SUDAH tentu, Christopher Nolan bukan sutradara pertama yang mengadaptasi epos Odyssey milik Homer. Kisah itu sudah ada sekitar 2.800 tahun lalu dan telah berulang kali diadaptasi baik untuk sinema maupun TV series. Tapi, saya harus kasih hormat patah-patah ke Nolan, karena ia berani melakukan pembacaan ulang terhadap kisah yang oleh Edith Hall dan Harold Bloom dianggap sebagai fondasi peradaban Barat.
Tetapi, berani bukan selalu berarti benar. Karena keberanian Nolan tidak ditautkan dengan konteks saat Odysseus hidup—abad perunggu Mycenaean.
Sebagai sebuah karya sastra—puisi 12.109 baris yang menyebar secara lisan, Odyssey boleh jadi tidak akurat secara historis—dan seharusnya memang tidak menjadi rujukan sejarah. Ia adalah mitos. Tetapi sebagai mitos, Odyssey merefleksikan budaya yang membentuknya: Yunani kuno.
Dan, Tuhan, saya tidak melihat Yunani kuno dalam 2 jam 53 menit filmnya Nolan ini. Yunani hanya muncul dalam nama tempat, orang, dan dipinjam—atau dirampok—kisahnya untuk dijual lewat layar sinema.
Bagaimana bisa film tentang salah satu epos Yunani terbesar tidak diperankan oleh orang Yunani, tidak pula menggunakan bahasa Yunani kuno—bahkan bahasa Yunani modern. Bisa kita bayangkan Mahabarata atau Ramayana dengan aktor dan aktris dari Jepang, Kanada, Norwegia—tentu bahasanya bukan Sanskrit, tapi Inggris.
Masalahnya, bahasa adalah representasi. Ketika Nolan memilih untuk membuat Odysseus bicara dalam bahasa Inggris, maka ia memaksa Raja Ithaca itu untuk menetap di tempat yang jauh dari Laut Ionia menuju tempat yang bukan dunianya—dari pulau berbatu di lepas pantai barat Yunani yang jadi seluruh alasan pengembaraannya.

Bolehlah Nolan membela diri, “Yang bisa saya lakukan hanyalah membuat film terbaik yang sanggup saya buat, sepenuh hati. Hasilnya tentu akan sangat berbeda dari cara orang lain mengadaptasinya. Namun, begitulah adaptasi,” kata Nolan pada The Telegraph (10/7/2026). Katanya lagi, “Yang harus dilakukan adalah menghormati teks aslinya dengan menafsirkannya sebaik mungkin, menurut pemahaman dan keyakinanmu sendiri.” Dan bagi Nolan, ia telah melakukannya sebaik-baiknya; setulus-tulusnya.
Saya menyangsikan bahwa Nolan betul-betul menghormati Homer. Agaknya penghormatannya pada Odyssey hanya sebatas penghormatan pada narasi dan bukan terhadap kebudayaan yang melahirkan narasi itu.
Jika ia menghormati epos Homer ini “dengan menafsirkannya sebaik mungkin”, maka besar kemungkinan kita tidak akan melihat Odysseus bicara Inggris atau diperankan oleh Matt Damon. Lalu, mungkin saja kita akan melihat porsi aktor dan aktris Yunani—seenggaknya Mediterranean—yang lebih banyak daripada deretan cast Germanic, Asian, Latinos, dan Africans yang menghiasi The Odyssey.
Tapi “ya begitulah adaptasi” dan The Odyssey adalah tafsir Nolan tentang Odyssey yang ia kerjakan menurut pemahaman dan keyakinannya sendiri “dengan sepenuh hati”.
Tidak Semuanya Harus Menjadi Amrik
The Odyssey bukan film pertama yang tidak setia pada konteks budaya sebuah cerita berasal. Troy (Wolfgang Petersen, 2004), Alexander (Oliver Stone, 2004), 300 (Zack Snyder, 2006), Exodus: Gods and Kings (Ridley Scott, 2014), The Great Wall (Zhang Yimou, 2016) telah lebih dulu dikritik karena dianggap mencerabut budaya yang menjadi konteks sebuah cerita. Daftar tersebut tentu bukan daftar lengkap Amerikanisasi yang dilakukan Hollywood dan tentu jumlah tersebut bisa makin mengular.

