3 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup? — Tanggapan untuk Jaswanto

Angga Wijaya by Angga Wijaya
January 21, 2026
in Ulas Film
Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup?  — Tanggapan untuk Jaswanto

Sumber foto dari berbagai sumber di Google

PADA esai Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial (Tatkala.co, 16 Januari 2026), saya sepakat dengan Jaswanto, sang penulis, dalam banyak hal. Terutama ketika ia menyebut mikrodrama China atau dracin sebagai obat penenang kolektif, pil kecil yang kita telan sambil rebahan, agar dunia terasa bisa ditunda. Ia benar, dracin datang bukan sebagai tamu, melainkan sebagai rombongan pengantin; ramai, ribut, membawa hadiah visual, dan langsung menguasai ruang tamu kesadaran kita.

Ia juga benar ketika menulis bahwa kita sering merasa sedang memilih, padahal yang memilih adalah layar. Bahwa jempol kita hanya menjalankan perintah algoritma yang lebih rajin daripada ketua RT dan lebih setia daripada kalender dinding. Kita hidup di zaman ketika takdir tidak lagi ditulis dalam kitab suci atau ramalan, melainkan dalam baris kode yang tak pernah tidur.

Namun saya ingin menambahkan satu kemungkinan lain. Barangkali dracin bukan hanya tempat kita bersembunyi, tetapi juga tempat kita belajar secara diam-diam; tentang harga diri, tentang kelas sosial, tentang kehormatan, tentang bagaimana manusia yang diremehkan bisa menjadi pusat semesta, walau hanya dalam cerita. Dan bukankah manusia, sejak awal sejarahnya, selalu belajar lewat cerita?

Eskapisme Tidak Pernah Netral, Tapi Tidak Selalu Kosong

Jaswanto menulis bahwa eskapisme adalah bentuk kekalahan yang disepakati bersama. Saya mengangguk. Dunia memang sedang pelit memberi makna. Kita hidup di zaman ketika bekerja keras hanya cukup untuk menunda kebangkrutan, bukan membangun masa depan. Kita hidup di masa ketika pendidikan mahal, rumah seperti barang antik, dan masa depan terasa seperti kontrak kerja tiga bulan.

Dalam keadaan seperti itu, wajar bila seseorang ingin menjadi Arsa Wira, pemuda miskin yang menyeberangi waktu dan mendadak penting bagi semesta. Bukan karena ingin kaya, mungkin, tetapi karena ingin dianggap ada. Namun eskapisme tidak pernah sesederhana lari.

Dalam kajian antropologi visual, film dan drama dipahami bukan hanya sebagai hiburan, tetapi sebagai ruang produksi makna. Ia bukan sekadar tirai asap untuk menutup kenyataan, melainkan juga cermin bengkok yang memantulkan kegelisahan kolektif masyarakat yang menontonnya.

Kita tidak menonton karena hidup kita baik-baik saja. Kita menonton justru karena hidup kita penuh retakan. Kita menonton karena dunia terlalu sering menolak untuk masuk akal. Dracin mungkin tidak memperbaiki dunia, tetapi ia membantu manusia menamai penderitaannya, walau dalam bahasa yang berlebihan, melodramatis, dan penuh musik latar. Ia memberi bentuk pada rasa tidak adil yang selama ini hanya berdiam di dada, seperti barang hilang yang tidak pernah dimasukkan dalam laporan polisi.

Salah satu pola paling konsisten dalam mikrodrama China adalah cara cerita memperlakukan tokoh utamanya. Ia hampir selalu datang sebagai seseorang yang tidak dianggap. Kadang ia anak haram yang keberadaannya disembunyikan seperti aib keluarga. Kadang ia menantu miskin yang kehadirannya hanya menambah daftar beban. Di lain cerita, ia pegawai rendahan yang namanya tak pernah dipanggil dalam rapat, atau perempuan yang diasumsikan bodoh hanya karena suaranya pelan dan bajunya sederhana. Ada pula lelaki tanpa status sosial, tanpa silsilah yang bisa dibanggakan, tanpa alamat prestisius untuk ditulis di kartu undangan.

Tokoh seperti ini memasuki dunia cerita tanpa modal sosial apa pun. Ia tidak membawa koneksi, tidak membawa gelar, tidak membawa nama keluarga besar. Ia hanya membawa satu bekal yang tidak pernah habis, yakni penderitaan yang rajin dan setia.

Lalu cerita bekerja seperti pembalasan metafisik. Dunia yang semula menertawakannya mulai membuka rahasia satu per satu. Yang diremehkan ternyata pewaris sah. Yang dianggap bodoh ternyata jenius tersembunyi. Yang diusir dari rumah ternyata pemilik sah dari segalanya. Yang ditertawakan ternyata sosok yang menentukan arah cerita. Ini memang fantasi. Namun fantasi tidak pernah lahir dari ruang hampa.

