10 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

I Gede Made Surya Darma by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
in Esai
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

Made Budhiana

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul 10.00 WITA, dalam usia 67 tahun. Sebelum mengembuskan napas terakhir, beliau sempat menjalani perawatan di Rumah Sakit Umum Pusat Prof. Dr. I.G.N.G. Ngoerah (dahulu RSUP Sanglah) akibat kanker usus yang dideritanya. Kepergian beliau meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, sahabat, dan komunitas seni, sekaligus menjadi kehilangan besar bagi perjalanan seni rupa Indonesia.

Lahir di Denpasar pada 27 Maret 1959, Made Budhiana merupakan alumnus Sekolah Tinggi Seni Rupa Indonesia (STSRI “ASRI”) Yogyakarta, yang kemudian menjadi bagian dari Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Pada masa studinya, ia tergabung dalam Sanggar Dewata Indonesia (SDI), komunitas seniman Bali di Yogyakarta yang memiliki peran penting dalam perkembangan seni rupa Indonesia. Lingkungan kreatif tersebut membentuk pemikiran artistiknya yang kemudian berkembang menjadi salah satu bahasa visual paling khas dalam seni rupa Bali kontemporer.

Made Budhiana melukis bersama anak-anak

Made Budhiana dikenal sebagai perupa yang konsisten mengembangkan abstraksi melalui penyederhanaan bentuk-bentuk alam. Pegunungan, pantai, pepohonan, persawahan, serta kehidupan ritual masyarakat Bali menjadi sumber inspirasi yang diolah menjadi komposisi garis, bidang, warna, dan tekstur yang kuat. Baginya, melukis bukan sekadar merekam alam, melainkan menangkap roh, energi, dan makna kehidupan yang terkandung di dalamnya.

Selain melukis di atas kanvas, ia juga mengeksplorasi berbagai medium, termasuk mixed media dan seni instalasi. Berbagai karya yang lahir dari tangan kreatifnya memperlihatkan keberanian bereksperimen tanpa meninggalkan akar budaya Bali. Konsistensi itulah yang menempatkan Made Budhiana sebagai salah satu tokoh penting dalam perkembangan seni rupa kontemporer Indonesia.

Made Budhiana yang selalu enerjik selama berkarya

Perjalanan berkesenian membawanya berpameran di berbagai galeri dan museum di Indonesia maupun mancanegara, di antaranya Cemeti Modern Art Gallery Yogyakarta, The Northern Territory Museum of Arts and Sciences di Darwin, Australia, Ganesha Gallery Jimbaran, Sika Gallery Ubud, Maha Art Gallery, dan Bentara Budaya Bali. Karya-karyanya juga dipamerkan di Prancis, Belanda, Swiss, Jerman, Australia, Amerika Serikat, Jepang, Singapura, serta berbagai kota di Indonesia.

Di balik reputasinya sebagai maestro, Made Budhiana dikenal sebagai pribadi yang rendah hati dan terbuka. Studio yang ia bangun di Bali bukan hanya menjadi tempat berkarya, tetapi juga menjadi ruang perjumpaan bagi para pelukis, sastrawan, pekerja teater, musisi, mahasiswa seni, dan para pencinta budaya. Studio tersebut menjadi ruang yang hidup untuk berdiskusi, bertukar gagasan, serta menjelajahi berbagai kemungkinan dalam proses kreatif.

Penulis berkesempatan mengunjungi studio tersebut ketika pulang ke Bali pada masa liburan kuliah di Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Dalam suasana hangat dan penuh kekeluargaan, Made Budhiana dengan antusias menceritakan proses kreatifnya. Ia menjelaskan bahwa hampir seluruh karya yang diciptakannya berangkat dari pengamatan terhadap alam, kehidupan sosial masyarakat, serta realitas kehidupan urban. Semua itu kemudian disederhanakan menjadi esensi bentuk melalui garis, warna, tekstur, dan simbol-simbol ritual, hingga melahirkan bahasa visual yang menjadi identitas kuat dalam karya-karyanya.

Made Budhiana di depan studionya

Studio itu juga menjadi tempat berkumpulnya para sastrawan, termasuk Suardika dan Umu Landu Paranggi, bersama para pegiat teater, musisi, serta seniman lintas disiplin. Ruang tersebut mencerminkan keyakinan Made Budhiana bahwa kreativitas tumbuh melalui dialog, keterbukaan, dan kebebasan berekspresi. Sejumlah seniman, di antaranya Putu Sutawijaya, I Made Sumadiyasa, dan Nyoman Sukari, pernah belajar, berdiskusi, dan memperoleh inspirasi di studionya sebelum melanjutkan pendidikan seni di Yogyakarta.

