9 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Krisis Baru Abad 21: Ketika Mesin Berpikir, Manusia Berhenti Merenung?

Hairunnisa Br. Sagala by Hairunnisa Br. Sagala
July 19, 2026
in Esai
Krisis Baru Abad 21: Ketika Mesin Berpikir, Manusia Berhenti Merenung?

Hairunnisa Br. Sagala

KONON, yang membedakan manusia dari makhluk lain bukan semata kemampuan berbicara, melainkan kemampuan merenung. Dari renungan lahir kebijaksanaan. Dari kebijaksanaan lahir keputusan. Dan dari keputusan, peradaban dibangun.

Namun kini, di abad yang dipenuhi kecerdasan buatan, ada sesuatu yang perlahan menghilang bukan suara manusia, melainkan jeda untuk berpikir. Kita hidup di zaman ketika jawaban datang lebih cepat daripada pertanyaan selesai diucapkan. Cukup beberapa detik, layar memuntahkan ribuan kata. Esai selesai. Presentasi jadi. Ringkasan tersedia. Bahkan nasihat kehidupan pun kini bisa diproduksi oleh mesin.

Semua terasa praktis. Terlalu praktis. Seolah hidup telah berubah menjadi restoran cepat saji: pesan, tunggu sebentar, semua tersaji. Sayangnya, yang ikut menjadi “cepat saji” adalah cara kita berpikir. Kita mulai terbiasa menerima jawaban, tetapi enggan menikmati proses mencari makna.Padahal, manusia tidak dibesarkan oleh jawaban. Manusia dibentuk oleh pencarian.

Ada kisah menarik dari filsuf Yunani, Socrates. Ia tidak dikenal karena memberi banyak jawaban, justru sebaliknya, ia menghabiskan hidupnya dengan mengajukan pertanyaan. Baginya, pertanyaan adalah pintu menuju kebijaksanaan.

Ironisnya, hari ini kita justru hidup dalam kebudayaan yang alergi terhadap pertanyaan. Kita lebih menyukai jawaban instan, bahkan sebelum sempat bertanya kepada diri sendiri.

Ketika menghadapi tugas kuliah, kita bertanya kepada AI. Ketika bingung menentukan pilihan karier, kita bertanya kepada AI. Ketika ingin menulis pidato, menyusun proposal, bahkan merangkai ucapan ulang tahun, kita kembali bertanya kepada AI. Sedikit demi sedikit, kita menyerahkan pekerjaan berpikir kepada mesin.

Yang mengkhawatirkan bukan karena AI menjadi semakin pintar. Yang mengkhawatirkan adalah manusia mulai merasa tidak perlu lagi berpikir terlalu dalam. Teknologi memang selalu lahir untuk memudahkan hidup manusia. Mesin cuci menggantikan tenaga mencuci. Kalkulator membantu berhitung. Mobil mempercepat perjalanan. Namun tidak pernah ada teknologi yang diciptakan untuk menggantikan hati nurani.

AI mampu menjelaskan apa itu kejujuran, tetapi tidak pernah diuji untuk memilih jujur ketika berbohong lebih menguntungkan. AI dapat menulis pidato tentang empati yang menyentuh, tetapi tidak pernah merasakan sesak melihat orang lain menderita. AI bisa menyusun kalimat indah tentang cinta tanah air, tetapi tidak pernah menangis saat menyaksikan bendera berkibar di tanah kelahirannya.

Mesin belajar dari miliaran data. Manusia belajar dari pengalaman. Dan pengalaman selalu meninggalkan bekas yang tidak bisa diunduh. Yang sedang kita hadapi hari ini bukan sekadar revolusi teknologi. Kita sedang menghadapi revolusi cara berpikir.

Perlahan, kemampuan manusia untuk diam, merenung, dan berdialog dengan dirinya sendiri mulai tergerus oleh budaya serba instan. Padahal renungan adalah ruang sunyi tempat karakter bertumbuh, di sanalah kita belajar membedakan yang benar dari yang sekadar populer, yang baik dari yang sekadar menguntungkan.

Ketika ruang itu hilang, keputusan kita mungkin tetap cepat, tetapi belum tentu bijaksana.

Inilah ironi abad ke-21: kita memiliki akses pada pengetahuan yang nyaris tak terbatas, tetapi semakin sedikit waktu untuk mencerna maknanya. Kita dikelilingi informasi, namun sering kekurangan kebijaksanaan. Kita sibuk mengejar kecepatan, tetapi lupa bahwa tidak semua hal yang penting harus berlangsung cepat.

Benih tidak tumbuh karena dipaksa. Ia tumbuh karena diberi waktu. Demikian pula manusia.

Perubahan ini mulai tampak nyata di ruang-ruang kelas. Tugas-tugas mahasiswa semakin rapi, kalimat-kalimatnya semakin sistematis. Namun ketika diminta menjelaskan alasan di balik tulisannya, tidak sedikit yang terdiam, seolah kata-kata itu memang indah, tetapi tidak pernah benar-benar singgah di dalam pikirannya.

