23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Cegah Bunuh Diri di Tanah Dewata —Ini Seruan di Tengah Badai Digital

I Gede Joni Suhartawan by I Gede Joni Suhartawan
January 24, 2026
in Esai
Cegah Bunuh Diri di Tanah Dewata —Ini Seruan di Tengah Badai Digital

Ilustrasi tatkala.co | Canva

BALI hari ini sedang kehilangan fungsi oase jiwa sebagai Pulau Dewata. Di balik senyum sumringah pariwisata dan wangi asep menyan majegau yang mengepul di setiap sudut pura, terselip sebuah tren kelam yang kian hari kian mengkhawatirkan: ulah pati. Istilah lokal untuk bunuh diri ini kini bukan lagi sekadar berita selingan, melainkan alarm keras bagi ketahanan mental masyarakat kita.

Jika kita menilik data hingga awal 2026 ini, Bali konsisten menempati posisi atas dalam kasus bunuh diri secara nasional. Sepanjang tahun 2024 hingga 2025, angka kasus di Bali terus merangkak naik, bahkan sempat menyentuh angka ratusan jiwa dalam setahun.

Beberapa kasus yang viral di jagat maya menjadi saksi bisu betapa “mudahnya” nyawa dilepaskan di tempat-tempat yang seharusnya menjadi ikon keindahan. Kita tentu ingat kasus tragis di Jembatan Tukad Bangkung yang seolah menjadi magnet bagi mereka yang putus asa, hingga pemerintah harus memasang pagar pengaman tinggi. Belum lagi kasus-kasus di awal 2026 di wilayah Badung dan Karangasem yang dipicu oleh masalah asmara dan impitan ekonomi yang kian mencekik pasca-pandemi.

Medsos: Antara Panggung Pamer dan “Pembakar” Depresi

Dugaan saya, ada satu faktor modern yang luput dari pengamatan mendalam namun berperan sebagai “pembakar” dorongan bunuh diri: Media Sosial. Media sosial di Bali telah menciptakan standar hidup yang semu. Konten-konten yang memamerkan gaya hidup mewah, kemesraan yang dipaksakan, hingga glorifikasi terhadap kesuksesan instan membuat banyak krama Bali—terutama generasi muda—merasa kerdil. Terjadi social comparison yang akut; saat realita hidup tak seindah feed Instagram, muncul rasa gagal yang mendalam.

Lebih berbahaya lagi, media sosial sering kali menjadi tempat glorifikasi bunuh diri. Pemberitaan yang terlalu vulgar, detail cara, hingga komentar netizen yang kadang justru “menantang” atau memberikan simpati yang salah, secara tidak langsung menciptakan efek penularan (Werther Effect). Konten yang viral menjadi inspirasi bagi mereka yang sedang di ambang batas, seolah-olah mengakhiri hidup adalah solusi estetis untuk menghentikan beban dan (berharap) mendapat empati sosial.

Tentu, badai digital via medsos ini tidak berdiri sendiri. Kemungkinan factor penyebabnya berasal dari antara lain:

  • Tekanan Ekonomi & Gengsi: Bali adalah daerah pariwisata dengan biaya hidup tinggi. Adakalanya, tuntutan adat dan gengsi sosial tidak sebanding dengan pendapatan yang pas-pasan.
  • Erosi Dukungan Sosial: Dulu, banjar adalah tempat curhat yang paling ampuh. Kini, dengan kesibukan individu dan pergeseran gaya hidup urban, fungsi banjar sebagai ruang katarsis mental mulai luntur. Saya masih ingat masa kecil dulu di banjar ada sekeha-sekeha: sekeha manyi, sekeha santi, sekeha gong, sekeha ceraken bahkan hingga sekeha tuak dan sekeha tajen. Ini adalah semacam peer group bagi individu yang faktanya sangat efektif menjadi wadah katarsis bagi individu dan menjaga-mencegahnya dari rasa “tak berarti lagi” di dunia.
  • Stigma Kesehatan Mental: Masih banyak yang menganggap depresi adalah kurang sembahyang, salah kawitan atau kena cetik (ilmu hitam), sehingga penderita malu dan justru makin “ngurek diri” menyesali diri ketimbang mencari bantuan professional bidang ilmu Kesehatan jiwa.

