31 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

Bayu Wira Handyan by Bayu Wira Handyan
July 19, 2026
in Ulas Film
The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

Odysseus (Matt Damon) dalam film The Odyssey | Tangkapan layar: YouTube/Universal Pictures

SUDAH tentu, Christopher Nolan bukan sutradara pertama yang mengadaptasi epos Odyssey milik Homer. Kisah itu sudah ada sekitar 2.800 tahun lalu dan telah berulang kali diadaptasi baik untuk sinema maupun TV series. Tapi, saya harus kasih hormat patah-patah ke Nolan, karena ia berani melakukan pembacaan ulang terhadap kisah yang oleh Edith Hall dan Harold Bloom dianggap sebagai fondasi peradaban Barat.

Tetapi, berani bukan selalu berarti benar. Karena keberanian Nolan tidak ditautkan dengan konteks saat Odysseus hidup—abad perunggu Mycenaean.

Sebagai sebuah karya sastra—puisi 12.109 baris yang menyebar secara lisan, Odyssey boleh jadi tidak akurat secara historis—dan seharusnya memang tidak menjadi rujukan sejarah. Ia adalah mitos. Tetapi sebagai mitos, Odyssey merefleksikan budaya yang membentuknya: Yunani kuno.

Dan, Tuhan, saya tidak melihat Yunani kuno dalam 2 jam 53 menit filmnya Nolan ini. Yunani hanya muncul dalam nama tempat, orang, dan dipinjam—atau dirampok—kisahnya untuk dijual lewat layar sinema.

Bagaimana bisa film tentang salah satu epos Yunani terbesar tidak diperankan oleh orang Yunani, tidak pula menggunakan bahasa Yunani kuno—bahkan bahasa Yunani modern. Bisa kita bayangkan Mahabarata atau Ramayana dengan aktor dan aktris dari Jepang, Kanada, Norwegia—tentu bahasanya bukan Sanskrit, tapi Inggris.

Masalahnya, bahasa adalah representasi. Ketika Nolan memilih untuk membuat Odysseus bicara dalam bahasa Inggris, maka ia memaksa Raja Ithaca itu untuk menetap di tempat yang jauh dari Laut Ionia menuju tempat yang bukan dunianya—dari pulau berbatu di lepas pantai barat Yunani yang jadi seluruh alasan pengembaraannya.

Salah satu adegan dalam film The Odyssey. | Tangkapan layar: YouTube/Universal Pictures

Bolehlah Nolan membela diri, “Yang bisa saya lakukan hanyalah membuat film terbaik yang sanggup saya buat, sepenuh hati. Hasilnya tentu akan sangat berbeda dari cara orang lain mengadaptasinya. Namun, begitulah adaptasi,” kata Nolan pada The Telegraph (10/7/2026). Katanya lagi, “Yang harus dilakukan adalah menghormati teks aslinya dengan menafsirkannya sebaik mungkin, menurut pemahaman dan keyakinanmu sendiri.” Dan bagi Nolan, ia telah melakukannya sebaik-baiknya; setulus-tulusnya.

Saya menyangsikan bahwa Nolan betul-betul menghormati Homer. Agaknya penghormatannya pada Odyssey hanya sebatas penghormatan pada narasi dan bukan terhadap kebudayaan yang melahirkan narasi itu.

Jika ia menghormati epos Homer ini “dengan menafsirkannya sebaik mungkin”, maka besar kemungkinan kita tidak akan melihat Odysseus bicara Inggris atau diperankan oleh Matt Damon. Lalu, mungkin saja kita akan melihat porsi aktor dan aktris Yunani—seenggaknya Mediterranean—yang lebih banyak daripada deretan cast Germanic, Asian, Latinos, dan Africans yang menghiasi The Odyssey.

Tapi “ya begitulah adaptasi” dan The Odyssey adalah tafsir Nolan tentang Odyssey yang ia kerjakan menurut pemahaman dan keyakinannya sendiri “dengan sepenuh hati”.

