27 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

Satria Aditya by Satria Aditya
August 7, 2026
in Ulas Film
“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

Film pendek Tung Tung Uma karya Amrita Dharma

ADA satu hal yang langsung terasa begitu duduk menonton Tung Tung Uma, bagaimana Amrita Dharma memetakan setiap adegannya dengan begitu cermat. Film pendek tugas akhir yang digarap bersama Satu Frekuensi Films ini tidak terburu-buru dalam membangun ruang ceritanya. Setiap komposisi terasa dipikirkan matang-matang, seolah sutradaranya sudah tahu persis ke mana kamera harus berhenti dan berapa lama sebuah adegan boleh bernapas sebelum berpindah ke yang berikutnya.

Cerita bergulir di sebuah desa yang sawahnya diincar untuk dialihfungsikan menjadi vila. Kepala desa yang semestinya menjadi pelindung tanah warisan warganya, justru menjadi pihak yang mendorong penjualan sawah-sawah itu. Di tengah tarik-menarik itu, tokoh yang paling menonjol dan menjadi jangkar emosional film ini adalah Kayan, seorang anak yang menanggung dilema atas nasib sawah keluarganya sendiri. Lewat Kayan, persoalan agraria yang besar—alih fungsi lahan, tekanan ekonomi sampai kebijakan kepala desa—diturunkan ke skala paling personal, seorang anak yang harus memahami bahwa dunia bermainnya sekaligus adalah taruhan hidup keluarganya.

Satu keluarga pemilik sawah tempat Kayan berada bersikukuh mempertahankan tanahnya, bukan karena romantisme semata terhadap masa lalu, melainkan karena sawah itu adalah satu-satunya yang mereka punya. Namun tekanan ekonomi yang terus menggigit membuat pendirian itu goyah. Amrita, yang akrab dipanggil Amri, tidak menyederhanakan dilema ini menjadi hitam-putih antara yang idealis dan materialistis. Konflik dibiarkan berat sebelah pada kenyataan bahwa bertahan pun butuh ongkos dan ongkos itu tidak selalu bisa dibayar hanya dengan keteguhan hati.

Yang membuat film ini terasa berpijak kuat pada tanahnya sendiri adalah bagaimana Amri menyisipkan idiom-idiom lokal, bukan sebagai tempelan estetis, melainkan sebagai bagian dari logika cerita. Ada tarian sakral yang muncul di sela narasi dan gerak yang terasa seperti kehadiran sosok-sosok gaib penjaga sawah. Kehadiran ini tidak dijelaskan gamblang, dibiarkan menjadi sebuah tanda, seperti mengingatkan bahwa sawah bukan sekadar lahan produksi, melainkan ruang yang dijaga oleh sesuatu yang lebih tua dari sengketa ekonomi apa pun.

Elemen paling personal dan menurut saya paling berhasil dari film ini adalah kehadiran permainan tradisional Megandu—permainan khas Tabanan yang dimainkan dengan bola dari jerami. Anak-anak berputar mengelilingi bola itu, saling berebut merebutnya kembali. Menonton adegan ini seperti dilempar kembali ke ingatan masa kecil bermain di pematang sawah, pada masa ketika sawah masih menjadi ruang bermain sekaligus ruang belajar tentang kebersamaan. Amri menempatkan Megandu bukan sebagai nostalgia kosong, tetapi sebagai kontras yang menyakitkan: bagaimana permainan yang lahir dari sawah dimainkan oleh anak-anak yang barangkali kelak tidak akan punya sawah itu lagi untuk diwariskan kepada anak-anak mereka.

Di titik inilah Tung Tung Uma menurut saya berhasil menyatukan dua lapis persoalan yang sering ditangani secara terpisah oleh film-film bertema serupa, krisis ekonomi agraris dan erosi kultural. Alih fungsi lahan bukan hanya soal hilangnya sumber penghidupan, melainkan juga hilangnya ekosistem sosial dan budaya yang tumbuh di atasnya—permainan anak, ritual penjaga sawah, hingga relasi warga dengan tanahnya. Film ini seperti menolak godaan untuk menyatakan hal itu secara gamblang. Ia memilih menunjukkan lewat blocking adegan yang disiplin dan simbol-simbol yang dibiarkan berbicara sendiri, bagaimana perubahan itu dirasakan dari dalam.

Sebagai karya tugas akhir, Tung Tung Uma menunjukkan kematangan yang jarang ditemukan pada film pendek sejenis buatan mahasiswa. Kepekaan Amri dalam memilih lokasi syuting—sawah-sawah yang menjadi asal-muasal permainan Megandu itu sendiri—memberi film ini kejujuran tekstur yang sulit dipalsukan. Ini bukan sawah sebagai latar belakang yang dipinjam untuk kebutuhan estetika, melainkan sawah sebagai subjek yang benar-benar dipahami sejarah dan denyutnya oleh pembuat filmnya.

