24 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kebaya Hari Ini, Masihkah Menutup Sesuai Adabnya?

Pande Susan by Pande Susan
July 24, 2026
in Esai
Kebaya Hari Ini, Masihkah Menutup Sesuai Adabnya?

Kebaya Tahun 80-an | Foto Pande Susan

KEMERIAHAN saya sebagai generasi milenial dalam berpakaian pada masa kanak kanak sangat jauh berbeda dengan gen alpha dan gen beta hari ini. Ngomong-ngomong, Selamat Hari Anak Nasional untuk anak-anak Indonesia.

Sebagai anak milenial yang datang dari keluarga sangat biasa-biasa saja, pakaian bukan menjadi suatu yang diperbaharui dalam periode waktu yang singkat. Tentunya saat itu belum ada online shop semasif hari ini, toko orange, toko hijau, tik tok bahkan facebook. Ditambah lagi saya adalah anak bungsu yang pada masa itu pewarisan pakaian dari kakak ke adik adalah hal yang wajar selama masih muat, padahal kakak saya adalah laki laki.

Barangkali karena pikiran itulah saya tidak begitu mempermasalahkan soal pakaian kebaya ketika pergi sembahyang ke pura. Tidak ada rengekan pada ibu agar saya punya kebaya baru setiap galungan dan kuningan. Sebuah kebaya hijau muda dipasangkan dengan kain endek kuning adalah pakaian kebaya pertama yang saya ingat miliki secara jelas. Tidak ada protes, tidak ada penolakan, langsung terima jadi.

Kebaya Pertama | Foto Pande Susan

Kebaya : Adab Ketimuran yang Dibawa Bangsa Barat

Kebaya, sebagai pakaian khas perempuan  muncul pada abad ke-15 dan ke-16. Pada masa ini, kebaya dikenakan oleh wanita bangsawan dan memiliki desain yang sederhana. Kebaya awalnya terbuat dari bahan yang ringan dan sering dihiasi dengan bordir halus. Pakaian ini menjadi simbol status dan kecantikan bagi perempuan pada saat itu. Asal usul nama Kebaya berasal dari Bahasa Arab “habaya” yang artinya busana yang memiliki labuh dan belahan di bagian depan. Lombar mengatakan ‘kebaya’ dari bahasa Arab ‘kaba’ yang memiliki arti pakaian. Bentuk-bentuk budaya kemudian berkembang sesuai dengan daerah di Indonesia.

Bali pada masa sebelum penjajahan Belanda belum mengenal kebaya secara luas, kebaya hanya digunakan oleh kaum bangsawan. Ketika itu eksotika perempuan Bali tanpa balutan busana tubuh bagian atas, hanya mengenakan kemben atau kamen. Tidak ada rasa malu karena begitulah adab pada masa itu. Pariwisata yang kemudian menjadi promosi pulau tropis ini membawa adab baru, bagian tubuh yang dianggap aurat haruslah ditutup. Kebaya Bali sendiri memiliki ciri khas pada bagian pelengkapnya yaitu adanya kain yang melingkar pada bagian pinggang disebut selendang atau senteng dalam bahasa Bali. Kebaya kemudian menjadi busana wajib jika pergi sembahyang ke Pura, melekatlah kebaya dengan aktivitas adat di Bali, termasuk kegiatan adat di masyarakat. Kebaya menjadi ciri khas orang Bali padahal Jawa lebih dahulu mengenalnya.

Ragam Kebaya Indonesia | Foto: Pinterest           

            

Kebaya Bali | Foto Pande Susan

 

Tradisi dan Formalitas : Peraturan Pemerintah Atau Desa Kalapatra?

Ingatan saya kembali pada model kebaya yang sering ibu kenakan saat saya masih taman kanak-kanak. Model kebaya awal tahun milenium kedua masih memiliki tangan panjang dengan bet (kain tambahan di bagian dada) untuk meletakkan kancing pet, sebutan kancing yang khas pada kain kebaya karena suaranya yg ditimbulkan ketika disatukan berbunyi “klepet-klepet”. Model kebaya ini disebut kutu baru, masih ada hingga saat ini. Kain yang digunakan dominan brokat bermotif padat dengan lubang lubang motif yang tidak terlalu banyak. Bentuk kerah lehernya pun dilipat sederhana, menutupi seluruh pundak hingga di atas dada. Kain atau kamen pelengkap bawahan adalah kain lembaran endek atau batik. Kesederhanaan tanpa modifikasi bisa jadi terlihat kuno tapi, bukankah demikian seharusnya adab berkebaya?

