24 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mengantar Saut Situmorang ke Salon

Angga Wijaya by Angga Wijaya
August 24, 2026
in Esai
Telenovela

Angga Wijaya

MENJADI panitia Kongres Cerpen II di Negara, Jembrana, Bali, pada 2001, ada satu kejadian yang hingga kini masih saya ingat. Waktu itu saya siswa kelas II SMA, baru bergabung di Komunitas Kertas Budaya asuhan Nanoq da Kansas; petani, penyair, cerpenis, sekaligus pemain dan sutradara teater terkenal dari Jembrana.

Banyak penulis yang sebelumnya hanya saya tahu namanya, hadir dalam kongres tersebut. Saya yang masih sangat muda tentu saja merasa seperti berada di tengah sebuah dunia yang selama ini hanya saya kenal melalui buku, koran, dan majalah.

Hingga seorang laki-laki berambut gimbal, dengan suara besar, meminta saya mengantarkannya ke salon. “Sudah beberapa hari saya tak keramas,” ujarnya singkat.

Saya dengan senang hati mengantarkan lelaki itu naik sepeda motor ke salon. Setibanya di salon, dia menyuruh saya balik. Tidak perlu menunggunya sampai selesai keramas.

Lelaki itu bernama Saut Situmorang. Saya tidak tahu apakah pada saat itu saya sudah memahami siapa Saut. Mungkin belum. Bagi saya, ia hanya salah satu penulis yang datang ke sebuah kongres cerpen di kota kecil tempat saya tinggal. Tetapi ada sesuatu dari dirinya yang kemudian tinggal dalam ingatan saya, yakni rambut gimbalnya, suara besarnya, dan permintaannya yang sangat sederhana untuk diantar ke salon.

Belakangan saya tahu, Saut bukan orang sembarangan dalam dunia sastra Indonesia. Ia pernah lama tinggal di Selandia Baru. Ia belajar dan menulis di sana, dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Namanya kemudian muncul dalam berbagai percakapan tentang sastra Indonesia, terutama ketika internet mulai membuka ruang baru bagi para penulis. Saut termasuk orang yang aktif dalam perkembangan sastra di dunia maya ketika istilah sastra cyber belum menjadi sesuatu yang umum dibicarakan.

Ia tidak hanya menulis puisi. Ia menulis esai, kritik, cerpen, menerjemahkan, dan terlibat dalam berbagai perdebatan sastra. Ia juga dikenal sebagai orang yang tidak terlalu suka menyimpan pendapatnya di dalam kepala. Apa yang dipikirkannya, sering kali langsung dikatakannya. Ceplas-ceplos. Kadang menyenangkan, kadang membuat orang tersinggung.

Mungkin karena itu Saut disukai sekaligus tidak disukai banyak orang, terutama oleh teman-teman seniman dan penulis. Tetapi barangkali memang begitulah Saut. Ia tidak ingin menjadi orang lain agar diterima.

Di kemudian hari, saya beberapa kali membaca tulisan-tulisannya. Saya menemukan Saut yang berbeda dari lelaki yang saya antar ke salon pada 2001. Atau sebenarnya lelaki itu tetap sama, hanya saya yang saat itu belum cukup dewasa untuk memahami siapa yang duduk di belakang saya di atas sepeda motor.

Saut adalah orang yang kritis. Ia tidak mudah menerima sesuatu hanya karena banyak orang menganggapnya benar. Dalam berbagai perdebatan sastra, ia bisa sangat keras. Pilihan kata-katanya pun kadang dianggap kasar atau vulgar. Tetapi mungkin justru di situlah Saut, dia tidak ingin menjadi orang lain agar diterima.

Salah satu puisinya yang saya sukai adalah Saut Kecil Bicara dengan Tuhan. Puisi itu memperlihatkan sisi lain dari Saut yang mungkin tidak selalu tampak dalam berbagai perdebatan sastra. Di dalamnya ada seorang anak kecil yang memandang dunia dengan rasa ingin tahu dan membawa pertanyaan tentang Tuhan. Puisi itu juga tercatat pernah dimuat di Kompas.

Saya menyukai puisi itu mungkin karena ia memperlihatkan Saut dari sisi yang berbeda. Di luar, ia bisa keras. Tetapi di dalam puisi, ia bisa menjadi seorang anak kecil yang terus bertanya.

