4 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Resepsi Pernikahan Genderuwo di Bulan Suro

Chusmeru by Chusmeru
July 2, 2026
in Fiksi

Cerita misteri Chusmeru

MENDAPAT amanah dari warganya, Suyadi merasa bangga dan terharu menjadi kepala desa. Jabatan yang membuatnya harus memimpin daerah yang agak jauh dari kota kabupaten. Daerah yang belum begitu maju, namun juga tidak terlalu tertinggal.

Rasa bangga tak terhingga pada diri Suyadi saat terpilih menjadi kepala desa melalui proses pemilihan langsung oleh masyarakat desa. Ia terpilih dengan suara terbanyak, mengalahkan tiga orang pesaingnya. Layak jika Suyadi merasa bangga.

Suyadi juga merasa terharu terpilih sebagai kepala desa. Selama ini masyarakat di desanya memang menghendaki pergantian kepala desa, lantaran pemimpin sebelumnya sudah lanjut usia. Meskipun banyak kemajuan yang telah dilakukan, akan tetapi di era sekarang ini masyarakat menghendaki kepala desa yang lebih muda. Karenanya Suyadi yang menginjak usia 40 tahun menang telak dalam pemilihan.

Udara sangat sejuk di desa tempat Suyadi menjadi kepala desa. Banyak pepohonan besar tumbuh subur di desanya. Air sungai mengalir jernih, gemericiknya mengundang rindu siapa pun yang pernah tinggal atau berkunjung ke desa ini.

Hamparan sawah masih banyak ditemui. Berjalan di pematang sawah sambil memandang ke arah utara, tampak gunung berapi yang masih aktif. Para petani sudah begitu akrab dengan perilaku gunung itu. Kadang tenang, kadang meletupkan awan panas. Namun hingga kini gunung itu masih setia menemani petani menggarap sawah.

Belum banyak rumah mewah maupun bangunan beton di desa Suyadi. Mata pencaharian sebagian besar penduduknya membuat desa itu masih tampak alami dan asri. Kalau pun ada rumah yang cukup bagus, biasanya dari keluarga yang salah satu anaknya bekerja di kota besar. Suyadi juga membuat aturan ketat bagi siapa pun yang akan berinvestasi di desanya. Syaratnya, tidak merusak lingkungan alam pedesaan.

Jumlah penduduk desa itu sebenarnya tidak terlalu banyak seperti halnya di kota. Akan tetapi karena wilayah desa yang luas dan jarak antara satu kampung dengan kampung yang lain cukup jauh, maka tidak semua penduduk saling kenal. Termasuk Suyadi. Ia tidak mengenal seluruh warga desa. Hanya warga yang dekat dengan kampungnya, atau tokoh masyarakat di kampung lain yang ia kenal.

Oleh sebab itulah Suyadi rajin berkeliling desa untuk mengenal warganya, sekaligus menggali permasalahan yang ada di desa. Itu pun tak membuat Suryadi hafal satu per satu nama-nama warga di desanya. Meski demikian tak membuat Suryadi lantas bersikap cuek kepada warga yang tak dikenalnya.

                                                                                                ***

Sebuah undangan resepsi pernikahan diterima Suyadi di ruang kerjanya di balai desa. Undangan berwarna hitam. Suyadi agak berpikir, mengapa ada undangan resepsi pernikahan berwarna hitam. Apalagi yang mengundang bernama Yeksa Guna. Nama yang tidak pernah ia dengar. Sebagai kepala desa ia memaklumi, mungkin ia belum pernah bertemu.

Selama ini memang banyak warga yang mengundang Suyadi untuk menghadiri hajatan, entah itu pernikahan maupun khitanan. Jika sedang tidak ada acara penting, Suyadi pasti akan hadir. Walaupun yang mengundang tidak ia kenal. Risiko mendapat amanah jadi kepala desa, setiap warga pasti ingin didatangi pemimpinnya.

Sekali lagi Suyadi memandangi undangan resepsi pernikahan dari Yeksa Guna. Alamat dukuhnya cukup dikenal Suyadi. Agak jauh dari rumahnya. Suyadi berencana untuk menghadiri resepsi itu bersama istrinya. Resepsi diselenggarakan pada malam hari, tepat di hari Senin Wage, malam Selasa Kliwon, bulan Suro kalender Jawa. Agak heran pula Suyadi. Biasanya malam Selasa Kliwon bulan Suro menjadi pantangan bagi warga untuk mengadakan hajatan, karena akan mendapat malapetaka.

