2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Emi Suy by Emi Suy
May 11, 2026
in Khas
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana

Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek.

Saya mengetahui kegiatan ini dari informasi yang dibagikan melalui jaringan SCAU. Ketika ada yang bertanya saya mengetahui acara itu dari mana, saya biasa menjawab pelan:

“Diinfo dari dr. Novelya/Lian.”

Jawaban sederhana itu ternyata membawa saya menuju sebuah ruang yang tidak hanya berbicara tentang kesehatan, tetapi juga tentang kemanusiaan.

Sabtu pagi, 9 Mei 2026, Hotel Pitagiri Jakarta Barat tampak lebih hidup dari biasanya. Orang-orang datang dengan langkah yang berbeda-beda: ada yang ingin donor darah, ada yang ingin memeriksa kesehatannya, ada pula yang ingin mengikuti seminar kesehatan mengenai pengapuran sendi lutut. Tetapi di balik tujuan yang beragam itu, saya merasa ada satu hal yang menyatukan semuanya: keinginan untuk tetap peduli terhadap kehidupan.

Saya datang bukan sebagai anggota SCAU, bukan pula alumni Universitas Tarumanagara. Saya hadir sebagai seseorang yang ingin melihat bagaimana manusia masih menyempatkan diri menjaga manusia lain di tengah dunia yang semakin sibuk dengan dirinya sendiri.

Dan mungkin justru karena saya datang sebagai “orang luar”, saya bisa melihat kegiatan ini dengan mata yang lebih hening.

SCAU: Ketika Komunitas Tidak Sekadar Menjadi Tempat Berkumpul

Awalnya saya mengira SCAU hanyalah komunitas alumni biasa. Namun setelah melihat bagaimana mereka bergerak, saya memahami bahwa SCAU lebih menyerupai rumah sosial yang dibangun dari semangat berbagi lintas profesi, lintas usia, bahkan lintas universitas.

Di dalam komunitas itu ada grup donor darah, telemedicine, otomotif, hukum, bisnis, investasi, hingga komunitas pecinta hewan dan tanaman. Sekilas tampak beragam dan tidak saling berkaitan. Tetapi semakin saya memperhatikan, semakin saya memahami bahwa semuanya dipersatukan oleh satu hal sederhana: menjaga hubungan antarmanusia agar tidak kehilangan makna.

SCAU didirikan dan digerakkan oleh Pdm Ripin Suma SE., MA. Dari tangannya, komunitas ini berkembang bukan hanya sebagai wadah nostalgia alumni Universitas Tarumanagara, tetapi juga menjadi ruang sosial yang terbuka bagi siapa saja.

Saya melihat bagaimana komunitas ini tidak dibangun dengan suasana eksklusif. Tidak ada kesan membatasi diri hanya untuk kelompok tertentu. Justru sebaliknya, mereka membuka ruang bagi banyak orang untuk ikut bertumbuh dalam semangat jejaring sosial dan kepedulian kemanusiaan.

Sambutan pembukaan seminar oleh founder SCAU, Pdm Ripin Suma SE., MA

Salah satu gerakan yang paling terasa denyut kemanusiaannya adalah SCAU Mitra Donor Darah. Dari dokumentasi grup, kegiatan donor darah ini telah berlangsung berkali-kali sejak tahun 2022 dan terus berjalan hingga sekarang. Ada kesinambungan yang dijaga. Ada kesadaran bahwa membantu manusia lain bukan pekerjaan musiman.

Di grup komunitas itu saya membaca kalimat sederhana:

“Komunitas yang peduli terhadap sesama yang membutuhkan donor darah.”

Kalimat itu tampak biasa. Tetapi di zaman ketika banyak orang sibuk memperbesar dirinya sendiri, kepedulian seperti itu terasa semakin langka.

Donor Darah: Ketika Tubuh Menjadi Jalan Keselamatan bagi Orang Lain

Ada sesuatu yang selalu membuat saya diam setiap melihat kegiatan donor darah.

