7 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

Bayu Wira Handyan by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
in Ulas Film
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

Yusuf Mahardika dan Zulfa Maharani dalam film Crocodile Tears. (Foto: Talamedia).

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih terdengar. Menempel di sudut ingatan, menghantui perjalanan pulang ke rumah.

Sulit rasanya percaya bahwa Crocodile Tears (2024) adalah debut penyutradaraan film panjang Tumpal Tampubolon. Ia memahami satu hal yang jarang benar-benar dipahami: teror terbesar sering kali lahir bukan dari sesuatu yang asing, melainkan dari sesuatu yang dekat—terlalu dekat. Dari rumah, dari keluarga, dari seseorang yang mengatakan bahwa ia mencintai kita, tetapi diam-diam menjadikan cinta itu sebagai penjara.

Mama (Marissa Anita) menjadi pusat teror yang diciptakan Tumpal. Seluruh dunia film bergerak mengelilinginya. Rumah yang lembab, kandang buaya yang berlumut, dan Johan yang seakan tidak bisa meninggalkan masa kecilnya. Bahkan ketika Mama tidak berada di dalam frame, kehadirannya tetap terasa. Ia hidup dalam sunyi rumah itu, dalam tatapan Johan yang ragu-ragu, dalam raungan buaya yang terdengar samar di kejauhan.

Poster film Crocodile Tears | Foto: Talamedia

Crocodile Tears tidak memandang relasi keluarga sebagai ruang aman, tetapi sebagai ruang yang perlahan menelan identitas seseorang. Hubungan Mama dan Johan (Yusuf Mahardika) bergerak di wilayah yang ambigu. Johan tidak hanya hidup bersama ibunya; ia hidup di bawah bayang-bayang kebutuhan emosional Mama yang tak pernah selesai.

Mama bukan sekadar ibu yang posesif. Ia adalah kesepian yang menjelma ancaman: manusia yang terlalu takut kehilangan cinta sampai tanpa sadar mengubah cinta itu menjadi luka.

Kehadiran Arumi (Zulfa Maharani) adalah gangguan pertama terhadap dunia Mama dan Johan yang selama ini tertutup rapat. Bersamanya, Johan mulai membayangkan hidup di luar Taman Buaya Jaya.

Tapi Crocodile Tears tampaknya memang tidak terlalu tertarik menjadikan Arumi sebagai manusia yang utuh. Ia lebih terasa sebagai pemantik keretakan hubungan Mama dan Johan. Bahkan tanpa mengubah banyak hal, peran itu rasa-rasanya bisa dimainkan oleh siapa saja.

Dialog yang muncul di antara Mama dan Johan terasa seperti luka yang diwariskan turun-temurun. Di dalamnya ada sesuatu yang akrab dalam banyak keluarga: cinta yang berubah menjadi hutang emosional. Mama merasa seluruh hidupnya dikorbankan demi Johan, sementara Johan tumbuh dengan rasa bersalah karena ingin memiliki hidupnya sendiri.

“Mama menyesal melahirkan kamu.”

“Aku nggak minta dilahirkan di keluarga ini!”

Marissa Anita dan Yusuf Mahardika dalam salah satu adegan di film Crocodile Tears | Foto: Talamedia

Teror film ini semakin kuat dari cara Tumpal dan sinematografer, Teck Siang Lim, memandang ruang dan tubuh para karakternya. Kamera dalam Crocodile Tears seperti sedang mengintai, bergerak perlahan, diam terlalu lama, lalu tiba-tiba membawa kita begitu dekat pada sesuatu yang mengancam.

Buaya dalam film ini bukan sekadar metafora yang ditempelkan untuk memberi kesan simbolik. Tumpal memperlakukan mereka sebagai makhluk yang benar-benar hidup. Kulit kasar yang nyaris menyerupai batu, mata yang diam tanpa ekspresi, rahang yang bergerak di atas air keruh. Kedekatan itu terasa ganjil. Rasanya, saya seperti sedang dipaksa hidup bersama mereka.

Pilihan untuk menggunakan mata buaya sebagai transisi menjadi salah satu keputusan visual terbaik dalam Crocodile Tears. Pelan-pelan film ini membuat kita sadar bahwa tatapan itu bukan hanya milik reptil purba tersebut, melainkan juga tatapan Mama—diam, sabar, menyimpan rasa lapar emosional yang tak pernah benar-benar selesai.