Bersama istri Suyadi mengendarai sepeda motor ke tempat resepsi pernikahan. Setiba di alamat yang disebutkan dalam undangan, tamu sudah banyak yang hadir di sebuah rumah joglo besar. Anehnya, tak satu pun Suyadi mengenal tamu undangan. Wajah mereka semua tampak pucat dan tidak saling sapa. Suyadi dan istrinya merasa heran. Perlahan terdengar suara gamelan. Nada dan irama gamelan yang aneh.

Sebagai orang Jawa, Suyadi hafal betul semua gending gamelan. Namun kali ini irama gamelan tidak beraturan. Suyadi mulai curiga. Ada yang tidak beres dalam resepsi pernikahan ini, pikirnya. Di tengah kecurigaan Suryadi, semerbak tercium aroma busuk di tempat resepsi. Suryadi dan istrinya mulai merinding. Bulu kuduk mereka berdiri.

Selang beberapa saat, muncul pasangan pengantin diapit kedua orang tua mereka. Mereka berjalan beriringan dengan diikuti musik yang aneh, terdengar iramanya pelan, seperti layaknya gendhing mijil ratri. Padahal gendhing ini biasanya ditabuh untuk mengiringi kematian seseorang. Suyadi bertambah merinding. Mengapa resespsi pernikahan diiringi musik seperti itu.

Tampak di sebelah pasangan pengantin seorang laki-laki bertubuh tinggi besar. Wajahnya menyeramkan. Ia menatap satu per satu undangan yang hadir. Ketika tatapannya tertuju pada Suyadi dan istrinya, lelaki itu sempat tersenyum, namun dengan tatapan yang menakutkan.

“Apakah laki-laki itu yang bernama Yeksa Guna, yang mengundang kita?” tanya Suyadi kepada istrinya.

“Mungkin, Pak. Menyeramkan..,” jawab istrinya ketakutan sambil memegang erat lengan Suyadi.

Tak lama kemudian, beberapa orang membawa menu makanan dan minuman untuk diberikan kepada para undangan. Suyadi dan istrinya kembali terkejut. Makanan dan minuman yang dibawa aneh-aneh, tidak seperti layaknya makanan dalam resepsi pernikahan di desanya. Suyadi melihat ada makanan singkong bakar yang tampak gosong, pisang bakar yang juga gosong, serta minuman berwarna merah pekat seperti darah.

Suyadi dan istrinya merasa bergidik melihat makanan dan minuman itu. Keringat dingin mulai menetes dari dahi mereka. Apalagi ketika mereka melihat orang-orang yang hadir begitu lahap menyantap makanan dan minuman itu. Suyadi merasa mual dan ingin muntah. Ia menyadari telah berada di tempat yang salah. Suyadi mengajak istrinya untuk berdoa sambil bersiap untuk keluar dari tempat resepsi itu.

Betapa terkejut mereka. Begitu keluar dari tempat resespsi, bukan pelataran rumah yang mereka temukan. Mereka berdua berdiri di bawah pohon kepuh besar. Aroma busuk tercium di sekitar pohon itu. Suyadi dan istrinya gemetaran. Mereka baru menyadari, bahwa undangan resepsi pernikahan tadi bukan dari warga desanya, tapi dari makhluk halus. Pohon kepuh besar itu di desanya dikenal sebagai pohon yang angker, rumah genderuwo.

                                                                                                ***

Pengalaman yang menyeramkan mendatangi resepsi pernikahan genderuwo membuat istri Suyadi menjadi takut bila harus menghadiri undangan dari warganya. Apalagi bila yang mengundang adalah warga desa yang belum ia kenal.

Sebenarnya Suyadi juga agak ragu jika ada warganya yang mengundang acara hajatan tapi dia tidak mengenalnya. Namun jabatannya sebagai kepala desa membuatnya dilematis. Kalau tidak hadir, pasti warganya akan menilai Suyadi sombong. Mentang-mentang jadi kepala desa tak mau mendatangi acara warganya.

Pagi ini Suyadi kembali menerima undangan resepsi pernikahan dari warganya. Kali ini undangan berwarna coklat. Suyadi mengamati undangan itu. Tertera nama Wesasi Dremba, pihak yang mengundang. Bukan hanya tak mengenal nama itu, Suyadi juga merasa aneh dengan nama itu. Agak aneh, karena biasanya nama-nama warganya tidak seperti itu. Yang sering ia dengar nama seperti Paijo,Paiman, Wagiman, Sujono, dan nama-nama Jawa pada umumnya.

Bukan hanya soal nama. Hari resepsi pernikahan pun pada Kamis Wage malam. Artinya itu malam Jumat Kliwon, bulan Suro dalam kalender Jawa. Malam yang dianggap wingit dan sakral di desanya. Suyadi agak ragu untuk hadir. Apalagi ia pernah mengalami suasana menyeramkan ketika malam Selasa Kliwon ia mendatangi resepsi pernikahan genderuwo di pohon kepuh.