Inilah yang perlu kita waspadai. Jangan sampai kita melahirkan generasi yang mahir menghasilkan teks, tetapi gagap melahirkan gagasan. Jangan sampai kita memiliki lulusan yang fasih menyusun argumen, tetapi bingung menentukan sikap ketika dihadapkan pada persoalan nyata. Sebab kehidupan tidak selalu menyediakan kolom prompt untuk setiap persoalan. Ada saatnya manusia harus berdiri sendiri, tanpa bantuan mesin, dan memutuskan berdasarkan nurani.

Maka tugas pendidikan hari ini bukanlah mengajak mahasiswa menjauhi AI itu mustahil, sekaligus tidak bijaksana. Yang jauh lebih penting adalah mengajarkan mereka untuk tetap menjadi manusia ketika menggunakan AI.

Teknologi boleh membantu mencari jawaban, tetapi makna tetap harus dicari sendiri. AI boleh mempercepat pekerjaan, namun karakter tidak pernah lahir dari kecepatan. Ia tumbuh dari perenungan, keberanian mengakui kesalahan, kesediaan mendengar, dan kerendahan hati untuk terus belajar.

Sebab pada akhirnya, yang akan dikenang sejarah bukanlah mesin yang mampu menjawab segala pertanyaan, melainkan manusia yang tetap berani bertanya kepada dirinya sendiri:

“Apakah keputusan ini benar?”

“Apakah ini adil?”

“Apakah saya masih menjadi manusia yang utuh?”

Sebab mungkin, krisis terbesar abad ke-21 bukan ketika mesin berhasil meniru kecerdasan manusia melainkan ketika manusia, tanpa sadar, berhenti menggunakan anugerah paling berharganya: kemampuan untuk merenung. [T]

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Langsung ke Intinya: Siapa Juara Piala Dunia?

Next Post

Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

Hairunnisa Br. Sagala

Hairunnisa Br. Sagala

Dosen Mata Kuliah Wajib Universitas, Pusat MKWK dan Pengembangan Karakter UPNVJ Jakarta

Related Posts

Sastra Terjemahan sebagai Diplomasi Budaya: Mengenang Peran Vern Cork sebagai Penerjemah Sastra Indonesia dari Australia

by I Nyoman Darma Putra
August 8, 2026
0
Sastra Terjemahan sebagai Diplomasi Budaya: Mengenang Peran Vern Cork sebagai Penerjemah Sastra Indonesia dari Australia

SASTRA terjemahan telah lama menjadi salah satu media diplomasi budaya Indonesia. Namun, keberadaannya sebagai bagian dari kegiatan diplomasi budaya yang...

Read moreDetails

Indonesia dalam Secangkir Kopi

by Ahmad Fatoni
August 7, 2026
0
Indonesia dalam Secangkir Kopi

PAGI itu saya duduk di sebuah cafe kecil di pinggiran kota. Tidak ada yang istimewa. Meja kayu yang mulai kusam,...

Read moreDetails

“Gigolo Pendidikan”, Oemar Bakrie, dan Saat Kasih Sayang Guru Menjadi Barang Premium

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 7, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BEBERAPA hari lalu saya iseng melontarkan istilah yang terdengar keterlaluan.  Gigodik, “Gigolo Pendidikan”. Bayangan saya sederhana. Jangan-jangan sekarang ada "profesi"...

Read moreDetails

Bali, Surga dengan Kemacetan Kronis

by Agung Sudarsa
August 6, 2026
0
Bali, Surga dengan Kemacetan Kronis

Dampak Pembangunan Brutal dan Ugal-ugalan, Ledakan Kendaraan Tanpa Jeda, atau Buruknya Transportasi Umum? "Sanur makin macet, namun kenapa fasilitas wisata...

Read moreDetails

Puisi dan Heidegger: Membebaskan Kata dari Cengkeraman Teknokrasi

by Arief Rahzen
August 6, 2026
0
Puisi dan Heidegger: Membebaskan Kata dari Cengkeraman Teknokrasi

COBA hentikan sejenak geseran jempol Anda di atas layar gawai. Di luar sana, dunia hari ini bergerak dalam ritme yang...

Read moreDetails

Menjadi Lebih “Sakti” di Luar Jembrana

by Angga Wijaya
August 6, 2026
0
Menjadi Lebih “Sakti” di Luar Jembrana

KALIMAT itu masih saya ingat dengan jelas. Mendiang Bang D.S. Putra mengucapkannya suatu sore, ketika kami berbincang santai bersama beberapa...

Read moreDetails

Pertemuan Rutin, Agenda Lama: Pilkada Lewat DPRD, Lagi

by Luthfi Hasanal Bolqiah
August 5, 2026
0
Sepiring Nasi, Sekeping Legitimasi

PERTEMUAN itu seharusnya selesai sebagai berita protokoler. Pada Senin, 3 Agustus 2026, jajaran pimpinan MPR datang ke Istana Kepresidenan. Mereka...

