YOGYA Annual Art ke-11 tahun 2026 dengan tema Direction (Arah) ini, menurut saya, dibuka dengan sebuah kesadaran yang tajam: bahwa โpraktik artistikโ tidak pernah berdiri sendiri, melainkan selalu berkelindan dengan pengalaman โpedagogisโ, โpenelitianโ, dan โpengabdianโ.
Menyimak โteks reflektifโ yang ditulis Nadiyah Tunnisa di e-katalog, seperti menjadi pijakan tentang artistic practice (proses kreatif seniman) dan tentang โenergi penciptaanโ di tengah kewajiban โakademikโ.
Ini menunjukkan bahwa karya seni lahir bukan dari โkevakumanโ, melainkan dari tubuh yang terus berlatih, dari tangan yang berulang kali menggenggam kuas, dari mata yang terbiasa membaca ruang, dan dari pengalaman mengajar yang mengendap sebagai kepekaan baru.
Di sini, pameran yang diikuti dosen dari Institut Seni Indonesia Yogyakarta dan Institut Seni Indonesia Bali bukan sekadar ruang untuk menampilkan hasil karya, melainkan juga arena tempat pengalaman โmenubuhโ bertemu dengan berbagai pengalaman sosial lainnya, termasuk pengalaman โpedagogisโ.

Seorang seniman yang juga pengajar tentu tidak bisa sepenuhnya menanggalkan jejak โkelasโ, โdiskusiโ, dan โpertemuanโ dengan mahasiswa.
Sebaliknya, semua itu menyusup ke dalam cara ia membuat keputusan โartistikโ, membaca karyanya sendiri, dan memosisikan diri di hadapan publik.
Pameran ini digelar di Bale Banjar Sangkring, Nitiprayan No. 88, Ngestiharjo, Kasihan, Bantul, Yogyakarta. Acara berlangsung dari 19 Juni hingga 8 September 2026.
Menurut saya, perhelatan ini bukan hanya perayaan hasil karya, melainkan juga perayaan berbagai โprosesโ yang berlapis, penuh ketekunan, dan tak pernah selesai.

Di sini, seni dipahami sebagai praktik yang hidup di tubuh, yang terus diperbarui oleh berbagai pengalaman โsosialโ dan proses belajar-mengajar.
Selain itu, pameran ini juga menuntut kesadaran untuk menjaga โarahโ dan ruang โpenciptaanโ di tengah segala tuntutan pekerjaan dan tanggung jawab.
Dengan demikian, masih menurut saya, pameran ini menghadirkan bukan sekadar โobjek visualโ, melainkan juga โmedan energiโ. Sebuah percakapan antara โketekunan teknisโ, โkepekaan artistikโ, dan โpengalaman mengajarโ yang menjelma menjadi karya.
Karya Prof. I Wayan Kun Adnyana dalam Yogya Annual Art ke-11 ini menghadirkan energi yang berbeda dari nostalgia masa kanak-kanak yang kita lihat pada karya Suklu.
Dua lukisan abstrak yang ia tampilkan, Enigmatic Red Polych dan Enigmatic Deep Red (keduanya berukuran 180 ร 180 cm, akrilik di atas kanvas, 2026), merupakan โeksplorasi intensitasโ: warna sebagai bahasa utama.

Di sini, โarahโ yang ditawarkan bukanlah โarah naratifโ atau โikonografisโ, melainkan โarah atmosferโ: bagaimana warna merah, oranye, kuning, bahkan semburat biru gelap menjadi medan energi yang menggerakkan mata dan tubuh penikmat.
Mari kita simak. Sapuan kuas yang dinamis, lapisan cat yang tebal, dan tekstur yang berlapis-lapis menciptakan kesan gerak, seolah kanvas adalah ruang โturbulensiโ tempat warna saling bertabrakan, berbaur, bersenyawa, dan menegaskan kehadirannya.
Merah yang dipilih Kun Adnyana bukan sekadar โsimbolโ api atau darah, melainkan โmedan enigmaโโwarna yang menolak ditafsirkan secara tunggal.

Ia bisa menjadi gairah, bisa pula luka; bisa menjadi โvitalitasโ, bisa pula โketeganganโ. Dengan menambahkan nuansa oranye, kuning, dan sesekali biru gelap, ia memperkaya โgetar emosionalโ, sehingga karya ini terasa seperti โsimfoniโ warna yang berdenyut.
Dalam konteks tema Direction, karya Kun Adnyana dapat dibaca sebagai โarahโ ke dalam: sebuah โintrospeksiโ tentang bagaimana warna, sebagai โbahasa visualโ paling purba, mampu membuka ruang โkontemplasiโ.
Tidak ada figur, tidak ada โnarasi eksplisitโ. Yang ada hanyalah energi warna yang menuntun penikmat untuk masuk ke dalam โpusaran rasaโ.
Interpretasi saya, karya-karya ini berdiri sebagai โdeklarasi abstraksi kontemporerโ: bahwa โarahโ seni bisa ditemukan dalam keberanian untuk melepaskan figur, merayakan warna sebagai โentitas otonomโ, dan menghadirkan kanvas sebagai โruang intensitasโ yang terus bergerak.
Ada yang menarik perhatian saya ketika menyimak lebih dalam kedua karya Kun Adnyana ini, yakni perbedaan nuansa antara Enigmatic Red Polych dan Enigmatic Deep Red.