Dan mungkin memang di situlah seorang penyair bekerja. Ia boleh berteriak kepada dunia, tetapi pada saat yang sama ia tetap menyimpan seorang anak kecil yang tidak pernah berhenti bertanya.

Sudah lebih dari dua puluh tahun sejak saya mengantarnya ke salon. Waktu berjalan dengan cara yang aneh. Dua puluh lima tahun, kalau dihitung sejak 2001, sebenarnya bukan waktu yang sebentar. Dalam rentang waktu itu, seorang anak SMA bisa berubah menjadi orang dewasa. Rambut bisa memutih. Teman-teman bisa pergi. Sebagian orang yang dahulu kita kenal bisa menjadi sangat terkenal. Sebagian lagi mungkin hilang dari ingatan.

Saya sendiri kemudian meninggalkan Negara untuk kuliah di Denpasar. Dunia sastra yang dahulu terasa begitu dekat di Negara menjadi bagian dari perjalanan yang terus berubah. Saya menulis, menjadi wartawan, dan bertemu banyak orang. Saya membaca lebih banyak buku dan mengenal nama-nama yang dahulu hanya saya dengar dari orang lain.

Tetapi anehnya, ingatan tentang Saut di salon tetap tinggal. Bukan ingatan tentang sebuah seminar, diskusi sastra. Bukan pula tentang sebuah perdebatan, justru tentang keramas.

Barangkali karena manusia lebih mudah mengingat hal-hal kecil daripada peristiwa besar. Kita bisa lupa isi pidato seseorang, tetapi mengingat bagaimana orang itu tertawa. Kita bisa lupa tema sebuah diskusi, tetapi mengingat sepeda motor yang kita gunakan untuk mengantar seseorang.

Saya bahkan tidak tahu apakah Saut masih mengingat peristiwa itu. Kemungkinan besar tidak. Baginya, mungkin itu hanya salah satu kejadian kecil dalam perjalanan hidupnya. Ia datang ke Negara, bertemu banyak orang, menghadiri kongres, kemudian meminta seorang anak muda mengantarnya ke salon. Selesai.

Tetapi bagi saya, kejadian itu menjadi semacam foto yang tersimpan di kepala. Kadang-kadang saya berpikir, mungkin inilah cara kita mengenal seorang penulis.

Bukan hanya melalui buku-bukunya. Kita mengenal mereka melalui kebiasaan kecil, cara bicara, cara memperlakukan orang lain, cara tertawa, bahkan cara meminta bantuan.

Saut yang saya kenal dalam beberapa menit perjalanan menuju salon adalah manusia biasa. Ia perlu keramas, dan perlu seseorang mengantarnya. Ia kemudian menyuruh saya pulang.

Tidak ada jarak antara seorang sastrawan dan seorang anak SMA pada saat itu. Tidak ada podium, buku, atau  kritik sastra. Hanya seorang lelaki yang rambutnya sudah beberapa hari tidak dicuci dan seorang anak muda yang kebetulan membawa sepeda motor. Mungkin justru karena itulah kenangan tersebut menjadi begitu manusiawi.

Saya kemudian melihat perjalanan Saut dari kejauhan. Ia tetap menulis,  bersuara, berdebat, dan tetap menjadi dirinya sendiri. Dalam dunia sastra Indonesia, orang seperti Saut diperlukan, meskipun kehadirannya mungkin tidak selalu nyaman. Dunia sastra, seperti dunia lainnya, bisa memiliki kecenderungan untuk membentuk lingkaran. Ada nama-nama yang sering dibicarakan, ada karya yang dianggap penting, ada institusi yang memiliki kewenangan, ada penghargaan, ada festival, ada penerbit, dan ada media.

Di tengah keadaan seperti itu, selalu dibutuhkan orang yang bertanya. Mengapa begini? Mengapa bukan begitu? Siapa yang menentukan? Siapa yang diuntungkan? Mengapa karya ini dianggap penting, sementara karya lain tidak?

Pertanyaan-pertanyaan seperti itu mungkin membuat suasana tidak nyaman. Tetapi ketidaknyamanan kadang diperlukan agar sebuah dunia tidak terlalu cepat merasa selesai dengan dirinya sendiri.

Saut, menurut saya, adalah salah satu orang yang terus membuat dunia sastra Indonesia merasa tidak nyaman. Ia mungkin tidak selalu benar. Tidak ada manusia yang selalu benar.

