20 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mengapa Seniman Bali Kerap Menjadi Jago Kandang?  —Catatan Tentang Keberjarakan, Tradisi, dan Pada Siapa Karya Berbicara

Made Chandra by Made Chandra
July 19, 2026
in Kritik Seni
Mengapa Seniman Bali Kerap Menjadi Jago Kandang?  —Catatan Tentang Keberjarakan, Tradisi, dan Pada Siapa Karya Berbicara

Karya instalatif Wayan Upadana di Dalem Seniman. Sumber : Made Chandra

SEBELUM kalian marah-marah dengan judul tulisan ini, perlu dijelaskan topik ini adalah auto kritik yang aku layangkan pada tiap seniman Bali hari ini (termasuk diriku sendiri si seniman setengah-setengah).

Ada satu topik yang melayang dalam kepalaku akhir-akhir ini, mungkin sejak diriku mulai cukup bersinggungan dengan hiruk pikuk ekosistem seni rupa Bali yang begitu rupa-rupa ini.

Sehingga judul dengan terma jago kandang bukanlah keraguan akan kualitas artistik seniman Bali yang sudah tentu mumpuni, melainkan bagaimana kecenderungan karya-karya itu yang hanya efektif dibaca di rumah sendiri. Di sinilah aku melihat tumpulnya rasa keberjarakan, yaitu kemampuan melihat kebudayaan sendiri dari luar sehingga ia dapat berbicara kepada orang yang tidak lahir di dalamnya.

Dua Pameran, Dua Cara Melihat Dunia

Diskursus ini tercetus pada pengalamanku melihat dua pameran dengan kontras problematika yang sangat jauh berbeda. Pameran yang pertama adalah solo exhibition dari seniman setengah baya, Wayan Upadana di galeri Dalam Seniman, Ubud.

Karya instalatif Wayan Upadana di Dalam Seniman | Sumber : Made Chandra

Pada pameran pertama ini, seperti kebanyakan pameran punggawa kesenian yang ada di Bali. Topiknya selalu menyasar kehidupan sosial orang Bali, yang bercumbu di antara romantisme budaya dan geliat modernitas yang ditunggangi oleh parawisata global.

Yang menjadi pembeda tentunya, praktik artistik yang ditawarkan oleh si seniman. Dalam ikhwal ini Upadana yang seorang pematung, tentu membawa objek-objek tri matra dengan berbagai pendekatan medium dan teknik.

Satu karya yang menjadi catatan dalam pameran ini tentu instalasi masif, yang ia hadirkan dengan puluhan panel keramik dari limbah satu perusahaan produksi benda-benda domestik utilitarian bernama Kevala.

Limbah-limbah itu disusun menyerupai dinding bangunan, lengkap dengan tiang-tiang besi yang dipancang dalam umpak khas arsitektur Bali. Dalam panel yang disusun acak, ia menampilkan berbagai gambar serta simbol yang jelas bisa disinyalir terserap dari nadi ke-Baliannya, lengkap dengan aksara yang meliuk-liuk di belakang keramik bakaran tersebut.

Para pengunjung Solo Exhibition Wayan Upadana di Dalam Seniman. | Sumber : Made Chandra

Satu hal yang meski kita catat sampai sini. Dalam pameran pertama ini, kita melihat praktik dan representasi persoalan seniman Bali―dan Upadana menjadi salah satu contohnya―bisa  sangat asik pada permainan simbolik dan tematik menyoal tradisi Bali.

Lalu, 15 menit dari lokasi pertama, sejenak aku melipir dan melaju dengan sepeda motor setengah renta menuju galeri bernama Lano, yang membawa presentasi artistik dari seniman-seniman Bandung, yang sebagian besar adalah seniman milenial dan gen z.

Karya Flavia Giulietta di Lano Galery | Sumber : Made Chandra

Begitu pintu kaca mulai dibuka, diriku serasa diajak untuk berpindah kota. Di dalamnya tertampil karya-karya yang jauh dari pernak-pernik ke-Balian. Mereka yang hadir dalam pameran tersebut, justru berbalik dan melihat persoalan-persoalan yang cukup bervariatif. Mulai perihal sosio politik, ketubuhan, materialitas, hingga persepsi keseharian yang sungguh sangat remeh temeh. Namun justru dari hal remeh-temeh tersebutlah kita diajak untuk melihat hal yang lebih besar di balik objek-objek tersebut.

