3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup? — Tanggapan untuk Jaswanto

Angga Wijaya by Angga Wijaya
January 21, 2026
in Ulas Film
Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup?  — Tanggapan untuk Jaswanto

Sumber foto dari berbagai sumber di Google

PADA esai Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial (Tatkala.co, 16 Januari 2026), saya sepakat dengan Jaswanto, sang penulis, dalam banyak hal. Terutama ketika ia menyebut mikrodrama China atau dracin sebagai obat penenang kolektif, pil kecil yang kita telan sambil rebahan, agar dunia terasa bisa ditunda. Ia benar, dracin datang bukan sebagai tamu, melainkan sebagai rombongan pengantin; ramai, ribut, membawa hadiah visual, dan langsung menguasai ruang tamu kesadaran kita.

Ia juga benar ketika menulis bahwa kita sering merasa sedang memilih, padahal yang memilih adalah layar. Bahwa jempol kita hanya menjalankan perintah algoritma yang lebih rajin daripada ketua RT dan lebih setia daripada kalender dinding. Kita hidup di zaman ketika takdir tidak lagi ditulis dalam kitab suci atau ramalan, melainkan dalam baris kode yang tak pernah tidur.

Namun saya ingin menambahkan satu kemungkinan lain. Barangkali dracin bukan hanya tempat kita bersembunyi, tetapi juga tempat kita belajar secara diam-diam; tentang harga diri, tentang kelas sosial, tentang kehormatan, tentang bagaimana manusia yang diremehkan bisa menjadi pusat semesta, walau hanya dalam cerita. Dan bukankah manusia, sejak awal sejarahnya, selalu belajar lewat cerita?

Eskapisme Tidak Pernah Netral, Tapi Tidak Selalu Kosong

Jaswanto menulis bahwa eskapisme adalah bentuk kekalahan yang disepakati bersama. Saya mengangguk. Dunia memang sedang pelit memberi makna. Kita hidup di zaman ketika bekerja keras hanya cukup untuk menunda kebangkrutan, bukan membangun masa depan. Kita hidup di masa ketika pendidikan mahal, rumah seperti barang antik, dan masa depan terasa seperti kontrak kerja tiga bulan.

Dalam keadaan seperti itu, wajar bila seseorang ingin menjadi Arsa Wira, pemuda miskin yang menyeberangi waktu dan mendadak penting bagi semesta. Bukan karena ingin kaya, mungkin, tetapi karena ingin dianggap ada. Namun eskapisme tidak pernah sesederhana lari.

Dalam kajian antropologi visual, film dan drama dipahami bukan hanya sebagai hiburan, tetapi sebagai ruang produksi makna. Ia bukan sekadar tirai asap untuk menutup kenyataan, melainkan juga cermin bengkok yang memantulkan kegelisahan kolektif masyarakat yang menontonnya.

Kita tidak menonton karena hidup kita baik-baik saja. Kita menonton justru karena hidup kita penuh retakan. Kita menonton karena dunia terlalu sering menolak untuk masuk akal. Dracin mungkin tidak memperbaiki dunia, tetapi ia membantu manusia menamai penderitaannya, walau dalam bahasa yang berlebihan, melodramatis, dan penuh musik latar. Ia memberi bentuk pada rasa tidak adil yang selama ini hanya berdiam di dada, seperti barang hilang yang tidak pernah dimasukkan dalam laporan polisi.

Salah satu pola paling konsisten dalam mikrodrama China adalah cara cerita memperlakukan tokoh utamanya. Ia hampir selalu datang sebagai seseorang yang tidak dianggap. Kadang ia anak haram yang keberadaannya disembunyikan seperti aib keluarga. Kadang ia menantu miskin yang kehadirannya hanya menambah daftar beban. Di lain cerita, ia pegawai rendahan yang namanya tak pernah dipanggil dalam rapat, atau perempuan yang diasumsikan bodoh hanya karena suaranya pelan dan bajunya sederhana. Ada pula lelaki tanpa status sosial, tanpa silsilah yang bisa dibanggakan, tanpa alamat prestisius untuk ditulis di kartu undangan.

Tokoh seperti ini memasuki dunia cerita tanpa modal sosial apa pun. Ia tidak membawa koneksi, tidak membawa gelar, tidak membawa nama keluarga besar. Ia hanya membawa satu bekal yang tidak pernah habis, yakni penderitaan yang rajin dan setia.

Lalu cerita bekerja seperti pembalasan metafisik. Dunia yang semula menertawakannya mulai membuka rahasia satu per satu. Yang diremehkan ternyata pewaris sah. Yang dianggap bodoh ternyata jenius tersembunyi. Yang diusir dari rumah ternyata pemilik sah dari segalanya. Yang ditertawakan ternyata sosok yang menentukan arah cerita. Ini memang fantasi. Namun fantasi tidak pernah lahir dari ruang hampa.

