Dialog dengan Sanghyang Kala

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sebuah momentum dalam kisah Sapuh Leger yang bagi saya selalu terasa ganjil, menegangkan, sekaligus sangat teatrikal yaitu ketika sang...

Read moreDetails

Wartawan Kehabisan Bensin

by Angga Wijaya
October 12, 2026
0
Wartawan Kehabisan Bensin

ADA cerita tentang wartawan yang kehabisan bensin di tengah perjalanan meliput berita. Sepeda motornya berhenti di pinggir jalan. Ia memeriksa...

Read moreDetails

Menara Gading Yogyakarta yang (Tidak Boleh) Lupa Rumahnya Sendiri

by S. Bekti Istiyanto
October 12, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

YOGYAKARTA tak pernah sekadar menjadi nama di peta. Ia adalah sebuah janji. Sejak Ki Hadjar Dewantara mendirikan Perguruan Taman Siswa...

Read moreDetails

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

by Raka Prama Putra
October 10, 2026
0
Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

KEPEMIMPINAN sejati bukan sekadar kemampuan memerintah, melainkan kesanggupan mengendalikan diri. Sebab, tantangan terbesar seorang pemimpin sering kali bukan datang dari...

Read moreDetails

“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

by Angga Wijaya
October 10, 2026
0
“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

"De Liunan Lala-Lele!" Kalimat itu sering saya dengar sebagai orang Bali, terutama ketika maksud lawan bicara dianggap kurang jelas, berputar-putar,...

Read moreDetails

China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

by Agung Sudarsa
October 10, 2026
0
China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

China yang Membuat Dunia Terpesona China hari ini sulit untuk tidak dikagumi. Dalam beberapa dekade, negeri itu berubah menjadi salah...

Read moreDetails

“In Money We Trust”, Kembalikan Baliku Padaku

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 9, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, akhir-akhir ini ramai dibicarakan orang, menyoal lontaran Arya Wedakarna (AWK). Di tengah polemik tentang pengalaman sejumlah...

Read moreDetails
Next Post
Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”

Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam "Kéné Kéto"

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈
Pameran

𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈

Menteri Luar Negeri India, 𝐃𝐫. 𝐒. 𝐉𝐚𝐢𝐬𝐡𝐚𝐧𝐤𝐚𝐫, 12 Oktober 2026, membuka pameran 𝑁𝑖𝑟ā𝑚𝑎𝑦ā𝑡𝑎: 𝐻𝑒𝑎𝑙𝑖𝑛𝑔 𝑎𝑛𝑑 𝑊𝑒𝑙𝑙𝑏𝑒𝑖𝑛𝑔 𝑖𝑛 𝑆𝑜𝑢𝑡ℎ 𝐴𝑠𝑖𝑎𝑛 𝑇𝑒𝑥𝑡𝑠...

by tatkala
October 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari
Ulas Buku

Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari

BUKU Rusdi Mathari berjudul Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya, genap berusia 10 tahuan. Buku Mojok, sebagai penerbit, merayakan ulang...

by Ahmad Hirzan Anwari
October 13, 2026
Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi
Esai

Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

Pagi ini, Selasa, 13 Oktober 2026, saya ikut mengantre bensin. Bukan di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), melainkan di...

by Angga Wijaya
October 13, 2026
Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada
Esai

Panggung Megah, Akar Goyah — Ketika Festival Seni Tidak Cukup Hanya Menjadi Tontonan, Tetapi Harus Meninggalkan Ingatan, Identitas, dan Pertanyaan Tentang Masa Depan Kebudayaan

SAYA merindukan sebuah festival seni dan budaya. Bukan semata-mata karena kemeriahannya, kerinduan saya justru tertuju pada sesuatu yang mungkin semakin...

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan
Esai

Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

ADA satu pertanyaan mendasar yang seharusnya diajukan sebelum pemerintah memutuskan bahwa mulai 2027 siswa tidak lagi otomatis naik kelas: ketika...

by I Ketut Suar Adnyana
October 12, 2026
“Garbha Wedana: A Story Before It Begins”, Menelusuri Ruang Penciptaan Sebelum Kelahiran
Pameran

“Garbha Wedana: A Story Before It Begins”, Menelusuri Ruang Penciptaan Sebelum Kelahiran

"GARBHA Wedana: A Story Before It Begins" menjadi pameran perdana Dyurupa, komunitas seniman rupa berbasis di Bali. Pameran yang melibatkan...

by Nyoman Budarsana
October 12, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Dalang di Antara Dirinya dan Tokohnya: Sebuah Pembacaan Teatrikal Atas Dialog dengan Sanghyang Kala

ADA sebuah momentum dalam kisah Sapuh Leger yang bagi saya selalu terasa ganjil, menegangkan, sekaligus sangat teatrikal yaitu ketika sang...

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
Wartawan Kehabisan Bensin
Esai

Wartawan Kehabisan Bensin

ADA cerita tentang wartawan yang kehabisan bensin di tengah perjalanan meliput berita. Sepeda motornya berhenti di pinggir jalan. Ia memeriksa...

by Angga Wijaya
October 12, 2026
Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia
Tualang

Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

SUDAH cukup lama saya ingin menuliskan kembali tiga kali perjalanan saya ke Ambon, Maluku. Setiap perjalanan memiliki tujuan yang berbeda....

by Ahmad Sihabudin
October 12, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Esai

Menara Gading Yogyakarta yang (Tidak Boleh) Lupa Rumahnya Sendiri

YOGYAKARTA tak pernah sekadar menjadi nama di peta. Ia adalah sebuah janji. Sejak Ki Hadjar Dewantara mendirikan Perguruan Taman Siswa...

by S. Bekti Istiyanto
October 12, 2026
Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin
Esai

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

KEPEMIMPINAN sejati bukan sekadar kemampuan memerintah, melainkan kesanggupan mengendalikan diri. Sebab, tantangan terbesar seorang pemimpin sering kali bukan datang dari...

by Raka Prama Putra
October 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co