2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

Rana Nasyitha by Rana Nasyitha
January 24, 2026
in Ulas Film
Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

Jaya dan Laras di film Surat Dari Praha (2016) | Gambar : Netflix

WAKTU itu saya melihat judul film ini di sebuah aplikasi/platform streaming lokal. Di antara kumpulan film indonesia lainnya, Surat Dari Praha cukup mengambil perhatian saya karena film ini disutradarai oleh sutradara ternama Indonesia yakni Angga Dwimas Sasongko (Sutradara dari film Mencuri Raden Saleh (2022), Filosofi Kopi (2015), dan lainnya). Wah, setelah tahu itu tanpa pikir panjang saya putuskan untuk menonton Surat Dari Praha saat itu juga.

Surat Dari Praha rilis pada tahun 2016, film dengan genre romantis/drama, berdurasi 1 jam 37 menit. Cerita inti film Surat Dari Praha sebenarnya cukup sederhana. Seorang perempuan bernama Larasati atau dipanggil Laras (diperankan Julie Estelle) yang sangat terdesak memerlukan warisan dari Ibunya yang baru saja meninggal. Syarat yang diberikan sang Ibu melalui surat wasiat untuk Laras mendapat warisan itu adalah dengan mengantarkan sebuah kotak berisi surat-surat kepada seorang laki-laki bernama Jaya (diperankan Tio Pakusadewo) di Praha, Ceko dan mendapatkan tanda tangan Jaya sebagai bukti terima.

Awalnya, saya kira perjalanan Laras mencari Jaya akan sangat mulus dan penuh nostalgia hangat. Tapi ternyata perjalanan Laras cukup memprihatinkan. Usahanya mengantarkan kotak berisi surat-surat dan mendapatkan tanda tangan Jaya bukanlah hal mudah bagi Laras yang keras kepala.

Di pertengahan film, saya berusaha memahami karakter Laras dan Jaya. Laras adalah perempuan berkepala batu dan dingin. Saya pikir, kalau Laras bisa lebih sopan dan lembut pasti semuanya tidak akan seburuk itu. Tapi setelah dipikir-pikir, emosi Laras bisa dimengerti karena dia mungkin sedang kebingungan tentang “Siapa sih Bapak-bapak bernama Jaya ini? Kenapa dia jadi syarat buat gue dapet warisan Ibu gue?” dan ia pasti merasa putus asa karena tanpa warisan itu, Laras tidak memiliki apa pun.

Sedangkan Jaya, adalah seorang laki-laki yang hidup dengan hanya ditemani oleh anjingnya bernama Bagong, di sebuah apartemen tua di Praha. Sama seperti Laras, Jaya memiliki karakter yang tegas dan keras. Terlihat dari caranya memperlakukan Laras dari sejak pertama kali Laras menemuinya di awal film.

Setelah melewati beberapa kali adu mulut dengan berbagai macam argumen dan kejadian tidak terduga yang dialami keduanya.

Sedikit demi sedikit, keduanya mulai melunak dan perlahan-lahan Jaya mulai membuka diri dengan menceritakan kisah hidupnya. Jaya, Laki-laki yang berasal dari Indonesia namun tidak lagi memiliki kewarganegaraannya.

Surat dari Praha mulai memperlihatkan bumbu-bumbu sejarah melalui nostalgia hidup Jaya. Tepatnya Peristiwa 1965, sebuah sejarah yang menjadi peristiwa pelanggaran berat terhadap Hak Asasi Manusia yang telah mengambil banyak sekali korban warga negara Indonesia. Termasuk dengan pencabutan status kewarganegaraan yang memaksa mereka tidak bisa kembali ke tanah air.

Jaya adalah salah satu korban dari mereka yang menjadi eksil politik yang harus terasingkan oleh negaranya sendiri dan menjadi stateless (tidak memiliki kewarganegaraan). Pada tahun 60-an, presiden Soekarno mengirim beberapa pelajar Indonesia dengan memberikan beasiswa untuk menempuh pendidikan di luar negeri, salah satunya Praha.

Hingga pada tahun 1965 ketika Orde Baru, para pelajar diminta untuk menunjukkan kesetiaan dan menunjukkan pilihan politik mereka. In this case, Jaya adalah salah satu dari pelajar yang menolak pemerintahan orde baru dan memilih menetap di Praha. Mereka yang menolak, kehilangan izin paspor dan kewarganegaraan sehingga tidak bisa kembali ke Indonesia.

Selama Jaya bercerita kepada Laras bahwa banyak sekali hal yang pada akhirnya harus Ia relakan karena pilihan politik tegasnya itu. Bagaimana Ia merasa dipatahkan oleh negaranya sendiri, dan akhirnya bertahan hidup sendiri di negara orang. Lalu apa hubungannya Jaya dengan Laras dan kotak surat-surat itu sampai Jaya menjadi syarat dari warisan Ibu laras? Jawabannya nonton sendiri karena saya tidak mau spoiler seluruhnya, hehe.

