17 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Orkestra Warna Kun Adnyana

Hartanto by Hartanto
July 25, 2026
in Ulas Rupa
Orkestra Warna Kun Adnyana

Enigmatic Red Polychrome karya I Wayan Kun Adnyana

YOGYA Annual Art ke-11 tahun 2026 dengan tema Direction (Arah) ini, menurut saya, dibuka dengan sebuah kesadaran yang tajam: bahwa โ€˜praktik artistikโ€™ tidak pernah berdiri sendiri, melainkan selalu berkelindan dengan pengalaman โ€˜pedagogisโ€™, โ€˜penelitianโ€™, dan โ€˜pengabdianโ€™.

Menyimak โ€˜teks reflektifโ€™ yang ditulis Nadiyah Tunnisa di e-katalog, seperti menjadi pijakan tentang artistic practice (proses kreatif seniman) dan tentang โ€˜energi penciptaanโ€™ di tengah kewajiban โ€˜akademikโ€™.

Ini menunjukkan bahwa karya seni lahir bukan dari โ€˜kevakumanโ€™, melainkan dari tubuh yang terus berlatih, dari tangan yang berulang kali menggenggam kuas, dari mata yang terbiasa membaca ruang, dan dari pengalaman mengajar yang mengendap sebagai kepekaan baru.

Di sini, pameran yang diikuti dosen dari Institut Seni Indonesia Yogyakarta dan Institut Seni Indonesia Bali bukan sekadar ruang untuk menampilkan hasil karya, melainkan juga arena tempat pengalaman โ€˜menubuhโ€™ bertemu dengan berbagai pengalaman sosial lainnya, termasuk pengalaman โ€˜pedagogisโ€™.

Seorang seniman yang juga pengajar tentu tidak bisa sepenuhnya menanggalkan jejak โ€˜kelasโ€™, โ€˜diskusiโ€™, dan โ€˜pertemuanโ€™ dengan mahasiswa.

Sebaliknya, semua itu menyusup ke dalam cara ia membuat keputusan โ€˜artistikโ€™, membaca karyanya sendiri, dan memosisikan diri di hadapan publik.

Pameran ini digelar di Bale Banjar Sangkring, Nitiprayan No. 88, Ngestiharjo, Kasihan, Bantul, Yogyakarta. Acara berlangsung dari 19 Juni hingga 8 September 2026.

Menurut saya, perhelatan ini bukan hanya perayaan hasil karya, melainkan juga perayaan berbagai โ€˜prosesโ€™ yang berlapis, penuh ketekunan, dan tak pernah selesai.

Di sini, seni dipahami sebagai praktik yang hidup di tubuh, yang terus diperbarui oleh berbagai pengalaman โ€˜sosialโ€™ dan proses belajar-mengajar.

Selain itu, pameran ini juga menuntut kesadaran untuk menjaga โ€˜arahโ€™ dan ruang โ€˜penciptaanโ€™ di tengah segala tuntutan pekerjaan dan tanggung jawab.

Dengan demikian, masih menurut saya, pameran ini menghadirkan bukan sekadar โ€˜objek visualโ€™, melainkan juga โ€˜medan energiโ€™. Sebuah percakapan antara โ€˜ketekunan teknisโ€™, โ€˜kepekaan artistikโ€™, dan โ€˜pengalaman mengajarโ€™ yang menjelma menjadi karya.

Karya Prof. I Wayan Kun Adnyana dalam Yogya Annual Art ke-11 ini menghadirkan energi yang berbeda dari nostalgia masa kanak-kanak yang kita lihat pada karya Suklu.

Dua lukisan abstrak yang ia tampilkan, Enigmatic Red Polych dan Enigmatic Deep Red (keduanya berukuran 180 ร— 180 cm, akrilik di atas kanvas, 2026), merupakan โ€˜eksplorasi intensitasโ€™: warna sebagai bahasa utama.

Di sini, โ€˜arahโ€™ yang ditawarkan bukanlah โ€˜arah naratifโ€™ atau โ€˜ikonografisโ€™, melainkan โ€˜arah atmosferโ€™: bagaimana warna merah, oranye, kuning, bahkan semburat biru gelap menjadi medan energi yang menggerakkan mata dan tubuh penikmat.

