27 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

Bayu Wira Handyan by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
in Ulas Film
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

Yusuf Mahardika dan Zulfa Maharani dalam film Crocodile Tears. (Foto: Talamedia).

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih terdengar. Menempel di sudut ingatan, menghantui perjalanan pulang ke rumah.

Sulit rasanya percaya bahwa Crocodile Tears (2024) adalah debut penyutradaraan film panjang Tumpal Tampubolon. Ia memahami satu hal yang jarang benar-benar dipahami: teror terbesar sering kali lahir bukan dari sesuatu yang asing, melainkan dari sesuatu yang dekat—terlalu dekat. Dari rumah, dari keluarga, dari seseorang yang mengatakan bahwa ia mencintai kita, tetapi diam-diam menjadikan cinta itu sebagai penjara.

Mama (Marissa Anita) menjadi pusat teror yang diciptakan Tumpal. Seluruh dunia film bergerak mengelilinginya. Rumah yang lembab, kandang buaya yang berlumut, dan Johan yang seakan tidak bisa meninggalkan masa kecilnya. Bahkan ketika Mama tidak berada di dalam frame, kehadirannya tetap terasa. Ia hidup dalam sunyi rumah itu, dalam tatapan Johan yang ragu-ragu, dalam raungan buaya yang terdengar samar di kejauhan.

Poster film Crocodile Tears | Foto: Talamedia

Crocodile Tears tidak memandang relasi keluarga sebagai ruang aman, tetapi sebagai ruang yang perlahan menelan identitas seseorang. Hubungan Mama dan Johan (Yusuf Mahardika) bergerak di wilayah yang ambigu. Johan tidak hanya hidup bersama ibunya; ia hidup di bawah bayang-bayang kebutuhan emosional Mama yang tak pernah selesai.

Mama bukan sekadar ibu yang posesif. Ia adalah kesepian yang menjelma ancaman: manusia yang terlalu takut kehilangan cinta sampai tanpa sadar mengubah cinta itu menjadi luka.

Kehadiran Arumi (Zulfa Maharani) adalah gangguan pertama terhadap dunia Mama dan Johan yang selama ini tertutup rapat. Bersamanya, Johan mulai membayangkan hidup di luar Taman Buaya Jaya.

Tapi Crocodile Tears tampaknya memang tidak terlalu tertarik menjadikan Arumi sebagai manusia yang utuh. Ia lebih terasa sebagai pemantik keretakan hubungan Mama dan Johan. Bahkan tanpa mengubah banyak hal, peran itu rasa-rasanya bisa dimainkan oleh siapa saja.

Dialog yang muncul di antara Mama dan Johan terasa seperti luka yang diwariskan turun-temurun. Di dalamnya ada sesuatu yang akrab dalam banyak keluarga: cinta yang berubah menjadi hutang emosional. Mama merasa seluruh hidupnya dikorbankan demi Johan, sementara Johan tumbuh dengan rasa bersalah karena ingin memiliki hidupnya sendiri.

“Mama menyesal melahirkan kamu.”

“Aku nggak minta dilahirkan di keluarga ini!”

Marissa Anita dan Yusuf Mahardika dalam salah satu adegan di film Crocodile Tears | Foto: Talamedia

Teror film ini semakin kuat dari cara Tumpal dan sinematografer, Teck Siang Lim, memandang ruang dan tubuh para karakternya. Kamera dalam Crocodile Tears seperti sedang mengintai, bergerak perlahan, diam terlalu lama, lalu tiba-tiba membawa kita begitu dekat pada sesuatu yang mengancam.

Buaya dalam film ini bukan sekadar metafora yang ditempelkan untuk memberi kesan simbolik. Tumpal memperlakukan mereka sebagai makhluk yang benar-benar hidup. Kulit kasar yang nyaris menyerupai batu, mata yang diam tanpa ekspresi, rahang yang bergerak di atas air keruh. Kedekatan itu terasa ganjil. Rasanya, saya seperti sedang dipaksa hidup bersama mereka.

Pilihan untuk menggunakan mata buaya sebagai transisi menjadi salah satu keputusan visual terbaik dalam Crocodile Tears. Pelan-pelan film ini membuat kita sadar bahwa tatapan itu bukan hanya milik reptil purba tersebut, melainkan juga tatapan Mama—diam, sabar, menyimpan rasa lapar emosional yang tak pernah benar-benar selesai.

Sound design di film ini juga bekerja sama kuatnya. Tumpal tidak menggunakan raungan buaya untuk mengejutkan penonton. Ia menggunakannya untuk menciptakan atmosfer yang perlahan mengendap di kepala penonton.

Perpaduan keduanya membuat Taman Buaya Jaya terasa sangat hidup. Saya melihat Johan seperti seseorang yang telah lama ditelan tempat penangkaran itu, bahkan sebelum ia berkeinginan untuk pergi. Taman Buaya Jaya lantas terasa bukan lagi sekadar latar, tetapi penjara emosi yang menahan seluruh hidup Johan untuk tetap di sana.

