1 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

‘Sanè Kantun Ring Manah’: Ketika Marlowe Bandem Menghidupkan Ingatan Budaya di Singaraja Literary Festival 2026

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
July 10, 2026
in Panggung
‘Sanè Kantun Ring Manah’: Ketika Marlowe Bandem Menghidupkan Ingatan Budaya di Singaraja Literary Festival 2026

Marlowe Bandem dalam sesi diskusi usai usai Film Screening ‘Sanè Kantun Ring Manah’ di Singaraja Literary Festival 2026│Foto: Dok. SLF

MALAM itu nyaris tak terdengar suara selain desir angin dan dialog yang mengalun dari layar. Puluhan pasang mata tertuju ke satu arah, larut dalam rangkaian rekaman yang membawa mereka melintasi Bali puluhan tahun silam. Tidak ada yang beranjak. Tidak ada percakapan yang memecah keheningan. Sejak proyektor mulai menyala hingga adegan terakhir usai, suasana tetap khusyuk, hening, dan khidmat. Di ruang terbuka Kawasan Museum Buleleng, pemutaran film menjadi medium yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini.

“Arsip ini bukan untuk kami, tapi untuk Bali,” ujar Marlowe Bandem saat sesi diskusi.

Pemutaran film ‘Sanè Kantun Ring Manah’ menjadi salah satu agenda dalam Singaraja Literary Festival yang berlangsung di Kawasan Museum Buleleng, Sabtu, 4 Juli 2026. Kegiatan ini menghadirkan Marlowe Bandem sebagai pembicara utama sekaligus sosok di balik film yang merefleksikan perjalanan memori, tradisi, dan arsip budaya Bali melalui pendekatan sinematik.

Melalui cuplikan film arsip, naskah yang diwarisi, dan tubuh yang menari, ‘Sanè Kantun Ring Manah’ merefleksikan energi yang bertransformasi setelah tradisi merasuki tubuh dan mengendap dalam hati. Film bergerak dari sudut pandang pribadi Marlowe Bandem, menelusuri sosok-sosok masa lalu dan masa kini, sekaligus mempertanyakan apa yang dibawa tradisi menuju masa depan, apa yang berubah, dan apa yang tetap tinggal secara hening lintas generasi.

Film Screening ‘Sanè Kantun Ring Manah’ oleh Marlowe Bandem di Singaraja Literary Festival 2026│Foto: Dok. SLF

Dalam sesi diskusi, Marlowe mengisahkan perjalanan panjang Arsip Bali 1928 yang mulai ia bangun sejak 2013. Salah satu program utamanya adalah Cinema Bali 1928, sebuah inisiatif yang mengajak para sukarelawan mendatangi pusat-pusat seni dan budaya di Bali yang pernah menjadi bagian dari dokumentasi sejarah pada awal abad ke-20.

Ia menjelaskan bahwa pada paruh 1930-an, banyak budayawan, sejarawan, seniman, dan akademisi dari Barat datang ke Bali karena ketertarikan mereka terhadap kebudayaan pulau ini. Kedatangan mereka, yang banyak difasilitasi oleh Walter Spies, melahirkan beragam dokumentasi film sebagai bagian dari riset pribadi masing-masing.

Namun, perjalanan arsip itu tidak selalu mulus. Setelah sekian dekade berlalu, banyak dokumentasi tersebut nyaris tidak terawat.

“Berdekade kemudian, arsip itu nyaris tak terawat. Itulah yang mendorong kami untuk melakukan pemulangan kembali dan restorasi,” kata Marlowe.

Melalui perkembangan teknologi, Arsip Bali 1928 berupaya memperbaiki kualitas materi-materi film yang berhasil mereka kumpulkan agar dapat kembali diakses.

