9 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mengapa Seniman Bali Kerap Menjadi Jago Kandang?  —Catatan Tentang Keberjarakan, Tradisi, dan Pada Siapa Karya Berbicara

Made Chandra by Made Chandra
July 19, 2026
in Kritik Seni
Mengapa Seniman Bali Kerap Menjadi Jago Kandang?  —Catatan Tentang Keberjarakan, Tradisi, dan Pada Siapa Karya Berbicara

Karya instalatif Wayan Upadana di Dalem Seniman. Sumber : Made Chandra

SEBELUM kalian marah-marah dengan judul tulisan ini, perlu dijelaskan topik ini adalah auto kritik yang aku layangkan pada tiap seniman Bali hari ini (termasuk diriku sendiri si seniman setengah-setengah).

Ada satu topik yang melayang dalam kepalaku akhir-akhir ini, mungkin sejak diriku mulai cukup bersinggungan dengan hiruk pikuk ekosistem seni rupa Bali yang begitu rupa-rupa ini.

Sehingga judul dengan terma jago kandang bukanlah keraguan akan kualitas artistik seniman Bali yang sudah tentu mumpuni, melainkan bagaimana kecenderungan karya-karya itu yang hanya efektif dibaca di rumah sendiri. Di sinilah aku melihat tumpulnya rasa keberjarakan, yaitu kemampuan melihat kebudayaan sendiri dari luar sehingga ia dapat berbicara kepada orang yang tidak lahir di dalamnya.

Dua Pameran, Dua Cara Melihat Dunia

Diskursus ini tercetus pada pengalamanku melihat dua pameran dengan kontras problematika yang sangat jauh berbeda. Pameran yang pertama adalah solo exhibition dari seniman setengah baya, Wayan Upadana di galeri Dalam Seniman, Ubud.

Karya instalatif Wayan Upadana di Dalam Seniman | Sumber : Made Chandra

Pada pameran pertama ini, seperti kebanyakan pameran punggawa kesenian yang ada di Bali. Topiknya selalu menyasar kehidupan sosial orang Bali, yang bercumbu di antara romantisme budaya dan geliat modernitas yang ditunggangi oleh parawisata global.

Yang menjadi pembeda tentunya, praktik artistik yang ditawarkan oleh si seniman. Dalam ikhwal ini Upadana yang seorang pematung, tentu membawa objek-objek tri matra dengan berbagai pendekatan medium dan teknik.

Satu karya yang menjadi catatan dalam pameran ini tentu instalasi masif, yang ia hadirkan dengan puluhan panel keramik dari limbah satu perusahaan produksi benda-benda domestik utilitarian bernama Kevala.

Limbah-limbah itu disusun menyerupai dinding bangunan, lengkap dengan tiang-tiang besi yang dipancang dalam umpak khas arsitektur Bali. Dalam panel yang disusun acak, ia menampilkan berbagai gambar serta simbol yang jelas bisa disinyalir terserap dari nadi ke-Baliannya, lengkap dengan aksara yang meliuk-liuk di belakang keramik bakaran tersebut.

Para pengunjung Solo Exhibition Wayan Upadana di Dalam Seniman. | Sumber : Made Chandra

Satu hal yang meski kita catat sampai sini. Dalam pameran pertama ini, kita melihat praktik dan representasi persoalan seniman Bali―dan Upadana menjadi salah satu contohnya―bisa  sangat asik pada permainan simbolik dan tematik menyoal tradisi Bali.

Lalu, 15 menit dari lokasi pertama, sejenak aku melipir dan melaju dengan sepeda motor setengah renta menuju galeri bernama Lano, yang membawa presentasi artistik dari seniman-seniman Bandung, yang sebagian besar adalah seniman milenial dan gen z.

Karya Flavia Giulietta di Lano Galery | Sumber : Made Chandra

Begitu pintu kaca mulai dibuka, diriku serasa diajak untuk berpindah kota. Di dalamnya tertampil karya-karya yang jauh dari pernak-pernik ke-Balian. Mereka yang hadir dalam pameran tersebut, justru berbalik dan melihat persoalan-persoalan yang cukup bervariatif. Mulai perihal sosio politik, ketubuhan, materialitas, hingga persepsi keseharian yang sungguh sangat remeh temeh. Namun justru dari hal remeh-temeh tersebutlah kita diajak untuk melihat hal yang lebih besar di balik objek-objek tersebut.

