KEMERIAHAN saya sebagai generasi milenial dalam berpakaian pada masa kanak kanak sangat jauh berbeda dengan gen alpha dan gen beta hari ini. Ngomong-ngomong, Selamat Hari Anak Nasional untuk anak-anak Indonesia.
Sebagai anak milenial yang datang dari keluarga sangat biasa-biasa saja, pakaian bukan menjadi suatu yang diperbaharui dalam periode waktu yang singkat. Tentunya saat itu belum ada online shop semasif hari ini, toko orange, toko hijau, tik tok bahkan facebook. Ditambah lagi saya adalah anak bungsu yang pada masa itu pewarisan pakaian dari kakak ke adik adalah hal yang wajar selama masih muat, padahal kakak saya adalah laki laki.
Barangkali karena pikiran itulah saya tidak begitu mempermasalahkan soal pakaian kebaya ketika pergi sembahyang ke pura. Tidak ada rengekan pada ibu agar saya punya kebaya baru setiap galungan dan kuningan. Sebuah kebaya hijau muda dipasangkan dengan kain endek kuning adalah pakaian kebaya pertama yang saya ingat miliki secara jelas. Tidak ada protes, tidak ada penolakan, langsung terima jadi.


Kebaya : Adab Ketimuran yang Dibawa Bangsa Barat
Kebaya, sebagai pakaian khas perempuan muncul pada abad ke-15 dan ke-16. Pada masa ini, kebaya dikenakan oleh wanita bangsawan dan memiliki desain yang sederhana. Kebaya awalnya terbuat dari bahan yang ringan dan sering dihiasi dengan bordir halus. Pakaian ini menjadi simbol status dan kecantikan bagi perempuan pada saat itu. Asal usul nama Kebaya berasal dari Bahasa Arab “habaya” yang artinya busana yang memiliki labuh dan belahan di bagian depan. Lombar mengatakan ‘kebaya’ dari bahasa Arab ‘kaba’ yang memiliki arti pakaian. Bentuk-bentuk budaya kemudian berkembang sesuai dengan daerah di Indonesia.
Bali pada masa sebelum penjajahan Belanda belum mengenal kebaya secara luas, kebaya hanya digunakan oleh kaum bangsawan. Ketika itu eksotika perempuan Bali tanpa balutan busana tubuh bagian atas, hanya mengenakan kemben atau kamen. Tidak ada rasa malu karena begitulah adab pada masa itu. Pariwisata yang kemudian menjadi promosi pulau tropis ini membawa adab baru, bagian tubuh yang dianggap aurat haruslah ditutup. Kebaya Bali sendiri memiliki ciri khas pada bagian pelengkapnya yaitu adanya kain yang melingkar pada bagian pinggang disebut selendang atau senteng dalam bahasa Bali. Kebaya kemudian menjadi busana wajib jika pergi sembahyang ke Pura, melekatlah kebaya dengan aktivitas adat di Bali, termasuk kegiatan adat di masyarakat. Kebaya menjadi ciri khas orang Bali padahal Jawa lebih dahulu mengenalnya.


Tradisi dan Formalitas : Peraturan Pemerintah Atau Desa Kalapatra?
Ingatan saya kembali pada model kebaya yang sering ibu kenakan saat saya masih taman kanak-kanak. Model kebaya awal tahun milenium kedua masih memiliki tangan panjang dengan bet (kain tambahan di bagian dada) untuk meletakkan kancing pet, sebutan kancing yang khas pada kain kebaya karena suaranya yg ditimbulkan ketika disatukan berbunyi “klepet-klepet”. Model kebaya ini disebut kutu baru, masih ada hingga saat ini. Kain yang digunakan dominan brokat bermotif padat dengan lubang lubang motif yang tidak terlalu banyak. Bentuk kerah lehernya pun dilipat sederhana, menutupi seluruh pundak hingga di atas dada. Kain atau kamen pelengkap bawahan adalah kain lembaran endek atau batik. Kesederhanaan tanpa modifikasi bisa jadi terlihat kuno tapi, bukankah demikian seharusnya adab berkebaya?

Sebagai gadis yang tumbuh dengan memprioritaskan kegiatan pendidikan sekaligus tradisi, ada pertanyaan yang justru timbul ketika saya sedang aktif-aktifnya bersekolah. Kenapa harus ada arahan menggunakan kain kebaya setiap hari purnama, tilem dan akhirnya wajib setiap hari Kamis?
Peraturan resminya baru terbit tahun 2018 lewat PERATURAN GUBERNUR BALI NOMOR 79 TAHUN 2018 TENTANG HARI PENGGUNAAN BUSANA ADAT BALI, tetapi sekolah-sekolah negeri sudah lebih dulu melaksanakannya. Bukan tanpa alasan munculnya kemangkelan dalam hati ketika harus terlilit kain dan longtorso selama 6 jam. Selain itu, berboncengan dan naik sepeda motor pun jadi sulit. Penggunaan kebaya di sekolah tidak memiliki peraturan khusus tetapi kami tetap mengikuti adab, pun dengan peraturan gubernur menyebutkan tata busana bali perempuan terdiri dari kebaya, kamen, senteng dan tata rambut yang rapi.
Ketika saya SMA, tahun 2010, sudah mulai bermunculan gaya kebaya baru, dengan mode utama kebaya bordiran di Bali. Sependek yang saya ingat, kain yang ditambah dengan motif bordiran berbahan tebal dan tidak menerawang. Lengan kebaya pun masih dibuat sepanjang lengan, bahkan panjang kebaya hingga sebatas paha. Model kutu baru masih berkembang karena pengguna kebaya mayoritas ibu-ibu di kegiatan adat. Pada masa ini mode kartini mulai naik daun karena potongannya yang lebih modis untuk anak muda yang mulai dituntut mengenakan kebaya lebih sering.
Berbeda dengan aturan pemerintah, beberapa daerah memiliki peraturan tertentu terkait penggunaan busana kebaya. Jika di desa saya tidak boleh menggunakan kebaya lengan pendek jika sembahyang ke pura, di Desa Munggu,Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, perempuan yang sudah menikah tidak boleh menggunakan selendang terurai. Lalu apakah kita harus tetap berbusana seperti tahun 90-an ke bawah?

