13 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

Rana Nasyitha by Rana Nasyitha
January 24, 2026
in Ulas Film
Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

Jaya dan Laras di film Surat Dari Praha (2016) | Gambar : Netflix

WAKTU itu saya melihat judul film ini di sebuah aplikasi/platform streaming lokal. Di antara kumpulan film indonesia lainnya, Surat Dari Praha cukup mengambil perhatian saya karena film ini disutradarai oleh sutradara ternama Indonesia yakni Angga Dwimas Sasongko (Sutradara dari film Mencuri Raden Saleh (2022), Filosofi Kopi (2015), dan lainnya). Wah, setelah tahu itu tanpa pikir panjang saya putuskan untuk menonton Surat Dari Praha saat itu juga.

Surat Dari Praha rilis pada tahun 2016, film dengan genre romantis/drama, berdurasi 1 jam 37 menit. Cerita inti film Surat Dari Praha sebenarnya cukup sederhana. Seorang perempuan bernama Larasati atau dipanggil Laras (diperankan Julie Estelle) yang sangat terdesak memerlukan warisan dari Ibunya yang baru saja meninggal. Syarat yang diberikan sang Ibu melalui surat wasiat untuk Laras mendapat warisan itu adalah dengan mengantarkan sebuah kotak berisi surat-surat kepada seorang laki-laki bernama Jaya (diperankan Tio Pakusadewo) di Praha, Ceko dan mendapatkan tanda tangan Jaya sebagai bukti terima.

Awalnya, saya kira perjalanan Laras mencari Jaya akan sangat mulus dan penuh nostalgia hangat. Tapi ternyata perjalanan Laras cukup memprihatinkan. Usahanya mengantarkan kotak berisi surat-surat dan mendapatkan tanda tangan Jaya bukanlah hal mudah bagi Laras yang keras kepala.

Di pertengahan film, saya berusaha memahami karakter Laras dan Jaya. Laras adalah perempuan berkepala batu dan dingin. Saya pikir, kalau Laras bisa lebih sopan dan lembut pasti semuanya tidak akan seburuk itu. Tapi setelah dipikir-pikir, emosi Laras bisa dimengerti karena dia mungkin sedang kebingungan tentang “Siapa sih Bapak-bapak bernama Jaya ini? Kenapa dia jadi syarat buat gue dapet warisan Ibu gue?” dan ia pasti merasa putus asa karena tanpa warisan itu, Laras tidak memiliki apa pun.

Sedangkan Jaya, adalah seorang laki-laki yang hidup dengan hanya ditemani oleh anjingnya bernama Bagong, di sebuah apartemen tua di Praha. Sama seperti Laras, Jaya memiliki karakter yang tegas dan keras. Terlihat dari caranya memperlakukan Laras dari sejak pertama kali Laras menemuinya di awal film.

Setelah melewati beberapa kali adu mulut dengan berbagai macam argumen dan kejadian tidak terduga yang dialami keduanya.

Sedikit demi sedikit, keduanya mulai melunak dan perlahan-lahan Jaya mulai membuka diri dengan menceritakan kisah hidupnya. Jaya, Laki-laki yang berasal dari Indonesia namun tidak lagi memiliki kewarganegaraannya.

Surat dari Praha mulai memperlihatkan bumbu-bumbu sejarah melalui nostalgia hidup Jaya. Tepatnya Peristiwa 1965, sebuah sejarah yang menjadi peristiwa pelanggaran berat terhadap Hak Asasi Manusia yang telah mengambil banyak sekali korban warga negara Indonesia. Termasuk dengan pencabutan status kewarganegaraan yang memaksa mereka tidak bisa kembali ke tanah air.

Jaya adalah salah satu korban dari mereka yang menjadi eksil politik yang harus terasingkan oleh negaranya sendiri dan menjadi stateless (tidak memiliki kewarganegaraan). Pada tahun 60-an, presiden Soekarno mengirim beberapa pelajar Indonesia dengan memberikan beasiswa untuk menempuh pendidikan di luar negeri, salah satunya Praha.

Hingga pada tahun 1965 ketika Orde Baru, para pelajar diminta untuk menunjukkan kesetiaan dan menunjukkan pilihan politik mereka. In this case, Jaya adalah salah satu dari pelajar yang menolak pemerintahan orde baru dan memilih menetap di Praha. Mereka yang menolak, kehilangan izin paspor dan kewarganegaraan sehingga tidak bisa kembali ke Indonesia.

Selama Jaya bercerita kepada Laras bahwa banyak sekali hal yang pada akhirnya harus Ia relakan karena pilihan politik tegasnya itu. Bagaimana Ia merasa dipatahkan oleh negaranya sendiri, dan akhirnya bertahan hidup sendiri di negara orang. Lalu apa hubungannya Jaya dengan Laras dan kotak surat-surat itu sampai Jaya menjadi syarat dari warisan Ibu laras? Jawabannya nonton sendiri karena saya tidak mau spoiler seluruhnya, hehe.

Film ini tidak begitu membahas secara mendalam peristiwa sejarahnya, namun saya pikir memang bukan tujuan utama film ini untuk deep dive membahas sejarah. Cukup terbawa emosional dengan obrolan antara Jaya dan Laras ketika keduanya mencoba saling memahami satu sama lain.