Lihat salah satu karya (jika kalian sempat melihatnya), datang dengan guratan soft pastel yang menampilkan potongan-potongan kecil dari berbagai bagian tubuh. Kemudian satu karya yang cukup menggelitik adalah karya Trio Muharam, yang membawa instalasi dengan huruf-huruf abjad berceceran, dengan salah satu pola membentuk kalimat “Omong kosong otoritarianisme”, namun bukan itu poinnya. Karya ini berbicara tentang produks teks, simbol dan informasi yang berlebihan, sehingga perlahan teks tersebut kehilangan makna dan gagasan yang diembannya.

Karya Trio Muharam di Lano Galery | Sumber : Made Chandra

Terlepas dari banyaknya karya yang hadir dalam pameran ini, satu hal yang cukup membekas di kepalaku adalah bagaimana seniman berangkat dari objek sehari-hari untuk kemudian diretas secara struktur dan visual. Hal ini cukup menggugah ketika benda-benda itu (terlepas dari keremeh-temehannya) berhasil membawa konteks yang cukup relevan dengan orang awam sekalipun.

Kecenderungan itu tentu tidak lahir dari ruang hampa. Bandung memiliki sejarah panjang sebagai salah satu tempat pendidikan seni rupa modern di Indonesia.

Tradisi berpikir yang dibentuk oleh lingkungan akademik, eksperimen medium, hingga kebiasaan berdialog dengan seni konseptual membuat banyak senimannya terbiasa memulai karya dari sebuah persoalan, bukan semata dari simbol atau identitas visual.

Tentu ini bukan berarti semua seniman Bandung bekerja dengan cara yang sama, tetapi ada kecenderungan yang membuat bahasa artistik mereka lebih mudah bergerak melintasi konteks lokal.

Karya Diandra Lamees di Lano Galery | Sumber : Made Chandra

Pendekatan seperti itulah yang, menurut pengamatanku, masih belum banyak kutemukan dalam praktik sebagian besar seniman Bali. Termasuk aku sendiri pun masih punya problem terhadap kemelekatan simbolik itu.

Di titik ini aku pun tidak sedang mengatakan Bandung lebih baik daripada Bali. Berdasarkan kedua contoh pameran tadi, yang kulihat akhirnya hanyalah dua cara berbeda membangun percakapan melalui karya.

Seniman dan konteks lokasinya

Layaknya spons di wastafel cuci piringmu. Seniman adalah individu yang dikaruniai kepekaan teramat sangat pada lingkungan di sekitarnya, sehingga mereka akan sangat cermat menyerap segala hal yang mereka konsumsi pada lanskap sosial tempat mereka hidup menjadi bahasa artistik. Sehingga seniman Bali tumbuh dalam lingkungan yang nyaris tak pernah kekurangan bahan baku untuk mereka eksplorasi.

Poster Pariwisata Bali di Masa Kolonial | Sumber : https://fineartamerica.com/featured/see-bali-traditional-dance-vintage-travel-poster-long-shot.html

Bagi kalian yang hanya mengenal Bali dari brosur pariwisata, pulau ini mungkin hanya tampak sebagai deretan beach club, sawah hijau, dan wisata healing dari para yogi dadakan. Namun di balik citra itu, Bali menyimpan lapisan sejarah yang panjang. Kolonialisme, proyek Baliseering, pertumbuhan industri pariwisata, hingga keberadaan desa adat membentuk kehidupan sosial yang begitu kompleks. Di saat yang sama, aku pun melihat tradisi tetap hadir sebagai bagian dari keseharian, bukan sekadar artefak masa lalu.

Jadi pantaslah sudah, jika seniman-seniman Bali akan memiliki kecenderungan untuk menyerap permasalahan-permasalahan domestik tadi. Terutama mereka yang masih menjalani tradisi sebagai bagian dari konsekuensi sosial di masing-masing wilayah adat.

Ornamen riuh di salah satu pura Buleleng, Bali | Sumber : Made Chandra

Lebih dari itu, bagiku Bali bagaikan ruang yang sangat padat simbol. Beragam ritus, arsitektur, mitologi, hingga ornamen visual seakan menjejalkan kosakata yang nyaris tak ada habisnya untuk diolah menjadi karya. Di sinilah letak berkah sekaligus bebannya. Kekayaan simbolik yang begitu melimpah sering kali membuat seniman merasa cukup diwakilkan melalui kehadiran simbol itu sendiri, tanpa merasa perlu menerjemahkannya bagi mereka yang berada di luar konteks kebudayaan Bali.

