3 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kebaya Hari Ini, Masihkah Menutup Sesuai Adabnya?

Pande Susan by Pande Susan
July 24, 2026
in Esai
Kebaya Hari Ini, Masihkah Menutup Sesuai Adabnya?

Kebaya Tahun 80-an | Foto Pande Susan

KEMERIAHAN saya sebagai generasi milenial dalam berpakaian pada masa kanak kanak sangat jauh berbeda dengan gen alpha dan gen beta hari ini. Ngomong-ngomong, Selamat Hari Anak Nasional untuk anak-anak Indonesia.

Sebagai anak milenial yang datang dari keluarga sangat biasa-biasa saja, pakaian bukan menjadi suatu yang diperbaharui dalam periode waktu yang singkat. Tentunya saat itu belum ada online shop semasif hari ini, toko orange, toko hijau, tik tok bahkan facebook. Ditambah lagi saya adalah anak bungsu yang pada masa itu pewarisan pakaian dari kakak ke adik adalah hal yang wajar selama masih muat, padahal kakak saya adalah laki laki.

Barangkali karena pikiran itulah saya tidak begitu mempermasalahkan soal pakaian kebaya ketika pergi sembahyang ke pura. Tidak ada rengekan pada ibu agar saya punya kebaya baru setiap galungan dan kuningan. Sebuah kebaya hijau muda dipasangkan dengan kain endek kuning adalah pakaian kebaya pertama yang saya ingat miliki secara jelas. Tidak ada protes, tidak ada penolakan, langsung terima jadi.

Kebaya Pertama | Foto Pande Susan

Kebaya : Adab Ketimuran yang Dibawa Bangsa Barat

Kebaya, sebagai pakaian khas perempuan  muncul pada abad ke-15 dan ke-16. Pada masa ini, kebaya dikenakan oleh wanita bangsawan dan memiliki desain yang sederhana. Kebaya awalnya terbuat dari bahan yang ringan dan sering dihiasi dengan bordir halus. Pakaian ini menjadi simbol status dan kecantikan bagi perempuan pada saat itu. Asal usul nama Kebaya berasal dari Bahasa Arab “habaya” yang artinya busana yang memiliki labuh dan belahan di bagian depan. Lombar mengatakan ‘kebaya’ dari bahasa Arab ‘kaba’ yang memiliki arti pakaian. Bentuk-bentuk budaya kemudian berkembang sesuai dengan daerah di Indonesia.

Bali pada masa sebelum penjajahan Belanda belum mengenal kebaya secara luas, kebaya hanya digunakan oleh kaum bangsawan. Ketika itu eksotika perempuan Bali tanpa balutan busana tubuh bagian atas, hanya mengenakan kemben atau kamen. Tidak ada rasa malu karena begitulah adab pada masa itu. Pariwisata yang kemudian menjadi promosi pulau tropis ini membawa adab baru, bagian tubuh yang dianggap aurat haruslah ditutup. Kebaya Bali sendiri memiliki ciri khas pada bagian pelengkapnya yaitu adanya kain yang melingkar pada bagian pinggang disebut selendang atau senteng dalam bahasa Bali. Kebaya kemudian menjadi busana wajib jika pergi sembahyang ke Pura, melekatlah kebaya dengan aktivitas adat di Bali, termasuk kegiatan adat di masyarakat. Kebaya menjadi ciri khas orang Bali padahal Jawa lebih dahulu mengenalnya.

Ragam Kebaya Indonesia | Foto: Pinterest           

            

Kebaya Bali | Foto Pande Susan

 

Tradisi dan Formalitas : Peraturan Pemerintah Atau Desa Kalapatra?