Mari kita simak. Sapuan kuas yang dinamis, lapisan cat yang tebal, dan tekstur yang berlapis-lapis menciptakan kesan gerak, seolah kanvas adalah ruang โ€˜turbulensiโ€™ tempat warna saling bertabrakan, berbaur, bersenyawa, dan menegaskan kehadirannya.

Merah yang dipilih Kun Adnyana bukan sekadar โ€˜simbolโ€™ api atau darah, melainkan โ€˜medan enigmaโ€™โ€”warna yang menolak ditafsirkan secara tunggal.

Ia bisa menjadi gairah, bisa pula luka; bisa menjadi โ€˜vitalitasโ€™, bisa pula โ€˜keteganganโ€™. Dengan menambahkan nuansa oranye, kuning, dan sesekali biru gelap, ia memperkaya โ€˜getar emosionalโ€™, sehingga karya ini terasa seperti โ€˜simfoniโ€™ warna yang berdenyut.

Dalam konteks tema Direction, karya Kun Adnyana dapat dibaca sebagai โ€˜arahโ€™ ke dalam: sebuah โ€˜introspeksiโ€™ tentang bagaimana warna, sebagai โ€˜bahasa visualโ€™ paling purba, mampu membuka ruang โ€˜kontemplasiโ€™.

Tidak ada figur, tidak ada โ€˜narasi eksplisitโ€™. Yang ada hanyalah energi warna yang menuntun penikmat untuk masuk ke dalam โ€˜pusaran rasaโ€™.

Interpretasi saya, karya-karya ini berdiri sebagai โ€˜deklarasi abstraksi kontemporerโ€™: bahwa โ€˜arahโ€™ seni bisa ditemukan dalam keberanian untuk melepaskan figur, merayakan warna sebagai โ€˜entitas otonomโ€™, dan menghadirkan kanvas sebagai โ€˜ruang intensitasโ€™ yang terus bergerak.

Ada yang menarik perhatian saya ketika menyimak lebih dalam kedua karya Kun Adnyana ini, yakni perbedaan nuansa antara Enigmatic Red Polych dan Enigmatic Deep Red.

Karya I Wayan Kun Adnyana ini dapat dibaca sebagai dua pendekatan terhadap energi merah yang sama-sama โ€˜intensโ€™, tetapi dengan โ€˜orientasiโ€™ yang berbeda.

Dalam Enigmatic Red Polych, โ€˜arahโ€™ visualnya lebih terbuka pada keragaman โ€˜spektrumโ€™. Merah di sini tidak berdiri sendiri, melainkan berinteraksi dengan oranye, kuning, cokelat, bahkan semburat warna lain yang memperkaya โ€˜atmosferโ€™.

Polychโ€”dari kata poly (banyak)โ€”menandai โ€˜pluralitasโ€™, sebuah medan warna yang berlapis-lapis, tempat setiap sapuan kuas menghadirkan โ€˜resonansiโ€™ yang berbeda.

Karya ini terasa seperti โ€˜orkestra warnaโ€™, di mana merah adalah โ€˜konduktorโ€™, tetapi suara โ€˜instrumenโ€™ lain ikut membentuk โ€˜harmoniโ€™.

Energinya lebih โ€˜polifonikโ€™, lebih beragam, dan menekankan dinamika โ€˜interaksiโ€™ antarwarna.

Sebaliknya, Enigmatic Deep Red menekankan โ€˜singularitasโ€™. Merah di sini menjadi pusat โ€˜gravitasiโ€™, warna yang โ€˜mendominasiโ€™ dan menelan hampir seluruh ruang kanvas.

Sapuan kuas yang tebal dan intens menciptakan kedalaman, seolah penikmat ditarik masuk ke pusaran merah yang pekat.

Kehadiran warna lainโ€”kuning, putih, dan biru gelapโ€”hanya menjadi โ€˜aksenโ€™, bukan sebagai lawan yang seimbang.

Nuansa yang muncul adalah โ€˜monologโ€™, bukan โ€˜dialogโ€™โ€”sebuah meditasi dalam satu warna yang menuntut โ€˜kontemplasiโ€™ lebih dalam.

Dengan demikian, Polych adalah arah keluarโ€”โ€˜pluralitasโ€™, โ€˜interaksiโ€™, dan โ€˜ekstroversiโ€™ warna. Sedangkan Deep Red adalah arah masukโ€”โ€˜intensitasโ€™, โ€˜kedalamanโ€™, dan โ€˜introspeksiโ€™.

