25 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Orkestra Warna Kun Adnyana

Hartanto by Hartanto
July 25, 2026
in Ulas Rupa
Orkestra Warna Kun Adnyana

Enigmatic Red Polychrome karya I Wayan Kun Adnyana

YOGYA Annual Art ke-11 tahun 2026 dengan tema Direction (Arah) ini, menurut saya, dibuka dengan sebuah kesadaran yang tajam: bahwa ‘praktik artistik’ tidak pernah berdiri sendiri, melainkan selalu berkelindan dengan pengalaman ‘pedagogis’, ‘penelitian’, dan ‘pengabdian’.

Menyimak ‘teks reflektif’ yang ditulis Nadiyah Tunnisa di e-katalog, seperti menjadi pijakan tentang artistic practice (proses kreatif seniman) dan tentang ‘energi penciptaan’ di tengah kewajiban ‘akademik’.

Ini menunjukkan bahwa karya seni lahir bukan dari ‘kevakuman’, melainkan dari tubuh yang terus berlatih, dari tangan yang berulang kali menggenggam kuas, dari mata yang terbiasa membaca ruang, dan dari pengalaman mengajar yang mengendap sebagai kepekaan baru.

Di sini, pameran yang diikuti dosen dari Institut Seni Indonesia Yogyakarta dan Institut Seni Indonesia Bali bukan sekadar ruang untuk menampilkan hasil karya, melainkan juga arena tempat pengalaman ‘menubuh’ bertemu dengan berbagai pengalaman sosial lainnya, termasuk pengalaman ‘pedagogis’.

Seorang seniman yang juga pengajar tentu tidak bisa sepenuhnya menanggalkan jejak ‘kelas’, ‘diskusi’, dan ‘pertemuan’ dengan mahasiswa.

Sebaliknya, semua itu menyusup ke dalam cara ia membuat keputusan ‘artistik’, membaca karyanya sendiri, dan memosisikan diri di hadapan publik.

Pameran ini digelar di Bale Banjar Sangkring, Nitiprayan No. 88, Ngestiharjo, Kasihan, Bantul, Yogyakarta. Acara berlangsung dari 19 Juni hingga 8 September 2026.

Menurut saya, perhelatan ini bukan hanya perayaan hasil karya, melainkan juga perayaan berbagai ‘proses’ yang berlapis, penuh ketekunan, dan tak pernah selesai.

Di sini, seni dipahami sebagai praktik yang hidup di tubuh, yang terus diperbarui oleh berbagai pengalaman ‘sosial’ dan proses belajar-mengajar.

Selain itu, pameran ini juga menuntut kesadaran untuk menjaga ‘arah’ dan ruang ‘penciptaan’ di tengah segala tuntutan pekerjaan dan tanggung jawab.

Dengan demikian, masih menurut saya, pameran ini menghadirkan bukan sekadar ‘objek visual’, melainkan juga ‘medan energi’. Sebuah percakapan antara ‘ketekunan teknis’, ‘kepekaan artistik’, dan ‘pengalaman mengajar’ yang menjelma menjadi karya.

Karya Prof. I Wayan Kun Adnyana dalam Yogya Annual Art ke-11 ini menghadirkan energi yang berbeda dari nostalgia masa kanak-kanak yang kita lihat pada karya Suklu.

Dua lukisan abstrak yang ia tampilkan, Enigmatic Red Polych dan Enigmatic Deep Red (keduanya berukuran 180 × 180 cm, akrilik di atas kanvas, 2026), merupakan ‘eksplorasi intensitas’: warna sebagai bahasa utama.

Di sini, ‘arah’ yang ditawarkan bukanlah ‘arah naratif’ atau ‘ikonografis’, melainkan ‘arah atmosfer’: bagaimana warna merah, oranye, kuning, bahkan semburat biru gelap menjadi medan energi yang menggerakkan mata dan tubuh penikmat.

Mari kita simak. Sapuan kuas yang dinamis, lapisan cat yang tebal, dan tekstur yang berlapis-lapis menciptakan kesan gerak, seolah kanvas adalah ruang ‘turbulensi’ tempat warna saling bertabrakan, berbaur, bersenyawa, dan menegaskan kehadirannya.

Merah yang dipilih Kun Adnyana bukan sekadar ‘simbol’ api atau darah, melainkan ‘medan enigma’—warna yang menolak ditafsirkan secara tunggal.