Karya I Wayan Kun Adnyana ini dapat dibaca sebagai dua pendekatan terhadap energi merah yang sama-sama โintensโ, tetapi dengan โorientasiโ yang berbeda.
Dalam Enigmatic Red Polych, โarahโ visualnya lebih terbuka pada keragaman โspektrumโ. Merah di sini tidak berdiri sendiri, melainkan berinteraksi dengan oranye, kuning, cokelat, bahkan semburat warna lain yang memperkaya โatmosferโ.
Polychโdari kata poly (banyak)โmenandai โpluralitasโ, sebuah medan warna yang berlapis-lapis, tempat setiap sapuan kuas menghadirkan โresonansiโ yang berbeda.
Karya ini terasa seperti โorkestra warnaโ, di mana merah adalah โkonduktorโ, tetapi suara โinstrumenโ lain ikut membentuk โharmoniโ.
Energinya lebih โpolifonikโ, lebih beragam, dan menekankan dinamika โinteraksiโ antarwarna.

Sebaliknya, Enigmatic Deep Red menekankan โsingularitasโ. Merah di sini menjadi pusat โgravitasiโ, warna yang โmendominasiโ dan menelan hampir seluruh ruang kanvas.
Sapuan kuas yang tebal dan intens menciptakan kedalaman, seolah penikmat ditarik masuk ke pusaran merah yang pekat.
Kehadiran warna lainโkuning, putih, dan biru gelapโhanya menjadi โaksenโ, bukan sebagai lawan yang seimbang.
Nuansa yang muncul adalah โmonologโ, bukan โdialogโโsebuah meditasi dalam satu warna yang menuntut โkontemplasiโ lebih dalam.
Dengan demikian, Polych adalah arah keluarโโpluralitasโ, โinteraksiโ, dan โekstroversiโ warna. Sedangkan Deep Red adalah arah masukโโintensitasโ, โkedalamanโ, dan โintrospeksiโ.

Keduanya sama-sama โenigmatisโ, tetapi berbeda dalam cara mengarahkan pengalaman penikmat. Yang satu mengajak merayakan โkeragaman spektrumโ, yang lain mengajak tenggelam dalam โsingularitasโ merah.
Polych dengan pluralitas warnanya dapat dibaca sebagai โmetafora sosialโ. Keragaman spektrumโmerah, oranye, kuning, cokelat, bahkan semburat biruโmenandai interaksi antarunsur yang berbeda, seperti masyarakat yang terdiri atas beragam individu dan latar.
Energi yang muncul adalah โpolifonikโโsetiap warna membawa โsuara sendiriโ, tetapi bersama-sama membentuk โharmoniโ.
Dalam konteks sosial, karya ini seolah menegaskan bahwa โarahโ seniโdan kehidupanโdapat ditemukan dalam keberanian merayakan perbedaan, dalam โdinamika interaksiโ yang tidak selalu mulus, tetapi justru memperkaya.
Sebaliknya, Deep Red dengan โsingularitasโnya menghadirkan โmetafora eksistensialโ. Merah yang mendominasi, pekat, dan nyaris menelan seluruh ruang kanvas adalah semacam โmonolog visualโ.
Ia menuntun penikmat untuk masuk ke kedalaman satu warna, satu intensitas, satu pusaran rasa.
Secara filosofis, ini dapat dibaca sebagai โmeditasiโ tentang โeksistensiโโbahwa di balik keragaman โsosialโ, ada pengalaman โeksistensialโ yang tak terelakkan: kesendirian, intensitas batin, dan pencarian makna yang โpersonalโ.
Kun Adnyana seolah menegaskan bahwa โarahโ seni tidak hanya bergerak ke luarโmerayakan keragamanโtetapi juga bergerak ke dalam, menggali kedalaman โeksistensiโ.
Keduanya akhirnya menjadi semacam โdialektikaโโโpluralitasโ dan โsingularitasโ, โsosialโ dan โeksistensialโ, โeksternalโ dan โinternalโ. Justru dalam ketegangan antara keduanya, โarahโ seni menemukan โmedan enigmatisโnya.

