24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

Rana Nasyitha by Rana Nasyitha
January 24, 2026
in Ulas Film
Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

Jaya dan Laras di film Surat Dari Praha (2016) | Gambar : Netflix

WAKTU itu saya melihat judul film ini di sebuah aplikasi/platform streaming lokal. Di antara kumpulan film indonesia lainnya, Surat Dari Praha cukup mengambil perhatian saya karena film ini disutradarai oleh sutradara ternama Indonesia yakni Angga Dwimas Sasongko (Sutradara dari film Mencuri Raden Saleh (2022), Filosofi Kopi (2015), dan lainnya). Wah, setelah tahu itu tanpa pikir panjang saya putuskan untuk menonton Surat Dari Praha saat itu juga.

Surat Dari Praha rilis pada tahun 2016, film dengan genre romantis/drama, berdurasi 1 jam 37 menit. Cerita inti film Surat Dari Praha sebenarnya cukup sederhana. Seorang perempuan bernama Larasati atau dipanggil Laras (diperankan Julie Estelle) yang sangat terdesak memerlukan warisan dari Ibunya yang baru saja meninggal. Syarat yang diberikan sang Ibu melalui surat wasiat untuk Laras mendapat warisan itu adalah dengan mengantarkan sebuah kotak berisi surat-surat kepada seorang laki-laki bernama Jaya (diperankan Tio Pakusadewo) di Praha, Ceko dan mendapatkan tanda tangan Jaya sebagai bukti terima.

Awalnya, saya kira perjalanan Laras mencari Jaya akan sangat mulus dan penuh nostalgia hangat. Tapi ternyata perjalanan Laras cukup memprihatinkan. Usahanya mengantarkan kotak berisi surat-surat dan mendapatkan tanda tangan Jaya bukanlah hal mudah bagi Laras yang keras kepala.

Di pertengahan film, saya berusaha memahami karakter Laras dan Jaya. Laras adalah perempuan berkepala batu dan dingin. Saya pikir, kalau Laras bisa lebih sopan dan lembut pasti semuanya tidak akan seburuk itu. Tapi setelah dipikir-pikir, emosi Laras bisa dimengerti karena dia mungkin sedang kebingungan tentang “Siapa sih Bapak-bapak bernama Jaya ini? Kenapa dia jadi syarat buat gue dapet warisan Ibu gue?” dan ia pasti merasa putus asa karena tanpa warisan itu, Laras tidak memiliki apa pun.

Sedangkan Jaya, adalah seorang laki-laki yang hidup dengan hanya ditemani oleh anjingnya bernama Bagong, di sebuah apartemen tua di Praha. Sama seperti Laras, Jaya memiliki karakter yang tegas dan keras. Terlihat dari caranya memperlakukan Laras dari sejak pertama kali Laras menemuinya di awal film.

Setelah melewati beberapa kali adu mulut dengan berbagai macam argumen dan kejadian tidak terduga yang dialami keduanya.

Sedikit demi sedikit, keduanya mulai melunak dan perlahan-lahan Jaya mulai membuka diri dengan menceritakan kisah hidupnya. Jaya, Laki-laki yang berasal dari Indonesia namun tidak lagi memiliki kewarganegaraannya.

Surat dari Praha mulai memperlihatkan bumbu-bumbu sejarah melalui nostalgia hidup Jaya. Tepatnya Peristiwa 1965, sebuah sejarah yang menjadi peristiwa pelanggaran berat terhadap Hak Asasi Manusia yang telah mengambil banyak sekali korban warga negara Indonesia. Termasuk dengan pencabutan status kewarganegaraan yang memaksa mereka tidak bisa kembali ke tanah air.

Jaya adalah salah satu korban dari mereka yang menjadi eksil politik yang harus terasingkan oleh negaranya sendiri dan menjadi stateless (tidak memiliki kewarganegaraan). Pada tahun 60-an, presiden Soekarno mengirim beberapa pelajar Indonesia dengan memberikan beasiswa untuk menempuh pendidikan di luar negeri, salah satunya Praha.

Hingga pada tahun 1965 ketika Orde Baru, para pelajar diminta untuk menunjukkan kesetiaan dan menunjukkan pilihan politik mereka. In this case, Jaya adalah salah satu dari pelajar yang menolak pemerintahan orde baru dan memilih menetap di Praha. Mereka yang menolak, kehilangan izin paspor dan kewarganegaraan sehingga tidak bisa kembali ke Indonesia.

Selama Jaya bercerita kepada Laras bahwa banyak sekali hal yang pada akhirnya harus Ia relakan karena pilihan politik tegasnya itu. Bagaimana Ia merasa dipatahkan oleh negaranya sendiri, dan akhirnya bertahan hidup sendiri di negara orang. Lalu apa hubungannya Jaya dengan Laras dan kotak surat-surat itu sampai Jaya menjadi syarat dari warisan Ibu laras? Jawabannya nonton sendiri karena saya tidak mau spoiler seluruhnya, hehe.