Dalam masyarakat yang hierarkis, baik di China maupun di Indonesia, pengalaman diremehkan adalah pengalaman massal. Kita tumbuh dengan kesadaran bahwa harga diri sering ditentukan oleh saldo, jabatan, dan silsilah. Kita belajar sejak kecil bahwa suara yang miskin tidak terlalu penting, bahwa pendapat yang tidak bergelar bisa diabaikan, bahwa hidup tanpa koneksi hanya akan jadi catatan kaki.

Mikrodrama mengajarkan satu pelajaran kecil yang tampak naif tapi penting. Jangan meremehkan siapa pun, karena dunia bisa berputar lebih cepat dari prasangka. Bagi penonton kelas bawah, ini bukan sekadar dongeng. Ini bentuk restitusi simbolik, pengembalian martabat yang tak pernah diberikan oleh dunia nyata. Sebuah pengakuan fiktif bahwa manusia tidak selalu sama dengan statusnya.

Visual sebagai Bahasa Kelas Sosial

Dalam dracin, kamera tidak pernah netral. Ia memihak dengan caranya sendiri. Orang kaya selalu hidup di ruang yang luas dan dingin, dindingnya bersih, furniturnya sedikit, cahayanya putih dan tenang seperti ruang pamer. Orang miskin tinggal di ruangan sempit dengan lampu kuning kusam, tembok yang mulai mengelupas, dan jendela yang jarang dibuka.

Pejabat berjalan perlahan, seolah dunia punya banyak waktu untuk menunggunya. Rakyat berjalan tergesa, seolah hidup adalah antrean panjang yang tidak pernah memberi kursi. Perempuan miskin sering menunduk ketika berbicara, suaranya pelan, bahunya menguncup. Perempuan bangsawan menatap lurus, berdiri tegak, dan bicara seolah setiap kalimatnya adalah keputusan.

Tidak ada yang kebetulan di sana. Semua itu adalah bahasa visual tentang siapa yang boleh bersuara lebih dulu, siapa yang harus menunggu, siapa yang pantas marah, dan siapa yang hanya boleh menelan kecewa.

Ketika tokoh miskin akhirnya berdiri tegak dan menolak tunduk, itulah momen katarsis massal. Bukan revolusi, tetapi cukup untuk membuat dada hangat selama beberapa menit. Cukup untuk membuat seseorang yang hidup dengan gaji pas-pasan merasa bahwa semesta, setidaknya di layar, pernah berpihak.

Jaswanto tajam ketika menulis bahwa dracin menjual kebohongan manis, dunia adil, hanya alurnya panjang. Benar Namun kebohongan ini juga berfungsi seperti morfin. Tidak menyembuhkan kanker, tapi mengurangi rasa sakit.

Dalam antropologi budaya, mitos tidak selalu berfungsi untuk menjelaskan realitas, tetapi untuk membuat realitas bisa ditanggung. Ia adalah perban pada luka yang tidak mungkin dijahit. Mikrodrama mengajarkan, penderitaan akan dibayar, air mata akan diganti gaun mahal, kehinaan akan berakhir di pelaminan.

Itu tidak benar secara statistik. Itu juga tidak benar menurut laporan BPS. Tapi secara psikologis, ia menyelamatkan banyak orang dari kehampaan total. Ia menunda keputusan untuk menyerah. Ia memberi alasan kecil untuk tetap bangun pagi. Kita boleh mengkritiknya sebagai penjinakan. Tapi kita juga perlu jujur, banyak orang tidak sedang ingin revolusi. Mereka hanya ingin tidak bunuh diri hari ini.

Jaswanto menyebut algoritma sebagai penguasa sejati. Saya setuju. Kita hidup di era ketika takdir tidak lagi ditulis dewa, tapi ditentukan oleh engagement rate. Yang sering kita tonton bukan yang kita butuhkan, melainkan yang paling lama membuat kita lupa waktu. Namun menariknya, dracin sering mengisahkan tokoh yang melawan sistem, menipu struktur, memanipulasi aturan lama. Ada ironi di sana.

Kita menonton cerita tentang manusia yang mengendalikan takdir, melalui layar yang dikendalikan mesin. Dalam istilah antropologi visual, ini disebut mediasi ganda. Manusia mengonsumsi cerita tentang kebebasan, melalui medium yang justru membatasi kebebasan pilihannya. Tragis. Sekaligus puitis. Kita belajar tentang keberanian, tapi tidak pernah diberi jeda untuk benar-benar memilih.

Mikrodrama sebagai Sekolah Emosi

Satu hal yang jarang dibicarakan, dracin melatih emosi. Ia mengajari kapan harus marah, kapan harus memaafkan, kapan harus menunggu, kapan harus membenci ibu suri. Emosi menjadi kurikulum singkat berdurasi sembilan puluh detik.

