SEBELUM kalian marah-marah dengan judul tulisan ini, perlu dijelaskan topik ini adalah auto kritik yang aku layangkan pada tiap seniman Bali hari ini (termasuk diriku sendiri si seniman setengah-setengah).
Ada satu topik yang melayang dalam kepalaku akhir-akhir ini, mungkin sejak diriku mulai cukup bersinggungan dengan hiruk pikuk ekosistem seni rupa Bali yang begitu rupa-rupa ini.
Sehingga judul dengan terma jago kandang bukanlah keraguan akan kualitas artistik seniman Bali yang sudah tentu mumpuni, melainkan bagaimana kecenderungan karya-karya itu yang hanya efektif dibaca di rumah sendiri. Di sinilah aku melihat tumpulnya rasa keberjarakan, yaitu kemampuan melihat kebudayaan sendiri dari luar sehingga ia dapat berbicara kepada orang yang tidak lahir di dalamnya.
Dua Pameran, Dua Cara Melihat Dunia
Diskursus ini tercetus pada pengalamanku melihat dua pameran dengan kontras problematika yang sangat jauh berbeda. Pameran yang pertama adalah solo exhibition dari seniman setengah baya, Wayan Upadana di galeri Dalam Seniman, Ubud.

Pada pameran pertama ini, seperti kebanyakan pameran punggawa kesenian yang ada di Bali. Topiknya selalu menyasar kehidupan sosial orang Bali, yang bercumbu di antara romantisme budaya dan geliat modernitas yang ditunggangi oleh parawisata global.
Yang menjadi pembeda tentunya, praktik artistik yang ditawarkan oleh si seniman. Dalam ikhwal ini Upadana yang seorang pematung, tentu membawa objek-objek tri matra dengan berbagai pendekatan medium dan teknik.
Satu karya yang menjadi catatan dalam pameran ini tentu instalasi masif, yang ia hadirkan dengan puluhan panel keramik dari limbah satu perusahaan produksi benda-benda domestik utilitarian bernama Kevala.
Limbah-limbah itu disusun menyerupai dinding bangunan, lengkap dengan tiang-tiang besi yang dipancang dalam umpak khas arsitektur Bali. Dalam panel yang disusun acak, ia menampilkan berbagai gambar serta simbol yang jelas bisa disinyalir terserap dari nadi ke-Baliannya, lengkap dengan aksara yang meliuk-liuk di belakang keramik bakaran tersebut.

Satu hal yang meski kita catat sampai sini. Dalam pameran pertama ini, kita melihat praktik dan representasi persoalan seniman Bali―dan Upadana menjadi salah satu contohnya―bisa sangat asik pada permainan simbolik dan tematik menyoal tradisi Bali.
Lalu, 15 menit dari lokasi pertama, sejenak aku melipir dan melaju dengan sepeda motor setengah renta menuju galeri bernama Lano, yang membawa presentasi artistik dari seniman-seniman Bandung, yang sebagian besar adalah seniman milenial dan gen z.

Begitu pintu kaca mulai dibuka, diriku serasa diajak untuk berpindah kota. Di dalamnya tertampil karya-karya yang jauh dari pernak-pernik ke-Balian. Mereka yang hadir dalam pameran tersebut, justru berbalik dan melihat persoalan-persoalan yang cukup bervariatif. Mulai perihal sosio politik, ketubuhan, materialitas, hingga persepsi keseharian yang sungguh sangat remeh temeh. Namun justru dari hal remeh-temeh tersebutlah kita diajak untuk melihat hal yang lebih besar di balik objek-objek tersebut.
Lihat salah satu karya (jika kalian sempat melihatnya), datang dengan guratan soft pastel yang menampilkan potongan-potongan kecil dari berbagai bagian tubuh. Kemudian satu karya yang cukup menggelitik adalah karya Trio Muharam, yang membawa instalasi dengan huruf-huruf abjad berceceran, dengan salah satu pola membentuk kalimat “Omong kosong otoritarianisme”, namun bukan itu poinnya. Karya ini berbicara tentang produks teks, simbol dan informasi yang berlebihan, sehingga perlahan teks tersebut kehilangan makna dan gagasan yang diembannya.

