“Everybody In Bali Seems to be an artist”
Kutipan itu persis terlontar 89 tahun lalu dari Miguel Covarrubias. Seorang seniman sekaligus antropolog kenamaan asal Mexico, yang menjadi kalimat paling terkenal dari buku babonnya berjudul “Island of Bali”; sebuah dokumentasi budaya pertama yang memuat citra Bali dari kacamata seorang yang asing dan lahir dari kebudayaan dengan kutub berbeda.
Ia sungguh terbelalak, melihat bagaimana relasi antara seni, sosial dan ritual seakan melebur dalam dinamika kehidupan orang-orang Bali. Hal itu memberikan pemahaman baru baginya yang tumbuh dari pendidikan dan konteks kebudayaan amerika. Covarrubias tentu membawa konsep “Art” sebagai jejak panjang pertentangan seni rupa di dunia barat, dan sungguh jungkir balik dengan apa yang dipahami serta dipraktikan mereka yang tumbuh organik di dalam pulau ini.

Dan ketika pengertian itu bertemu dengan praktik kebudayaan Bali, terjadilah semacam perjumpaan kategori: sesuatu yang bagi masyarakat Bali mungkin melekat pada kehidupan sosial, ritual, dan keseharian, mulai dibaca melalui bahasa “seni” yang datang dari luar.
Latar belakang tersebut memberi jangkar, bagaimana konsep seni di Bali tumbuh dari hal yang tak semestinya berkaitan dengan kesejarahan seni di barat. Apa yang kita sebut sebagai seniman di Bali, mungkin tak terjelaskan oleh pemahaman di luar kewilayahan ini.
Membahas seni rupa sebagai sesuatu yang terpisah dari keberadaan seni-seni lainnya mungkin baru diamini pada era-era 30-an, saat seniman expat macam Walter Spies dan Rudolf Bonnet memperkenalkan konsep seni otonom dalam tubuh kesenimanan orang Bali. Di mana tanda tangan mulai diwajibkan (setelah jauh di abad-abad sebelumnya orang Bali memandang seni sebagai persembahan yang tak perlu diakui kepemilikannya secara personal), Style atau gaya mulai dipertimbangkan serta bagaimana seni akhirnya mulai terpisah dari kegiatan ritualistik dan menjadi ujung tombak agen parawisata Bali pada waktu itu.

Beberapa dasawarsa setelahnya, mungkin awal 70-an, barulah modernisme dan pola kesejarahan seni ala barat merangsek perlahan melalui pintu-pintu akademis dengan sentuhan cara pandang lokal. Khususnya bagi mereka yang menimba pendidikan di jogja dan Bandung, lalu pulang menggandeng seni rupa modern sebagai ideologi tulen bercampur DNA tradisi yang sukar punah.
Seni Sebagai Media Perdebatan
Lahirnya pembacaan kritis terhadap perkembangan seni rupa di Bali, terlihat berkembang dari stimulasi yang lahir dari rahim akademisi. Bisa ditelisik pada tahun-tahun ke belakang, di mana memang lahir seniman-seniman yang boleh dikatakan otonom model Lempad, Deblog, Cokot dan masih banyak seniman lain, yang pada praktiknya sudah sedikit memisahkan ruang intimasi artistik dengan kebutuhan ritual di masyarakat.
Namun tradisi kritik, dan dialektika pada kesenian ini, cenderung mulai menemukan bentuknya ketika ekosistem model akademis dibawa oleh para pembesar macam Wianta, Gunarsa, Sika dan beberapa nama lainnya. Pada masa itu, SDI (Sanggar Dewata Indonesia) menjadi salah satu korpus penting yang menghimpun para seniman Bali yang mengenyam pendidikan seni di Jogja dan sebagian kemudian pulang, membawa serta pengalaman, gagasan, dan cara pandang baru ke dalam skena seni rupa Bali. Kehadiran mereka turut serta meramaikan dinamika wacana dan pasar yang perlahan mulai mengalami masa keemasannya di era 90-an setelah parawisata benar-benar melanggengkan dirinya pada pulau yang katanya surga ini.
Penulis dan kritikus lokal mulai tumbuh, setelah selama berpuluh-puluh tahun Bali dibaca dan didefinisikan oleh penulis, antopolog serta peneliti asing, yang merangkap pelancong berkepanjangan. Di saat yang berdekatan di tahun 88 lembaga akademis berbasis seni rupa, semacam STSI Denpasar hadir, setelah meleburkan dirinya dengan pendidikan seni rupa Universitas Udayana yang hadir lebih dulu. Kehadiran institusi-institusi semacam inilah yang jelas menambah daftar akademisi, penulis dan peneliti lokal yang menggiatkan kontraksi pada skena seni rupa pada waktu itu.