Mode Kebaya Awal Tahun 2000-an | Foto Pande Susan

                  

Sebagai gadis yang tumbuh dengan memprioritaskan kegiatan pendidikan sekaligus tradisi, ada pertanyaan yang justru timbul ketika saya sedang aktif-aktifnya bersekolah. Kenapa harus ada arahan menggunakan kain kebaya setiap hari purnama, tilem dan akhirnya wajib setiap hari Kamis?

Peraturan resminya baru terbit tahun 2018 lewat PERATURAN GUBERNUR BALI NOMOR 79 TAHUN 2018 TENTANG HARI PENGGUNAAN BUSANA ADAT BALI, tetapi sekolah-sekolah negeri sudah lebih dulu melaksanakannya. Bukan tanpa alasan munculnya kemangkelan dalam hati ketika harus terlilit kain dan longtorso selama 6 jam. Selain itu, berboncengan dan naik sepeda motor pun jadi sulit. Penggunaan kebaya di sekolah tidak memiliki peraturan khusus tetapi kami tetap mengikuti adab, pun dengan peraturan gubernur menyebutkan tata busana bali perempuan terdiri dari kebaya, kamen, senteng dan tata rambut yang rapi.

Ketika saya SMA, tahun 2010, sudah mulai bermunculan gaya kebaya baru, dengan mode utama kebaya bordiran di Bali. Sependek yang saya ingat, kain yang ditambah dengan motif bordiran berbahan tebal dan tidak menerawang. Lengan kebaya pun masih dibuat sepanjang lengan, bahkan panjang kebaya hingga sebatas paha. Model kutu baru masih berkembang karena pengguna kebaya mayoritas ibu-ibu di kegiatan adat. Pada masa ini mode kartini mulai naik daun karena potongannya yang lebih modis untuk anak muda yang mulai dituntut mengenakan kebaya lebih sering.

Berbeda dengan aturan pemerintah, beberapa daerah memiliki peraturan tertentu terkait penggunaan busana kebaya. Jika di desa saya tidak boleh menggunakan kebaya lengan pendek jika sembahyang ke pura, di Desa Munggu,Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, perempuan yang sudah menikah tidak boleh menggunakan selendang terurai. Lalu apakah kita harus tetap berbusana seperti tahun 90-an ke bawah?

Kebaya Tahun 80-an | Foto Pande Susan

                                     

Mode Berkembang, Makna Tumbang

Internet kemudian mulai masuk dalam genggaman alias kemunculan smartphone. Manusia menolak untuk tetap ada pada masa yang sama. Tumbuh, Berubah dan Berkembang adalah doa setiap manusia. Busana mengikuti mode masuk tidak lagi hanya lewat majalah, bombardier informasi menyerbu, termasuk gaya berbusana. Bermunculan berbagai mode kebaya anyar seperti lengan pendek dan kerah Sabrina yang tidak lagi menutupi seluruh pundak. 

Kebaya tidak lagi sebatas paha, ujungnya hanya sebatas pinggul. Kain-kain bordir dengan anyaman yang terbuka bukan lagi hal yang tabu. Sebuah pertanyaan yang wajar saja ditanyakan orang luar, kenapa baju kebaya orang bali seterbuka?. Belum lagi munculnya kain sifon yang lambat laun berbahan menerawang. Kain ini memang murah dan mau cari warna apa saja ada.

 Kain bahan kebaya sifon crepe | Foto: pinterest

Modifikasi pun meliarkan makna apa sebenarnya tujuan berkebaya. Apa identitas yang melekat antara perempuan Bali dan kebaya. Tidak hanya kerah, lengan pun dijadikan bentuk lonceng, kerut setengah, balon, terompet dan lain sebagainya.  Jika dulu orang harus menjahit di tukang jahit khusus untuk membuat kebaya, munculnya online shop mulai menyediakan kebaya yang sudah siap pakai dengan berbagai ukuran dan mode. Ini diikuti juga dengan kemunculan “kamen jadi”, tidak perlu sibuk melilitkan kain lembaran. Cukup pakai seperti menggunakan rok.

