12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Emi Suy by Emi Suy
May 11, 2026
in Khas
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana

Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek.

Saya mengetahui kegiatan ini dari informasi yang dibagikan melalui jaringan SCAU. Ketika ada yang bertanya saya mengetahui acara itu dari mana, saya biasa menjawab pelan:

“Diinfo dari dr. Novelya/Lian.”

Jawaban sederhana itu ternyata membawa saya menuju sebuah ruang yang tidak hanya berbicara tentang kesehatan, tetapi juga tentang kemanusiaan.

Sabtu pagi, 9 Mei 2026, Hotel Pitagiri Jakarta Barat tampak lebih hidup dari biasanya. Orang-orang datang dengan langkah yang berbeda-beda: ada yang ingin donor darah, ada yang ingin memeriksa kesehatannya, ada pula yang ingin mengikuti seminar kesehatan mengenai pengapuran sendi lutut. Tetapi di balik tujuan yang beragam itu, saya merasa ada satu hal yang menyatukan semuanya: keinginan untuk tetap peduli terhadap kehidupan.

Saya datang bukan sebagai anggota SCAU, bukan pula alumni Universitas Tarumanagara. Saya hadir sebagai seseorang yang ingin melihat bagaimana manusia masih menyempatkan diri menjaga manusia lain di tengah dunia yang semakin sibuk dengan dirinya sendiri.

Dan mungkin justru karena saya datang sebagai “orang luar”, saya bisa melihat kegiatan ini dengan mata yang lebih hening.

SCAU: Ketika Komunitas Tidak Sekadar Menjadi Tempat Berkumpul

Awalnya saya mengira SCAU hanyalah komunitas alumni biasa. Namun setelah melihat bagaimana mereka bergerak, saya memahami bahwa SCAU lebih menyerupai rumah sosial yang dibangun dari semangat berbagi lintas profesi, lintas usia, bahkan lintas universitas.

Di dalam komunitas itu ada grup donor darah, telemedicine, otomotif, hukum, bisnis, investasi, hingga komunitas pecinta hewan dan tanaman. Sekilas tampak beragam dan tidak saling berkaitan. Tetapi semakin saya memperhatikan, semakin saya memahami bahwa semuanya dipersatukan oleh satu hal sederhana: menjaga hubungan antarmanusia agar tidak kehilangan makna.

SCAU didirikan dan digerakkan oleh Pdm Ripin Suma SE., MA. Dari tangannya, komunitas ini berkembang bukan hanya sebagai wadah nostalgia alumni Universitas Tarumanagara, tetapi juga menjadi ruang sosial yang terbuka bagi siapa saja.

Saya melihat bagaimana komunitas ini tidak dibangun dengan suasana eksklusif. Tidak ada kesan membatasi diri hanya untuk kelompok tertentu. Justru sebaliknya, mereka membuka ruang bagi banyak orang untuk ikut bertumbuh dalam semangat jejaring sosial dan kepedulian kemanusiaan.

Sambutan pembukaan seminar oleh founder SCAU, Pdm Ripin Suma SE., MA

Salah satu gerakan yang paling terasa denyut kemanusiaannya adalah SCAU Mitra Donor Darah. Dari dokumentasi grup, kegiatan donor darah ini telah berlangsung berkali-kali sejak tahun 2022 dan terus berjalan hingga sekarang. Ada kesinambungan yang dijaga. Ada kesadaran bahwa membantu manusia lain bukan pekerjaan musiman.

Di grup komunitas itu saya membaca kalimat sederhana:

“Komunitas yang peduli terhadap sesama yang membutuhkan donor darah.”

Kalimat itu tampak biasa. Tetapi di zaman ketika banyak orang sibuk memperbesar dirinya sendiri, kepedulian seperti itu terasa semakin langka.

Donor Darah: Ketika Tubuh Menjadi Jalan Keselamatan bagi Orang Lain

Ada sesuatu yang selalu membuat saya diam setiap melihat kegiatan donor darah.

Barangkali karena darah bukan benda yang bisa dibuat-buat demi pencitraan. Ia benar-benar keluar dari tubuh seseorang untuk diberikan kepada orang lain yang bahkan mungkin tidak pernah dikenalnya.

Emi Suy (penulis) saat donor darah

Di ruang donor itu saya melihat orang-orang duduk dengan lengan terbuka. Tidak ada panggung besar. Tidak ada sorotan lampu. Tidak ada tepuk tangan panjang. Hanya kursi-kursi sederhana, kantong darah, petugas PMI, dan manusia-manusia yang datang dengan niat diam-diam untuk membantu kehidupan orang lain.

