14 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mengantar Saut Situmorang ke Salon

Angga Wijaya by Angga Wijaya
August 24, 2026
in Esai
Telenovela

Angga Wijaya

MENJADI panitia Kongres Cerpen II di Negara, Jembrana, Bali, pada 2001, ada satu kejadian yang hingga kini masih saya ingat. Waktu itu saya siswa kelas II SMA, baru bergabung di Komunitas Kertas Budaya asuhan Nanoq da Kansas; petani, penyair, cerpenis, sekaligus pemain dan sutradara teater terkenal dari Jembrana.

Banyak penulis yang sebelumnya hanya saya tahu namanya, hadir dalam kongres tersebut. Saya yang masih sangat muda tentu saja merasa seperti berada di tengah sebuah dunia yang selama ini hanya saya kenal melalui buku, koran, dan majalah.

Hingga seorang laki-laki berambut gimbal, dengan suara besar, meminta saya mengantarkannya ke salon. “Sudah beberapa hari saya tak keramas,” ujarnya singkat.

Saya dengan senang hati mengantarkan lelaki itu naik sepeda motor ke salon. Setibanya di salon, dia menyuruh saya balik. Tidak perlu menunggunya sampai selesai keramas.

Lelaki itu bernama Saut Situmorang. Saya tidak tahu apakah pada saat itu saya sudah memahami siapa Saut. Mungkin belum. Bagi saya, ia hanya salah satu penulis yang datang ke sebuah kongres cerpen di kota kecil tempat saya tinggal. Tetapi ada sesuatu dari dirinya yang kemudian tinggal dalam ingatan saya, yakni rambut gimbalnya, suara besarnya, dan permintaannya yang sangat sederhana untuk diantar ke salon.

Belakangan saya tahu, Saut bukan orang sembarangan dalam dunia sastra Indonesia. Ia pernah lama tinggal di Selandia Baru. Ia belajar dan menulis di sana, dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Namanya kemudian muncul dalam berbagai percakapan tentang sastra Indonesia, terutama ketika internet mulai membuka ruang baru bagi para penulis. Saut termasuk orang yang aktif dalam perkembangan sastra di dunia maya ketika istilah sastra cyber belum menjadi sesuatu yang umum dibicarakan.

Ia tidak hanya menulis puisi. Ia menulis esai, kritik, cerpen, menerjemahkan, dan terlibat dalam berbagai perdebatan sastra. Ia juga dikenal sebagai orang yang tidak terlalu suka menyimpan pendapatnya di dalam kepala. Apa yang dipikirkannya, sering kali langsung dikatakannya. Ceplas-ceplos. Kadang menyenangkan, kadang membuat orang tersinggung.

Mungkin karena itu Saut disukai sekaligus tidak disukai banyak orang, terutama oleh teman-teman seniman dan penulis. Tetapi barangkali memang begitulah Saut. Ia tidak ingin menjadi orang lain agar diterima.

Di kemudian hari, saya beberapa kali membaca tulisan-tulisannya. Saya menemukan Saut yang berbeda dari lelaki yang saya antar ke salon pada 2001. Atau sebenarnya lelaki itu tetap sama, hanya saya yang saat itu belum cukup dewasa untuk memahami siapa yang duduk di belakang saya di atas sepeda motor.

Saut adalah orang yang kritis. Ia tidak mudah menerima sesuatu hanya karena banyak orang menganggapnya benar. Dalam berbagai perdebatan sastra, ia bisa sangat keras. Pilihan kata-katanya pun kadang dianggap kasar atau vulgar. Tetapi mungkin justru di situlah Saut, dia tidak ingin menjadi orang lain agar diterima.

Salah satu puisinya yang saya sukai adalah Saut Kecil Bicara dengan Tuhan. Puisi itu memperlihatkan sisi lain dari Saut yang mungkin tidak selalu tampak dalam berbagai perdebatan sastra. Di dalamnya ada seorang anak kecil yang memandang dunia dengan rasa ingin tahu dan membawa pertanyaan tentang Tuhan. Puisi itu juga tercatat pernah dimuat di Kompas.

Saya menyukai puisi itu mungkin karena ia memperlihatkan Saut dari sisi yang berbeda. Di luar, ia bisa keras. Tetapi di dalam puisi, ia bisa menjadi seorang anak kecil yang terus bertanya.

Dan mungkin memang di situlah seorang penyair bekerja. Ia boleh berteriak kepada dunia, tetapi pada saat yang sama ia tetap menyimpan seorang anak kecil yang tidak pernah berhenti bertanya.

Sudah lebih dari dua puluh tahun sejak saya mengantarnya ke salon. Waktu berjalan dengan cara yang aneh. Dua puluh lima tahun, kalau dihitung sejak 2001, sebenarnya bukan waktu yang sebentar. Dalam rentang waktu itu, seorang anak SMA bisa berubah menjadi orang dewasa. Rambut bisa memutih. Teman-teman bisa pergi. Sebagian orang yang dahulu kita kenal bisa menjadi sangat terkenal. Sebagian lagi mungkin hilang dari ingatan.