Ia bisa menjadi gairah, bisa pula luka; bisa menjadi ‘vitalitas’, bisa pula ‘ketegangan’. Dengan menambahkan nuansa oranye, kuning, dan sesekali biru gelap, ia memperkaya ‘getar emosional’, sehingga karya ini terasa seperti ‘simfoni’ warna yang berdenyut.

Dalam konteks tema Direction, karya Kun Adnyana dapat dibaca sebagai ‘arah’ ke dalam: sebuah ‘introspeksi’ tentang bagaimana warna, sebagai ‘bahasa visual’ paling purba, mampu membuka ruang ‘kontemplasi’.

Tidak ada figur, tidak ada ‘narasi eksplisit’. Yang ada hanyalah energi warna yang menuntun penikmat untuk masuk ke dalam ‘pusaran rasa’.

Interpretasi saya, karya-karya ini berdiri sebagai ‘deklarasi abstraksi kontemporer’: bahwa ‘arah’ seni bisa ditemukan dalam keberanian untuk melepaskan figur, merayakan warna sebagai ‘entitas otonom’, dan menghadirkan kanvas sebagai ‘ruang intensitas’ yang terus bergerak.

Ada yang menarik perhatian saya ketika menyimak lebih dalam kedua karya Kun Adnyana ini, yakni perbedaan nuansa antara Enigmatic Red Polych dan Enigmatic Deep Red.

Karya I Wayan Kun Adnyana ini dapat dibaca sebagai dua pendekatan terhadap energi merah yang sama-sama ‘intens’, tetapi dengan ‘orientasi’ yang berbeda.

Dalam Enigmatic Red Polych, ‘arah’ visualnya lebih terbuka pada keragaman ‘spektrum’. Merah di sini tidak berdiri sendiri, melainkan berinteraksi dengan oranye, kuning, cokelat, bahkan semburat warna lain yang memperkaya ‘atmosfer’.

Polych—dari kata poly (banyak)—menandai ‘pluralitas’, sebuah medan warna yang berlapis-lapis, tempat setiap sapuan kuas menghadirkan ‘resonansi’ yang berbeda.

Karya ini terasa seperti ‘orkestra warna’, di mana merah adalah ‘konduktor’, tetapi suara ‘instrumen’ lain ikut membentuk ‘harmoni’.

Energinya lebih ‘polifonik’, lebih beragam, dan menekankan dinamika ‘interaksi’ antarwarna.

Sebaliknya, Enigmatic Deep Red menekankan ‘singularitas’. Merah di sini menjadi pusat ‘gravitasi’, warna yang ‘mendominasi’ dan menelan hampir seluruh ruang kanvas.

Sapuan kuas yang tebal dan intens menciptakan kedalaman, seolah penikmat ditarik masuk ke pusaran merah yang pekat.

Kehadiran warna lain—kuning, putih, dan biru gelap—hanya menjadi ‘aksen’, bukan sebagai lawan yang seimbang.

Nuansa yang muncul adalah ‘monolog’, bukan ‘dialog’—sebuah meditasi dalam satu warna yang menuntut ‘kontemplasi’ lebih dalam.

Dengan demikian, Polych adalah arah keluar—‘pluralitas’, ‘interaksi’, dan ‘ekstroversi’ warna. Sedangkan Deep Red adalah arah masuk—‘intensitas’, ‘kedalaman’, dan ‘introspeksi’.

Keduanya sama-sama ‘enigmatis’, tetapi berbeda dalam cara mengarahkan pengalaman penikmat. Yang satu mengajak merayakan ‘keragaman spektrum’, yang lain mengajak tenggelam dalam ‘singularitas’ merah.

Polych dengan pluralitas warnanya dapat dibaca sebagai ‘metafora sosial’. Keragaman spektrum—merah, oranye, kuning, cokelat, bahkan semburat biru—menandai interaksi antarunsur yang berbeda, seperti masyarakat yang terdiri atas beragam individu dan latar.

Energi yang muncul adalah ‘polifonik’—setiap warna membawa ‘suara sendiri’, tetapi bersama-sama membentuk ‘harmoni’.