Ingatan saya kembali pada model kebaya yang sering ibu kenakan saat saya masih taman kanak-kanak. Model kebaya awal tahun milenium kedua masih memiliki tangan panjang dengan bet (kain tambahan di bagian dada) untuk meletakkan kancing pet, sebutan kancing yang khas pada kain kebaya karena suaranya yg ditimbulkan ketika disatukan berbunyi “klepet-klepet”. Model kebaya ini disebut kutu baru, masih ada hingga saat ini. Kain yang digunakan dominan brokat bermotif padat dengan lubang lubang motif yang tidak terlalu banyak. Bentuk kerah lehernya pun dilipat sederhana, menutupi seluruh pundak hingga di atas dada. Kain atau kamen pelengkap bawahan adalah kain lembaran endek atau batik. Kesederhanaan tanpa modifikasi bisa jadi terlihat kuno tapi, bukankah demikian seharusnya adab berkebaya?

Mode Kebaya Awal Tahun 2000-an | Foto Pande Susan

                  

Sebagai gadis yang tumbuh dengan memprioritaskan kegiatan pendidikan sekaligus tradisi, ada pertanyaan yang justru timbul ketika saya sedang aktif-aktifnya bersekolah. Kenapa harus ada arahan menggunakan kain kebaya setiap hari purnama, tilem dan akhirnya wajib setiap hari Kamis?

Peraturan resminya baru terbit tahun 2018 lewat PERATURAN GUBERNUR BALI NOMOR 79 TAHUN 2018 TENTANG HARI PENGGUNAAN BUSANA ADAT BALI, tetapi sekolah-sekolah negeri sudah lebih dulu melaksanakannya. Bukan tanpa alasan munculnya kemangkelan dalam hati ketika harus terlilit kain dan longtorso selama 6 jam. Selain itu, berboncengan dan naik sepeda motor pun jadi sulit. Penggunaan kebaya di sekolah tidak memiliki peraturan khusus tetapi kami tetap mengikuti adab, pun dengan peraturan gubernur menyebutkan tata busana bali perempuan terdiri dari kebaya, kamen, senteng dan tata rambut yang rapi.

Ketika saya SMA, tahun 2010, sudah mulai bermunculan gaya kebaya baru, dengan mode utama kebaya bordiran di Bali. Sependek yang saya ingat, kain yang ditambah dengan motif bordiran berbahan tebal dan tidak menerawang. Lengan kebaya pun masih dibuat sepanjang lengan, bahkan panjang kebaya hingga sebatas paha. Model kutu baru masih berkembang karena pengguna kebaya mayoritas ibu-ibu di kegiatan adat. Pada masa ini mode kartini mulai naik daun karena potongannya yang lebih modis untuk anak muda yang mulai dituntut mengenakan kebaya lebih sering.

Berbeda dengan aturan pemerintah, beberapa daerah memiliki peraturan tertentu terkait penggunaan busana kebaya. Jika di desa saya tidak boleh menggunakan kebaya lengan pendek jika sembahyang ke pura, di Desa Munggu,Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, perempuan yang sudah menikah tidak boleh menggunakan selendang terurai. Lalu apakah kita harus tetap berbusana seperti tahun 90-an ke bawah?

Kebaya Tahun 80-an | Foto Pande Susan

                                     

Mode Berkembang, Makna Tumbang

Internet kemudian mulai masuk dalam genggaman alias kemunculan smartphone. Manusia menolak untuk tetap ada pada masa yang sama. Tumbuh, Berubah dan Berkembang adalah doa setiap manusia. Busana mengikuti mode masuk tidak lagi hanya lewat majalah, bombardier informasi menyerbu, termasuk gaya berbusana. Bermunculan berbagai mode kebaya anyar seperti lengan pendek dan kerah Sabrina yang tidak lagi menutupi seluruh pundak. 

Kebaya tidak lagi sebatas paha, ujungnya hanya sebatas pinggul. Kain-kain bordir dengan anyaman yang terbuka bukan lagi hal yang tabu. Sebuah pertanyaan yang wajar saja ditanyakan orang luar, kenapa baju kebaya orang bali seterbuka?. Belum lagi munculnya kain sifon yang lambat laun berbahan menerawang. Kain ini memang murah dan mau cari warna apa saja ada.