Seniman Bali dan Keberjarakan

Dari beragamnya pameran di Bali, aku melihat kecenderungan bagaimana seniman seringkali terjebak dalam permainan simbol-simbol yang sudah dianggap artistik sejak awal. Akibatnya, karya sering kali gagal membangun jembatan dengan audiens yang tidak memiliki kedekatan terhadap bahasa visual tersebut. Sehingga lumrah melihat seniman Bali dengan kekayaan simbol yang mentereng, namun simbol-simbol itu sering diasumsikan dapat berbicara dengan sendirinya.

Dari sanalah pertanyaan ini mulai bergumul di kepala. Karena bukan hanya terjadi pada kebanyakan seniman Bali, aku sendiri pun masih seringkali mengalaminya.

Ketika ditelisik lebih jauh persoalan ini pun tidak hanya terjadi di Bali. Banyak praktik seni di berbagai daerah juga terjebak pada bahasa visual yang hanya dipahami oleh komunitasnya sendiri. Namun karena Bali memiliki kepadatan simbol yang luar biasa, persoalan ini menjadi jauh lebih menyentil.

Di situlah kurang lebih titik di mana istilah “Jago Kandang” menjadi label yang ku pakai untuk menggambarkan bagaimana kompleksitas dan kekayaan visual yang dimiliki oleh Bali, malah memenjarakan mereka dalam labirin eksplorasi. Hal itu membuat susahnya percakapan internal ini untuk terkoneksi dengan mereka yang di luar lingkup tradisi itu sendiri.

Rasanya kedua pameran tadi menjadi cerminan yang sepadan untuk menjadi pemantik lahirnya diskursus, tentang apa yang kita yakini sebagai seni rupa Bali itu sendiri dan bagaimana ia diterjemahkan dari segala kompleksitas di belakangnya.

Kadang kita perlu berjarak untuk memahami sesuatu dengan lebih jernih. Dari jarak itulah kemudian muncul pendekatan-pendekatan baru untuk memahami Bali, tradisi dan kebudayaannya.

Di titik ini aku tidak mengatakan bahwa seniman Bali terlalu tradisional, tetapi bahwa kedekatan mereka dengan konteks lokal sering membuat mereka kehilangan keberjarakan sehingga sulit membangun percakapan yang lebih luas.

Persoalannya bukan bahwa seniman Bali terlalu banyak memakai simbol Bali. Persoalannya adalah simbol itu sering berhenti sebagai penanda identitas, belum berkembang menjadi perangkat berpikir yang dapat menghubungkan pengalaman lokal dengan relevansi yang lebih luas.

Sehingga keberjarakan yang telah banyak kusinggung tadi, bukanlah ajakan untuk melepas tradisi sebagai titik pijakan, namun bagaimana cara melihat kebudayaan sendiri seolah-olah kita bukan bagian darinya. Dari posisi itulah simbol tak lagi hanya diwarisi, tetapi diuji ,dipertanyakan, dan diterjemahkan kembali.

Dan, terlepas dari bola diskusi yang telah ku lempar ke tengah permainan. Tentu ada banyak pengecualian. Beberapa seniman Bali berhasil menerjemahkan pengalaman lokal menjadi percakapan global tanpa kehilangan akar budayanya. Justru karena contoh-contoh itu ada, aku percaya persoalannya bukan terletak pada tradisi Bali, melainkan pada pendekatan yang lebih segar dan relevan. .

Yang dibutuhkan seniman Bali mungkin bukan meninggalkan tradisi, melainkan sesekali keluar dari rumahnya sendiri. Percayalah, tradisi tidak kehilangan nilainya ketika dilihat dari kejauhan. Justru dari jarak itulah kita dapat melihat tradisi sebagai pengetahuan yang bergerak dan menemukan makna baru. Sebab karya yang baik bukan hanya mampu dikenali sebagai karya Bali, tetapi juga mampu mengajak orang yang belum mengenal Bali untuk ikut masuk ke dalam percakapannya.[T]

Penulis: Made Chandra
Editor: Adnyana Ole

Tags: Seni Rupaseni rupa Baliseniman bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

Next Post

Ignite Fest 2026, Wajah Baru MPLS di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

Made Chandra

Made Chandra

Lahir di Baturaja, Sumatera Selatan, kini menetap di Denpasar. Merupakan seorang perupa muda yang suka mengeksplor wayang Kamasan sebagai titik temu antara kompleksitas sureal dan realitas dunia. Kadang kala ia suka menulis—mencatatkan berbagai hal yang menurutnya menarik dan layak mendapat intensi lebih, terutama perihal seni dan budaya visual.

