27 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

Bayu Wira Handyan by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
in Ulas Film
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

Yusuf Mahardika dan Zulfa Maharani dalam film Crocodile Tears. (Foto: Talamedia).

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih terdengar. Menempel di sudut ingatan, menghantui perjalanan pulang ke rumah.

Sulit rasanya percaya bahwa Crocodile Tears (2024) adalah debut penyutradaraan film panjang Tumpal Tampubolon. Ia memahami satu hal yang jarang benar-benar dipahami: teror terbesar sering kali lahir bukan dari sesuatu yang asing, melainkan dari sesuatu yang dekat—terlalu dekat. Dari rumah, dari keluarga, dari seseorang yang mengatakan bahwa ia mencintai kita, tetapi diam-diam menjadikan cinta itu sebagai penjara.

Mama (Marissa Anita) menjadi pusat teror yang diciptakan Tumpal. Seluruh dunia film bergerak mengelilinginya. Rumah yang lembab, kandang buaya yang berlumut, dan Johan yang seakan tidak bisa meninggalkan masa kecilnya. Bahkan ketika Mama tidak berada di dalam frame, kehadirannya tetap terasa. Ia hidup dalam sunyi rumah itu, dalam tatapan Johan yang ragu-ragu, dalam raungan buaya yang terdengar samar di kejauhan.

Poster film Crocodile Tears | Foto: Talamedia

Crocodile Tears tidak memandang relasi keluarga sebagai ruang aman, tetapi sebagai ruang yang perlahan menelan identitas seseorang. Hubungan Mama dan Johan (Yusuf Mahardika) bergerak di wilayah yang ambigu. Johan tidak hanya hidup bersama ibunya; ia hidup di bawah bayang-bayang kebutuhan emosional Mama yang tak pernah selesai.

Mama bukan sekadar ibu yang posesif. Ia adalah kesepian yang menjelma ancaman: manusia yang terlalu takut kehilangan cinta sampai tanpa sadar mengubah cinta itu menjadi luka.

Kehadiran Arumi (Zulfa Maharani) adalah gangguan pertama terhadap dunia Mama dan Johan yang selama ini tertutup rapat. Bersamanya, Johan mulai membayangkan hidup di luar Taman Buaya Jaya.

Tapi Crocodile Tears tampaknya memang tidak terlalu tertarik menjadikan Arumi sebagai manusia yang utuh. Ia lebih terasa sebagai pemantik keretakan hubungan Mama dan Johan. Bahkan tanpa mengubah banyak hal, peran itu rasa-rasanya bisa dimainkan oleh siapa saja.

Dialog yang muncul di antara Mama dan Johan terasa seperti luka yang diwariskan turun-temurun. Di dalamnya ada sesuatu yang akrab dalam banyak keluarga: cinta yang berubah menjadi hutang emosional. Mama merasa seluruh hidupnya dikorbankan demi Johan, sementara Johan tumbuh dengan rasa bersalah karena ingin memiliki hidupnya sendiri.

“Mama menyesal melahirkan kamu.”

“Aku nggak minta dilahirkan di keluarga ini!”

Marissa Anita dan Yusuf Mahardika dalam salah satu adegan di film Crocodile Tears | Foto: Talamedia

Teror film ini semakin kuat dari cara Tumpal dan sinematografer, Teck Siang Lim, memandang ruang dan tubuh para karakternya. Kamera dalam Crocodile Tears seperti sedang mengintai, bergerak perlahan, diam terlalu lama, lalu tiba-tiba membawa kita begitu dekat pada sesuatu yang mengancam.

Buaya dalam film ini bukan sekadar metafora yang ditempelkan untuk memberi kesan simbolik. Tumpal memperlakukan mereka sebagai makhluk yang benar-benar hidup. Kulit kasar yang nyaris menyerupai batu, mata yang diam tanpa ekspresi, rahang yang bergerak di atas air keruh. Kedekatan itu terasa ganjil. Rasanya, saya seperti sedang dipaksa hidup bersama mereka.

