24 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
August 24, 2026
in Esai
Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

Bali Sebagai Rumah yang Terbuka

Bali sejak dahulu dikenal sebagai ruang perjumpaan. Laut yang mengelilinginya bukanlah tembok yang memisahkan, melainkan jalan yang mempertemukan manusia, gagasan, kebudayaan, dan peradaban. Orang datang ke Bali sebagai pedagang, peziarah, seniman, pelajar, pekerja, wisatawan, maupun mereka yang ingin mencari kehidupan baru. Keterbukaan semacam itu merupakan bagian dari wajah Bali yang tidak dapat dipisahkan dari sejarahnya.

Dalam perspektif Sanatana Dharma terdapat ungkapan Atithi Devo Bhava—tamu adalah manifestasi dari Sang Ilahi. Pesannya sangat luhur: manusia yang datang harus diperlakukan dengan hormat, karena setiap manusia membawa martabat yang harus dihargai. Tetapi penghormatan kepada tamu tidak identik dengan menghapuskan kewaspadaan. Rumah yang baik menyambut tamu dengan kasih, namun pemilik rumah tetap mengetahui siapa yang masuk, berapa lama tinggal, dan bagaimana menjaga ketenteraman seluruh penghuni.

Demikian pula Bali. Menjadi masyarakat yang terbuka tidak berarti menjadi masyarakat yang tanpa tata kelola. Menjunjung Atithi Devo Bhava tidak berarti membiarkan administrasi kependudukan berjalan tanpa pengawasan, rumah kos tanpa pendataan, atau lingkungan tanpa mengetahui siapa yang tinggal di dalamnya. Justru karena manusia dihormati, maka kehidupan bersama harus ditata dengan bijaksana.

Di sinilah persoalan penduduk pendatang menjadi lebih luas daripada sekadar persoalan administratif. Pertanyaannya bukan apakah orang dari luar Bali boleh tinggal di Bali. Sebagai sesama warga negara, mereka mempunyai hak yang harus dihormati. Pertanyaan yang lebih tepat adalah bagaimana memastikan setiap orang yang tinggal di Bali berada dalam sistem kehidupan yang tertib, aman, dan bertanggung jawab.

Pendataan Bukan Kecurigaan

Pendataan penduduk nonpermanen seharusnya tidak dipahami sebagai bentuk kecurigaan terhadap pendatang. Ia merupakan bagian dari tata kelola masyarakat modern. Pemerintah perlu mengetahui siapa yang tinggal di suatu wilayah agar dapat menyediakan pelayanan publik, menjaga ketertiban, merencanakan pembangunan, dan merespons persoalan sosial secara cepat.

Dalam konteks keamanan, pendataan yang baik bahkan dapat menjadi instrumen preventif. Jika seseorang berpindah ke suatu lingkungan, identitas dan tempat tinggalnya diketahui, maka pemerintah tidak perlu menunggu sampai terjadi persoalan kriminal untuk mengetahui keberadaannya. Pengawasan dapat dilakukan secara proporsional melalui hubungan antara pemilik tempat tinggal, lingkungan, desa atau kelurahan, Dukcapil, dan aparat keamanan.

Namun ada satu garis etis yang tidak boleh dilewati. Tidak mempunyai pekerjaan tetap bukan berarti seseorang adalah calon pelaku kriminalitas. Pengangguran bukan kejahatan. Kemiskinan bukan kejahatan. Menjadi pendatang bukan kejahatan. Karena itu, sistem pendataan tidak boleh berubah menjadi sistem stigmatisasi berdasarkan asal daerah, pekerjaan, atau kondisi ekonomi seseorang.

Yang harus diawasi adalah situasi dan perilaku yang mempunyai indikator objektif, bukan identitas sosial seseorang. Orang yang tidak melapor dapat dibina. Identitas yang tidak sesuai dapat diverifikasi. Tempat tinggal yang tidak jelas dapat diperiksa sesuai kewenangan hukum. Apabila ditemukan dugaan tindak pidana, barulah mekanisme penegakan hukum bekerja.

