2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Cegah Bunuh Diri di Tanah Dewata —Ini Seruan di Tengah Badai Digital

I Gede Joni Suhartawan by I Gede Joni Suhartawan
January 24, 2026
in Esai
Cegah Bunuh Diri di Tanah Dewata —Ini Seruan di Tengah Badai Digital

Ilustrasi tatkala.co | Canva

BALI hari ini sedang kehilangan fungsi oase jiwa sebagai Pulau Dewata. Di balik senyum sumringah pariwisata dan wangi asep menyan majegau yang mengepul di setiap sudut pura, terselip sebuah tren kelam yang kian hari kian mengkhawatirkan: ulah pati. Istilah lokal untuk bunuh diri ini kini bukan lagi sekadar berita selingan, melainkan alarm keras bagi ketahanan mental masyarakat kita.

Jika kita menilik data hingga awal 2026 ini, Bali konsisten menempati posisi atas dalam kasus bunuh diri secara nasional. Sepanjang tahun 2024 hingga 2025, angka kasus di Bali terus merangkak naik, bahkan sempat menyentuh angka ratusan jiwa dalam setahun.

Beberapa kasus yang viral di jagat maya menjadi saksi bisu betapa “mudahnya” nyawa dilepaskan di tempat-tempat yang seharusnya menjadi ikon keindahan. Kita tentu ingat kasus tragis di Jembatan Tukad Bangkung yang seolah menjadi magnet bagi mereka yang putus asa, hingga pemerintah harus memasang pagar pengaman tinggi. Belum lagi kasus-kasus di awal 2026 di wilayah Badung dan Karangasem yang dipicu oleh masalah asmara dan impitan ekonomi yang kian mencekik pasca-pandemi.

Medsos: Antara Panggung Pamer dan “Pembakar” Depresi

Dugaan saya, ada satu faktor modern yang luput dari pengamatan mendalam namun berperan sebagai “pembakar” dorongan bunuh diri: Media Sosial. Media sosial di Bali telah menciptakan standar hidup yang semu. Konten-konten yang memamerkan gaya hidup mewah, kemesraan yang dipaksakan, hingga glorifikasi terhadap kesuksesan instan membuat banyak krama Bali—terutama generasi muda—merasa kerdil. Terjadi social comparison yang akut; saat realita hidup tak seindah feed Instagram, muncul rasa gagal yang mendalam.

Lebih berbahaya lagi, media sosial sering kali menjadi tempat glorifikasi bunuh diri. Pemberitaan yang terlalu vulgar, detail cara, hingga komentar netizen yang kadang justru “menantang” atau memberikan simpati yang salah, secara tidak langsung menciptakan efek penularan (Werther Effect). Konten yang viral menjadi inspirasi bagi mereka yang sedang di ambang batas, seolah-olah mengakhiri hidup adalah solusi estetis untuk menghentikan beban dan (berharap) mendapat empati sosial.

Tentu, badai digital via medsos ini tidak berdiri sendiri. Kemungkinan factor penyebabnya berasal dari antara lain:

  • Tekanan Ekonomi & Gengsi: Bali adalah daerah pariwisata dengan biaya hidup tinggi. Adakalanya, tuntutan adat dan gengsi sosial tidak sebanding dengan pendapatan yang pas-pasan.
  • Erosi Dukungan Sosial: Dulu, banjar adalah tempat curhat yang paling ampuh. Kini, dengan kesibukan individu dan pergeseran gaya hidup urban, fungsi banjar sebagai ruang katarsis mental mulai luntur. Saya masih ingat masa kecil dulu di banjar ada sekeha-sekeha: sekeha manyi, sekeha santi, sekeha gong, sekeha ceraken bahkan hingga sekeha tuak dan sekeha tajen. Ini adalah semacam peer group bagi individu yang faktanya sangat efektif menjadi wadah katarsis bagi individu dan menjaga-mencegahnya dari rasa “tak berarti lagi” di dunia.
  • Stigma Kesehatan Mental: Masih banyak yang menganggap depresi adalah kurang sembahyang, salah kawitan atau kena cetik (ilmu hitam), sehingga penderita malu dan justru makin “ngurek diri” menyesali diri ketimbang mencari bantuan professional bidang ilmu Kesehatan jiwa.

Seruan Aksi di Tengah Badai (untuk kaum yowana Bali)

Kita harus tidak bisa diam dan menonton. Masyarakat Bali harus kembali ke akar namun dengan pemikiran yang modern. Titik-titik yang perlu dipetakan sebagai panduan landasan aksi untuk tidak diam itu adalah:

  • Reaktivasi Fungsi Banjar: Banjar jangan hanya menjadi tempat mengurus upakara atau administrasi. Jadikan banjar sebagai support system kesehatan mental. Tokoh adat harus peka terhadap warga yang mulai menarik diri dari pergaulan sosial.
  • Literasi Digital dan Media: Berhenti membagikan foto atau video lokasi kejadian bunuh diri. Masyarakat harus diedukasi bahwa menyebarkan detail kejadian justru bisa memicu orang lain melakukan hal yang sama.
  • Melawan Stigma dengan Spiritualitas Positif: Pendekatan agama dan yoga harus ditekankan pada ketenangan batin, bukan sekadar ritual. Memahami bahwa hidup adalah anugerah (Amerta) yang harus dijaga, sesulit apa pun jalannya.
  • Gerakan “Sapa Tetangga”: Sesederhana menanyakan kabar secara tulus kepada teman atau kerabat yang terlihat murung. Jangan biarkan mereka merasa sendirian dalam menghadapi gelapnya dunia.