Mode Berkembang, Makna Tumbang
Internet kemudian mulai masuk dalam genggaman alias kemunculan smartphone. Manusia menolak untuk tetap ada pada masa yang sama. Tumbuh, Berubah dan Berkembang adalah doa setiap manusia. Busana mengikuti mode masuk tidak lagi hanya lewat majalah, bombardier informasi menyerbu, termasuk gaya berbusana. Bermunculan berbagai mode kebaya anyar seperti lengan pendek dan kerah Sabrina yang tidak lagi menutupi seluruh pundak.
Kebaya tidak lagi sebatas paha, ujungnya hanya sebatas pinggul. Kain-kain bordir dengan anyaman yang terbuka bukan lagi hal yang tabu. Sebuah pertanyaan yang wajar saja ditanyakan orang luar, kenapa baju kebaya orang bali seterbuka?. Belum lagi munculnya kain sifon yang lambat laun berbahan menerawang. Kain ini memang murah dan mau cari warna apa saja ada.

Modifikasi pun meliarkan makna apa sebenarnya tujuan berkebaya. Apa identitas yang melekat antara perempuan Bali dan kebaya. Tidak hanya kerah, lengan pun dijadikan bentuk lonceng, kerut setengah, balon, terompet dan lain sebagainya. Jika dulu orang harus menjahit di tukang jahit khusus untuk membuat kebaya, munculnya online shop mulai menyediakan kebaya yang sudah siap pakai dengan berbagai ukuran dan mode. Ini diikuti juga dengan kemunculan “kamen jadi”, tidak perlu sibuk melilitkan kain lembaran. Cukup pakai seperti menggunakan rok.


Modifikasi lain yang muncul adalah penambahan payet atau manik-manik pada permukaan kain kebaya setelah kebaya selesai di jahit. Ongkosnya kadang lebih mahal daripada ongkos menjahitnya sendiri, ini belum termasuk harga kain kebaya premium yang bahkan bisa tembus jutaan rupiah. Semakin jauhlah makna kebaya sebagai penutup tubuh, pergeseran menjadi sekadar ajang pamer mode dan status sosial.

Memang belum ada regulasi resmi terkait bagaimana seharusnya berbusana adat ke pura untuk keseragaman, namun secara implisit Lontar Kramapura menyebutkan tiga kerangka dasar ajaran hindu. Ajaran ini dapat menjadi pedoman bagaimana berbusana yang termasuk dalam adab manusia berperilaku. Tattwa adalah pengetahuan atau ajaran agama yang harus dipahami masyarakat. Susila adalah sikap dan perilaku dalam pelaksanaannya agar manusia memiliki kebajikan dan kebijakan. Acara adalah tata cara pelaksanaan dalam wujud tradisi untuk berkomunikasi dengan Tuhan.
Perempuan : Identitas Terdekat dengan Kebaya
Perkembangan teknologi membawa perubahan hampir di semua lini, termasuk bagaimana manusia berperilaku. Saat ini kebaya bukan lagi hanya sekadar busana ke Pura atau acara formal. Tidak ada yang salah akan perkembangan budaya namun apa yang sering tampak di media sosial justru hanya untuk menarik mata bukan makna.
Masih segar barangkali di ingatan kita, MPLS salah satu sekolah di Bali yang mengharuskan mengunggah twibbon siswa baru ke instagram. Bukannya perkenalan hangat yang di dapat, justru pertanyaan yang menjurus SARA memenuhi kolom komentar. Lebih disayangkan lagi beberapa siswi mengenakan kebaya yang -maaf- mengumbar bagian yang seharusnya ditutupi pada twibbon tersebut. Apakah hari ini demi views, like dan komen tidak cukup dengan konten bermakna?
Tidak cukup sampai di situ, sebelumnya dan masih berjalan, perempuan sebagai pengguna kebaya kerap kali jadi objek visual dewasa untuk promosi produk secara online. Belum lagi unggahan-unggahan yang saya sendiri tidak berani berasumsi apakah dilakukan secara sengaja atau tidak. Yang jelas keindahan yang seharusnya dihormati bersama balutan kain yang adabnya mesti menutupi malah dipertontonkan demi warna merah berbentuk hati dan jumlah penjualan yang tinggi. Sejauh yang saya amati di platform digital, konten soft porn ini justru masif pada generasi Z yang lupa memfilter apa yang seharusnya ditampilkan, apa yang seharusnya menjadi privasi.

Jangan sampai kebebasan ini kemudian menganggu adat istiadat, norma kesopanan dan kesucian ketika kita hendak sujud bakti di Pura sebagai masyarakat Bali. Budaya memang seharusnya berkembang tapi bukan berarti makna luhur harus berubah. Kita memang datang telanjang ke dunia, bukan berarti harus menelanjangi diri.
Selamat Hari Kebaya Nasional [T]
Catatan : Kebaya was inscribed on the UNESCO Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity on December 4, 2024, recognizing its cultural significance across Southeast Asia.
Penulis: Pande Susan
Editor: Adnyana Ole






