Lihat salah satu karya (jika kalian sempat melihatnya), datang dengan guratan soft pastel yang menampilkan potongan-potongan kecil dari berbagai bagian tubuh. Kemudian satu karya yang cukup menggelitik adalah karya Trio Muharam, yang membawa instalasi dengan huruf-huruf abjad berceceran, dengan salah satu pola membentuk kalimat “Omong kosong otoritarianisme”, namun bukan itu poinnya. Karya ini berbicara tentang produks teks, simbol dan informasi yang berlebihan, sehingga perlahan teks tersebut kehilangan makna dan gagasan yang diembannya.

Karya Trio Muharam di Lano Galery | Sumber : Made Chandra

Terlepas dari banyaknya karya yang hadir dalam pameran ini, satu hal yang cukup membekas di kepalaku adalah bagaimana seniman berangkat dari objek sehari-hari untuk kemudian diretas secara struktur dan visual. Hal ini cukup menggugah ketika benda-benda itu (terlepas dari keremeh-temehannya) berhasil membawa konteks yang cukup relevan dengan orang awam sekalipun.

Kecenderungan itu tentu tidak lahir dari ruang hampa. Bandung memiliki sejarah panjang sebagai salah satu tempat pendidikan seni rupa modern di Indonesia.

Tradisi berpikir yang dibentuk oleh lingkungan akademik, eksperimen medium, hingga kebiasaan berdialog dengan seni konseptual membuat banyak senimannya terbiasa memulai karya dari sebuah persoalan, bukan semata dari simbol atau identitas visual.

Tentu ini bukan berarti semua seniman Bandung bekerja dengan cara yang sama, tetapi ada kecenderungan yang membuat bahasa artistik mereka lebih mudah bergerak melintasi konteks lokal.

Karya Diandra Lamees di Lano Galery | Sumber : Made Chandra

Pendekatan seperti itulah yang, menurut pengamatanku, masih belum banyak kutemukan dalam praktik sebagian besar seniman Bali. Termasuk aku sendiri pun masih punya problem terhadap kemelekatan simbolik itu.

Di titik ini aku pun tidak sedang mengatakan Bandung lebih baik daripada Bali. Berdasarkan kedua contoh pameran tadi, yang kulihat akhirnya hanyalah dua cara berbeda membangun percakapan melalui karya.

Seniman dan konteks lokasinya

Layaknya spons di wastafel cuci piringmu. Seniman adalah individu yang dikaruniai kepekaan teramat sangat pada lingkungan di sekitarnya, sehingga mereka akan sangat cermat menyerap segala hal yang mereka konsumsi pada lanskap sosial tempat mereka hidup menjadi bahasa artistik. Sehingga seniman Bali tumbuh dalam lingkungan yang nyaris tak pernah kekurangan bahan baku untuk mereka eksplorasi.

Poster Pariwisata Bali di Masa Kolonial | Sumber : https://fineartamerica.com/featured/see-bali-traditional-dance-vintage-travel-poster-long-shot.html

Bagi kalian yang hanya mengenal Bali dari brosur pariwisata, pulau ini mungkin hanya tampak sebagai deretan beach club, sawah hijau, dan wisata healing dari para yogi dadakan. Namun di balik citra itu, Bali menyimpan lapisan sejarah yang panjang. Kolonialisme, proyek Baliseering, pertumbuhan industri pariwisata, hingga keberadaan desa adat membentuk kehidupan sosial yang begitu kompleks. Di saat yang sama, aku pun melihat tradisi tetap hadir sebagai bagian dari keseharian, bukan sekadar artefak masa lalu.

Jadi pantaslah sudah, jika seniman-seniman Bali akan memiliki kecenderungan untuk menyerap permasalahan-permasalahan domestik tadi. Terutama mereka yang masih menjalani tradisi sebagai bagian dari konsekuensi sosial di masing-masing wilayah adat.

Ornamen riuh di salah satu pura Buleleng, Bali | Sumber : Made Chandra

Lebih dari itu, bagiku Bali bagaikan ruang yang sangat padat simbol. Beragam ritus, arsitektur, mitologi, hingga ornamen visual seakan menjejalkan kosakata yang nyaris tak ada habisnya untuk diolah menjadi karya. Di sinilah letak berkah sekaligus bebannya. Kekayaan simbolik yang begitu melimpah sering kali membuat seniman merasa cukup diwakilkan melalui kehadiran simbol itu sendiri, tanpa merasa perlu menerjemahkannya bagi mereka yang berada di luar konteks kebudayaan Bali.

