23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Emi Suy by Emi Suy
May 11, 2026
in Khas
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana

Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek.

Saya mengetahui kegiatan ini dari informasi yang dibagikan melalui jaringan SCAU. Ketika ada yang bertanya saya mengetahui acara itu dari mana, saya biasa menjawab pelan:

“Diinfo dari dr. Novelya/Lian.”

Jawaban sederhana itu ternyata membawa saya menuju sebuah ruang yang tidak hanya berbicara tentang kesehatan, tetapi juga tentang kemanusiaan.

Sabtu pagi, 9 Mei 2026, Hotel Pitagiri Jakarta Barat tampak lebih hidup dari biasanya. Orang-orang datang dengan langkah yang berbeda-beda: ada yang ingin donor darah, ada yang ingin memeriksa kesehatannya, ada pula yang ingin mengikuti seminar kesehatan mengenai pengapuran sendi lutut. Tetapi di balik tujuan yang beragam itu, saya merasa ada satu hal yang menyatukan semuanya: keinginan untuk tetap peduli terhadap kehidupan.

Saya datang bukan sebagai anggota SCAU, bukan pula alumni Universitas Tarumanagara. Saya hadir sebagai seseorang yang ingin melihat bagaimana manusia masih menyempatkan diri menjaga manusia lain di tengah dunia yang semakin sibuk dengan dirinya sendiri.

Dan mungkin justru karena saya datang sebagai “orang luar”, saya bisa melihat kegiatan ini dengan mata yang lebih hening.

SCAU: Ketika Komunitas Tidak Sekadar Menjadi Tempat Berkumpul

Awalnya saya mengira SCAU hanyalah komunitas alumni biasa. Namun setelah melihat bagaimana mereka bergerak, saya memahami bahwa SCAU lebih menyerupai rumah sosial yang dibangun dari semangat berbagi lintas profesi, lintas usia, bahkan lintas universitas.

Di dalam komunitas itu ada grup donor darah, telemedicine, otomotif, hukum, bisnis, investasi, hingga komunitas pecinta hewan dan tanaman. Sekilas tampak beragam dan tidak saling berkaitan. Tetapi semakin saya memperhatikan, semakin saya memahami bahwa semuanya dipersatukan oleh satu hal sederhana: menjaga hubungan antarmanusia agar tidak kehilangan makna.

SCAU didirikan dan digerakkan oleh Pdm Ripin Suma SE., MA. Dari tangannya, komunitas ini berkembang bukan hanya sebagai wadah nostalgia alumni Universitas Tarumanagara, tetapi juga menjadi ruang sosial yang terbuka bagi siapa saja.

Saya melihat bagaimana komunitas ini tidak dibangun dengan suasana eksklusif. Tidak ada kesan membatasi diri hanya untuk kelompok tertentu. Justru sebaliknya, mereka membuka ruang bagi banyak orang untuk ikut bertumbuh dalam semangat jejaring sosial dan kepedulian kemanusiaan.

Sambutan pembukaan seminar oleh founder SCAU, Pdm Ripin Suma SE., MA

Salah satu gerakan yang paling terasa denyut kemanusiaannya adalah SCAU Mitra Donor Darah. Dari dokumentasi grup, kegiatan donor darah ini telah berlangsung berkali-kali sejak tahun 2022 dan terus berjalan hingga sekarang. Ada kesinambungan yang dijaga. Ada kesadaran bahwa membantu manusia lain bukan pekerjaan musiman.

Di grup komunitas itu saya membaca kalimat sederhana:

“Komunitas yang peduli terhadap sesama yang membutuhkan donor darah.”

Kalimat itu tampak biasa. Tetapi di zaman ketika banyak orang sibuk memperbesar dirinya sendiri, kepedulian seperti itu terasa semakin langka.

Donor Darah: Ketika Tubuh Menjadi Jalan Keselamatan bagi Orang Lain

Ada sesuatu yang selalu membuat saya diam setiap melihat kegiatan donor darah.

Barangkali karena darah bukan benda yang bisa dibuat-buat demi pencitraan. Ia benar-benar keluar dari tubuh seseorang untuk diberikan kepada orang lain yang bahkan mungkin tidak pernah dikenalnya.

Emi Suy (penulis) saat donor darah

Di ruang donor itu saya melihat orang-orang duduk dengan lengan terbuka. Tidak ada panggung besar. Tidak ada sorotan lampu. Tidak ada tepuk tangan panjang. Hanya kursi-kursi sederhana, kantong darah, petugas PMI, dan manusia-manusia yang datang dengan niat diam-diam untuk membantu kehidupan orang lain.

