14 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Orkestra Warna Kun Adnyana

Hartanto by Hartanto
July 25, 2026
in Ulas Rupa
Orkestra Warna Kun Adnyana

Enigmatic Red Polychrome karya I Wayan Kun Adnyana

YOGYA Annual Art ke-11 tahun 2026 dengan tema Direction (Arah) ini, menurut saya, dibuka dengan sebuah kesadaran yang tajam: bahwa ‘praktik artistik’ tidak pernah berdiri sendiri, melainkan selalu berkelindan dengan pengalaman ‘pedagogis’, ‘penelitian’, dan ‘pengabdian’.

Menyimak ‘teks reflektif’ yang ditulis Nadiyah Tunnisa di e-katalog, seperti menjadi pijakan tentang artistic practice (proses kreatif seniman) dan tentang ‘energi penciptaan’ di tengah kewajiban ‘akademik’.

Ini menunjukkan bahwa karya seni lahir bukan dari ‘kevakuman’, melainkan dari tubuh yang terus berlatih, dari tangan yang berulang kali menggenggam kuas, dari mata yang terbiasa membaca ruang, dan dari pengalaman mengajar yang mengendap sebagai kepekaan baru.

Di sini, pameran yang diikuti dosen dari Institut Seni Indonesia Yogyakarta dan Institut Seni Indonesia Bali bukan sekadar ruang untuk menampilkan hasil karya, melainkan juga arena tempat pengalaman ‘menubuh’ bertemu dengan berbagai pengalaman sosial lainnya, termasuk pengalaman ‘pedagogis’.

Seorang seniman yang juga pengajar tentu tidak bisa sepenuhnya menanggalkan jejak ‘kelas’, ‘diskusi’, dan ‘pertemuan’ dengan mahasiswa.

Sebaliknya, semua itu menyusup ke dalam cara ia membuat keputusan ‘artistik’, membaca karyanya sendiri, dan memosisikan diri di hadapan publik.

Pameran ini digelar di Bale Banjar Sangkring, Nitiprayan No. 88, Ngestiharjo, Kasihan, Bantul, Yogyakarta. Acara berlangsung dari 19 Juni hingga 8 September 2026.

Menurut saya, perhelatan ini bukan hanya perayaan hasil karya, melainkan juga perayaan berbagai ‘proses’ yang berlapis, penuh ketekunan, dan tak pernah selesai.

Di sini, seni dipahami sebagai praktik yang hidup di tubuh, yang terus diperbarui oleh berbagai pengalaman ‘sosial’ dan proses belajar-mengajar.

Selain itu, pameran ini juga menuntut kesadaran untuk menjaga ‘arah’ dan ruang ‘penciptaan’ di tengah segala tuntutan pekerjaan dan tanggung jawab.

Dengan demikian, masih menurut saya, pameran ini menghadirkan bukan sekadar ‘objek visual’, melainkan juga ‘medan energi’. Sebuah percakapan antara ‘ketekunan teknis’, ‘kepekaan artistik’, dan ‘pengalaman mengajar’ yang menjelma menjadi karya.

Karya Prof. I Wayan Kun Adnyana dalam Yogya Annual Art ke-11 ini menghadirkan energi yang berbeda dari nostalgia masa kanak-kanak yang kita lihat pada karya Suklu.

Dua lukisan abstrak yang ia tampilkan, Enigmatic Red Polych dan Enigmatic Deep Red (keduanya berukuran 180 × 180 cm, akrilik di atas kanvas, 2026), merupakan ‘eksplorasi intensitas’: warna sebagai bahasa utama.

Di sini, ‘arah’ yang ditawarkan bukanlah ‘arah naratif’ atau ‘ikonografis’, melainkan ‘arah atmosfer’: bagaimana warna merah, oranye, kuning, bahkan semburat biru gelap menjadi medan energi yang menggerakkan mata dan tubuh penikmat.

Mari kita simak. Sapuan kuas yang dinamis, lapisan cat yang tebal, dan tekstur yang berlapis-lapis menciptakan kesan gerak, seolah kanvas adalah ruang ‘turbulensi’ tempat warna saling bertabrakan, berbaur, bersenyawa, dan menegaskan kehadirannya.

