1 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Emi Suy by Emi Suy
May 11, 2026
in Khas
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana

Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek.

Saya mengetahui kegiatan ini dari informasi yang dibagikan melalui jaringan SCAU. Ketika ada yang bertanya saya mengetahui acara itu dari mana, saya biasa menjawab pelan:

“Diinfo dari dr. Novelya/Lian.”

Jawaban sederhana itu ternyata membawa saya menuju sebuah ruang yang tidak hanya berbicara tentang kesehatan, tetapi juga tentang kemanusiaan.

Sabtu pagi, 9 Mei 2026, Hotel Pitagiri Jakarta Barat tampak lebih hidup dari biasanya. Orang-orang datang dengan langkah yang berbeda-beda: ada yang ingin donor darah, ada yang ingin memeriksa kesehatannya, ada pula yang ingin mengikuti seminar kesehatan mengenai pengapuran sendi lutut. Tetapi di balik tujuan yang beragam itu, saya merasa ada satu hal yang menyatukan semuanya: keinginan untuk tetap peduli terhadap kehidupan.

Saya datang bukan sebagai anggota SCAU, bukan pula alumni Universitas Tarumanagara. Saya hadir sebagai seseorang yang ingin melihat bagaimana manusia masih menyempatkan diri menjaga manusia lain di tengah dunia yang semakin sibuk dengan dirinya sendiri.

Dan mungkin justru karena saya datang sebagai “orang luar”, saya bisa melihat kegiatan ini dengan mata yang lebih hening.

SCAU: Ketika Komunitas Tidak Sekadar Menjadi Tempat Berkumpul

Awalnya saya mengira SCAU hanyalah komunitas alumni biasa. Namun setelah melihat bagaimana mereka bergerak, saya memahami bahwa SCAU lebih menyerupai rumah sosial yang dibangun dari semangat berbagi lintas profesi, lintas usia, bahkan lintas universitas.

Di dalam komunitas itu ada grup donor darah, telemedicine, otomotif, hukum, bisnis, investasi, hingga komunitas pecinta hewan dan tanaman. Sekilas tampak beragam dan tidak saling berkaitan. Tetapi semakin saya memperhatikan, semakin saya memahami bahwa semuanya dipersatukan oleh satu hal sederhana: menjaga hubungan antarmanusia agar tidak kehilangan makna.

SCAU didirikan dan digerakkan oleh Pdm Ripin Suma SE., MA. Dari tangannya, komunitas ini berkembang bukan hanya sebagai wadah nostalgia alumni Universitas Tarumanagara, tetapi juga menjadi ruang sosial yang terbuka bagi siapa saja.

Saya melihat bagaimana komunitas ini tidak dibangun dengan suasana eksklusif. Tidak ada kesan membatasi diri hanya untuk kelompok tertentu. Justru sebaliknya, mereka membuka ruang bagi banyak orang untuk ikut bertumbuh dalam semangat jejaring sosial dan kepedulian kemanusiaan.

Sambutan pembukaan seminar oleh founder SCAU, Pdm Ripin Suma SE., MA

Salah satu gerakan yang paling terasa denyut kemanusiaannya adalah SCAU Mitra Donor Darah. Dari dokumentasi grup, kegiatan donor darah ini telah berlangsung berkali-kali sejak tahun 2022 dan terus berjalan hingga sekarang. Ada kesinambungan yang dijaga. Ada kesadaran bahwa membantu manusia lain bukan pekerjaan musiman.

Di grup komunitas itu saya membaca kalimat sederhana:

“Komunitas yang peduli terhadap sesama yang membutuhkan donor darah.”

Kalimat itu tampak biasa. Tetapi di zaman ketika banyak orang sibuk memperbesar dirinya sendiri, kepedulian seperti itu terasa semakin langka.

Donor Darah: Ketika Tubuh Menjadi Jalan Keselamatan bagi Orang Lain

Ada sesuatu yang selalu membuat saya diam setiap melihat kegiatan donor darah.