Tetapi justru di situlah kemanusiaan terasa sangat nyata.

Saya membayangkan darah-darah itu nantinya mengalir ke tubuh seseorang yang sedang berjuang di rumah sakit. Mungkin seorang ibu yang kehilangan darah saat melahirkan. Mungkin seorang anak penderita leukemia. Mungkin seseorang yang mengalami kecelakaan di jalan dan sedang mempertahankan hidupnya di ruang operasi.

Kita sering berpikir bahwa menyelamatkan dunia harus dilakukan dengan tindakan besar. Padahal kadang dunia dipertahankan hanya oleh beberapa ratus mililiter darah yang diberikan dengan sukarela.

Hari itu saya ikut mendonorkan darah. Dan anehnya, setiap kali selesai donor darah, saya selalu merasa bukan sedang kehilangan sesuatu, melainkan sedang diingatkan bahwa tubuh ini ternyata masih bisa berguna bagi kehidupan orang lain.

Yanto Tjahjadikarta, advisor SCAU

Saya melihat wajah-wajah para pendonor. Ada yang datang sambil bercanda ringan. Ada yang tampak gugup ketika jarum mulai dipasang. Ada yang sudah terbiasa donor berkali-kali. Tetapi semuanya dipersatukan oleh kesediaan untuk memberi.

Di zaman ketika banyak orang takut kehilangan, para pendonor itu justru rela mengurangi sebagian dari dirinya demi memperpanjang kehidupan orang lain.

Mini MCU: Mendengarkan Tubuh Sebelum Ia Berteriak

Selain donor darah, saya juga mengikuti mini medical check up (MCU) yang diadakan di lokasi acara. Pemeriksaan sederhana seperti gula darah, asam urat, dan kolesterol mungkin terdengar sepele bagi sebagian orang. Tetapi sebenarnya tubuh sering memberi tanda-tanda kecil jauh sebelum sakit datang dengan keras.

Di meja pemeriksaan saya melihat alat-alat kecil dengan angka-angka yang muncul di layar digital. Angka-angka itu tampak sederhana, tetapi diam-diam menyimpan cerita tentang gaya hidup manusia modern: kurang tidur, terlalu banyak gula, terlalu banyak tekanan pikiran, terlalu sedikit istirahat, dan terlalu jarang mendengarkan tubuh sendiri.

Saya melihat kartu pemeriksaan dengan tulisan tangan petugas medis. Ada perhatian kecil di sana. Ada kesabaran. Ada usaha untuk menjaga manusia tetap sehat sebelum semuanya terlambat.

Kita hidup di zaman ketika orang lebih rajin memeriksa media sosial dibanding memeriksa kesehatannya sendiri. Kita lebih cepat mengetahui kabar orang lain daripada mendengar tubuh kita sendiri yang diam-diam mulai kelelahan.

Padahal tubuh juga punya batas. Ia bisa aus. Ia bisa lelah. Ia bisa meminta pertolongan lewat nyeri, pegal, tekanan darah, atau angka-angka kecil yang perlahan mulai berubah.

Mini MCU itu membuat saya berpikir bahwa menjaga kesehatan bukan bentuk kesombongan, melainkan bentuk rasa syukur karena masih diberi kesempatan hidup.

Sebab sering kali manusia baru menyadari pentingnya tubuh ketika tubuh mulai tidak mampu bekerja seperti biasa.

Seminar Kesehatan: Tubuh yang Diam-Diam Membawa Seluruh Kehidupan

Saya juga mengikuti seminar kesehatan bertema:

“Mitos dan Fakta Pengapuran Sendi Lutut: Bagaimana Mencegah dan Menanganinya”

Seminar ini dibawakan oleh dr. William Chandra, Sp.OT(K), spesialis ortopedi konsultan panggul dan lutut dari Mandaya Royal Hospital Puri.

Awalnya saya mengira seminar kesehatan hanyalah paparan medis yang penuh istilah rumit. Tetapi ternyata saya justru menemukan banyak refleksi tentang kehidupan manusia di dalamnya.

dr. William Chandra, Sp.OT(K)

Ketika dokter menjelaskan tentang pengapuran sendi lutut, saya tiba-tiba menyadari bahwa lutut bukan sekadar sendi. Ia adalah bagian tubuh yang diam-diam membawa seluruh perjalanan hidup kita.

Lutut membawa seseorang bekerja setiap hari.

Membawa ibu berdiri lama di dapur.

