19 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

Bayu Wira Handyan by Bayu Wira Handyan
July 19, 2026
in Ulas Film
The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

Odysseus (Matt Damon) dalam film The Odyssey | Tangkapan layar: YouTube/Universal Pictures

SUDAH tentu, Christopher Nolan bukan sutradara pertama yang mengadaptasi epos Odyssey milik Homer. Kisah itu sudah ada sekitar 2.800 tahun lalu dan telah berulang kali diadaptasi baik untuk sinema maupun TV series. Tapi, saya harus kasih hormat patah-patah ke Nolan, karena ia berani melakukan pembacaan ulang terhadap kisah yang oleh Edith Hall dan Harold Bloom dianggap sebagai fondasi peradaban Barat.

Tetapi, berani bukan selalu berarti benar. Karena keberanian Nolan tidak ditautkan dengan konteks saat Odysseus hidup—abad perunggu Mycenaean.

Sebagai sebuah karya sastra—puisi 12.109 baris yang menyebar secara lisan, Odyssey boleh jadi tidak akurat secara historis—dan seharusnya memang tidak menjadi rujukan sejarah. Ia adalah mitos. Tetapi sebagai mitos, Odyssey merefleksikan budaya yang membentuknya: Yunani kuno.

Dan, Tuhan, saya tidak melihat Yunani kuno dalam 2 jam 53 menit filmnya Nolan ini. Yunani hanya muncul dalam nama tempat, orang, dan dipinjam—atau dirampok—kisahnya untuk dijual lewat layar sinema.

Bagaimana bisa film tentang salah satu epos Yunani terbesar tidak diperankan oleh orang Yunani, tidak pula menggunakan bahasa Yunani kuno—bahkan bahasa Yunani modern. Bisa kita bayangkan Mahabarata atau Ramayana dengan aktor dan aktris dari Jepang, Kanada, Norwegia—tentu bahasanya bukan Sanskrit, tapi Inggris.

Masalahnya, bahasa adalah representasi. Ketika Nolan memilih untuk membuat Odysseus bicara dalam bahasa Inggris, maka ia memaksa Raja Ithaca itu untuk menetap di tempat yang jauh dari Laut Ionia menuju tempat yang bukan dunianya—dari pulau berbatu di lepas pantai barat Yunani yang jadi seluruh alasan pengembaraannya.

Salah satu adegan dalam film The Odyssey. | Tangkapan layar: YouTube/Universal Pictures

Bolehlah Nolan membela diri, “Yang bisa saya lakukan hanyalah membuat film terbaik yang sanggup saya buat, sepenuh hati. Hasilnya tentu akan sangat berbeda dari cara orang lain mengadaptasinya. Namun, begitulah adaptasi,” kata Nolan pada The Telegraph (10/7/2026). Katanya lagi, “Yang harus dilakukan adalah menghormati teks aslinya dengan menafsirkannya sebaik mungkin, menurut pemahaman dan keyakinanmu sendiri.” Dan bagi Nolan, ia telah melakukannya sebaik-baiknya; setulus-tulusnya.

Saya menyangsikan bahwa Nolan betul-betul menghormati Homer. Agaknya penghormatannya pada Odyssey hanya sebatas penghormatan pada narasi dan bukan terhadap kebudayaan yang melahirkan narasi itu.

Jika ia menghormati epos Homer ini “dengan menafsirkannya sebaik mungkin”, maka besar kemungkinan kita tidak akan melihat Odysseus bicara Inggris atau diperankan oleh Matt Damon. Lalu, mungkin saja kita akan melihat porsi aktor dan aktris Yunani—seenggaknya Mediterranean—yang lebih banyak daripada deretan cast Germanic, Asian, Latinos, dan Africans yang menghiasi The Odyssey.

Tapi “ya begitulah adaptasi” dan The Odyssey adalah tafsir Nolan tentang Odyssey yang ia kerjakan menurut pemahaman dan keyakinannya sendiri “dengan sepenuh hati”.

Tidak Semuanya Harus Menjadi Amrik

The Odyssey bukan film pertama yang tidak setia pada konteks budaya sebuah cerita berasal. Troy (Wolfgang Petersen, 2004), Alexander (Oliver Stone, 2004), 300 (Zack Snyder, 2006), Exodus: Gods and Kings (Ridley Scott, 2014), The Great Wall (Zhang Yimou, 2016) telah lebih dulu dikritik karena dianggap mencerabut budaya yang menjadi konteks sebuah cerita. Daftar tersebut tentu bukan daftar lengkap Amerikanisasi yang dilakukan Hollywood dan tentu jumlah tersebut bisa makin mengular.