Barangkali karena darah bukan benda yang bisa dibuat-buat demi pencitraan. Ia benar-benar keluar dari tubuh seseorang untuk diberikan kepada orang lain yang bahkan mungkin tidak pernah dikenalnya.

Emi Suy (penulis) saat donor darah

Di ruang donor itu saya melihat orang-orang duduk dengan lengan terbuka. Tidak ada panggung besar. Tidak ada sorotan lampu. Tidak ada tepuk tangan panjang. Hanya kursi-kursi sederhana, kantong darah, petugas PMI, dan manusia-manusia yang datang dengan niat diam-diam untuk membantu kehidupan orang lain.

Tetapi justru di situlah kemanusiaan terasa sangat nyata.

Saya membayangkan darah-darah itu nantinya mengalir ke tubuh seseorang yang sedang berjuang di rumah sakit. Mungkin seorang ibu yang kehilangan darah saat melahirkan. Mungkin seorang anak penderita leukemia. Mungkin seseorang yang mengalami kecelakaan di jalan dan sedang mempertahankan hidupnya di ruang operasi.

Kita sering berpikir bahwa menyelamatkan dunia harus dilakukan dengan tindakan besar. Padahal kadang dunia dipertahankan hanya oleh beberapa ratus mililiter darah yang diberikan dengan sukarela.

Hari itu saya ikut mendonorkan darah. Dan anehnya, setiap kali selesai donor darah, saya selalu merasa bukan sedang kehilangan sesuatu, melainkan sedang diingatkan bahwa tubuh ini ternyata masih bisa berguna bagi kehidupan orang lain.

Yanto Tjahjadikarta, advisor SCAU

Saya melihat wajah-wajah para pendonor. Ada yang datang sambil bercanda ringan. Ada yang tampak gugup ketika jarum mulai dipasang. Ada yang sudah terbiasa donor berkali-kali. Tetapi semuanya dipersatukan oleh kesediaan untuk memberi.

Di zaman ketika banyak orang takut kehilangan, para pendonor itu justru rela mengurangi sebagian dari dirinya demi memperpanjang kehidupan orang lain.

Mini MCU: Mendengarkan Tubuh Sebelum Ia Berteriak

Selain donor darah, saya juga mengikuti mini medical check up (MCU) yang diadakan di lokasi acara. Pemeriksaan sederhana seperti gula darah, asam urat, dan kolesterol mungkin terdengar sepele bagi sebagian orang. Tetapi sebenarnya tubuh sering memberi tanda-tanda kecil jauh sebelum sakit datang dengan keras.

Di meja pemeriksaan saya melihat alat-alat kecil dengan angka-angka yang muncul di layar digital. Angka-angka itu tampak sederhana, tetapi diam-diam menyimpan cerita tentang gaya hidup manusia modern: kurang tidur, terlalu banyak gula, terlalu banyak tekanan pikiran, terlalu sedikit istirahat, dan terlalu jarang mendengarkan tubuh sendiri.

Saya melihat kartu pemeriksaan dengan tulisan tangan petugas medis. Ada perhatian kecil di sana. Ada kesabaran. Ada usaha untuk menjaga manusia tetap sehat sebelum semuanya terlambat.

Kita hidup di zaman ketika orang lebih rajin memeriksa media sosial dibanding memeriksa kesehatannya sendiri. Kita lebih cepat mengetahui kabar orang lain daripada mendengar tubuh kita sendiri yang diam-diam mulai kelelahan.

Padahal tubuh juga punya batas. Ia bisa aus. Ia bisa lelah. Ia bisa meminta pertolongan lewat nyeri, pegal, tekanan darah, atau angka-angka kecil yang perlahan mulai berubah.

Mini MCU itu membuat saya berpikir bahwa menjaga kesehatan bukan bentuk kesombongan, melainkan bentuk rasa syukur karena masih diberi kesempatan hidup.

Sebab sering kali manusia baru menyadari pentingnya tubuh ketika tubuh mulai tidak mampu bekerja seperti biasa.

