26 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Orkestra Warna Kun Adnyana

Hartanto by Hartanto
July 25, 2026
in Ulas Rupa
Orkestra Warna Kun Adnyana

Enigmatic Red Polychrome karya I Wayan Kun Adnyana

YOGYA Annual Art ke-11 tahun 2026 dengan tema Direction (Arah) ini, menurut saya, dibuka dengan sebuah kesadaran yang tajam: bahwa ‘praktik artistik’ tidak pernah berdiri sendiri, melainkan selalu berkelindan dengan pengalaman ‘pedagogis’, ‘penelitian’, dan ‘pengabdian’.

Menyimak ‘teks reflektif’ yang ditulis Nadiyah Tunnisa di e-katalog, seperti menjadi pijakan tentang artistic practice (proses kreatif seniman) dan tentang ‘energi penciptaan’ di tengah kewajiban ‘akademik’.

Ini menunjukkan bahwa karya seni lahir bukan dari ‘kevakuman’, melainkan dari tubuh yang terus berlatih, dari tangan yang berulang kali menggenggam kuas, dari mata yang terbiasa membaca ruang, dan dari pengalaman mengajar yang mengendap sebagai kepekaan baru.

Di sini, pameran yang diikuti dosen dari Institut Seni Indonesia Yogyakarta dan Institut Seni Indonesia Bali bukan sekadar ruang untuk menampilkan hasil karya, melainkan juga arena tempat pengalaman ‘menubuh’ bertemu dengan berbagai pengalaman sosial lainnya, termasuk pengalaman ‘pedagogis’.

Seorang seniman yang juga pengajar tentu tidak bisa sepenuhnya menanggalkan jejak ‘kelas’, ‘diskusi’, dan ‘pertemuan’ dengan mahasiswa.

Sebaliknya, semua itu menyusup ke dalam cara ia membuat keputusan ‘artistik’, membaca karyanya sendiri, dan memosisikan diri di hadapan publik.

Pameran ini digelar di Bale Banjar Sangkring, Nitiprayan No. 88, Ngestiharjo, Kasihan, Bantul, Yogyakarta. Acara berlangsung dari 19 Juni hingga 8 September 2026.

Menurut saya, perhelatan ini bukan hanya perayaan hasil karya, melainkan juga perayaan berbagai ‘proses’ yang berlapis, penuh ketekunan, dan tak pernah selesai.

Di sini, seni dipahami sebagai praktik yang hidup di tubuh, yang terus diperbarui oleh berbagai pengalaman ‘sosial’ dan proses belajar-mengajar.

Selain itu, pameran ini juga menuntut kesadaran untuk menjaga ‘arah’ dan ruang ‘penciptaan’ di tengah segala tuntutan pekerjaan dan tanggung jawab.

Dengan demikian, masih menurut saya, pameran ini menghadirkan bukan sekadar ‘objek visual’, melainkan juga ‘medan energi’. Sebuah percakapan antara ‘ketekunan teknis’, ‘kepekaan artistik’, dan ‘pengalaman mengajar’ yang menjelma menjadi karya.

Karya Prof. I Wayan Kun Adnyana dalam Yogya Annual Art ke-11 ini menghadirkan energi yang berbeda dari nostalgia masa kanak-kanak yang kita lihat pada karya Suklu.

Dua lukisan abstrak yang ia tampilkan, Enigmatic Red Polych dan Enigmatic Deep Red (keduanya berukuran 180 × 180 cm, akrilik di atas kanvas, 2026), merupakan ‘eksplorasi intensitas’: warna sebagai bahasa utama.

Di sini, ‘arah’ yang ditawarkan bukanlah ‘arah naratif’ atau ‘ikonografis’, melainkan ‘arah atmosfer’: bagaimana warna merah, oranye, kuning, bahkan semburat biru gelap menjadi medan energi yang menggerakkan mata dan tubuh penikmat.

Mari kita simak. Sapuan kuas yang dinamis, lapisan cat yang tebal, dan tekstur yang berlapis-lapis menciptakan kesan gerak, seolah kanvas adalah ruang ‘turbulensi’ tempat warna saling bertabrakan, berbaur, bersenyawa, dan menegaskan kehadirannya.

Merah yang dipilih Kun Adnyana bukan sekadar ‘simbol’ api atau darah, melainkan ‘medan enigma’—warna yang menolak ditafsirkan secara tunggal.

