23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Cegah Bunuh Diri di Tanah Dewata —Ini Seruan di Tengah Badai Digital

I Gede Joni Suhartawan by I Gede Joni Suhartawan
January 24, 2026
in Esai
Cegah Bunuh Diri di Tanah Dewata —Ini Seruan di Tengah Badai Digital

Ilustrasi tatkala.co | Canva

BALI hari ini sedang kehilangan fungsi oase jiwa sebagai Pulau Dewata. Di balik senyum sumringah pariwisata dan wangi asep menyan majegau yang mengepul di setiap sudut pura, terselip sebuah tren kelam yang kian hari kian mengkhawatirkan: ulah pati. Istilah lokal untuk bunuh diri ini kini bukan lagi sekadar berita selingan, melainkan alarm keras bagi ketahanan mental masyarakat kita.

Jika kita menilik data hingga awal 2026 ini, Bali konsisten menempati posisi atas dalam kasus bunuh diri secara nasional. Sepanjang tahun 2024 hingga 2025, angka kasus di Bali terus merangkak naik, bahkan sempat menyentuh angka ratusan jiwa dalam setahun.

Beberapa kasus yang viral di jagat maya menjadi saksi bisu betapa “mudahnya” nyawa dilepaskan di tempat-tempat yang seharusnya menjadi ikon keindahan. Kita tentu ingat kasus tragis di Jembatan Tukad Bangkung yang seolah menjadi magnet bagi mereka yang putus asa, hingga pemerintah harus memasang pagar pengaman tinggi. Belum lagi kasus-kasus di awal 2026 di wilayah Badung dan Karangasem yang dipicu oleh masalah asmara dan impitan ekonomi yang kian mencekik pasca-pandemi.

Medsos: Antara Panggung Pamer dan “Pembakar” Depresi

Dugaan saya, ada satu faktor modern yang luput dari pengamatan mendalam namun berperan sebagai “pembakar” dorongan bunuh diri: Media Sosial. Media sosial di Bali telah menciptakan standar hidup yang semu. Konten-konten yang memamerkan gaya hidup mewah, kemesraan yang dipaksakan, hingga glorifikasi terhadap kesuksesan instan membuat banyak krama Bali—terutama generasi muda—merasa kerdil. Terjadi social comparison yang akut; saat realita hidup tak seindah feed Instagram, muncul rasa gagal yang mendalam.

Lebih berbahaya lagi, media sosial sering kali menjadi tempat glorifikasi bunuh diri. Pemberitaan yang terlalu vulgar, detail cara, hingga komentar netizen yang kadang justru “menantang” atau memberikan simpati yang salah, secara tidak langsung menciptakan efek penularan (Werther Effect). Konten yang viral menjadi inspirasi bagi mereka yang sedang di ambang batas, seolah-olah mengakhiri hidup adalah solusi estetis untuk menghentikan beban dan (berharap) mendapat empati sosial.

Tentu, badai digital via medsos ini tidak berdiri sendiri. Kemungkinan factor penyebabnya berasal dari antara lain:

  • Tekanan Ekonomi & Gengsi: Bali adalah daerah pariwisata dengan biaya hidup tinggi. Adakalanya, tuntutan adat dan gengsi sosial tidak sebanding dengan pendapatan yang pas-pasan.
  • Erosi Dukungan Sosial: Dulu, banjar adalah tempat curhat yang paling ampuh. Kini, dengan kesibukan individu dan pergeseran gaya hidup urban, fungsi banjar sebagai ruang katarsis mental mulai luntur. Saya masih ingat masa kecil dulu di banjar ada sekeha-sekeha: sekeha manyi, sekeha santi, sekeha gong, sekeha ceraken bahkan hingga sekeha tuak dan sekeha tajen. Ini adalah semacam peer group bagi individu yang faktanya sangat efektif menjadi wadah katarsis bagi individu dan menjaga-mencegahnya dari rasa “tak berarti lagi” di dunia.
  • Stigma Kesehatan Mental: Masih banyak yang menganggap depresi adalah kurang sembahyang, salah kawitan atau kena cetik (ilmu hitam), sehingga penderita malu dan justru makin “ngurek diri” menyesali diri ketimbang mencari bantuan professional bidang ilmu Kesehatan jiwa.

Seruan Aksi di Tengah Badai (untuk kaum yowana Bali)

Kita harus tidak bisa diam dan menonton. Masyarakat Bali harus kembali ke akar namun dengan pemikiran yang modern. Titik-titik yang perlu dipetakan sebagai panduan landasan aksi untuk tidak diam itu adalah:

  • Reaktivasi Fungsi Banjar: Banjar jangan hanya menjadi tempat mengurus upakara atau administrasi. Jadikan banjar sebagai support system kesehatan mental. Tokoh adat harus peka terhadap warga yang mulai menarik diri dari pergaulan sosial.
  • Literasi Digital dan Media: Berhenti membagikan foto atau video lokasi kejadian bunuh diri. Masyarakat harus diedukasi bahwa menyebarkan detail kejadian justru bisa memicu orang lain melakukan hal yang sama.
  • Melawan Stigma dengan Spiritualitas Positif: Pendekatan agama dan yoga harus ditekankan pada ketenangan batin, bukan sekadar ritual. Memahami bahwa hidup adalah anugerah (Amerta) yang harus dijaga, sesulit apa pun jalannya.
  • Gerakan “Sapa Tetangga”: Sesederhana menanyakan kabar secara tulus kepada teman atau kerabat yang terlihat murung. Jangan biarkan mereka merasa sendirian dalam menghadapi gelapnya dunia.