Sound design di film ini juga bekerja sama kuatnya. Tumpal tidak menggunakan raungan buaya untuk mengejutkan penonton. Ia menggunakannya untuk menciptakan atmosfer yang perlahan mengendap di kepala penonton.

Perpaduan keduanya membuat Taman Buaya Jaya terasa sangat hidup. Saya melihat Johan seperti seseorang yang telah lama ditelan tempat penangkaran itu, bahkan sebelum ia berkeinginan untuk pergi. Taman Buaya Jaya lantas terasa bukan lagi sekadar latar, tetapi penjara emosi yang menahan seluruh hidup Johan untuk tetap di sana.

Cinta di Air Keruh

Tumpal memahami bahwa teror tidak selalu lahir dari sesuatu yang meledak-ledak. Kadang ia tumbuh dari repetisi. Rutinitas yang terus diulang. Kesunyian yang dibiarkan terlalu lama. Semuanya dibangun lambat, tetapi tidak pernah terasa kosong.

Mama memberi makan buaya. Johan membersihkan panggung pertunjukan buaya. Malam datang, lalu raungan buaya kembali terdengar. Semua ritual kecil itu terus berulang sepanjang film, menciptakan rasa sesak yang semakin lama semakin menekan.

Mata buaya dalam film Crocodile Tears | Foto: tangkapan layar: YouTube/Talamedia

Ritme lambat ini berisiko berubah menjadi gaya kosong. Kesunyiannya hanya menjadi ornamen untuk terlihat artistik. Namun, Crocodile Tears berhasil menghindari jebakan itu. Di balik kelambatannya, ada kompleksitas emosional yang terakumulasi.

Tidak ada karakter yang sepenuhnya bisa dibenci. Mama mengerikan, tetapi juga menyedihkan. Johan terasa pasif dan frustratif, tetapi film memberi kita cukup ruang untuk memahami bagaimana hidup terlalu lama di bawah kontrol emosional dapat membuat seseorang kehilangan kemampuan untuk menentukan hidupnya sendiri.

Namun di balik seluruh keberhasilannya membangun atmosfer dan kompleksitas emosi, Crocodile Tears terlalu menahan dirinya untuk melangkah lebih jauh. Tumpal sangat tertarik pada mitologi emosional keluarga—ibu posesif, anak yang terjebak, cinta yang berubah menjadi luka, tetapi ia nyaris tidak pernah benar-benar menggali struktur sosial yang melahirkan penjara itu.

Johan bukan hanya anak yang gagal melepaskan diri dari ibunya. Ia juga laki-laki muda kelas bawah yang hidup di ruang sosial tanpa horizon. Tidak ada pendidikan, tidak ada mobilitas, tidak ada dunia luar yang benar-benar terasa mungkin baginya. Dalam konteks itu, mungkin kelas sosial adalah penjara yang lebih besar dari Mama.

Taman Buaya Jaya sebetulnya menyimpan kemungkinan metafora yang jauh lebih kaya daripada sekadar lanskap psikologis. Tempat itu terasa seperti reruntuhan ekonomi pinggiran: atraksi hiburan kelas bawah yang hidup dari sisa-sisa masyarakat tontonan. Kandang-kandang berlumut, arena pertunjukan yang sepi, dan mitos tentang buaya putih membuat tempat itu tampak seperti dunia yang tertinggal dari zaman lain.

Sayangnya, Crocodile Tears tampak enggan masuk terlalu jauh ke wilayah tersebut. Film ini lebih memilih menjadikan taman buaya sebagai ruang emosional dibanding ruang sosial. Akibatnya, keterjebakan Johan terasa sangat kuat secara psikologis, tetapi tidak sepenuhnya terbaca secara material. Kita memahami ketakutannya untuk pergi dari Mama, tetapi tidak benar-benar melihat bagaimana kemiskinan, stagnasi sosial, dan ketiadaan masa depan ikut membuat “pergi” menjadi sesuatu yang nyaris mustahil.

Pilihan tersebut membuat Crocodile Tears terasa seperti berhenti tepat sebelum mencapai kemungkinan pembacaan yang lebih besar tentang kelas sosial dan kehidupan pinggiran di Indonesia.

Kelemahan lain mulai terasa ketika film memasuki babak ketiganya. Setelah dua pertiga awal yang begitu disiplin dan terkendali, Crocodile Tears perlahan mulai kehilangan pijakan. Tumpal mencoba mengaburkan batas antara mimpi dan kenyataan. Tetapi surealisme yang muncul di bagian akhir itu terasa tidak sepenuhnya tumbuh dari dunia film yang sebelumnya telah dibangun dengan begitu konkret.