Keduanya sama-sama โ€˜enigmatisโ€™, tetapi berbeda dalam cara mengarahkan pengalaman penikmat. Yang satu mengajak merayakan โ€˜keragaman spektrumโ€™, yang lain mengajak tenggelam dalam โ€˜singularitasโ€™ merah.

Polych dengan pluralitas warnanya dapat dibaca sebagai โ€˜metafora sosialโ€™. Keragaman spektrumโ€”merah, oranye, kuning, cokelat, bahkan semburat biruโ€”menandai interaksi antarunsur yang berbeda, seperti masyarakat yang terdiri atas beragam individu dan latar.

Energi yang muncul adalah โ€˜polifonikโ€™โ€”setiap warna membawa โ€˜suara sendiriโ€™, tetapi bersama-sama membentuk โ€˜harmoniโ€™.

Dalam konteks sosial, karya ini seolah menegaskan bahwa โ€˜arahโ€™ seniโ€”dan kehidupanโ€”dapat ditemukan dalam keberanian merayakan perbedaan, dalam โ€˜dinamika interaksiโ€™ yang tidak selalu mulus, tetapi justru memperkaya.

Sebaliknya, Deep Red dengan โ€˜singularitasโ€™nya menghadirkan โ€˜metafora eksistensialโ€™. Merah yang mendominasi, pekat, dan nyaris menelan seluruh ruang kanvas adalah semacam โ€˜monolog visualโ€™.

Ia menuntun penikmat untuk masuk ke kedalaman satu warna, satu intensitas, satu pusaran rasa.

Secara filosofis, ini dapat dibaca sebagai โ€˜meditasiโ€™ tentang โ€˜eksistensiโ€™โ€”bahwa di balik keragaman โ€˜sosialโ€™, ada pengalaman โ€˜eksistensialโ€™ yang tak terelakkan: kesendirian, intensitas batin, dan pencarian makna yang โ€˜personalโ€™.

Kun Adnyana seolah menegaskan bahwa โ€˜arahโ€™ seni tidak hanya bergerak ke luarโ€”merayakan keragamanโ€”tetapi juga bergerak ke dalam, menggali kedalaman โ€˜eksistensiโ€™.

Keduanya akhirnya menjadi semacam โ€˜dialektikaโ€™โ€”โ€˜pluralitasโ€™ dan โ€˜singularitasโ€™, โ€˜sosialโ€™ dan โ€˜eksistensialโ€™, โ€˜eksternalโ€™ dan โ€˜internalโ€™. Justru dalam ketegangan antara keduanya, โ€˜arahโ€™ seni menemukan โ€˜medan enigmatisโ€™nya.

Menyimak lebih dalam karya Kun Adnyana mengingatkan kita pada tradisi abstrak-ekspresionisme dunia, terutama pada tokoh-tokoh seperti Mark Rothko, Willem de Kooning, dan Kazuo Shiraga, karena sama-sama menekankan โ€˜energi warnaโ€™, โ€˜gesturโ€™, dan โ€˜kedalaman emosionalโ€™.

Namun, menurut interpretasi saya, Kun Adnyana menghadirkan โ€˜nuansa lokalโ€™ dan โ€˜spiritualitasโ€™ Bali yang membuat abstraksinya berbeda. Ia bukan sekadar melakukan โ€˜eksperimen formalโ€™, melainkan juga menghadirkan perenungan โ€˜eksistensialโ€™ dan โ€˜sosialโ€™.

Pengamatan saya menunjukkan bahwa Willem de Kooning dan Kun Adnyana sama-sama menekankan โ€˜pluralitas warnaโ€™, sapuan kuas yang dinamis, serta energi yang โ€˜polifonikโ€™ (jalinan yang setara dan kaya akan suara).

Dengan demikian, Polych karya Kun Adnyana sejalan dengan โ€˜pluralitas energiโ€™ yang dihadirkan de Kooning. Keragaman โ€˜spektrumโ€™ warna menjadi drama visual yang terus bertambah, seperti sebuah โ€˜orkestraโ€™ yang penuh lapisan dan saling bersahutan.

Perbedaannya, de Kooning sering menyisipkan figur yang โ€˜terdistorsiโ€™. Kun Adnyana justru lebih murni bergerak dalam wilayah โ€˜abstrakโ€™, dengan fokus pada โ€˜spektrumโ€™ warna, energi tubuh, dan pluralitas warna, tanpa menghadirkan figur yang terdistorsi.