Bagaimana dengan kaum muda (yowana) Bali dalam hal ini? Mereka sangat strategis menjadi “Sistem Imun” di tengah badai digital terkait kasus bundir ini.

Dalam struktur sosial kita, Yowana adalah kelompok yang paling rentan sekaligus yang paling punya kekuatan untuk mengubah keadaan. Anak muda Bali saat ini hidup dalam dua dunia: dunia fisik yang penuh dengan tuntutan adat, dan dunia digital yang penuh dengan standar kesuksesan yang absurd. Ketika kedua dunia ini bertabrakan dan tidak mampu dikelola dengan baik, terjadilah krisis identitas yang berujung pada keputusasaan.

Namun, saya percaya Yowana bukan sekadar korban. Kalian adalah kunci. Untuk memutus rantai tren bunuh diri ini, kita tidak bisa lagi hanya mengandalkan nasihat-nasihat normatif. Perlu ada gerakan akar rumput yang nyata, keren, dan masuk akal bagi generasi hari ini.

Aksi Apa yang Harus Dikerjakan Kaum Muda Bali?

  1. Digital Clean-up & Media Mindfulness:

Yowana harus menjadi garda terdepan dalam “literasi empati” di media sosial. Berhentilah menyebarkan konten kejadian (foto/video lokasi bunuh diri) meski atas nama “info terkini”. Sebaliknya, buatlah konten yang menormalisasi obrolan tentang kesehatan mental. Jadikan feed kalian ruang yang aman, bukan ajang pamer yang memicu kecemasan orang lain.

  • Membentuk “Mental Health Corner” di Sekaa Teruna (STT):

Ubahlah paradigma Sekaa Teruna. Jangan hanya sibuk membuat ogoh-ogoh atau acara hiburan saat ulang tahun. Mulailah membuat program sederhana seperti sharing session atau mengundang psikolog ke banjar. Ciptakan suasana di mana anggota STT merasa “oke untuk tidak merasa oke” dan tahu ke mana harus mencari bantuan tanpa takut dihakimi.

  • Peer-to-Peer Support (Saling Jaga Teman Sejawat):

Anak muda lebih cenderung bercerita kepada teman sebaya daripada orang tua atau tokoh adat. Yowana perlu belajar keterampilan dasar psychological first aid (pertolongan pertama psikologis). Jika melihat teman yang mulai mengunggah status bernada gelap atau menarik diri dari pergaulan, jangan diabaikan atau dijadikan bahan bercandaan. Dekati, dengarkan tanpa menghakimi.

  • Dekonstruksi Gengsi Sosial:

Mari kita sepakati bersama: tidak ada gunanya mempertahankan gengsi di media sosial jika batin tersiksa. Yowana harus berani memutus gaya hidup konsumtif yang dipaksakan. Mari kita kembalikan nilai Bali yang sederhana dan napak pertiwi. Keberanian untuk jujur tentang kondisi ekonomi dan mental adalah bentuk ksatria yang sesungguhnya di era modern ini.

  • Memanfaatkan Teknologi untuk Mitigasi:

Bagi Yowana yang memiliki keahlian di bidang TI, buatlah platform atau aplikasi lokal Bali yang menghubungkan orang-orang dalam krisis dengan tenaga profesional atau relawan pendengar secara anonim. Teknologi harus digunakan untuk menyembuhkan, bukan untuk menjatuhkan.

Penutup: Bunuh Diri Tidak Keren

Bali adalah pulau yang dibangun di atas konsep Tri Hita Karana. Keharmonisan dengan sesama manusia (Pawongan) harus kita perbaiki lagi. Janganlah mata hanya pandang ke “langit” stana para hyang dewata atau ke “alam bawah bumi” sarang sarwa butha-prete tapi pandanglah juga “kiwa-tengen” sesama kita manusia di tanah yang sama dipijak.

Menjaga Bali tetap ajeg bukan hanya tentang menjaga kesucian pura atau kreasi pesona magis-liturgis upacara-upakara tapi juga menjaga nyawa dan kesehatan jiwa manusia-manusia di dalamnya. Jika kita melihat tren bunuh diri ini sebagai sebuah “penyakit menular”, maka obatnya adalah kepedulian. Kepada seluruh Yowana Bali, ingatlah: Saling jaga adalah yadnya tertinggi kita hari ini. Meminjam jargon sebuah pusat studi bernama Mahardhika Institute, yang didirikan tokoh muda Bali, I Putu Eka Mahardhika: saling isi saling gisi.

Memperhatikan sesama jangan-jangan yadnya terhilang selama ini?

Ingat, bunuh diri itu tidak keren! Lebih tidak keren lagi kalau kita tidak saling peduli!

Ampura!

Prambanan, 24/01/2026

Penulis: I Gede Joni Suhartawan
Editor: Adnyana Ole

Tags: balibunuh diriyowana bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

Next Post

Komunikasi, Menangis, Tertawa, dan Politik

I Gede Joni Suhartawan

I Gede Joni Suhartawan

Penulis tinggal di Prambanan Klaten Jawa Tengah. Pernah bekerja di SCTV dan pernah menjadi Head of Production Creative Development Center di Trans Corp (TransTV and Trans|7)

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Komunikasi, Menangis, Tertawa, dan Politik

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co