“Teng! Tong! Teng! Tong! Teng! Tung! Pagi tiba alarm berbunyi…”
Itu adalah suara dering alarm saya pukul tiga pagi yang mengharuskan saya bangun dari tidur meskipun saya masih cukup mengantuk. Saya membuka pintu dan melihat suasana sekitar di pagi hari. Seperti biasa udara kota singaraja pagi itu begitu dingin dengan beberapa suara orang berlalu lalang dan motor yang melintas di depan kos teman saya. Sebenarnya saat itu saya menginap di kos teman saya agar saya bisa terbangun pukul tiga pagi.
Hari ini adalah hari dimana saya dan kelima teman saya akan melaksanakan ujian tari pada mata kuliah Seni Budaya Bali. Acara tersebut diselenggarakan oleh program studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Undiksha semester 6 dari kelas A sampai dengan D yang dilaksanakan di wantilan parahyangan Undiksha setiap pukul 9 pagi selama dua hari dari tanggal 15 hingga 16 Juli 2026. Saat itu, kelompok saya mendapat giliran di hari pertama. Kegiatan ini tidak hanya menilai ujian tari saja, melainkan bagaimana cara kita membangun kerjasama dan kekompakan dalam menyukseskan penyenggaran pementasan tari serta memahami dan menerapkan disiplin pentas.
Pukul empat pagi, saya bersama teman-teman berangkat menuju Penarukan untuk bersiap-siap mengenakan kostum pentas tari. Namun, karena kesulitan mengendarai dan juga keterbatasan waktu, kami memutuskan untuk langsung bersiap di Gedung Kuliah Umum (GKU) Universitas Pendidikan Ganesha bersama teman-teman dari kelompok lainnya. Sambil menunggu giliran, saya tidak menyadari ternyata waktu sudah menunjukan pukul 6 pagi. Saya melihat keindahan matahari terbit dari jendela timur GKU lantai tiga, awalnya matahari itu berwarna merah, lalu jingga, kemudian kuning, setelah itu cerah dan silau. Saya menyadari pergerakan rotasi bumi itu sangat cepat, matahari terbit saja hanya membutuhkan waktu beberapa menit untuk berubah warna.

Sekitar pukul delapan pagi kami sekelompok sudah selesai bersiap-siap dan kami pun segera menuju Wantilan Parahyangan. Disana sudah ada teman-teman dan juga dosen pengampu mata kuliah kami yaitu Bapak dosen I Nyoman Arcana, SST., M.Pd. sebagai juri pementasan tari. Kami sekelompok sudah mengenakan kostum pentas yang serasi sembari menunggu giliran untuk tampil. Sungguh perasaan saya saat itu bercampur antara gugup dan sedikit takut. Namun karena saya bersama teman saya, membuat rasa percaya diri saya seketika tumbuh. Saat itu, saya menyadari dukungan kehadiran teman itu berpengaruh sangat besar. Kehadiran mereka bukan hanya memberikan semangat, melainkan juga memberikan keyakinan bahwa saya tidak sendiri sehingga saya lebih tenang menghadapi pementasan.
Hari itu adalah sebagai penentu setelah beberapa minggu menjalani latihan yang dibarengi dengan beribu-ribu perbaikan dalam tarian agar menjadi tarian yang sempurna. Saya melihat kesungguhan teman-teman saya selama dalam berlatih dan saya berterima kasih karena memiliki teman seperti mereka, maka dari itu saya tidak mungkin mengecewakan mereka sebagai sahabat. Setiap gerakan yang kami pelajari tidak hanya memfokuskan pada ketepatan gerakan maupun pola lantai, tetapi juga kekompakan antar penari agar alur cerita dalam tarian dapat tersampaikan dengan baik kepada penonton.
Kami mementaskan tari yang berjudul “Makering-Keringan”. Tarian ini diangkat dari tradisi permainan rakyat khas Desa Banyuning menjadi sebuah pertunjukkan yang menarik dan memiliki pesan tentang pendidikan karakter yang menekankan sikap yang suportif serta saling menghargai di lingkup pertemanan. Dari pengalaman berlatih tari selama ini, setiap gerakan tari yang saya terapkan bersama teman saya memiliki suasana ceria dalam cerita dengan iringan musik yang mampu mendukung jalan cerita dengan sangat baik.
Dari pengalaman pementasan tersebut, gerakan yang paling menarik bagi saya adalah gerakan broken yaitu gerakan yang memiliki variasi yang berbeda-beda, sehingga memberikan kesan dinamis dan tidak monoton. Saya merasa bangga karena meskipun pada proses latihan kami sudah beberapa kali mengalami kebingungan dalam merancang sebuah gerakan dan pola lantai yang berbeda-beda, pada akhirnya kami berhasil menyusunnya dengan sangat baik. Bagian ini adalah pengalaman pementasan paling memukau bagi saya.
Selain kami, terdapat delapan kelompok lainnya mementaskan tari di hari yang sama diantaranya Tari “Keserakahan Mayadenawa”, Tari “Manyi”, Tari “Timun Mas”, Tari “Sandikala” kelas A, Tari “Sapele-Sapele”, Tari “Magoak-Goakan”, Tari “Calon Arang”, dan Tari “Sandikala” kelas D. Saya sangat menikmati pertunjukkan tari tersebut. Diantara beberapa pementasan tari itu, terdapat dua pementasan tari yang menarik perhatian saya untuk menontonnya yaitu Tari “Magoak-Goakan” dan Tari “Sandikala” dari kelas D.
Tari “Magoak-Goakan” mengangkat kisah peperangan pada masa pemerintahan Ki Barak Panji Sakti antara Kerajaan Buleleng dan Kerajaan Blambangan. Tarian ini menggambarkan strategi, keberanian, dan semangat juang para prajurit Buleleng yang diibaratkan sebagai barisan goak, melalui gerak yang dinamis dan penuh kekompakkan, menurut saya tarian ini menyampaikan nilai-nilai persatuan, kesetiaan, pengorbanan, dan kerjasama dalam mempertahankan masyarakat.