Film Screening ‘Sanè Kantun Ring Manah’ oleh Marlowe Bandem di Singaraja Literary Festival 2026│Foto: Dok. SLF

Bagi Marlowe, pekerjaan mengumpulkan arsip hanyalah satu bagian dari proses yang lebih besar. Yang paling ia senangi adalah pendampingan kepada masyarakat dan kunjungan lapangan yang dilakukan melalui program Cinema Bali 1928. Dari sana, arsip tidak berhenti sebagai dokumen sejarah, tetapi kembali hidup melalui perjumpaan dengan masyarakat yang memiliki hubungan langsung dengan cerita di dalamnya.

Karena itulah, membawa ‘Sanè Kantun Ring Manah’ ke Singaraja Literary Festival 2026 menjadi tantangan tersendiri. Film ini, menurutnya, memang tidak disusun sebagai karya yang utuh dalam pengertian konvensional.

Ia menjelaskan bahwa Cinema Bali 1928 memiliki banyak kemungkinan penyajian. Rekaman-rekaman tersebut dapat diputar sebagai film bisu, dipadukan dengan narasi langsung, maupun disandingkan dengan pertunjukan seni. Pendekatan itu dipilih karena membaca arsip berdasarkan gambar acap kali menyisakan ruang kosong yang membutuhkan konteks baru.

Pendekatan tersebut juga melahirkan eksperimen lain berupa live scoring. Jika sebelumnya arsip-arsip lama lazim diiringi gamelan, kini justru menggunakan musik elektronik agar lebih dekat dengan generasi masa kini tanpa menghilangkan ruh dokumentasinya.

Marlowe Bandem dalam sesi diskusi usai usai Film Screening ‘Sanè Kantun Ring Manah’ di Singaraja Literary Festival 2026│Foto: Dok. SLF

Lebih jauh, Marlowe mengatakan seluruh upaya tersebut bertujuan mendekatkan kembali karya-karya para tetua kepada masyarakat sekaligus mendorong generasi sekarang untuk mulai mendokumentasikan kehidupan mereka sendiri maupun sekitar.

“Jadi ini adalah satu tujuan kami untuk mendekatkan karya-karya tetua, untuk mendorong teman-teman juga menggali dan merekam kegiatan terkini, agar semua terdokumentasikan dengan baik,” ujarnya.

Pertanyaan mengenai narasi film kemudian mengantar diskusi pada inti gagasan ‘Sanè Kantun Ring Manah’. Menurut Marlowe, sejak awal ia melihat arsip sebagai milik bersama, bukan milik komunitas kecil yang mengelolanya.

Film Screening ‘Sanè Kantun Ring Manah’ oleh Marlowe Bandem di Singaraja Literary Festival 2026│Foto: Dok. SLF

Ia menuturkan bahwa di lingkungan seni dan budaya Bali masih banyak pengetahuan para tetua yang belum terdokumentasi. Salah satu contoh yang diangkat ialah kisah Made Satriadi Wisena dari Desa Singapadu, Gianyar, cucu maestro arja Nyoman Candri. Sejak kecil, Satria tidak sempat tumbuh bersama I Made Kredek, ayah Nyoman Candri dan I Made Bandem. Dalam ‘Sanè Kantun Ring Manah’, kemunculan Satria menjadi penutup film. Ia tampil menari mengenakan busana peninggalan I Made Kredek sembari melantunkan Pupuh Ginada Linggar Petak, karya sang maestro yang ditulis dalam sebuah kertas dan ditemukan secara tidak sengaja.

Menurut Marlowe, menemukan tumpukan kertas usang seperti itu bukan sekadar menemukan dokumen lama, melainkan menemukan kembali jejak pengetahuan yang nyaris hilang.

“Kalau dibaca dari arsip, ini adalah kesempatan kita untuk mengembalikan memori terhadap sejarah, terhadap pengetahuan tetua-tetua kita terdahulu,” tuturnya.

