21 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Krisis Baru Abad 21: Ketika Mesin Berpikir, Manusia Berhenti Merenung?

Hairunnisa Br. Sagala by Hairunnisa Br. Sagala
July 19, 2026
in Esai
Krisis Baru Abad 21: Ketika Mesin Berpikir, Manusia Berhenti Merenung?

Hairunnisa Br. Sagala

KONON, yang membedakan manusia dari makhluk lain bukan semata kemampuan berbicara, melainkan kemampuan merenung. Dari renungan lahir kebijaksanaan. Dari kebijaksanaan lahir keputusan. Dan dari keputusan, peradaban dibangun.

Namun kini, di abad yang dipenuhi kecerdasan buatan, ada sesuatu yang perlahan menghilang bukan suara manusia, melainkan jeda untuk berpikir. Kita hidup di zaman ketika jawaban datang lebih cepat daripada pertanyaan selesai diucapkan. Cukup beberapa detik, layar memuntahkan ribuan kata. Esai selesai. Presentasi jadi. Ringkasan tersedia. Bahkan nasihat kehidupan pun kini bisa diproduksi oleh mesin.

Semua terasa praktis. Terlalu praktis. Seolah hidup telah berubah menjadi restoran cepat saji: pesan, tunggu sebentar, semua tersaji. Sayangnya, yang ikut menjadi “cepat saji” adalah cara kita berpikir. Kita mulai terbiasa menerima jawaban, tetapi enggan menikmati proses mencari makna.Padahal, manusia tidak dibesarkan oleh jawaban. Manusia dibentuk oleh pencarian.

Ada kisah menarik dari filsuf Yunani, Socrates. Ia tidak dikenal karena memberi banyak jawaban, justru sebaliknya, ia menghabiskan hidupnya dengan mengajukan pertanyaan. Baginya, pertanyaan adalah pintu menuju kebijaksanaan.

Ironisnya, hari ini kita justru hidup dalam kebudayaan yang alergi terhadap pertanyaan. Kita lebih menyukai jawaban instan, bahkan sebelum sempat bertanya kepada diri sendiri.

Ketika menghadapi tugas kuliah, kita bertanya kepada AI. Ketika bingung menentukan pilihan karier, kita bertanya kepada AI. Ketika ingin menulis pidato, menyusun proposal, bahkan merangkai ucapan ulang tahun, kita kembali bertanya kepada AI. Sedikit demi sedikit, kita menyerahkan pekerjaan berpikir kepada mesin.

Yang mengkhawatirkan bukan karena AI menjadi semakin pintar. Yang mengkhawatirkan adalah manusia mulai merasa tidak perlu lagi berpikir terlalu dalam. Teknologi memang selalu lahir untuk memudahkan hidup manusia. Mesin cuci menggantikan tenaga mencuci. Kalkulator membantu berhitung. Mobil mempercepat perjalanan. Namun tidak pernah ada teknologi yang diciptakan untuk menggantikan hati nurani.

AI mampu menjelaskan apa itu kejujuran, tetapi tidak pernah diuji untuk memilih jujur ketika berbohong lebih menguntungkan. AI dapat menulis pidato tentang empati yang menyentuh, tetapi tidak pernah merasakan sesak melihat orang lain menderita. AI bisa menyusun kalimat indah tentang cinta tanah air, tetapi tidak pernah menangis saat menyaksikan bendera berkibar di tanah kelahirannya.

Mesin belajar dari miliaran data. Manusia belajar dari pengalaman. Dan pengalaman selalu meninggalkan bekas yang tidak bisa diunduh. Yang sedang kita hadapi hari ini bukan sekadar revolusi teknologi. Kita sedang menghadapi revolusi cara berpikir.

Perlahan, kemampuan manusia untuk diam, merenung, dan berdialog dengan dirinya sendiri mulai tergerus oleh budaya serba instan. Padahal renungan adalah ruang sunyi tempat karakter bertumbuh, di sanalah kita belajar membedakan yang benar dari yang sekadar populer, yang baik dari yang sekadar menguntungkan.

Ketika ruang itu hilang, keputusan kita mungkin tetap cepat, tetapi belum tentu bijaksana.

Inilah ironi abad ke-21: kita memiliki akses pada pengetahuan yang nyaris tak terbatas, tetapi semakin sedikit waktu untuk mencerna maknanya. Kita dikelilingi informasi, namun sering kekurangan kebijaksanaan. Kita sibuk mengejar kecepatan, tetapi lupa bahwa tidak semua hal yang penting harus berlangsung cepat.

Benih tidak tumbuh karena dipaksa. Ia tumbuh karena diberi waktu. Demikian pula manusia.

