20 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

Putu Intan Juliantika by Putu Intan Juliantika
July 19, 2026
in Ulas Pentas
Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

Tari Sandikala

 “Teng! Tong! Teng! Tong! Teng! Tung! Pagi tiba alarm berbunyi…”

Itu adalah suara dering alarm saya pukul tiga pagi yang mengharuskan saya bangun dari tidur meskipun saya masih cukup mengantuk. Saya membuka pintu dan melihat suasana sekitar di pagi hari. Seperti biasa udara kota singaraja pagi itu begitu dingin dengan beberapa suara orang berlalu lalang dan motor yang melintas di depan kos teman saya. Sebenarnya saat itu saya menginap di kos teman saya agar saya bisa terbangun pukul tiga pagi.   

Hari ini adalah hari dimana saya dan kelima teman saya akan melaksanakan ujian tari pada mata kuliah Seni Budaya Bali. Acara tersebut diselenggarakan oleh program studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Undiksha semester 6 dari kelas A sampai dengan D yang dilaksanakan di wantilan parahyangan Undiksha setiap pukul 9 pagi selama dua hari dari tanggal 15 hingga 16 Juli 2026. Saat itu, kelompok saya mendapat giliran di hari pertama. Kegiatan ini tidak hanya menilai ujian tari saja, melainkan bagaimana cara kita membangun kerjasama dan kekompakan dalam menyukseskan penyenggaran pementasan tari serta memahami dan menerapkan disiplin pentas.

Pukul empat pagi, saya bersama teman-teman berangkat menuju Penarukan untuk bersiap-siap mengenakan kostum pentas tari. Namun, karena kesulitan mengendarai dan juga keterbatasan waktu, kami memutuskan untuk langsung bersiap di Gedung Kuliah Umum (GKU) Universitas Pendidikan Ganesha bersama teman-teman dari kelompok lainnya. Sambil menunggu giliran, saya tidak menyadari ternyata waktu sudah menunjukan pukul 6 pagi. Saya melihat keindahan matahari terbit dari jendela timur GKU lantai tiga, awalnya matahari itu berwarna merah, lalu jingga, kemudian kuning, setelah itu cerah dan silau. Saya menyadari pergerakan rotasi bumi itu sangat cepat, matahari terbit saja hanya membutuhkan waktu beberapa menit untuk berubah warna.

Tari Makering-keringan

Sekitar pukul delapan pagi kami sekelompok sudah selesai bersiap-siap dan kami pun segera menuju Wantilan Parahyangan. Disana sudah ada teman-teman dan juga dosen pengampu mata kuliah kami yaitu Bapak dosen  I Nyoman Arcana, SST., M.Pd. sebagai juri pementasan tari. Kami sekelompok sudah mengenakan kostum pentas yang serasi sembari menunggu giliran untuk tampil. Sungguh perasaan saya saat itu bercampur antara gugup dan sedikit takut. Namun karena saya bersama teman saya, membuat rasa percaya diri saya seketika tumbuh. Saat itu, saya menyadari dukungan kehadiran teman itu berpengaruh sangat besar. Kehadiran mereka bukan hanya memberikan semangat, melainkan juga  memberikan keyakinan bahwa saya tidak sendiri sehingga saya lebih tenang menghadapi pementasan.

Hari itu adalah sebagai penentu setelah beberapa minggu menjalani latihan yang dibarengi dengan beribu-ribu perbaikan dalam tarian agar menjadi tarian yang sempurna. Saya melihat kesungguhan teman-teman saya selama dalam berlatih dan saya berterima kasih karena memiliki teman seperti mereka, maka dari itu saya tidak mungkin mengecewakan mereka sebagai sahabat. Setiap gerakan yang kami pelajari tidak hanya memfokuskan pada ketepatan gerakan maupun pola lantai, tetapi juga kekompakan antar penari agar alur cerita dalam tarian dapat tersampaikan dengan baik kepada penonton.

Kami mementaskan tari yang berjudul “Makering-Keringan”. Tarian ini diangkat dari tradisi permainan rakyat khas Desa Banyuning menjadi sebuah pertunjukkan yang menarik dan memiliki pesan tentang pendidikan karakter yang menekankan sikap yang suportif serta saling menghargai di lingkup pertemanan. Dari pengalaman berlatih tari selama ini, setiap gerakan tari yang saya terapkan bersama teman saya memiliki suasana ceria dalam cerita dengan iringan musik yang mampu mendukung jalan cerita dengan sangat baik.