Dalam konteks sosial, karya ini seolah menegaskan bahwa ‘arah’ seni—dan kehidupan—dapat ditemukan dalam keberanian merayakan perbedaan, dalam ‘dinamika interaksi’ yang tidak selalu mulus, tetapi justru memperkaya.

Sebaliknya, Deep Red dengan ‘singularitas’nya menghadirkan ‘metafora eksistensial’. Merah yang mendominasi, pekat, dan nyaris menelan seluruh ruang kanvas adalah semacam ‘monolog visual’.

Ia menuntun penikmat untuk masuk ke kedalaman satu warna, satu intensitas, satu pusaran rasa.

Secara filosofis, ini dapat dibaca sebagai ‘meditasi’ tentang ‘eksistensi’—bahwa di balik keragaman ‘sosial’, ada pengalaman ‘eksistensial’ yang tak terelakkan: kesendirian, intensitas batin, dan pencarian makna yang ‘personal’.

Kun Adnyana seolah menegaskan bahwa ‘arah’ seni tidak hanya bergerak ke luar—merayakan keragaman—tetapi juga bergerak ke dalam, menggali kedalaman ‘eksistensi’.

Keduanya akhirnya menjadi semacam ‘dialektika’—‘pluralitas’ dan ‘singularitas’, ‘sosial’ dan ‘eksistensial’, ‘eksternal’ dan ‘internal’. Justru dalam ketegangan antara keduanya, ‘arah’ seni menemukan ‘medan enigmatis’nya.

Menyimak lebih dalam karya Kun Adnyana mengingatkan kita pada tradisi abstrak-ekspresionisme dunia, terutama pada tokoh-tokoh seperti Mark Rothko, Willem de Kooning, dan Kazuo Shiraga, karena sama-sama menekankan ‘energi warna’, ‘gestur’, dan ‘kedalaman emosional’.

Namun, menurut interpretasi saya, Kun Adnyana menghadirkan ‘nuansa lokal’ dan ‘spiritualitas’ Bali yang membuat abstraksinya berbeda. Ia bukan sekadar melakukan ‘eksperimen formal’, melainkan juga menghadirkan perenungan ‘eksistensial’ dan ‘sosial’.

Pengamatan saya menunjukkan bahwa Willem de Kooning dan Kun Adnyana sama-sama menekankan ‘pluralitas warna’, sapuan kuas yang dinamis, serta energi yang ‘polifonik’ (jalinan yang setara dan kaya akan suara).

Dengan demikian, Polych karya Kun Adnyana sejalan dengan ‘pluralitas energi’ yang dihadirkan de Kooning. Keragaman ‘spektrum’ warna menjadi drama visual yang terus bertambah, seperti sebuah ‘orkestra’ yang penuh lapisan dan saling bersahutan.

Perbedaannya, de Kooning sering menyisipkan figur yang ‘terdistorsi’. Kun Adnyana justru lebih murni bergerak dalam wilayah ‘abstrak’, dengan fokus pada ‘spektrum’ warna, energi tubuh, dan pluralitas warna, tanpa menghadirkan figur yang terdistorsi.

Jika kita hendak menelusuri lebih jauh persamaan Kun Adnyana dengan Mark Rothko, keduanya sama-sama menekankan ‘singularitas’ warna, ‘kedalaman emosional’, dan ‘kontemplasi eksistensial’.

Perbedaannya, Rothko cenderung menghadirkan bidang-bidang warna yang statis, sedangkan Kun Adnyana lebih ‘gestural’, penuh sapuan kuas yang berlapis. Ibarat sebuah konser musik, setiap lapisan warna menghadirkan instrumen yang saling menghidupkan.

Mari kita simak pendapat Rothko: “A painting is not a picture of an experience, but is the experience.” (“Lukisan bukanlah gambaran dari suatu pengalaman, melainkan pengalaman itu sendiri.”)

Rothko menekankan pengalaman ‘transendental’ melalui bidang warna yang ‘hening’. Deep Red karya Kun Adnyana memiliki kedekatan dengan gagasan tersebut, tetapi tampil lebih ‘berlapis’ dan ‘gestural’, sehingga menghadirkan intensitas yang lebih ‘berdenyut’ daripada ‘hening’.

Sementara itu, padanan Kun Adnyana dengan Kazuo Shiraga terletak pada penekanan terhadap tubuh sebagai sumber energi, sapuan kuas yang ‘eksplosif’, dan ‘intensitas fisik’.