Seniman Bali dan Keberjarakan

Dari beragamnya pameran di Bali, aku melihat kecenderungan bagaimana seniman seringkali terjebak dalam permainan simbol-simbol yang sudah dianggap artistik sejak awal. Akibatnya, karya sering kali gagal membangun jembatan dengan audiens yang tidak memiliki kedekatan terhadap bahasa visual tersebut. Sehingga lumrah melihat seniman Bali dengan kekayaan simbol yang mentereng, namun simbol-simbol itu sering diasumsikan dapat berbicara dengan sendirinya.

Dari sanalah pertanyaan ini mulai bergumul di kepala. Karena bukan hanya terjadi pada kebanyakan seniman Bali, aku sendiri pun masih seringkali mengalaminya.

Ketika ditelisik lebih jauh persoalan ini pun tidak hanya terjadi di Bali. Banyak praktik seni di berbagai daerah juga terjebak pada bahasa visual yang hanya dipahami oleh komunitasnya sendiri. Namun karena Bali memiliki kepadatan simbol yang luar biasa, persoalan ini menjadi jauh lebih menyentil.

Di situlah kurang lebih titik di mana istilah “Jago Kandang” menjadi label yang ku pakai untuk menggambarkan bagaimana kompleksitas dan kekayaan visual yang dimiliki oleh Bali, malah memenjarakan mereka dalam labirin eksplorasi. Hal itu membuat susahnya percakapan internal ini untuk terkoneksi dengan mereka yang di luar lingkup tradisi itu sendiri.

Rasanya kedua pameran tadi menjadi cerminan yang sepadan untuk menjadi pemantik lahirnya diskursus, tentang apa yang kita yakini sebagai seni rupa Bali itu sendiri dan bagaimana ia diterjemahkan dari segala kompleksitas di belakangnya.

Kadang kita perlu berjarak untuk memahami sesuatu dengan lebih jernih. Dari jarak itulah kemudian muncul pendekatan-pendekatan baru untuk memahami Bali, tradisi dan kebudayaannya.

Di titik ini aku tidak mengatakan bahwa seniman Bali terlalu tradisional, tetapi bahwa kedekatan mereka dengan konteks lokal sering membuat mereka kehilangan keberjarakan sehingga sulit membangun percakapan yang lebih luas.

Persoalannya bukan bahwa seniman Bali terlalu banyak memakai simbol Bali. Persoalannya adalah simbol itu sering berhenti sebagai penanda identitas, belum berkembang menjadi perangkat berpikir yang dapat menghubungkan pengalaman lokal dengan relevansi yang lebih luas.

Sehingga keberjarakan yang telah banyak kusinggung tadi, bukanlah ajakan untuk melepas tradisi sebagai titik pijakan, namun bagaimana cara melihat kebudayaan sendiri seolah-olah kita bukan bagian darinya. Dari posisi itulah simbol tak lagi hanya diwarisi, tetapi diuji ,dipertanyakan, dan diterjemahkan kembali.

Dan, terlepas dari bola diskusi yang telah ku lempar ke tengah permainan. Tentu ada banyak pengecualian. Beberapa seniman Bali berhasil menerjemahkan pengalaman lokal menjadi percakapan global tanpa kehilangan akar budayanya. Justru karena contoh-contoh itu ada, aku percaya persoalannya bukan terletak pada tradisi Bali, melainkan pada pendekatan yang lebih segar dan relevan. .

Yang dibutuhkan seniman Bali mungkin bukan meninggalkan tradisi, melainkan sesekali keluar dari rumahnya sendiri. Percayalah, tradisi tidak kehilangan nilainya ketika dilihat dari kejauhan. Justru dari jarak itulah kita dapat melihat tradisi sebagai pengetahuan yang bergerak dan menemukan makna baru. Sebab karya yang baik bukan hanya mampu dikenali sebagai karya Bali, tetapi juga mampu mengajak orang yang belum mengenal Bali untuk ikut masuk ke dalam percakapannya.[T]

Penulis: Made Chandra
Editor: Adnyana Ole

Tags: Seni Rupaseni rupa Baliseniman bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

Next Post

Ignite Fest 2026, Wajah Baru MPLS di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

Made Chandra

Made Chandra

Lahir di Baturaja, Sumatera Selatan, kini menetap di Denpasar. Merupakan seorang perupa muda yang suka mengeksplor wayang Kamasan sebagai titik temu antara kompleksitas sureal dan realitas dunia. Kadang kala ia suka menulis—mencatatkan berbagai hal yang menurutnya menarik dan layak mendapat intensi lebih, terutama perihal seni dan budaya visual.