Film ini tidak begitu membahas secara mendalam peristiwa sejarahnya, namun saya pikir memang bukan tujuan utama film ini untuk deep dive membahas sejarah. Cukup terbawa emosional dengan obrolan antara Jaya dan Laras ketika keduanya mencoba saling memahami satu sama lain.

Terdapat scene yang cukup menarik perhatian saya dimana Jaya mengundang teman-temannya yang memiliki nasib serupa dan mereka bernyanyi bersama menyanyikan “Indonesia Pusaka”, memperlihatkan bahwa mereka yang bernasib sama bisa saling menjaga dan menguatkan satu sama lain.

Penyampaian film ini sangat halus dan pelan. Jumlah karakternya hanya sedikit tapi ngena. Menurut saya, pilihan yang tepat memilih Tio Pakusadewo yang sangat karismatik untuk memerankan karakter Jaya. Mungkin chemistry antara pemeran dibangun dengan baik sehingga film sederhana ini cukup meninggalkan kesan bagi saya. Tidak semua orang menyukai karakteristik film yang lambat dan banyak obrolan seperti ini, tapi bagi saya film ini bisa menarik perhatian untuk mengajak penonton setidaknya menjadi penasaran dengan sejarah Indonesia.

Melalui Surat Dari Praha yang memperlihatkan sisi lain dari sejarah kelam 1965, saya sebagai penonton turut terpikirkan dengan kondisi korban-korban yang mungkin hingga saat ini masih berusaha ikhlas merelakan banyak hal karena ketidakadilan kala itu.

Meskipun hanya dibuat sebagai film fiksi, latar sejarah yang diceritakan film ini adalah sebuah kenyataan yang benar-benar terjadi dan dialami orang-orang di luar sana. Semoga mereka dalam kondisi sehat dan baik-baik saja di mana pun mereka berada. Kita dapat belajar bahwa peristIwa-peristiwa dalam buku sejarah bukan sekadar tulisan, tapi peristiwa-peristiwa itu menjadi bentuk pelajaran untuk kita sebagai warga negara Indonesia untuk direnungkan. [T]

Penulis: Rana Nasyitha
Editor: Adnyana Ole

Tags: filmFilm IndonesiaG30SKomunisPolitikPrahaUlasan Film
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menilik Drama Musikal Rempeg di Perayaan 254 Tahun Banyuwangi

Next Post

Cegah Bunuh Diri di Tanah Dewata —Ini Seruan di Tengah Badai Digital

Rana Nasyitha

Rana Nasyitha

Pembaca dan Penggemar Film

Related Posts

 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki

by Wisnu Oktaditya
October 9, 2026
0
 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki

SUDAH bertahun-tahun semenjak film ini lahir, saya tak pernah sekalipun menonton film-film Ghibli. Karena terhalang kendala biaya, juga karena saya...

Read moreDetails

Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12

by Yoga Wismantara
September 24, 2026
0
Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12

SAYA saya masih duduk di bangku SMP, saya pernah bertanya pada diri sendiri, “Apa yang akan terjadi jika saya bisa...

Read moreDetails

Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998

by Arya Dhamma Nanda
September 24, 2026
0
Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998

PERKEMBANGAN ekonomi dalam masyarakat biasanya memicu berbagai perubahan pada pasar yang kemudian berdampak pada kehidupan masyarakat dan lingkungan di sekitarnya....

Read moreDetails

Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi

by Arya Dhamma Nanda
September 21, 2026
0
Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi

ENIGMA adalah program kompilasi film pendek dalam ajang Minikino Film Week 12 (MFW12) yang mengusung subjudul What Goes Around Comes...

Read moreDetails

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
0
SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

Read moreDetails

“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

by Satria Aditya
August 7, 2026
0
“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

ADA satu hal yang langsung terasa begitu duduk menonton Tung Tung Uma, bagaimana Amrita Dharma memetakan setiap adegannya dengan begitu...

Read moreDetails

“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

by Angga Wijaya
July 31, 2026
0
“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

MALAM itu, gelap menggantung di langit Pantai Melasti, Ungasan, Badung, Bali. Debur ombak bersahutan dengan suara "cak... cak... cak..." yang...

Read moreDetails

The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

by Bayu Wira Handyan
July 19, 2026
0
The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

SUDAH tentu, Christopher Nolan bukan sutradara pertama yang mengadaptasi epos Odyssey milik Homer. Kisah itu sudah ada sekitar 2.800 tahun...

Read moreDetails

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

by Satria Aditya
June 1, 2026
0
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

Read moreDetails

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
0
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

Read moreDetails
Next Post
Cegah Bunuh Diri di Tanah Dewata —Ini Seruan di Tengah Badai Digital

Cegah Bunuh Diri di Tanah Dewata ---Ini Seruan di Tengah Badai Digital

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co