Surealisme tersebut juga terasa seperti ornamen tambahan—seolah Crocodile Tears merasa perlu tampil semakin abstrak untuk menegaskan bobot artistiknya. Padahal kekuatan terbesar film ini justru terletak pada keberaniannya tetap membumi: lumut, bau amis, dan luka emosional yang terasa begitu nyata.

Salah satu adegan dalam film Crocodile Tears | Tangkapan layar: YouTube/Talamedia

Pada akhirnya Crocodile Tears adalah film tentang manusia yang tidak tahu cara mencintai tanpa melukai. Tentang kesepian yang tumbuh terlalu lama hingga berubah menjadi kebutuhan untuk memiliki. Tentang cinta yang perlahan kehilangan bentuknya sebagai kasih sayang dan menjelma penjara bagi orang-orang di dalamnya. Jika ingin melanggengkan cinta, beri makan ayam atau sedekah lain seikhlasnya. [T]

Penulis: Bayu Wira Handyan
Editor: Adnyana Ole

Tags: filmFilm IndonesiaUlasan Film
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

Next Post

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Bayu Wira Handyan

Bayu Wira Handyan

Biasa-biasa saja

Related Posts

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

by Satria Aditya
June 1, 2026
0
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

Read moreDetails

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026
0
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

Read moreDetails

Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

by Made Adnyana
May 6, 2026
0
Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

TIDAK banyak film biografi mampu merangkum kehidupan seorang musisi besar secara utuh. Ada yang memilih merayakan, ada pula yang mencoba...

Read moreDetails

Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

by Jaswanto
March 28, 2026
0
Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

SEJAK menonton video promosi singkatnya di media sosial, saya tahu bahwa Hoppers (2026) bukan sekadar film animasi yang diperuntukkan untuk...

Read moreDetails

Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

by Agung Kesawa Kevalam
February 12, 2026
0
Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

ADA jenis cinta yang datang untuk menemani, dan banyak juga yang datang untuk mengingatkan. Itulah kesan yang saya dapatkan ketika...

Read moreDetails

Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

by Rana Nasyitha
January 24, 2026
0
Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

WAKTU itu saya melihat judul film ini di sebuah aplikasi/platform streaming lokal. Di antara kumpulan film indonesia lainnya, Surat Dari...

Read moreDetails

Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

by Ahmad Sihabudin
January 23, 2026
0
Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

BAGI generasi yang tumbuh sebelum jalan tol Trans Jawa rampung, nama Alas Roban bukan sekadar penanda geografis. Ia adalah kata...

Read moreDetails

Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup? — Tanggapan untuk Jaswanto

by Angga Wijaya
January 21, 2026
0
Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup?  — Tanggapan untuk Jaswanto

PADA esai Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial (Tatkala.co, 16 Januari 2026), saya sepakat dengan Jaswanto, sang penulis, dalam...

Read moreDetails

Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

by Jaswanto
January 16, 2026
0
Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

SEORANG pria muda jomlo dan kurang mampu dari zaman modern entah bagaimana ceritanya bisa melintasi waktu dan masuk ke tubuh...

Read moreDetails

Film Pendek ‘Anuja’: Ketika Mimpi Sekolah Harus Berhadapan dengan Realitas Pekerja Anak

by Dian Suryantini
January 13, 2026
0
Film Pendek ‘Anuja’: Ketika Mimpi Sekolah Harus Berhadapan dengan Realitas Pekerja Anak

FILM pendek Anuja terasa seperti tamparan pelan tapi tepat sasaran. Film ini tidak berisik. Tapi berhasil membuat penontonnya terngiang. Saya...

Read moreDetails
Next Post
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama ---Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Prakriti–Pustaka–Padma 2026: Meneguhkan Seni Kriya sebagai Ruang Dialog Lintas Budaya
Pameran

Prakriti–Pustaka–Padma 2026: Meneguhkan Seni Kriya sebagai Ruang Dialog Lintas Budaya

PAMERAN seni rupa bertajuk Prakriti–Pustaka–Padma 2026 di Museum ARMA, Ubud, menghadirkan ruang apresiasi yang kaya akan keberagaman medium, gagasan, dan...

by Nyoman Budarsana
July 7, 2026
Bagai Pasukan Perang, Tim Volunteer AVIRAMA “Kejar Sampah” di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Bagai Pasukan Perang, Tim Volunteer AVIRAMA “Kejar Sampah” di Singaraja Literary Festival 2026