Kebaya dengan modifikasi lengan, leher, dan kamen jadi | Foto pinterest

Modifikasi lain yang muncul adalah penambahan payet atau manik-manik pada permukaan kain kebaya setelah kebaya selesai di jahit. Ongkosnya kadang lebih mahal daripada ongkos menjahitnya sendiri, ini belum termasuk harga kain kebaya premium yang bahkan bisa tembus jutaan rupiah. Semakin jauhlah makna kebaya sebagai penutup tubuh, pergeseran menjadi sekadar ajang pamer mode dan status sosial.

Ilustrasi gaya busana ke pura yang sempat viral | Foto: pinterest

                               

Memang belum ada regulasi resmi terkait bagaimana seharusnya berbusana adat ke pura untuk keseragaman, namun secara implisit Lontar Kramapura menyebutkan tiga kerangka dasar ajaran hindu. Ajaran ini dapat menjadi pedoman bagaimana berbusana yang termasuk dalam adab manusia berperilaku. Tattwa adalah pengetahuan atau ajaran agama yang harus dipahami masyarakat. Susila adalah sikap dan perilaku dalam pelaksanaannya agar manusia memiliki kebajikan dan kebijakan. Acara adalah tata cara pelaksanaan dalam wujud tradisi untuk berkomunikasi dengan Tuhan.

Perempuan : Identitas Terdekat dengan Kebaya

Perkembangan teknologi membawa perubahan hampir di semua lini, termasuk bagaimana manusia berperilaku. Saat ini kebaya bukan lagi hanya sekadar busana ke Pura atau acara formal. Tidak ada yang salah akan perkembangan budaya namun apa yang sering tampak di media sosial justru hanya untuk menarik mata bukan makna.

Masih segar barangkali di ingatan kita, MPLS salah satu sekolah di Bali yang mengharuskan mengunggah twibbon siswa baru ke instagram. Bukannya perkenalan hangat yang di dapat, justru pertanyaan yang menjurus SARA memenuhi kolom komentar. Lebih disayangkan lagi beberapa siswi mengenakan kebaya yang -maaf- mengumbar bagian yang seharusnya ditutupi pada twibbon tersebut. Apakah hari ini demi views, like dan komen tidak cukup dengan konten bermakna?

Tidak cukup sampai di situ, sebelumnya dan masih berjalan, perempuan sebagai pengguna kebaya kerap kali jadi objek visual dewasa untuk promosi produk secara online. Belum lagi unggahan-unggahan yang saya sendiri tidak berani berasumsi apakah dilakukan secara sengaja atau tidak. Yang jelas keindahan yang seharusnya dihormati bersama balutan kain yang adabnya mesti menutupi malah dipertontonkan demi warna merah berbentuk hati dan jumlah penjualan yang tinggi. Sejauh yang saya amati di platform digital, konten soft porn ini justru masif pada generasi Z yang lupa memfilter apa yang seharusnya ditampilkan, apa yang seharusnya menjadi privasi.

Jangan sampai kebebasan ini kemudian menganggu adat istiadat, norma kesopanan dan kesucian ketika kita hendak sujud bakti di Pura sebagai masyarakat Bali. Budaya memang seharusnya berkembang tapi bukan berarti makna luhur harus berubah. Kita memang datang telanjang ke dunia, bukan berarti harus menelanjangi diri.

Selamat Hari Kebaya Nasional [T]

Catatan : Kebaya was inscribed on the UNESCO Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity on December 4, 2024, recognizing its cultural significance across Southeast Asia.

Penulis: Pande Susan
Editor: Adnyana Ole

Tags: fashionHari Kebaya NasionalKebaya
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Lewat Digitalisasi dan “Green Tourism”, Mahasiswa Politeknik Negeri Bali Menghidupkan Potensi Desa Muncan, Karangasem

Pande Susan

Pande Susan

Perempuan unyil yang punya rasa ingin tahu maksimal dengan latar belakang pendidikan ilmu pengetahuan alam dan praktik tradisional. Si unyil senang mengumpulkan pengalaman di berbagai bidang, seperti farmasi, lingkungan, dan basis data serta penelitian, praktik, dan dokumentasi budaya. Sedang tertarik mengawinkan sains-sosial untuk membedah pengetahuan tradisional sebagai dasar untuk kemajuan budaya. Keep in touch with me on instagram @earth_susan

Related Posts

Ketika Negara Kehilangan Hak untuk Dipercaya

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BEBERAPA waktu terakhir, publik menyaksikan pemberitaan mengenai penyitaan barang bukti berupa emas dan uang tunai dalam jumlah yang sangat besar...