Puncak keemasan tersebut akhirnya mengalami titik nadir saat reformasi bergulir, dan angkatan muda mulai mendobraknya lewat aksi protes dan serangkaian kritik yang menghujam bagai peluru tajam pada tokoh-tokoh yang kadung tersemat dengan kepingitan label maestro. SDI dan para penggedenya menjadi sasaran atas kritik dan pendobrakan hegemoni ini. Mereka memandang matinya medan kritik seni rupa Bali adalah akibat dari kesilauan gemerlap pasar, parawisata dan fenomena boom seni rupa akhir 90-an.

Kita lalu mengenalnya sebagai “Mendobrak Hegemoni” yang melahirkan Taxu sebagai buah pemikiran para seniman dan penulis yang hadir di dalamnya. tahun-tahun setelahnya yakni setelah 2000-an adalah perkembangan lanjutan seni rupa Bali yang kini kita kenal hari ini. Di mana stimulasi atas perkembangan wacana, ide dan iklim kritik juga mengalami pasang surutnya. Seolah kapal yang sedang terseok-seok di antara arus yang datang dan pergi tak menentu.
Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa di Bali
Setelah Panjang, lebar kali tinggi sudah dijabarkan bagaimana seni rupa di Bali mengalami berbagai lapisan konteks yang saling menumpuk dengan pembacaan kritis yang terbilang dinamis namun juga pasang surut. Kita sampai pada pertanyaan, mengapa agenda diskusi seni rupa yang hadir di Bali, bisa dibilang kering dan sangat terfragmentasi.
Ada semacam kecenderungan di mana perbedaan antar jaringan pertemanan juga berbuah pada ramai atau tidaknya forum diskusi yang coba dihadirkan. Concern atas terpaparnya percakapan kritis di antara seniman Bali, bisa terbilang minim. Kalaupun ramai biasanya diisi agenda seremonial semata, tanpa benar-benar bisa dibaca sebagai percakapan diskusi yang inklusif dan progresif. Sehingga pembicaranya itu-itu saja, audiensnya itu-itu saja, pernyataan yang dihasilkan juga itu-itu saja, maka semestinya jawaban yang hadir itu-itu saja.
Arahnya tak jelas, meracau kesana-kemari. Agenda tahunan model Megarupa yang sangat konsisten menggelar pameran besar juga belum banyak terlihat menghasilkan perguliran wacana yang berarti, kecuali serapan anggaran, dan agenda reuni para seniman yang akhirnya itu-itu lagi…
Di samping hal-hal spektakuler semacam itu, memang akhirnya tumbuh kubangan-kubangan diskursif yang partikular. Terutama yang akhirnya tumbuh pada komunitas dan bahkan galeri-galeri swasta yang hadir akibat inisiasi pribadi dari pemilik, ataupun forum kecil komunitas itu sendiri.
Misal Gurat Institute yang cukup getol menghadirkan diskusi-diskusi seni, perihal lokalitas, dan kaitannya dengan ekosistem perupa muda di Bali. Lalu ada Sika Galeri yang beberapa waktu ke belakang juga menghadirkan panel diskusi setiap ada pameran yang sedang berlangsung. Tak jauh dari sana ada Lano Galeri yang juga beberapa kali mencoba peruntungan untuk menggaet audiens pada percakapan diskursif tentang karya dan seniman yang mereka sedang pamerkan. Di samping mereka, akhirnya juga tumbuh forum-forum kecil yang menggagas perhelatan dialogus semacam itu, seperti Kulidan art space, Uma seminyak, sesekali Nonfrasa pada masanya dan lain-lain.