Read moreDetails

NOL KILOMETER ̶S̶I̶N̶G̶A̶R̶A̶J̶A̶ BULELENG : Titik Start Berbenah, Bukan Sekadar Bersolek dan Beautifikasi

by Sugi Lanus
August 4, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

ADA banyak sambutan positif dan keceriaan di tengah peresmian tugu Nol Kilometer di depan Kantor Bupati Buleleng. Titik yang dibenahi...

Read moreDetails

Presiden di Dalam Kepala Saya

by Angga Wijaya
August 3, 2026
0
Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

Read moreDetails

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

by Chusmeru
August 3, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

Read moreDetails
Next Post
Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

Setiap Gerakan Punya Cerita  ---Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Merawat Kebersamaan Melalui Tradisi ‘Sambelan’
Kuliner

Merawat Kebersamaan Melalui Tradisi ‘Sambelan’

"BU, kulo mung mbekto kuluban godhong kates nggih? Lha ya mung niku sing wonten teng  nggriyo ." (Bu, saya hanya...

by Tri Nugroho Adi
August 9, 2026
Sastra Terjemahan sebagai Diplomasi Budaya: Mengenang Peran Vern Cork sebagai Penerjemah Sastra Indonesia dari Australia
Esai

Sastra Terjemahan sebagai Diplomasi Budaya: Mengenang Peran Vern Cork sebagai Penerjemah Sastra Indonesia dari Australia

SASTRA terjemahan telah lama menjadi salah satu media diplomasi budaya Indonesia. Namun, keberadaannya sebagai bagian dari kegiatan diplomasi budaya yang...

by I Nyoman Darma Putra
August 8, 2026
Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz
Khas

Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

“JAZZ itu musik yang meneduhkan, tapi mengajak berpikir,” ujar Gede Diarta, seorang pemuda asal Denpasar yang sehari-hari bekerja sebagai karyawan...

by Dede Putra Wiguna
August 8, 2026
Bhisma yang Tak Pernah Mati di Kurukshetra: Membaca “Satya–Tyagya–Dharma” Karya Prof. Dr. Drs. I Wayan Suardana, M.Sn.
Ulas Rupa

Bhisma yang Tak Pernah Mati di Kurukshetra: Membaca “Satya–Tyagya–Dharma” Karya Prof. Dr. Drs. I Wayan Suardana, M.Sn.

DI Bali, mitos tidak pernah benar-benar menjadi masa lalu. Ia tidak hanya tinggal dalam lembar-lembar lontar atau cerita yang dituturkan...

by Angga Wijaya
August 7, 2026
Sudahi Isme-Ismemu Itu!
Kritik Seni

Sudahi Isme-Ismemu Itu!

ADA satu pertanyaan yang masih menjadi survei teratas ketika publik bertanya tentang karya seorang seniman. Karyamu ini gayanya apa? Abstrak,...

by Made Chandra
August 7, 2026
Indonesia dalam Secangkir Kopi
Esai

Indonesia dalam Secangkir Kopi

PAGI itu saya duduk di sebuah cafe kecil di pinggiran kota. Tidak ada yang istimewa. Meja kayu yang mulai kusam,...

by Ahmad Fatoni
August 7, 2026
Fakultas Bahasa dan Seni, UPMI Bali, Lepas 67 Sarjana dan Magister—‘Jangan Jadi Sarjana Kertas!
Pendidikan

Fakultas Bahasa dan Seni, UPMI Bali, Lepas 67 Sarjana dan Magister—‘Jangan Jadi Sarjana Kertas!

“HARI ini saya tidak sedang melihat sekelompok calon wisudawan. Saya sedang melihat sekumpulan wajah yang menyimpan cerita perjalanan yang berbeda-beda.”...

by Dede Putra Wiguna
August 7, 2026
“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan
Ulas Film

“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

ADA satu hal yang langsung terasa begitu duduk menonton Tung Tung Uma, bagaimana Amrita Dharma memetakan setiap adegannya dengan begitu...

by Satria Aditya
August 7, 2026
Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  
Tualang

Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  

Sejak dahulu, Jimbaran, Kedonganan, Kelan, dan Kuta adalah daerah nelayan. Namun, yang terkenal hanya Jimbaran dan Kuta. Ketika Asosiasi Kepala...

by I Nyoman Tingkat
August 7, 2026
“Rumah”, Seni Instalasi Ni Nyoman Sani
Ulas Rupa

“Rumah”, Seni Instalasi Ni Nyoman Sani

PADA 10 April hingga 30 Juni 2026 lalu digelar pameran 12 Perupa Perempuan Indonesia. Perhelatan ini diinisiasi Indonesian Women Artists...

by Hartanto
August 7, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

“Gigolo Pendidikan”, Oemar Bakrie, dan Saat Kasih Sayang Guru Menjadi Barang Premium

BEBERAPA hari lalu saya iseng melontarkan istilah yang terdengar keterlaluan.  Gigodik, “Gigolo Pendidikan”. Bayangan saya sederhana. Jangan-jangan sekarang ada "profesi"...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 7, 2026
Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak
Khas

Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

DI ruang aula SMAN 4 Praya, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, beberapa pemuda-pemudi dari Sanggar Putri Nyale duduk di kursi...

by Jaswanto
August 7, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co