Odysseus (Matt Damon) dalam film The Odyssey | Tangkapan layar: YouTube/Universal Pictures

Mitos dan budaya yang menjadi sumber kisah yang dialihwahanakan menjadi sinema itu seakan-akan hanya remahan—receh tak berarti—di mata industri skala besar seperti Hollywood. Alih-alih memperdalam bagaimana kosmologi Yunani dan mitos para dewa yang ada, misalnya, sutradara Hollywood lebih memilih berbicara dengan bahasa yang mereka asumsikan lebih universal.

Dan adaptasi demikianlah yang oleh Nolan sebut sebagai “menafsirkannya sebaik mungkin, menurut pemahaman dan keyakinanmu sendiri”.

Tapi, apakah kemudian semua produk Hollywood mencerabut budaya yang menjadi konteks cerita sebuah film? Ya tentu tidak, beberapa setia—setidaknya mencoba setia—pada konteks budaya yang melatarbelakangi cerita. Ya, walaupun tetap ada kontroversi di sana-sini.

Apocalypto (Mel Gibson, 2006) dan Killers of the Flower Moon (Martin Scorsese, 2023) jadi dua contoh film yang setidaknya mencoba setia pada konteks budaya.

Gibson dalam Apocalypto menggunakan bahasa Yucatec Maya dan berkonsultasi dengan arkeolog Richard Hansen. Ia juga tidak menggunakan nama besar dalam Apocalypto. Banyak dari mereka belum pernah bermain untuk layar lebar dan tidak memiliki pengalaman berakting. Daftar pemainnya kebanyakan adalah keturunan pribumi Amerika. Bahkan, Rudy Youngblood yang berperan sebagai Jaguar Paw bukan aktor penuh waktu dan bekerja sebagai buruh sebelum ikut audisi Apocalypto.

Scorsese juga memilih untuk menggunakan pendekatan yang hampir sama dalam Killers of the Flower Moon. Ia memutuskan bahwa Osage adalah pusat dari narasi filmnya. Memilih Lily Gladstone menjadi aktris utamanya untuk berperan sebagai Mollie Kyle. Lily adalah pribumi Amerika yang tumbuh besar di Reservasi Blackfeet.

Penelope (Anne Hathaway) dalam film The Odyssey. | Tangkapan layar: YouTube/Universal Pictures

Killers of the Flower Moon punya tempat tersendiri bagi saya. Sepanjang durasi 3 jam 26 menit itu saya setidaknya menangis tiga kali. Pahit dan pedihnya Mollie menjalani kehidupan di tengah keserakahan dan kebengisan manusia betul-betul tampak nyata. Dan saya yakin salah satu alasannya karena Lily adalah pribumi Amerika—yang punya sejarah panjang tragedi kemanusiaan.

Meski demikian, kedua film tersebut juga tidak lepas dari kritik. Keduanya dianggap belum seratus persen merepresentasikan budaya yang menjadi latar cerita. Karena baik Gibson atau Scorsese dianggap sebagai suara perantara, tidak memiliki ikatan terhadap budaya yang mereka tampilkan lewat layar sinema.

Tapi, setidaknya mereka telah mencoba untuk setia. Sesuatu yang tidak betul-betul diusahakan oleh Nolan dalam The Odyssey.

Dimensi kepulangan (nostos) yang menjadi inti dari perjalanan Odysseus tampil tipis saja. Saya juga tidak melihat lapisan emosi yang tebal; kesombongan Odysseus, arogansinya, dan nafsunya pada dunia—sesuatu yang harusnya terbaca karena itulah pusat narasi Odyssey.

Memang secara audiovisual, The Odyssey sangatlah megah. Bagaimana tidak, biaya pembuatannya saja menghabiskan 250 juta USD (sekitar Rp4,4 triliun). Syutingnya menggunakan IMAX 70 mm—full sepanjang film. Komposer Ludwig Goransson butuh sembilan bulan dan tiga puluh lima gong berbagai jenis untuk menghasilkan scoring yang membuat kaki saya bergetar di dalam bioskop. Sungguh megah dan ya memang sudah seharusnya megah.

Tapi tetap saja, kemegahan tersebut tak bisa membuat saya tidak berulang kali mengernyitkan dahi: dialognya, kostumnya, dan ketidakcocokan yang timbul karena Nolan tidak setia pada konteks budaya yang melatarbelakangi Odyssey.