 Kain bahan kebaya sifon crepe | Foto: pinterest

Modifikasi pun meliarkan makna apa sebenarnya tujuan berkebaya. Apa identitas yang melekat antara perempuan Bali dan kebaya. Tidak hanya kerah, lengan pun dijadikan bentuk lonceng, kerut setengah, balon, terompet dan lain sebagainya.  Jika dulu orang harus menjahit di tukang jahit khusus untuk membuat kebaya, munculnya online shop mulai menyediakan kebaya yang sudah siap pakai dengan berbagai ukuran dan mode. Ini diikuti juga dengan kemunculan “kamen jadi”, tidak perlu sibuk melilitkan kain lembaran. Cukup pakai seperti menggunakan rok.

Kebaya dengan modifikasi lengan, leher, dan kamen jadi | Foto pinterest

Modifikasi lain yang muncul adalah penambahan payet atau manik-manik pada permukaan kain kebaya setelah kebaya selesai di jahit. Ongkosnya kadang lebih mahal daripada ongkos menjahitnya sendiri, ini belum termasuk harga kain kebaya premium yang bahkan bisa tembus jutaan rupiah. Semakin jauhlah makna kebaya sebagai penutup tubuh, pergeseran menjadi sekadar ajang pamer mode dan status sosial.

Ilustrasi gaya busana ke pura yang sempat viral | Foto: pinterest

                               

Memang belum ada regulasi resmi terkait bagaimana seharusnya berbusana adat ke pura untuk keseragaman, namun secara implisit Lontar Kramapura menyebutkan tiga kerangka dasar ajaran hindu. Ajaran ini dapat menjadi pedoman bagaimana berbusana yang termasuk dalam adab manusia berperilaku. Tattwa adalah pengetahuan atau ajaran agama yang harus dipahami masyarakat. Susila adalah sikap dan perilaku dalam pelaksanaannya agar manusia memiliki kebajikan dan kebijakan. Acara adalah tata cara pelaksanaan dalam wujud tradisi untuk berkomunikasi dengan Tuhan.

Perempuan : Identitas Terdekat dengan Kebaya

Perkembangan teknologi membawa perubahan hampir di semua lini, termasuk bagaimana manusia berperilaku. Saat ini kebaya bukan lagi hanya sekadar busana ke Pura atau acara formal. Tidak ada yang salah akan perkembangan budaya namun apa yang sering tampak di media sosial justru hanya untuk menarik mata bukan makna.

Masih segar barangkali di ingatan kita, MPLS salah satu sekolah di Bali yang mengharuskan mengunggah twibbon siswa baru ke instagram. Bukannya perkenalan hangat yang di dapat, justru pertanyaan yang menjurus SARA memenuhi kolom komentar. Lebih disayangkan lagi beberapa siswi mengenakan kebaya yang -maaf- mengumbar bagian yang seharusnya ditutupi pada twibbon tersebut. Apakah hari ini demi views, like dan komen tidak cukup dengan konten bermakna?

Tidak cukup sampai di situ, sebelumnya dan masih berjalan, perempuan sebagai pengguna kebaya kerap kali jadi objek visual dewasa untuk promosi produk secara online. Belum lagi unggahan-unggahan yang saya sendiri tidak berani berasumsi apakah dilakukan secara sengaja atau tidak. Yang jelas keindahan yang seharusnya dihormati bersama balutan kain yang adabnya mesti menutupi malah dipertontonkan demi warna merah berbentuk hati dan jumlah penjualan yang tinggi. Sejauh yang saya amati di platform digital, konten soft porn ini justru masif pada generasi Z yang lupa memfilter apa yang seharusnya ditampilkan, apa yang seharusnya menjadi privasi.

Jangan sampai kebebasan ini kemudian menganggu adat istiadat, norma kesopanan dan kesucian ketika kita hendak sujud bakti di Pura sebagai masyarakat Bali. Budaya memang seharusnya berkembang tapi bukan berarti makna luhur harus berubah. Kita memang datang telanjang ke dunia, bukan berarti harus menelanjangi diri.

Selamat Hari Kebaya Nasional [T]

Catatan : Kebaya was inscribed on the UNESCO Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity on December 4, 2024, recognizing its cultural significance across Southeast Asia.