Istri Suyadi juga tak mau untuk ikut menghadiri resepsi pernikahan warga yang bernama Wesasi Dremba itu. Ia tidak mengenalnya, mendengar namanya pun tak pernah. Istri Suyadi takut bila kejadian pada malam Selasa Kliwon akan terulang kembali, menghadiri resepsi pernikahan genderuwo. Oleh karena itulah, Suyadi terpaksa berangkat sendirian.

Tiba di tempat resepsi, perasaan Suyadi sudah tidak karuan. Heran, bingung, meremang, dan sedikit takut. Among tamu yang menyambut Suryadi semua berpakaian serba hitam. Para undangan yang hadir juga berpakaian hitam. Sesuatu yang mustahil terjadi dalam sebuat hajatan pernikahan.

“Sugeng rawuh, Bapak Kepala Desa..,” ucap salah seorang among tamu menyambut kedatangan Suyadi.

Suyadi hanya mengangguk, tak berani menjabat tangan among tamu itu. Wajah penerima tamu itu sangat misterius. Tersenyum pada Suyadi, namun senyumnya seperti hambar. Perasaan Suyadi mulai tidak nyaman. Ia mulai curiga akan terjadi sesuatu yang menyeramkan.

Para undangan sudah mulai memadati pendopo tempat resepsi. Ada yang datang sendirian, ada pula yang datang bersama istri. Akan tetapi tak satu pun yang Suyadi kenal. Beberapa tamu undangan laki-laki mengisap rokok kemenyan. Asapnya berputar dan berhembus ke segala penjuru. Bau kemenyan menyengat hidung. Perut Suyadi terasa mual.

“Pak Wesasi Dremba yang mana?” tanya Suyadi kepada among tamu. Ia ingin segera bertemu orang yang mengundangnya dan meninggalkan tempat itu.

Among tamu menunjuk ke satu titik di mana berdiri seorang lelaki tinggi, berkulit hitam, berambut panjang, dan bermata lebar. Suyadi terkejut. Ia membatalkan niatnya untuk menemui orang itu. Wajahnya sangat menyeramkan, seperti genderuwo yang sering ia dengar dari cerita orang-orang desa.

Bulu kuduk Suyadi berdiri. Ia mulai menyadari berada di tempat yang salah. Ini pasti bukan resepsi pernikahan orang biasa, pikir Suyadi. Kembali terbayang peristiwa beberapa waktu lalu saat ia menghadiri resepsi Yeksa Guna yang ternyata makhluk genderuwo. Suyadi merinding dan ketakutan. Sementara beberapa orang memandangi Suyadi dengan tatapan yang menyeramkan.

Sayup-sayup terdengar gending tembang Lingsir Wengi. Suasana menjadi tambah mencekam, karena tembang itu bernuansa magis. Meskipun sebenarnya lagu itu dibuat oleh penciptanya untuk menolak bala, namun dalam suasana yang dihadapi Suyadi, tembang Lingsir Wengi seolah ditujukan sebagai simbol penyambutan makhluk halus.

Sesaat kemudian berkumandang gending Kidung Sesaji. Lagu yang dalam pendengaran Suyadi menambah suasana menjadi mencekam. Ia pernah mendengar tentang lagu ini yang bermakna persembahan di malam yang sunyi. Dada Suyadi berdebar-debar. Tak berapa lama tampak beberapa orang berpakaian hitam membawa makanan untuk tamu undangan.

Betapa terkejut Suyadi. Ia melihat makanan yang ditaruh di atas nampan, burung gagak hitam yang diikat kaki dan sayapnya. Suyadi nyaris berteriak ketakutan. Ia merasa bergidik ngeri. Para tamu undangan menyantap sajian burung gagak hitam. Perut Suyadi mulai mual-mual. Ia ingin muntah. Sambil membaca doa-doa, Suyadi melompat dan berlari sekuat tenaga keluar dari tempat resepsi.

Mata Suyadi terbelalak. Begitu keluar dari keramaian, ia berada di bawah pohon randu besar yang ada di desanya. Sinar rembulan tepat berada di atas kepalanya, menerangi situasi sekeliling. Suyadi ketakutan sendirian tengah malam di bawah pohon randu besar. Pohon itu juga dipercaya oleh penduduk di desanya sebagai rumah genderuwo.

Bergegas Suyadi meninggalkan pohon randu tempat resepsi pernikahan genderuwo bernama Wesasi Dremba. Saat hendak kembali pulang, Suyadi mendengar suara burung gagak di atas pohon randu itu. Suyadi tak mampu lagi menahan ketakutannya. Ia segera memacu sepeda motornya untuk kembali ke rumah.