Perubahan ini mulai tampak nyata di ruang-ruang kelas. Tugas-tugas mahasiswa semakin rapi, kalimat-kalimatnya semakin sistematis. Namun ketika diminta menjelaskan alasan di balik tulisannya, tidak sedikit yang terdiam, seolah kata-kata itu memang indah, tetapi tidak pernah benar-benar singgah di dalam pikirannya.

Inilah yang perlu kita waspadai. Jangan sampai kita melahirkan generasi yang mahir menghasilkan teks, tetapi gagap melahirkan gagasan. Jangan sampai kita memiliki lulusan yang fasih menyusun argumen, tetapi bingung menentukan sikap ketika dihadapkan pada persoalan nyata. Sebab kehidupan tidak selalu menyediakan kolom prompt untuk setiap persoalan. Ada saatnya manusia harus berdiri sendiri, tanpa bantuan mesin, dan memutuskan berdasarkan nurani.

Maka tugas pendidikan hari ini bukanlah mengajak mahasiswa menjauhi AI itu mustahil, sekaligus tidak bijaksana. Yang jauh lebih penting adalah mengajarkan mereka untuk tetap menjadi manusia ketika menggunakan AI.

Teknologi boleh membantu mencari jawaban, tetapi makna tetap harus dicari sendiri. AI boleh mempercepat pekerjaan, namun karakter tidak pernah lahir dari kecepatan. Ia tumbuh dari perenungan, keberanian mengakui kesalahan, kesediaan mendengar, dan kerendahan hati untuk terus belajar.

Sebab pada akhirnya, yang akan dikenang sejarah bukanlah mesin yang mampu menjawab segala pertanyaan, melainkan manusia yang tetap berani bertanya kepada dirinya sendiri:

“Apakah keputusan ini benar?”

“Apakah ini adil?”

“Apakah saya masih menjadi manusia yang utuh?”

Sebab mungkin, krisis terbesar abad ke-21 bukan ketika mesin berhasil meniru kecerdasan manusia melainkan ketika manusia, tanpa sadar, berhenti menggunakan anugerah paling berharganya: kemampuan untuk merenung. [T]

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Langsung ke Intinya: Siapa Juara Piala Dunia?

Next Post

Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

Hairunnisa Br. Sagala

Hairunnisa Br. Sagala

Dosen Mata Kuliah Wajib Universitas, Pusat MKWK dan Pengembangan Karakter UPNVJ Jakarta

Related Posts

Bahasa Penjilat: Komunikasi dan Relasi Kuasa dalam Politik

by Chusmeru
September 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

KOMUNIKASI semestinya mampu menjadi jembatan untuk menyampaikan kebenaran. Namun dalam politik, komunikasi kerap berubah fungsi. Ia bukan lagi sarana untuk...

Read moreDetails

Sepeda Motor Bekas Sudah Cukup

by Angga Wijaya
September 21, 2026
0
Telenovela

ADA masa ketika sepeda motor bukan sekadar kendaraan. Ia bisa menjadi tanda keberhasilan, simbol kemampuan ekonomi, bahkan pengumuman diam-diam tentang...

Read moreDetails

Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

by I Kadek Adhi Dwipayana
September 21, 2026
0
Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

PENDIDIKAN terlalu sering kita pahami sebatas kegiatan mengajar. Guru menjelaskan, siswa mendengarkan, mengerjakan tugas, dan mengikuti ujian. Keberhasilan belajar pun...

Read moreDetails

Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek

by I Nyoman Tingkat
September 20, 2026
0
Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek

WALAUPUN Desa Adat Kutuh di wilayah Kuta Selatan termasuk desa kecil, desa ini memiliki pagar spiritual di setiap tapal batasnya...

Read moreDetails

PEMIMPIN SAKIT JIWA MENURUT HINDU DHARMA

by Sugi Lanus
September 20, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian, 20 September 2026 * Vāk-Pāruṣya (Sanskerta: वाक्पारुष्य) secara harfiah diterjemahkan sebagai "kekerasan verbal", "kata-kata kasar",...

Read moreDetails

Kuncup Bunga Kopi di Tengah Kemarau: Antara Tanda Alam dan Ancaman El Niño

by I Ketut Suar Adnyana
September 19, 2026
0
Kuncup Bunga Kopi di Tengah Kemarau: Antara Tanda Alam dan Ancaman El Niño

Di antara pepohonan kopi yang tumbuh di lereng dan kebun-kebun di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng, terdapat sebuah pengetahuan...

Read moreDetails

Ramai Penulis Menjadi Pelukis

by Angga Wijaya
September 19, 2026
0
Ramai Penulis Menjadi Pelukis

SAYA mulai curiga ketika beberapa nama penulis yang biasa saya temui di halaman buku, koran, dan media sosial tiba-tiba muncul...