Ia juga bisa keliru dalam membaca sesuatu. Ia bisa berlebihan, membuat orang marah. Ia bisa menggunakan bahasa yang dianggap kasar. Tetapi keberanian untuk bersuara tetap merupakan bagian penting dari perjalanan seorang intelektual.

Saya kira, kita tidak harus menyukai semua yang dikatakan Saut untuk mengakui bahwa ia telah memberi warna pada sastra Indonesia. Kita bisa tidak setuju dengannya, bahkan mungkin sangat tidak setuju.

Tetapi ketidaksetujuan itu justru menunjukkan bahwa ia telah menghadirkan sesuatu yang layak diperdebatkan. Dan bagi seorang penulis, mungkin itu salah satu bentuk keberadaan yang paling nyata.

Beberapa minggu terakhir, kabar tentang Saut membuat saya kembali mengingat peristiwa pada 2001 itu. Ia sedang berada di China dalam rangka residensi sastra ketika jatuh sakit. Pneumonia membuatnya harus menjalani perawatan di rumah sakit.

Teman-temannya bergerak. Penggalangan dana dilakukan. Orang-orang yang pernah berinteraksi dengannya menyampaikan kabar dan mengajak orang lain membantu.

Saya melihat semua itu dengan perasaan campur aduk. Ada sesuatu yang mengharukan ketika seorang penulis yang sepanjang hidupnya dikenal karena suara kerasnya, pada akhirnya justru membutuhkan suara orang-orang lain untuk membantunya.

Teman-temannya berbicara untuknya. Orang-orang yang mengenalnya menggalang dana. Orang-orang yang mungkin pernah berdebat dengannya ikut mendoakannya.

Barangkali pada saat seperti ini, perdebatan menjadi tidak penting. Siapa yang menang dalam sebuah polemik sastra tidak lagi penting. Siapa yang paling benar juga tidak penting.

Yang penting adalah manusia yang sedang terbaring sakit. Saut Situmorang. Seorang penyair, seorang lelaki yang pernah saya antar ke salon. Saya tidak tahu apa yang sedang dipikirkan Saut di rumah sakit. Saya tidak tahu apakah ia masih membaca. Apakah ia masih menulis, apakah ia masih berdebat dengan seseorang di dalam pikirannya, dan apakah ia masih sempat mengingat Indonesia.

Atau mungkin ia sedang memikirkan kapan bisa pulang. Saya hanya berharap ia pulang. Sebab ada banyak orang yang masih ingin membaca tulisannya. Ada banyak orang yang mungkin masih ingin berdebat dengannya.

Ada generasi penulis muda yang mungkin belum pernah bertemu dengannya tetapi kelak akan menemukan namanya di buku-buku atau arsip internet. Dan ada orang-orang seperti saya yang memiliki kenangan kecil tentang dirinya.

Kenangan yang mungkin tidak penting bagi sejarah sastra. Tetapi penting bagi kehidupan seseorang. Saya pernah menjadi anak SMA yang mengantarkan Saut Situmorang ke salon.

Sekarang saya sudah jauh lebih tua dibandingkan saat itu. Negara telah berubah, saya pun berubah. Dunia sastra berubah. Internet yang dulu hanya berupa mailing list kini menjadi media sosial yang memungkinkan siapa pun berbicara kepada siapa pun.

Tetapi satu hal masih sama. Manusia tetap membutuhkan manusia lain. Dulu Saut membutuhkan saya untuk mengantarnya ke salon. Sekarang, ketika ia sedang sakit jauh di China, ia membutuhkan dukungan banyak orang untuk membantunya melewati masa sulit ini.

Perbedaannya hanya satu. Dulu saya bisa mengantarnya dengan sepeda motor, sekarang saya hanya bisa mengantarnya dengan doa. Saya tidak tahu apakah suatu hari nanti kami akan bertemu lagi.

Kalau kesempatan itu datang, saya ingin bertanya kepadanya apakah ia masih ingat Negara pada 2001. Apakah ia masih ingat Kongres Cerpen II. Apakah ia masih ingat seorang anak SMA yang mengantarnya ke salon.

Mungkin ia akan tertawa. Mungkin ia sama sekali tidak ingat. Tidak apa-apa. Ingatan memang tidak pernah adil. Satu peristiwa bisa sangat penting bagi seseorang dan sama sekali tidak berarti bagi orang lain. Tetapi saya tetap menyimpannya.