Jika kita hendak menelusuri lebih jauh persamaan Kun Adnyana dengan Mark Rothko, keduanya sama-sama menekankan โ€˜singularitasโ€™ warna, โ€˜kedalaman emosionalโ€™, dan โ€˜kontemplasi eksistensialโ€™.

Perbedaannya, Rothko cenderung menghadirkan bidang-bidang warna yang statis, sedangkan Kun Adnyana lebih โ€˜gesturalโ€™, penuh sapuan kuas yang berlapis. Ibarat sebuah konser musik, setiap lapisan warna menghadirkan instrumen yang saling menghidupkan.

Mari kita simak pendapat Rothko: โ€œA painting is not a picture of an experience, but is the experience.โ€ (โ€œLukisan bukanlah gambaran dari suatu pengalaman, melainkan pengalaman itu sendiri.โ€)

Rothko menekankan pengalaman โ€˜transendentalโ€™ melalui bidang warna yang โ€˜heningโ€™. Deep Red karya Kun Adnyana memiliki kedekatan dengan gagasan tersebut, tetapi tampil lebih โ€˜berlapisโ€™ dan โ€˜gesturalโ€™, sehingga menghadirkan intensitas yang lebih โ€˜berdenyutโ€™ daripada โ€˜heningโ€™.

Sementara itu, padanan Kun Adnyana dengan Kazuo Shiraga terletak pada penekanan terhadap tubuh sebagai sumber energi, sapuan kuas yang โ€˜eksplosifโ€™, dan โ€˜intensitas fisikโ€™.

Perbedaannya, Shiraga melukis dengan tubuhnya, terutama kaki, sehingga menghadirkan performativitas yang sangat ekstrem. Kun Adnyana tidak bekerja secara performatif dalam pengertian literal. Ia tetap menggunakan kuas, tetapi menghadirkan โ€˜intensitas spiritualโ€™ melalui konsep guwung suwung (ruang kosong yang bernyawa).

Meskipun Kun Adnyana tidak melukis dengan kaki, โ€˜energi gesturalโ€™ dalam karya-karyanya tetap menghadirkan โ€˜medan turbulensiโ€™ yang memiliki kemiripan dengan karya Shiraga.

Selanjutnya, ketika mengamati persamaan Kun Adnyana dengan Gerhard Richter, tampak bahwa keduanya sama-sama bergerak dari โ€˜figurasiโ€™ menuju โ€˜abstraksiโ€™ melalui proses riset visual yang panjang.

Yang saya maksud dengan proses dari โ€˜figurasiโ€™ menuju โ€˜abstraksiโ€™ ialah perubahan dari bentuk-bentuk yang nyata dan mudah dikenali menjadi bentuk yang melepaskan diri dari wujud asalnya, lalu memberi penekanan pada โ€˜esensiโ€™, โ€˜warnaโ€™, dan โ€˜garisโ€™.

Perbedaannya, Richter kerap bermain di antara โ€˜fotorealismeโ€™ dan โ€˜abstraksiโ€™, sedangkan Kun Adnyana bergerak dari โ€˜garisโ€™ dan โ€˜figur metaforisโ€™ menuju โ€˜abstraksi spiritualโ€™ yang kaya warna.

Oleh sebab itu, saya menyebut kedua karya Kun Adnyana ini sebagai โ€˜orkestra warnaโ€™.

Begitulah analisis saya terhadap dua karya I Wayan Kun Adnyana. Di dalamnya terdapat dialog antara tradisi Bali dan abstrak-ekspresionisme global.

Kendati demikian, Kun Adnyana menghadirkan dimensi lokal dan spiritual yang khas. Polych dapat dibaca sebagai metafora sosialโ€”pluralitas warna sebagai gambaran keragaman masyarakatโ€”sementara Deep Red menjadi metafora eksistensial, yakni kedalaman singularitas merah sebagai meditasi batin.

Bagi saya, karya Kun Adnyana bukan sekadar mengikuti jejak Rothko, de Kooning, Shiraga, atau Richter. Ia justru memperkaya khazanah abstraksi dunia melalui perspektif Bali yang kontemplatif, enigmatis, dan sarat spiritualitas.