Dari pengalaman pementasan tersebut, gerakan yang paling menarik bagi saya adalah gerakan broken yaitu gerakan yang memiliki variasi yang berbeda-beda, sehingga memberikan kesan dinamis dan tidak monoton. Saya merasa bangga karena meskipun pada proses latihan kami sudah beberapa kali mengalami kebingungan dalam merancang sebuah gerakan dan pola lantai yang berbeda-beda, pada akhirnya kami berhasil menyusunnya dengan sangat baik. Bagian ini adalah pengalaman pementasan paling memukau bagi saya.

Selain kami, terdapat delapan kelompok lainnya mementaskan tari di hari yang sama diantaranya Tari “Keserakahan Mayadenawa”, Tari “Manyi”, Tari “Timun Mas”, Tari “Sandikala” kelas A, Tari “Sapele-Sapele”, Tari “Magoak-Goakan”, Tari “Calon Arang”, dan Tari “Sandikala” kelas D. Saya sangat menikmati pertunjukkan tari tersebut. Diantara beberapa pementasan tari itu, terdapat dua pementasan tari yang menarik perhatian saya untuk menontonnya yaitu Tari “Magoak-Goakan” dan Tari “Sandikala” dari kelas D.

Tari “Magoak-Goakan” mengangkat kisah peperangan pada masa pemerintahan Ki Barak Panji Sakti antara Kerajaan Buleleng dan Kerajaan Blambangan. Tarian ini menggambarkan strategi, keberanian, dan semangat juang para prajurit Buleleng yang diibaratkan  sebagai barisan goak, melalui gerak yang dinamis dan penuh kekompakkan, menurut saya tarian ini menyampaikan nilai-nilai persatuan, kesetiaan, pengorbanan, dan kerjasama dalam mempertahankan masyarakat.

Tari Magoak-Goakan

Dari pementasan tari yang saya saksikan, kostum yang dikenakan para penari terlihat gagah dan selaras dengan karakter prajurit goak dengan perpaduan tata rias yang mempertegas ekspresi penari telah menghidupkan karakter yang diperankan. Beberapa gerakan pose akrobatik telah menjadi daya tarik tersediri sekaligus menarik pehatian saya untuk menontonnya lebih lama. Pose akrobatik yang ditampilkan para penari telah menambah kesan dramatis pada pertunjukkan tari sehingga cerita dalam tarian tersebut dapat tersampaikan dengan baik. Secara keseluruhan tarian ini sangat mampu menghadirkan suasana yang penuh ketegangan sekaligus membangkitkan semangat kepahlawanan, sehingga pesan tentang keberanian, persatuan, dan perjuangan dapat tersampaikan dengan baik ke penonton.

Tidak hanya Tari “Magoak-Goakan”, pementasan Tari “Sandikala” dari kelas D juga menurut saya sangat keren. Tarian ini mengangkat kisah enam anak yang bermain saat senja hingga salah satu dari mereka diculik “Memedi”. Tarian ini sangat mengagumkan dari segi konsep sebagai pementasan tari yang sangat totalitas menyajikan cerita, khususnya pada pendalaman tokoh dan juga gerakan. Pembawaan karakter tokoh “Memedi” terasa sangat kuat dan meyakinkan, baik melalui ekspresi wajah, gerak, maupun penghayatan yang dibawa oleh penari.

Salah satu detail yang paling menarik perhatian saya adalah ketika penari dengan tokoh “Memedi” sengaja mengacak-acak sanggul rambutnya sehingga karakter yang ia bawakan terasa lebih hidup. Detail sederhana tersebut menunjukkan kesungguhan penari dalam membangun tokoh “Memedi” sehingga terasa lebih hidup. Saya sebagai penonton merasa kagum dengan totalitas yang ditunjukkan seorang penari tersebut sehingga menambah nilai estetika dalam tarian dan cerita juga tersampaikan dengan sangat baik dan jelas kepada para penonton. 

Di hari kedua pementasan tari, saya saat itu membantu mendekor panggung bersama teman-teman lainnya sekaligus sebagai penonton pementasan tari. Pada pementasan di hari kedua cukup banyak tari yang dipentaskan. Tapi setelah saya menonton ada salah satu tari yang menarik perhatian saya yaitu Tari “Kemurkaan Sang Ibu Pertiwi”. Tarian ini menceritakan tentang kerusakan alam akibat ulah manusia yang mencemari lingkungan. Murka atas perlakuan tersebut, Ibu pertiwi mendatangkan bencana sebagai peringatan. Pada akhirnya, manusia menyadari kesalahannya dan berusaha menjaga serta memulihkan kelestarian alam sebagai bentuk tanggung jawab bersama.

