13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

Rana Nasyitha by Rana Nasyitha
January 24, 2026
in Ulas Film
Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

Jaya dan Laras di film Surat Dari Praha (2016) | Gambar : Netflix

WAKTU itu saya melihat judul film ini di sebuah aplikasi/platform streaming lokal. Di antara kumpulan film indonesia lainnya, Surat Dari Praha cukup mengambil perhatian saya karena film ini disutradarai oleh sutradara ternama Indonesia yakni Angga Dwimas Sasongko (Sutradara dari film Mencuri Raden Saleh (2022), Filosofi Kopi (2015), dan lainnya). Wah, setelah tahu itu tanpa pikir panjang saya putuskan untuk menonton Surat Dari Praha saat itu juga.

Surat Dari Praha rilis pada tahun 2016, film dengan genre romantis/drama, berdurasi 1 jam 37 menit. Cerita inti film Surat Dari Praha sebenarnya cukup sederhana. Seorang perempuan bernama Larasati atau dipanggil Laras (diperankan Julie Estelle) yang sangat terdesak memerlukan warisan dari Ibunya yang baru saja meninggal. Syarat yang diberikan sang Ibu melalui surat wasiat untuk Laras mendapat warisan itu adalah dengan mengantarkan sebuah kotak berisi surat-surat kepada seorang laki-laki bernama Jaya (diperankan Tio Pakusadewo) di Praha, Ceko dan mendapatkan tanda tangan Jaya sebagai bukti terima.

Awalnya, saya kira perjalanan Laras mencari Jaya akan sangat mulus dan penuh nostalgia hangat. Tapi ternyata perjalanan Laras cukup memprihatinkan. Usahanya mengantarkan kotak berisi surat-surat dan mendapatkan tanda tangan Jaya bukanlah hal mudah bagi Laras yang keras kepala.

Di pertengahan film, saya berusaha memahami karakter Laras dan Jaya. Laras adalah perempuan berkepala batu dan dingin. Saya pikir, kalau Laras bisa lebih sopan dan lembut pasti semuanya tidak akan seburuk itu. Tapi setelah dipikir-pikir, emosi Laras bisa dimengerti karena dia mungkin sedang kebingungan tentang “Siapa sih Bapak-bapak bernama Jaya ini? Kenapa dia jadi syarat buat gue dapet warisan Ibu gue?” dan ia pasti merasa putus asa karena tanpa warisan itu, Laras tidak memiliki apa pun.

Sedangkan Jaya, adalah seorang laki-laki yang hidup dengan hanya ditemani oleh anjingnya bernama Bagong, di sebuah apartemen tua di Praha. Sama seperti Laras, Jaya memiliki karakter yang tegas dan keras. Terlihat dari caranya memperlakukan Laras dari sejak pertama kali Laras menemuinya di awal film.

Setelah melewati beberapa kali adu mulut dengan berbagai macam argumen dan kejadian tidak terduga yang dialami keduanya.

Sedikit demi sedikit, keduanya mulai melunak dan perlahan-lahan Jaya mulai membuka diri dengan menceritakan kisah hidupnya. Jaya, Laki-laki yang berasal dari Indonesia namun tidak lagi memiliki kewarganegaraannya.

Surat dari Praha mulai memperlihatkan bumbu-bumbu sejarah melalui nostalgia hidup Jaya. Tepatnya Peristiwa 1965, sebuah sejarah yang menjadi peristiwa pelanggaran berat terhadap Hak Asasi Manusia yang telah mengambil banyak sekali korban warga negara Indonesia. Termasuk dengan pencabutan status kewarganegaraan yang memaksa mereka tidak bisa kembali ke tanah air.

Jaya adalah salah satu korban dari mereka yang menjadi eksil politik yang harus terasingkan oleh negaranya sendiri dan menjadi stateless (tidak memiliki kewarganegaraan). Pada tahun 60-an, presiden Soekarno mengirim beberapa pelajar Indonesia dengan memberikan beasiswa untuk menempuh pendidikan di luar negeri, salah satunya Praha.

Hingga pada tahun 1965 ketika Orde Baru, para pelajar diminta untuk menunjukkan kesetiaan dan menunjukkan pilihan politik mereka. In this case, Jaya adalah salah satu dari pelajar yang menolak pemerintahan orde baru dan memilih menetap di Praha. Mereka yang menolak, kehilangan izin paspor dan kewarganegaraan sehingga tidak bisa kembali ke Indonesia.

Selama Jaya bercerita kepada Laras bahwa banyak sekali hal yang pada akhirnya harus Ia relakan karena pilihan politik tegasnya itu. Bagaimana Ia merasa dipatahkan oleh negaranya sendiri, dan akhirnya bertahan hidup sendiri di negara orang. Lalu apa hubungannya Jaya dengan Laras dan kotak surat-surat itu sampai Jaya menjadi syarat dari warisan Ibu laras? Jawabannya nonton sendiri karena saya tidak mau spoiler seluruhnya, hehe.