Merah yang dipilih Kun Adnyana bukan sekadar ‘simbol’ api atau darah, melainkan ‘medan enigma’—warna yang menolak ditafsirkan secara tunggal.

Ia bisa menjadi gairah, bisa pula luka; bisa menjadi ‘vitalitas’, bisa pula ‘ketegangan’. Dengan menambahkan nuansa oranye, kuning, dan sesekali biru gelap, ia memperkaya ‘getar emosional’, sehingga karya ini terasa seperti ‘simfoni’ warna yang berdenyut.

Dalam konteks tema Direction, karya Kun Adnyana dapat dibaca sebagai ‘arah’ ke dalam: sebuah ‘introspeksi’ tentang bagaimana warna, sebagai ‘bahasa visual’ paling purba, mampu membuka ruang ‘kontemplasi’.

Tidak ada figur, tidak ada ‘narasi eksplisit’. Yang ada hanyalah energi warna yang menuntun penikmat untuk masuk ke dalam ‘pusaran rasa’.

Interpretasi saya, karya-karya ini berdiri sebagai ‘deklarasi abstraksi kontemporer’: bahwa ‘arah’ seni bisa ditemukan dalam keberanian untuk melepaskan figur, merayakan warna sebagai ‘entitas otonom’, dan menghadirkan kanvas sebagai ‘ruang intensitas’ yang terus bergerak.

Ada yang menarik perhatian saya ketika menyimak lebih dalam kedua karya Kun Adnyana ini, yakni perbedaan nuansa antara Enigmatic Red Polych dan Enigmatic Deep Red.

Karya I Wayan Kun Adnyana ini dapat dibaca sebagai dua pendekatan terhadap energi merah yang sama-sama ‘intens’, tetapi dengan ‘orientasi’ yang berbeda.

Dalam Enigmatic Red Polych, ‘arah’ visualnya lebih terbuka pada keragaman ‘spektrum’. Merah di sini tidak berdiri sendiri, melainkan berinteraksi dengan oranye, kuning, cokelat, bahkan semburat warna lain yang memperkaya ‘atmosfer’.

Polych—dari kata poly (banyak)—menandai ‘pluralitas’, sebuah medan warna yang berlapis-lapis, tempat setiap sapuan kuas menghadirkan ‘resonansi’ yang berbeda.

Karya ini terasa seperti ‘orkestra warna’, di mana merah adalah ‘konduktor’, tetapi suara ‘instrumen’ lain ikut membentuk ‘harmoni’.

Energinya lebih ‘polifonik’, lebih beragam, dan menekankan dinamika ‘interaksi’ antarwarna.

Sebaliknya, Enigmatic Deep Red menekankan ‘singularitas’. Merah di sini menjadi pusat ‘gravitasi’, warna yang ‘mendominasi’ dan menelan hampir seluruh ruang kanvas.

Sapuan kuas yang tebal dan intens menciptakan kedalaman, seolah penikmat ditarik masuk ke pusaran merah yang pekat.

Kehadiran warna lain—kuning, putih, dan biru gelap—hanya menjadi ‘aksen’, bukan sebagai lawan yang seimbang.

Nuansa yang muncul adalah ‘monolog’, bukan ‘dialog’—sebuah meditasi dalam satu warna yang menuntut ‘kontemplasi’ lebih dalam.

Dengan demikian, Polych adalah arah keluar—‘pluralitas’, ‘interaksi’, dan ‘ekstroversi’ warna. Sedangkan Deep Red adalah arah masuk—‘intensitas’, ‘kedalaman’, dan ‘introspeksi’.

Keduanya sama-sama ‘enigmatis’, tetapi berbeda dalam cara mengarahkan pengalaman penikmat. Yang satu mengajak merayakan ‘keragaman spektrum’, yang lain mengajak tenggelam dalam ‘singularitas’ merah.

Polych dengan pluralitas warnanya dapat dibaca sebagai ‘metafora sosial’. Keragaman spektrum—merah, oranye, kuning, cokelat, bahkan semburat biru—menandai interaksi antarunsur yang berbeda, seperti masyarakat yang terdiri atas beragam individu dan latar.