Terlepas dari banyaknya karya yang hadir dalam pameran ini, satu hal yang cukup membekas di kepalaku adalah bagaimana seniman berangkat dari objek sehari-hari untuk kemudian diretas secara struktur dan visual. Hal ini cukup menggugah ketika benda-benda itu (terlepas dari keremeh-temehannya) berhasil membawa konteks yang cukup relevan dengan orang awam sekalipun.
Kecenderungan itu tentu tidak lahir dari ruang hampa. Bandung memiliki sejarah panjang sebagai salah satu tempat pendidikan seni rupa modern di Indonesia.
Tradisi berpikir yang dibentuk oleh lingkungan akademik, eksperimen medium, hingga kebiasaan berdialog dengan seni konseptual membuat banyak senimannya terbiasa memulai karya dari sebuah persoalan, bukan semata dari simbol atau identitas visual.
Tentu ini bukan berarti semua seniman Bandung bekerja dengan cara yang sama, tetapi ada kecenderungan yang membuat bahasa artistik mereka lebih mudah bergerak melintasi konteks lokal.

Pendekatan seperti itulah yang, menurut pengamatanku, masih belum banyak kutemukan dalam praktik sebagian besar seniman Bali. Termasuk aku sendiri pun masih punya problem terhadap kemelekatan simbolik itu.
Di titik ini aku pun tidak sedang mengatakan Bandung lebih baik daripada Bali. Berdasarkan kedua contoh pameran tadi, yang kulihat akhirnya hanyalah dua cara berbeda membangun percakapan melalui karya.
Seniman dan konteks lokasinya
Layaknya spons di wastafel cuci piringmu. Seniman adalah individu yang dikaruniai kepekaan teramat sangat pada lingkungan di sekitarnya, sehingga mereka akan sangat cermat menyerap segala hal yang mereka konsumsi pada lanskap sosial tempat mereka hidup menjadi bahasa artistik. Sehingga seniman Bali tumbuh dalam lingkungan yang nyaris tak pernah kekurangan bahan baku untuk mereka eksplorasi.

Bagi kalian yang hanya mengenal Bali dari brosur pariwisata, pulau ini mungkin hanya tampak sebagai deretan beach club, sawah hijau, dan wisata healing dari para yogi dadakan. Namun di balik citra itu, Bali menyimpan lapisan sejarah yang panjang. Kolonialisme, proyek Baliseering, pertumbuhan industri pariwisata, hingga keberadaan desa adat membentuk kehidupan sosial yang begitu kompleks. Di saat yang sama, aku pun melihat tradisi tetap hadir sebagai bagian dari keseharian, bukan sekadar artefak masa lalu.
Jadi pantaslah sudah, jika seniman-seniman Bali akan memiliki kecenderungan untuk menyerap permasalahan-permasalahan domestik tadi. Terutama mereka yang masih menjalani tradisi sebagai bagian dari konsekuensi sosial di masing-masing wilayah adat.