Film ini tidak begitu membahas secara mendalam peristiwa sejarahnya, namun saya pikir memang bukan tujuan utama film ini untuk deep dive membahas sejarah. Cukup terbawa emosional dengan obrolan antara Jaya dan Laras ketika keduanya mencoba saling memahami satu sama lain.

Terdapat scene yang cukup menarik perhatian saya dimana Jaya mengundang teman-temannya yang memiliki nasib serupa dan mereka bernyanyi bersama menyanyikan “Indonesia Pusaka”, memperlihatkan bahwa mereka yang bernasib sama bisa saling menjaga dan menguatkan satu sama lain.

Penyampaian film ini sangat halus dan pelan. Jumlah karakternya hanya sedikit tapi ngena. Menurut saya, pilihan yang tepat memilih Tio Pakusadewo yang sangat karismatik untuk memerankan karakter Jaya. Mungkin chemistry antara pemeran dibangun dengan baik sehingga film sederhana ini cukup meninggalkan kesan bagi saya. Tidak semua orang menyukai karakteristik film yang lambat dan banyak obrolan seperti ini, tapi bagi saya film ini bisa menarik perhatian untuk mengajak penonton setidaknya menjadi penasaran dengan sejarah Indonesia.

Melalui Surat Dari Praha yang memperlihatkan sisi lain dari sejarah kelam 1965, saya sebagai penonton turut terpikirkan dengan kondisi korban-korban yang mungkin hingga saat ini masih berusaha ikhlas merelakan banyak hal karena ketidakadilan kala itu.

Meskipun hanya dibuat sebagai film fiksi, latar sejarah yang diceritakan film ini adalah sebuah kenyataan yang benar-benar terjadi dan dialami orang-orang di luar sana. Semoga mereka dalam kondisi sehat dan baik-baik saja di mana pun mereka berada. Kita dapat belajar bahwa peristIwa-peristiwa dalam buku sejarah bukan sekadar tulisan, tapi peristiwa-peristiwa itu menjadi bentuk pelajaran untuk kita sebagai warga negara Indonesia untuk direnungkan. [T]

Penulis: Rana Nasyitha
Editor: Adnyana Ole

Tags: filmFilm IndonesiaG30SKomunisPolitikPrahaUlasan Film
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menilik Drama Musikal Rempeg di Perayaan 254 Tahun Banyuwangi

Next Post

Cegah Bunuh Diri di Tanah Dewata —Ini Seruan di Tengah Badai Digital

Rana Nasyitha

Rana Nasyitha

Pembaca dan Penggemar Film

Related Posts

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

by Satria Aditya
June 1, 2026
0
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

Read moreDetails

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
0
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

Read moreDetails

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026
0
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

Read moreDetails

Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

by Made Adnyana
May 6, 2026
0
Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

TIDAK banyak film biografi mampu merangkum kehidupan seorang musisi besar secara utuh. Ada yang memilih merayakan, ada pula yang mencoba...

Read moreDetails

Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

by Jaswanto
March 28, 2026
0
Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

SEJAK menonton video promosi singkatnya di media sosial, saya tahu bahwa Hoppers (2026) bukan sekadar film animasi yang diperuntukkan untuk...

Read moreDetails

Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

by Agung Kesawa Kevalam
February 12, 2026
0
Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

ADA jenis cinta yang datang untuk menemani, dan banyak juga yang datang untuk mengingatkan. Itulah kesan yang saya dapatkan ketika...

Read moreDetails

Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

by Ahmad Sihabudin
January 23, 2026
0
Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

BAGI generasi yang tumbuh sebelum jalan tol Trans Jawa rampung, nama Alas Roban bukan sekadar penanda geografis. Ia adalah kata...

Read moreDetails

Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup? — Tanggapan untuk Jaswanto

by Angga Wijaya
January 21, 2026
0
Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup?  — Tanggapan untuk Jaswanto

PADA esai Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial (Tatkala.co, 16 Januari 2026), saya sepakat dengan Jaswanto, sang penulis, dalam...

Read moreDetails

Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

by Jaswanto
January 16, 2026
0
Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

SEORANG pria muda jomlo dan kurang mampu dari zaman modern entah bagaimana ceritanya bisa melintasi waktu dan masuk ke tubuh...

Read moreDetails

Film Pendek ‘Anuja’: Ketika Mimpi Sekolah Harus Berhadapan dengan Realitas Pekerja Anak

by Dian Suryantini
January 13, 2026
0
Film Pendek ‘Anuja’: Ketika Mimpi Sekolah Harus Berhadapan dengan Realitas Pekerja Anak

FILM pendek Anuja terasa seperti tamparan pelan tapi tepat sasaran. Film ini tidak berisik. Tapi berhasil membuat penontonnya terngiang. Saya...

Read moreDetails
Next Post
Cegah Bunuh Diri di Tanah Dewata —Ini Seruan di Tengah Badai Digital

Cegah Bunuh Diri di Tanah Dewata ---Ini Seruan di Tengah Badai Digital

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual
Pameran

Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual

PERUPA Bali Made Wiradana kembali menegaskan perjalanan artistiknya melalui pameran tunggal bertajuk Kacatri yang digelar di Santrian Art Gallery, Sanur....

by I Gede Made Surya Darma
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co