Perbedaannya, Shiraga melukis dengan tubuhnya, terutama kaki, sehingga menghadirkan performativitas yang sangat ekstrem. Kun Adnyana tidak bekerja secara performatif dalam pengertian literal. Ia tetap menggunakan kuas, tetapi menghadirkan ‘intensitas spiritual’ melalui konsep guwung suwung (ruang kosong yang bernyawa).

Meskipun Kun Adnyana tidak melukis dengan kaki, ‘energi gestural’ dalam karya-karyanya tetap menghadirkan ‘medan turbulensi’ yang memiliki kemiripan dengan karya Shiraga.

Selanjutnya, ketika mengamati persamaan Kun Adnyana dengan Gerhard Richter, tampak bahwa keduanya sama-sama bergerak dari ‘figurasi’ menuju ‘abstraksi’ melalui proses riset visual yang panjang.

Yang saya maksud dengan proses dari ‘figurasi’ menuju ‘abstraksi’ ialah perubahan dari bentuk-bentuk yang nyata dan mudah dikenali menjadi bentuk yang melepaskan diri dari wujud asalnya, lalu memberi penekanan pada ‘esensi’, ‘warna’, dan ‘garis’.

Perbedaannya, Richter kerap bermain di antara ‘fotorealisme’ dan ‘abstraksi’, sedangkan Kun Adnyana bergerak dari ‘garis’ dan ‘figur metaforis’ menuju ‘abstraksi spiritual’ yang kaya warna.

Oleh sebab itu, saya menyebut kedua karya Kun Adnyana ini sebagai ‘orkestra warna’.

Begitulah analisis saya terhadap dua karya I Wayan Kun Adnyana. Di dalamnya terdapat dialog antara tradisi Bali dan abstrak-ekspresionisme global.

Kendati demikian, Kun Adnyana menghadirkan dimensi lokal dan spiritual yang khas. Polych dapat dibaca sebagai metafora sosial—pluralitas warna sebagai gambaran keragaman masyarakat—sementara Deep Red menjadi metafora eksistensial, yakni kedalaman singularitas merah sebagai meditasi batin.

Bagi saya, karya Kun Adnyana bukan sekadar mengikuti jejak Rothko, de Kooning, Shiraga, atau Richter. Ia justru memperkaya khazanah abstraksi dunia melalui perspektif Bali yang kontemplatif, enigmatis, dan sarat spiritualitas.

Begitulah “Orkestra Warna Kun Adnyana”.[T]

Penulis: Hartanto
Editor: Jaswanto

Tags: I Wayan Kun AdnyanaInstitut Seni Indonesia BaliInstitut Seni Indonesia Yogyakarta
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”

Next Post

Menapak Jejak Rarud Batur, Mengenang Seratus Tahun Ketangguhan dari Lereng Gunung Batur

Hartanto

Hartanto

Pengamat seni, tinggal di mana-mana

Related Posts

Semesta di Dalam Tanah Liat: Membaca Karya-Karya Keramik Dr. Dra. Ni Made Rai Sunarini, M.Si.

by Angga Wijaya
July 24, 2026
0
Semesta di Dalam Tanah Liat: Membaca Karya-Karya Keramik Dr. Dra. Ni Made Rai Sunarini, M.Si.

BARANGKALI kita terlalu sering memandang alam sebagai sesuatu yang berada di luar diri. Gunung adalah bentang yang dikunjungi ketika musim...

Read moreDetails

Musikal Visual Karya Wayan Sujana Suklu

by Hartanto
July 24, 2026
0
Musikal Visual Karya Wayan Sujana Suklu

Pameran Yogya Annual Art ke-11 yang mengambil tema Direction (Arah) digelar di Bale Banjar Sangkring, Nitiprayan No. 88, Ngestiharjo, Kasihan,...

Read moreDetails

Kosmologi Sulur Wayan Setem

by Hartanto
July 23, 2026
0
Kosmologi Sulur Wayan Setem

PAMERAN Yogya Annual Art #11 dengan tema Direction (Arah) sangatlah menarik. Sebab, pameran ini menghadirkan medan ‘refleksi’ yang unik, terutama...

