30 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Krisis Baru Abad 21: Ketika Mesin Berpikir, Manusia Berhenti Merenung?

Hairunnisa Br. Sagala by Hairunnisa Br. Sagala
July 19, 2026
in Esai
Krisis Baru Abad 21: Ketika Mesin Berpikir, Manusia Berhenti Merenung?

Hairunnisa Br. Sagala

KONON, yang membedakan manusia dari makhluk lain bukan semata kemampuan berbicara, melainkan kemampuan merenung. Dari renungan lahir kebijaksanaan. Dari kebijaksanaan lahir keputusan. Dan dari keputusan, peradaban dibangun.

Namun kini, di abad yang dipenuhi kecerdasan buatan, ada sesuatu yang perlahan menghilang bukan suara manusia, melainkan jeda untuk berpikir. Kita hidup di zaman ketika jawaban datang lebih cepat daripada pertanyaan selesai diucapkan. Cukup beberapa detik, layar memuntahkan ribuan kata. Esai selesai. Presentasi jadi. Ringkasan tersedia. Bahkan nasihat kehidupan pun kini bisa diproduksi oleh mesin.

Semua terasa praktis. Terlalu praktis. Seolah hidup telah berubah menjadi restoran cepat saji: pesan, tunggu sebentar, semua tersaji. Sayangnya, yang ikut menjadi “cepat saji” adalah cara kita berpikir. Kita mulai terbiasa menerima jawaban, tetapi enggan menikmati proses mencari makna.Padahal, manusia tidak dibesarkan oleh jawaban. Manusia dibentuk oleh pencarian.

Ada kisah menarik dari filsuf Yunani, Socrates. Ia tidak dikenal karena memberi banyak jawaban, justru sebaliknya, ia menghabiskan hidupnya dengan mengajukan pertanyaan. Baginya, pertanyaan adalah pintu menuju kebijaksanaan.

Ironisnya, hari ini kita justru hidup dalam kebudayaan yang alergi terhadap pertanyaan. Kita lebih menyukai jawaban instan, bahkan sebelum sempat bertanya kepada diri sendiri.

Ketika menghadapi tugas kuliah, kita bertanya kepada AI. Ketika bingung menentukan pilihan karier, kita bertanya kepada AI. Ketika ingin menulis pidato, menyusun proposal, bahkan merangkai ucapan ulang tahun, kita kembali bertanya kepada AI. Sedikit demi sedikit, kita menyerahkan pekerjaan berpikir kepada mesin.

Yang mengkhawatirkan bukan karena AI menjadi semakin pintar. Yang mengkhawatirkan adalah manusia mulai merasa tidak perlu lagi berpikir terlalu dalam. Teknologi memang selalu lahir untuk memudahkan hidup manusia. Mesin cuci menggantikan tenaga mencuci. Kalkulator membantu berhitung. Mobil mempercepat perjalanan. Namun tidak pernah ada teknologi yang diciptakan untuk menggantikan hati nurani.

AI mampu menjelaskan apa itu kejujuran, tetapi tidak pernah diuji untuk memilih jujur ketika berbohong lebih menguntungkan. AI dapat menulis pidato tentang empati yang menyentuh, tetapi tidak pernah merasakan sesak melihat orang lain menderita. AI bisa menyusun kalimat indah tentang cinta tanah air, tetapi tidak pernah menangis saat menyaksikan bendera berkibar di tanah kelahirannya.

Mesin belajar dari miliaran data. Manusia belajar dari pengalaman. Dan pengalaman selalu meninggalkan bekas yang tidak bisa diunduh. Yang sedang kita hadapi hari ini bukan sekadar revolusi teknologi. Kita sedang menghadapi revolusi cara berpikir.

Perlahan, kemampuan manusia untuk diam, merenung, dan berdialog dengan dirinya sendiri mulai tergerus oleh budaya serba instan. Padahal renungan adalah ruang sunyi tempat karakter bertumbuh, di sanalah kita belajar membedakan yang benar dari yang sekadar populer, yang baik dari yang sekadar menguntungkan.

Ketika ruang itu hilang, keputusan kita mungkin tetap cepat, tetapi belum tentu bijaksana.

Inilah ironi abad ke-21: kita memiliki akses pada pengetahuan yang nyaris tak terbatas, tetapi semakin sedikit waktu untuk mencerna maknanya. Kita dikelilingi informasi, namun sering kekurangan kebijaksanaan. Kita sibuk mengejar kecepatan, tetapi lupa bahwa tidak semua hal yang penting harus berlangsung cepat.

Benih tidak tumbuh karena dipaksa. Ia tumbuh karena diberi waktu. Demikian pula manusia.

Perubahan ini mulai tampak nyata di ruang-ruang kelas. Tugas-tugas mahasiswa semakin rapi, kalimat-kalimatnya semakin sistematis. Namun ketika diminta menjelaskan alasan di balik tulisannya, tidak sedikit yang terdiam, seolah kata-kata itu memang indah, tetapi tidak pernah benar-benar singgah di dalam pikirannya.