Read moreDetails

Tato: Menjadikan Tubuh Tempat Ingatan

by Tri Nugroho Adi
September 19, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Kita melihat tato seseorang, tetapi kita tidak pernah benar-benar melihat cerita yang membuatnya memilih tato itu. ADA sesuatu yang menarik...

Read moreDetails

“Mindfulness, Privilege”, dan LPDP: Ketika “Self-Care” Bertemu Realitas Sosial

by Isran Kamal
September 18, 2026
0
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram

Beberapa waktu terakhir, nama Maudy Ayunda kembali ramai diperbincangkan. Kali ini bukan karena film, musik, atau pendidikan di luar negeri,...

Read moreDetails

Menulis Kok Seperti Muntah?

by Angga Wijaya
September 18, 2026
0
Menulis Kok Seperti Muntah?

SEJAK kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) masuk semakin jauh ke dalam kehidupan sehari-hari, semua orang tampaknya bisa menulis. Tidak...

Read moreDetails
Next Post
Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

Setiap Gerakan Punya Cerita  ---Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Berdampak Jaga Lingkungan Bali, FIB Unud Gelar Aksi Bersih Pesisir
Lingkungan

Berdampak Jaga Lingkungan Bali, FIB Unud Gelar Aksi Bersih Pesisir

DENPASAR | TATKALA.CO -- Ekosistem pesisir dan hutan mangrove di Bali kini menghadapi ancaman krisis lingkungan yang sangat serius, salah...

by tatkala
September 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Bahasa Penjilat: Komunikasi dan Relasi Kuasa dalam Politik

KOMUNIKASI semestinya mampu menjadi jembatan untuk menyampaikan kebenaran. Namun dalam politik, komunikasi kerap berubah fungsi. Ia bukan lagi sarana untuk...

by Chusmeru
September 21, 2026
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam
Khas

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
Telenovela
Esai

Sepeda Motor Bekas Sudah Cukup

ADA masa ketika sepeda motor bukan sekadar kendaraan. Ia bisa menjadi tanda keberhasilan, simbol kemampuan ekonomi, bahkan pengumuman diam-diam tentang...

by Angga Wijaya
September 21, 2026
Puncak Minikino Film Week 12: Rayakan Pemenang Penghargaan Utama, Dorong Industri Film Pendek, dan Perkuat Edukasi Generasi Muda di Bali
Budaya

Puncak Minikino Film Week 12: Rayakan Pemenang Penghargaan Utama, Dorong Industri Film Pendek, dan Perkuat Edukasi Generasi Muda di Bali

Perhelatan festival film pendek internasional Minikino Film Week 12 (MFW12) yang diselenggarakan oleh Yayasan Kino Media sukses digelar pada 11–18 September 2026 di Bali....

by Rusdy Ulu
September 20, 2026
Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire
Esai

Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

PENDIDIKAN terlalu sering kita pahami sebatas kegiatan mengajar. Guru menjelaskan, siswa mendengarkan, mengerjakan tugas, dan mengikuti ujian. Keberhasilan belajar pun...

by I Kadek Adhi Dwipayana
September 21, 2026
Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek
Esai

Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek

WALAUPUN Desa Adat Kutuh di wilayah Kuta Selatan termasuk desa kecil, desa ini memiliki pagar spiritual di setiap tapal batasnya...

by I Nyoman Tingkat
September 20, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

PEMIMPIN SAKIT JIWA MENURUT HINDU DHARMA

— Sugi Lanus, Catatan Harian, 20 September 2026 * Vāk-Pāruṣya (Sanskerta: वाक्पारुष्य) secara harfiah diterjemahkan sebagai "kekerasan verbal", "kata-kata kasar",...

by Sugi Lanus
September 20, 2026
Pemilihan Duta Bahasa Nasional 2026: DKI Jakarta Terbaik 1, Jawa Timur Terbaik 2, Bali Terbaik 3
Budaya

Pemilihan Duta Bahasa Nasional 2026: DKI Jakarta Terbaik 1, Jawa Timur Terbaik 2, Bali Terbaik 3

JAKARTA – TATKALA.CO –  Pasangan dari Provinsi DKI Jakarta, Adventhius Immanuel Karo Karo dan Dania Zahra Ayusti, resmi dinobatkan sebagai...

by tatkala
September 20, 2026
Birokrasi Bisik-Bisik — Catatan Seorang Jurnalis
Buku Tatkala

Birokrasi Bisik-Bisik — Catatan Seorang Jurnalis

Judul: Birokrasi Bisik-Bisik --- Catatan Seorang Jurnalis Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: I Ketut Parwata ISBN: Masih dalam proses...

by Buku Tatkala
September 20, 2026
Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma
Ulas Rupa

Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

Menelisik foto karya yang tampak pada pameran, bidang kanvas dipenuhi figur-figur wayang, makhluk mitologis, ornamen, tetumbuhan, dan jaringan garis yang...

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026
Khas

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co