Ia bisa menjadi gairah, bisa pula luka; bisa menjadi ‘vitalitas’, bisa pula ‘ketegangan’. Dengan menambahkan nuansa oranye, kuning, dan sesekali biru gelap, ia memperkaya ‘getar emosional’, sehingga karya ini terasa seperti ‘simfoni’ warna yang berdenyut.

Dalam konteks tema Direction, karya Kun Adnyana dapat dibaca sebagai ‘arah’ ke dalam: sebuah ‘introspeksi’ tentang bagaimana warna, sebagai ‘bahasa visual’ paling purba, mampu membuka ruang ‘kontemplasi’.

Tidak ada figur, tidak ada ‘narasi eksplisit’. Yang ada hanyalah energi warna yang menuntun penikmat untuk masuk ke dalam ‘pusaran rasa’.

Interpretasi saya, karya-karya ini berdiri sebagai ‘deklarasi abstraksi kontemporer’: bahwa ‘arah’ seni bisa ditemukan dalam keberanian untuk melepaskan figur, merayakan warna sebagai ‘entitas otonom’, dan menghadirkan kanvas sebagai ‘ruang intensitas’ yang terus bergerak.

Ada yang menarik perhatian saya ketika menyimak lebih dalam kedua karya Kun Adnyana ini, yakni perbedaan nuansa antara Enigmatic Red Polych dan Enigmatic Deep Red.

Karya I Wayan Kun Adnyana ini dapat dibaca sebagai dua pendekatan terhadap energi merah yang sama-sama ‘intens’, tetapi dengan ‘orientasi’ yang berbeda.

Dalam Enigmatic Red Polych, ‘arah’ visualnya lebih terbuka pada keragaman ‘spektrum’. Merah di sini tidak berdiri sendiri, melainkan berinteraksi dengan oranye, kuning, cokelat, bahkan semburat warna lain yang memperkaya ‘atmosfer’.

Polych—dari kata poly (banyak)—menandai ‘pluralitas’, sebuah medan warna yang berlapis-lapis, tempat setiap sapuan kuas menghadirkan ‘resonansi’ yang berbeda.

Karya ini terasa seperti ‘orkestra warna’, di mana merah adalah ‘konduktor’, tetapi suara ‘instrumen’ lain ikut membentuk ‘harmoni’.

Energinya lebih ‘polifonik’, lebih beragam, dan menekankan dinamika ‘interaksi’ antarwarna.

Sebaliknya, Enigmatic Deep Red menekankan ‘singularitas’. Merah di sini menjadi pusat ‘gravitasi’, warna yang ‘mendominasi’ dan menelan hampir seluruh ruang kanvas.

Sapuan kuas yang tebal dan intens menciptakan kedalaman, seolah penikmat ditarik masuk ke pusaran merah yang pekat.

Kehadiran warna lain—kuning, putih, dan biru gelap—hanya menjadi ‘aksen’, bukan sebagai lawan yang seimbang.

Nuansa yang muncul adalah ‘monolog’, bukan ‘dialog’—sebuah meditasi dalam satu warna yang menuntut ‘kontemplasi’ lebih dalam.

Dengan demikian, Polych adalah arah keluar—‘pluralitas’, ‘interaksi’, dan ‘ekstroversi’ warna. Sedangkan Deep Red adalah arah masuk—‘intensitas’, ‘kedalaman’, dan ‘introspeksi’.

Keduanya sama-sama ‘enigmatis’, tetapi berbeda dalam cara mengarahkan pengalaman penikmat. Yang satu mengajak merayakan ‘keragaman spektrum’, yang lain mengajak tenggelam dalam ‘singularitas’ merah.

Polych dengan pluralitas warnanya dapat dibaca sebagai ‘metafora sosial’. Keragaman spektrum—merah, oranye, kuning, cokelat, bahkan semburat biru—menandai interaksi antarunsur yang berbeda, seperti masyarakat yang terdiri atas beragam individu dan latar.

Energi yang muncul adalah ‘polifonik’—setiap warna membawa ‘suara sendiri’, tetapi bersama-sama membentuk ‘harmoni’.

Dalam konteks sosial, karya ini seolah menegaskan bahwa ‘arah’ seni—dan kehidupan—dapat ditemukan dalam keberanian merayakan perbedaan, dalam ‘dinamika interaksi’ yang tidak selalu mulus, tetapi justru memperkaya.