Related Posts

Sudahi Isme-Ismemu Itu!

by Made Chandra
August 7, 2026
0
Sudahi Isme-Ismemu Itu!

ADA satu pertanyaan yang masih menjadi survei teratas ketika publik bertanya tentang karya seorang seniman. Karyamu ini gayanya apa? Abstrak,...

Read moreDetails

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
0
Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

Read moreDetails

Klinik Seni Taxu Itu Akhirnya Cuma Urban Legend di Bali—Tanggapan Tulisan Made Chandra

by Savitri Sastrawan
July 30, 2026
0
Klinik Seni Taxu Itu Akhirnya Cuma Urban Legend di Bali—Tanggapan Tulisan Made Chandra

TULISAN Made Chandra berjudul “Let Them Cook: Saat Klinik Seni Taxu Hadir Mengacak-ngacak Arena Percaturan Seni Rupa Bali” menyentil pemikiran...

Read moreDetails

Antara Sakral dan Profan: Nyongkolan di Persimpangan Budaya Sasak

by Arief Rahzen
July 6, 2026
0
Antara Sakral dan Profan: Nyongkolan di Persimpangan Budaya Sasak

BENTANG alam Lombok tidak hanya sajikan keindahan panorama geografis, juga hadirkan teater kebudayaan yang terus bergerak. Kebudayaan Sasak, inti dari...

Read moreDetails

“Let Them Cook”: Saat Klinik Seni Taxu Hadir Mengacak-ngacak Arena Percaturan Seni Rupa Bali.

by Made Chandra
July 5, 2026
0
“Let Them Cook”: Saat Klinik Seni Taxu Hadir Mengacak-ngacak Arena Percaturan Seni Rupa Bali.

DUA PULUH lima tahun lalu, tepat saat 2 bulan setelah Milenium ketiga dimulai,  segerombol anak muda yang menyebut diri mereka...

Read moreDetails

Di Mana Penciptaan Berlangsung: Sebuah Refleksi tentang Kehadiran, Waktu, dan Lahirnya Karya

by Wayan Gde Yudane
July 4, 2026
0
Di Mana Penciptaan Berlangsung: Sebuah Refleksi tentang Kehadiran, Waktu, dan Lahirnya Karya

MANUSIA adalah makhluk yang gemar mengembara. Tubuhnya berada di sini, tetapi pikirannya berlari ke hari esok. Atau sebaliknya, tubuhnya telah...

Read moreDetails

Dari Ornamen ke Gagasan: Menata Ulang Masa Depan Seni Tradisional Bali

by Wayan Gde Yudane
June 26, 2026
0
Dari Ornamen ke Gagasan: Menata Ulang Masa Depan Seni Tradisional Bali

“Tradisi tidak mati karena berubah; ia mati ketika berhenti dipikirkan.” PELESTARIAN seni tradisional di Bali tidak dapat berhenti pada estetika...

Read moreDetails

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
0
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

Read moreDetails

Masihkah Ada Ruang untuk Wayang? — Catatan Menonton Utsawa Wayang Kulit di Pesta Kesenian Bali 2025

by Agus Arta Wiguna
July 19, 2025
0
Masihkah Ada Ruang untuk Wayang? — Catatan Menonton Utsawa Wayang Kulit di Pesta Kesenian Bali 2025

MALAM itu, Jumat, 18 Juli 2025, saya menyaksikan utsawa (parade) wayang kulit yang menjadi bagian dari Pesta Kesenian Bali (PKB)...

Read moreDetails

Jangan Sampai Kompetisi Seni Menjadi Komplotisi Seni

by I Gusti Made Darma Putra
July 19, 2025
0
Ketiadaan Wayang Legendaris di Pesta Kesenian Bali: Sebuah Kekosongan dalam Pelestarian Budaya

DALAM dunia seni, sebuah kompetisi sejatinya lebih dari sekadar ajang unjuk bakat. Ia adalah wadah pengembangan, ruang pembinaan, dan panggung...