Tari Kemurkaan Ibu Pertiwi

Menurut saya, tema yang diangkat dalam tarian ini sangat menarik karena mengingatkan saya akan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan. Dari tarian tersebut, saya melihat bahwa para penari mampu membawakan cerita dengan penghayatan yang begitu mendalam dari ekpresi wajah, gerakan, dan tata rias yang memperkuat karakter setiap tokoh. Selain tata rias, busananya juga mendukung penyampaian makna tari yang didominasi perpaduan warna coklat dan putih. Coklat melambangkan Ibu pertiwi, sedangkan putih melambangkan harapan akan kelestarian lingkungan. Tarian ini memiliki pesan agar kita selalu memperhatikan lingkungan sekitar dan mengajarkan dampak pencemaran lingkungan jika kita melanggar atau mencemarinya. Sehingga tarian ini tidak hanya sebatas untuk hiburan saja, tetapi juga memberikan nilai edukatif dan membangun kesadaran untuk lebih peduli terhadap lingkungan.

Setelah beberapa pertunjukkan tari akhirnya sampai juga penghujung acara. Bapak dosen memberikan beberapa pesan kepada mahasiswanya sekaligus hari itu merupakan hari terakhir perkuliahan Seni Budaya Bali. Beliau mengingatkan bahwa keterampilan menari akan terus dipelajari dan dikembangkan sebagai latihan sehingga keterampilan menari merupakan bekal ilmu yang kita bawa menuju masa depan. Bapak dosen juga mengingatkan bagaimana penguasaan panggung saat menari, serta memperhatikan ketepatan  gerak ritmis dan penghayatan mimik agar pesan dan karakter dalam sebuah tarian dapat tersampaikan dengan baik kepada penonton.

Saya sebagai mahasiswa PGSD sangat berterima kasih kepada beliau karena sudah memberikan pengalaman yang begitu bermakna dalam hidup saya. Dan pesan tersebut juga menjadi pengingat saya bahwa keberhasilan menari tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menghafal gerakan, tetapi juga konsisten dalam berlatih, menumbuhkan rasa percaya diri, dan mengekspresikan makna di balik setiap gerakan. Dan benar saja “Setiap Gerakan Punya Cerita”. Tidak lupa pula di akhir acara, MC bernama Mirayanti membacakan sebuah pantun yang menurut saya maknanya sangat menyentuh.

Bunga sandat bunga cempaka

Harum semerbak dihalaman

Menari bukan sekadar berkarya

Namun menjaga warisan zaman [T]

Tags: seni taritari baliUndiksha
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Krisis Baru Abad 21: Ketika Mesin Berpikir, Manusia Berhenti Merenung?

Next Post

Mengapa Seniman Bali Kerap Menjadi Jago Kandang?  —Catatan Tentang Keberjarakan, Tradisi, dan Pada Siapa Karya Berbicara

Putu Intan Juliantika

Putu Intan Juliantika

Bisa dipanggil Intan. Lahir di Negara-Bali Barat, 2005. Tinggal di Kelurahan Baler Bale Agung, Kecamatan Negara, Kabupaten Jembrana. Kini bergiat di Komunitas Mahima. Instagram @ntan_juliantika Facebook @Intan Juliantika

Related Posts

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
0
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

Read moreDetails

‘The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark’ di TMII —Cahaya Menghidupkan Hanoman Duta

by Azzahra Naya R
July 1, 2026
0
‘The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark’ di TMII —Cahaya Menghidupkan Hanoman Duta

SAAT menyaksikan The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark: Hanoman Duta, Amfiteater Panggung Budaya, Taman Mini Indonesia Indah (TMII),...

Read moreDetails

Kembalinya Roh Teo-Estetika —Menguatkan Kembali Konsolidasi Sosial Masyarakat Banjar Bukit Buwung Kesiman Melalui Kesenian Dramatari Arja

by IM Gede Nesa Saputra
June 30, 2026
0
Kembalinya Roh Teo-Estetika —Menguatkan Kembali Konsolidasi Sosial Masyarakat Banjar Bukit Buwung Kesiman Melalui Kesenian Dramatari Arja

KEMBALINYA seni Arja di Banjar Bukit Buwung, Kesiman, tidak dapat dipahami semata sebagai upaya revitalisasi kesenian tradisional, melainkan sebagai proses...