Sebaliknya, Deep Red dengan ‘singularitas’nya menghadirkan ‘metafora eksistensial’. Merah yang mendominasi, pekat, dan nyaris menelan seluruh ruang kanvas adalah semacam ‘monolog visual’.

Ia menuntun penikmat untuk masuk ke kedalaman satu warna, satu intensitas, satu pusaran rasa.

Secara filosofis, ini dapat dibaca sebagai ‘meditasi’ tentang ‘eksistensi’—bahwa di balik keragaman ‘sosial’, ada pengalaman ‘eksistensial’ yang tak terelakkan: kesendirian, intensitas batin, dan pencarian makna yang ‘personal’.

Kun Adnyana seolah menegaskan bahwa ‘arah’ seni tidak hanya bergerak ke luar—merayakan keragaman—tetapi juga bergerak ke dalam, menggali kedalaman ‘eksistensi’.

Keduanya akhirnya menjadi semacam ‘dialektika’—‘pluralitas’ dan ‘singularitas’, ‘sosial’ dan ‘eksistensial’, ‘eksternal’ dan ‘internal’. Justru dalam ketegangan antara keduanya, ‘arah’ seni menemukan ‘medan enigmatis’nya.

Menyimak lebih dalam karya Kun Adnyana mengingatkan kita pada tradisi abstrak-ekspresionisme dunia, terutama pada tokoh-tokoh seperti Mark Rothko, Willem de Kooning, dan Kazuo Shiraga, karena sama-sama menekankan ‘energi warna’, ‘gestur’, dan ‘kedalaman emosional’.

Namun, menurut interpretasi saya, Kun Adnyana menghadirkan ‘nuansa lokal’ dan ‘spiritualitas’ Bali yang membuat abstraksinya berbeda. Ia bukan sekadar melakukan ‘eksperimen formal’, melainkan juga menghadirkan perenungan ‘eksistensial’ dan ‘sosial’.

Pengamatan saya menunjukkan bahwa Willem de Kooning dan Kun Adnyana sama-sama menekankan ‘pluralitas warna’, sapuan kuas yang dinamis, serta energi yang ‘polifonik’ (jalinan yang setara dan kaya akan suara).

Dengan demikian, Polych karya Kun Adnyana sejalan dengan ‘pluralitas energi’ yang dihadirkan de Kooning. Keragaman ‘spektrum’ warna menjadi drama visual yang terus bertambah, seperti sebuah ‘orkestra’ yang penuh lapisan dan saling bersahutan.

Perbedaannya, de Kooning sering menyisipkan figur yang ‘terdistorsi’. Kun Adnyana justru lebih murni bergerak dalam wilayah ‘abstrak’, dengan fokus pada ‘spektrum’ warna, energi tubuh, dan pluralitas warna, tanpa menghadirkan figur yang terdistorsi.

Jika kita hendak menelusuri lebih jauh persamaan Kun Adnyana dengan Mark Rothko, keduanya sama-sama menekankan ‘singularitas’ warna, ‘kedalaman emosional’, dan ‘kontemplasi eksistensial’.

Perbedaannya, Rothko cenderung menghadirkan bidang-bidang warna yang statis, sedangkan Kun Adnyana lebih ‘gestural’, penuh sapuan kuas yang berlapis. Ibarat sebuah konser musik, setiap lapisan warna menghadirkan instrumen yang saling menghidupkan.

Mari kita simak pendapat Rothko: “A painting is not a picture of an experience, but is the experience.” (“Lukisan bukanlah gambaran dari suatu pengalaman, melainkan pengalaman itu sendiri.”)

Rothko menekankan pengalaman ‘transendental’ melalui bidang warna yang ‘hening’. Deep Red karya Kun Adnyana memiliki kedekatan dengan gagasan tersebut, tetapi tampil lebih ‘berlapis’ dan ‘gestural’, sehingga menghadirkan intensitas yang lebih ‘berdenyut’ daripada ‘hening’.

Sementara itu, padanan Kun Adnyana dengan Kazuo Shiraga terletak pada penekanan terhadap tubuh sebagai sumber energi, sapuan kuas yang ‘eksplosif’, dan ‘intensitas fisik’.

Perbedaannya, Shiraga melukis dengan tubuhnya, terutama kaki, sehingga menghadirkan performativitas yang sangat ekstrem. Kun Adnyana tidak bekerja secara performatif dalam pengertian literal. Ia tetap menggunakan kuas, tetapi menghadirkan ‘intensitas spiritual’ melalui konsep guwung suwung (ruang kosong yang bernyawa).