Inilah yang perlu kita waspadai. Jangan sampai kita melahirkan generasi yang mahir menghasilkan teks, tetapi gagap melahirkan gagasan. Jangan sampai kita memiliki lulusan yang fasih menyusun argumen, tetapi bingung menentukan sikap ketika dihadapkan pada persoalan nyata. Sebab kehidupan tidak selalu menyediakan kolom prompt untuk setiap persoalan. Ada saatnya manusia harus berdiri sendiri, tanpa bantuan mesin, dan memutuskan berdasarkan nurani.

Maka tugas pendidikan hari ini bukanlah mengajak mahasiswa menjauhi AI itu mustahil, sekaligus tidak bijaksana. Yang jauh lebih penting adalah mengajarkan mereka untuk tetap menjadi manusia ketika menggunakan AI.

Teknologi boleh membantu mencari jawaban, tetapi makna tetap harus dicari sendiri. AI boleh mempercepat pekerjaan, namun karakter tidak pernah lahir dari kecepatan. Ia tumbuh dari perenungan, keberanian mengakui kesalahan, kesediaan mendengar, dan kerendahan hati untuk terus belajar.

Sebab pada akhirnya, yang akan dikenang sejarah bukanlah mesin yang mampu menjawab segala pertanyaan, melainkan manusia yang tetap berani bertanya kepada dirinya sendiri:

“Apakah keputusan ini benar?”

“Apakah ini adil?”

“Apakah saya masih menjadi manusia yang utuh?”

Sebab mungkin, krisis terbesar abad ke-21 bukan ketika mesin berhasil meniru kecerdasan manusia melainkan ketika manusia, tanpa sadar, berhenti menggunakan anugerah paling berharganya: kemampuan untuk merenung. [T]

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Langsung ke Intinya: Siapa Juara Piala Dunia?

Next Post

Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

Hairunnisa Br. Sagala

Hairunnisa Br. Sagala

Dosen Mata Kuliah Wajib Universitas, Pusat MKWK dan Pengembangan Karakter UPNVJ Jakarta

Related Posts

Anak-anak yang Beruntung: Mendengar Cerita Klasik Barat atau Cerita Klasik Timur?

by Teguh Wahyu Pranata,
August 30, 2026
0
Anak-anak yang Beruntung: Mendengar Cerita Klasik Barat atau Cerita Klasik Timur?

SAYA memiliki seorang keponakan perempuan, ia kini memasuki umur 5 tahun. Beberapa bulan terakhir keponakan saya mulai belajar membaca, menggabungkan...

Read moreDetails

Apa yang (Sebaiknya) Kita Bicarakan saat Membicarakan Masa Depan Transportasi Publik di Bali?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 30, 2026
0
Apa yang (Sebaiknya) Kita Bicarakan saat Membicarakan Masa Depan Transportasi Publik di Bali?

KAMI duduk di ruangan auditorium. Di atas panggung, seorang moderator memandu diskusi dengan empat orang narasumber yang secara bergantian memaparkan...

Read moreDetails

Demo Kok Cepat Pulang? Jangan-Jangan Kita Gagal Paham Soal Demonstrasi

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Ada yang kecewa setelah massa aksi AMPB dari Pati bubar. “Baru juga datang, kok sudah pulang?”  Komentar semacam itu berseliweran...

Read moreDetails

Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan

by Muhammad Farras Hanif
August 29, 2026
0
Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan

MAKANAN sehari-hari yang kita konsumsi tentu tidak hadir begitu saja di atas meja makan kita. Sepiring nasi tidak lahir begitu...

Read moreDetails

Sebelum Bali Dituduh Rasis, Ada Seorang Ibu yang Sedang Makan

by Angga Wijaya
August 29, 2026
0
Telenovela

SEBELUM Bali dituduh rasis, ada seorang ibu yang sedang makan. Kalimat itu mungkin terdengar terlalu sederhana untuk sebuah perkara yang...

Read moreDetails

LEVEL PERDEBATAN DALAM HINDU

by Sugi Lanus
August 29, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 29 Agustus 2026 Hindu mengenal struktur epistemologi yang berjenjang. Artinya apa? Hindu tidak memaksakan satu...

Read moreDetails

Di Bawah Lampu Kerlap-Kerlip: Membaca Fenomena “Coffee Shop” sebagai Teks Budaya

by Tri Nugroho Adi
August 28, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Segelas kopi tidak pernah hanya berisi kopi. Di dalamnya terseduh sejarah, identitas, percakapan, bahkan cara manusia memahami dirinya sendiri." MENJELANG...

Read moreDetails

BARONG BRUTUK: Dari Tarian Sakral ke Cerita Bergambar

by I Ketut Suar Adnyana
August 27, 2026
0
BARONG BRUTUK: Dari Tarian Sakral ke Cerita Bergambar

Kebudayaan tidak pernah benar-benar hidup hanya karena diwariskan. Sebuah tradisi akan tetap hidup apabila pengetahuan, nilai, simbol, dan ingatan yang...