Dengan demikian, pencegahan kriminalitas tidak dimulai dari kecurigaan, tetapi dari data yang benar, hubungan sosial yang sehat, dan kewaspadaan yang berlandaskan hukum. Inilah perbedaan antara masyarakat yang takut kepada orang asing dengan masyarakat yang mempunyai kecerdasan sosial.

Dari Razia Menuju Sistem Pencegahan

Selama ini kita sering membayangkan keamanan melalui razia. Aparat datang, memeriksa identitas, menemukan pelanggaran, memberikan pembinaan atau tindakan. Cara seperti itu memang diperlukan dalam keadaan tertentu. Tetapi razia pada hakikatnya adalah tindakan sesaat, sementara dinamika masyarakat berlangsung setiap hari.

Pencegahan yang lebih matang membutuhkan sistem yang berkesinambungan. Ketika seseorang datang dan tinggal di sebuah lingkungan, keberadaannya dapat diketahui sejak awal. Ketika berpindah tempat tinggal, data diperbarui. Pemilik kos atau rumah kontrakan mempunyai tanggung jawab administratif. Lingkungan mempunyai komunikasi sosial. Desa atau kelurahan mempunyai data. Dukcapil memiliki sistem kependudukan. Aparat keamanan dapat bergerak ketika terdapat indikasi yang memang membutuhkan intervensi.

Bayangkan apabila sistem semacam itu berjalan dengan baik. Persoalan tidak selalu harus menunggu menjadi besar. Pendatang yang belum melapor dapat segera diberi informasi. Orang yang membutuhkan dokumen dapat diarahkan. Konflik sosial dapat diketahui lebih awal. Gangguan ketertiban dapat ditangani sebelum berkembang. Dan apabila terdapat indikasi kriminalitas, aparat mempunyai informasi awal yang lebih akurat.

Bali sesungguhnya mempunyai modal sosial yang luar biasa untuk membangun sistem seperti itu. Ada banjar, desa adat, desa dinas, kelian, pecalang, Bhabinkamtibmas, Babinsa, Satpol PP, dan Dukcapil. Masing-masing tidak harus mengambil alih kewenangan yang lain. Justru kekuatannya terletak pada koordinasi.

Pecalang, misalnya, tidak harus berubah menjadi polisi. Banjar tidak perlu menjadi kantor imigrasi. Desa adat tidak boleh menggantikan fungsi peradilan. Tetapi semua unsur masyarakat dapat menjadi bagian dari jejaring kewaspadaan sosial, sementara kewenangan penegakan hukum tetap berada pada lembaga yang ditentukan oleh peraturan perundang-undangan.

Atithi Devo Bhava dan Vijnanamaya Kosha

Di sinilah ajaran Sanatana Dharma memberikan kedalaman yang menarik. Atithi Devo Bhava mengajarkan penghormatan terhadap manusia yang datang. Tetapi penghormatan membutuhkan kebijaksanaan agar tidak berubah menjadi keluguan. Sebaliknya, kewaspadaan membutuhkan kebijaksanaan agar tidak berubah menjadi prasangka.

Kebijaksanaan inilah yang dapat kita hubungkan dengan Vijnanamaya Kosha. Dalam Pancamaya Kosha, Vijnanamaya Kosha sering dipahami sebagai lapisan kesadaran yang berkaitan dengan tingkat yang lebih tinggi, kebijaksanaan, kemampuan membedakan, memahami, dan mengambil keputusan secara sadar. Ia bukan sekadar pengetahuan tentang aturan, tetapi kemampuan menggunakan pengetahuan dengan kejernihan.