Tidak Semuanya Harus Menjadi Amrik

The Odyssey bukan film pertama yang tidak setia pada konteks budaya sebuah cerita berasal. Troy (Wolfgang Petersen, 2004), Alexander (Oliver Stone, 2004), 300 (Zack Snyder, 2006), Exodus: Gods and Kings (Ridley Scott, 2014), The Great Wall (Zhang Yimou, 2016) telah lebih dulu dikritik karena dianggap mencerabut budaya yang menjadi konteks sebuah cerita. Daftar tersebut tentu bukan daftar lengkap Amerikanisasi yang dilakukan Hollywood dan tentu jumlah tersebut bisa makin mengular.

Odysseus (Matt Damon) dalam film The Odyssey | Tangkapan layar: YouTube/Universal Pictures

Mitos dan budaya yang menjadi sumber kisah yang dialihwahanakan menjadi sinema itu seakan-akan hanya remahan—receh tak berarti—di mata industri skala besar seperti Hollywood. Alih-alih memperdalam bagaimana kosmologi Yunani dan mitos para dewa yang ada, misalnya, sutradara Hollywood lebih memilih berbicara dengan bahasa yang mereka asumsikan lebih universal.

Dan adaptasi demikianlah yang oleh Nolan sebut sebagai “menafsirkannya sebaik mungkin, menurut pemahaman dan keyakinanmu sendiri”.

Tapi, apakah kemudian semua produk Hollywood mencerabut budaya yang menjadi konteks cerita sebuah film? Ya tentu tidak, beberapa setia—setidaknya mencoba setia—pada konteks budaya yang melatarbelakangi cerita. Ya, walaupun tetap ada kontroversi di sana-sini.

Apocalypto (Mel Gibson, 2006) dan Killers of the Flower Moon (Martin Scorsese, 2023) jadi dua contoh film yang setidaknya mencoba setia pada konteks budaya.

Gibson dalam Apocalypto menggunakan bahasa Yucatec Maya dan berkonsultasi dengan arkeolog Richard Hansen. Ia juga tidak menggunakan nama besar dalam Apocalypto. Banyak dari mereka belum pernah bermain untuk layar lebar dan tidak memiliki pengalaman berakting. Daftar pemainnya kebanyakan adalah keturunan pribumi Amerika. Bahkan, Rudy Youngblood yang berperan sebagai Jaguar Paw bukan aktor penuh waktu dan bekerja sebagai buruh sebelum ikut audisi Apocalypto.

Scorsese juga memilih untuk menggunakan pendekatan yang hampir sama dalam Killers of the Flower Moon. Ia memutuskan bahwa Osage adalah pusat dari narasi filmnya. Memilih Lily Gladstone menjadi aktris utamanya untuk berperan sebagai Mollie Kyle. Lily adalah pribumi Amerika yang tumbuh besar di Reservasi Blackfeet.

Penelope (Anne Hathaway) dalam film The Odyssey. | Tangkapan layar: YouTube/Universal Pictures

Killers of the Flower Moon punya tempat tersendiri bagi saya. Sepanjang durasi 3 jam 26 menit itu saya setidaknya menangis tiga kali. Pahit dan pedihnya Mollie menjalani kehidupan di tengah keserakahan dan kebengisan manusia betul-betul tampak nyata. Dan saya yakin salah satu alasannya karena Lily adalah pribumi Amerika—yang punya sejarah panjang tragedi kemanusiaan.

Meski demikian, kedua film tersebut juga tidak lepas dari kritik. Keduanya dianggap belum seratus persen merepresentasikan budaya yang menjadi latar cerita. Karena baik Gibson atau Scorsese dianggap sebagai suara perantara, tidak memiliki ikatan terhadap budaya yang mereka tampilkan lewat layar sinema.

Tapi, setidaknya mereka telah mencoba untuk setia. Sesuatu yang tidak betul-betul diusahakan oleh Nolan dalam The Odyssey.

Dimensi kepulangan (nostos) yang menjadi inti dari perjalanan Odysseus tampil tipis saja. Saya juga tidak melihat lapisan emosi yang tebal; kesombongan Odysseus, arogansinya, dan nafsunya pada dunia—sesuatu yang harusnya terbaca karena itulah pusat narasi Odyssey.