Pilihan untuk menggunakan mata buaya sebagai transisi menjadi salah satu keputusan visual terbaik dalam Crocodile Tears. Pelan-pelan film ini membuat kita sadar bahwa tatapan itu bukan hanya milik reptil purba tersebut, melainkan juga tatapan Mama—diam, sabar, menyimpan rasa lapar emosional yang tak pernah benar-benar selesai.

Sound design di film ini juga bekerja sama kuatnya. Tumpal tidak menggunakan raungan buaya untuk mengejutkan penonton. Ia menggunakannya untuk menciptakan atmosfer yang perlahan mengendap di kepala penonton.

Perpaduan keduanya membuat Taman Buaya Jaya terasa sangat hidup. Saya melihat Johan seperti seseorang yang telah lama ditelan tempat penangkaran itu, bahkan sebelum ia berkeinginan untuk pergi. Taman Buaya Jaya lantas terasa bukan lagi sekadar latar, tetapi penjara emosi yang menahan seluruh hidup Johan untuk tetap di sana.

Cinta di Air Keruh

Tumpal memahami bahwa teror tidak selalu lahir dari sesuatu yang meledak-ledak. Kadang ia tumbuh dari repetisi. Rutinitas yang terus diulang. Kesunyian yang dibiarkan terlalu lama. Semuanya dibangun lambat, tetapi tidak pernah terasa kosong.

Mama memberi makan buaya. Johan membersihkan panggung pertunjukan buaya. Malam datang, lalu raungan buaya kembali terdengar. Semua ritual kecil itu terus berulang sepanjang film, menciptakan rasa sesak yang semakin lama semakin menekan.

Mata buaya dalam film Crocodile Tears | Foto: tangkapan layar: YouTube/Talamedia

Ritme lambat ini berisiko berubah menjadi gaya kosong. Kesunyiannya hanya menjadi ornamen untuk terlihat artistik. Namun, Crocodile Tears berhasil menghindari jebakan itu. Di balik kelambatannya, ada kompleksitas emosional yang terakumulasi.

Tidak ada karakter yang sepenuhnya bisa dibenci. Mama mengerikan, tetapi juga menyedihkan. Johan terasa pasif dan frustratif, tetapi film memberi kita cukup ruang untuk memahami bagaimana hidup terlalu lama di bawah kontrol emosional dapat membuat seseorang kehilangan kemampuan untuk menentukan hidupnya sendiri.

Namun di balik seluruh keberhasilannya membangun atmosfer dan kompleksitas emosi, Crocodile Tears terlalu menahan dirinya untuk melangkah lebih jauh. Tumpal sangat tertarik pada mitologi emosional keluarga—ibu posesif, anak yang terjebak, cinta yang berubah menjadi luka, tetapi ia nyaris tidak pernah benar-benar menggali struktur sosial yang melahirkan penjara itu.

Johan bukan hanya anak yang gagal melepaskan diri dari ibunya. Ia juga laki-laki muda kelas bawah yang hidup di ruang sosial tanpa horizon. Tidak ada pendidikan, tidak ada mobilitas, tidak ada dunia luar yang benar-benar terasa mungkin baginya. Dalam konteks itu, mungkin kelas sosial adalah penjara yang lebih besar dari Mama.

Taman Buaya Jaya sebetulnya menyimpan kemungkinan metafora yang jauh lebih kaya daripada sekadar lanskap psikologis. Tempat itu terasa seperti reruntuhan ekonomi pinggiran: atraksi hiburan kelas bawah yang hidup dari sisa-sisa masyarakat tontonan. Kandang-kandang berlumut, arena pertunjukan yang sepi, dan mitos tentang buaya putih membuat tempat itu tampak seperti dunia yang tertinggal dari zaman lain.