Barangkali karena darah bukan benda yang bisa dibuat-buat demi pencitraan. Ia benar-benar keluar dari tubuh seseorang untuk diberikan kepada orang lain yang bahkan mungkin tidak pernah dikenalnya.

Emi Suy (penulis) saat donor darah

Di ruang donor itu saya melihat orang-orang duduk dengan lengan terbuka. Tidak ada panggung besar. Tidak ada sorotan lampu. Tidak ada tepuk tangan panjang. Hanya kursi-kursi sederhana, kantong darah, petugas PMI, dan manusia-manusia yang datang dengan niat diam-diam untuk membantu kehidupan orang lain.

Tetapi justru di situlah kemanusiaan terasa sangat nyata.

Saya membayangkan darah-darah itu nantinya mengalir ke tubuh seseorang yang sedang berjuang di rumah sakit. Mungkin seorang ibu yang kehilangan darah saat melahirkan. Mungkin seorang anak penderita leukemia. Mungkin seseorang yang mengalami kecelakaan di jalan dan sedang mempertahankan hidupnya di ruang operasi.

Kita sering berpikir bahwa menyelamatkan dunia harus dilakukan dengan tindakan besar. Padahal kadang dunia dipertahankan hanya oleh beberapa ratus mililiter darah yang diberikan dengan sukarela.

Hari itu saya ikut mendonorkan darah. Dan anehnya, setiap kali selesai donor darah, saya selalu merasa bukan sedang kehilangan sesuatu, melainkan sedang diingatkan bahwa tubuh ini ternyata masih bisa berguna bagi kehidupan orang lain.

Yanto Tjahjadikarta, advisor SCAU

Saya melihat wajah-wajah para pendonor. Ada yang datang sambil bercanda ringan. Ada yang tampak gugup ketika jarum mulai dipasang. Ada yang sudah terbiasa donor berkali-kali. Tetapi semuanya dipersatukan oleh kesediaan untuk memberi.

Di zaman ketika banyak orang takut kehilangan, para pendonor itu justru rela mengurangi sebagian dari dirinya demi memperpanjang kehidupan orang lain.

Mini MCU: Mendengarkan Tubuh Sebelum Ia Berteriak

Selain donor darah, saya juga mengikuti mini medical check up (MCU) yang diadakan di lokasi acara. Pemeriksaan sederhana seperti gula darah, asam urat, dan kolesterol mungkin terdengar sepele bagi sebagian orang. Tetapi sebenarnya tubuh sering memberi tanda-tanda kecil jauh sebelum sakit datang dengan keras.

Di meja pemeriksaan saya melihat alat-alat kecil dengan angka-angka yang muncul di layar digital. Angka-angka itu tampak sederhana, tetapi diam-diam menyimpan cerita tentang gaya hidup manusia modern: kurang tidur, terlalu banyak gula, terlalu banyak tekanan pikiran, terlalu sedikit istirahat, dan terlalu jarang mendengarkan tubuh sendiri.

Saya melihat kartu pemeriksaan dengan tulisan tangan petugas medis. Ada perhatian kecil di sana. Ada kesabaran. Ada usaha untuk menjaga manusia tetap sehat sebelum semuanya terlambat.

Kita hidup di zaman ketika orang lebih rajin memeriksa media sosial dibanding memeriksa kesehatannya sendiri. Kita lebih cepat mengetahui kabar orang lain daripada mendengar tubuh kita sendiri yang diam-diam mulai kelelahan.

Padahal tubuh juga punya batas. Ia bisa aus. Ia bisa lelah. Ia bisa meminta pertolongan lewat nyeri, pegal, tekanan darah, atau angka-angka kecil yang perlahan mulai berubah.

Mini MCU itu membuat saya berpikir bahwa menjaga kesehatan bukan bentuk kesombongan, melainkan bentuk rasa syukur karena masih diberi kesempatan hidup.

Sebab sering kali manusia baru menyadari pentingnya tubuh ketika tubuh mulai tidak mampu bekerja seperti biasa.