Energi yang muncul adalah ‘polifonik’—setiap warna membawa ‘suara sendiri’, tetapi bersama-sama membentuk ‘harmoni’.

Dalam konteks sosial, karya ini seolah menegaskan bahwa ‘arah’ seni—dan kehidupan—dapat ditemukan dalam keberanian merayakan perbedaan, dalam ‘dinamika interaksi’ yang tidak selalu mulus, tetapi justru memperkaya.

Sebaliknya, Deep Red dengan ‘singularitas’nya menghadirkan ‘metafora eksistensial’. Merah yang mendominasi, pekat, dan nyaris menelan seluruh ruang kanvas adalah semacam ‘monolog visual’.

Ia menuntun penikmat untuk masuk ke kedalaman satu warna, satu intensitas, satu pusaran rasa.

Secara filosofis, ini dapat dibaca sebagai ‘meditasi’ tentang ‘eksistensi’—bahwa di balik keragaman ‘sosial’, ada pengalaman ‘eksistensial’ yang tak terelakkan: kesendirian, intensitas batin, dan pencarian makna yang ‘personal’.

Kun Adnyana seolah menegaskan bahwa ‘arah’ seni tidak hanya bergerak ke luar—merayakan keragaman—tetapi juga bergerak ke dalam, menggali kedalaman ‘eksistensi’.

Keduanya akhirnya menjadi semacam ‘dialektika’—‘pluralitas’ dan ‘singularitas’, ‘sosial’ dan ‘eksistensial’, ‘eksternal’ dan ‘internal’. Justru dalam ketegangan antara keduanya, ‘arah’ seni menemukan ‘medan enigmatis’nya.

Menyimak lebih dalam karya Kun Adnyana mengingatkan kita pada tradisi abstrak-ekspresionisme dunia, terutama pada tokoh-tokoh seperti Mark Rothko, Willem de Kooning, dan Kazuo Shiraga, karena sama-sama menekankan ‘energi warna’, ‘gestur’, dan ‘kedalaman emosional’.

Namun, menurut interpretasi saya, Kun Adnyana menghadirkan ‘nuansa lokal’ dan ‘spiritualitas’ Bali yang membuat abstraksinya berbeda. Ia bukan sekadar melakukan ‘eksperimen formal’, melainkan juga menghadirkan perenungan ‘eksistensial’ dan ‘sosial’.

Pengamatan saya menunjukkan bahwa Willem de Kooning dan Kun Adnyana sama-sama menekankan ‘pluralitas warna’, sapuan kuas yang dinamis, serta energi yang ‘polifonik’ (jalinan yang setara dan kaya akan suara).

Dengan demikian, Polych karya Kun Adnyana sejalan dengan ‘pluralitas energi’ yang dihadirkan de Kooning. Keragaman ‘spektrum’ warna menjadi drama visual yang terus bertambah, seperti sebuah ‘orkestra’ yang penuh lapisan dan saling bersahutan.

Perbedaannya, de Kooning sering menyisipkan figur yang ‘terdistorsi’. Kun Adnyana justru lebih murni bergerak dalam wilayah ‘abstrak’, dengan fokus pada ‘spektrum’ warna, energi tubuh, dan pluralitas warna, tanpa menghadirkan figur yang terdistorsi.

Jika kita hendak menelusuri lebih jauh persamaan Kun Adnyana dengan Mark Rothko, keduanya sama-sama menekankan ‘singularitas’ warna, ‘kedalaman emosional’, dan ‘kontemplasi eksistensial’.

Perbedaannya, Rothko cenderung menghadirkan bidang-bidang warna yang statis, sedangkan Kun Adnyana lebih ‘gestural’, penuh sapuan kuas yang berlapis. Ibarat sebuah konser musik, setiap lapisan warna menghadirkan instrumen yang saling menghidupkan.

Mari kita simak pendapat Rothko: “A painting is not a picture of an experience, but is the experience.” (“Lukisan bukanlah gambaran dari suatu pengalaman, melainkan pengalaman itu sendiri.”)