Seruan Aksi di Tengah Badai (untuk kaum yowana Bali)

Kita harus tidak bisa diam dan menonton. Masyarakat Bali harus kembali ke akar namun dengan pemikiran yang modern. Titik-titik yang perlu dipetakan sebagai panduan landasan aksi untuk tidak diam itu adalah:

  • Reaktivasi Fungsi Banjar: Banjar jangan hanya menjadi tempat mengurus upakara atau administrasi. Jadikan banjar sebagai support system kesehatan mental. Tokoh adat harus peka terhadap warga yang mulai menarik diri dari pergaulan sosial.
  • Literasi Digital dan Media: Berhenti membagikan foto atau video lokasi kejadian bunuh diri. Masyarakat harus diedukasi bahwa menyebarkan detail kejadian justru bisa memicu orang lain melakukan hal yang sama.
  • Melawan Stigma dengan Spiritualitas Positif: Pendekatan agama dan yoga harus ditekankan pada ketenangan batin, bukan sekadar ritual. Memahami bahwa hidup adalah anugerah (Amerta) yang harus dijaga, sesulit apa pun jalannya.
  • Gerakan “Sapa Tetangga”: Sesederhana menanyakan kabar secara tulus kepada teman atau kerabat yang terlihat murung. Jangan biarkan mereka merasa sendirian dalam menghadapi gelapnya dunia.

Bagaimana dengan kaum muda (yowana) Bali dalam hal ini? Mereka sangat strategis menjadi “Sistem Imun” di tengah badai digital terkait kasus bundir ini.

Dalam struktur sosial kita, Yowana adalah kelompok yang paling rentan sekaligus yang paling punya kekuatan untuk mengubah keadaan. Anak muda Bali saat ini hidup dalam dua dunia: dunia fisik yang penuh dengan tuntutan adat, dan dunia digital yang penuh dengan standar kesuksesan yang absurd. Ketika kedua dunia ini bertabrakan dan tidak mampu dikelola dengan baik, terjadilah krisis identitas yang berujung pada keputusasaan.

Namun, saya percaya Yowana bukan sekadar korban. Kalian adalah kunci. Untuk memutus rantai tren bunuh diri ini, kita tidak bisa lagi hanya mengandalkan nasihat-nasihat normatif. Perlu ada gerakan akar rumput yang nyata, keren, dan masuk akal bagi generasi hari ini.

Aksi Apa yang Harus Dikerjakan Kaum Muda Bali?

  1. Digital Clean-up & Media Mindfulness:

Yowana harus menjadi garda terdepan dalam “literasi empati” di media sosial. Berhentilah menyebarkan konten kejadian (foto/video lokasi bunuh diri) meski atas nama “info terkini”. Sebaliknya, buatlah konten yang menormalisasi obrolan tentang kesehatan mental. Jadikan feed kalian ruang yang aman, bukan ajang pamer yang memicu kecemasan orang lain.

  • Membentuk “Mental Health Corner” di Sekaa Teruna (STT):

Ubahlah paradigma Sekaa Teruna. Jangan hanya sibuk membuat ogoh-ogoh atau acara hiburan saat ulang tahun. Mulailah membuat program sederhana seperti sharing session atau mengundang psikolog ke banjar. Ciptakan suasana di mana anggota STT merasa “oke untuk tidak merasa oke” dan tahu ke mana harus mencari bantuan tanpa takut dihakimi.

  • Peer-to-Peer Support (Saling Jaga Teman Sejawat):

Anak muda lebih cenderung bercerita kepada teman sebaya daripada orang tua atau tokoh adat. Yowana perlu belajar keterampilan dasar psychological first aid (pertolongan pertama psikologis). Jika melihat teman yang mulai mengunggah status bernada gelap atau menarik diri dari pergaulan, jangan diabaikan atau dijadikan bahan bercandaan. Dekati, dengarkan tanpa menghakimi.