Read moreDetails

Destinasi “Detour”: Tren Wisata Alternatif Menyimpang Rute Utama

by Chusmeru
August 27, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BERWISATA kadang berjalan tidak sesuai dengan yang direncanakan. Di awal perjalanan sudah ditentukan destinasi wisata mana yang akan dikunjungi. Namun...

Read moreDetails

Melampaui Ingatan di Batas-batas Desa ——Catatan dari Karya Agung Ngusaba Desa dan Ngusaba Nini Desa Sibanggede

by Dharma Yuda
August 26, 2026
0
Melampaui Ingatan di Batas-batas Desa ——Catatan dari Karya Agung Ngusaba Desa dan Ngusaba Nini Desa Sibanggede

RANGKAIAN Karya Pedudusan Agung, Ngusaba Desa, dan Ngusaba Nini yang berpusat di Pura Puseh Sibanggede sudah mencapai akhir melalui upacara...

Read moreDetails
Next Post
Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

Setiap Gerakan Punya Cerita  ---Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Perkara Anarkis dan Anarkistis
Bahasa

Perkara Anarkis dan Anarkistis

Pernahkah Anda berpikir bahwa kata anarkis dan anarkistis itu sama saja? Walaupun kedua kata anarkis dan anarkistis sudah banyak ditulis,...

by I Made Sudiana
August 30, 2026
Anak-anak yang Beruntung: Mendengar Cerita Klasik Barat atau Cerita Klasik Timur?
Esai

Anak-anak yang Beruntung: Mendengar Cerita Klasik Barat atau Cerita Klasik Timur?

SAYA memiliki seorang keponakan perempuan, ia kini memasuki umur 5 tahun. Beberapa bulan terakhir keponakan saya mulai belajar membaca, menggabungkan...

by Teguh Wahyu Pranata,
August 30, 2026
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto
Cerpen

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas
Puisi

Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

Air di Daun Talas seberapa waktu bertahanair di daun talas dapat menerimakenyataan demi kenyataan tarian anginlantai licin dan tetabuhan riuhtanpa...

by Supali Kasim
August 30, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [8]: Ketika AI Ikut Menulis: Kata-kata Tanpa Manusia

SETIAP era memiliki ancamannya masing-masing terhadap proses berpikir yang dalam. Pada masa otoritarianisme, ancamannya adalah sensor. Negara menentukan apa yang...

by Andre Syahreza
August 30, 2026
Apa yang (Sebaiknya) Kita Bicarakan saat Membicarakan Masa Depan Transportasi Publik di Bali?
Esai

Apa yang (Sebaiknya) Kita Bicarakan saat Membicarakan Masa Depan Transportasi Publik di Bali?

KAMI duduk di ruangan auditorium. Di atas panggung, seorang moderator memandu diskusi dengan empat orang narasumber yang secara bergantian memaparkan...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 30, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Demo Kok Cepat Pulang? Jangan-Jangan Kita Gagal Paham Soal Demonstrasi

Ada yang kecewa setelah massa aksi AMPB dari Pati bubar. “Baru juga datang, kok sudah pulang?”  Komentar semacam itu berseliweran...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 30, 2026
Reka Biambara dan Perjalanan Mengenal Kembali Material Sendiri
Pameran

Reka Biambara dan Perjalanan Mengenal Kembali Material Sendiri

SELAMA hampir tiga bulan, sejak awal Juni 2026, empat perupa muda asal Bali yaitu Made Ari, Made Arsana, Reka Biambara...

by Satria Aditya
August 30, 2026
Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan
Esai

Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan

MAKANAN sehari-hari yang kita konsumsi tentu tidak hadir begitu saja di atas meja makan kita. Sepiring nasi tidak lahir begitu...

by Muhammad Farras Hanif
August 29, 2026
Seni Rupa Anomali Cokot dan Putu Fajar Arcana
Ulas Rupa

Seni Rupa Anomali Cokot dan Putu Fajar Arcana

PADA tulisan kali ini, saya ingin menekuni proses kreatif karya rupa Putu Fajar Arcana yang bagi saya cukup menarik. Pasalnya,...

by Hartanto
August 29, 2026
Telenovela
Esai

Sebelum Bali Dituduh Rasis, Ada Seorang Ibu yang Sedang Makan

SEBELUM Bali dituduh rasis, ada seorang ibu yang sedang makan. Kalimat itu mungkin terdengar terlalu sederhana untuk sebuah perkara yang...

by Angga Wijaya
August 29, 2026
Duta Bahasa Provinsi Bali Serahkan Model Pembelajaran Serasi kepada SLB Negeri 2 Denpasar
Pendidikan

Duta Bahasa Provinsi Bali Serahkan Model Pembelajaran Serasi kepada SLB Negeri 2 Denpasar

DENPASAR | TATKALA.CO -- Duta Bahasa Provinsi Bali menyerahkan Model Pembelajaran Serasi (Strategi Berbasis Multimodal bagi Disabilitas Rungu untuk Menyusun...

by Rusdy Ulu
August 29, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co