Penulis: Pande Susan
Editor: Adnyana Ole

Tags: fashionHari Kebaya NasionalKebaya
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Lewat Digitalisasi dan “Green Tourism”, Mahasiswa Politeknik Negeri Bali Menghidupkan Potensi Desa Muncan, Karangasem

Next Post

Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”

Pande Susan

Pande Susan

Perempuan unyil yang punya rasa ingin tahu maksimal dengan latar belakang pendidikan ilmu pengetahuan alam dan praktik tradisional. Si unyil senang mengumpulkan pengalaman di berbagai bidang, seperti farmasi, lingkungan, dan basis data serta penelitian, praktik, dan dokumentasi budaya. Sedang tertarik mengawinkan sains-sosial untuk membedah pengetahuan tradisional sebagai dasar untuk kemajuan budaya. Keep in touch with me on instagram @earth_susan

Related Posts

Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam

by I Ketut Suar Adnyana
November 3, 2026
0
Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam

BAHASA masyarakat tradisional menyimpan cara pandang yang khas dalam memahami dunia. Alam tidak hanya menjadi ruang tempat manusia hidup dan...

Read moreDetails

Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

by I Gusti Made Darma Putra
November 2, 2026
0
Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

PADA hari ketika manusia diajak menegakkan pagar, sebuah panggung kebudayaan justru dibuka selebar-lebarnya. Rabu, 4 November 2026, menjadi sebuah momentum...

Read moreDetails

Musik, Agama dan Politik

by Agung Sudarsa
November 2, 2026
0
Musik, Agama dan Politik

ADA sebuah pertanyaan sederhana yang menggelitik di tengah polemik konser Andrea Bocelli di Indonesia: apakah musik itu punya identitas agama...

Read moreDetails

Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

by I Ketut Suar Adnyana
November 1, 2026
0
Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

ADA yang ganjil dalam kehidupan demokrasi kita ketika identitas mahasiswa dapat dipakai sebagaimana seseorang mengenakan kostum untuk memainkan sebuah peran....

Read moreDetails

Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

by I Wayan Artika
November 1, 2026
0
Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

SETIAP kali melihat lukisan sapi, ingatan saya selalu kembali ke masa kecil di Desa Batungsel, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali....

Read moreDetails

Saraswati dan Kenaikan Kelas

by I Wayan Yudana
October 31, 2026
0
Saraswati dan Kenaikan Kelas

ADA suasana yang hampir selalu sama setiap kali tahun pelajaran berakhir. Wajah-wajah murid tampak sumringah ketika menerima rapor. Sebagian tersenyum...

Read moreDetails

Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

by tatkala
October 31, 2026
0
Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

BAGAIMANA jika perpustakaan sekolah tidak lagi sekadar ruang sunyi berisi rak buku, tetapi tempat yang "hidup" dan ada di genggaman...

Read moreDetails

Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
0
Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

ADA satu hari ketika buku-buku diupacarai. Buku pelajaran, buku cerita, kitab suci, hingga lontar-lontar tua mendapat perlakuan istimewa. Semuanya ditata...

Read moreDetails

Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan

by Luh Irma Susanthi
October 31, 2026
0
Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan

BALI dikenal sebagai Pulau Dewata, sebuah pulau yang tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga kekayaan tradisi, spiritualitas, dan nilai-nilai...

Read moreDetails

Di Ruang Tunggu Kehidupan

by Ahmad Sihabudin
October 30, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

PAGI itu, saya kembali terbangun dengan pikiran yang sama: hari ini harus ke rumah sakit mana lagi? Hampir setengah tahun...

Read moreDetails
Next Post
Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”

Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam "Kéné Kéto"

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Peringati Bulan Bahasa dan Sumpah Pemuda, Prima Mandiri School Asah Kreativitas dan Keberanian Siswa Lewat Berbagai Lomba
Pendidikan

Peringati Bulan Bahasa dan Sumpah Pemuda, Prima Mandiri School Asah Kreativitas dan Keberanian Siswa Lewat Berbagai Lomba

TIGA bendera kecil terangkat hampir bersamaan. Pertanyaan demi pertanyaan menguji ketangkasan para peserta. Ada yang sigap menjawab, ada pula yang...

by Dede Putra Wiguna
November 3, 2026
Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam
Esai

Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam

BAHASA masyarakat tradisional menyimpan cara pandang yang khas dalam memahami dunia. Alam tidak hanya menjadi ruang tempat manusia hidup dan...

by I Ketut Suar Adnyana
November 3, 2026
Road to Bali Digifest 2026, UPMI Bali Dorong Mahasiswa Berani Berinovasi
Pendidikan

Road to Bali Digifest 2026, UPMI Bali Dorong Mahasiswa Berani Berinovasi

KECERDASAN buatan atau artificial intelligence (AI) semakin dekat dengan kehidupan mahasiswa. Teknologi ini menawarkan kemudahan dalam belajar dan berkarya. Namun,...

by Dede Putra Wiguna
November 3, 2026
Tak Sekadar Memburu Juara, Jurnalis Muda Bali Belajar Memaknai Fakta di Pekan Jurnalistik UPMI Bali 2026
Pendidikan

Tak Sekadar Memburu Juara, Jurnalis Muda Bali Belajar Memaknai Fakta di Pekan Jurnalistik UPMI Bali 2026

FAKTA bisa menjadi cerita yang menggugah ketika berada di tangan yang tepat. Semangat itulah yang mengemuka dalam Pekan Jurnalistik Universitas...

by Dede Putra Wiguna
November 3, 2026
Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026
Esai

Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

PADA hari ketika manusia diajak menegakkan pagar, sebuah panggung kebudayaan justru dibuka selebar-lebarnya. Rabu, 4 November 2026, menjadi sebuah momentum...

by I Gusti Made Darma Putra
November 2, 2026
Poem by Sugi Lanus | Yamuna
Poetry

Poem by Sugi Lanus | Yamuna

My Yamuna, I bow down to your love,which has kept me awake while drowning in your flow for thousands of...

by Sugi Lanus
November 2, 2026
Bentrok Tafsir: Ketika Teks Membelah Persepsi — Membicarakan Cerpen “Ketika Kentongan Dipukul di Balai Banjar” karya I Nyoman Rasta Sindhu
Kritik Sastra

Bentrok Tafsir: Ketika Teks Membelah Persepsi — Membicarakan Cerpen “Ketika Kentongan Dipukul di Balai Banjar” karya I Nyoman Rasta Sindhu

SATU cerpen mampu menghasilkan dua tafsir yang saling bertolak belakang. Fenomena ini muncul dan menarik perhatian saya ketika melakukan penilaian...

by I Kadek Adhi Dwipayana
November 2, 2026
Hal-Hal Tak Biasa dari Lontar “Kidung Bhuwana Wināśa” sebagai “Memory of the World”
Kritik Sastra

Hal-Hal Tak Biasa dari Lontar “Kidung Bhuwana Wināśa” sebagai “Memory of the World”

Sejarah Ditulis oleh Korban yang Kalah Karya sastra Kidung Bhuwana Wināśa ‘Nyanyian Kehancuran Dunia’ yang ditulis oleh Ida Pedanda Ngurah...

by Putu Eka Guna Yasa
November 2, 2026
Musik, Agama dan Politik
Esai

Musik, Agama dan Politik

ADA sebuah pertanyaan sederhana yang menggelitik di tengah polemik konser Andrea Bocelli di Indonesia: apakah musik itu punya identitas agama...

by Agung Sudarsa
November 2, 2026
Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur
Pameran

Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur

SUASANA ARTOTEL Sanur Bali tampak ramai pada Jumat (30/10/2026). Sejumlah pengunjung, baik masyarakat lokal maupun wisatawan mancanegara, terlihat mengamati berbagai...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional
Khas

“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional

CAHAYA lilin menerangi meja-meja yang dihiasi bunga. Para staf menyambut tamu yang berdatangan, sementara aroma hidangan perlahan mengisi ruang makan...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama
Panggung

Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama

Sekitar 6.000 pengunjung menghadiri hari pertama Jembrana Creative Festival (JCF) 2026 di Taman Pecangakan, Negara, Sabtu (31/10/2026). Berdasarkan catatan panitia,...

by tatkala
November 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co