Begitulah “Orkestra Warna Kun Adnyana”.[T]

Penulis: Hartanto
Editor: Jaswanto

Tags: I Wayan Kun AdnyanaInstitut Seni Indonesia BaliInstitut Seni Indonesia Yogyakarta
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kรฉnรฉ Kรฉto”

Next Post

Menapak Jejak Rarud Batur, Mengenang Seratus Tahun Ketangguhan dari Lereng Gunung Batur

Hartanto

Hartanto

Pengamat seni, tinggal di mana-mana

Related Posts

Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

by Made Chandra
October 10, 2026
0
Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

KITA yang terlampau serius atau memang ongkos sebuah industri adalah kekakuan kreatifitas. Barangkali unek-unek semacam ini yang berputar-putar di kepalaku...

Read moreDetails

Mengurai Gnosis Perupa Payangan

by I Wayan Westa
September 27, 2026
0
Mengurai Gnosis Perupa Payangan

Dr. Jean Couteau, budayawan asal Prancis pernah berseloroh soal kondisi terkini psiko-budaya generasi Bali. Dalam sejumlah pernyataan lisan maupun tertulis,...

Read moreDetails

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

by Jaswanto
September 26, 2026
0
Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

PADA siang yang membakar, saya berebut jalanan Surabaya menuju Voza Tower di Jalan Mayjen HR. Muhammad, Putat Gede, Sukomanunggal. Di...

Read moreDetails

Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

by Emi Suy
September 23, 2026
0
Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

Datang Setelah Riuh Saya datang ketika riuh telah selesai. Pameran telah usai dibuka, sebagian pengunjung mulai beranjak, percakapan telah menemukan...

Read moreDetails

Guci Nasib di Titik Nol Kota

by I Wayan Westa
September 22, 2026
0
Guci Nasib di Titik Nol Kota

โ€โ€ฆ.dalam labirin, aku mencari guci nasibku, yang tersimpan dalam kabut kebuntuan, membentur dalam setiap sudut dinding, tak tahu jalan pulang,...

Read moreDetails

Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

Menelisik foto karya yang tampak pada pameran, bidang kanvas dipenuhi figur-figur wayang, makhluk mitologis, ornamen, tetumbuhan, dan jaringan garis yang...

Read moreDetails

Membaca Naga Agus Kama Loedin

by I Wayan Westa
September 16, 2026
0
Membaca Naga Agus Kama Loedin

---Venue Art, Batu & Studio, Batubulan, Gianyar, Bali | 12 September 2026 * Pameran "Jaga Raga Bara Jiwa" dibuka  Rektor...

Read moreDetails

Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

by Angga Wijaya
September 16, 2026
0
Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

Di Agung Rai Museum of Art atau ARMA, Ubud, Bali, pada Juli 2026, sebuah pohon penuh kuda hadir di antara...

Read moreDetails

Wajah I Made Galung Wiratmaja

by Hartanto
September 10, 2026
0
Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk โ€œImpulseโ€. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

Read moreDetails

โ€œNectar Waggleโ€ KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

by Hartanto
September 3, 2026
0
โ€œNectar Waggleโ€ KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

PADA tanggal 29 Agustus hingga 29 September 2026 nanti, digelar pameran lukisan karya I Ketut Suasana โ€˜Kabulโ€™. Pameran bertajuk  Nectar...

Read moreDetails
Next Post
Menapak Jejak Rarud Batur, Mengenang Seratus Tahun Ketangguhan dari Lereng Gunung Batur

Menapak Jejak Rarud Batur, Mengenang Seratus Tahun Ketangguhan dari Lereng Gunung Batur

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Wayang Wong Tejakula, Hoga Wiratmaja Ciptakan Logo Porprov Bali 2027, dan Ia Juara
Persona

Dari Wayang Wong Tejakula, Hoga Wiratmaja Ciptakan Logo Porprov Bali 2027, dan Ia Juara

APA hubungan wayang wong Tejakula dengan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Bali tahun 2027 yang akan digelar di Buleleng? Secara langsung,...

by Made Adnyana Ole
October 17, 2026
Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar
Esai

Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar

SUASANA di sekitar Lapangan Puputan padat seperti biasa ketika saya dan rekan-rekan tim lainnya mengakhiri tugas di salah satu kawasan...

by Pande Susan
October 17, 2026
Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali
Esai

Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali

Ada yang berbeda dari jalanan Denpasar pada pertengahan Oktober ini. Jalan-jalan yang biasanya dipenuhi sepeda motor dan mobil terlihat lebih...

by Angga Wijaya
October 17, 2026
Panduan Lumut — Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir
Buku Tatkala

Panduan Lumut — Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir

Judul: Panduan Lumut -- Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Putri Wijaya ISBN: Masih...

by Buku Tatkala
October 17, 2026
Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM
Esai

Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM

LIMA hari sudah antrean kendaraan untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) memenuhi SPBU di Pulau Bali. Antrean itu tidak hanya...

by I Wayan Artika
October 16, 2026
Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow
Esai

Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow

BAYANGKAN seorang tenaga medis yang baru saja menerima panggilan darurat. Seorang pasien membutuhkan pertolongan segera dan sudah terbaring di meja...

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 16, 2026
Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan
Esai

Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan

ADA kejanggalan ketika mendapatkan bensin harus dirayakan sebagai sebuah kemenangan. Warga rela mengantre berjam-jam, menanti hingga dini hari, bahkan mengorbankan...

by Dede Putra Wiguna
October 16, 2026
Dariย โ€œPanic Buyingโ€ย hinggaย โ€œMaborborโ€: Cerita Bahasa di Balik Antrean BBM Bali
Bahasa

Dariย โ€œPanic Buyingโ€ย hinggaย โ€œMaborborโ€: Cerita Bahasa di Balik Antrean BBM Bali

SECARA pribadi, saya sebisa mungkin menghindari antrean BBM di Bali saat ini. Saya pernah berada di posisi itu dahulu, dan...

by I Made Sudiana
October 16, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Selembar Kain di Antara Aku dan Dunia: Ritual Menutup Gorden Ketika Senja

Ada sebuah tindakan kecil yang hampir selalu kita lakukan tanpa pernah bertanya mengapa. Ketika sore mulai turun, cahaya matahari perlahan...

by Tri Nugroho Adi
October 16, 2026
Hukum Tanah Air Bali
Buku Tatkala

Hukum Tanah Air Bali

Judul: Hukum Tanah Air Bali Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: I Made Pria Dharsana ISBN: Masih dalam proses Tebal:...

by Buku Tatkala
October 17, 2026
Meninggal Seperti Pepes Ikan
Fiksi

Kemping yang Mencekam

LIBUR semester telah tiba. Mahasiswa dan anak sekolah dapat bersantai. Agung Santoso berencana memanfaatkan libur itu bersama keluarga. Ia ingin...

by Chusmeru
October 15, 2026
๐Œ๐„๐๐“๐„๐‘๐ˆ ๐‹๐”๐€๐‘ ๐๐„๐†๐„๐‘๐ˆ ๐ˆ๐๐ƒ๐ˆ๐€ ๐๐”๐Š๐€ ๐๐€๐Œ๐„๐‘๐€๐ ๐‹๐Ž๐๐“๐€๐‘ ๐๐€๐‹๐ˆ
Pameran

๐Œ๐„๐๐“๐„๐‘๐ˆ ๐‹๐”๐€๐‘ ๐๐„๐†๐„๐‘๐ˆ ๐ˆ๐๐ƒ๐ˆ๐€ ๐๐”๐Š๐€ ๐๐€๐Œ๐„๐‘๐€๐ ๐‹๐Ž๐๐“๐€๐‘ ๐๐€๐‹๐ˆ

Menteri Luar Negeri India, ๐ƒ๐ซ. ๐’. ๐‰๐š๐ข๐ฌ๐ก๐š๐ง๐ค๐š๐ซ, 12 Oktober 2026, membuka pameran ๐‘๐‘–๐‘Ÿฤ๐‘š๐‘Ž๐‘ฆฤ๐‘ก๐‘Ž: ๐ป๐‘’๐‘Ž๐‘™๐‘–๐‘›๐‘” ๐‘Ž๐‘›๐‘‘ ๐‘Š๐‘’๐‘™๐‘™๐‘๐‘’๐‘–๐‘›๐‘” ๐‘–๐‘› ๐‘†๐‘œ๐‘ข๐‘กโ„Ž ๐ด๐‘ ๐‘–๐‘Ž๐‘› ๐‘‡๐‘’๐‘ฅ๐‘ก๐‘ ...

by tatkala
October 14, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright ยฉ 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright ยฉ 2016-2025, tatkala.co