Pada tingkat Annamaya, manusia melihat persoalan secara kasatmata: siapa pendatang, di mana ia tinggal, apa pekerjaannya. Pada tingkat Manomaya, berbagai kesan dan ketakutan dapat muncul: jangan-jangan pendatang membawa masalah, jangan-jangan keamanan terganggu. Tetapi Vijnanamaya mengajak kita melangkah lebih jauh: apa faktanya, apa hukumnya, apa risikonya, dan apa tindakan yang paling adil?

Di sinilah kebijaksanaan menjadi sangat penting. Tanpa Vijnanamaya, kecemasan dapat berubah menjadi diskriminasi. Tetapi tanpa kewaspadaan, Atithi Devo Bhava dapat disalahartikan sebagai kebebasan tanpa batas. Kebijaksanaan berada di tengah-tengahnya: menerima tanpa menjadi naif, mengawasi tanpa mencurigai, menegakkan hukum tanpa kehilangan kemanusiaan.

Maka keamanan Bali seharusnya bukan keamanan yang dibangun di atas rasa takut terhadap pendatang. Keamanan harus lahir dari kesadaran bahwa setiap manusia memiliki hak, tetapi setiap manusia juga memiliki kewajiban. Hak untuk tinggal harus berjalan bersama kewajiban untuk menghormati lingkungan tempat tinggal, tertib administrasi, dan hukum yang berlaku.

Menjaga Bali dengan Dharma

Pada akhirnya, persoalan penduduk pendatang mengajak kita bertanya lebih dalam: Bali seperti apa yang ingin kita jaga? Apakah Bali yang tertutup dan takut terhadap perubahan? Ataukah Bali yang terbuka tetapi memiliki sistem sosial yang kuat, sehingga mampu menerima perubahan tanpa kehilangan jati dirinya?

Bali tidak perlu memilih antara keterbukaan dan keamanan. Keduanya dapat berjalan bersama apabila dibimbing oleh kebijaksanaan. Atithi Devo Bhava memberikan dasar penghormatan. Hukum memberikan batas. Data memberikan pengetahuan. Masyarakat memberikan pengawasan sosial. Dan Vijnanamaya Kosha memberikan kemampuan untuk membedakan semuanya secara jernih.

Karena itu, gagasan pendataan penduduk nonpermanen seharusnya tidak diarahkan untuk mencari siapa yang harus ditolak dari Bali. Yang lebih penting adalah memastikan bahwa siapa pun yang tinggal di Bali dapat diketahui keberadaannya, dihormati martabatnya, sekaligus memahami tanggung jawabnya sebagai bagian dari masyarakat.

Pencegahan kriminalitas juga sebaiknya dimulai dari sini. Bukan dengan menunggu kejahatan terjadi, bukan pula dengan mencurigai semua pendatang, tetapi dengan membangun lingkungan yang saling mengenal, administrasi yang tertib, komunikasi yang terbuka, dan respons yang cepat terhadap tanda-tanda persoalan. Keamanan yang paling baik bukan keamanan yang selalu memperlihatkan kekuatan, melainkan keamanan yang mampu mencegah persoalan sebelum menjadi kejahatan.

Dalam bahasa Dharma, mungkin inilah keseimbangan antara karuna dan viveka—antara welas asih dan kemampuan membedakan. Kita membuka pintu bagi tamu karena menghormati manusia sebagai bagian dari kehidupan. Tetapi kita juga menjaga rumah karena memiliki tanggung jawab terhadap mereka yang tinggal di dalamnya.

Bali tidak perlu kehilangan keramahan untuk menjadi tertib. Bali juga tidak perlu kehilangan kewaspadaan untuk tetap menjadi tempat yang ramah. Yang diperlukan adalah kesadaran yang lebih tinggi: kesadaran yang tidak melihat pendatang sebagai ancaman, tetapi juga tidak melihat keterbukaan sebagai alasan untuk mengabaikan tata kehidupan.