Bagaimana dengan kaum muda (yowana) Bali dalam hal ini? Mereka sangat strategis menjadi “Sistem Imun” di tengah badai digital terkait kasus bundir ini.

Dalam struktur sosial kita, Yowana adalah kelompok yang paling rentan sekaligus yang paling punya kekuatan untuk mengubah keadaan. Anak muda Bali saat ini hidup dalam dua dunia: dunia fisik yang penuh dengan tuntutan adat, dan dunia digital yang penuh dengan standar kesuksesan yang absurd. Ketika kedua dunia ini bertabrakan dan tidak mampu dikelola dengan baik, terjadilah krisis identitas yang berujung pada keputusasaan.

Namun, saya percaya Yowana bukan sekadar korban. Kalian adalah kunci. Untuk memutus rantai tren bunuh diri ini, kita tidak bisa lagi hanya mengandalkan nasihat-nasihat normatif. Perlu ada gerakan akar rumput yang nyata, keren, dan masuk akal bagi generasi hari ini.

Aksi Apa yang Harus Dikerjakan Kaum Muda Bali?

  1. Digital Clean-up & Media Mindfulness:

Yowana harus menjadi garda terdepan dalam “literasi empati” di media sosial. Berhentilah menyebarkan konten kejadian (foto/video lokasi bunuh diri) meski atas nama “info terkini”. Sebaliknya, buatlah konten yang menormalisasi obrolan tentang kesehatan mental. Jadikan feed kalian ruang yang aman, bukan ajang pamer yang memicu kecemasan orang lain.

  • Membentuk “Mental Health Corner” di Sekaa Teruna (STT):

Ubahlah paradigma Sekaa Teruna. Jangan hanya sibuk membuat ogoh-ogoh atau acara hiburan saat ulang tahun. Mulailah membuat program sederhana seperti sharing session atau mengundang psikolog ke banjar. Ciptakan suasana di mana anggota STT merasa “oke untuk tidak merasa oke” dan tahu ke mana harus mencari bantuan tanpa takut dihakimi.

  • Peer-to-Peer Support (Saling Jaga Teman Sejawat):

Anak muda lebih cenderung bercerita kepada teman sebaya daripada orang tua atau tokoh adat. Yowana perlu belajar keterampilan dasar psychological first aid (pertolongan pertama psikologis). Jika melihat teman yang mulai mengunggah status bernada gelap atau menarik diri dari pergaulan, jangan diabaikan atau dijadikan bahan bercandaan. Dekati, dengarkan tanpa menghakimi.

  • Dekonstruksi Gengsi Sosial:

Mari kita sepakati bersama: tidak ada gunanya mempertahankan gengsi di media sosial jika batin tersiksa. Yowana harus berani memutus gaya hidup konsumtif yang dipaksakan. Mari kita kembalikan nilai Bali yang sederhana dan napak pertiwi. Keberanian untuk jujur tentang kondisi ekonomi dan mental adalah bentuk ksatria yang sesungguhnya di era modern ini.

  • Memanfaatkan Teknologi untuk Mitigasi:

Bagi Yowana yang memiliki keahlian di bidang TI, buatlah platform atau aplikasi lokal Bali yang menghubungkan orang-orang dalam krisis dengan tenaga profesional atau relawan pendengar secara anonim. Teknologi harus digunakan untuk menyembuhkan, bukan untuk menjatuhkan.

Penutup: Bunuh Diri Tidak Keren

Bali adalah pulau yang dibangun di atas konsep Tri Hita Karana. Keharmonisan dengan sesama manusia (Pawongan) harus kita perbaiki lagi. Janganlah mata hanya pandang ke “langit” stana para hyang dewata atau ke “alam bawah bumi” sarang sarwa butha-prete tapi pandanglah juga “kiwa-tengen” sesama kita manusia di tanah yang sama dipijak.

Menjaga Bali tetap ajeg bukan hanya tentang menjaga kesucian pura atau kreasi pesona magis-liturgis upacara-upakara tapi juga menjaga nyawa dan kesehatan jiwa manusia-manusia di dalamnya. Jika kita melihat tren bunuh diri ini sebagai sebuah “penyakit menular”, maka obatnya adalah kepedulian. Kepada seluruh Yowana Bali, ingatlah: Saling jaga adalah yadnya tertinggi kita hari ini. Meminjam jargon sebuah pusat studi bernama Mahardhika Institute, yang didirikan tokoh muda Bali, I Putu Eka Mahardhika: saling isi saling gisi.

Memperhatikan sesama jangan-jangan yadnya terhilang selama ini?

Ingat, bunuh diri itu tidak keren! Lebih tidak keren lagi kalau kita tidak saling peduli!

Ampura!

Prambanan, 24/01/2026

Penulis: I Gede Joni Suhartawan
Editor: Adnyana Ole

Tags: balibunuh diriyowana bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

Next Post

Komunikasi, Menangis, Tertawa, dan Politik

I Gede Joni Suhartawan

I Gede Joni Suhartawan

Penulis tinggal di Prambanan Klaten Jawa Tengah. Pernah bekerja di SCTV dan pernah menjadi Head of Production Creative Development Center di Trans Corp (TransTV and Trans|7)

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Komunikasi, Menangis, Tertawa, dan Politik

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co