Seminar Kesehatan: Tubuh yang Diam-Diam Membawa Seluruh Kehidupan

Saya juga mengikuti seminar kesehatan bertema:

“Mitos dan Fakta Pengapuran Sendi Lutut: Bagaimana Mencegah dan Menanganinya”

Seminar ini dibawakan oleh dr. William Chandra, Sp.OT(K), spesialis ortopedi konsultan panggul dan lutut dari Mandaya Royal Hospital Puri.

Awalnya saya mengira seminar kesehatan hanyalah paparan medis yang penuh istilah rumit. Tetapi ternyata saya justru menemukan banyak refleksi tentang kehidupan manusia di dalamnya.

dr. William Chandra, Sp.OT(K)

Ketika dokter menjelaskan tentang pengapuran sendi lutut, saya tiba-tiba menyadari bahwa lutut bukan sekadar sendi. Ia adalah bagian tubuh yang diam-diam membawa seluruh perjalanan hidup kita.

Lutut membawa seseorang bekerja setiap hari.

Membawa ibu berdiri lama di dapur.

Membawa ayah mencari nafkah.

Membawa manusia mengejar mimpi, naik tangga kehidupan, bahkan berjalan menuju tempat ibadah.

Dan ketika lutut mulai sakit, manusia baru sadar betapa selama ini tubuh bekerja tanpa banyak keluhan.

Saya mendengarkan penjelasan tentang fisioterapi, olahraga low-impact, artroskopi, hingga teknologi robotic surgery. Dunia kedokteran berkembang begitu cepat. Tetapi di balik seluruh teknologi itu, saya merasa inti terdalamnya tetap sama: manusia ingin mengurangi rasa sakit manusia lain.

Ada sesuatu yang menenangkan ketika ilmu pengetahuan digunakan bukan untuk menunjukkan kecanggihan semata, tetapi untuk membantu seseorang kembali berjalan tanpa nyeri, kembali bekerja, kembali hidup lebih layak.

SCAU dan Ruang Kemanusiaan yang Sunyi

Yang paling saya rasakan dari kegiatan ini bukan sekadar acara kesehatan. Melainkan suasana kepedulian yang berjalan tanpa banyak keributan.

SCAU menghadirkan ruang di mana kesehatan tidak dibicarakan dengan menakut-nakuti, melainkan dengan mengajak orang lebih peduli terhadap dirinya sendiri dan sesamanya.

Saya melihat panitia yang sibuk membantu peserta sejak pagi. Saya melihat tenaga medis yang tetap ramah meski bekerja berjam-jam. Saya melihat orang-orang yang datang bukan untuk terlihat hebat, tetapi untuk ikut berpartisipasi.

Dan mungkin hari ini kita memang membutuhkan lebih banyak ruang seperti itu.

Karena di tengah dunia yang semakin bising oleh kebencian, kompetisi, dan pencitraan, kegiatan donor darah, pemeriksaan kesehatan, dan seminar medis seperti ini terasa seperti pengingat sederhana bahwa manusia masih bisa saling menjaga.

Kadang kemanusiaan tidak hadir dalam pidato besar. Kadang ia hadir dalam antrean donor darah, dalam tangan petugas medis yang sabar, dalam seseorang yang rela datang pagi-pagi hanya untuk memeriksa kesehatannya, atau dalam komunitas yang terus bergerak diam-diam menjaga kepedulian agar tidak mati.

Epilog: Tubuh, Kepedulian, dan Cara Kita Bertahan Sebagai Manusia

Saya pulang dari kegiatan itu dengan pikiran yang panjang.

Barangkali kesehatan memang bukan hanya urusan medis. Ia juga urusan kemanusiaan. Sebab tubuh yang sehat memungkinkan seseorang tetap bekerja, tetap memeluk keluarganya, tetap berjalan, tetap berharap, dan tetap hidup dengan layak.