Read moreDetails

‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

by Yudi Laksana
June 24, 2026
0
‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di...

Read moreDetails

Tembang Propaganda dan Atraksi Silat yang Memberi Warna pada Liuk Janger Kerobokan di Pesta Kesenian Bali 2026 —Sebuah Catatan

by Kadek Surya Jayadi
June 20, 2026
0
Tembang Propaganda dan Atraksi Silat yang Memberi Warna pada Liuk Janger Kerobokan di Pesta Kesenian Bali 2026 —Sebuah Catatan

 “Mari kawan bersama kita bekerja, bersihkan lingkungan….”  ITU adalah penggalan tembang yang menjadi salah satu hal menarik dari pementasan kesenian...

Read moreDetails

Akurasi Sendratari ‘Lubdhaka Lelana’ Merefleksikan Tema ‘Atma Kerthi’ dalam PKB 2026

by I Nyoman Darma Putra
June 15, 2026
0
Akurasi Sendratari ‘Lubdhaka Lelana’ Merefleksikan Tema ‘Atma Kerthi’ dalam PKB 2026

MENERJEMAHKAN tema Pesta Kesenian Bali (PKB) ke dalam seni pertunjukan kerap menjadi tantangan bagi para seniman. Pertama, tema-tema PKB dirumuskan...

Read moreDetails

Aura dan Ruang Aman : Catatan dari Suara-Suara yang Dikecilkan

by Rezky Chiki
June 9, 2026
0
Aura dan Ruang Aman : Catatan dari Suara-Suara yang Dikecilkan

“Salah satu hal yang membuat pelecehan sulit dikenali adalah karena ia sering hadir dalam bentuk yang tampak biasa: candaan, gurauan,...

Read moreDetails

Catatan Lomba Monolog Peksimida Bali 2026: Ada yang Masih Terjebak Pada Teriakan

by Mas Ruscitadewi
June 7, 2026
0
Catatan Lomba Monolog Peksimida Bali 2026: Ada yang Masih Terjebak Pada Teriakan

Lomba monolog dalam rangka Pekan Seni Mahasiswa Daerah (Peksimida) Bali 2026 yang diadakan di Institut Seni Indonesia (ISI) Bali, Sabtu,...

Read moreDetails

Durhaka Sebagai Bahasa Kuasa: Narasi Tubuh Perempuan Melalui Pertunjukan Malin Kundang Lirih

by Helvi Carnelis
April 14, 2026
0
Durhaka Sebagai Bahasa Kuasa: Narasi Tubuh Perempuan Melalui Pertunjukan Malin Kundang Lirih

SAYA merasakan dengan kuat budaya rantau hari ini, sebuah beban tanggung jawab yang tidak ringan dalam kebudayaan Minangkabau. Pengalaman itu...

Read moreDetails

Bertolak dari Ruang, Proses dan Improvisasi —Catatan Pementasan ‘Aduh” Teater Mahima

by Radha Dwi Pradnyani
March 30, 2026
0
Bertolak dari Ruang, Proses dan Improvisasi —Catatan Pementasan ‘Aduh” Teater Mahima

PEMAIN masuk arena secara bergiliran. Dengan gerakan berbeda-beda mereka berjalan tergesa, dinamis, kadang saling silang, kadang sejajar. Mereka bersuara meniru...

Read moreDetails
Next Post
Mengapa Seniman Bali Kerap Menjadi Jago Kandang?  —Catatan Tentang Keberjarakan, Tradisi, dan Pada Siapa Karya Berbicara

Mengapa Seniman Bali Kerap Menjadi Jago Kandang?  ---Catatan Tentang Keberjarakan, Tradisi, dan Pada Siapa Karya Berbicara

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

BNN Kota Denpasar Ajak Murid Baru Tangkal Ancaman Narkoba di Ignite Fest Kesbam 2026
Khas

BNN Kota Denpasar Ajak Murid Baru Tangkal Ancaman Narkoba di Ignite Fest Kesbam 2026

 “Hari ini kalian mungkin berpikir narkoba itu urusan orang lain. Padahal, yang dibutuhkan pengedar hanya satu celah, yaitu rasa penasaran.”...

by Dede Putra Wiguna
July 19, 2026
Ignite Fest 2026, Wajah Baru MPLS di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Ignite Fest 2026, Wajah Baru MPLS di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SORAK-sorai ratusan murid baru memenuhi Aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam). Sesekali tepuk tangan bergemuruh tatkala acara diselingi penampilan...