Saya sendiri kemudian meninggalkan Negara untuk kuliah di Denpasar. Dunia sastra yang dahulu terasa begitu dekat di Negara menjadi bagian dari perjalanan yang terus berubah. Saya menulis, menjadi wartawan, dan bertemu banyak orang. Saya membaca lebih banyak buku dan mengenal nama-nama yang dahulu hanya saya dengar dari orang lain.

Tetapi anehnya, ingatan tentang Saut di salon tetap tinggal. Bukan ingatan tentang sebuah seminar, diskusi sastra. Bukan pula tentang sebuah perdebatan, justru tentang keramas.

Barangkali karena manusia lebih mudah mengingat hal-hal kecil daripada peristiwa besar. Kita bisa lupa isi pidato seseorang, tetapi mengingat bagaimana orang itu tertawa. Kita bisa lupa tema sebuah diskusi, tetapi mengingat sepeda motor yang kita gunakan untuk mengantar seseorang.

Saya bahkan tidak tahu apakah Saut masih mengingat peristiwa itu. Kemungkinan besar tidak. Baginya, mungkin itu hanya salah satu kejadian kecil dalam perjalanan hidupnya. Ia datang ke Negara, bertemu banyak orang, menghadiri kongres, kemudian meminta seorang anak muda mengantarnya ke salon. Selesai.

Tetapi bagi saya, kejadian itu menjadi semacam foto yang tersimpan di kepala. Kadang-kadang saya berpikir, mungkin inilah cara kita mengenal seorang penulis.

Bukan hanya melalui buku-bukunya. Kita mengenal mereka melalui kebiasaan kecil, cara bicara, cara memperlakukan orang lain, cara tertawa, bahkan cara meminta bantuan.

Saut yang saya kenal dalam beberapa menit perjalanan menuju salon adalah manusia biasa. Ia perlu keramas, dan perlu seseorang mengantarnya. Ia kemudian menyuruh saya pulang.

Tidak ada jarak antara seorang sastrawan dan seorang anak SMA pada saat itu. Tidak ada podium, buku, atau  kritik sastra. Hanya seorang lelaki yang rambutnya sudah beberapa hari tidak dicuci dan seorang anak muda yang kebetulan membawa sepeda motor. Mungkin justru karena itulah kenangan tersebut menjadi begitu manusiawi.

Saya kemudian melihat perjalanan Saut dari kejauhan. Ia tetap menulis,  bersuara, berdebat, dan tetap menjadi dirinya sendiri. Dalam dunia sastra Indonesia, orang seperti Saut diperlukan, meskipun kehadirannya mungkin tidak selalu nyaman. Dunia sastra, seperti dunia lainnya, bisa memiliki kecenderungan untuk membentuk lingkaran. Ada nama-nama yang sering dibicarakan, ada karya yang dianggap penting, ada institusi yang memiliki kewenangan, ada penghargaan, ada festival, ada penerbit, dan ada media.

Di tengah keadaan seperti itu, selalu dibutuhkan orang yang bertanya. Mengapa begini? Mengapa bukan begitu? Siapa yang menentukan? Siapa yang diuntungkan? Mengapa karya ini dianggap penting, sementara karya lain tidak?

Pertanyaan-pertanyaan seperti itu mungkin membuat suasana tidak nyaman. Tetapi ketidaknyamanan kadang diperlukan agar sebuah dunia tidak terlalu cepat merasa selesai dengan dirinya sendiri.

Saut, menurut saya, adalah salah satu orang yang terus membuat dunia sastra Indonesia merasa tidak nyaman. Ia mungkin tidak selalu benar. Tidak ada manusia yang selalu benar.

Ia juga bisa keliru dalam membaca sesuatu. Ia bisa berlebihan, membuat orang marah. Ia bisa menggunakan bahasa yang dianggap kasar. Tetapi keberanian untuk bersuara tetap merupakan bagian penting dari perjalanan seorang intelektual.

Saya kira, kita tidak harus menyukai semua yang dikatakan Saut untuk mengakui bahwa ia telah memberi warna pada sastra Indonesia. Kita bisa tidak setuju dengannya, bahkan mungkin sangat tidak setuju.

Tetapi ketidaksetujuan itu justru menunjukkan bahwa ia telah menghadirkan sesuatu yang layak diperdebatkan. Dan bagi seorang penulis, mungkin itu salah satu bentuk keberadaan yang paling nyata.

Beberapa minggu terakhir, kabar tentang Saut membuat saya kembali mengingat peristiwa pada 2001 itu. Ia sedang berada di China dalam rangka residensi sastra ketika jatuh sakit. Pneumonia membuatnya harus menjalani perawatan di rumah sakit.