Dan justru di titik itulah film ini terasa bukan sekadar fiksi. Pemilihan Tabanan sebagai lokasi cerita ternyata bukan kebetulan artistik semata. Awal 2026, Pemerintah Provinsi Bali mengesahkan Peraturan Daerah Nomor 4 Tahun 2026 tentang Pengendalian Alih Fungsi Lahan Produktif dan Larangan Alih Kepemilikan Lahan secara Nominee—regulasi yang lahir sebagai respons atas penyusutan luas baku sawah Bali yang kian mengkhawatirkan, dari sekitar 71 ribu hektare pada 2019 menjadi tinggal sekitar 64 ribu hektare pada awal 2026, dengan laju alih fungsi mencapai lebih dari seribu hektare per tahun. Dan dari sekian banyak wilayah di Bali, Tabanan dan Gianyar justru menjadi dua kabupaten yang secara eksplisit ditetapkan sebagai fokus pengawasan, karena keduanya kerap menjadi lokasi praktik nominee—modus warga asing meminjam nama warga lokal untuk menguasai lahan sawah demi membangun vila.

Artinya, sawah tempat Megandu lahir dan sawah tempat Kayan mempertaruhkan masa depan keluarganya adalah sawah yang secara harfiah berada di episentrum krisis agraria Bali hari ini. Tokoh kepala desa yang dalam film justru mendorong penjualan tanah warganya bukan karikatur berlebihan. Ia seperti mencerminkan pola nyata yang coba dibendung oleh regulasi baru tersebut, termasuk celah hukum lewat kepemilikan berkedok nama warga lokal yang selama ini dimanfaatkan pemodal untuk mendirikan vila di tengah persawahan yang dilindungi.

Namun kehadiran regulasi ini tidak lantas membuat persoalan yang direkam Tung Tung Uma selesai. Ada suara skeptis yang patut dipertimbangkan, yaitu menggusur vila bermodal besar yang dilindungi jaringan legal-notarial tidak semudah menertibkan pelanggaran kecil, dan modal pariwisata yang dibendung secara horizontal cenderung mencari jalan lain untuk tetap mengekspansi ruang. Kekhawatiran ini justru menggemakan sikap film yang menolak menyederhanakan persoalan menjadi hitam-putih—bahwa aturan di atas kertas belum tentu cukup menjawab tekanan ekonomi riil yang membuat sebuah keluarga petani goyah mempertahankan tanahnya, persis seperti dilema yang dialami Kayan dan keluarganya sendiri.

Dengan begitu, ketidakpastian yang sengaja dibiarkan menggantung di akhir film—apakah sawah keluarga itu pada akhirnya terjual atau tidak—bukan kelemahan naratif, melainkan kejujuran film ini terhadap realitas yang direkamnya. Sebab pertanyaan yang sama, pada skala yang jauh lebih besar, hari ini pun belum benar-benar terjawab di Bali, apakah regulasi yang baru berumur beberapa bulan ini benar-benar sanggup menghentikan laju hilangnya sawah, atau justru menjadi babak baru dari pertaruhan yang sama, yang hasilnya belum tentu berpihak pada sawah dan masyarakatnya.

Tung Tung Uma pertama kali tayang dalam program Layar Tugas Akhir (LATAR) #1 di Gedung Citta Kelangen, Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar, pada 17 Januari 2025. Film ini kemudian melanjutkan perjalanannya lebih jauh: terpilih dalam program Indonesia Raja 2026 besutan Minikino untuk kategori Bali Nusra dengan judul internasional Last Land and Lost, dan turut diputar dalam festival Next Scene 2026, pada Jumat, 7 Agustus 2026 di Teater Asrul Sani dan Minggu, 9 Agustus 2026 di Teater Sjuman Djaya, keduanya di Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Perjalanan film ini berlanjut lagi lewat program 100% Manusia Film Festival bertajuk “100% STMJ – Shorts Term Memory of Joy”, yang berlangsung 6–15 Agustus 2026 di Jakarta, Bali, dan Yogyakarta. Tung Tung Uma, di bawah judul internasional Last Land and Lost, dijadwalkan tayang pada Sabtu, 8 Agustus 2026 di Taksu Book Café,  Rabu, 12 Agustus 2026 di IFI Thamrin dan Sabtu, 15 Agustus 2026 di IFI Yogyakarta.[T]

Penulis: Satria Aditya
Editor: Jaswanto

Tags: Amrita DharmaTung Tung Uma
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  

Next Post

Fakultas Bahasa dan Seni, UPMI Bali, Lepas 67 Sarjana dan Magister—‘Jangan Jadi Sarjana Kertas!