Tetapi justru di situlah kemanusiaan terasa sangat nyata.

Saya membayangkan darah-darah itu nantinya mengalir ke tubuh seseorang yang sedang berjuang di rumah sakit. Mungkin seorang ibu yang kehilangan darah saat melahirkan. Mungkin seorang anak penderita leukemia. Mungkin seseorang yang mengalami kecelakaan di jalan dan sedang mempertahankan hidupnya di ruang operasi.

Kita sering berpikir bahwa menyelamatkan dunia harus dilakukan dengan tindakan besar. Padahal kadang dunia dipertahankan hanya oleh beberapa ratus mililiter darah yang diberikan dengan sukarela.

Hari itu saya ikut mendonorkan darah. Dan anehnya, setiap kali selesai donor darah, saya selalu merasa bukan sedang kehilangan sesuatu, melainkan sedang diingatkan bahwa tubuh ini ternyata masih bisa berguna bagi kehidupan orang lain.

Yanto Tjahjadikarta, advisor SCAU

Saya melihat wajah-wajah para pendonor. Ada yang datang sambil bercanda ringan. Ada yang tampak gugup ketika jarum mulai dipasang. Ada yang sudah terbiasa donor berkali-kali. Tetapi semuanya dipersatukan oleh kesediaan untuk memberi.

Di zaman ketika banyak orang takut kehilangan, para pendonor itu justru rela mengurangi sebagian dari dirinya demi memperpanjang kehidupan orang lain.

Mini MCU: Mendengarkan Tubuh Sebelum Ia Berteriak

Selain donor darah, saya juga mengikuti mini medical check up (MCU) yang diadakan di lokasi acara. Pemeriksaan sederhana seperti gula darah, asam urat, dan kolesterol mungkin terdengar sepele bagi sebagian orang. Tetapi sebenarnya tubuh sering memberi tanda-tanda kecil jauh sebelum sakit datang dengan keras.

Di meja pemeriksaan saya melihat alat-alat kecil dengan angka-angka yang muncul di layar digital. Angka-angka itu tampak sederhana, tetapi diam-diam menyimpan cerita tentang gaya hidup manusia modern: kurang tidur, terlalu banyak gula, terlalu banyak tekanan pikiran, terlalu sedikit istirahat, dan terlalu jarang mendengarkan tubuh sendiri.

Saya melihat kartu pemeriksaan dengan tulisan tangan petugas medis. Ada perhatian kecil di sana. Ada kesabaran. Ada usaha untuk menjaga manusia tetap sehat sebelum semuanya terlambat.

Kita hidup di zaman ketika orang lebih rajin memeriksa media sosial dibanding memeriksa kesehatannya sendiri. Kita lebih cepat mengetahui kabar orang lain daripada mendengar tubuh kita sendiri yang diam-diam mulai kelelahan.

Padahal tubuh juga punya batas. Ia bisa aus. Ia bisa lelah. Ia bisa meminta pertolongan lewat nyeri, pegal, tekanan darah, atau angka-angka kecil yang perlahan mulai berubah.

Mini MCU itu membuat saya berpikir bahwa menjaga kesehatan bukan bentuk kesombongan, melainkan bentuk rasa syukur karena masih diberi kesempatan hidup.

Sebab sering kali manusia baru menyadari pentingnya tubuh ketika tubuh mulai tidak mampu bekerja seperti biasa.

Seminar Kesehatan: Tubuh yang Diam-Diam Membawa Seluruh Kehidupan

Saya juga mengikuti seminar kesehatan bertema:

“Mitos dan Fakta Pengapuran Sendi Lutut: Bagaimana Mencegah dan Menanganinya”

Seminar ini dibawakan oleh dr. William Chandra, Sp.OT(K), spesialis ortopedi konsultan panggul dan lutut dari Mandaya Royal Hospital Puri.

Awalnya saya mengira seminar kesehatan hanyalah paparan medis yang penuh istilah rumit. Tetapi ternyata saya justru menemukan banyak refleksi tentang kehidupan manusia di dalamnya.

dr. William Chandra, Sp.OT(K)

Ketika dokter menjelaskan tentang pengapuran sendi lutut, saya tiba-tiba menyadari bahwa lutut bukan sekadar sendi. Ia adalah bagian tubuh yang diam-diam membawa seluruh perjalanan hidup kita.