Teman-temannya bergerak. Penggalangan dana dilakukan. Orang-orang yang pernah berinteraksi dengannya menyampaikan kabar dan mengajak orang lain membantu.

Saya melihat semua itu dengan perasaan campur aduk. Ada sesuatu yang mengharukan ketika seorang penulis yang sepanjang hidupnya dikenal karena suara kerasnya, pada akhirnya justru membutuhkan suara orang-orang lain untuk membantunya.

Teman-temannya berbicara untuknya. Orang-orang yang mengenalnya menggalang dana. Orang-orang yang mungkin pernah berdebat dengannya ikut mendoakannya.

Barangkali pada saat seperti ini, perdebatan menjadi tidak penting. Siapa yang menang dalam sebuah polemik sastra tidak lagi penting. Siapa yang paling benar juga tidak penting.

Yang penting adalah manusia yang sedang terbaring sakit. Saut Situmorang. Seorang penyair, seorang lelaki yang pernah saya antar ke salon. Saya tidak tahu apa yang sedang dipikirkan Saut di rumah sakit. Saya tidak tahu apakah ia masih membaca. Apakah ia masih menulis, apakah ia masih berdebat dengan seseorang di dalam pikirannya, dan apakah ia masih sempat mengingat Indonesia.

Atau mungkin ia sedang memikirkan kapan bisa pulang. Saya hanya berharap ia pulang. Sebab ada banyak orang yang masih ingin membaca tulisannya. Ada banyak orang yang mungkin masih ingin berdebat dengannya.

Ada generasi penulis muda yang mungkin belum pernah bertemu dengannya tetapi kelak akan menemukan namanya di buku-buku atau arsip internet. Dan ada orang-orang seperti saya yang memiliki kenangan kecil tentang dirinya.

Kenangan yang mungkin tidak penting bagi sejarah sastra. Tetapi penting bagi kehidupan seseorang. Saya pernah menjadi anak SMA yang mengantarkan Saut Situmorang ke salon.

Sekarang saya sudah jauh lebih tua dibandingkan saat itu. Negara telah berubah, saya pun berubah. Dunia sastra berubah. Internet yang dulu hanya berupa mailing list kini menjadi media sosial yang memungkinkan siapa pun berbicara kepada siapa pun.

Tetapi satu hal masih sama. Manusia tetap membutuhkan manusia lain. Dulu Saut membutuhkan saya untuk mengantarnya ke salon. Sekarang, ketika ia sedang sakit jauh di China, ia membutuhkan dukungan banyak orang untuk membantunya melewati masa sulit ini.

Perbedaannya hanya satu. Dulu saya bisa mengantarnya dengan sepeda motor, sekarang saya hanya bisa mengantarnya dengan doa. Saya tidak tahu apakah suatu hari nanti kami akan bertemu lagi.

Kalau kesempatan itu datang, saya ingin bertanya kepadanya apakah ia masih ingat Negara pada 2001. Apakah ia masih ingat Kongres Cerpen II. Apakah ia masih ingat seorang anak SMA yang mengantarnya ke salon.

Mungkin ia akan tertawa. Mungkin ia sama sekali tidak ingat. Tidak apa-apa. Ingatan memang tidak pernah adil. Satu peristiwa bisa sangat penting bagi seseorang dan sama sekali tidak berarti bagi orang lain. Tetapi saya tetap menyimpannya.

Sebab, pada akhirnya, hidup mungkin memang tersusun dari peristiwa-peristiwa kecil yang tidak pernah kita rencanakan. Sebuah kongres,  pertemuan, dan sepeda motor. Seorang lelaki berambut gimbal. Sebuah salon. Dan sebuah kalimat sederhana: “Sudah beberapa hari saya tak keramas.”

Dua puluh lima tahun kemudian, kalimat itu masih saya ingat. Semoga kali ini Saut juga segera pulang. Bukan ke salon, tetapi ke Indonesia, dalam keadaan sehat.

Sebab masih banyak yang ingin dibacanya, masih banyak yang ingin ditulisnya, dan mungkin masih banyak orang yang ingin berdebat dengannya. Dan kalau suatu hari nanti saya benar-benar bertemu lagi dengannya, saya ingin tersenyum dan berkata: “Bang Saut, masih ingat saya?” Kalau dia lupa, saya akan mengingatkannya. “Dulu, tahun 2001, saya pernah mengantar Abang ke salon.” Barangkali ia akan tertawa. Saya pun akan tertawa. Lalu kami akan berjalan bersama, entah ke mana. Yang penting kali ini bukan ke salon. Yang penting Saut sudah sembuh. [T]

Penulis:Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: sastraSastra IndonesiaSaut Situmorang
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa Bali Hari Ini

Next Post

Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
0
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

Read moreDetails

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

Read moreDetails

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails
Next Post
Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12
Ulas Film

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi
Cerpen

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar
Puisi

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang
Esai

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali
Panggung

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali
Khas

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co