2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

Jaswanto by Jaswanto
January 16, 2026
in Ulas Film
Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

Tangkapan layar drama China "Istriku Tiga, Takdirku Gila" dari YouTube

SEORANG pria muda jomlo dan kurang mampu dari zaman modern entah bagaimana ceritanya bisa melintasi waktu dan masuk ke tubuh pemuda miskin (juga) di zaman Dinasti Kina. Pria muda itu digambarkan berkarakter spontan, licik, namun romantis, baik hati, dan komikal. Namanya Arsa Wira (diperankan oleh Xie Ze Cheng). Di zaman Dinasti Kina, ia harus menjalani takdir absurd: hidup di masa sulit dan harus menikahi tiga perempuan sekaligus―semuanya cantik, tentu saja. Tapi ia tidak khawatir, sebab ia dibekali sebuah sistem yang bisa membuatnya menjadi orang hebat―bahkan dapat menaklukkan para bandit gunung dan penguasa lalim yang ditakuti. Sistem ini akan semakin canggih ketika ketiga istri Arsa Wira merasa senang dan bahagia.

Tapi saya segera kecewa sebab kisah Arsa Wira terpotong begitu saja, nyaris semena-mena, pada saat yang paling krusial. Drama itu dipotong dengan begitu kejam oleh pengunggah dengan pengumuman “Tonton selengkapnya di DramaBox”. Karena itulah, tanpa sadar saya meluwangkan waktu untuk mencarinya di platform lain, YouTube, dengan kaca kunci “Istriku Tiga, Takdirku Gila”. Dan ketemu. Saya tonton drama itu sampai selesai. Ya, drama ketengan ini berjudul “Istriku Tiga, Takdirku Gila” atau My Wife, My Three Destinies Are Crazy.

Sejak saat itulah, linimasa saya “mulai terbawa arus”, dipenuhi oleh potongan-potongan drama pendek asal China. Formatnya ringkas dengan durasi singkat, alur cerita cepat, emosi yang langsung meledak sejak awal, serta akhir cerita yang kerap menggantung. Tema-tema seperti kisah cinta, konflik keluarga, hingga balas dendam dikemas sepadat mungkin agar penonton tidak sempat beralih perhatian.

Sebagaimana laporan Litbang Kompas (2025), dalam waktu relatif singkat, drama China yang populer disebut dracin menjelma menjadi tontonan massal lintas usia dan negara. Di TikTok, Instagram, hingga YouTube, dracin hadir bersisian dengan konten lokal, perlahan mengaburkan batas antara hiburan global dan rutinitas harian masyarakat Indonesia.

Platform gratis macam Dramabox―platform streaming yang menyediakan drama pendek dan film dalam berbagai genre, seperti romansa, fantasi, urban, dan aksi. DramaBox memungkinkan pengguna menikmati kisah-kisah yang intens dan emosional dalam format yang mudah diakses dan dipahami, bahkan oleh penonton dengan waktu luang yang terbatas―semakin membuat drama-drama ini nyaris seperti tak dapat dibendung.

Ya, drama China datang ke media sosial seperti rombongan pengantin: ramai, berisik, dan sulit ditolak. Potongan adegan dari Hidden Love, Love Between Fairy and Devil, Till The End of The Moon, The Untamed, sampai Love Like The Galaxy berseliweran di TikTok, Reels, dan beranda Facebook, disajikan dalam format yang sangat cocok untuk orang yang tak punya waktu, tapi punya rasa ingin tahu yang berlebihan. Satu klip berakhir di momen gantung, kita pun melakukan dosa kecil bernama “geser ke atas”. Begitu seterusnya, sampai lupa kalau air galon belum diisi atau makan malam untuk suami belum disajikan.

Saya merasa ada sesuatu yang sangat terencana bagaimana dracin ini menyusup. Mereka tidak meminta kita menonton satu episode penuh; mereka hanya butuh 60 detik pertama. Sisanya akan diurus oleh algoritma, makhluk tak kasatmata yang lebih tekun daripada guru BK dan lebih telaten daripada pasangan yang baru saja jadian. Kita mungkin merasa memilih, padahal yang memilih adalah layar. Kita merasa berdaulat, padahal yang berdaulat adalah For You Page.

Jika menengok sejarah, seperti yang disampaikan laporan Litbang Kompas (2025), dunia pernah menyaksikan Jepang menyebarkan pengaruh budayanya melalui konsep Cool Japan, disusul Korea Selatan dengan Korean Wave. Kini, China tampak memasuki arena yang sama, tetapi menempuh jalur berbeda. Alih-alih mengandalkan estetika visual atau kedalaman emosi, negeri Tirai Bambu itu memilih jalan algoritma. Dracin bukan sekadar hiburan, melainkan bentuk baru diplomasi budaya yang tumbuh subur dalam ekosistem distribusi digital, di mana klik, tontonan, dan rekomendasi menjadi kekuatan yang nyaris tak terlihat.