Sayangnya, Crocodile Tears tampak enggan masuk terlalu jauh ke wilayah tersebut. Film ini lebih memilih menjadikan taman buaya sebagai ruang emosional dibanding ruang sosial. Akibatnya, keterjebakan Johan terasa sangat kuat secara psikologis, tetapi tidak sepenuhnya terbaca secara material. Kita memahami ketakutannya untuk pergi dari Mama, tetapi tidak benar-benar melihat bagaimana kemiskinan, stagnasi sosial, dan ketiadaan masa depan ikut membuat “pergi” menjadi sesuatu yang nyaris mustahil.

Pilihan tersebut membuat Crocodile Tears terasa seperti berhenti tepat sebelum mencapai kemungkinan pembacaan yang lebih besar tentang kelas sosial dan kehidupan pinggiran di Indonesia.

Kelemahan lain mulai terasa ketika film memasuki babak ketiganya. Setelah dua pertiga awal yang begitu disiplin dan terkendali, Crocodile Tears perlahan mulai kehilangan pijakan. Tumpal mencoba mengaburkan batas antara mimpi dan kenyataan. Tetapi surealisme yang muncul di bagian akhir itu terasa tidak sepenuhnya tumbuh dari dunia film yang sebelumnya telah dibangun dengan begitu konkret.

Surealisme tersebut juga terasa seperti ornamen tambahan—seolah Crocodile Tears merasa perlu tampil semakin abstrak untuk menegaskan bobot artistiknya. Padahal kekuatan terbesar film ini justru terletak pada keberaniannya tetap membumi: lumut, bau amis, dan luka emosional yang terasa begitu nyata.

Salah satu adegan dalam film Crocodile Tears | Tangkapan layar: YouTube/Talamedia

Pada akhirnya Crocodile Tears adalah film tentang manusia yang tidak tahu cara mencintai tanpa melukai. Tentang kesepian yang tumbuh terlalu lama hingga berubah menjadi kebutuhan untuk memiliki. Tentang cinta yang perlahan kehilangan bentuknya sebagai kasih sayang dan menjelma penjara bagi orang-orang di dalamnya. Jika ingin melanggengkan cinta, beri makan ayam atau sedekah lain seikhlasnya. [T]

Penulis: Bayu Wira Handyan
Editor: Adnyana Ole

Tags: filmFilm IndonesiaUlasan Film
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

Next Post

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Bayu Wira Handyan

Bayu Wira Handyan

Biasa-biasa saja

Related Posts

The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

by Bayu Wira Handyan
July 19, 2026
0
The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

SUDAH tentu, Christopher Nolan bukan sutradara pertama yang mengadaptasi epos Odyssey milik Homer. Kisah itu sudah ada sekitar 2.800 tahun...

Read moreDetails

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

by Satria Aditya
June 1, 2026
0
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

Read moreDetails

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026
0
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

Read moreDetails

Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

by Made Adnyana
May 6, 2026
0
Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

TIDAK banyak film biografi mampu merangkum kehidupan seorang musisi besar secara utuh. Ada yang memilih merayakan, ada pula yang mencoba...

Read moreDetails

Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

by Jaswanto
March 28, 2026
0
Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

SEJAK menonton video promosi singkatnya di media sosial, saya tahu bahwa Hoppers (2026) bukan sekadar film animasi yang diperuntukkan untuk...

Read moreDetails

Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

by Agung Kesawa Kevalam
February 12, 2026
0
Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

ADA jenis cinta yang datang untuk menemani, dan banyak juga yang datang untuk mengingatkan. Itulah kesan yang saya dapatkan ketika...

Read moreDetails

Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

by Rana Nasyitha
January 24, 2026
0
Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

WAKTU itu saya melihat judul film ini di sebuah aplikasi/platform streaming lokal. Di antara kumpulan film indonesia lainnya, Surat Dari...

Read moreDetails

Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

by Ahmad Sihabudin
January 23, 2026
0
Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

BAGI generasi yang tumbuh sebelum jalan tol Trans Jawa rampung, nama Alas Roban bukan sekadar penanda geografis. Ia adalah kata...

Read moreDetails

Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup? — Tanggapan untuk Jaswanto

by Angga Wijaya
January 21, 2026
0
Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup?  — Tanggapan untuk Jaswanto

PADA esai Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial (Tatkala.co, 16 Januari 2026), saya sepakat dengan Jaswanto, sang penulis, dalam...