Salah satu adegan dalam film The Odyssey. | Tangkapan layar: YouTube/Universal Pictures

Odysseus akhirnya pulang ke Ithaca setelah dua puluh tahun pengembaraan. Ia menebus kesombongannya di hadapan para dewa, membayar keangkuhannya dengan derita dan kehilangan orang-orang yang menyertainya, sebelum diterima kembali oleh Penelope. Ia menuntaskan sayembara busur, menembus dua belas mata kapak yang tak sanggup dilakukan pelamar mana pun, lalu—dengan Telemachus dan penggembala setianya—menghabisi seluruh pelamar yang bertahun-tahun memanfaatkan hukum keramahtamahan tamu (xenia) di aula istananya sendiri. Dan begitulah, Penelope menerimanya kembali setelah ujian ranjang zaitun—sesuatu yang hanya suaminya yang tahu.

Nolan tidak memberikan itu pada kita—pada penonton. Dalam dunia yang ia bangun, Ithaca hanyalah nama sebuah kerajaan yang ia ambil untuk filmnya, bukan rumah—tempat di mana hasrat pulang Odysseus menggebu begitu kuatnya. [T]

Penulis: Bayu Wira Handyan
Editor: Adnyana Ole

Tags: filmMatt DamonThe OdysseyUlasan Film
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Agung Pramana Hadirkan “After Exotic 1931” di ARTJOG 2026 —Menelisik Jejak Kolonial di Balik Eksotisme Bali

Next Post

Langsung ke Intinya: Siapa Juara Piala Dunia?

Bayu Wira Handyan

Bayu Wira Handyan

Biasa-biasa saja

Related Posts

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

by Satria Aditya
June 1, 2026
0
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

Read moreDetails

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
0
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

Read moreDetails

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026
0
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

Read moreDetails

Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

by Made Adnyana
May 6, 2026
0
Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

TIDAK banyak film biografi mampu merangkum kehidupan seorang musisi besar secara utuh. Ada yang memilih merayakan, ada pula yang mencoba...

Read moreDetails

Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

by Jaswanto
March 28, 2026
0
Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

SEJAK menonton video promosi singkatnya di media sosial, saya tahu bahwa Hoppers (2026) bukan sekadar film animasi yang diperuntukkan untuk...

Read moreDetails

Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

by Agung Kesawa Kevalam
February 12, 2026
0
Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

ADA jenis cinta yang datang untuk menemani, dan banyak juga yang datang untuk mengingatkan. Itulah kesan yang saya dapatkan ketika...

Read moreDetails

Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

by Rana Nasyitha
January 24, 2026
0
Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

WAKTU itu saya melihat judul film ini di sebuah aplikasi/platform streaming lokal. Di antara kumpulan film indonesia lainnya, Surat Dari...

Read moreDetails

Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

by Ahmad Sihabudin
January 23, 2026
0
Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

BAGI generasi yang tumbuh sebelum jalan tol Trans Jawa rampung, nama Alas Roban bukan sekadar penanda geografis. Ia adalah kata...

Read moreDetails

Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup? — Tanggapan untuk Jaswanto

by Angga Wijaya
January 21, 2026
0
Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup?  — Tanggapan untuk Jaswanto

PADA esai Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial (Tatkala.co, 16 Januari 2026), saya sepakat dengan Jaswanto, sang penulis, dalam...

Read moreDetails

Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

by Jaswanto
January 16, 2026
0
Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

SEORANG pria muda jomlo dan kurang mampu dari zaman modern entah bagaimana ceritanya bisa melintasi waktu dan masuk ke tubuh...

Read moreDetails
Next Post
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

Langsung ke Intinya: Siapa Juara Piala Dunia?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

BNN Kota Denpasar Ajak Murid Baru Tangkal Ancaman Narkoba di Ignite Fest Kesbam 2026
Khas

BNN Kota Denpasar Ajak Murid Baru Tangkal Ancaman Narkoba di Ignite Fest Kesbam 2026

 “Hari ini kalian mungkin berpikir narkoba itu urusan orang lain. Padahal, yang dibutuhkan pengedar hanya satu celah, yaitu rasa penasaran.”...

by Dede Putra Wiguna
July 19, 2026
Ignite Fest 2026, Wajah Baru MPLS di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Ignite Fest 2026, Wajah Baru MPLS di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SORAK-sorai ratusan murid baru memenuhi Aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam). Sesekali tepuk tangan bergemuruh tatkala acara diselingi penampilan...

