26 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Krisis Baru Abad 21: Ketika Mesin Berpikir, Manusia Berhenti Merenung?

Hairunnisa Br. Sagala by Hairunnisa Br. Sagala
July 19, 2026
in Esai
Krisis Baru Abad 21: Ketika Mesin Berpikir, Manusia Berhenti Merenung?

Hairunnisa Br. Sagala

KONON, yang membedakan manusia dari makhluk lain bukan semata kemampuan berbicara, melainkan kemampuan merenung. Dari renungan lahir kebijaksanaan. Dari kebijaksanaan lahir keputusan. Dan dari keputusan, peradaban dibangun.

Namun kini, di abad yang dipenuhi kecerdasan buatan, ada sesuatu yang perlahan menghilang bukan suara manusia, melainkan jeda untuk berpikir. Kita hidup di zaman ketika jawaban datang lebih cepat daripada pertanyaan selesai diucapkan. Cukup beberapa detik, layar memuntahkan ribuan kata. Esai selesai. Presentasi jadi. Ringkasan tersedia. Bahkan nasihat kehidupan pun kini bisa diproduksi oleh mesin.

Semua terasa praktis. Terlalu praktis. Seolah hidup telah berubah menjadi restoran cepat saji: pesan, tunggu sebentar, semua tersaji. Sayangnya, yang ikut menjadi “cepat saji” adalah cara kita berpikir. Kita mulai terbiasa menerima jawaban, tetapi enggan menikmati proses mencari makna.Padahal, manusia tidak dibesarkan oleh jawaban. Manusia dibentuk oleh pencarian.

Ada kisah menarik dari filsuf Yunani, Socrates. Ia tidak dikenal karena memberi banyak jawaban, justru sebaliknya, ia menghabiskan hidupnya dengan mengajukan pertanyaan. Baginya, pertanyaan adalah pintu menuju kebijaksanaan.

Ironisnya, hari ini kita justru hidup dalam kebudayaan yang alergi terhadap pertanyaan. Kita lebih menyukai jawaban instan, bahkan sebelum sempat bertanya kepada diri sendiri.

Ketika menghadapi tugas kuliah, kita bertanya kepada AI. Ketika bingung menentukan pilihan karier, kita bertanya kepada AI. Ketika ingin menulis pidato, menyusun proposal, bahkan merangkai ucapan ulang tahun, kita kembali bertanya kepada AI. Sedikit demi sedikit, kita menyerahkan pekerjaan berpikir kepada mesin.

Yang mengkhawatirkan bukan karena AI menjadi semakin pintar. Yang mengkhawatirkan adalah manusia mulai merasa tidak perlu lagi berpikir terlalu dalam. Teknologi memang selalu lahir untuk memudahkan hidup manusia. Mesin cuci menggantikan tenaga mencuci. Kalkulator membantu berhitung. Mobil mempercepat perjalanan. Namun tidak pernah ada teknologi yang diciptakan untuk menggantikan hati nurani.

AI mampu menjelaskan apa itu kejujuran, tetapi tidak pernah diuji untuk memilih jujur ketika berbohong lebih menguntungkan. AI dapat menulis pidato tentang empati yang menyentuh, tetapi tidak pernah merasakan sesak melihat orang lain menderita. AI bisa menyusun kalimat indah tentang cinta tanah air, tetapi tidak pernah menangis saat menyaksikan bendera berkibar di tanah kelahirannya.

Mesin belajar dari miliaran data. Manusia belajar dari pengalaman. Dan pengalaman selalu meninggalkan bekas yang tidak bisa diunduh. Yang sedang kita hadapi hari ini bukan sekadar revolusi teknologi. Kita sedang menghadapi revolusi cara berpikir.

Perlahan, kemampuan manusia untuk diam, merenung, dan berdialog dengan dirinya sendiri mulai tergerus oleh budaya serba instan. Padahal renungan adalah ruang sunyi tempat karakter bertumbuh, di sanalah kita belajar membedakan yang benar dari yang sekadar populer, yang baik dari yang sekadar menguntungkan.

Ketika ruang itu hilang, keputusan kita mungkin tetap cepat, tetapi belum tentu bijaksana.