Film ini tidak begitu membahas secara mendalam peristiwa sejarahnya, namun saya pikir memang bukan tujuan utama film ini untuk deep dive membahas sejarah. Cukup terbawa emosional dengan obrolan antara Jaya dan Laras ketika keduanya mencoba saling memahami satu sama lain.

Terdapat scene yang cukup menarik perhatian saya dimana Jaya mengundang teman-temannya yang memiliki nasib serupa dan mereka bernyanyi bersama menyanyikan “Indonesia Pusaka”, memperlihatkan bahwa mereka yang bernasib sama bisa saling menjaga dan menguatkan satu sama lain.

Penyampaian film ini sangat halus dan pelan. Jumlah karakternya hanya sedikit tapi ngena. Menurut saya, pilihan yang tepat memilih Tio Pakusadewo yang sangat karismatik untuk memerankan karakter Jaya. Mungkin chemistry antara pemeran dibangun dengan baik sehingga film sederhana ini cukup meninggalkan kesan bagi saya. Tidak semua orang menyukai karakteristik film yang lambat dan banyak obrolan seperti ini, tapi bagi saya film ini bisa menarik perhatian untuk mengajak penonton setidaknya menjadi penasaran dengan sejarah Indonesia.

Melalui Surat Dari Praha yang memperlihatkan sisi lain dari sejarah kelam 1965, saya sebagai penonton turut terpikirkan dengan kondisi korban-korban yang mungkin hingga saat ini masih berusaha ikhlas merelakan banyak hal karena ketidakadilan kala itu.

Meskipun hanya dibuat sebagai film fiksi, latar sejarah yang diceritakan film ini adalah sebuah kenyataan yang benar-benar terjadi dan dialami orang-orang di luar sana. Semoga mereka dalam kondisi sehat dan baik-baik saja di mana pun mereka berada. Kita dapat belajar bahwa peristIwa-peristiwa dalam buku sejarah bukan sekadar tulisan, tapi peristiwa-peristiwa itu menjadi bentuk pelajaran untuk kita sebagai warga negara Indonesia untuk direnungkan. [T]

Penulis: Rana Nasyitha
Editor: Adnyana Ole

Tags: filmFilm IndonesiaG30SKomunisPolitikPrahaUlasan Film
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menilik Drama Musikal Rempeg di Perayaan 254 Tahun Banyuwangi

Next Post

Cegah Bunuh Diri di Tanah Dewata —Ini Seruan di Tengah Badai Digital

Rana Nasyitha

Rana Nasyitha

Pembaca dan Penggemar Film

Related Posts

Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12

by Yoga Wismantara
September 24, 2026
0
Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12

SAYA saya masih duduk di bangku SMP, saya pernah bertanya pada diri sendiri, “Apa yang akan terjadi jika saya bisa...

Read moreDetails

Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998

by Arya Dhamma Nanda
September 24, 2026
0
Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998

PERKEMBANGAN ekonomi dalam masyarakat biasanya memicu berbagai perubahan pada pasar yang kemudian berdampak pada kehidupan masyarakat dan lingkungan di sekitarnya....

Read moreDetails

Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi

by Arya Dhamma Nanda
September 21, 2026
0
Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi

ENIGMA adalah program kompilasi film pendek dalam ajang Minikino Film Week 12 (MFW12) yang mengusung subjudul What Goes Around Comes...

Read moreDetails

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
0
SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

Read moreDetails

“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

by Satria Aditya
August 7, 2026
0
“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

ADA satu hal yang langsung terasa begitu duduk menonton Tung Tung Uma, bagaimana Amrita Dharma memetakan setiap adegannya dengan begitu...

Read moreDetails

“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

by Angga Wijaya
July 31, 2026
0
“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

MALAM itu, gelap menggantung di langit Pantai Melasti, Ungasan, Badung, Bali. Debur ombak bersahutan dengan suara "cak... cak... cak..." yang...

Read moreDetails

The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

by Bayu Wira Handyan
July 19, 2026
0
The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

SUDAH tentu, Christopher Nolan bukan sutradara pertama yang mengadaptasi epos Odyssey milik Homer. Kisah itu sudah ada sekitar 2.800 tahun...

Read moreDetails

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

by Satria Aditya
June 1, 2026
0
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

Read moreDetails

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
0
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

Read moreDetails

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026
0
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

Read moreDetails
Next Post
Cegah Bunuh Diri di Tanah Dewata —Ini Seruan di Tengah Badai Digital

Cegah Bunuh Diri di Tanah Dewata ---Ini Seruan di Tengah Badai Digital

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co