by Dede Putra Wiguna
July 19, 2026
Mengapa Seniman Bali Kerap Menjadi Jago Kandang?  —Catatan Tentang Keberjarakan, Tradisi, dan Pada Siapa Karya Berbicara
Kritik Seni

Mengapa Seniman Bali Kerap Menjadi Jago Kandang?  —Catatan Tentang Keberjarakan, Tradisi, dan Pada Siapa Karya Berbicara

SEBELUM kalian marah-marah dengan judul tulisan ini, perlu dijelaskan topik ini adalah auto kritik yang aku layangkan pada tiap seniman...

by Made Chandra
July 19, 2026
Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya
Ulas Pentas

Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

 “Teng! Tong! Teng! Tong! Teng! Tung! Pagi tiba alarm berbunyi...” Itu adalah suara dering alarm saya pukul tiga pagi yang...

by Putu Intan Juliantika
July 19, 2026
Krisis Baru Abad 21: Ketika Mesin Berpikir, Manusia Berhenti Merenung?
Esai

Krisis Baru Abad 21: Ketika Mesin Berpikir, Manusia Berhenti Merenung?

KONON, yang membedakan manusia dari makhluk lain bukan semata kemampuan berbicara, melainkan kemampuan merenung. Dari renungan lahir kebijaksanaan. Dari kebijaksanaan...

by Hairunnisa Br. Sagala
July 19, 2026
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK
Esai

Langsung ke Intinya: Siapa Juara Piala Dunia?

BAGI kelompok orang yang tidak mengikuti sepak bola, riuh rendah Piala Dunia sering kali terasa seperti latar belakang suara yang...

by Nur Inayah Yushar
July 19, 2026
The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus
Ulas Film

The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

SUDAH tentu, Christopher Nolan bukan sutradara pertama yang mengadaptasi epos Odyssey milik Homer. Kisah itu sudah ada sekitar 2.800 tahun...

by Bayu Wira Handyan
July 19, 2026
Agung Pramana Hadirkan “After Exotic 1931” di ARTJOG 2026 —Menelisik Jejak Kolonial di Balik Eksotisme Bali
Pameran

Agung Pramana Hadirkan “After Exotic 1931” di ARTJOG 2026 —Menelisik Jejak Kolonial di Balik Eksotisme Bali

BALI selama bertahun-tahun dikenal dunia sebagai pulau yang eksotis. Namun, di balik citra itu, tersimpan sejarah panjang tentang bagaimana representasi...

by Dede Putra Wiguna
July 19, 2026
Bangkitlah Bali: Kesadaran Selalu Dimulai dari Keberanian Mengakui Kenyataan
Esai

Bangkitlah Bali: Kesadaran Selalu Dimulai dari Keberanian Mengakui Kenyataan

"People will do anything, no matter how absurd, in order to avoid facing their own souls." Manusia rela melakukan apa...

by Agung Sudarsa
July 19, 2026
Membaca Alam yang Tersimpan dalam Serat —Menafsir “Barik” Karya Dr. Sn. Inty Nahari
Ulas Rupa

Membaca Alam yang Tersimpan dalam Serat —Menafsir “Barik” Karya Dr. Sn. Inty Nahari

ADA kecenderungan menarik dalam perkembangan seni kriya beberapa tahun terakhir. Para perupa tidak lagi hanya berbicara tentang keterampilan mengolah bahan,...

by Angga Wijaya
July 19, 2026
Mengapa Desain ‘User Interface’ Aplikasi Meditasi Selalu Bernuansa Pastel?
Esai

Dari Stres Jadi Rileks: Menjadikan Musik Sebagai Pertolongan Pertama Emosi

MENGINGAT banyaknya pengguna media sosial saat ini, orang-orang gemar membagikan musik yang mereka dengarkan di platform seperti Instagram, WhatsApp, dan...

by Muhammad Syahrul Wafda
July 19, 2026
Lomba Cerpen Festival Seni Bali Jani 2026 Diikuti 172 Peserta, Juri Soroti Orisinalitas Karya di Era AI
Khas

Lomba Cerpen Festival Seni Bali Jani 2026 Diikuti 172 Peserta, Juri Soroti Orisinalitas Karya di Era AI

MINAT masyarakat terhadap dunia sastra kembali menunjukkan geliat yang menggembirakan. Lomba Menulis Cerpen dalam rangka Festival Seni Bali Jani (FSBJ)...

by Nyoman Budarsana
July 18, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co