Pertanyaannya, mengapa drama China dan bukan yang lain? Jawabannya barangkali karena dracin menawarkan dunia yang sangat rapi ketika dunia nyata terlalu berantakan. Dalam dracin, konflik selalu punya panggung yang indah. Bahkan penderitaan pun divideo dari sudut yang menawan. Orang miskin tetap tampan, orang kaya tetap sopan, dan kejahatan—betapapun liciknya—selalu punya jam tayang terbatas. Tidak seperti di dunia nyata, di mana penjahat sering mendapat perpanjangan kontrak.

Eskapisme dalam Mikrodrama China

Sebagaimana jamak diketahui, penonton drama vertikal memang menyukai cerita tentang takdir yang semula menyengsarakan, lalu berbalik arah melalui rangkaian peristiwa yang nyaris menyerupai keajaiban. Menurut penulis naskah drama vertikal yang menggunakan nama pena Camille Rao, seperti dikutip oleh Litbang Kompas (2025), kisah-kisah tersebut sering menampilkan tokoh dari kelas bawah yang tiba-tiba meloncat ke kelas atas. “Anda mendadak menjadi sangat kaya hingga bisa mencibir orang-orang yang dulu pernah mencibir Anda,” ujarnya.

Cerita semacam itu, menurut Xu Ting, dosen Sastra China di Universitas Jiangnan―yang dikutit Litbang Kompas (2025)―, memberi secercah harapan bagi masyarakat yang tengah tertekan oleh situasi ekonomi. Tak sedikit pula drama yang berkutat pada kehidupan keluarga superkaya dan para miliarder. “Semua orang ingin berkuasa dan kaya. Jadi wajar jika cerita seperti itu digemari banyak orang,” kata Xu.

Di titik inilah teori eskapisme menjadi tampak relevan. Eskapisme adalah kecenderungan atau perilaku manusia mencari pelarian dari kenyataan hidup sehari-hari yang membosankan, penuh tekanan, atau tidak menyenangkan, dengan cara membenamkan diri dalam aktivitas hiburan atau dunia khayalan, seperti bermain game, menonton film, berlama-lama dengan media sosial, yang bisa bersifat konstruktif (pelepas penat) atau destruktif (menghindari masalah secara berlebihan). Ini adalah mekanisme untuk mengatasi stres, tetapi jika berlebihan dapat menimbulkan masalah baru. 

Dalam pengertian paling sopan, eskapisme adalah hasrat manusia untuk lari dari dunia yang tak bisa ia perbaiki. Dan dalam pengertian yang lebih jujur, ia adalah pengakuan diam-diam bahwa kita sebenarnya sudah menyerah dalam banyak hal. Kita tidak lagi menuntut dunia menjadi masuk akal; kita hanya menuntut tontonan agar dunia terasa bisa ditunda. Dan dracin datang tepat waktu, seperti obat penenang yang dikemas dalam kostum dinasti dan musik latar yang menyayat-nyayat.

Dahulu orang melarikan diri ke gua, ke tuak, ke hobi, atau bahkan ke pengajian. Sekarang kita melarikan diri ke kerajaan fiksi yang bahkan tidak punya peta di Google Maps. Menonton Love Between Fairy and Devil atau Till The End of The Moon bukan semata-mata urusan cinta terlarang dan reinkarnasi; ia adalah cara paling halus untuk berkata: “Tolong, beri saya dunia yang tidak seperti ini, meskipun hanya 15 menit.”

Masalahnya, pelarian yang terlalu sering akan membuat kita lupa jalan pulang. Kita mulai hafal silsilah klan di The Untamed, tapi tidak hafal nama ketua RT sendiri. Kita tahu siapa yang pantas bersanding dengan siapa di Hidden Love, tapi tidak tahu siapa yang pantas memimpin kota kita sendiri. Dunia fiksi menjadi lebih masuk akal daripada dunia nyata.

Menurut saya, di titik ini, eskapisme bukan lagi sekadar rehat, melainkan cara baru untuk berdamai dengan kekalahan. Kita tidak mengubah hidup; kita mengganti latarnya. Kita tidak memperbaiki keadaan; kita memindahkan perasaan ke tubuh orang lain. Kita ikut bahagia ketika tokoh utama di Love Like The Galaxy akhirnya bersatu, seolah-olah itu prestasi kolektif, seolah-olah ada satu masalah nyata yang ikut selesai. Padahal tidak ada.

Drama China juga mengajarkan satu kebohongan yang sangat kita sukai: bahwa dunia pada dasarnya adil, hanya saja alurnya panjang dan berliku. Bahwa jika kau cukup sabar, kau akan menemukan siapa dirimu sebenarnya—biasanya bangsawan yang tertukar atau jenius yang disalahpahami. Ini narasi yang indah, dan sekaligus sangat politis: ia memindahkan harapan dari perubahan sistem ke ketekunan individu. Jika hidupmu buruk, itu bukan karena dunia tidak adil, tapi karena episodemu belum sampai klimaks.

