Ni Luh Gde Sari Dewi Astuti, SST.Par., M.Par. lahir di Denpasar pada tanggal 17 Juni 1991. Ia menyelesaikan pendidikan Diploma IV pada Jurusan Manajemen Perhotelan di STP Nusa Dua Bali. Selanjutnya, beliau melanjutkan pendidikan Magister Manajemen di Universitas Udayana dengan konsentrasi Pemasaran.
Sebelum berkiprah di dunia akademik, ia memiliki pengalaman profesional di industri hospitality, khususnya pada bidang Sales and Marketing Department di hotel. Pengalaman tersebut memperkuat kompetensinya dalam bidang pemasaran dan pengelolaan industri perhotelan. Saat ini, beliau aktif sebagai dosen di Institut Pariwisata dan Bisnis Internasional dan mengampu mata kuliah Manajemen Pemasaran Hospitaliti serta Manajemen MICE. Dengan latar belakang akademik dan pengalaman industri yang dimiliki, beliau terus berkontribusi dalam pengembangan pendidikan pariwisata dan bisnis, khususnya di bidang hospitality dan pemasaran.
BAHASA masyarakat tradisional menyimpan cara pandang yang khas dalam memahami dunia. Alam tidak hanya menjadi ruang tempat manusia hidup dan...
Read moreDetailsPADA hari ketika manusia diajak menegakkan pagar, sebuah panggung kebudayaan justru dibuka selebar-lebarnya. Rabu, 4 November 2026, menjadi sebuah momentum...
Read moreDetailsSATU cerpen mampu menghasilkan dua tafsir yang saling bertolak belakang. Fenomena ini muncul dan menarik perhatian saya ketika melakukan penilaian...
Read moreDetails

SUASANA ARTOTEL Sanur Bali tampak ramai pada Jumat (30/10/2026). Sejumlah pengunjung, baik masyarakat lokal maupun wisatawan mancanegara, terlihat mengamati berbagai...
CAHAYA lilin menerangi meja-meja yang dihiasi bunga. Para staf menyambut tamu yang berdatangan, sementara aroma hidangan perlahan mengisi ruang makan...
Sekitar 6.000 pengunjung menghadiri hari pertama Jembrana Creative Festival (JCF) 2026 di Taman Pecangakan, Negara, Sabtu (31/10/2026). Berdasarkan catatan panitia,...

“MAKANYA, pengembangannya lebih kepada CBT sebenarnya—Community Based Tourism.” Nyoman Nadiana, yang akrab disapa Don Rare, mengucapkan kalimat itu ketika menjelaskan...
“DI DESA PANJI, kami tidak menjual pemandangan, kami menjual cara hidup.” Kalimat itu ditulis Jro Mangku Made Ariawan, Perbekel Desa...
TELEPON belum lama ditutup ketika Luh Sukerti kembali sibuk di depan tungku. Puluhan tusuk sate dibolak-balik di atas bara, dilumuri...
Copyright © 2016-2025, tatkala.co