Cinta di Air Keruh

Tumpal memahami bahwa teror tidak selalu lahir dari sesuatu yang meledak-ledak. Kadang ia tumbuh dari repetisi. Rutinitas yang terus diulang. Kesunyian yang dibiarkan terlalu lama. Semuanya dibangun lambat, tetapi tidak pernah terasa kosong.

Mama memberi makan buaya. Johan membersihkan panggung pertunjukan buaya. Malam datang, lalu raungan buaya kembali terdengar. Semua ritual kecil itu terus berulang sepanjang film, menciptakan rasa sesak yang semakin lama semakin menekan.

Mata buaya dalam film Crocodile Tears | Foto: tangkapan layar: YouTube/Talamedia

Ritme lambat ini berisiko berubah menjadi gaya kosong. Kesunyiannya hanya menjadi ornamen untuk terlihat artistik. Namun, Crocodile Tears berhasil menghindari jebakan itu. Di balik kelambatannya, ada kompleksitas emosional yang terakumulasi.

Tidak ada karakter yang sepenuhnya bisa dibenci. Mama mengerikan, tetapi juga menyedihkan. Johan terasa pasif dan frustratif, tetapi film memberi kita cukup ruang untuk memahami bagaimana hidup terlalu lama di bawah kontrol emosional dapat membuat seseorang kehilangan kemampuan untuk menentukan hidupnya sendiri.

Namun di balik seluruh keberhasilannya membangun atmosfer dan kompleksitas emosi, Crocodile Tears terlalu menahan dirinya untuk melangkah lebih jauh. Tumpal sangat tertarik pada mitologi emosional keluarga—ibu posesif, anak yang terjebak, cinta yang berubah menjadi luka, tetapi ia nyaris tidak pernah benar-benar menggali struktur sosial yang melahirkan penjara itu.

Johan bukan hanya anak yang gagal melepaskan diri dari ibunya. Ia juga laki-laki muda kelas bawah yang hidup di ruang sosial tanpa horizon. Tidak ada pendidikan, tidak ada mobilitas, tidak ada dunia luar yang benar-benar terasa mungkin baginya. Dalam konteks itu, mungkin kelas sosial adalah penjara yang lebih besar dari Mama.

Taman Buaya Jaya sebetulnya menyimpan kemungkinan metafora yang jauh lebih kaya daripada sekadar lanskap psikologis. Tempat itu terasa seperti reruntuhan ekonomi pinggiran: atraksi hiburan kelas bawah yang hidup dari sisa-sisa masyarakat tontonan. Kandang-kandang berlumut, arena pertunjukan yang sepi, dan mitos tentang buaya putih membuat tempat itu tampak seperti dunia yang tertinggal dari zaman lain.

Sayangnya, Crocodile Tears tampak enggan masuk terlalu jauh ke wilayah tersebut. Film ini lebih memilih menjadikan taman buaya sebagai ruang emosional dibanding ruang sosial. Akibatnya, keterjebakan Johan terasa sangat kuat secara psikologis, tetapi tidak sepenuhnya terbaca secara material. Kita memahami ketakutannya untuk pergi dari Mama, tetapi tidak benar-benar melihat bagaimana kemiskinan, stagnasi sosial, dan ketiadaan masa depan ikut membuat “pergi” menjadi sesuatu yang nyaris mustahil.

Pilihan tersebut membuat Crocodile Tears terasa seperti berhenti tepat sebelum mencapai kemungkinan pembacaan yang lebih besar tentang kelas sosial dan kehidupan pinggiran di Indonesia.

Kelemahan lain mulai terasa ketika film memasuki babak ketiganya. Setelah dua pertiga awal yang begitu disiplin dan terkendali, Crocodile Tears perlahan mulai kehilangan pijakan. Tumpal mencoba mengaburkan batas antara mimpi dan kenyataan. Tetapi surealisme yang muncul di bagian akhir itu terasa tidak sepenuhnya tumbuh dari dunia film yang sebelumnya telah dibangun dengan begitu konkret.

Surealisme tersebut juga terasa seperti ornamen tambahan—seolah Crocodile Tears merasa perlu tampil semakin abstrak untuk menegaskan bobot artistiknya. Padahal kekuatan terbesar film ini justru terletak pada keberaniannya tetap membumi: lumut, bau amis, dan luka emosional yang terasa begitu nyata.

Salah satu adegan dalam film Crocodile Tears | Tangkapan layar: YouTube/Talamedia

Pada akhirnya Crocodile Tears adalah film tentang manusia yang tidak tahu cara mencintai tanpa melukai. Tentang kesepian yang tumbuh terlalu lama hingga berubah menjadi kebutuhan untuk memiliki. Tentang cinta yang perlahan kehilangan bentuknya sebagai kasih sayang dan menjelma penjara bagi orang-orang di dalamnya. Jika ingin melanggengkan cinta, beri makan ayam atau sedekah lain seikhlasnya. [T]

Penulis: Bayu Wira Handyan
Editor: Adnyana Ole

Tags: filmFilm IndonesiaUlasan Film
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

Next Post

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Bayu Wira Handyan

Bayu Wira Handyan

Biasa-biasa saja

Related Posts

Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12

by Yoga Wismantara
September 24, 2026
0
Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12

SAYA saya masih duduk di bangku SMP, saya pernah bertanya pada diri sendiri, “Apa yang akan terjadi jika saya bisa...