Pada akhirnya, Atithi Devo Bhava dan Vijnanamaya Kosha bertemu pada satu titik: penghormatan yang disertai kebijaksanaan. Menerima manusia sebagai sesama, tetapi tetap menjaga Dharma kehidupan bersama. Menghormati kebebasan, tetapi tidak mengabaikan tanggung jawab. Membuka pintu, tetapi tetap menyalakan pelita kesadaran di dalam rumah.

Dengan cara itulah Bali dapat tetap menjadi rumah yang terbuka—bukan rumah yang tanpa aturan, melainkan rumah yang memiliki Dharma, kebijaksanaan, dan kesadaran.[T]

Penulis:Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

Tags: bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mengantar Saut Situmorang ke Salon

Next Post

“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Mengantar Saut Situmorang ke Salon

by Angga Wijaya
August 24, 2026
0
Telenovela

MENJADI panitia Kongres Cerpen II di Negara, Jembrana, Bali, pada 2001, ada satu kejadian yang hingga kini masih saya ingat....

Read moreDetails

Wajah Indonesia Bopeng

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

Read moreDetails

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails
Next Post
“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo

“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah
Ulas Pentas

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

SEBAGAI penari, aku bergerak dari kode satu ke kode gerak lainnya, sementara ayahku yang merupakan seorang pematung, bergerak dalam duduknya....

by Yanik Parta
August 24, 2026
Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan
Pendidikan

Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan

TIKUNGAN dengan jarak pandang terbatas menjadi titik yang membutuhkan perhatian lebih dari pengguna jalan. Karena itu, sejumlah tikungan di Desa...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026
“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo
Pop

“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo

SETELAH pop upbeat menjadi langkah pertamanya, Thalia Gunawan memilih koplo untuk melanjutkan perjalanan. Penyanyi muda asal Denpasar, Bali, itu menghadirkan...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026
Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma
Esai

Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

Bali Sebagai Rumah yang Terbuka Bali sejak dahulu dikenal sebagai ruang perjumpaan. Laut yang mengelilinginya bukanlah tembok yang memisahkan, melainkan...

by Agung Sudarsa
August 24, 2026
Telenovela
Esai

Mengantar Saut Situmorang ke Salon

MENJADI panitia Kongres Cerpen II di Negara, Jembrana, Bali, pada 2001, ada satu kejadian yang hingga kini masih saya ingat....

by Angga Wijaya
August 24, 2026
Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa Bali Hari Ini
Kritik Seni

Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa Bali Hari Ini

“Everybody In Bali Seems to be an artist” Kutipan itu persis terlontar 89 tahun lalu dari Miguel Covarrubias. Seorang seniman...

by Made Chandra
August 24, 2026
Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026
Budaya

Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026

Semarak Buleleng Festival 2026 terus memuncak. Pada malam kelima, suasana Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja dipenuhi canda, musik, dan...

by tatkala
August 23, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [5]: Penerbit yang Tidak Pernah Menolak

Buka KBM App, atau Wattpad, atau NovelToon, atau GoodNovel, atau salah satu dari selusin platform serupa yang tumbuh dalam ekosistem...

by Andre Syahreza
August 23, 2026
PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers
Pendidikan

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers

SEBANYAK 102 anggota dan calon anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bali mengikuti Orientasi Kewartawanan dan Keorganisasian (OKK) di Gedung PWI...

by Dede Putra Wiguna
August 23, 2026
Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   
Opini

Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

IRONI yang sulit diterima ketika seseorang yang berdiri di puncak lembaga pendidikan justru berhadapan dengan hukum karena dugaan praktik yang...

by I Ketut Suar Adnyana
August 23, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Wajah Indonesia Bopeng

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas
Kritik Sastra

Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas

ADA satu kesalahpahaman yang terlalu lama mengiringi cara kita memandang Tuli: seolah-olah Tuli hanya dapat dibicarakan dari apa yang tidak...

by Bagja Wiranandhika Prawira
August 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co