Mitos dan budaya yang menjadi sumber kisah yang dialihwahanakan menjadi sinema itu seakan-akan hanya remahan—receh tak berarti—di mata industri skala besar seperti Hollywood. Alih-alih memperdalam bagaimana kosmologi Yunani dan mitos para dewa yang ada, misalnya, sutradara Hollywood lebih memilih berbicara dengan bahasa yang mereka asumsikan lebih universal.
Dan adaptasi demikianlah yang oleh Nolan sebut sebagai “menafsirkannya sebaik mungkin, menurut pemahaman dan keyakinanmu sendiri”.
Tapi, apakah kemudian semua produk Hollywood mencerabut budaya yang menjadi konteks cerita sebuah film? Ya tentu tidak, beberapa setia—setidaknya mencoba setia—pada konteks budaya yang melatarbelakangi cerita. Ya, walaupun tetap ada kontroversi di sana-sini.
Apocalypto (Mel Gibson, 2006) dan Killers of the Flower Moon (Martin Scorsese, 2023) jadi dua contoh film yang setidaknya mencoba setia pada konteks budaya.
Gibson dalam Apocalypto menggunakan bahasa Yucatec Maya dan berkonsultasi dengan arkeolog Richard Hansen. Ia juga tidak menggunakan nama besar dalam Apocalypto. Banyak dari mereka belum pernah bermain untuk layar lebar dan tidak memiliki pengalaman berakting. Daftar pemainnya kebanyakan adalah keturunan pribumi Amerika. Bahkan, Rudy Youngblood yang berperan sebagai Jaguar Paw bukan aktor penuh waktu dan bekerja sebagai buruh sebelum ikut audisi Apocalypto.
Scorsese juga memilih untuk menggunakan pendekatan yang hampir sama dalam Killers of the Flower Moon. Ia memutuskan bahwa Osage adalah pusat dari narasi filmnya. Memilih Lily Gladstone menjadi aktris utamanya untuk berperan sebagai Mollie Kyle. Lily adalah pribumi Amerika yang tumbuh besar di Reservasi Blackfeet.

Killers of the Flower Moon punya tempat tersendiri bagi saya. Sepanjang durasi 3 jam 26 menit itu saya setidaknya menangis tiga kali. Pahit dan pedihnya Mollie menjalani kehidupan di tengah keserakahan dan kebengisan manusia betul-betul tampak nyata. Dan saya yakin salah satu alasannya karena Lily adalah pribumi Amerika—yang punya sejarah panjang tragedi kemanusiaan.
Meski demikian, kedua film tersebut juga tidak lepas dari kritik. Keduanya dianggap belum seratus persen merepresentasikan budaya yang menjadi latar cerita. Karena baik Gibson atau Scorsese dianggap sebagai suara perantara, tidak memiliki ikatan terhadap budaya yang mereka tampilkan lewat layar sinema.
Tapi, setidaknya mereka telah mencoba untuk setia. Sesuatu yang tidak betul-betul diusahakan oleh Nolan dalam The Odyssey.
Dimensi kepulangan (nostos) yang menjadi inti dari perjalanan Odysseus tampil tipis saja. Saya juga tidak melihat lapisan emosi yang tebal; kesombongan Odysseus, arogansinya, dan nafsunya pada dunia—sesuatu yang harusnya terbaca karena itulah pusat narasi Odyssey.
Memang secara audiovisual, The Odyssey sangatlah megah. Bagaimana tidak, biaya pembuatannya saja menghabiskan 250 juta USD (sekitar Rp4,4 triliun). Syutingnya menggunakan IMAX 70 mm—full sepanjang film. Komposer Ludwig Goransson butuh sembilan bulan dan tiga puluh lima gong berbagai jenis untuk menghasilkan scoring yang membuat kaki saya bergetar di dalam bioskop. Sungguh megah dan ya memang sudah seharusnya megah.
Tapi tetap saja, kemegahan tersebut tak bisa membuat saya tidak berulang kali mengernyitkan dahi: dialognya, kostumnya, dan ketidakcocokan yang timbul karena Nolan tidak setia pada konteks budaya yang melatarbelakangi Odyssey.

Odysseus akhirnya pulang ke Ithaca setelah dua puluh tahun pengembaraan. Ia menebus kesombongannya di hadapan para dewa, membayar keangkuhannya dengan derita dan kehilangan orang-orang yang menyertainya, sebelum diterima kembali oleh Penelope. Ia menuntaskan sayembara busur, menembus dua belas mata kapak yang tak sanggup dilakukan pelamar mana pun, lalu—dengan Telemachus dan penggembala setianya—menghabisi seluruh pelamar yang bertahun-tahun memanfaatkan hukum keramahtamahan tamu (xenia) di aula istananya sendiri. Dan begitulah, Penelope menerimanya kembali setelah ujian ranjang zaitun—sesuatu yang hanya suaminya yang tahu.
Nolan tidak memberikan itu pada kita—pada penonton. Dalam dunia yang ia bangun, Ithaca hanyalah nama sebuah kerajaan yang ia ambil untuk filmnya, bukan rumah—tempat di mana hasrat pulang Odysseus menggebu begitu kuatnya. [T]
Penulis: Bayu Wira Handyan
Editor: Adnyana Ole































