BAGI kelompok orang yang tidak mengikuti sepak bola, riuh rendah Piala Dunia sering kali terasa seperti latar belakang suara yang bising. Kami tidak peduli dengan drama transfer pemain, perdebatan taktik pelatih, atau istilah rumit seperti Expected Goals (xG).
Namun, ketika turnamen mencapai puncaknya, ada fenomena unik yang terjadi pada psikologis kami: muncul rasa penasaran yang mendadak kuat. Perilaku ini memicu satu pertanyaan egois namun jujur: “Langsung ke intinya: siapa yang akan jadi juara dunia?”
Perilaku golongan “FOMO emosional” ini sebenarnya sangat menarik. Kami enggan menghabiskan waktu 90 menit menatap layar kaca demi fase grup yang panjang. Bagi kami, investasi waktu tersebut terlalu besar untuk sesuatu yang tidak kami gilai.
Namun, kami tetap tidak ingin sepenuhnya terisolasi dari obrolan global. Kami ingin ikut merasakan ketegangan, kemeriahan, dan tentu saja, memiliki hak untuk merayakan akhir dari sebuah cerita besar bersama orang lain.
Ironisnya, saat kami mencari jawaban instan, dunia sepak bola justru menyuguhkan ketidakpastian. Di ambang final Piala Dunia 2026 ini, sains lewat superkomputer menjagokan Spanyol dengan persentase keunggulan tipis karena permainan mereka yang sangat rapi. Di sisi lain, narasi romantis mendukung Argentina demi akhir manis bagi sejarah panjang Lionel Messi.
Pada akhirnya, bagi golongan pembaca yang pragmatis seperti kami, analisis mendalam itu tetap tidak penting. Jawaban yang kami cari bukanlah deretan angka, melainkan kepastian.
Kami adalah penonton puncak yang hanya ingin tahu siapa yang berdiri di podium terakhir, agar esok harinya kami bisa ikut tersenyum dan berkata di meja kopi, “Ah, sudah kuduga dia yang menang.”