Seminar Kesehatan: Tubuh yang Diam-Diam Membawa Seluruh Kehidupan

Saya juga mengikuti seminar kesehatan bertema:

“Mitos dan Fakta Pengapuran Sendi Lutut: Bagaimana Mencegah dan Menanganinya”

Seminar ini dibawakan oleh dr. William Chandra, Sp.OT(K), spesialis ortopedi konsultan panggul dan lutut dari Mandaya Royal Hospital Puri.

Awalnya saya mengira seminar kesehatan hanyalah paparan medis yang penuh istilah rumit. Tetapi ternyata saya justru menemukan banyak refleksi tentang kehidupan manusia di dalamnya.

dr. William Chandra, Sp.OT(K)

Ketika dokter menjelaskan tentang pengapuran sendi lutut, saya tiba-tiba menyadari bahwa lutut bukan sekadar sendi. Ia adalah bagian tubuh yang diam-diam membawa seluruh perjalanan hidup kita.

Lutut membawa seseorang bekerja setiap hari.

Membawa ibu berdiri lama di dapur.

Membawa ayah mencari nafkah.

Membawa manusia mengejar mimpi, naik tangga kehidupan, bahkan berjalan menuju tempat ibadah.

Dan ketika lutut mulai sakit, manusia baru sadar betapa selama ini tubuh bekerja tanpa banyak keluhan.

Saya mendengarkan penjelasan tentang fisioterapi, olahraga low-impact, artroskopi, hingga teknologi robotic surgery. Dunia kedokteran berkembang begitu cepat. Tetapi di balik seluruh teknologi itu, saya merasa inti terdalamnya tetap sama: manusia ingin mengurangi rasa sakit manusia lain.

Ada sesuatu yang menenangkan ketika ilmu pengetahuan digunakan bukan untuk menunjukkan kecanggihan semata, tetapi untuk membantu seseorang kembali berjalan tanpa nyeri, kembali bekerja, kembali hidup lebih layak.

SCAU dan Ruang Kemanusiaan yang Sunyi

Yang paling saya rasakan dari kegiatan ini bukan sekadar acara kesehatan. Melainkan suasana kepedulian yang berjalan tanpa banyak keributan.

SCAU menghadirkan ruang di mana kesehatan tidak dibicarakan dengan menakut-nakuti, melainkan dengan mengajak orang lebih peduli terhadap dirinya sendiri dan sesamanya.

Saya melihat panitia yang sibuk membantu peserta sejak pagi. Saya melihat tenaga medis yang tetap ramah meski bekerja berjam-jam. Saya melihat orang-orang yang datang bukan untuk terlihat hebat, tetapi untuk ikut berpartisipasi.

Dan mungkin hari ini kita memang membutuhkan lebih banyak ruang seperti itu.

Karena di tengah dunia yang semakin bising oleh kebencian, kompetisi, dan pencitraan, kegiatan donor darah, pemeriksaan kesehatan, dan seminar medis seperti ini terasa seperti pengingat sederhana bahwa manusia masih bisa saling menjaga.

Kadang kemanusiaan tidak hadir dalam pidato besar. Kadang ia hadir dalam antrean donor darah, dalam tangan petugas medis yang sabar, dalam seseorang yang rela datang pagi-pagi hanya untuk memeriksa kesehatannya, atau dalam komunitas yang terus bergerak diam-diam menjaga kepedulian agar tidak mati.

Epilog: Tubuh, Kepedulian, dan Cara Kita Bertahan Sebagai Manusia

Saya pulang dari kegiatan itu dengan pikiran yang panjang.

Barangkali kesehatan memang bukan hanya urusan medis. Ia juga urusan kemanusiaan. Sebab tubuh yang sehat memungkinkan seseorang tetap bekerja, tetap memeluk keluarganya, tetap berjalan, tetap berharap, dan tetap hidup dengan layak.