Foto bersama usai Film Screening ‘Sanè Kantun Ring Manah’ oleh Marlowe Bandem di Singaraja Literary Festival 2026│Foto: Dok. SLF

Gagasan itulah yang kemudian diterjemahkan ke dalam film. ‘Sanè Kantun Ring Manah’ menghadirkan arsip-arsip Bali masa lampau, termasuk dokumentasi tari oleh I Made Bandem dan Nyoman Candri. Beberapa adegan baru disisipkan sebagai jembatan untuk memperjelas alur, sebelum akhirnya film ditutup dengan penampilan Pupuh Ginada Linggar Petak yang dibawakan Made Satriadi Wisena.

Tepuk tangan panjang mengakhiri malam itu. Namun yang sesungguhnya tertinggal bukan hanya apresiasi terhadap sebuah film, melainkan kesadaran bahwa arsip tidak pernah sekadar menyimpan masa lalu. Ia menyimpan identitas, pengetahuan, dan ingatan yang terus mencari jalan untuk kembali hidup. Di tengah keheningan layar yang perlahan menggelap, ‘Sanè Kantun Ring Manah’ mengingatkan bahwa warisan budaya hanya akan tetap hidup jika ada yang bersedia merawat dan meneruskan kepada generasi berikutnya.

“Pada akhirnya, arsip membantu kita untuk mengingat,” pungkas Marlowe Bandem. [T]

Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Jaswanto

Tags: filmMarlowe BandemSingaraja Literary FestivalSingaraja Literary Festival 2026
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mahindu, Si Perempuan Tembikar

Next Post

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

SENJA masih menyisakan cahayanya. Anak-anak penuh canda dan tawa duduk melingkar di bibir panggung yang telah dihias. Dengan santai, mereka...

Read moreDetails

Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

by Nyoman Budarsana
September 20, 2026
0
Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

Ketika malam mulai turun, suasana Open Stage Museum ARMA, Ubud, berubah semarak. Kreativitas anak-anak muda tumpah dalam Lomba Baleganjur Ngarap...

Read moreDetails

21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

by Nyoman Budarsana
September 16, 2026
0
21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

Kabupaten Badung tampil dominan pada Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 dengan memborong 21 dari 37 gelar juara...

Read moreDetails

Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

by Nyoman Budarsana
September 15, 2026
0
Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

KETIKA gitar dipetik, lantunan suara mulai merayap ke seluruh ruang gedung pementasan berbentuk prosenium itu. Rasa syukur, pujian, dan doa-doa...

Read moreDetails

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
0
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

Read moreDetails

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
0
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

Read moreDetails

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
0
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

Read moreDetails

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

by Ingga Adelia
September 11, 2026
0
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

Read moreDetails

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
0
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

Read moreDetails

Mendorong Nilai-Nilai Kemanusiaan Lewat Film Pendek: Minikino Film Week 12 Bersiap Hadir di Bali dengan Perspektif Generasi Muda

by Nyoman Budarsana
September 2, 2026
0
Mendorong Nilai-Nilai Kemanusiaan Lewat Film Pendek: Minikino Film Week 12 Bersiap Hadir di Bali dengan Perspektif Generasi Muda

Di tengah ketegangan geopolitik global, perpecahan, dan krisis kemanusiaan yang terus membayangi dunia hari ini, ruang pertemuan budaya yang tulus...

Read moreDetails
Next Post
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas
Khas

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi
Ulas Buku

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali...

by Abdul Karim Abraham
September 29, 2026
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?
Esai

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra
Esai

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

by Emi Suy
September 29, 2026
Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival
Tualang

Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

SAYA datang ke Toyooka dengan niat yang sederhana: mengikuti Intersecting Peripheries dan melihat bagaimana sebuah festival teater bekerja di sebuah...

by I Putu Ardiyasa
September 30, 2026
Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938
Kuliner

Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938

CUKUP dengan uang tiga ribu rupiah saja, segelas penuh minuman es santan yang creamy dan menyegarkan sudah bisa mengalir di...

by Wahyu Mahaputra
September 28, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co