Memang secara audiovisual, The Odyssey sangatlah megah. Bagaimana tidak, biaya pembuatannya saja menghabiskan 250 juta USD (sekitar Rp4,4 triliun). Syutingnya menggunakan IMAX 70 mm—full sepanjang film. Komposer Ludwig Goransson butuh sembilan bulan dan tiga puluh lima gong berbagai jenis untuk menghasilkan scoring yang membuat kaki saya bergetar di dalam bioskop. Sungguh megah dan ya memang sudah seharusnya megah.

Tapi tetap saja, kemegahan tersebut tak bisa membuat saya tidak berulang kali mengernyitkan dahi: dialognya, kostumnya, dan ketidakcocokan yang timbul karena Nolan tidak setia pada konteks budaya yang melatarbelakangi Odyssey.

Salah satu adegan dalam film The Odyssey. | Tangkapan layar: YouTube/Universal Pictures

Odysseus akhirnya pulang ke Ithaca setelah dua puluh tahun pengembaraan. Ia menebus kesombongannya di hadapan para dewa, membayar keangkuhannya dengan derita dan kehilangan orang-orang yang menyertainya, sebelum diterima kembali oleh Penelope. Ia menuntaskan sayembara busur, menembus dua belas mata kapak yang tak sanggup dilakukan pelamar mana pun, lalu—dengan Telemachus dan penggembala setianya—menghabisi seluruh pelamar yang bertahun-tahun memanfaatkan hukum keramahtamahan tamu (xenia) di aula istananya sendiri. Dan begitulah, Penelope menerimanya kembali setelah ujian ranjang zaitun—sesuatu yang hanya suaminya yang tahu.

Nolan tidak memberikan itu pada kita—pada penonton. Dalam dunia yang ia bangun, Ithaca hanyalah nama sebuah kerajaan yang ia ambil untuk filmnya, bukan rumah—tempat di mana hasrat pulang Odysseus menggebu begitu kuatnya. [T]

Penulis: Bayu Wira Handyan
Editor: Adnyana Ole

Tags: filmMatt DamonThe OdysseyUlasan Film
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Agung Pramana Hadirkan “After Exotic 1931” di ARTJOG 2026 —Menelisik Jejak Kolonial di Balik Eksotisme Bali

Next Post

Langsung ke Intinya: Siapa Juara Piala Dunia?

Bayu Wira Handyan

Bayu Wira Handyan

Biasa-biasa saja

Related Posts

 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki

by Wisnu Oktaditya
October 9, 2026
0
 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki

SUDAH bertahun-tahun semenjak film ini lahir, saya tak pernah sekalipun menonton film-film Ghibli. Karena terhalang kendala biaya, juga karena saya...

Read moreDetails

Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12

by Yoga Wismantara
September 24, 2026
0
Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12

SAYA saya masih duduk di bangku SMP, saya pernah bertanya pada diri sendiri, “Apa yang akan terjadi jika saya bisa...

Read moreDetails

Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998

by Arya Dhamma Nanda
September 24, 2026
0
Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998

PERKEMBANGAN ekonomi dalam masyarakat biasanya memicu berbagai perubahan pada pasar yang kemudian berdampak pada kehidupan masyarakat dan lingkungan di sekitarnya....

Read moreDetails

Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi

by Arya Dhamma Nanda
September 21, 2026
0
Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi

ENIGMA adalah program kompilasi film pendek dalam ajang Minikino Film Week 12 (MFW12) yang mengusung subjudul What Goes Around Comes...

Read moreDetails

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
0
SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

Read moreDetails

“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

by Satria Aditya
August 7, 2026
0
“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

ADA satu hal yang langsung terasa begitu duduk menonton Tung Tung Uma, bagaimana Amrita Dharma memetakan setiap adegannya dengan begitu...

Read moreDetails

“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

by Angga Wijaya
July 31, 2026
0
“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

MALAM itu, gelap menggantung di langit Pantai Melasti, Ungasan, Badung, Bali. Debur ombak bersahutan dengan suara "cak... cak... cak..." yang...