Dalam masyarakat yang hierarkis, baik di China maupun di Indonesia, pengalaman diremehkan adalah pengalaman massal. Kita tumbuh dengan kesadaran bahwa harga diri sering ditentukan oleh saldo, jabatan, dan silsilah. Kita belajar sejak kecil bahwa suara yang miskin tidak terlalu penting, bahwa pendapat yang tidak bergelar bisa diabaikan, bahwa hidup tanpa koneksi hanya akan jadi catatan kaki.

Mikrodrama mengajarkan satu pelajaran kecil yang tampak naif tapi penting. Jangan meremehkan siapa pun, karena dunia bisa berputar lebih cepat dari prasangka. Bagi penonton kelas bawah, ini bukan sekadar dongeng. Ini bentuk restitusi simbolik, pengembalian martabat yang tak pernah diberikan oleh dunia nyata. Sebuah pengakuan fiktif bahwa manusia tidak selalu sama dengan statusnya.

Visual sebagai Bahasa Kelas Sosial

Dalam dracin, kamera tidak pernah netral. Ia memihak dengan caranya sendiri. Orang kaya selalu hidup di ruang yang luas dan dingin, dindingnya bersih, furniturnya sedikit, cahayanya putih dan tenang seperti ruang pamer. Orang miskin tinggal di ruangan sempit dengan lampu kuning kusam, tembok yang mulai mengelupas, dan jendela yang jarang dibuka.

Pejabat berjalan perlahan, seolah dunia punya banyak waktu untuk menunggunya. Rakyat berjalan tergesa, seolah hidup adalah antrean panjang yang tidak pernah memberi kursi. Perempuan miskin sering menunduk ketika berbicara, suaranya pelan, bahunya menguncup. Perempuan bangsawan menatap lurus, berdiri tegak, dan bicara seolah setiap kalimatnya adalah keputusan.

Tidak ada yang kebetulan di sana. Semua itu adalah bahasa visual tentang siapa yang boleh bersuara lebih dulu, siapa yang harus menunggu, siapa yang pantas marah, dan siapa yang hanya boleh menelan kecewa.

Ketika tokoh miskin akhirnya berdiri tegak dan menolak tunduk, itulah momen katarsis massal. Bukan revolusi, tetapi cukup untuk membuat dada hangat selama beberapa menit. Cukup untuk membuat seseorang yang hidup dengan gaji pas-pasan merasa bahwa semesta, setidaknya di layar, pernah berpihak.

Jaswanto tajam ketika menulis bahwa dracin menjual kebohongan manis, dunia adil, hanya alurnya panjang. Benar Namun kebohongan ini juga berfungsi seperti morfin. Tidak menyembuhkan kanker, tapi mengurangi rasa sakit.

Dalam antropologi budaya, mitos tidak selalu berfungsi untuk menjelaskan realitas, tetapi untuk membuat realitas bisa ditanggung. Ia adalah perban pada luka yang tidak mungkin dijahit. Mikrodrama mengajarkan, penderitaan akan dibayar, air mata akan diganti gaun mahal, kehinaan akan berakhir di pelaminan.

Itu tidak benar secara statistik. Itu juga tidak benar menurut laporan BPS. Tapi secara psikologis, ia menyelamatkan banyak orang dari kehampaan total. Ia menunda keputusan untuk menyerah. Ia memberi alasan kecil untuk tetap bangun pagi. Kita boleh mengkritiknya sebagai penjinakan. Tapi kita juga perlu jujur, banyak orang tidak sedang ingin revolusi. Mereka hanya ingin tidak bunuh diri hari ini.

Jaswanto menyebut algoritma sebagai penguasa sejati. Saya setuju. Kita hidup di era ketika takdir tidak lagi ditulis dewa, tapi ditentukan oleh engagement rate. Yang sering kita tonton bukan yang kita butuhkan, melainkan yang paling lama membuat kita lupa waktu. Namun menariknya, dracin sering mengisahkan tokoh yang melawan sistem, menipu struktur, memanipulasi aturan lama. Ada ironi di sana.

Kita menonton cerita tentang manusia yang mengendalikan takdir, melalui layar yang dikendalikan mesin. Dalam istilah antropologi visual, ini disebut mediasi ganda. Manusia mengonsumsi cerita tentang kebebasan, melalui medium yang justru membatasi kebebasan pilihannya. Tragis. Sekaligus puitis. Kita belajar tentang keberanian, tapi tidak pernah diberi jeda untuk benar-benar memilih.

Mikrodrama sebagai Sekolah Emosi

Satu hal yang jarang dibicarakan, dracin melatih emosi. Ia mengajari kapan harus marah, kapan harus memaafkan, kapan harus menunggu, kapan harus membenci ibu suri. Emosi menjadi kurikulum singkat berdurasi sembilan puluh detik.