Dari pementasan tari yang saya saksikan, kostum yang dikenakan para penari terlihat gagah dan selaras dengan karakter prajurit goak dengan perpaduan tata rias yang mempertegas ekspresi penari telah menghidupkan karakter yang diperankan. Beberapa gerakan pose akrobatik telah menjadi daya tarik tersediri sekaligus menarik pehatian saya untuk menontonnya lebih lama. Pose akrobatik yang ditampilkan para penari telah menambah kesan dramatis pada pertunjukkan tari sehingga cerita dalam tarian tersebut dapat tersampaikan dengan baik. Secara keseluruhan tarian ini sangat mampu menghadirkan suasana yang penuh ketegangan sekaligus membangkitkan semangat kepahlawanan, sehingga pesan tentang keberanian, persatuan, dan perjuangan dapat tersampaikan dengan baik ke penonton.
Tidak hanya Tari “Magoak-Goakan”, pementasan Tari “Sandikala” dari kelas D juga menurut saya sangat keren. Tarian ini mengangkat kisah enam anak yang bermain saat senja hingga salah satu dari mereka diculik “Memedi”. Tarian ini sangat mengagumkan dari segi konsep sebagai pementasan tari yang sangat totalitas menyajikan cerita, khususnya pada pendalaman tokoh dan juga gerakan. Pembawaan karakter tokoh “Memedi” terasa sangat kuat dan meyakinkan, baik melalui ekspresi wajah, gerak, maupun penghayatan yang dibawa oleh penari.
Salah satu detail yang paling menarik perhatian saya adalah ketika penari dengan tokoh “Memedi” sengaja mengacak-acak sanggul rambutnya sehingga karakter yang ia bawakan terasa lebih hidup. Detail sederhana tersebut menunjukkan kesungguhan penari dalam membangun tokoh “Memedi” sehingga terasa lebih hidup. Saya sebagai penonton merasa kagum dengan totalitas yang ditunjukkan seorang penari tersebut sehingga menambah nilai estetika dalam tarian dan cerita juga tersampaikan dengan sangat baik dan jelas kepada para penonton.
Di hari kedua pementasan tari, saya saat itu membantu mendekor panggung bersama teman-teman lainnya sekaligus sebagai penonton pementasan tari. Pada pementasan di hari kedua cukup banyak tari yang dipentaskan. Tapi setelah saya menonton ada salah satu tari yang menarik perhatian saya yaitu Tari “Kemurkaan Sang Ibu Pertiwi”. Tarian ini menceritakan tentang kerusakan alam akibat ulah manusia yang mencemari lingkungan. Murka atas perlakuan tersebut, Ibu pertiwi mendatangkan bencana sebagai peringatan. Pada akhirnya, manusia menyadari kesalahannya dan berusaha menjaga serta memulihkan kelestarian alam sebagai bentuk tanggung jawab bersama.

Menurut saya, tema yang diangkat dalam tarian ini sangat menarik karena mengingatkan saya akan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan. Dari tarian tersebut, saya melihat bahwa para penari mampu membawakan cerita dengan penghayatan yang begitu mendalam dari ekpresi wajah, gerakan, dan tata rias yang memperkuat karakter setiap tokoh. Selain tata rias, busananya juga mendukung penyampaian makna tari yang didominasi perpaduan warna coklat dan putih. Coklat melambangkan Ibu pertiwi, sedangkan putih melambangkan harapan akan kelestarian lingkungan. Tarian ini memiliki pesan agar kita selalu memperhatikan lingkungan sekitar dan mengajarkan dampak pencemaran lingkungan jika kita melanggar atau mencemarinya. Sehingga tarian ini tidak hanya sebatas untuk hiburan saja, tetapi juga memberikan nilai edukatif dan membangun kesadaran untuk lebih peduli terhadap lingkungan.
Setelah beberapa pertunjukkan tari akhirnya sampai juga penghujung acara. Bapak dosen memberikan beberapa pesan kepada mahasiswanya sekaligus hari itu merupakan hari terakhir perkuliahan Seni Budaya Bali. Beliau mengingatkan bahwa keterampilan menari akan terus dipelajari dan dikembangkan sebagai latihan sehingga keterampilan menari merupakan bekal ilmu yang kita bawa menuju masa depan. Bapak dosen juga mengingatkan bagaimana penguasaan panggung saat menari, serta memperhatikan ketepatan gerak ritmis dan penghayatan mimik agar pesan dan karakter dalam sebuah tarian dapat tersampaikan dengan baik kepada penonton.
Saya sebagai mahasiswa PGSD sangat berterima kasih kepada beliau karena sudah memberikan pengalaman yang begitu bermakna dalam hidup saya. Dan pesan tersebut juga menjadi pengingat saya bahwa keberhasilan menari tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menghafal gerakan, tetapi juga konsisten dalam berlatih, menumbuhkan rasa percaya diri, dan mengekspresikan makna di balik setiap gerakan. Dan benar saja “Setiap Gerakan Punya Cerita”. Tidak lupa pula di akhir acara, MC bernama Mirayanti membacakan sebuah pantun yang menurut saya maknanya sangat menyentuh.
Bunga sandat bunga cempaka
Harum semerbak dihalaman
Menari bukan sekadar berkarya
Namun menjaga warisan zaman [T]