NAMUN, ada masalah atau mungkin sudah jadi kutukan, bahwa audiens baik itu seniman, akademisi, kurator penulis, hingga publik seni yang datang pada forum-forum semacam itu bisa dihitung dengan jari. Dan kita semua tahu, orang-orangnya juga itu-itu lagi.
Seperti yang telah disematkan tadi. Jejaring pertemanan adalah faktor utama keramaian satu forum tertentu. Ada semacam gejala dimana fragmentasi skena menjadikan iklim diskusi yang coba dibangun menjadi berputar-putar pada lingkungan yang itu-itu saja. Kalaupun itu tersebar, mungkin ulah Gosip Underground yang hadir setelahnya. Sangat jarang dan mungkin beberapa seniman memang sudah tak perlu mengikuti percakapan-percakapan semacam ini.
Di sisi lain, memang banyak akhirnya seniman-seniman yang dapat tumbuh mandiri tanpa harus hadir dan berusaha terjaring dengan ekosistem seni rupa lokal yang ada di Bali. Hadirnya agen bernama Pariwisata, memungkinkan mereka hidup dan jalan tanpa perlu memedulikan penting tidaknya percakapan kritis dapat hadir pada dinamika seni di Bali.

Kesibukan perihal tradisi, serta kecenderungan sosial untuk menghindari perdebatan terbuka—yang dalam konteks Bali kerap diringkas melalui sikap semacam ‘koh ngomong’—juga menjadi salah satu faktor. Namun itu juga akhirnya berkaitan dengan warisan sistemik semacam kolonialisme dan tragedi 65 yang ada di Bali. Tapi memang tak bisa dipungkiri penghindaran terhadap dialog diskursif semacam ini adalah fakta di lapangan, dan menjadi agenda tak terhindarkan dari absennya perguliran wacana dari melimpahnya seniman-seniman yang ada di Bali.
Maka sepenting itu kah iklim diskusi yang ada di Bali, jika pada akhirnya sepi dari peminat. Dan haruskah percakapan kritis itu ada? jika pasar dan turisme tetap menawarkan ruang yang menggiurkan bagi pertukaran nilai barang-barang seni ini.
Dan di titik ini saya boleh mengatakan bahwa parawisata terlalu berhasil menopang ekosistemnya, dengan atau tidak adanya diskursus.
Seni rupa Bali memiliki hal lain yang membedakannya dengan pusat-pusat seni rupa lainnya, macam jogja, bandung dan jakarta. Pada kasus Bali, kita melihat bagaimana mereka telah memiliki ekonomi, pariwisata, jejaring, institusi, dan pasar yang membuat kritik menjadi tidak terlalu diperlukan.
Hal itu juga didukung oleh terbuka lebarnya akses internasional, yang memungkinkan segala bentuk turis bisa datang dan pergi sesuka hati. Baik yang punya perhatian lebih terhadap seni rupa Bali, ataupun mereka yang tidak sama sekali peduli terhadap latar budaya di belakangnya dan mungkin hanya sekadar membeli untuk kebutuhan sovenir semata. Mana perlu mereka menyantap makanan-makanan kritis lagi memusingkan macam begini.
Fenomena ini menghadirkan segmentasi pasar dan pakar. Di mana keberimbangan di antara keduanya tentu tidak pernah equal. Pasar seringkali meniadakan kepakaran di dalamnya, begitupun sebaliknya. Dalam contoh kasus Bali, hal itu tentu tercermin pada kondis pasar yang cukup besar dan dinamis tanpa perlu legitimasi kritis yang kuat. Namun di sisi lain keberadaan pasarnya juga sangat fluktuatif, dikarenakan ketiadaan pakar sebagai mekanisme pengetahuan yang membantu membangun sejarah, klasifikasi, legitimasi, dokumentasi, atau kanon.
Saya lalu sampai pada pertanyaan, apakah kita berhenti pada etalase kebudayaan yang pernah tertancap sedemikan rupa pada tubuh Bali di era-era kolonialisme tahun 30-an?
Dan jika benar kata Covarrubias jika semua orang Bali tampak seperti seniman, mengapa hari ini percakapan kritis tentang seni justru terasa begitu asing di telinga mereka?
Berpuluh-puluh tahun Bali kekurangan otoritas untuk mandiri membicarakan dirinya sendiri oleh sebab jejak panjang kolonialisme. Lalu ketika kini otoritas tumbuh dan berkembang pada tangan-tangan lokal―justru mengapa percakapannya terasa kering, terfragmentasi dan berputar-putar pada eco chamber yang sama?
Ah entahlah, mungkin hal yang paling waras adalah terus mempercakapkannya dalam forum-forum kecil ini, sambil berandai-andai akan utopia yang belum tahu ujungnya.
Panjang Umur Seni Rupa!!!! [T]
Penulis: Made Chandra
Editor: Adnyana Ole


























![Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2026/08/andre.-cover-algoritma-350x250.png)