Ini problematis, tentu. Karena emosi manusia tidak sesederhana potongan klip. Tapi di sisi lain, bagi banyak orang yang tidak pernah diajari menamai perasaannya, drama menjadi kamus emosi murah-meriah. Mereka belajar bahwa cemburu itu ada, kehilangan itu normal, dikhianati itu menyakitkan, dan dicintai itu mungkin. Di dunia yang pelit validasi, bahkan air mata aktor asing bisa terasa seperti pengakuan.

Apakah dracin candu? Ya. Apakah ia menumpulkan kritik sosial? Sering Apakah ia alat diplomasi budaya China? Sangat mungkin. Namun ia juga arsip kegelisahan kelas menengah bawah, museum digital tentang fantasi keadilan, doa sekuler bagi mereka yang tidak lagi percaya pada perubahan struktural. Jika dunia nyata lebih ramah, mungkin dracin tidak akan sekuat ini. Jika upah cukup, rumah terjangkau, dan pemimpin masuk akal, mungkin kita tidak perlu menonton orang lain hidup bahagia. Kita menyewa mimpi, tapi kita juga menyewa harapan

Jaswanto menutup dengan kalimat yang pahit dan indah, kita menyewa mimpi karena membeli harapan terlalu mahal. Saya ingin menambahkan. Mungkin kita menyewa mimpi bukan karena bodoh, tetapi karena dunia terlalu sering menjual mimpi buruk sebagai kenyataan.Dalam dracin, orang miskin masih boleh menang. Dalam hidup, sering tidak. Dalam dracin, cinta bisa mengalahkan status. Dalam hidup, status sering mengalahkan cinta. Dalam dracin, keadilan datang di episode terakhir. Dalam hidup, bahkan episode terakhir sering tidak ditayangkan.

Saya tidak hendak membela mikrodrama China. Ia tetap produk industri, tetap manipulatif, tetap penuh gula emosional. Namun saya juga enggan sepenuhnya memandang penontonnya sebagai warga yang telah menyerah. Barangkali mereka tidak sedang lari. Barangkali mereka sedang bernapas. Dan barangkali, di sela sela napas itu, mereka belajar satu-dua hal; bahwa meremehkan orang lain adalah bentuk kebodohan sosial yang paling mahal. Bahwa penampilan sering menipu. Bahwa nasib tidak bisa dibaca dari harga sepatu. Bahwa setiap manusia ingin diakui sebagai tokoh utama, walau hidupnya figuran. Itu pelajaran kecil. Tidak revolusioner. Tidak menyelamatkan negara. Tapi cukup untuk membuat seseorang bangun esok hari, mandi, bekerja lagi, dan bertahan satu episode lagi dalam serial panjang bernama hidup. Dan mungkin, di zaman seperti ini, itu sudah termasuk bentuk keberanian yang sunyi. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

BACA:

Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial
Tags: dracinDramadrama cina
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bulan Bahasa Bali VIII Sudah Siap Digelar

Next Post

Perpustakaan Sekolah untuk  Gen Z

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12

by Yoga Wismantara
September 24, 2026
0
Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12

SAYA saya masih duduk di bangku SMP, saya pernah bertanya pada diri sendiri, “Apa yang akan terjadi jika saya bisa...

Read moreDetails

Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998

by Arya Dhamma Nanda
September 24, 2026
0
Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998

PERKEMBANGAN ekonomi dalam masyarakat biasanya memicu berbagai perubahan pada pasar yang kemudian berdampak pada kehidupan masyarakat dan lingkungan di sekitarnya....

Read moreDetails

Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi

by Arya Dhamma Nanda
September 21, 2026
0
Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi

ENIGMA adalah program kompilasi film pendek dalam ajang Minikino Film Week 12 (MFW12) yang mengusung subjudul What Goes Around Comes...

Read moreDetails

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
0
SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

Read moreDetails

“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

by Satria Aditya
August 7, 2026
0
“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

ADA satu hal yang langsung terasa begitu duduk menonton Tung Tung Uma, bagaimana Amrita Dharma memetakan setiap adegannya dengan begitu...

Read moreDetails

“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

by Angga Wijaya
July 31, 2026
0
“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

MALAM itu, gelap menggantung di langit Pantai Melasti, Ungasan, Badung, Bali. Debur ombak bersahutan dengan suara "cak... cak... cak..." yang...

Read moreDetails

The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

by Bayu Wira Handyan
July 19, 2026
0
The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

SUDAH tentu, Christopher Nolan bukan sutradara pertama yang mengadaptasi epos Odyssey milik Homer. Kisah itu sudah ada sekitar 2.800 tahun...

Read moreDetails

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

by Satria Aditya
June 1, 2026
0
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

Read moreDetails

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
0
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

Read moreDetails

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026
0
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

Read moreDetails
Next Post
Perpustakaan Sekolah untuk  Gen Z

Perpustakaan Sekolah untuk  Gen Z

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co