Satria Aditya

Satria Aditya

Alumni Universitas Pendidikan Ganesha. Kini tinggal di Denpasar, jadi guru

Related Posts

 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki

by Wisnu Oktaditya
October 9, 2026
0
 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki

SUDAH bertahun-tahun semenjak film ini lahir, saya tak pernah sekalipun menonton film-film Ghibli. Karena terhalang kendala biaya, juga karena saya...

Read moreDetails

Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12

by Yoga Wismantara
September 24, 2026
0
Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12

SAYA saya masih duduk di bangku SMP, saya pernah bertanya pada diri sendiri, “Apa yang akan terjadi jika saya bisa...

Read moreDetails

Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998

by Arya Dhamma Nanda
September 24, 2026
0
Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998

PERKEMBANGAN ekonomi dalam masyarakat biasanya memicu berbagai perubahan pada pasar yang kemudian berdampak pada kehidupan masyarakat dan lingkungan di sekitarnya....

Read moreDetails

Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi

by Arya Dhamma Nanda
September 21, 2026
0
Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi

ENIGMA adalah program kompilasi film pendek dalam ajang Minikino Film Week 12 (MFW12) yang mengusung subjudul What Goes Around Comes...

Read moreDetails

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
0
SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

Read moreDetails

“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

by Angga Wijaya
July 31, 2026
0
“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

MALAM itu, gelap menggantung di langit Pantai Melasti, Ungasan, Badung, Bali. Debur ombak bersahutan dengan suara "cak... cak... cak..." yang...

Read moreDetails

The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

by Bayu Wira Handyan
July 19, 2026
0
The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

SUDAH tentu, Christopher Nolan bukan sutradara pertama yang mengadaptasi epos Odyssey milik Homer. Kisah itu sudah ada sekitar 2.800 tahun...

Read moreDetails

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

by Satria Aditya
June 1, 2026
0
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

Read moreDetails

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
0
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

Read moreDetails

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026
0
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

Read moreDetails
Next Post
Fakultas Bahasa dan Seni, UPMI Bali, Lepas 67 Sarjana dan Magister—‘Jangan Jadi Sarjana Kertas!

Fakultas Bahasa dan Seni, UPMI Bali, Lepas 67 Sarjana dan Magister---‘Jangan Jadi Sarjana Kertas!

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tatkala Seniman Tak Lagi Bersuara
Opini

Tatkala Seniman Tak Lagi Bersuara

SENIN pagi, 26 Oktober 2026, saya mengikuti sebuah diskusi di Markas Besar UNESCO, Paris, yang bertajuk Artists at Risk: Voices...

by I.G.A.K. Satrya Wibawa
October 27, 2026
Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri
Esai

Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri

BERKENDARA di jalanan Denpasar dan Badung, Bali, belakangan ini membuat saya ketar-ketir. Saya beberapa kali mengalami situasi ketika sudah berkendara...

by Angga Wijaya
October 27, 2026
Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung
Esai

Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung

Oktober selalu menjadi bulan istimewa bagi dunia pendidikan. Sekolah-sekolah menyelenggarakan Bulan Bahasa melalui berbagai kegiatan, mulai dari lomba membaca puisi,...

by I Wayan Yudana
October 27, 2026
Membaca  Ulang “Ubud is Winter”
Ulas Rupa

Membaca  Ulang “Ubud is Winter”

SORE menjelang senja di Gajah Mas Gallery, Pengosekan, Ubud-Gianyar, matahari kian sorong ke batas laut. Cahaya jingga yang kerap memantul...

by I Wayan Westa
October 27, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Ditutup, Samarasā Dirayakan lewat Tari, Puisi, dan Musik
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Ditutup, Samarasā Dirayakan lewat Tari, Puisi, dan Musik

HUJAN mengguyur Ubud ketika malam penutupan Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) hendak dimulai. Namun, hujan perlahan mereda seiring berlangsungnya...

by Dede Putra Wiguna
October 27, 2026
Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital
Liputan Khusus

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital

TELEPON belum lama ditutup ketika Luh Sukerti kembali sibuk di depan tungku. Puluhan tusuk sate dibolak-balik di atas bara, dilumuri...

by Jaswanto
October 26, 2026
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan
Esai

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”
Bahasa

Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”

ADA seorang guru sekaligus penulis senior asal Bali yang bernama Nyoman Tingkat. Suatu ketika, dengan permainan kata yang cerdas dan menggelitik, melalui unggahan...

by I Made Sudiana
October 26, 2026
Belajar dari Senat, Menyapa Semeru
Tualang

Belajar dari Senat, Menyapa Semeru

ADA perjalanan yang kita tempuh karena tugas. Ada perjalanan yang kita jalani karena kewajiban. Namun, sering kali justru di balik...

by Ahmad Sihabudin
October 26, 2026
Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026
Olahraga

Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026

SUASANA siang di kawasan dekat Pantai Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali, mendadak bergemuruh pada Minggu 25 Oktober 2026....

by Nyoman Budarsana
October 26, 2026
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan
Esai

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co