Dan saya merasa, di ruang sederhana Hotel Pitagiri itu, saya menyaksikan satu hal penting:

bahwa kepedulian tidak selalu hadir dalam pidato besar.

Kadang ia hadir lewat donor darah.

Lewat cek kesehatan kecil.

Lewat seminar yang mengingatkan orang agar menjaga tubuhnya sebelum terlambat.

Karena pada akhirnya, menjaga kesehatan adalah salah satu cara manusia berkata kepada manusia lain:

“Aku ingin kau tetap ada di dunia ini.”

Saya bersyukur bisa menjadi bagian kecil dari kegiatan ini.

Bukan hanya karena saya mendapatkan pengetahuan tentang kesehatan, mengikuti mini MCU, dan donor darah, tetapi karena saya pulang membawa sesuatu yang lebih penting: kesadaran bahwa kepedulian masih hidup di tengah manusia-manusia yang mau bergerak bersama.

Suasana donor darah

Terima kasih kepada SCAU, kepada Pdm Ripin Suma SE., MA selaku Founder SCAU, kepada dr. Novelya/Lian yang telah membagikan informasi kegiatan ini, kepada para tenaga medis, panitia, PMI, dan semua pihak yang bekerja dengan tulus sejak pagi hingga acara selesai.

Saya melihat sendiri bagaimana sebuah komunitas tidak hanya menjadi tempat berkumpul, tetapi juga menjadi ruang untuk saling menjaga. Di tengah dunia yang semakin sibuk dan sering kehilangan waktu untuk peduli, kegiatan seperti ini terasa sangat berarti.

Acara ini bukan sekadar donor darah atau seminar kesehatan. Ia menjadi pengingat bahwa tubuh perlu dijaga, kesehatan perlu diperhatikan, dan manusia tetap membutuhkan manusia lain untuk bertahan hidup.

Saya merasa beruntung bisa hadir dan belajar banyak dari kegiatan ini. Semoga kegiatan-kegiatan seperti ini terus hidup, terus bertumbuh, dan terus menjadi jalan kebaikan bagi banyak orang.

Karena kadang hal paling sederhana setetes darah, sebuah pemeriksaan kesehatan, atau pengetahuan yang dibagikan dengan tulus dapat menjadi alasan seseorang tetap memiliki harapan untuk hidup. [T]

Cengkareng, 10 Mei 2026

Tags: donor darahkemanusiaan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

Next Post

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Emi Suy

Emi Suy

Lahir di Magetan, Jawa Timur, dengan nama Emi Suyanti. Emi penyair perempuan Indonesia yang ikut mendirikan Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM) dan saat ini aktif menjadi pengurus, serta menjabat sebagai sekretaris redaksi merangkap redaktur Sastramedia, sebuah jurnal sastra daring. Sampai saat ini Emi sudah menerbitkan lima buku kumpulan puisi tunggal, yaitu Tirakat Padam Api (2011), serta trilogi Sunyi yang terdiri dari Alarm Sunyi (2017), Ayat Sunyi (2018), Api Sunyi (2020) serta Ibu Menanak Nasi Hingga Matang Usia Kami (2022), buku kumpulan esai sastra Interval (2023), serta satu buku kumpulan puisi duet bersama Riri Satria berjudul Algoritma Kesunyian (2023). Penulis Naskah Opera (Libretto) I’m Not For Sale tentang perjuangan tokoh perempuan Ny. Auw Tjoei Lan menantang kematian menyelamatkan kehidupan, oleh pianis dan komponis Ananda Sukarlan. Puisi Emi Suy dimuat di lebih dari 200 buku kumpulan puisi bersama, serta di berbagai media online, seperti Basabasi.co, Sastramedia.com, juga dimuat di media nasional, antara lain Malutpost, Lampung Post, Banjarmasin Post, Suara Merdeka, Media Indonesia, serta Kompas. Puisinya pernah dimuat di majalah internasional dalam bahasa Inggris; majalah Porch Litmag.