Lebih dari itu, bagiku Bali bagaikan ruang yang sangat padat simbol. Beragam ritus, arsitektur, mitologi, hingga ornamen visual seakan menjejalkan kosakata yang nyaris tak ada habisnya untuk diolah menjadi karya. Di sinilah letak berkah sekaligus bebannya. Kekayaan simbolik yang begitu melimpah sering kali membuat seniman merasa cukup diwakilkan melalui kehadiran simbol itu sendiri, tanpa merasa perlu menerjemahkannya bagi mereka yang berada di luar konteks kebudayaan Bali.
Seniman Bali dan Keberjarakan
Dari beragamnya pameran di Bali, aku melihat kecenderungan bagaimana seniman seringkali terjebak dalam permainan simbol-simbol yang sudah dianggap artistik sejak awal. Akibatnya, karya sering kali gagal membangun jembatan dengan audiens yang tidak memiliki kedekatan terhadap bahasa visual tersebut. Sehingga lumrah melihat seniman Bali dengan kekayaan simbol yang mentereng, namun simbol-simbol itu sering diasumsikan dapat berbicara dengan sendirinya.
Dari sanalah pertanyaan ini mulai bergumul di kepala. Karena bukan hanya terjadi pada kebanyakan seniman Bali, aku sendiri pun masih seringkali mengalaminya.
Ketika ditelisik lebih jauh persoalan ini pun tidak hanya terjadi di Bali. Banyak praktik seni di berbagai daerah juga terjebak pada bahasa visual yang hanya dipahami oleh komunitasnya sendiri. Namun karena Bali memiliki kepadatan simbol yang luar biasa, persoalan ini menjadi jauh lebih menyentil.
Di situlah kurang lebih titik di mana istilah “Jago Kandang” menjadi label yang ku pakai untuk menggambarkan bagaimana kompleksitas dan kekayaan visual yang dimiliki oleh Bali, malah memenjarakan mereka dalam labirin eksplorasi. Hal itu membuat susahnya percakapan internal ini untuk terkoneksi dengan mereka yang di luar lingkup tradisi itu sendiri.
Rasanya kedua pameran tadi menjadi cerminan yang sepadan untuk menjadi pemantik lahirnya diskursus, tentang apa yang kita yakini sebagai seni rupa Bali itu sendiri dan bagaimana ia diterjemahkan dari segala kompleksitas di belakangnya.
Kadang kita perlu berjarak untuk memahami sesuatu dengan lebih jernih. Dari jarak itulah kemudian muncul pendekatan-pendekatan baru untuk memahami Bali, tradisi dan kebudayaannya.
Di titik ini aku tidak mengatakan bahwa seniman Bali terlalu tradisional, tetapi bahwa kedekatan mereka dengan konteks lokal sering membuat mereka kehilangan keberjarakan sehingga sulit membangun percakapan yang lebih luas.
Persoalannya bukan bahwa seniman Bali terlalu banyak memakai simbol Bali. Persoalannya adalah simbol itu sering berhenti sebagai penanda identitas, belum berkembang menjadi perangkat berpikir yang dapat menghubungkan pengalaman lokal dengan relevansi yang lebih luas.
Sehingga keberjarakan yang telah banyak kusinggung tadi, bukanlah ajakan untuk melepas tradisi sebagai titik pijakan, namun bagaimana cara melihat kebudayaan sendiri seolah-olah kita bukan bagian darinya. Dari posisi itulah simbol tak lagi hanya diwarisi, tetapi diuji ,dipertanyakan, dan diterjemahkan kembali.
Dan, terlepas dari bola diskusi yang telah ku lempar ke tengah permainan. Tentu ada banyak pengecualian. Beberapa seniman Bali berhasil menerjemahkan pengalaman lokal menjadi percakapan global tanpa kehilangan akar budayanya. Justru karena contoh-contoh itu ada, aku percaya persoalannya bukan terletak pada tradisi Bali, melainkan pada pendekatan yang lebih segar dan relevan. .
Yang dibutuhkan seniman Bali mungkin bukan meninggalkan tradisi, melainkan sesekali keluar dari rumahnya sendiri. Percayalah, tradisi tidak kehilangan nilainya ketika dilihat dari kejauhan. Justru dari jarak itulah kita dapat melihat tradisi sebagai pengetahuan yang bergerak dan menemukan makna baru. Sebab karya yang baik bukan hanya mampu dikenali sebagai karya Bali, tetapi juga mampu mengajak orang yang belum mengenal Bali untuk ikut masuk ke dalam percakapannya.[T]
Penulis: Made Chandra
Editor: Adnyana Ole



















![Genesis: Rahim Bumi, Rahim Kehidupan —[Membaca Karya Keramik Ida Ayu Gede Artayani]](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2026/07/angga.-genesis-350x250.png)
![Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2026/07/sihab.-purple-350x250.png)