by Dede Putra Wiguna
July 19, 2026
Mengapa Seniman Bali Kerap Menjadi Jago Kandang?  —Catatan Tentang Keberjarakan, Tradisi, dan Pada Siapa Karya Berbicara
Kritik Seni

Mengapa Seniman Bali Kerap Menjadi Jago Kandang?  —Catatan Tentang Keberjarakan, Tradisi, dan Pada Siapa Karya Berbicara

SEBELUM kalian marah-marah dengan judul tulisan ini, perlu dijelaskan topik ini adalah auto kritik yang aku layangkan pada tiap seniman...

by Made Chandra
July 19, 2026
Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya
Ulas Pentas

Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

 “Teng! Tong! Teng! Tong! Teng! Tung! Pagi tiba alarm berbunyi...” Itu adalah suara dering alarm saya pukul tiga pagi yang...

by Putu Intan Juliantika
July 19, 2026
Krisis Baru Abad 21: Ketika Mesin Berpikir, Manusia Berhenti Merenung?
Esai

Krisis Baru Abad 21: Ketika Mesin Berpikir, Manusia Berhenti Merenung?

KONON, yang membedakan manusia dari makhluk lain bukan semata kemampuan berbicara, melainkan kemampuan merenung. Dari renungan lahir kebijaksanaan. Dari kebijaksanaan...

by Hairunnisa Br. Sagala
July 19, 2026
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK
Esai

Langsung ke Intinya: Siapa Juara Piala Dunia?

BAGI kelompok orang yang tidak mengikuti sepak bola, riuh rendah Piala Dunia sering kali terasa seperti latar belakang suara yang...

by Nur Inayah Yushar
July 19, 2026
The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus
Ulas Film

The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

SUDAH tentu, Christopher Nolan bukan sutradara pertama yang mengadaptasi epos Odyssey milik Homer. Kisah itu sudah ada sekitar 2.800 tahun...

by Bayu Wira Handyan
July 19, 2026
Agung Pramana Hadirkan “After Exotic 1931” di ARTJOG 2026 —Menelisik Jejak Kolonial di Balik Eksotisme Bali
Pameran

Agung Pramana Hadirkan “After Exotic 1931” di ARTJOG 2026 —Menelisik Jejak Kolonial di Balik Eksotisme Bali

BALI selama bertahun-tahun dikenal dunia sebagai pulau yang eksotis. Namun, di balik citra itu, tersimpan sejarah panjang tentang bagaimana representasi...

by Dede Putra Wiguna
July 19, 2026
Bangkitlah Bali: Kesadaran Selalu Dimulai dari Keberanian Mengakui Kenyataan
Esai

Bangkitlah Bali: Kesadaran Selalu Dimulai dari Keberanian Mengakui Kenyataan

"People will do anything, no matter how absurd, in order to avoid facing their own souls." Manusia rela melakukan apa...

by Agung Sudarsa
July 19, 2026
Membaca Alam yang Tersimpan dalam Serat —Menafsir “Barik” Karya Dr. Sn. Inty Nahari
Ulas Rupa

Membaca Alam yang Tersimpan dalam Serat —Menafsir “Barik” Karya Dr. Sn. Inty Nahari

ADA kecenderungan menarik dalam perkembangan seni kriya beberapa tahun terakhir. Para perupa tidak lagi hanya berbicara tentang keterampilan mengolah bahan,...

by Angga Wijaya
July 19, 2026
Mengapa Desain ‘User Interface’ Aplikasi Meditasi Selalu Bernuansa Pastel?
Esai

Dari Stres Jadi Rileks: Menjadikan Musik Sebagai Pertolongan Pertama Emosi

MENGINGAT banyaknya pengguna media sosial saat ini, orang-orang gemar membagikan musik yang mereka dengarkan di platform seperti Instagram, WhatsApp, dan...

by Muhammad Syahrul Wafda
July 19, 2026
Lomba Cerpen Festival Seni Bali Jani 2026 Diikuti 172 Peserta, Juri Soroti Orisinalitas Karya di Era AI
Khas

Lomba Cerpen Festival Seni Bali Jani 2026 Diikuti 172 Peserta, Juri Soroti Orisinalitas Karya di Era AI

MINAT masyarakat terhadap dunia sastra kembali menunjukkan geliat yang menggembirakan. Lomba Menulis Cerpen dalam rangka Festival Seni Bali Jani (FSBJ)...

by Nyoman Budarsana
July 18, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co