Related Posts

Ubud Art Collect: Antara Batas dan Persimpangan

by Made Chandra
September 6, 2026
0
Ubud Art Collect: Antara Batas dan Persimpangan

MULANYA saya kira peristiwa akbar semacam art fair hanya bisa dijangkau oleh orang-orang berduit, tentunya dari para kolektor yang siap...

Read moreDetails

Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa Bali Hari Ini

by Made Chandra
August 25, 2026
0
Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa Bali Hari Ini

“Everybody In Bali Seems to be an artist” Kutipan itu persis terlontar 89 tahun lalu dari Miguel Covarrubias. Seorang seniman...

Read moreDetails

Sudahi Isme-Ismemu Itu!

by Made Chandra
August 7, 2026
0
Sudahi Isme-Ismemu Itu!

ADA satu pertanyaan yang masih menjadi survei teratas ketika publik bertanya tentang karya seorang seniman. Karyamu ini gayanya apa? Abstrak,...

Read moreDetails

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
0
Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

Read moreDetails

Klinik Seni Taxu Itu Akhirnya Cuma Urban Legend di Bali—Tanggapan Tulisan Made Chandra

by Savitri Sastrawan
July 30, 2026
0
Klinik Seni Taxu Itu Akhirnya Cuma Urban Legend di Bali—Tanggapan Tulisan Made Chandra

TULISAN Made Chandra berjudul “Let Them Cook: Saat Klinik Seni Taxu Hadir Mengacak-ngacak Arena Percaturan Seni Rupa Bali” menyentil pemikiran...

Read moreDetails

Antara Sakral dan Profan: Nyongkolan di Persimpangan Budaya Sasak

by Arief Rahzen
July 6, 2026
0
Antara Sakral dan Profan: Nyongkolan di Persimpangan Budaya Sasak

BENTANG alam Lombok tidak hanya sajikan keindahan panorama geografis, juga hadirkan teater kebudayaan yang terus bergerak. Kebudayaan Sasak, inti dari...

Read moreDetails

“Let Them Cook”: Saat Klinik Seni Taxu Hadir Mengacak-ngacak Arena Percaturan Seni Rupa Bali.

by Made Chandra
July 5, 2026
0
“Let Them Cook”: Saat Klinik Seni Taxu Hadir Mengacak-ngacak Arena Percaturan Seni Rupa Bali.

DUA PULUH lima tahun lalu, tepat saat 2 bulan setelah Milenium ketiga dimulai,  segerombol anak muda yang menyebut diri mereka...

Read moreDetails

Di Mana Penciptaan Berlangsung: Sebuah Refleksi tentang Kehadiran, Waktu, dan Lahirnya Karya

by Wayan Gde Yudane
July 4, 2026
0
Di Mana Penciptaan Berlangsung: Sebuah Refleksi tentang Kehadiran, Waktu, dan Lahirnya Karya

MANUSIA adalah makhluk yang gemar mengembara. Tubuhnya berada di sini, tetapi pikirannya berlari ke hari esok. Atau sebaliknya, tubuhnya telah...

Read moreDetails

Dari Ornamen ke Gagasan: Menata Ulang Masa Depan Seni Tradisional Bali

by Wayan Gde Yudane
June 26, 2026
0
Dari Ornamen ke Gagasan: Menata Ulang Masa Depan Seni Tradisional Bali

“Tradisi tidak mati karena berubah; ia mati ketika berhenti dipikirkan.” PELESTARIAN seni tradisional di Bali tidak dapat berhenti pada estetika...