Read moreDetails

Ketika Kebaya Menjadi Cara Membaca Bali —[Membaca “Sundari Rajata” Karya Ida Ayu Kade Sri Sukmadewi]

by Angga Wijaya
July 23, 2026
0
Ketika Kebaya Menjadi Cara Membaca Bali —[Membaca “Sundari Rajata” Karya Ida Ayu Kade Sri Sukmadewi]

JIKA seni memiliki kemampuan mengembalikan sesuatu yang biasa menjadi luar biasa, maka Sundari Rajata melakukannya melalui sebuah kebaya. Busana yang...

Read moreDetails

Genesis: Rahim Bumi, Rahim Kehidupan —[Membaca Karya Keramik Ida Ayu Gede Artayani]

by Angga Wijaya
July 20, 2026
0
Genesis: Rahim Bumi, Rahim Kehidupan —[Membaca Karya Keramik Ida Ayu Gede Artayani]

"Kita tidak mewarisi bumi dari leluhur. Kita meminjamnya dari anak cucu." Kalimat yang sering dikutip dalam berbagai diskusi lingkungan itu...

Read moreDetails

Membaca Alam yang Tersimpan dalam Serat —Menafsir “Barik” Karya Dr. Sn. Inty Nahari

by Angga Wijaya
July 19, 2026
0
Membaca Alam yang Tersimpan dalam Serat —Menafsir “Barik” Karya Dr. Sn. Inty Nahari

ADA kecenderungan menarik dalam perkembangan seni kriya beberapa tahun terakhir. Para perupa tidak lagi hanya berbicara tentang keterampilan mengolah bahan,...

Read moreDetails

Kitab yang Ditulis Alam —Membaca “The Sacred Text of Padma” karya Sumino dan Sarah Kasuhardi

by Angga Wijaya
July 15, 2026
0
Kitab yang Ditulis Alam —Membaca “The Sacred Text of Padma” karya Sumino dan Sarah Kasuhardi

TIDAK semua pengetahuan lahir dari buku. Jauh sebelum manusia mengenal aksara, alam telah lebih dahulu menjadi ruang belajar. Pohon mengajarkan...

Read moreDetails

Suardina dan Bahasa Tanah yang Tak Pernah Habis

by Angga Wijaya
July 8, 2026
0
Suardina dan Bahasa Tanah yang Tak Pernah Habis

DI Bale Daja Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud, aroma tanah bakar seperti masih tertinggal di antara puluhan karya...

Read moreDetails

BARIK: Catatan Mengunjungi Pameran Sparsa Rupa

by Dewa Purwita Sukahet
July 7, 2026
0
BARIK: Catatan Mengunjungi Pameran Sparsa Rupa

“Ring wwang haywa nirāśrayeka gawayen tekeng mahānaśraya” – Niti Sastra SENI rupa kontemporer tidak lagi menekankan pada aspek pemaknaan sebuah...

Read moreDetails

Membongkar Praktik Artistik Pada Puisi Sebatang Kara: Dalam Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”

by Mahesa Putra
July 6, 2026
0
Membongkar Praktik Artistik Pada Puisi Sebatang Kara: Dalam Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”

SEPERTI sajian pada menu makan bergizi, yang ditimbang, ditakar, hingga diukur kepada siapa porsi makan ini layak dihidangkan. Kepada tubuh...

Read moreDetails
Next Post
Menapak Jejak Rarud Batur, Mengenang Seratus Tahun Ketangguhan dari Lereng Gunung Batur

Menapak Jejak Rarud Batur, Mengenang Seratus Tahun Ketangguhan dari Lereng Gunung Batur

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Tak Sepatah Kata’: Ketika 100 Tahun Puisi Indonesia di Bali Menjelma Menjadi Sebuah Pertunjukan
Panggung

‘Tak Sepatah Kata’: Ketika 100 Tahun Puisi Indonesia di Bali Menjelma Menjadi Sebuah Pertunjukan

RUANGAN Gedung Ksirarnawa mendadak sunyi. Lampu panggung meredup, hanya menyisakan seberkas cahaya yang jatuh pada seorang lelaki yang duduk di...

by Dede Putra Wiguna
July 25, 2026
“Katarsis Jiwa Kelam”: Ketika Geguritan ‘Bagus Diarsa’ Menjelma Drama Musikal Kontemporer di Festival Seni Bali Jani 2026
Panggung