Meskipun Kun Adnyana tidak melukis dengan kaki, ‘energi gestural’ dalam karya-karyanya tetap menghadirkan ‘medan turbulensi’ yang memiliki kemiripan dengan karya Shiraga.

Selanjutnya, ketika mengamati persamaan Kun Adnyana dengan Gerhard Richter, tampak bahwa keduanya sama-sama bergerak dari ‘figurasi’ menuju ‘abstraksi’ melalui proses riset visual yang panjang.

Yang saya maksud dengan proses dari ‘figurasi’ menuju ‘abstraksi’ ialah perubahan dari bentuk-bentuk yang nyata dan mudah dikenali menjadi bentuk yang melepaskan diri dari wujud asalnya, lalu memberi penekanan pada ‘esensi’, ‘warna’, dan ‘garis’.

Perbedaannya, Richter kerap bermain di antara ‘fotorealisme’ dan ‘abstraksi’, sedangkan Kun Adnyana bergerak dari ‘garis’ dan ‘figur metaforis’ menuju ‘abstraksi spiritual’ yang kaya warna.

Oleh sebab itu, saya menyebut kedua karya Kun Adnyana ini sebagai ‘orkestra warna’.

Begitulah analisis saya terhadap dua karya I Wayan Kun Adnyana. Di dalamnya terdapat dialog antara tradisi Bali dan abstrak-ekspresionisme global.

Kendati demikian, Kun Adnyana menghadirkan dimensi lokal dan spiritual yang khas. Polych dapat dibaca sebagai metafora sosial—pluralitas warna sebagai gambaran keragaman masyarakat—sementara Deep Red menjadi metafora eksistensial, yakni kedalaman singularitas merah sebagai meditasi batin.

Bagi saya, karya Kun Adnyana bukan sekadar mengikuti jejak Rothko, de Kooning, Shiraga, atau Richter. Ia justru memperkaya khazanah abstraksi dunia melalui perspektif Bali yang kontemplatif, enigmatis, dan sarat spiritualitas.

Begitulah “Orkestra Warna Kun Adnyana”.[T]

Penulis: Hartanto
Editor: Jaswanto

Tags: I Wayan Kun AdnyanaInstitut Seni Indonesia BaliInstitut Seni Indonesia Yogyakarta
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”

Next Post

Menapak Jejak Rarud Batur, Mengenang Seratus Tahun Ketangguhan dari Lereng Gunung Batur

Hartanto

Hartanto

Pengamat seni, tinggal di mana-mana

Related Posts

Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

by Emi Suy
September 23, 2026
0
Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

Datang Setelah Riuh Saya datang ketika riuh telah selesai. Pameran telah usai dibuka, sebagian pengunjung mulai beranjak, percakapan telah menemukan...

Read moreDetails

Guci Nasib di Titik Nol Kota

by I Wayan Westa
September 22, 2026
0
Guci Nasib di Titik Nol Kota

”….dalam labirin, aku mencari guci nasibku, yang tersimpan dalam kabut kebuntuan, membentur dalam setiap sudut dinding, tak tahu jalan pulang,...

Read moreDetails

Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

Menelisik foto karya yang tampak pada pameran, bidang kanvas dipenuhi figur-figur wayang, makhluk mitologis, ornamen, tetumbuhan, dan jaringan garis yang...

Read moreDetails

Membaca Naga Agus Kama Loedin

by I Wayan Westa
September 16, 2026
0
Membaca Naga Agus Kama Loedin

---Venue Art, Batu & Studio, Batubulan, Gianyar, Bali | 12 September 2026 * Pameran "Jaga Raga Bara Jiwa" dibuka  Rektor...

Read moreDetails

Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

by Angga Wijaya
September 16, 2026
0
Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

Di Agung Rai Museum of Art atau ARMA, Ubud, Bali, pada Juli 2026, sebuah pohon penuh kuda hadir di antara...

Read moreDetails

Wajah I Made Galung Wiratmaja

by Hartanto
September 10, 2026
0
Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

Read moreDetails

“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

by Hartanto
September 3, 2026
0
“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

PADA tanggal 29 Agustus hingga 29 September 2026 nanti, digelar pameran lukisan karya I Ketut Suasana ‘Kabul’. Pameran bertajuk  Nectar...