Read moreDetails

Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

by Jaswanto
January 16, 2026
0
Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

SEORANG pria muda jomlo dan kurang mampu dari zaman modern entah bagaimana ceritanya bisa melintasi waktu dan masuk ke tubuh...

Read moreDetails
Next Post
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama ---Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mencari Rasa di Ranah Minang: Negeri yang Berbicara Lewat Masakan
Tualang

Mencari Rasa di Ranah Minang: Negeri yang Berbicara Lewat Masakan

"Perjalanan yang baik bukan sekadar memindahkan tubuh dari satu kota ke kota lain. Ia memindahkan cara pandang kita terhadap kehidupan."...

by Ahmad Sihabudin
July 27, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Politik dan Krisis Komunikasi Publik Pemimpin

DINAMIKA komunikasi politik selalu berubah pada setiap rezim. Puluhan tahun silam, para pemimpin dikenal lewat pidato di lapangan terbuka dan...

by Chusmeru
July 27, 2026
Bali di Persimpangan Kesadaran ——Membaca Tragedi Sosial Melalui Perspektif Pañcamaya Kośa
Esai

Bali di Persimpangan Kesadaran ——Membaca Tragedi Sosial Melalui Perspektif Pañcamaya Kośa

SEBUAH peristiwa tragis yang baru-baru ini terjadi di Bali kembali mengguncang nurani masyarakat. Bukan semata karena adanya korban jiwa, tetapi...

by Agung Sudarsa
July 27, 2026
SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi
Ulas Buku

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

SEBUAH buku yang selesai dibaca ketika halaman terakhir ditutup. Ada pula buku yang baru mulai dibaca justru setelah kita menutupnya....

by I Wayan Sujana Suklu
July 26, 2026
Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan
Khas

Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

---Catatan dari International Craft Discussion "Prakriti–Pustaka–Padma" di Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud ADA masa ketika seni kriya dipandang...

by Angga Wijaya
July 27, 2026
Merasa Bebas, Padahal Diperbudak Ego
Esai

Merasa Bebas, Padahal Diperbudak Ego

ADA sebuah kalimat yang telah bertahan melewati pergantian zaman, melintasi peradaban, dan terus dikutip hingga hari ini: “Dan kamu akan...

by T.H. Hari Sucahyo
July 26, 2026
Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan
Khas

Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

KALA itu, saya berkesempatan memandu salah satu diskusi di Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre), Denpasar. Selasa sore, 21...

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris
Khas

Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

TAWA dan percakapan dalam bahasa Inggris silih berganti memenuhi Ruang Pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam), Jumat, 24 Juli...

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

“Kapan Nikah?”: Ketika Usia Jadi Alat untuk Menghakimi Perempuan

"Kapan Nikah?" Dua kata yang terdengar ringan di telinga yang menanyakannya, tapi menjadi beban yang dibawa pulang bagi perempuan yang...

by Fitria Hani Aprina
July 25, 2026
Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi
Ulas Pentas

Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

  Tubuh berjalan pelandi antara bukit, rumah, dan laut yang tidak selesai. Angin membawa nama-namayang pernah singgah di pelabuhan,lalu hilang...

by I Wayan Sujana Suklu
July 25, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Tidak semua orang membatik untuk menghasilkan kain. Ada yang membatik agar hatinya tetap utuh." Di ruang terbuka lantai atas rumahnya,...

by Tri Nugroho Adi
July 25, 2026
‘Tak Sepatah Kata’: Ketika 100 Tahun Puisi Indonesia di Bali Menjelma Menjadi Sebuah Pertunjukan
Panggung

‘Tak Sepatah Kata’: Ketika 100 Tahun Puisi Indonesia di Bali Menjelma Menjadi Sebuah Pertunjukan

RUANGAN Gedung Ksirarnawa mendadak sunyi. Lampu panggung meredup, hanya menyisakan seberkas cahaya yang jatuh pada seorang lelaki yang duduk di...

by Dede Putra Wiguna
July 25, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co