Terdapat scene yang cukup menarik perhatian saya dimana Jaya mengundang teman-temannya yang memiliki nasib serupa dan mereka bernyanyi bersama menyanyikan “Indonesia Pusaka”, memperlihatkan bahwa mereka yang bernasib sama bisa saling menjaga dan menguatkan satu sama lain.

Penyampaian film ini sangat halus dan pelan. Jumlah karakternya hanya sedikit tapi ngena. Menurut saya, pilihan yang tepat memilih Tio Pakusadewo yang sangat karismatik untuk memerankan karakter Jaya. Mungkin chemistry antara pemeran dibangun dengan baik sehingga film sederhana ini cukup meninggalkan kesan bagi saya. Tidak semua orang menyukai karakteristik film yang lambat dan banyak obrolan seperti ini, tapi bagi saya film ini bisa menarik perhatian untuk mengajak penonton setidaknya menjadi penasaran dengan sejarah Indonesia.

Melalui Surat Dari Praha yang memperlihatkan sisi lain dari sejarah kelam 1965, saya sebagai penonton turut terpikirkan dengan kondisi korban-korban yang mungkin hingga saat ini masih berusaha ikhlas merelakan banyak hal karena ketidakadilan kala itu.

Meskipun hanya dibuat sebagai film fiksi, latar sejarah yang diceritakan film ini adalah sebuah kenyataan yang benar-benar terjadi dan dialami orang-orang di luar sana. Semoga mereka dalam kondisi sehat dan baik-baik saja di mana pun mereka berada. Kita dapat belajar bahwa peristIwa-peristiwa dalam buku sejarah bukan sekadar tulisan, tapi peristiwa-peristiwa itu menjadi bentuk pelajaran untuk kita sebagai warga negara Indonesia untuk direnungkan. [T]

Penulis: Rana Nasyitha
Editor: Adnyana Ole

Tags: filmFilm IndonesiaG30SKomunisPolitikPrahaUlasan Film
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menilik Drama Musikal Rempeg di Perayaan 254 Tahun Banyuwangi

Next Post

Cegah Bunuh Diri di Tanah Dewata —Ini Seruan di Tengah Badai Digital

Rana Nasyitha

Rana Nasyitha

Pembaca dan Penggemar Film

Related Posts

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
0
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

Read moreDetails

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026
0
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

Read moreDetails

Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

by Made Adnyana
May 6, 2026
0
Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

TIDAK banyak film biografi mampu merangkum kehidupan seorang musisi besar secara utuh. Ada yang memilih merayakan, ada pula yang mencoba...

Read moreDetails

Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

by Jaswanto
March 28, 2026
0
Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

SEJAK menonton video promosi singkatnya di media sosial, saya tahu bahwa Hoppers (2026) bukan sekadar film animasi yang diperuntukkan untuk...

Read moreDetails

Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

by Agung Kesawa Kevalam
February 12, 2026
0
Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

ADA jenis cinta yang datang untuk menemani, dan banyak juga yang datang untuk mengingatkan. Itulah kesan yang saya dapatkan ketika...

Read moreDetails

Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

by Ahmad Sihabudin
January 23, 2026
0
Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

BAGI generasi yang tumbuh sebelum jalan tol Trans Jawa rampung, nama Alas Roban bukan sekadar penanda geografis. Ia adalah kata...

Read moreDetails

Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup? — Tanggapan untuk Jaswanto

by Angga Wijaya
January 21, 2026
0
Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup?  — Tanggapan untuk Jaswanto

PADA esai Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial (Tatkala.co, 16 Januari 2026), saya sepakat dengan Jaswanto, sang penulis, dalam...

Read moreDetails

Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

by Jaswanto
January 16, 2026
0
Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

SEORANG pria muda jomlo dan kurang mampu dari zaman modern entah bagaimana ceritanya bisa melintasi waktu dan masuk ke tubuh...

Read moreDetails

Film Pendek ‘Anuja’: Ketika Mimpi Sekolah Harus Berhadapan dengan Realitas Pekerja Anak

by Dian Suryantini
January 13, 2026
0
Film Pendek ‘Anuja’: Ketika Mimpi Sekolah Harus Berhadapan dengan Realitas Pekerja Anak

FILM pendek Anuja terasa seperti tamparan pelan tapi tepat sasaran. Film ini tidak berisik. Tapi berhasil membuat penontonnya terngiang. Saya...

Read moreDetails

Drama “Taxi Driver” dan Fantasi Keadilan Netizen Indonesia

by Jaswanto
December 18, 2025
0
Drama “Taxi Driver” dan Fantasi Keadilan Netizen Indonesia

ADA sebuah komentar dari netizen―yang saya lupa entah di mana―tentang drama Korea (drakor) berjudul “Taxi Driver”. Komentar itu begini, “Seandainya...

Read moreDetails
Next Post
Cegah Bunuh Diri di Tanah Dewata —Ini Seruan di Tengah Badai Digital

Cegah Bunuh Diri di Tanah Dewata ---Ini Seruan di Tengah Badai Digital

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co