Related Posts

Bertumbuh, Berkembang, Meraih Bintang  –Cerita dari Acara Pelepasan di SMAN 2 Kuta Selatan

by I Nyoman Tingkat
May 28, 2026
0
Bertumbuh, Berkembang, Meraih Bintang  –Cerita dari Acara Pelepasan di SMAN 2 Kuta Selatan

SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska)menggelar acara pelepasan Angkatan V pada Selasa Pon Waregadian, 26 Mei 2026, di Aula Jove...

Read moreDetails

Dari Program Desa Binaan Fakultas Bahasa dan Seni Undiksha: Pelatihan Ekoliterasi di Pondok Literasi Sabih, Desa Pedawa, Buleleng

by I Wayan Artika
May 27, 2026
0
Dari Program Desa Binaan Fakultas Bahasa dan Seni Undiksha: Pelatihan Ekoliterasi di Pondok Literasi Sabih, Desa Pedawa, Buleleng

DESA Pedawa di Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, Bali, terkenal dengan gula Pedawa. Gula ini sejatinya adalah gula merah atau gula...

Read moreDetails

Dari Cerita Bergambar ke Dunia Digital: Cara Mahasiswa Pascasarjana Undiksha Menanamkan Literasi di SD Negeri 7 Kampung Baru, Singaraja

by Dede Putra Wiguna
May 27, 2026
0
Dari Cerita Bergambar ke Dunia Digital: Cara Mahasiswa Pascasarjana Undiksha Menanamkan Literasi di SD Negeri 7 Kampung Baru, Singaraja

BAGI sebagian siswa SD Negeri 7 Kampung Baru, Singaraja, hari itu menjadi pengalaman pertama mengenal Canva. Ada yang masih bingung...

Read moreDetails

Riuh yang Mengikat Kebersamaan – Cerita Jeda Semester Genap di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
May 26, 2026
0
Riuh yang Mengikat Kebersamaan – Cerita Jeda Semester Genap di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

AULA SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pagi itu tidak seperti biasanya. Tidak ada suasana tegang ujian, tidak pula wajah-wajah...

Read moreDetails

Menjadikan Ujian Lebih Bermakna Lewat Antologi Puisi dan Cerpen

by Dede Putra Wiguna
May 25, 2026
0
Menjadikan Ujian Lebih Bermakna Lewat Antologi Puisi dan Cerpen

BAGI sebagian siswa, menulis puisi dan cerpen mungkin bukan perkara sulit. Namun membuatnya dalam bentuk kolektif dan memiliki benang merah...

Read moreDetails

Cekrek Sunyi Mata Kamera Widnyana Sudibya

by Kardanis Mudawi Jaya
May 24, 2026
0
Cekrek Sunyi Mata Kamera Widnyana Sudibya

SEJAK tahun 2018, saya tidak pernah lagi bertemu dan mengobrol lama sambil menikmati kopi dan kacang dalam satu lingkup kerja...

Read moreDetails

In Memoriam — Widnyana Sudibya, Fotografer yang Punya Jasa Besar Pada Arsip-arsip Kesenian Bali

by Made Adnyana Ole
May 21, 2026
0
In Memoriam — Widnyana Sudibya, Fotografer yang Punya Jasa Besar Pada Arsip-arsip Kesenian Bali

IA fotografer, ia mencintai kesenian Bali. Maka hidupnya diabdikan untuk mengabadikan segala bentuk kesenian Bali melalu foto-foto yang eksotik sekaligus...

Read moreDetails

Pantai Kedonganan Ramai Lagi, Tapi Sudahkah Siap Go Digital?

by Ni Luh Gde Sari Dewi Astuti
May 20, 2026
0
Pantai Kedonganan Ramai Lagi, Tapi Sudahkah Siap Go Digital?

PANTAI Kedonganan di kawasan Kuta, Badung, Bali, perlahan hidup kembali. Menjelang sore, deretan meja di tepi pantai mulai terisi. Aroma...