Menyimak lebih dalam karya Kun Adnyana mengingatkan kita pada tradisi abstrak-ekspresionisme dunia, terutama pada tokoh-tokoh seperti Mark Rothko, Willem de Kooning, dan Kazuo Shiraga, karena sama-sama menekankan โenergi warnaโ, โgesturโ, dan โkedalaman emosionalโ.
Namun, menurut interpretasi saya, Kun Adnyana menghadirkan โnuansa lokalโ dan โspiritualitasโ Bali yang membuat abstraksinya berbeda. Ia bukan sekadar melakukan โeksperimen formalโ, melainkan juga menghadirkan perenungan โeksistensialโ dan โsosialโ.
Pengamatan saya menunjukkan bahwa Willem de Kooning dan Kun Adnyana sama-sama menekankan โpluralitas warnaโ, sapuan kuas yang dinamis, serta energi yang โpolifonikโ (jalinan yang setara dan kaya akan suara).
Dengan demikian, Polych karya Kun Adnyana sejalan dengan โpluralitas energiโ yang dihadirkan de Kooning. Keragaman โspektrumโ warna menjadi drama visual yang terus bertambah, seperti sebuah โorkestraโ yang penuh lapisan dan saling bersahutan.
Perbedaannya, de Kooning sering menyisipkan figur yang โterdistorsiโ. Kun Adnyana justru lebih murni bergerak dalam wilayah โabstrakโ, dengan fokus pada โspektrumโ warna, energi tubuh, dan pluralitas warna, tanpa menghadirkan figur yang terdistorsi.
Jika kita hendak menelusuri lebih jauh persamaan Kun Adnyana dengan Mark Rothko, keduanya sama-sama menekankan โsingularitasโ warna, โkedalaman emosionalโ, dan โkontemplasi eksistensialโ.
Perbedaannya, Rothko cenderung menghadirkan bidang-bidang warna yang statis, sedangkan Kun Adnyana lebih โgesturalโ, penuh sapuan kuas yang berlapis. Ibarat sebuah konser musik, setiap lapisan warna menghadirkan instrumen yang saling menghidupkan.
Mari kita simak pendapat Rothko: โA painting is not a picture of an experience, but is the experience.โ (โLukisan bukanlah gambaran dari suatu pengalaman, melainkan pengalaman itu sendiri.โ)
Rothko menekankan pengalaman โtransendentalโ melalui bidang warna yang โheningโ. Deep Red karya Kun Adnyana memiliki kedekatan dengan gagasan tersebut, tetapi tampil lebih โberlapisโ dan โgesturalโ, sehingga menghadirkan intensitas yang lebih โberdenyutโ daripada โheningโ.

Sementara itu, padanan Kun Adnyana dengan Kazuo Shiraga terletak pada penekanan terhadap tubuh sebagai sumber energi, sapuan kuas yang โeksplosifโ, dan โintensitas fisikโ.
Perbedaannya, Shiraga melukis dengan tubuhnya, terutama kaki, sehingga menghadirkan performativitas yang sangat ekstrem. Kun Adnyana tidak bekerja secara performatif dalam pengertian literal. Ia tetap menggunakan kuas, tetapi menghadirkan โintensitas spiritualโ melalui konsep guwung suwung (ruang kosong yang bernyawa).
Meskipun Kun Adnyana tidak melukis dengan kaki, โenergi gesturalโ dalam karya-karyanya tetap menghadirkan โmedan turbulensiโ yang memiliki kemiripan dengan karya Shiraga.
Selanjutnya, ketika mengamati persamaan Kun Adnyana dengan Gerhard Richter, tampak bahwa keduanya sama-sama bergerak dari โfigurasiโ menuju โabstraksiโ melalui proses riset visual yang panjang.
Yang saya maksud dengan proses dari โfigurasiโ menuju โabstraksiโ ialah perubahan dari bentuk-bentuk yang nyata dan mudah dikenali menjadi bentuk yang melepaskan diri dari wujud asalnya, lalu memberi penekanan pada โesensiโ, โwarnaโ, dan โgarisโ.
Perbedaannya, Richter kerap bermain di antara โfotorealismeโ dan โabstraksiโ, sedangkan Kun Adnyana bergerak dari โgarisโ dan โfigur metaforisโ menuju โabstraksi spiritualโ yang kaya warna.
Oleh sebab itu, saya menyebut kedua karya Kun Adnyana ini sebagai โorkestra warnaโ.
Begitulah analisis saya terhadap dua karya I Wayan Kun Adnyana. Di dalamnya terdapat dialog antara tradisi Bali dan abstrak-ekspresionisme global.
Kendati demikian, Kun Adnyana menghadirkan dimensi lokal dan spiritual yang khas. Polych dapat dibaca sebagai metafora sosialโpluralitas warna sebagai gambaran keragaman masyarakatโsementara Deep Red menjadi metafora eksistensial, yakni kedalaman singularitas merah sebagai meditasi batin.
Bagi saya, karya Kun Adnyana bukan sekadar mengikuti jejak Rothko, de Kooning, Shiraga, atau Richter. Ia justru memperkaya khazanah abstraksi dunia melalui perspektif Bali yang kontemplatif, enigmatis, dan sarat spiritualitas.
Begitulah “Orkestra Warna Kun Adnyana”.[T]
Penulis: Hartanto
Editor: Jaswanto





