Ini problematis, tentu. Karena emosi manusia tidak sesederhana potongan klip. Tapi di sisi lain, bagi banyak orang yang tidak pernah diajari menamai perasaannya, drama menjadi kamus emosi murah-meriah. Mereka belajar bahwa cemburu itu ada, kehilangan itu normal, dikhianati itu menyakitkan, dan dicintai itu mungkin. Di dunia yang pelit validasi, bahkan air mata aktor asing bisa terasa seperti pengakuan.

Apakah dracin candu? Ya. Apakah ia menumpulkan kritik sosial? Sering Apakah ia alat diplomasi budaya China? Sangat mungkin. Namun ia juga arsip kegelisahan kelas menengah bawah, museum digital tentang fantasi keadilan, doa sekuler bagi mereka yang tidak lagi percaya pada perubahan struktural. Jika dunia nyata lebih ramah, mungkin dracin tidak akan sekuat ini. Jika upah cukup, rumah terjangkau, dan pemimpin masuk akal, mungkin kita tidak perlu menonton orang lain hidup bahagia. Kita menyewa mimpi, tapi kita juga menyewa harapan

Jaswanto menutup dengan kalimat yang pahit dan indah, kita menyewa mimpi karena membeli harapan terlalu mahal. Saya ingin menambahkan. Mungkin kita menyewa mimpi bukan karena bodoh, tetapi karena dunia terlalu sering menjual mimpi buruk sebagai kenyataan.Dalam dracin, orang miskin masih boleh menang. Dalam hidup, sering tidak. Dalam dracin, cinta bisa mengalahkan status. Dalam hidup, status sering mengalahkan cinta. Dalam dracin, keadilan datang di episode terakhir. Dalam hidup, bahkan episode terakhir sering tidak ditayangkan.

Saya tidak hendak membela mikrodrama China. Ia tetap produk industri, tetap manipulatif, tetap penuh gula emosional. Namun saya juga enggan sepenuhnya memandang penontonnya sebagai warga yang telah menyerah. Barangkali mereka tidak sedang lari. Barangkali mereka sedang bernapas. Dan barangkali, di sela sela napas itu, mereka belajar satu-dua hal; bahwa meremehkan orang lain adalah bentuk kebodohan sosial yang paling mahal. Bahwa penampilan sering menipu. Bahwa nasib tidak bisa dibaca dari harga sepatu. Bahwa setiap manusia ingin diakui sebagai tokoh utama, walau hidupnya figuran. Itu pelajaran kecil. Tidak revolusioner. Tidak menyelamatkan negara. Tapi cukup untuk membuat seseorang bangun esok hari, mandi, bekerja lagi, dan bertahan satu episode lagi dalam serial panjang bernama hidup. Dan mungkin, di zaman seperti ini, itu sudah termasuk bentuk keberanian yang sunyi. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

BACA:

Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial
Tags: dracinDramadrama cina
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bulan Bahasa Bali VIII Sudah Siap Digelar

Next Post

Perpustakaan Sekolah untuk  Gen Z

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

by Angga Wijaya
July 31, 2026
0
“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

MALAM itu, gelap menggantung di langit Pantai Melasti, Ungasan, Badung, Bali. Debur ombak bersahutan dengan suara "cak... cak... cak..." yang...

Read moreDetails

The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

by Bayu Wira Handyan
July 19, 2026
0
The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

SUDAH tentu, Christopher Nolan bukan sutradara pertama yang mengadaptasi epos Odyssey milik Homer. Kisah itu sudah ada sekitar 2.800 tahun...

Read moreDetails

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

by Satria Aditya
June 1, 2026
0
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

Read moreDetails

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
0
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

Read moreDetails

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026
0
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

Read moreDetails

Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

by Made Adnyana
May 6, 2026
0
Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

TIDAK banyak film biografi mampu merangkum kehidupan seorang musisi besar secara utuh. Ada yang memilih merayakan, ada pula yang mencoba...

Read moreDetails

Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

by Jaswanto
March 28, 2026
0
Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

SEJAK menonton video promosi singkatnya di media sosial, saya tahu bahwa Hoppers (2026) bukan sekadar film animasi yang diperuntukkan untuk...

Read moreDetails

Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

by Agung Kesawa Kevalam
February 12, 2026
0
Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

ADA jenis cinta yang datang untuk menemani, dan banyak juga yang datang untuk mengingatkan. Itulah kesan yang saya dapatkan ketika...

Read moreDetails

Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

by Rana Nasyitha
January 24, 2026
0
Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

WAKTU itu saya melihat judul film ini di sebuah aplikasi/platform streaming lokal. Di antara kumpulan film indonesia lainnya, Surat Dari...

Read moreDetails

Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

by Ahmad Sihabudin
January 23, 2026
0
Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

BAGI generasi yang tumbuh sebelum jalan tol Trans Jawa rampung, nama Alas Roban bukan sekadar penanda geografis. Ia adalah kata...

Read moreDetails
Next Post
Perpustakaan Sekolah untuk  Gen Z

Perpustakaan Sekolah untuk  Gen Z

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co