  • Dekonstruksi Gengsi Sosial:

Mari kita sepakati bersama: tidak ada gunanya mempertahankan gengsi di media sosial jika batin tersiksa. Yowana harus berani memutus gaya hidup konsumtif yang dipaksakan. Mari kita kembalikan nilai Bali yang sederhana dan napak pertiwi. Keberanian untuk jujur tentang kondisi ekonomi dan mental adalah bentuk ksatria yang sesungguhnya di era modern ini.

  • Memanfaatkan Teknologi untuk Mitigasi:

Bagi Yowana yang memiliki keahlian di bidang TI, buatlah platform atau aplikasi lokal Bali yang menghubungkan orang-orang dalam krisis dengan tenaga profesional atau relawan pendengar secara anonim. Teknologi harus digunakan untuk menyembuhkan, bukan untuk menjatuhkan.

Penutup: Bunuh Diri Tidak Keren

Bali adalah pulau yang dibangun di atas konsep Tri Hita Karana. Keharmonisan dengan sesama manusia (Pawongan) harus kita perbaiki lagi. Janganlah mata hanya pandang ke “langit” stana para hyang dewata atau ke “alam bawah bumi” sarang sarwa butha-prete tapi pandanglah juga “kiwa-tengen” sesama kita manusia di tanah yang sama dipijak.

Menjaga Bali tetap ajeg bukan hanya tentang menjaga kesucian pura atau kreasi pesona magis-liturgis upacara-upakara tapi juga menjaga nyawa dan kesehatan jiwa manusia-manusia di dalamnya. Jika kita melihat tren bunuh diri ini sebagai sebuah “penyakit menular”, maka obatnya adalah kepedulian. Kepada seluruh Yowana Bali, ingatlah: Saling jaga adalah yadnya tertinggi kita hari ini. Meminjam jargon sebuah pusat studi bernama Mahardhika Institute, yang didirikan tokoh muda Bali, I Putu Eka Mahardhika: saling isi saling gisi.

Memperhatikan sesama jangan-jangan yadnya terhilang selama ini?

Ingat, bunuh diri itu tidak keren! Lebih tidak keren lagi kalau kita tidak saling peduli!

Ampura!

Prambanan, 24/01/2026

Penulis: I Gede Joni Suhartawan
Editor: Adnyana Ole

Tags: balibunuh diriyowana bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

Next Post

Komunikasi, Menangis, Tertawa, dan Politik

I Gede Joni Suhartawan

I Gede Joni Suhartawan

Penulis tinggal di Prambanan Klaten Jawa Tengah. Pernah bekerja di SCTV dan pernah menjadi Head of Production Creative Development Center di Trans Corp (TransTV and Trans|7)

Related Posts

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong...

Read moreDetails

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

by Afgan Fadilla
June 18, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada...

Read moreDetails

‘Lamak’ dan ‘Maceniga’:Tantangan Praktik Budaya di Tengah Modernitas

by Pande Susan
June 18, 2026
0
‘Lamak’ dan ‘Maceniga’:Tantangan Praktik Budaya di Tengah Modernitas

SAAT matahari mulai menuju satu garis lurus di atas kepala, derau ritmis mengisi ruang di bawah atap Bale Daja rumahku...

Read moreDetails
Next Post
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Komunikasi, Menangis, Tertawa, dan Politik

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar
Tualang

Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

Saya sangat jarang bergaul dengan alumni apa pun. Dari sekian puluh undangan reuni sekolah, kedatangan saya bisa dihitung dengan jari....

by Made Wirya
June 21, 2026
Lubang | Cerpen Asmaran Dani
Cerpen

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

by Asmaran Dani
June 21, 2026
Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi
Puisi

Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

Pelancong Gersang Aku berhenti memikirkanmu.Jam-jam yang meruntuhkan angka-angka;berlarian masuk rumah. Aku berhenti memikirkanmu.Sejak kamu menggulir layar begitu pagi,memanen percakapan tentang...

by Mahesa Putra
June 21, 2026
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045
Esai

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

by Dewa Rhadea
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co