Dari kacamata ini, jika Anda sadari, eskapisme bukan pelarian, tapi penjinakan. Ia membuat kita betah tinggal di kandang kenyataan yang sempit, asal diberi jendela ke pemandangan palsu. Kita tidak lagi membenci penjara, karena setiap malam kita bisa bermimpi jadi pangeran. Yang paling menyedihkan bukanlah kita kecanduan menonton dracin. Tapi banyak orang yang membutuhkannya untuk bertahan hidup secara emosional. Ini tanda bahwa dunia nyata sudah terlalu pelit memberi makna, terlalu kikir memberi harapan, dan terlalu sering memberi alasan untuk menyerah. Kita menertawakan orang yang percaya pada ramalan, tapi kita sendiri percaya pada alur cerita yang tak masuk akal.

Drama China bekerja seperti pabrik mimpi. Mereka memproduksi ketampanan, kecantikan, dan kesetiaan dalam jumlah massal. Semua terasa terukur: kapan penonton harus tersenyum, kapan harus menangis, kapan harus memaki ibu suri yang jahat dan menyebalkan. Bahkan air mata pun terasa seperti bagian dari kontrak. Ah, jika perasaan bisa dijadwalkan sepresisi ini, jangan-jangan kita memang sudah terlalu siap untuk diatur.

Namun saya tak bisa sepenuhnya menyalahkan penonton. Hidup kita memang sedang tidak ramah. Upah kecil, sulit mencari kerja, birokrasi pemerintah yang bobrok, para pemimpin yang lalim, dan masa depan sering terasa seperti sinopsis yang ditulis oleh orang yang kehabisan ide. Dalam keadaan seperti itu, siapa yang tidak ingin menjadi rakyat jelata yang ternyata putri mahkota yang tertukar? Siapa yang tidak ingin percaya bahwa cinta—seperti dalam Love Like The Galaxy—bisa menyelesaikan persoalan yang bahkan negara saja gagal menyelesaikannya?

Pada kenyatannya, eskapisme tidak membuat masalah kita selesai, ia tidak menyembuhkan penyakit, hanya membuat kita berhenti berteriak. Dan dalam dunia yang seharusnya sering diteriaki, itu adalah kemenangan yang sangat sunyi bagi mereka yang diuntungkan oleh keadaan. Maka ketika saya melihat orang menggeser layar, dari satu kerajaan ke kerajaan lain, dari satu cinta terlarang ke cinta terkutuk berikutnya, saya tidak melihat orang yang sedang mencari hiburan. Saya melihat warga sebuah negeri yang sedang menyewa mimpi, karena membeli harapan sudah terlalu mahal.

Dan seperti semua barang sewaan, mimpi itu harus dikembalikan. Besok pagi. Tepat ketika kita kembali bekerja, kembali menonton para bandit-bandit yang menjadi pemimpin negara, kembali sadar bahwa kita hidup di Indonesia dan menjadi WNI. Tepat ketika kita kembali hidup di negeri yang tidak punya musik latar dramatik.[T]

Tags: dracinDramadrama china
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kita Butuh Uang, Tapi Uang Bukan Segalanya: Renungan Perayaan Foundation Day ke-36 di Anand Ashram Ubud

Next Post

Pemberontakan Spiritual dan Luka Sejarah

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12

by Yoga Wismantara
September 24, 2026
0
Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12

SAYA saya masih duduk di bangku SMP, saya pernah bertanya pada diri sendiri, “Apa yang akan terjadi jika saya bisa...

Read moreDetails

Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998

by Arya Dhamma Nanda
September 24, 2026
0
Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998

PERKEMBANGAN ekonomi dalam masyarakat biasanya memicu berbagai perubahan pada pasar yang kemudian berdampak pada kehidupan masyarakat dan lingkungan di sekitarnya....

Read moreDetails

Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi

by Arya Dhamma Nanda
September 21, 2026
0
Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi

ENIGMA adalah program kompilasi film pendek dalam ajang Minikino Film Week 12 (MFW12) yang mengusung subjudul What Goes Around Comes...

Read moreDetails

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
0
SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

Read moreDetails

“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

by Satria Aditya
August 7, 2026
0
“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

ADA satu hal yang langsung terasa begitu duduk menonton Tung Tung Uma, bagaimana Amrita Dharma memetakan setiap adegannya dengan begitu...

Read moreDetails

“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

by Angga Wijaya
July 31, 2026
0
“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

MALAM itu, gelap menggantung di langit Pantai Melasti, Ungasan, Badung, Bali. Debur ombak bersahutan dengan suara "cak... cak... cak..." yang...

Read moreDetails

The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

by Bayu Wira Handyan
July 19, 2026
0
The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

SUDAH tentu, Christopher Nolan bukan sutradara pertama yang mengadaptasi epos Odyssey milik Homer. Kisah itu sudah ada sekitar 2.800 tahun...

Read moreDetails

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

by Satria Aditya
June 1, 2026
0
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

Read moreDetails

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
0
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

Read moreDetails

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026
0
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

Read moreDetails
Next Post
Pemberontakan Spiritual dan Luka Sejarah

Pemberontakan Spiritual dan Luka Sejarah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co