22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

Satria Aditya by Satria Aditya
June 1, 2026
in Ulas Film
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

Fil Ki Ai Nirnur

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang di depan loket, tidak ada aroma popcorn yang tercium terlalu keras. Pemutaran pertama film dokumenter Ki Ai Nirnur memang bukan untuk publik luas. Terlihat hadir pula di sana Rai Mantra, Jun Bintang, keluarga, dan undangan dekat Marmar Herayukti. Undangan terbatas, suasana intim, tapi yang tersaji di layar terasa jauh melampaui ruang gelap itu.

Film ini diproduksi bersama ST Gemeh Indah dan Mahatma Pictures, merekam perjalanan lahirnya ogoh-ogoh yang pada Nyepi 2025 yang sempat menyita perhatian banyak orang. Bukan hanya karena wujudnya yang kolosal dan detail, tapi karena tema yang diusungnya, kecerdasan buatan dan apa yang diam-diam ia lakukan pada kesadaran manusia.

Bagi yang belum menyaksikannya secara langsung, Ki Ai Nirnur adalah sosok raksasa gundul dengan mata kanan yang tajam menatap dan mata kiri yang kosong, putih polos tanpa titik pusat. Namanya berasal dari bahasa Sansekerta, Nir artinya ketiadaan dan Nur artinya cahaya. Ia adalah matahari tanpa cahaya. Sebuah karya yang bukan kebetulan hanya sebuah artistic belaka, melainkan pembacaan terhadap realitas yang sengaja dirajut oleh Marmar. Dalam film dokumenter itu, penonton diajak mengikuti perjalanan panjang tersebut. Dari proses memilih tema, mendalami isi, hingga keputusan untuk mewujudkannya dalam medium ogoh-ogoh.

“Dari pembuatan film ini saya belajar banyak,” kata Marmar dalam satu wawancara setelah menonton film. “Begitupun dari membuat ogoh-ogoh Ki Ai Nirnur, saya mengalami banyak perjalanan belajar, mulai dari memilih temanya sampai mendalami isinya,” sambungnya.

Kalimat itu terdengar sederhana, tapi bagi siapa yang mengikuti keseluruhan film, makna di baliknya sangat terasa. Karena Marmar bukan hanya berbicara soal teknis membuat, namun ia berbicara soal pembacaan terhadap sastra dan realitas social hari ini.

Salah satu momen paling berkesan dalam film itu adalah ketika Marmar bicara tentang peristiwa budaya sebagai sesuatu yang berulang, bukan sesuatu yang beku di masa lalu.

Marmar

Ia menyebut selembar daun lontar biasa yang setelah diisi aksara dan pemikiran, berubah menjadi tuntunan hidup. Ia juga menyebut agem atau pegangan hidup yang diterjemahkan ke dalam gerak tari. Menjadi sebuah pembacaan bagaimana kemudia cara Marmar melihatnya menjadi yang kita wariskan atau ciptakan hari ini adalah jembatan menuju hari depan.

Pandangan ini bukan sekadar romantisisme terhadap tradisi. Saya tertegun setelah mendengar apa yang dikatakan Marmar, ini sebenarnya adalah posisi intelektual. Dimana kebudayaan itu sebenarnya bukan museum, melainkan percakapan panjang antargenerasi yang terus bergerak. Ogoh-ogoh, dalam framing ini, bukan hanya ritual dan tradisi belaka. Tapi ia adalah medium berpikir. Dan Ki Ai Nirnur memilih untuk berpikir tentang AI.

Marmar dalam film itu berhati-hati soal satu hal, ia tidak ingin disalahpahami sebagai pengecam teknologi.

“Saya tidak menuduh bahwa teknologi ini akan menjerumuskan kita,” ia menjelaskan. “Saya hanya berbicara tentang bagaimana jika kesadaran kita perlahan direnggut oleh sebuah rayuan yang sangat memukau, yang sangat memudahkan kita, membuat kita dengan gampangnya membuka pintu rahasia.”

Kalimat pintu rahasia itu menjadi menarik ketika kita mengingat lagi bahawa sebenarnya, ada sesuatu yang dijaga di balik sesuatu dan AI—dengan segala kemudahannya—menawarkan kunci tanpa pernah menjelaskan apa yang ada di dalamnya.

Di luar layar Cinepolis malam itu, realitasnya memang sedang bergerak cepat. AI hari ini bukan lagi wacana futuristic. Ia hadir di meja kerja, di ruang kelas, bahkan di genggaman tangan. Ia menulis, ia menggambar, ia membuat keputusan medis dan hukum, ia menyortir informasi yang kita terima setiap hari.