Membawa ayah mencari nafkah.

Membawa manusia mengejar mimpi, naik tangga kehidupan, bahkan berjalan menuju tempat ibadah.

Dan ketika lutut mulai sakit, manusia baru sadar betapa selama ini tubuh bekerja tanpa banyak keluhan.

Saya mendengarkan penjelasan tentang fisioterapi, olahraga low-impact, artroskopi, hingga teknologi robotic surgery. Dunia kedokteran berkembang begitu cepat. Tetapi di balik seluruh teknologi itu, saya merasa inti terdalamnya tetap sama: manusia ingin mengurangi rasa sakit manusia lain.

Ada sesuatu yang menenangkan ketika ilmu pengetahuan digunakan bukan untuk menunjukkan kecanggihan semata, tetapi untuk membantu seseorang kembali berjalan tanpa nyeri, kembali bekerja, kembali hidup lebih layak.

SCAU dan Ruang Kemanusiaan yang Sunyi

Yang paling saya rasakan dari kegiatan ini bukan sekadar acara kesehatan. Melainkan suasana kepedulian yang berjalan tanpa banyak keributan.

SCAU menghadirkan ruang di mana kesehatan tidak dibicarakan dengan menakut-nakuti, melainkan dengan mengajak orang lebih peduli terhadap dirinya sendiri dan sesamanya.

Saya melihat panitia yang sibuk membantu peserta sejak pagi. Saya melihat tenaga medis yang tetap ramah meski bekerja berjam-jam. Saya melihat orang-orang yang datang bukan untuk terlihat hebat, tetapi untuk ikut berpartisipasi.

Dan mungkin hari ini kita memang membutuhkan lebih banyak ruang seperti itu.

Karena di tengah dunia yang semakin bising oleh kebencian, kompetisi, dan pencitraan, kegiatan donor darah, pemeriksaan kesehatan, dan seminar medis seperti ini terasa seperti pengingat sederhana bahwa manusia masih bisa saling menjaga.

Kadang kemanusiaan tidak hadir dalam pidato besar. Kadang ia hadir dalam antrean donor darah, dalam tangan petugas medis yang sabar, dalam seseorang yang rela datang pagi-pagi hanya untuk memeriksa kesehatannya, atau dalam komunitas yang terus bergerak diam-diam menjaga kepedulian agar tidak mati.

Epilog: Tubuh, Kepedulian, dan Cara Kita Bertahan Sebagai Manusia

Saya pulang dari kegiatan itu dengan pikiran yang panjang.

Barangkali kesehatan memang bukan hanya urusan medis. Ia juga urusan kemanusiaan. Sebab tubuh yang sehat memungkinkan seseorang tetap bekerja, tetap memeluk keluarganya, tetap berjalan, tetap berharap, dan tetap hidup dengan layak.

Dan saya merasa, di ruang sederhana Hotel Pitagiri itu, saya menyaksikan satu hal penting:

bahwa kepedulian tidak selalu hadir dalam pidato besar.

Kadang ia hadir lewat donor darah.

Lewat cek kesehatan kecil.

Lewat seminar yang mengingatkan orang agar menjaga tubuhnya sebelum terlambat.

Karena pada akhirnya, menjaga kesehatan adalah salah satu cara manusia berkata kepada manusia lain:

“Aku ingin kau tetap ada di dunia ini.”

Saya bersyukur bisa menjadi bagian kecil dari kegiatan ini.

Bukan hanya karena saya mendapatkan pengetahuan tentang kesehatan, mengikuti mini MCU, dan donor darah, tetapi karena saya pulang membawa sesuatu yang lebih penting: kesadaran bahwa kepedulian masih hidup di tengah manusia-manusia yang mau bergerak bersama.

Suasana donor darah

Terima kasih kepada SCAU, kepada Pdm Ripin Suma SE., MA selaku Founder SCAU, kepada dr. Novelya/Lian yang telah membagikan informasi kegiatan ini, kepada para tenaga medis, panitia, PMI, dan semua pihak yang bekerja dengan tulus sejak pagi hingga acara selesai.

Saya melihat sendiri bagaimana sebuah komunitas tidak hanya menjadi tempat berkumpul, tetapi juga menjadi ruang untuk saling menjaga. Di tengah dunia yang semakin sibuk dan sering kehilangan waktu untuk peduli, kegiatan seperti ini terasa sangat berarti.

Acara ini bukan sekadar donor darah atau seminar kesehatan. Ia menjadi pengingat bahwa tubuh perlu dijaga, kesehatan perlu diperhatikan, dan manusia tetap membutuhkan manusia lain untuk bertahan hidup.