Read moreDetails

Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

by I Wayan Westa
September 3, 2026
0
Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

DI tengah lingkungan yang rusak, belantara  Kalimantan terbakar, ribuan hektar tanah Subak di Bali   menyusut.  Sebab, dari 80.000 hektar di...

Read moreDetails

Seni Rupa Anomali Cokot dan Putu Fajar Arcana

by Hartanto
August 29, 2026
0
Seni Rupa Anomali Cokot dan Putu Fajar Arcana

PADA tulisan kali ini, saya ingin menekuni proses kreatif karya rupa Putu Fajar Arcana yang bagi saya cukup menarik. Pasalnya,...

Read moreDetails

Kekuatan Warna; I Gusti Nengah Nurata dan I Made Sutarjaya

by Hartanto
August 26, 2026
0
Kekuatan Warna; I Gusti Nengah Nurata dan I Made Sutarjaya

DI penghujung bulan Agustus, tepatnya pada tanggal 25 hingga 31 agustus mendatang – akan digelar Pameran senirupa yang bertajuk “The...

Read moreDetails
Next Post
Menapak Jejak Rarud Batur, Mengenang Seratus Tahun Ketangguhan dari Lereng Gunung Batur

Menapak Jejak Rarud Batur, Mengenang Seratus Tahun Ketangguhan dari Lereng Gunung Batur

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka
Ulas Musik

Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka

DI antara sembilan lagu yang mengisi album ketiga Barasuara, Jalaran Sadrah, ada satu nomor yang tidak berusaha tampil paling riang...

by Putu Gangga Pradipta
September 25, 2026
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran
Esai

Tetap Sehat dan Tetap Berguna Saat Menua

SEMUA orang ingin hidup panjang. Salah satu sosok yang sering menjadi inspirasi ketika membicarakan umur panjang adalah Dr. Shigeaki Hinohara,...

by Dr. dr. Ketut Putra Sedana, Sp.OG
September 25, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Topeng yang Dianggap Wajah: Mencari Keaslian Diri di Zaman Citra

Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri: apakah masih ada manusia yang sungguh-sungguh menjadi dirinya sendiri? PERTANYAAN ini terdengar sederhana, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
September 25, 2026
Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan
Esai

Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

SERINGKALI orang orang memulai suatu kebijakan berdasarkan aspirasi normative dan ideologi. Dimana yang menjadi fokus utama adalah bagaimana penerapan ini...

by Doni Sugiarto Wijaya
September 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Takut Korupsi? Kayak Anak Kecil Aja

BELAKANGAN ini banyak berita soal korupsi yang membuat khawatir. Kalau KPK sukses menangkapi oknum yang melanggar hukum maka korupsi sudah...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 24, 2026
Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12
Ulas Film

Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12

SAYA saya masih duduk di bangku SMP, saya pernah bertanya pada diri sendiri, “Apa yang akan terjadi jika saya bisa...

by Yoga Wismantara
September 24, 2026
Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998
Ulas Film

Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998

PERKEMBANGAN ekonomi dalam masyarakat biasanya memicu berbagai perubahan pada pasar yang kemudian berdampak pada kehidupan masyarakat dan lingkungan di sekitarnya....

by Arya Dhamma Nanda
September 24, 2026
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar
Khas

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

by Jaswanto
September 24, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
Rendez-vous Rasa 2026 Hadir di Bali, Perkuat Pertukaran Pengetahuan Gastronomi Prancis–Indonesia
Budaya

Rendez-vous Rasa 2026 Hadir di Bali, Perkuat Pertukaran Pengetahuan Gastronomi Prancis–Indonesia

DENPASAR | TATKALA.CO -- Gastronomi Prancis dan Indonesia akan bertemu di Bali melalui rangkaian kegiatan Rendez-vous Rasa: France–Indonesia Gastronomy Week...

by tatkala
September 23, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
Tut Karben Raih Suara Terbanyak di Pilkel Guwang, Gagasan Kini Menanti Pembuktian
Politik

Tut Karben Raih Suara Terbanyak di Pilkel Guwang, Gagasan Kini Menanti Pembuktian

PEMILIHAN Perbekel Desa Guwang 2026 telah usai. I Ketut Karben Wardana meraih suara terbanyak dalam pemungutan suara yang berlangsung pada...

by Dede Putra Wiguna
September 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co