Read moreDetails

Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998

by Arya Dhamma Nanda
September 24, 2026
0
Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998

PERKEMBANGAN ekonomi dalam masyarakat biasanya memicu berbagai perubahan pada pasar yang kemudian berdampak pada kehidupan masyarakat dan lingkungan di sekitarnya....

Read moreDetails

Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi

by Arya Dhamma Nanda
September 21, 2026
0
Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi

ENIGMA adalah program kompilasi film pendek dalam ajang Minikino Film Week 12 (MFW12) yang mengusung subjudul What Goes Around Comes...

Read moreDetails

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
0
SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

Read moreDetails

“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

by Satria Aditya
August 7, 2026
0
“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

ADA satu hal yang langsung terasa begitu duduk menonton Tung Tung Uma, bagaimana Amrita Dharma memetakan setiap adegannya dengan begitu...

Read moreDetails

“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

by Angga Wijaya
July 31, 2026
0
“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

MALAM itu, gelap menggantung di langit Pantai Melasti, Ungasan, Badung, Bali. Debur ombak bersahutan dengan suara "cak... cak... cak..." yang...

Read moreDetails

The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

by Bayu Wira Handyan
July 19, 2026
0
The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

SUDAH tentu, Christopher Nolan bukan sutradara pertama yang mengadaptasi epos Odyssey milik Homer. Kisah itu sudah ada sekitar 2.800 tahun...

Read moreDetails

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

by Satria Aditya
June 1, 2026
0
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

Read moreDetails

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026
0
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

Read moreDetails

Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

by Made Adnyana
May 6, 2026
0
Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

TIDAK banyak film biografi mampu merangkum kehidupan seorang musisi besar secara utuh. Ada yang memilih merayakan, ada pula yang mencoba...

Read moreDetails
Next Post
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama ---Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono
Ulas Rupa

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

PADA siang yang membakar, saya berebut jalanan Surabaya menuju Voza Tower di Jalan Mayjen HR. Muhammad, Putat Gede, Sukomanunggal. Di...

by Jaswanto
September 26, 2026
Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka
Ulas Musik

Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka

DI antara sembilan lagu yang mengisi album ketiga Barasuara, Jalaran Sadrah, ada satu nomor yang tidak berusaha tampil paling riang...

by Putu Gangga Pradipta
September 25, 2026
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran
Esai

Tetap Sehat dan Tetap Berguna Saat Menua

SEMUA orang ingin hidup panjang. Salah satu sosok yang sering menjadi inspirasi ketika membicarakan umur panjang adalah Dr. Shigeaki Hinohara,...

by Dr. dr. Ketut Putra Sedana, Sp.OG
September 25, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Topeng yang Dianggap Wajah: Mencari Keaslian Diri di Zaman Citra

Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri: apakah masih ada manusia yang sungguh-sungguh menjadi dirinya sendiri? PERTANYAAN ini terdengar sederhana, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
September 25, 2026
Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan
Esai

Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

SERINGKALI orang orang memulai suatu kebijakan berdasarkan aspirasi normative dan ideologi. Dimana yang menjadi fokus utama adalah bagaimana penerapan ini...

by Doni Sugiarto Wijaya
September 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Takut Korupsi? Kayak Anak Kecil Aja

BELAKANGAN ini banyak berita soal korupsi yang membuat khawatir. Kalau KPK sukses menangkapi oknum yang melanggar hukum maka korupsi sudah...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 24, 2026
Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12
Ulas Film

Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12

SAYA saya masih duduk di bangku SMP, saya pernah bertanya pada diri sendiri, “Apa yang akan terjadi jika saya bisa...

by Yoga Wismantara
September 24, 2026
Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998
Ulas Film

Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998

PERKEMBANGAN ekonomi dalam masyarakat biasanya memicu berbagai perubahan pada pasar yang kemudian berdampak pada kehidupan masyarakat dan lingkungan di sekitarnya....

by Arya Dhamma Nanda
September 24, 2026
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar
Khas

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

by Jaswanto
September 24, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
Rendez-vous Rasa 2026 Hadir di Bali, Perkuat Pertukaran Pengetahuan Gastronomi Prancis–Indonesia
Budaya

Rendez-vous Rasa 2026 Hadir di Bali, Perkuat Pertukaran Pengetahuan Gastronomi Prancis–Indonesia

DENPASAR | TATKALA.CO -- Gastronomi Prancis dan Indonesia akan bertemu di Bali melalui rangkaian kegiatan Rendez-vous Rasa: France–Indonesia Gastronomy Week...

by tatkala
September 23, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co