Inilah ironi abad ke-21: kita memiliki akses pada pengetahuan yang nyaris tak terbatas, tetapi semakin sedikit waktu untuk mencerna maknanya. Kita dikelilingi informasi, namun sering kekurangan kebijaksanaan. Kita sibuk mengejar kecepatan, tetapi lupa bahwa tidak semua hal yang penting harus berlangsung cepat.

Benih tidak tumbuh karena dipaksa. Ia tumbuh karena diberi waktu. Demikian pula manusia.

Perubahan ini mulai tampak nyata di ruang-ruang kelas. Tugas-tugas mahasiswa semakin rapi, kalimat-kalimatnya semakin sistematis. Namun ketika diminta menjelaskan alasan di balik tulisannya, tidak sedikit yang terdiam, seolah kata-kata itu memang indah, tetapi tidak pernah benar-benar singgah di dalam pikirannya.

Inilah yang perlu kita waspadai. Jangan sampai kita melahirkan generasi yang mahir menghasilkan teks, tetapi gagap melahirkan gagasan. Jangan sampai kita memiliki lulusan yang fasih menyusun argumen, tetapi bingung menentukan sikap ketika dihadapkan pada persoalan nyata. Sebab kehidupan tidak selalu menyediakan kolom prompt untuk setiap persoalan. Ada saatnya manusia harus berdiri sendiri, tanpa bantuan mesin, dan memutuskan berdasarkan nurani.

Maka tugas pendidikan hari ini bukanlah mengajak mahasiswa menjauhi AI itu mustahil, sekaligus tidak bijaksana. Yang jauh lebih penting adalah mengajarkan mereka untuk tetap menjadi manusia ketika menggunakan AI.

Teknologi boleh membantu mencari jawaban, tetapi makna tetap harus dicari sendiri. AI boleh mempercepat pekerjaan, namun karakter tidak pernah lahir dari kecepatan. Ia tumbuh dari perenungan, keberanian mengakui kesalahan, kesediaan mendengar, dan kerendahan hati untuk terus belajar.

Sebab pada akhirnya, yang akan dikenang sejarah bukanlah mesin yang mampu menjawab segala pertanyaan, melainkan manusia yang tetap berani bertanya kepada dirinya sendiri:

“Apakah keputusan ini benar?”

“Apakah ini adil?”

“Apakah saya masih menjadi manusia yang utuh?”

Sebab mungkin, krisis terbesar abad ke-21 bukan ketika mesin berhasil meniru kecerdasan manusia melainkan ketika manusia, tanpa sadar, berhenti menggunakan anugerah paling berharganya: kemampuan untuk merenung. [T]

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Langsung ke Intinya: Siapa Juara Piala Dunia?

Next Post

Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

Hairunnisa Br. Sagala

Hairunnisa Br. Sagala

Dosen Mata Kuliah Wajib Universitas, Pusat MKWK dan Pengembangan Karakter UPNVJ Jakarta

Related Posts

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
0
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

Read moreDetails

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

Read moreDetails

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
0
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

Read moreDetails

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails
Next Post
Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

Setiap Gerakan Punya Cerita  ---Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital
Liputan Khusus

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital

TELEPON belum lama ditutup ketika Luh Sukerti kembali sibuk di depan tungku. Puluhan tusuk sate dibolak-balik di atas bara, dilumuri...

by Jaswanto
October 26, 2026
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan
Esai

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”
Bahasa

Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”

ADA seorang guru sekaligus penulis senior asal Bali yang bernama Nyoman Tingkat. Suatu ketika, dengan permainan kata yang cerdas dan menggelitik, melalui unggahan...

by I Made Sudiana
October 26, 2026
Belajar dari Senat, Menyapa Semeru
Tualang

Belajar dari Senat, Menyapa Semeru

ADA perjalanan yang kita tempuh karena tugas. Ada perjalanan yang kita jalani karena kewajiban. Namun, sering kali justru di balik...

by Ahmad Sihabudin
October 26, 2026
Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026
Olahraga

Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026

SUASANA siang di kawasan dekat Pantai Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali, mendadak bergemuruh pada Minggu 25 Oktober 2026....

by Nyoman Budarsana
October 26, 2026
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan
Esai

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026
Khas

Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

SEPERTI apa kekuatan penuturan kisah lokal dalam karya sastra? Bagaimana seorang penulis memanfaatkan lanskap, identitas, dan pengalaman lokal untuk menciptakan...

by Rusdy Ulu
October 26, 2026
Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co