Read moreDetails

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

by Satria Aditya
June 1, 2026
0
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

Read moreDetails

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
0
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

Read moreDetails

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026
0
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

Read moreDetails
Next Post
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

Langsung ke Intinya: Siapa Juara Piala Dunia?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Legenda Warung Kopi Tak Bernama di Kota Pelabuhan, Seberang Gardu Listrik Belanda
Kuliner

Legenda Warung Kopi Tak Bernama di Kota Pelabuhan, Seberang Gardu Listrik Belanda

PAGI-PAGI, Jalan Surapati di Singaraja memiliki kehidupan yang berbeda. Di antara bangunan-bangunan tua yang menyimpan ingatan masa kolonial, ada sebuah...

by I Wayan Artika
October 31, 2026
Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung
Panggung

Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung

HUJAN deras mengguyur Ubud pada Sabtu sore, 24 Oktober 2026. Namun, di Rumah Kayu, Taman Baca Ubud, suasana tetap hangat...

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?
Esai

Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

ADA satu hari ketika buku-buku diupacarai. Buku pelajaran, buku cerita, kitab suci, hingga lontar-lontar tua mendapat perlakuan istimewa. Semuanya ditata...

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan
Esai

Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan

BALI dikenal sebagai Pulau Dewata, sebuah pulau yang tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga kekayaan tradisi, spiritualitas, dan nilai-nilai...

by Luh Irma Susanthi
October 31, 2026
Taman Pecangakan Disulap Jadi Playground Kreatif, Jembrana Creative Festival Digelar Dua Hari
Budaya

Taman Pecangakan Disulap Jadi Playground Kreatif, Jembrana Creative Festival Digelar Dua Hari

AKHIR pekan ini, Taman Pecangakan di jantung Kota Negara, Jembrana, punya agenda yang berbeda dari biasanya. Selama dua hari, Sabtu–Minggu,...

by tatkala
October 30, 2026
Belanda Menyebutnya Ekspedisi, Bali Menyebutnya Agresi: Pertarungan Narasi tentang Perang di Bali 1846-1950 — Dari Tur dan Diskusi Buku “Merebut Bali” karya Anne-Lot Hoek
Khas

Belanda Menyebutnya Ekspedisi, Bali Menyebutnya Agresi: Pertarungan Narasi tentang Perang di Bali 1846-1950 — Dari Tur dan Diskusi Buku “Merebut Bali” karya Anne-Lot Hoek

SETIDAKNYA 7,05 juta wisatawan mancanegara melintasi pintu gerbang Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai setiap tahunnya. Bali telah lama...

by Wahyu Mahaputra
October 30, 2026
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik
Esai

Di Ruang Tunggu Kehidupan

PAGI itu, saya kembali terbangun dengan pikiran yang sama: hari ini harus ke rumah sakit mana lagi? Hampir setengah tahun...

by Ahmad Sihabudin
October 30, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Elegi Rumah Pusaka Bernama Papua

SIDANG pembaca yang budiman, saya mengajak anda semua main ke sebuah rumah yang sangat luas. Rumah ini sangat asri, halamannya...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 30, 2026
Pekan CERIA di Jimbaran, Merawat Alam dan Budaya dari Imajinasi Anak-Anak
Khas

Pekan CERIA di Jimbaran, Merawat Alam dan Budaya dari Imajinasi Anak-Anak

WAJAH-wajah polos penuh semangat memenuhi Jimbaran Hub, Kuta Selatan, Badung, Bali, pada Kamis pagi, 29 Oktober 2026. Sisa air hujan...

by Nyoman Budarsana
October 30, 2026
Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu
Esai

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

Potensi Manusia dan Lingkungan yang Membentuknya Kisah Alvin Tedjo menarik untuk direnungkan, bukan semata-mata karena ia merupakan keturunan Indonesia yang...

by Agung Sudarsa
October 29, 2026
Menulis yang Tak Tertahankan, Menyuarakan yang Terbungkam
Panggung

Menulis yang Tak Tertahankan, Menyuarakan yang Terbungkam

BAGAIMANA menuliskan luka yang sulit diungkapkan? Ketika trauma, kehilangan, dan ketidakadilan terasa begitu berat, mampukah kata-kata menggambarkan pengalaman yang menyakitkan...

by Dede Putra Wiguna
October 29, 2026
Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia
Panggung

Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia

PERAGAAN busana yang mengusung konsep tekstil berkelanjutan tampil memikat dalam Labdanation Fashion Week Season III di panggung terbuka Sira Village,...

by Nyoman Budarsana
October 29, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co