Saya merasa beruntung bisa hadir dan belajar banyak dari kegiatan ini. Semoga kegiatan-kegiatan seperti ini terus hidup, terus bertumbuh, dan terus menjadi jalan kebaikan bagi banyak orang.

Karena kadang hal paling sederhana setetes darah, sebuah pemeriksaan kesehatan, atau pengetahuan yang dibagikan dengan tulus dapat menjadi alasan seseorang tetap memiliki harapan untuk hidup. [T]

Cengkareng, 10 Mei 2026

Tags: donor darahkemanusiaan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

Next Post

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Emi Suy

Emi Suy

Lahir di Magetan, Jawa Timur, dengan nama Emi Suyanti. Emi penyair perempuan Indonesia yang ikut mendirikan Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM) dan saat ini aktif menjadi pengurus, serta menjabat sebagai sekretaris redaksi merangkap redaktur Sastramedia, sebuah jurnal sastra daring. Sampai saat ini Emi sudah menerbitkan lima buku kumpulan puisi tunggal, yaitu Tirakat Padam Api (2011), serta trilogi Sunyi yang terdiri dari Alarm Sunyi (2017), Ayat Sunyi (2018), Api Sunyi (2020) serta Ibu Menanak Nasi Hingga Matang Usia Kami (2022), buku kumpulan esai sastra Interval (2023), serta satu buku kumpulan puisi duet bersama Riri Satria berjudul Algoritma Kesunyian (2023). Penulis Naskah Opera (Libretto) I’m Not For Sale tentang perjuangan tokoh perempuan Ny. Auw Tjoei Lan menantang kematian menyelamatkan kehidupan, oleh pianis dan komponis Ananda Sukarlan. Puisi Emi Suy dimuat di lebih dari 200 buku kumpulan puisi bersama, serta di berbagai media online, seperti Basabasi.co, Sastramedia.com, juga dimuat di media nasional, antara lain Malutpost, Lampung Post, Banjarmasin Post, Suara Merdeka, Media Indonesia, serta Kompas. Puisinya pernah dimuat di majalah internasional dalam bahasa Inggris; majalah Porch Litmag.

Related Posts

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026
0
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

Read moreDetails

Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

by Agung Sudarsa
August 19, 2026
0
Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

MENJELANG peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, kita biasanya kembali mengenang perjuangan para pahlawan, pengorbanan para pendahulu, dan lahirnya bangsa yang...

Read moreDetails

Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

SEORANG laki-laki berkulit sawo matang mulai memanjat batang pohon lontar. Dua jeriken merah terikat di punggungnya, sementara sebilah pisau golok...

Read moreDetails

Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

by Nyoman Budarsana
August 18, 2026
0
Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

DI balik pertunjukan seni yang masih dapat disaksikan di Kuta, ada orang-orang yang bertahun-tahun berlatih, mengajar, berkarya, dan meneruskan pengetahuan...

Read moreDetails

Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
0
Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

MALAM mulai turun di Banjar Danginjalan, Desa Guwang, Sukawati, Gianyar, Sabtu, 15 Agustus 2026. Di sebuah tempat makan yang baru...

Read moreDetails

“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
0
“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

 “Saya cari tiga orang, yang mau bikin konten pendidikan dengan menggunakan baju Handmad Campah. Saya bayar Rp1,5 juta tiap bulan....

Read moreDetails

“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman

by Rusdy Ulu
August 9, 2026
0
“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman

SEJARAH Desa Adat Batur tidak hanya tercatat melalui peristiwa Rarud Batur 1926, tetapi juga melalui hubungan yang terbangun antara masyarakat...

Read moreDetails

Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

by Dede Putra Wiguna
August 8, 2026
0
Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

“JAZZ itu musik yang meneduhkan, tapi mengajak berpikir,” ujar Gede Diarta, seorang pemuda asal Denpasar yang sehari-hari bekerja sebagai karyawan...

Read moreDetails

Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

by Jaswanto
August 7, 2026
0
Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

DI ruang aula SMAN 4 Praya, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, beberapa pemuda-pemudi dari Sanggar Putri Nyale duduk di kursi...

Read moreDetails

Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan

by tatkala
August 6, 2026
0
Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan

“Pentingnya kursus bahasa Inggris untuk semua kalangan tidak bisa diragukan lagi. Bahasa Inggris penting sebagai bahasa global, untuk dunia kerja,...

Read moreDetails
Next Post
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co