Rothko menekankan pengalaman ‘transendental’ melalui bidang warna yang ‘hening’. Deep Red karya Kun Adnyana memiliki kedekatan dengan gagasan tersebut, tetapi tampil lebih ‘berlapis’ dan ‘gestural’, sehingga menghadirkan intensitas yang lebih ‘berdenyut’ daripada ‘hening’.

Sementara itu, padanan Kun Adnyana dengan Kazuo Shiraga terletak pada penekanan terhadap tubuh sebagai sumber energi, sapuan kuas yang ‘eksplosif’, dan ‘intensitas fisik’.

Perbedaannya, Shiraga melukis dengan tubuhnya, terutama kaki, sehingga menghadirkan performativitas yang sangat ekstrem. Kun Adnyana tidak bekerja secara performatif dalam pengertian literal. Ia tetap menggunakan kuas, tetapi menghadirkan ‘intensitas spiritual’ melalui konsep guwung suwung (ruang kosong yang bernyawa).

Meskipun Kun Adnyana tidak melukis dengan kaki, ‘energi gestural’ dalam karya-karyanya tetap menghadirkan ‘medan turbulensi’ yang memiliki kemiripan dengan karya Shiraga.

Selanjutnya, ketika mengamati persamaan Kun Adnyana dengan Gerhard Richter, tampak bahwa keduanya sama-sama bergerak dari ‘figurasi’ menuju ‘abstraksi’ melalui proses riset visual yang panjang.

Yang saya maksud dengan proses dari ‘figurasi’ menuju ‘abstraksi’ ialah perubahan dari bentuk-bentuk yang nyata dan mudah dikenali menjadi bentuk yang melepaskan diri dari wujud asalnya, lalu memberi penekanan pada ‘esensi’, ‘warna’, dan ‘garis’.

Perbedaannya, Richter kerap bermain di antara ‘fotorealisme’ dan ‘abstraksi’, sedangkan Kun Adnyana bergerak dari ‘garis’ dan ‘figur metaforis’ menuju ‘abstraksi spiritual’ yang kaya warna.

Oleh sebab itu, saya menyebut kedua karya Kun Adnyana ini sebagai ‘orkestra warna’.

Begitulah analisis saya terhadap dua karya I Wayan Kun Adnyana. Di dalamnya terdapat dialog antara tradisi Bali dan abstrak-ekspresionisme global.

Kendati demikian, Kun Adnyana menghadirkan dimensi lokal dan spiritual yang khas. Polych dapat dibaca sebagai metafora sosial—pluralitas warna sebagai gambaran keragaman masyarakat—sementara Deep Red menjadi metafora eksistensial, yakni kedalaman singularitas merah sebagai meditasi batin.

Bagi saya, karya Kun Adnyana bukan sekadar mengikuti jejak Rothko, de Kooning, Shiraga, atau Richter. Ia justru memperkaya khazanah abstraksi dunia melalui perspektif Bali yang kontemplatif, enigmatis, dan sarat spiritualitas.

Begitulah “Orkestra Warna Kun Adnyana”.[T]

Penulis: Hartanto
Editor: Jaswanto

Tags: I Wayan Kun AdnyanaInstitut Seni Indonesia BaliInstitut Seni Indonesia Yogyakarta
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”

Next Post

Menapak Jejak Rarud Batur, Mengenang Seratus Tahun Ketangguhan dari Lereng Gunung Batur

Hartanto

Hartanto

Pengamat seni, tinggal di mana-mana

Related Posts

Kekuatan Warna, I Wayan Santrayana dan I Wayan Gede Budayana

by Hartanto
August 13, 2026
0
Kekuatan Warna, I Wayan Santrayana dan I Wayan Gede Budayana

MASIH berlanjut soal pameran The Power of Colours , perhelatan ini berlangsung 25 hingga 31 Agustus mendatang. Pameran digelar  di...

Read moreDetails

Kekuatan Warna Made Gunawan, I Ketut Suasana Kabul, dan I Ketut Suwidiarta

by Hartanto
August 11, 2026
0
Kekuatan Warna Made Gunawan, I Ketut Suasana Kabul, dan I Ketut Suwidiarta

PADA tanggal 25 hingga 31 Agustus mendatang akan digelar pameran seni rupa yang bertajuk The Power of Colour. Pameran akan...