Read moreDetails

Sejak Kapan Pemerintah Mengurus Orientasi Seksual Warganya?

by Surfian Rahmat AP
July 24, 2026
0
Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital

Salah satu indikator paling nyata dari kemunduran tata kelola pemerintahan adalah ketika negara lebih disibukkan mengatur moralitas di ruang privat...

Read moreDetails

Menyelami Air, Menyelami Kehidupan —Catatan dari Tepi Kolam tentang Klub Selam Dolphin Singaraja

by Dewa Rhadea
July 23, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

Air memiliki cara mendidik yang tidak dimiliki ruang kelas. Ia tidak pernah meninggikan suara ketika mengajarkan manusia tentang kesabaran. Ia...

Read moreDetails

Demokratisasi Suara, Krisis Pengetahuan: Tribalisme dan Ilusi Kesetaraan di Era Algoritma

by Wayan Gde Yudane
July 23, 2026
0
Demokratisasi Suara, Krisis Pengetahuan: Tribalisme dan Ilusi Kesetaraan di Era Algoritma

KETIKA kebebasan berbicara terbuka tanpa batas, yang terbebaskan bukan hanya kemampuan manusia untuk menyampaikan gagasan, tetapi juga insting purba kesukuan...

Read moreDetails

Ketika Ngopi Menjadi Cara Anak Muda Membaca Dunia

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
July 22, 2026
0
Ketika Ngopi Menjadi Cara Anak Muda Membaca Dunia

Dahulu, kopi identik dengan rutinitas orang dewasa, diseduh pagi hari, diminum di rumah, atau dinikmati di warung sambil berbincang tentang...

Read moreDetails

Siapa yang Berhak Menentukan Kebebasan Tubuh Perempuan? —-[Menanggapi Tulisan Surfian Rahmat AP]

by Early NHS
July 20, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

SEJAK dulu, tubuh perempuan selalu menjadi objek analisis dan justifikasi orang lain. Kita sering mendengar komentar terhadap cara seorang perempuan...

Read moreDetails

Trauma KUD dan Hasrat Politik 2029 Lewat KDMP

by Chusmeru
July 20, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

POLEMIK seputar Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) hingga kini belum juga surut. Namun the show must go on. Program andalan...

Read moreDetails

Nasib Antek-Antek Ronaldo dan Real Madrid di Piala Dunia 2026

by Rusdy Ulu
July 20, 2026
0
Nasib Antek-Antek Ronaldo dan Real Madrid di Piala Dunia 2026

ISTILAH antek-antek Ronaldo bukan saya yang bikin. Saya mencurinya dari unggahan akun virdian_aurellio di media sosial. Waktu Argentina comeback melawan...

Read moreDetails

Krisis Baru Abad 21: Ketika Mesin Berpikir, Manusia Berhenti Merenung?

by Hairunnisa Br. Sagala
July 19, 2026
0
Krisis Baru Abad 21: Ketika Mesin Berpikir, Manusia Berhenti Merenung?

KONON, yang membedakan manusia dari makhluk lain bukan semata kemampuan berbicara, melainkan kemampuan merenung. Dari renungan lahir kebijaksanaan. Dari kebijaksanaan...

Read moreDetails

Langsung ke Intinya: Siapa Juara Piala Dunia?

by Nur Inayah Yushar
July 19, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

BAGI kelompok orang yang tidak mengikuti sepak bola, riuh rendah Piala Dunia sering kali terasa seperti latar belakang suara yang...

Read moreDetails
Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kebaya Hari Ini, Masihkah Menutup Sesuai Adabnya?
Esai

Kebaya Hari Ini, Masihkah Menutup Sesuai Adabnya?

