SUDAH bertahun-tahun semenjak film ini lahir, saya tak pernah sekalipun menonton film-film Ghibli. Karena terhalang kendala biaya, juga karena saya tak diperbolehkan untuk berlangganan dan menonton film ini di platform resmi seperti Netflix. Tapi semakin bertambah usia, perlahan-lahan saya memutuskan untuk saatnya menonton mahakarya Hayao Miyazaki ini pada sebuah malam, saya duduk diam dalam dunia fantasi.
Langsung pada inti dari ulasan saya setelah cerita singkat tadi adalah film ini dipenuhi dengan imajinasi, rasa gelisah, Hayao Miyazaki di tahun 2001, lebih tepatnya 20 Juli di jepang dia menggambar secara manual disaat beberapa studio animasi semangat-semangatnya menggunakan CGI, atau komputer, Miyazaki memiliki cara berbeda. Walaupun begitu masih ada sedikit pengguna komputer untuk pewarnaan.
Chihiro adalah nama anak yang akan pindah bersama kedua orang tuanya, dan dalam perjalanan menemui jalur menuju tempat yang tak pernah mereka ketahui. Rasa penasaran itu membawa mereka lebih dalam, dan sampailah kaki mereka menapaki sebuah desa antah berantah. Lalu mereka mencium aroma sedap, sehingga ayah dan ibu Chihiro itu seperti kesambet sesuatu mereka asal memakan makanan yang begitu berlimpah, lezat di atas meja. Dan pada titik ini cerita sebenarnya baru dimulai.
Di awal saya katakan bahwa saya seperti melihat rasa gelisah Miyazaki yang tertuang pada film ini. Bukan hanya fantasi, tapi mengangkat isu lingkungan, dosa, sampai pertemanan dan keluarga. Semua itu digambarkan pada satu dunia, dengan metafora seorang dewa danau yang dari luar sangat kotor aslinya tidak, tapi kenapa dia begitu kotor jika dirinya adalah dewa danau? Siapa makhluk yang mampu menodai dewa danau?
Saya entah kenapa merasakan bagaimana keserakahan mengambil alih perilaku, dan tindakan makhluk hidup. Atau bagaimana tokoh utama, si Chihiro masih memiliki rasa simpati, peduli, tanpa ada rasa dendam pada dirinya terhadap orang lain. Ini membuat saya heran setelah atau ketika sedang menonton. Rasanya saya masih melihat Chihiro sebagai anak polos.
Dan selalu terjadi pada beberapa tokoh film-film Ghibli di mana perempuan itu menjadi berani dan tangguh, juga hampir semuanya berkaitan dengan anak kecil. Apakah ini sebuah pola yang disengaja? Atau ini sebenarnya sebuah pesan yang dibuat oleh Hayao Miyazaki ataupun Isao Takahata? Tak jauh dulu melihat film-film mereka seperti Grave of the Fireflies, My Neighbour Totoro, ataupun Kiki’s Delivery Service. Mari kita berfokus pada Chihiro Ogino.
Dari sini satu hal yang hanya dia inginkan, yaitu menyelamatkan kedua orang tuanya dan pulang. Itu saja, sesederhana itu tapi permintaannya harus ditunda, tunda, dan tunda, karena antagonis pada film ini ada sebuah aturan yang sudah tertanam pada dunia arwah yaitu siapapun manusia yang masuk mereka punya dua pilihan, menjadi babi atau arang.
Jika saya ditanya oleh orang bagaimana nasib Chihiro pada film itu apakah menjadi babi atau arang, atau manusia, saya akan menyuruh mereka menonton filmnya terlebih dulu. Kenapa? Karena emosi dan pertanyaan-pertanyaan itu bisa terjawab melalui megahnya visual yang dihadirkan. Kalau saya hanya memberitahu bahwa nasib Chihiro seperti itu, ayah dan ibunya seperti ini, itu akan menghilangkan keterikatan emosi kita terhadap tokoh-tokoh dalam cerita dan hanya akan menjadi sekadar tahu saja.
Maka dari itu, pada tahun 2003 di sore hari, di Kodak Theatre yang sekarang berubah menjadi Dolby Theatre, Amerika Serikat. Nama-nama film animasi disebutkan oleh Cameron Diaz mulai dari Ice Ages, Lilo & Stitch, Spirit: Stallion of the Cimarron, dan sampailah pada nama Spirited Away Dan film lainnya, penghargaan Best Animated Feature di ajang 75th Academy Awards (Piala Oscar 2003) jatuh kepada Spirited Away, dan ini bisa menjadi sebuah penilaian secara tidak langsung, bahwa inilah mahakarya dari Ghibli studio.
Tapi di balik itu semua ada saja hal yang masih mengganjal di dalam hati saya setelah menonton film ini. Selain bagusnya film ini mulai dari teknik gambar dari bervariasinya angle, gerakan-gerakan tokoh yang dinamis, tapi yang saya soroti itu tokoh utamanya. Dalam psikologis manusia sendiri, anak kecil memiliki batas toleransi terhadap dunia yang baru dia kenal, sama seperti orang dewasa juga. Yang di mana pastinya memiliki insting bertahan hidup (Survival Instinct). Dan saya merasa, Chihiro ini seperti ingin bertindak pahlawan dengan nekat melakukan hal yang sebetulnya beresiko. Tapi semua ini tak lepas dari bagaimana caranya menyikapi dunia yang dia pijak.
Akhirnya semua kembali lagi kepada apa yang kita percaya pada film ini. Pada malam itu saya berpikir bagaimana rasanya dilempar di tempat antah berantah, rasa asing muncul dan hilangnya rasa aman. Tapi itu semua hancur, pikiran itu hancur ketika saya memutuskan untuk tidur dan berharap tak menjadi seperti dirinya, anak yang memohon dikembalikan kedua orang tuanya. [T]





