Read moreDetails

Naif Karya Noe, Naif Karya Suklu

by I Wayan Sujana Suklu
August 11, 2026
0
Naif Karya Noe, Naif Karya Suklu

---Catatan seorang seniman tentang ketidaktahuan, pengetahuan, dan keberanian menggambar kembali Noe mengambar karena belum mengenal aturan, saya menjadi naif karena...

Read moreDetails

Bhisma yang Tak Pernah Mati di Kurukshetra: Membaca “Satya–Tyagya–Dharma” Karya Prof. Dr. Drs. I Wayan Suardana, M.Sn.

by Angga Wijaya
August 7, 2026
0
Bhisma yang Tak Pernah Mati di Kurukshetra: Membaca “Satya–Tyagya–Dharma” Karya Prof. Dr. Drs. I Wayan Suardana, M.Sn.

DI Bali, mitos tidak pernah benar-benar menjadi masa lalu. Ia tidak hanya tinggal dalam lembar-lembar lontar atau cerita yang dituturkan...

Read moreDetails

“Rumah”, Seni Instalasi Ni Nyoman Sani

by Hartanto
August 7, 2026
0
“Rumah”, Seni Instalasi Ni Nyoman Sani

PADA 10 April hingga 30 Juni 2026 lalu digelar pameran 12 Perupa Perempuan Indonesia. Perhelatan ini diinisiasi Indonesian Women Artists...

Read moreDetails

Mantra Visual Made Wiradana

by Hartanto
August 2, 2026
0
Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

Read moreDetails

SAMATRA: Membaca Isyarat-Isyarat Kecil dari Buki Gallery di Bumi Kinar Ubud

by Gustra Adnyana
July 31, 2026
0
SAMATRA: Membaca Isyarat-Isyarat Kecil dari Buki Gallery di Bumi Kinar Ubud

Di tepian aliran sungai Petanu, sebuah ruang seni baru tumbuh di tengah lanskap hijau Ubud. Buki Gallery di Bumi Kinar...

Read moreDetails

Ketika Semut Membangun Seorang Ratu—Membaca “Memayu Hayuning Bawana: Build the Queen” karya Dyan Brew

by Angga Wijaya
July 30, 2026
0
Ketika Semut Membangun Seorang Ratu—Membaca “Memayu Hayuning Bawana: Build the Queen” karya Dyan Brew

ADA perubahan yang menarik dalam lanskap seni kriya Indonesia dalam dua dekade terakhir. Jika dahulu kriya lebih sering dipahami sebagai...

Read moreDetails

Empat Jejak Abstraksi dan Figurasi Bali Kontemporer

by Hartanto
July 30, 2026
0
Empat Jejak Abstraksi dan Figurasi Bali Kontemporer

EMPAT karya dari empat pelukis Bali kontemporer yang turut berpartisipasi dalam Jogja Annual Art ke-11, yakni I Made Ruta, Ida...

Read moreDetails

Tanah yang Mengingat ——Membaca “Pataka Majapahit III” Karya Dr. Noor Sudiyati

by Angga Wijaya
July 28, 2026
0
Tanah yang Mengingat ——Membaca “Pataka Majapahit III” Karya Dr. Noor Sudiyati

TIDAK semua peninggalan masa lalu hadir sebagai bangunan megah atau artefak yang tersimpan di museum. Ada warisan yang jauh lebih...

Read moreDetails
Next Post
Menapak Jejak Rarud Batur, Mengenang Seratus Tahun Ketangguhan dari Lereng Gunung Batur

Menapak Jejak Rarud Batur, Mengenang Seratus Tahun Ketangguhan dari Lereng Gunung Batur

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Merawat “Briuk Siu”: Menghidupkan Kembali Wajah Solidaritas Kolektif di Bali
Esai

Merawat “Briuk Siu”: Menghidupkan Kembali Wajah Solidaritas Kolektif di Bali

MASYARAKAT Bali sejak lama dikenal memiliki fondasi sosial yang sangat kuat, yang hidup dan bernapas melalui nilai-nilai gotong royong tradisional....