Dan saya merasa, di ruang sederhana Hotel Pitagiri itu, saya menyaksikan satu hal penting:

bahwa kepedulian tidak selalu hadir dalam pidato besar.

Kadang ia hadir lewat donor darah.

Lewat cek kesehatan kecil.

Lewat seminar yang mengingatkan orang agar menjaga tubuhnya sebelum terlambat.

Karena pada akhirnya, menjaga kesehatan adalah salah satu cara manusia berkata kepada manusia lain:

“Aku ingin kau tetap ada di dunia ini.”

Saya bersyukur bisa menjadi bagian kecil dari kegiatan ini.

Bukan hanya karena saya mendapatkan pengetahuan tentang kesehatan, mengikuti mini MCU, dan donor darah, tetapi karena saya pulang membawa sesuatu yang lebih penting: kesadaran bahwa kepedulian masih hidup di tengah manusia-manusia yang mau bergerak bersama.

Suasana donor darah

Terima kasih kepada SCAU, kepada Pdm Ripin Suma SE., MA selaku Founder SCAU, kepada dr. Novelya/Lian yang telah membagikan informasi kegiatan ini, kepada para tenaga medis, panitia, PMI, dan semua pihak yang bekerja dengan tulus sejak pagi hingga acara selesai.

Saya melihat sendiri bagaimana sebuah komunitas tidak hanya menjadi tempat berkumpul, tetapi juga menjadi ruang untuk saling menjaga. Di tengah dunia yang semakin sibuk dan sering kehilangan waktu untuk peduli, kegiatan seperti ini terasa sangat berarti.

Acara ini bukan sekadar donor darah atau seminar kesehatan. Ia menjadi pengingat bahwa tubuh perlu dijaga, kesehatan perlu diperhatikan, dan manusia tetap membutuhkan manusia lain untuk bertahan hidup.

Saya merasa beruntung bisa hadir dan belajar banyak dari kegiatan ini. Semoga kegiatan-kegiatan seperti ini terus hidup, terus bertumbuh, dan terus menjadi jalan kebaikan bagi banyak orang.

Karena kadang hal paling sederhana setetes darah, sebuah pemeriksaan kesehatan, atau pengetahuan yang dibagikan dengan tulus dapat menjadi alasan seseorang tetap memiliki harapan untuk hidup. [T]

Cengkareng, 10 Mei 2026

Tags: donor darahkemanusiaan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

Next Post

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Emi Suy

Emi Suy

Lahir di Magetan, Jawa Timur, dengan nama Emi Suyanti. Emi penyair perempuan Indonesia yang ikut mendirikan Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM) dan saat ini aktif menjadi pengurus, serta menjabat sebagai sekretaris redaksi merangkap redaktur Sastramedia, sebuah jurnal sastra daring. Sampai saat ini Emi sudah menerbitkan lima buku kumpulan puisi tunggal, yaitu Tirakat Padam Api (2011), serta trilogi Sunyi yang terdiri dari Alarm Sunyi (2017), Ayat Sunyi (2018), Api Sunyi (2020) serta Ibu Menanak Nasi Hingga Matang Usia Kami (2022), buku kumpulan esai sastra Interval (2023), serta satu buku kumpulan puisi duet bersama Riri Satria berjudul Algoritma Kesunyian (2023). Penulis Naskah Opera (Libretto) I’m Not For Sale tentang perjuangan tokoh perempuan Ny. Auw Tjoei Lan menantang kematian menyelamatkan kehidupan, oleh pianis dan komponis Ananda Sukarlan. Puisi Emi Suy dimuat di lebih dari 200 buku kumpulan puisi bersama, serta di berbagai media online, seperti Basabasi.co, Sastramedia.com, juga dimuat di media nasional, antara lain Malutpost, Lampung Post, Banjarmasin Post, Suara Merdeka, Media Indonesia, serta Kompas. Puisinya pernah dimuat di majalah internasional dalam bahasa Inggris; majalah Porch Litmag.

Related Posts

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
0
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails
Next Post
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co