BAGAI pasukan di medan perang, petugas kebersihan dalam ajang Singaraja Literary Festival (SLF) 2026 tak membiarkan sepotong sampah pun tertinggal....

by Nyoman Budarsana
July 6, 2026
Disobedience Day dan For Hati Baki, Ketika Keberanian Bertanya Menjadi Bentuk Cinta kepada Bali
Esai

Disobedience Day dan For Hati Baki, Ketika Keberanian Bertanya Menjadi Bentuk Cinta kepada Bali

TIDAK semua bentuk ketidakpatuhan merupakan tindakan negatif. Dalam sejarah peradaban manusia, justru banyak perubahan besar lahir dari keberanian seseorang mengatakan...

by Agung Sudarsa
July 6, 2026
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK
Esai

Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

BISA jadi akan muncul celetukan ‘kalo gak cocok sama gaji yah keluar saja, cari perguruan tinggi yang gajinya besar’. Celetukan...

by Nur Inayah Yushar
July 6, 2026
Pentingnya Menggali Tradisi agar Tidak Mati
Esai

Pentingnya Menggali Tradisi agar Tidak Mati

Tradisi merupakan akar kehidupan suatu masyarakat. Ia bukan sekadar kumpulan kebiasaan yang diwariskan dari generasi ke generasi, melainkan fondasi yang...

by Nyoman Mariyana
July 6, 2026
Membongkar Praktik Artistik Pada Puisi Sebatang Kara: Dalam Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”
Ulas Rupa

Membongkar Praktik Artistik Pada Puisi Sebatang Kara: Dalam Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”

SEPERTI sajian pada menu makan bergizi, yang ditimbang, ditakar, hingga diukur kepada siapa porsi makan ini layak dihidangkan. Kepada tubuh...

by Mahesa Putra
July 6, 2026
Perhelatan Perupa dan Penyair: Pekan Kedua Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”
Pameran

Perhelatan Perupa dan Penyair: Pekan Kedua Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”

PALEMBANG pada 21 Juni 2026 memang sedang garang-garangnya, seolah tidak menyisakan kulit untuk bersantai dan dibelai lembut oleh kehadirannya. Asmaran...

by Adwan SA
July 6, 2026
Antara Sakral dan Profan: Nyongkolan di Persimpangan Budaya Sasak
Kritik Seni

Antara Sakral dan Profan: Nyongkolan di Persimpangan Budaya Sasak

BENTANG alam Lombok tidak hanya sajikan keindahan panorama geografis, juga hadirkan teater kebudayaan yang terus bergerak. Kebudayaan Sasak, inti dari...

by Arief Rahzen
July 6, 2026
Lomba Baca Puisi SLF 2026: Bukti Generasi Muda Bali Tetap Mencintai Sastra
Panggung

Lomba Baca Puisi SLF 2026: Bukti Generasi Muda Bali Tetap Mencintai Sastra

JIKA menyaksikan Lomba Baca Puisi tingkat SMP dalam rangka Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, kekhawatiran bahwa generasi muda semakin jauh...

by Nyoman Budarsana
July 6, 2026
Fingerboard, Lebih dari Sekadar Mainan Anak-Anak
Khas

Fingerboard, Lebih dari Sekadar Mainan Anak-Anak

UJUNG telunjuk dan jari tengah itu bergerak lincah di atas papan beroda sepanjang tak lebih dari sepuluh sentimeter. Sesaat papan...

by Jaswanto
July 6, 2026
Tari Kontemporer “Perempuan di Sawah” Membuka Singaraja Literary Festival 2026
Panggung

Tari Kontemporer “Perempuan di Sawah” Membuka Singaraja Literary Festival 2026

PEMBUKAAN Singaraja Literary Festival (SLF), Jumat, 3 Juli 2026, berlangsung berbeda dari kebiasaan. Bukannya diawali dengan tari penyambutan tradisional seperti...

by Nyoman Budarsana
July 4, 2026
Singaraja Literary Festival 2026, Mengaktivasi Warisan Lontar Melalui Stri Sasana
Khas

Singaraja Literary Festival 2026, Mengaktivasi Warisan Lontar Melalui Stri Sasana

SOSOK-SOSOK perempuan bergerak perlahan menari di atas panggung, mengenakan caping petani dan membawa slepan (daun kelapa yang sudah tua) sebagai...

by Komang Puja Savitri
July 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co