Read moreDetails

Wisata Orang Bali: ‘From Healing To Eling’

by I Nyoman Tingkat
May 19, 2026
0
Wisata Orang Bali: ‘From Healing To Eling’

DALAM salah satu bukunya, I Gde Aryantha Soethama menulis bahwa orang Bali tidak punya tradisi berwisata ala Barat. Berwisata dalam...

Read moreDetails

Mawar dan Air Mata Haru di Pelepasan Angkatan Ke-15 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Mawar dan Air Mata Haru di Pelepasan Angkatan Ke-15 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

LAMPU-lampu ruangan mendadak padam. Suasana di ballroom yang sedari awal riuh perlahan berubah sunyi. Ratusan pasang mata menoleh ke belakang...

Read moreDetails
Next Post
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Penayangan Perdana Film Dokumenter IMAJI Karya Heri Windi Anggara
Budaya

Penayangan Perdana Film Dokumenter IMAJI Karya Heri Windi Anggara

BAYANGKAN sebuah dunia tanpa warna, tanpa garis, dan tanpa bayangan sejak pertama kali kamu membuka mata di dunia. Bagi kebanyakan...

by Satria Aditya
May 31, 2026
Radio Tua Kakek Panjul
Dongeng

Radio Tua Kakek Panjul

PAGI di Desa Muncuk Sari selalu datang dengan cara yang sama. Perlahan, lembut, seperti tangan yang membelai tanpa suara. Kabut...

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi
Cerpen

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
Puisi-puisi Muammar Qadafi Muhajir | Kelambu
Puisi

Puisi-puisi Muammar Qadafi Muhajir | Kelambu

Kelambu Suatu hari, aku bicara dengan kelambuDia berkeluh kesah tentangmalam itu doa-doakutidak sengaja tersangkut di ketiaknyaIa bilang ia khilaf dan...

by Muammar Qadafi Muhajir
May 31, 2026
Menata Luka, Merawat Jiwa  —Pengantar Buku ‘Laki-laki yang Menata Lukanya di Rak Buku’ karya Angga Wijaya
Ulas Buku

Menata Luka, Merawat Jiwa  —Pengantar Buku ‘Laki-laki yang Menata Lukanya di Rak Buku’ karya Angga Wijaya

SAYA masih ingat pertemuan pertama dengan Angga Wijaya di sebuah rumah sakit besar di Denpasar, bertahun-tahun lalu, ketika saya masih...

by dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ
May 31, 2026
Awas Ada Pocong!
Esai

Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi
Esai

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Wisata Bahari di Negeri Maritim

BERUNTUNG Indonesia memiliki alam yang penuh pesona. Laut menjadi salah satu kekayaan alam yang membanggakan. Luas wilayah laut Indonesia mencapai...

by Chusmeru
May 31, 2026
FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan
Esai

FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

Dari Kegelisahan Menuju Gerakan Moral BALI sedang berada pada persimpangan zaman. Di satu sisi, pulau ini menikmati pertumbuhan ekonomi yang...

by Agung Sudarsa
May 31, 2026
Membaca Racauan Arman Dhani
Ulas Buku

Membaca Racauan Arman Dhani

Judul               : 30 Tahun dan Gagal Penulis            : Arman Dhani Tahun terbit    : Februari 2026 Penerbit          : EA Books...

by Wayan Esa Bhaskara
May 30, 2026
Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita
Cerpen

Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

PRIA-PRIA yang kau semayamkan di awan kita, tak satu pun Mas kenal—awalnya. Setelah Mas membaca jejak hatimu yang kau tinggalkan...

by Hidayatul Ulum
May 30, 2026
Puisi-puisi Eddy Pranata PNP | Pusat Cahaya
Puisi

Puisi-puisi Eddy Pranata PNP | Pusat Cahaya

CANGKIR TEH YANG MENUA kita masuki rumah baru, AC yang tidak dinginrapikan dapur dan kamar, bersihkan kamar mandi: "au, kita...

by Eddy Pranata PNP
May 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co