Sebab, pada akhirnya, hidup mungkin memang tersusun dari peristiwa-peristiwa kecil yang tidak pernah kita rencanakan. Sebuah kongres,  pertemuan, dan sepeda motor. Seorang lelaki berambut gimbal. Sebuah salon. Dan sebuah kalimat sederhana: “Sudah beberapa hari saya tak keramas.”

Dua puluh lima tahun kemudian, kalimat itu masih saya ingat. Semoga kali ini Saut juga segera pulang. Bukan ke salon, tetapi ke Indonesia, dalam keadaan sehat.

Sebab masih banyak yang ingin dibacanya, masih banyak yang ingin ditulisnya, dan mungkin masih banyak orang yang ingin berdebat dengannya. Dan kalau suatu hari nanti saya benar-benar bertemu lagi dengannya, saya ingin tersenyum dan berkata: “Bang Saut, masih ingat saya?” Kalau dia lupa, saya akan mengingatkannya. “Dulu, tahun 2001, saya pernah mengantar Abang ke salon.” Barangkali ia akan tertawa. Saya pun akan tertawa. Lalu kami akan berjalan bersama, entah ke mana. Yang penting kali ini bukan ke salon. Yang penting Saut sudah sembuh. [T]

Penulis:Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: sastraSastra IndonesiaSaut Situmorang
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa Bali Hari Ini

Next Post

Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

by Agung Sudarsa
August 24, 2026
0
Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

Bali Sebagai Rumah yang Terbuka Bali sejak dahulu dikenal sebagai ruang perjumpaan. Laut yang mengelilinginya bukanlah tembok yang memisahkan, melainkan...

Read moreDetails

Wajah Indonesia Bopeng

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

Read moreDetails

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails
Next Post
Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah
Ulas Pentas

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

SEBAGAI penari, aku bergerak dari kode satu ke kode gerak lainnya, sementara ayahku yang merupakan seorang pematung, bergerak dalam duduknya....

by Yanik Parta
August 24, 2026
Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan
Pendidikan

Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan

TIKUNGAN dengan jarak pandang terbatas menjadi titik yang membutuhkan perhatian lebih dari pengguna jalan. Karena itu, sejumlah tikungan di Desa...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026
“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo
Pop

“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo

SETELAH pop upbeat menjadi langkah pertamanya, Thalia Gunawan memilih koplo untuk melanjutkan perjalanan. Penyanyi muda asal Denpasar, Bali, itu menghadirkan...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026
Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma
Esai

Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

Bali Sebagai Rumah yang Terbuka Bali sejak dahulu dikenal sebagai ruang perjumpaan. Laut yang mengelilinginya bukanlah tembok yang memisahkan, melainkan...

by Agung Sudarsa
August 24, 2026
Telenovela
Esai

Mengantar Saut Situmorang ke Salon

MENJADI panitia Kongres Cerpen II di Negara, Jembrana, Bali, pada 2001, ada satu kejadian yang hingga kini masih saya ingat....

by Angga Wijaya
August 24, 2026
Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa Bali Hari Ini
Kritik Seni

Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa Bali Hari Ini

“Everybody In Bali Seems to be an artist” Kutipan itu persis terlontar 89 tahun lalu dari Miguel Covarrubias. Seorang seniman...

by Made Chandra
August 24, 2026
Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026
Budaya

Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026

Semarak Buleleng Festival 2026 terus memuncak. Pada malam kelima, suasana Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja dipenuhi canda, musik, dan...

by tatkala
August 23, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [5]: Penerbit yang Tidak Pernah Menolak

Buka KBM App, atau Wattpad, atau NovelToon, atau GoodNovel, atau salah satu dari selusin platform serupa yang tumbuh dalam ekosistem...

by Andre Syahreza
August 23, 2026
PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers
Pendidikan

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers

SEBANYAK 102 anggota dan calon anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bali mengikuti Orientasi Kewartawanan dan Keorganisasian (OKK) di Gedung PWI...

by Dede Putra Wiguna
August 23, 2026
Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   
Opini

Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

IRONI yang sulit diterima ketika seseorang yang berdiri di puncak lembaga pendidikan justru berhadapan dengan hukum karena dugaan praktik yang...

by I Ketut Suar Adnyana
August 23, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Wajah Indonesia Bopeng

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas
Kritik Sastra

Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas

ADA satu kesalahpahaman yang terlalu lama mengiringi cara kita memandang Tuli: seolah-olah Tuli hanya dapat dibicarakan dari apa yang tidak...

by Bagja Wiranandhika Prawira
August 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co