“Katarsis Jiwa Kelam”: Ketika Geguritan ‘Bagus Diarsa’ Menjelma Drama Musikal Kontemporer di Festival Seni Bali Jani 2026

KETIKA Bagus Diarsa tampak sibuk menatap layar telepon genggamnya, di sampingnya berdiri sosok berwajah penuh riasan, berbusana merah menyala. Dialah...

by Dede Putra Wiguna
July 25, 2026
Menapak Jejak Rarud Batur, Mengenang Seratus Tahun Ketangguhan dari Lereng Gunung Batur
Budaya

Menapak Jejak Rarud Batur, Mengenang Seratus Tahun Ketangguhan dari Lereng Gunung Batur

DI kaki Gunung Batur, sejarah tidak hanya tersimpan dalam arsip atau cerita para tetua; tapi hidup di jalan-jalan yang pernah...

by tatkala
July 25, 2026
Orkestra Warna Kun Adnyana
Ulas Rupa

Orkestra Warna Kun Adnyana

YOGYA Annual Art ke-11 tahun 2026 dengan tema Direction (Arah) ini, menurut saya, dibuka dengan sebuah kesadaran yang tajam: bahwa...

by Hartanto
July 25, 2026
Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”
Khas

Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”

PERJALANAN panjang musik pop Bali menjadi sorotan dalam bedah buku Kéné Kéto: Musik Pop Bali karya I Made Adnyana pada...

by Nyoman Budarsana
July 25, 2026
Kebaya Hari Ini, Masihkah Menutup Sesuai Adabnya?
Esai

Kebaya Hari Ini, Masihkah Menutup Sesuai Adabnya?

KEMERIAHAN saya sebagai generasi milenial dalam berpakaian pada masa kanak kanak sangat jauh berbeda dengan gen alpha dan gen beta...

by Pande Susan
July 24, 2026
Lewat Digitalisasi dan “Green Tourism”, Mahasiswa Politeknik Negeri Bali Menghidupkan Potensi Desa Muncan, Karangasem
Pendidikan

Lewat Digitalisasi dan “Green Tourism”, Mahasiswa Politeknik Negeri Bali Menghidupkan Potensi Desa Muncan, Karangasem

BANYAK program pengabdian masyarakat berakhir sebagai seremoni. Datang, memberi pelatihan, lalu pulang. Namun, program Bina Desa yang digagas Badan Eksekutif...

by Dede Putra Wiguna
July 24, 2026
Kesetiaan Itu Mahal ——Ketika Gotawa Menafsirkan “Satya” Lewat Pameran Tunggal di Toke, Toko Kopi & Seni
Pameran

Kesetiaan Itu Mahal ——Ketika Gotawa Menafsirkan “Satya” Lewat Pameran Tunggal di Toke, Toko Kopi & Seni

DI tengah denting musik elektronik yang berpadu dengan aroma dupa dan canang, Gotawa berdiri di depan kanvas. Tangannya bergerak, menumpahkan...

by Dede Putra Wiguna
July 24, 2026
Siap-siap ke Lovina Festival 2026
Panggung

Siap-siap ke Lovina Festival 2026

"Hari ini kesiapan sudah seratus persen," ucap Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra membuka jumpa pers di Spice Dive Beach Club,...

by Komang Puja Savitri
July 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Ketika Negara Kehilangan Hak untuk Dipercaya

BEBERAPA waktu terakhir, publik menyaksikan pemberitaan mengenai penyitaan barang bukti berupa emas dan uang tunai dalam jumlah yang sangat besar...

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 24, 2026
Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital
Esai

Sejak Kapan Pemerintah Mengurus Orientasi Seksual Warganya?

Salah satu indikator paling nyata dari kemunduran tata kelola pemerintahan adalah ketika negara lebih disibukkan mengatur moralitas di ruang privat...

by Surfian Rahmat AP
July 24, 2026
Instalasi Panel Surya dan Sertifikasi Green Building: Panduan untuk Pemilik Gedung
Gaya

Instalasi Panel Surya dan Sertifikasi Green Building: Panduan untuk Pemilik Gedung

INSTALASI panel surya kini menjadi salah satu strategi yang semakin dipertimbangkan untuk mengendalikan biaya energi, sekaligus memenuhi target keberlanjutan. Saat...

by tatkala
July 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co