Lutut membawa seseorang bekerja setiap hari.

Membawa ibu berdiri lama di dapur.

Membawa ayah mencari nafkah.

Membawa manusia mengejar mimpi, naik tangga kehidupan, bahkan berjalan menuju tempat ibadah.

Dan ketika lutut mulai sakit, manusia baru sadar betapa selama ini tubuh bekerja tanpa banyak keluhan.

Saya mendengarkan penjelasan tentang fisioterapi, olahraga low-impact, artroskopi, hingga teknologi robotic surgery. Dunia kedokteran berkembang begitu cepat. Tetapi di balik seluruh teknologi itu, saya merasa inti terdalamnya tetap sama: manusia ingin mengurangi rasa sakit manusia lain.

Ada sesuatu yang menenangkan ketika ilmu pengetahuan digunakan bukan untuk menunjukkan kecanggihan semata, tetapi untuk membantu seseorang kembali berjalan tanpa nyeri, kembali bekerja, kembali hidup lebih layak.

SCAU dan Ruang Kemanusiaan yang Sunyi

Yang paling saya rasakan dari kegiatan ini bukan sekadar acara kesehatan. Melainkan suasana kepedulian yang berjalan tanpa banyak keributan.

SCAU menghadirkan ruang di mana kesehatan tidak dibicarakan dengan menakut-nakuti, melainkan dengan mengajak orang lebih peduli terhadap dirinya sendiri dan sesamanya.

Saya melihat panitia yang sibuk membantu peserta sejak pagi. Saya melihat tenaga medis yang tetap ramah meski bekerja berjam-jam. Saya melihat orang-orang yang datang bukan untuk terlihat hebat, tetapi untuk ikut berpartisipasi.

Dan mungkin hari ini kita memang membutuhkan lebih banyak ruang seperti itu.

Karena di tengah dunia yang semakin bising oleh kebencian, kompetisi, dan pencitraan, kegiatan donor darah, pemeriksaan kesehatan, dan seminar medis seperti ini terasa seperti pengingat sederhana bahwa manusia masih bisa saling menjaga.

Kadang kemanusiaan tidak hadir dalam pidato besar. Kadang ia hadir dalam antrean donor darah, dalam tangan petugas medis yang sabar, dalam seseorang yang rela datang pagi-pagi hanya untuk memeriksa kesehatannya, atau dalam komunitas yang terus bergerak diam-diam menjaga kepedulian agar tidak mati.

Epilog: Tubuh, Kepedulian, dan Cara Kita Bertahan Sebagai Manusia

Saya pulang dari kegiatan itu dengan pikiran yang panjang.

Barangkali kesehatan memang bukan hanya urusan medis. Ia juga urusan kemanusiaan. Sebab tubuh yang sehat memungkinkan seseorang tetap bekerja, tetap memeluk keluarganya, tetap berjalan, tetap berharap, dan tetap hidup dengan layak.

Dan saya merasa, di ruang sederhana Hotel Pitagiri itu, saya menyaksikan satu hal penting:

bahwa kepedulian tidak selalu hadir dalam pidato besar.

Kadang ia hadir lewat donor darah.

Lewat cek kesehatan kecil.

Lewat seminar yang mengingatkan orang agar menjaga tubuhnya sebelum terlambat.

Karena pada akhirnya, menjaga kesehatan adalah salah satu cara manusia berkata kepada manusia lain:

“Aku ingin kau tetap ada di dunia ini.”

Saya bersyukur bisa menjadi bagian kecil dari kegiatan ini.

Bukan hanya karena saya mendapatkan pengetahuan tentang kesehatan, mengikuti mini MCU, dan donor darah, tetapi karena saya pulang membawa sesuatu yang lebih penting: kesadaran bahwa kepedulian masih hidup di tengah manusia-manusia yang mau bergerak bersama.

Suasana donor darah

Terima kasih kepada SCAU, kepada Pdm Ripin Suma SE., MA selaku Founder SCAU, kepada dr. Novelya/Lian yang telah membagikan informasi kegiatan ini, kepada para tenaga medis, panitia, PMI, dan semua pihak yang bekerja dengan tulus sejak pagi hingga acara selesai.

Saya melihat sendiri bagaimana sebuah komunitas tidak hanya menjadi tempat berkumpul, tetapi juga menjadi ruang untuk saling menjaga. Di tengah dunia yang semakin sibuk dan sering kehilangan waktu untuk peduli, kegiatan seperti ini terasa sangat berarti.