Made Budhiana tidak hanya meninggalkan ribuan karya, tetapi juga meninggalkan cara berpikir tentang seni. Ia mengajarkan bahwa berkesenian adalah proses memahami alam, budaya, dan kehidupan secara utuh. Warisan pemikiran itulah yang akan terus hidup dan menginspirasi generasi seniman Indonesia di masa mendatang.

Upacara Pitra Yadnya (Ngaben) almarhum akan dilaksanakan pada Rabu, 15 Juli 2026, sebagai penghormatan terakhir atas perjalanan hidup dan pengabdiannya kepada seni, budaya, dan masyarakat.

Made Budhiana

Selamat jalan, Maestro Made Budhiana. Kepergianmu meninggalkan duka yang mendalam, namun karya, pemikiran, dan semangatmu akan terus hidup dalam sejarah seni rupa Indonesia, menjadi cahaya dan inspirasi bagi generasi yang akan datang.[T]

Lovina, 10 Juli 2026

Tags: in memoriamSeni Rupaseni rupa Bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

‘Sanè Kantun Ring Manah’: Ketika Marlowe Bandem Menghidupkan Ingatan Budaya di Singaraja Literary Festival 2026

Next Post

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

I Gede Made Surya Darma

I Gede Made Surya Darma

Pelukis. Lulusan ISI Yogyakarta. Founder Lepud Art Management

Related Posts

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails

Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan

by I Wayan Yudana
September 5, 2026
0
Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan

Kita mengajarkan anak mencintai lingkungan. Tetapi, berapa banyak sekolah yang benar-benar memberi anak pengalaman mencintai lingkungan? PERTANYAAN sederhana itu patut...

Read moreDetails

Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang

by Ahmad Fatoni
September 4, 2026
0
Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang

 “Mau diberikan ke mama. Karena di rumah tidak ada nasi.” Muhammad Suleman Datau mengatakannya ketika teman-temannya mulai membuka kotak makanan...

Read moreDetails

AI Membuat Musik Semakin Mudah, Bukan Semakin Gampang

by Nanoq da Kansas
September 4, 2026
0
AI Membuat Musik Semakin Mudah, Bukan Semakin Gampang

PHIL COLLINS pernah melakukan sesuatu yang pada zamannya terasa luar biasa. Dalam album Both Sides yang dirilis tahun 1993, ia...

Read moreDetails
Next Post
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
490 Mahasiswa Baru UPMI Bali Memulai Kehidupan Kampus lewat Malam Kreativitas
Pendidikan

490 Mahasiswa Baru UPMI Bali Memulai Kehidupan Kampus lewat Malam Kreativitas

SEBANYAK 490 mahasiswa baru Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali memulai kehidupan kampus melalui Malam Kreativitas Kampus dan Pembukaan Pengenalan...

by Dede Putra Wiguna
September 9, 2026
Hadirkan Pop-Punk Berbahasa Bali, Satria N Band Luncurkan Single dan Video Klip “Bukan Pemenang Hatimu”
Pop

Hadirkan Pop-Punk Berbahasa Bali, Satria N Band Luncurkan Single dan Video Klip “Bukan Pemenang Hatimu”

BELANTIKA musik Bali kembali mendapat warna baru. Kali ini datang dari Satria N Band, grup musik yang mencoba membawa pop-punk...

by Dede Putra Wiguna
September 9, 2026
Tubuh yang Saya Suruh Begadang
Esai

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

by Angga Wijaya
September 9, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

by Chusmeru
September 9, 2026
Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional
Khas

Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

PELAKSANAAN Utsawa Dharma Gita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 tinggal menghitung hari. Perlombaan tersebut bakal dimulai Jumat, 11 September...

by Nyoman Budarsana
September 8, 2026
Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”
Esai

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?
Khas

Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

RAK di sudut kamar dulu menjadi penanda seberapa serius seseorang mengikuti sebuah judul. Penanda itu perlahan berpindah ke daftar bacaan...

by tatkala
September 7, 2026
Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten
Tualang

Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

ADA tempat yang awalnya kita kenal hanya sebagai pusat pemerintahan, tetapi ternyata memiliki wajah lain yang lebih dekat dengan kehidupan...

by Ahmad Sihabudin
September 7, 2026
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia
Cerpen

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

by Nur Kamilia
September 6, 2026
Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian
Puisi

Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

Memelihara Kesepian 1.letakkan kesepiandi tempat yang teduh. jauhkan dari suaraorang-orang yang terlalu bahagia. 2.beri makansetiap malam. sedikit kenangan.sedikit musik. jangan...

by Salman Alade
September 6, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co