by Nur Kamilia
August 14, 2026
AWINDO Perkuat Legalitas UMKM Disabilitas, Pelatihan Dilanjutkan Pendampingan
Pendidikan

AWINDO Perkuat Legalitas UMKM Disabilitas, Pelatihan Dilanjutkan Pendampingan

Asosiasi Wirausaha Inklusif Indonesia (AWINDO) memperkuat dukungan bagi pelaku UMKM disabilitas melalui training legalitas usaha. Kegiatan ini menjadi bagian dari...

by Angga Wijaya
August 14, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Kalau Kecerdasan Bukan dari Sekolah, Buat Apa Bangun Sekolah?

ADA kalimat Presiden Prabowo Subianto yang menarik perhatian saya. Bukan karena saya hendak meributkan atau memperdebatkan benar-salahnya. Jauh dari soal...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 14, 2026
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik
Esai

Merdeka: Dari Pekik ke Pengabdian

TUJUH Belas Agustus selalu datang dengan warna merah putih, upacara, lomba, pidato, lagu-lagu perjuangan, dan pekik Merdeka! Tahun ini kita...

by Ahmad Sihabudin
August 14, 2026
Kekuatan Warna, I Wayan Santrayana dan I Wayan Gede Budayana
Ulas Rupa

Kekuatan Warna, I Wayan Santrayana dan I Wayan Gede Budayana

MASIH berlanjut soal pameran The Power of Colours , perhelatan ini berlangsung 25 hingga 31 Agustus mendatang. Pameran digelar  di...

by Hartanto
August 13, 2026
Duta SMA, Pelantang Sebaya Perkuat Peradaban Bangsa   
Esai

Duta SMA, Pelantang Sebaya Perkuat Peradaban Bangsa   

PROGRAM Duta SMA pada 2026 telah memasuki Angkatan ke-5 sejak dimulai pada 2022. Program ini menjadi program prioritas Kemendikdasmen  yang...

by I Nyoman Tingkat
August 13, 2026
Filosofi Sabun Ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih
Ulas Musik

Filosofi Sabun Ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih

“Mitos tentang Jogja, hantui orang tua lepas anaknya jadi mahasiswa.” PERKENALAN pertamaku dengan Umar Haen adalah pada lagu “Di Jogja...

by Mahesa Putra
August 13, 2026
Dodot Trio di Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 dan Cerita Empat Dekade Jazz di Balik ‘The Story of White Piano’
Panggung

Dodot Trio di Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 dan Cerita Empat Dekade Jazz di Balik ‘The Story of White Piano’

MALAM di Subak Stage, Sthala Ubud Village Jazz Festival (SUVJF) 2026, berjalan dalam suasana tenang ketika Dodot Trio mulai memainkan...

by Dede Putra Wiguna
August 13, 2026
Sekali Lagi tentang Dirgahayu
Bahasa

Sekali Lagi tentang Dirgahayu

SETIAP menjelang bulan Agustus, ruang publik kita dipenuhi oleh baliho, spanduk, dan ucapan digital dengan berbagai variasi kalimat selamat hari...

by I Made Sudiana
August 13, 2026
Nak Badung, Nak Desa, Nak Dimel   
Esai

Nak Badung, Nak Desa, Nak Dimel   

PEMERINTAH Kabupaten Badung resmi meluncurkan beasiswa motivasi Nak Badung mulai Tahun 2026. Beasiswa ini diniatkan untuk meringankan biaya bagi siswa...

by I Nyoman Tingkat
August 12, 2026
International Youth Day, Menemukan Potensi dan Menjadi Orisinal
Esai

International Youth Day, Menemukan Potensi dan Menjadi Orisinal

Dari Gagasan Perdamaian Menuju International Youth Day Setiap 12 Agustus dunia memperingati International Youth Day. Hari ini mungkin tampak seperti...

by Agung Sudarsa
August 12, 2026
“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”
Opini

“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

ADA hasil percakapan yang masih mengusik ingatan penulis sampai saat ini, ketika 5 tahun yang lalu bercakap dalam suatu wawancara...

by Luh Putu Sendratari
August 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co