Acara ini bukan sekadar donor darah atau seminar kesehatan. Ia menjadi pengingat bahwa tubuh perlu dijaga, kesehatan perlu diperhatikan, dan manusia tetap membutuhkan manusia lain untuk bertahan hidup.

Saya merasa beruntung bisa hadir dan belajar banyak dari kegiatan ini. Semoga kegiatan-kegiatan seperti ini terus hidup, terus bertumbuh, dan terus menjadi jalan kebaikan bagi banyak orang.

Karena kadang hal paling sederhana setetes darah, sebuah pemeriksaan kesehatan, atau pengetahuan yang dibagikan dengan tulus dapat menjadi alasan seseorang tetap memiliki harapan untuk hidup. [T]

Cengkareng, 10 Mei 2026

Tags: donor darahkemanusiaan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

Next Post

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Emi Suy

Emi Suy

Lahir di Magetan, Jawa Timur, dengan nama Emi Suyanti. Emi penyair perempuan Indonesia yang ikut mendirikan Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM) dan saat ini aktif menjadi pengurus, serta menjabat sebagai sekretaris redaksi merangkap redaktur Sastramedia, sebuah jurnal sastra daring. Sampai saat ini Emi sudah menerbitkan lima buku kumpulan puisi tunggal, yaitu Tirakat Padam Api (2011), serta trilogi Sunyi yang terdiri dari Alarm Sunyi (2017), Ayat Sunyi (2018), Api Sunyi (2020) serta Ibu Menanak Nasi Hingga Matang Usia Kami (2022), buku kumpulan esai sastra Interval (2023), serta satu buku kumpulan puisi duet bersama Riri Satria berjudul Algoritma Kesunyian (2023). Penulis Naskah Opera (Libretto) I’m Not For Sale tentang perjuangan tokoh perempuan Ny. Auw Tjoei Lan menantang kematian menyelamatkan kehidupan, oleh pianis dan komponis Ananda Sukarlan. Puisi Emi Suy dimuat di lebih dari 200 buku kumpulan puisi bersama, serta di berbagai media online, seperti Basabasi.co, Sastramedia.com, juga dimuat di media nasional, antara lain Malutpost, Lampung Post, Banjarmasin Post, Suara Merdeka, Media Indonesia, serta Kompas. Puisinya pernah dimuat di majalah internasional dalam bahasa Inggris; majalah Porch Litmag.

Related Posts

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

by Emi Suy
September 10, 2026
0
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

Read moreDetails

Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

by Nyoman Budarsana
September 8, 2026
0
Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

PELAKSANAAN Utsawa Dharma Gita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 tinggal menghitung hari. Perlombaan tersebut bakal dimulai Jumat, 11 September...

Read moreDetails

Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

by tatkala
September 7, 2026
0
Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

RAK di sudut kamar dulu menjadi penanda seberapa serius seseorang mengikuti sebuah judul. Penanda itu perlahan berpindah ke daftar bacaan...

Read moreDetails

Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

by Nyoman Budarsana
September 6, 2026
0
Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

DIIRINGI gending gamelan yang dinamis, gerak, seledet, dan perpindahan posisi para penari mengalir membentuk jalinan yang hidup. Setiap gerakan seolah...

Read moreDetails

Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

by I Nyoman Tingkat
September 6, 2026
0
Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

"CERAKEN BALI: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul". Itulah tema HUT VII SMA Negeri 2 Kuta Selatan...

Read moreDetails

Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

by Dian Suryantini
September 1, 2026
0
Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

ADA sesuatu yang terasa ganjil ketika pertama kali melihatnya. Selonding, sebuah gamelan yang selama ini begitu dekat dengan kayu, tradisi,...

Read moreDetails

Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

by Ega Surya Mahendra
August 31, 2026
0
Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

MALAM, pukul 21.30, 10 Agustus 2026. Saya baru saja usai melewati jalan yang nestapa dari Tanjung Benua menuju kampung halaman...

Read moreDetails

Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

by Nyoman Budarsana
August 31, 2026
0
Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

ANGGIN itu sahabat para Rare Angon. Ketika embusannya mulai menguat di Pantai Mertasari, Sanur, kesibukan pun muncul di antara para...

Read moreDetails

Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

by Nyoman Budarsana
August 29, 2026
0
Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

“Dug dug, dag, dug dug.., dag dug dag…, jedug kapak, jedug kapak…!” SUARA kendang dan okokan menggema mengiringi pembukaan Tanah...

Read moreDetails

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026
0
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

Read moreDetails
Next Post
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co