Read moreDetails
Next Post
Ignite Fest 2026, Wajah Baru MPLS di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

Ignite Fest 2026, Wajah Baru MPLS di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Merawat Kebersamaan Melalui Tradisi ‘Sambelan’
Kuliner

Merawat Kebersamaan Melalui Tradisi ‘Sambelan’

"BU, kulo mung mbekto kuluban godhong kates nggih? Lha ya mung niku sing wonten teng  nggriyo ." (Bu, saya hanya...

by Tri Nugroho Adi
August 9, 2026
Sastra Terjemahan sebagai Diplomasi Budaya: Mengenang Peran Vern Cork sebagai Penerjemah Sastra Indonesia dari Australia
Esai

Sastra Terjemahan sebagai Diplomasi Budaya: Mengenang Peran Vern Cork sebagai Penerjemah Sastra Indonesia dari Australia

SASTRA terjemahan telah lama menjadi salah satu media diplomasi budaya Indonesia. Namun, keberadaannya sebagai bagian dari kegiatan diplomasi budaya yang...

by I Nyoman Darma Putra
August 8, 2026
Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz
Khas

Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

“JAZZ itu musik yang meneduhkan, tapi mengajak berpikir,” ujar Gede Diarta, seorang pemuda asal Denpasar yang sehari-hari bekerja sebagai karyawan...

by Dede Putra Wiguna
August 8, 2026
Bhisma yang Tak Pernah Mati di Kurukshetra: Membaca “Satya–Tyagya–Dharma” Karya Prof. Dr. Drs. I Wayan Suardana, M.Sn.
Ulas Rupa

Bhisma yang Tak Pernah Mati di Kurukshetra: Membaca “Satya–Tyagya–Dharma” Karya Prof. Dr. Drs. I Wayan Suardana, M.Sn.

DI Bali, mitos tidak pernah benar-benar menjadi masa lalu. Ia tidak hanya tinggal dalam lembar-lembar lontar atau cerita yang dituturkan...

by Angga Wijaya
August 7, 2026
Sudahi Isme-Ismemu Itu!
Kritik Seni

Sudahi Isme-Ismemu Itu!

ADA satu pertanyaan yang masih menjadi survei teratas ketika publik bertanya tentang karya seorang seniman. Karyamu ini gayanya apa? Abstrak,...

by Made Chandra
August 7, 2026
Indonesia dalam Secangkir Kopi
Esai

Indonesia dalam Secangkir Kopi

PAGI itu saya duduk di sebuah cafe kecil di pinggiran kota. Tidak ada yang istimewa. Meja kayu yang mulai kusam,...

by Ahmad Fatoni
August 7, 2026
Fakultas Bahasa dan Seni, UPMI Bali, Lepas 67 Sarjana dan Magister—‘Jangan Jadi Sarjana Kertas!
Pendidikan

Fakultas Bahasa dan Seni, UPMI Bali, Lepas 67 Sarjana dan Magister—‘Jangan Jadi Sarjana Kertas!

“HARI ini saya tidak sedang melihat sekelompok calon wisudawan. Saya sedang melihat sekumpulan wajah yang menyimpan cerita perjalanan yang berbeda-beda.”...

by Dede Putra Wiguna
August 7, 2026
“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan
Ulas Film

“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

ADA satu hal yang langsung terasa begitu duduk menonton Tung Tung Uma, bagaimana Amrita Dharma memetakan setiap adegannya dengan begitu...

by Satria Aditya
August 7, 2026
Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  
Tualang

Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  

Sejak dahulu, Jimbaran, Kedonganan, Kelan, dan Kuta adalah daerah nelayan. Namun, yang terkenal hanya Jimbaran dan Kuta. Ketika Asosiasi Kepala...

by I Nyoman Tingkat
August 7, 2026
“Rumah”, Seni Instalasi Ni Nyoman Sani
Ulas Rupa

“Rumah”, Seni Instalasi Ni Nyoman Sani

PADA 10 April hingga 30 Juni 2026 lalu digelar pameran 12 Perupa Perempuan Indonesia. Perhelatan ini diinisiasi Indonesian Women Artists...

by Hartanto
August 7, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

“Gigolo Pendidikan”, Oemar Bakrie, dan Saat Kasih Sayang Guru Menjadi Barang Premium

BEBERAPA hari lalu saya iseng melontarkan istilah yang terdengar keterlaluan.  Gigodik, “Gigolo Pendidikan”. Bayangan saya sederhana. Jangan-jangan sekarang ada "profesi"...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 7, 2026
Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak
Khas

Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

DI ruang aula SMAN 4 Praya, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, beberapa pemuda-pemudi dari Sanggar Putri Nyale duduk di kursi...

by Jaswanto
August 7, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co