Yang jarang kita tanyakan adalah, siapa yang memegang kendali atas apa yang disortirnya untuk kita? Dan apakah kita masih tahu bagaimana bertanya tentang hal-hal yang tidak disajikannya?

Ikon film Ki Ai Nirnur di Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar

Inilah yang membuat film dokumenter ini relevan melampaui konteks ogoh-ogoh dan Nyepi. Marmar dan Mahatma Pictures hari ini tidak sekadar merekam proses kreatif sebuah karya seni. Ia merekam momen di mana sebuah komunitas dan kolektif local, Banjar Gemeh, memutuskan bahwa isu global paling mendesak hari ini layak untuk dijawab dengan bahasa tradisi, simbolisme, dan sebuah medium yang diarak lalu dibakar.

Ada keberanian dalam keputusan itu. Karena pada akhirnya, membakar Ki Ai Nirnur bukan berarti isu itu selesai. Ia dilepas ke udara, disebarkan, agar menjadi pertanyaan yang terus hidup.

“Suatu saat makna dan pesan dari cerita Ki Ai Nirnur ini akan dibutuhkan,” kata Marmar. “Makanya dibuatnya film ini, agar kita tidak hanya terkesima pada estetika saat ia muncul di permukaan.”

Marmar tahu bahwa ogoh-ogoh bersifat sementara. Diarak, dibakar dan hilang. Tapi cerita di baliknya tidak harus ikut terbakar. Itulah alasan film ini dibuat.

Layar hitam. Lampu menyala kembali. Dan pertanyaan yang ditinggalkan film itu menggantung di udara Cinepolis, apakah kita sedang memegang kendali, atau kita yang dipegang? [T]

Tags: filmfilm dokumenterogoh-ogohPutu Marmar Herayukti
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

Next Post

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Satria Aditya

Satria Aditya

Alumni Universitas Pendidikan Ganesha. Kini tinggal di Denpasar, jadi guru

Related Posts

 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki

by Wisnu Oktaditya
October 9, 2026
0
 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki

SUDAH bertahun-tahun semenjak film ini lahir, saya tak pernah sekalipun menonton film-film Ghibli. Karena terhalang kendala biaya, juga karena saya...

Read moreDetails

Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12

by Yoga Wismantara
September 24, 2026
0
Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12

SAYA saya masih duduk di bangku SMP, saya pernah bertanya pada diri sendiri, “Apa yang akan terjadi jika saya bisa...

Read moreDetails

Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998

by Arya Dhamma Nanda
September 24, 2026
0
Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998

PERKEMBANGAN ekonomi dalam masyarakat biasanya memicu berbagai perubahan pada pasar yang kemudian berdampak pada kehidupan masyarakat dan lingkungan di sekitarnya....

Read moreDetails

Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi

by Arya Dhamma Nanda
September 21, 2026
0
Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi

ENIGMA adalah program kompilasi film pendek dalam ajang Minikino Film Week 12 (MFW12) yang mengusung subjudul What Goes Around Comes...

Read moreDetails

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
0
SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

Read moreDetails

“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

by Satria Aditya
August 7, 2026
0
“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

ADA satu hal yang langsung terasa begitu duduk menonton Tung Tung Uma, bagaimana Amrita Dharma memetakan setiap adegannya dengan begitu...

Read moreDetails

“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

by Angga Wijaya
July 31, 2026
0
“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

MALAM itu, gelap menggantung di langit Pantai Melasti, Ungasan, Badung, Bali. Debur ombak bersahutan dengan suara "cak... cak... cak..." yang...

Read moreDetails

The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

by Bayu Wira Handyan
July 19, 2026
0
The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

SUDAH tentu, Christopher Nolan bukan sutradara pertama yang mengadaptasi epos Odyssey milik Homer. Kisah itu sudah ada sekitar 2.800 tahun...

Read moreDetails

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
0
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

Read moreDetails

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026
0
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

Read moreDetails
Next Post
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Menjemput Cahaya Ilmu ---Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran
Bahasa

“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran

DUNIA kuliner di Bali saat ini sedang ramai-ramainya dengan berbagai pilihan olahan. Dari tradisi babi guling yang legendaris hingga tren...

by I Made Sudiana
October 19, 2026
Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional
Pendidikan

Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional

SINGARAJA | TATKALA.CO -- Kabar membanggakan datang dari dunia pendidikan teknologi di Kabupaten Buleleng. Langit Biru, siswa Timedoor Academy Singaraja,...

by Rusdy Ulu
October 19, 2026
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni
Esai

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co