Read moreDetails

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
0
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

Read moreDetails
Next Post
Ignite Fest 2026, Wajah Baru MPLS di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

Ignite Fest 2026, Wajah Baru MPLS di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Puncak Minikino Film Week 12: Rayakan Pemenang Penghargaan Utama, Dorong Industri Film Pendek, dan Perkuat Edukasi Generasi Muda di Bali
Budaya

Puncak Minikino Film Week 12: Rayakan Pemenang Penghargaan Utama, Dorong Industri Film Pendek, dan Perkuat Edukasi Generasi Muda di Bali

Perhelatan festival film pendek internasional Minikino Film Week 12 (MFW12) yang diselenggarakan oleh Yayasan Kino Media sukses digelar pada 11–18 September 2026 di Bali....

by Rusdy Ulu
September 20, 2026
Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikir Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire
Esai

Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikir Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

PENDIDIKAN terlalu sering kita pahami sebatas kegiatan mengajar. Guru menjelaskan, siswa mendengarkan, mengerjakan tugas, dan mengikuti ujian. Keberhasilan belajar pun...

by I Kadek Adhi Dwipayana
September 20, 2026
Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek
Esai

Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek

WALAUPUN Desa Adat Kutuh di wilayah Kuta Selatan termasuk desa kecil, desa ini memiliki pagar spiritual di setiap tapal batasnya...

by I Nyoman Tingkat
September 20, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

PEMIMPIN SAKIT JIWA MENURUT HINDU DHARMA

— Sugi Lanus, Catatan Harian, 20 September 2026 * Vāk-Pāruṣya (Sanskerta: वाक्पारुष्य) secara harfiah diterjemahkan sebagai "kekerasan verbal", "kata-kata kasar",...

by Sugi Lanus
September 20, 2026
Pemilihan Duta Bahasa Nasional 2026: DKI Jakarta Terbaik 1, Jawa Timur Terbaik 2, Bali Terbaik 3
Budaya

Pemilihan Duta Bahasa Nasional 2026: DKI Jakarta Terbaik 1, Jawa Timur Terbaik 2, Bali Terbaik 3

JAKARTA – TATKALA.CO –  Pasangan dari Provinsi DKI Jakarta, Adventhius Immanuel Karo Karo dan Dania Zahra Ayusti, resmi dinobatkan sebagai...

by tatkala
September 20, 2026
Birokrasi Bisik-Bisik — Catatan Seorang Jurnalis
Buku Tatkala

Birokrasi Bisik-Bisik — Catatan Seorang Jurnalis

Judul: Birokrasi Bisik-Bisik --- Catatan Seorang Jurnalis Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: I Ketut Parwata ISBN: Masih dalam proses...

by Buku Tatkala
September 20, 2026
Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma
Ulas Rupa

Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

Menelisik foto karya yang tampak pada pameran, bidang kanvas dipenuhi figur-figur wayang, makhluk mitologis, ornamen, tetumbuhan, dan jaringan garis yang...

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026
Khas

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
Ketika Logika Mengaburkan Jati Diri – [Refleksi Lagu ”The Logical Song” karya Supertramp]
Ulas Musik

Ketika Logika Mengaburkan Jati Diri – [Refleksi Lagu ”The Logical Song” karya Supertramp]

ADA suatu fase dalam kehidupan manusia ketika dunia terasa sederhana dan penuh makna. Masa kecil adalah ruang di mana pengalaman...

by Ahmad Sihabudin
September 20, 2026
Himpunan Perupa Payangan Perluas Eksplorasi Artistik, Gelar Pameram Bersama di Santrian Art Gallery, Sanur
Pameran

Himpunan Perupa Payangan Perluas Eksplorasi Artistik, Gelar Pameram Bersama di Santrian Art Gallery, Sanur

Sore itu, suasana hotel sudah semakin gelap. Pameran bertajuk “Udhar Banda Karma: Unshackling the Karma of Tradition” belum juga dibuka....

by Nyoman Budarsana
September 20, 2026
Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026
Panggung

Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

Ketika malam mulai turun, suasana Open Stage Museum ARMA, Ubud, berubah semarak. Kreativitas anak-anak muda tumpah dalam Lomba Baleganjur Ngarap...

by Nyoman Budarsana
September 20, 2026
Pengurus KPBU Dikukuhkan —Bupati Buleleng Dukung Perempuan Bali Utara yang Berdaya, Bergerak dan Berdampak
Budaya

Pengurus KPBU Dikukuhkan —Bupati Buleleng Dukung Perempuan Bali Utara yang Berdaya, Bergerak dan Berdampak

BULELENG | TATKALA.CO -- Barisan perempuan duduk berderet dengan gaung berwarna krem dan riasan diri yang lengkap. Perempuan-perempuan itu tampak...

by Rusdy Ulu
September 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co