KEMERIAHAN saya sebagai generasi milenial dalam berpakaian pada masa kanak kanak sangat jauh berbeda dengan gen alpha dan gen beta...

by Pande Susan
July 24, 2026
Lewat Digitalisasi dan “Green Tourism”, Mahasiswa Politeknik Negeri Bali Menghidupkan Potensi Desa Muncan, Karangasem
Pendidikan

Lewat Digitalisasi dan “Green Tourism”, Mahasiswa Politeknik Negeri Bali Menghidupkan Potensi Desa Muncan, Karangasem

BANYAK program pengabdian masyarakat berakhir sebagai seremoni. Datang, memberi pelatihan, lalu pulang. Namun, program Bina Desa yang digagas Badan Eksekutif...

by Dede Putra Wiguna
July 24, 2026
Kesetiaan Itu Mahal ——Ketika Gotawa Menafsirkan “Satya” Lewat Pameran Tunggal di Toke, Toko Kopi & Seni
Pameran

Kesetiaan Itu Mahal ——Ketika Gotawa Menafsirkan “Satya” Lewat Pameran Tunggal di Toke, Toko Kopi & Seni

DI tengah denting musik elektronik yang berpadu dengan aroma dupa dan canang, Gotawa berdiri di depan kanvas. Tangannya bergerak, menumpahkan...

by Dede Putra Wiguna
July 24, 2026
Siap-siap ke Lovina Festival 2026
Panggung

Siap-siap ke Lovina Festival 2026

"Hari ini kesiapan sudah seratus persen," ucap Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra membuka jumpa pers di Spice Dive Beach Club,...

by Komang Puja Savitri
July 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Ketika Negara Kehilangan Hak untuk Dipercaya

BEBERAPA waktu terakhir, publik menyaksikan pemberitaan mengenai penyitaan barang bukti berupa emas dan uang tunai dalam jumlah yang sangat besar...

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 24, 2026
Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital
Esai

Sejak Kapan Pemerintah Mengurus Orientasi Seksual Warganya?

Salah satu indikator paling nyata dari kemunduran tata kelola pemerintahan adalah ketika negara lebih disibukkan mengatur moralitas di ruang privat...

by Surfian Rahmat AP
July 24, 2026
Instalasi Panel Surya dan Sertifikasi Green Building: Panduan untuk Pemilik Gedung
Gaya

Instalasi Panel Surya dan Sertifikasi Green Building: Panduan untuk Pemilik Gedung

INSTALASI panel surya kini menjadi salah satu strategi yang semakin dipertimbangkan untuk mengendalikan biaya energi, sekaligus memenuhi target keberlanjutan. Saat...

by tatkala
July 24, 2026
7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis
Khas

7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis

KAWASAN Sanur yang tenang, bersih, dan ramah keluarga menjadi latar yang sempurna untuk menikmati secangkir kopi berkualitas. Perpaduan aroma biji...

by Nyoman Budarsana
July 24, 2026
Semesta di Dalam Tanah Liat: Membaca Karya-Karya Keramik Dr. Dra. Ni Made Rai Sunarini, M.Si.
Ulas Rupa

Semesta di Dalam Tanah Liat: Membaca Karya-Karya Keramik Dr. Dra. Ni Made Rai Sunarini, M.Si.

BARANGKALI kita terlalu sering memandang alam sebagai sesuatu yang berada di luar diri. Gunung adalah bentang yang dikunjungi ketika musim...

by Angga Wijaya
July 24, 2026
Selera, Kualitas, dan Masa Depan Musik Pop Bali
Khas

Selera, Kualitas, dan Masa Depan Musik Pop Bali

“SATU yang tidak bisa dilakukan oleh AI adalah sentuhan nurani.” Kalimat itu diucapkan oleh I Made Adnyana di tengah diskusi...

by Dede Putra Wiguna
July 24, 2026
Musikal Visual Karya Wayan Sujana Suklu
Ulas Rupa

Musikal Visual Karya Wayan Sujana Suklu

Pameran Yogya Annual Art ke-11 yang mengambil tema Direction (Arah) digelar di Bale Banjar Sangkring, Nitiprayan No. 88, Ngestiharjo, Kasihan,...

by Hartanto
July 24, 2026
Bunyi Mata Ugra, Harmoni Tradisi dan Spiritualitas di Panggung Festival Seni Bali Jani VIII 2026
Panggung

Bunyi Mata Ugra, Harmoni Tradisi dan Spiritualitas di Panggung Festival Seni Bali Jani VIII 2026

PERTIKAIAN dan peperangan kerap melahirkan penderitaan, kebencian, dendam, serta luka yang membekas dalam jiwa. Namun, di balik kehancuran itu selalu...

by Nyoman Budarsana
July 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co