Tak pernah terjawab mengapa Suyadi selalu diundang dalam resepsi pernikahan genderuwo. Padahal selama ini ia tidak pernah berurusan dengan hal-hal klenik. Apakah makhluk genderuwo itu merasa menjadi bagian dari warga desa, Suyadi tak mau tahu.

Kini, setiap ada undangan hajatan dari orang yang tidak dikenal, Suyadi meminta salah satu pegawainya untuk mengecek terlebih dahulu tempat resepsi itu. Ia tidak mau terjebak lagi dalam hajatan genderuwo yang lain. Apalagi di desanya banyak tumbuh pohon besar yang dianggap keramat oleh masyarakat. [T]

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

Tags: cerita misterifiksihoror
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

PKB dan SPMB, Drama yang Selalu Penuh Penonton

Next Post

Tiga Buku untuk Sebuah Kelulusan —Dari Ujian Tugas Akhir Nonskripsi Proyek Inovatif UPMI Bali

Chusmeru

Chusmeru

Pensiunan dosen

Related Posts

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

by Supali Kasim
August 30, 2026
0
Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

Air di Daun Talas seberapa waktu bertahanair di daun talas dapat menerimakenyataan demi kenyataan tarian anginlantai licin dan tetabuhan riuhtanpa...

Read moreDetails

Ajian Jaran Goyang

by Chusmeru
August 20, 2026
0
Meninggal Seperti Pepes Ikan

MENJADI lelaki jomblo di usia yang tidak lagi muda membuat Teguh Priyono selalu menjadi perbincangan tetangga. Wajahnya tidak terlalu jelek....

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Kencan Pertama di Kafe Pinggir Sungai

by Chusmeru
August 6, 2026
0
Meninggal Seperti Pepes Ikan

KENCAN pertama untuk sebagian besar orang dianggap sesuatu yang mendebarkan. Begitu pun yang dirasakan Heru Pambudi dan Tuty Rosdiana. Belum...

Read moreDetails

Malam Keakraban Berbuntut Teror

by Chusmeru
July 23, 2026
0
Meninggal Seperti Pepes Ikan

MENJADI dosen pembimbing Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Ilmu Komunikasi membuat Asifa Furoda selalu dekat dengan mahasiswa. Bukan hanya ketika berada...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

by Sholihul Mubarok
June 28, 2026
0
Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

MENJELMA KATA DI KURUSETRA BERANDA mata-mata telingasulih gaduh suaralahir ribuan kekata jemari adalah ujung belatirobek halus di layar tanduskebajikan serta...

Read moreDetails

Takut Galungan

by Dede Putra Wiguna
June 27, 2026
0
Takut Galungan

DI Desa Kembang Asri hiduplah seekor babi betina bernama Ica. Ia adalah babi kesayangan Made Subur. Ica tumbuh sehat dan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

by Andi Wirambara
June 27, 2026
0
Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

KUCING aku seekor kucing yang memanjat jendelamukau penghuni yang selalu menutupnya,bersantai menenteng cangkir teh yang pekat. aku mengeong dan mengamuk,...

Read moreDetails
Next Post
Tiga Buku untuk Sebuah Kelulusan —Dari Ujian Tugas Akhir Nonskripsi Proyek Inovatif UPMI Bali

Tiga Buku untuk Sebuah Kelulusan ---Dari Ujian Tugas Akhir Nonskripsi Proyek Inovatif UPMI Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Labirin Bahasa di Sekitar Kita
Bahasa

Labirin Bahasa di Sekitar Kita

PERNAHKAH Anda memperhatikan bagaimana sebuah kata bekerja di media sosial atau di obrolan sehari-hari? Kita sering mengira bahasa itu seperti...

by I Made Sudiana
September 4, 2026
Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang
Esai

Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang

 “Mau diberikan ke mama. Karena di rumah tidak ada nasi.” Muhammad Suleman Datau mengatakannya ketika teman-temannya mulai membuka kotak makanan...

by Ahmad Fatoni
September 4, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [9]: Seperti Dendam, Seperti Ronggeng: Karya yang Bertahan

DIAGNOSIS tentang Sastra Perhatian bukan pernyataan bahwa seluruh ekosistem sastra Indonesia sudah menyerah pada logikanya. Pernyataan semacam itu terlalu mudah...

by Andre Syahreza
September 4, 2026
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana
Opini

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
AI Membuat Musik Semakin Mudah, Bukan Semakin Gampang
Esai

AI Membuat Musik Semakin Mudah, Bukan Semakin Gampang

PHIL COLLINS pernah melakukan sesuatu yang pada zamannya terasa luar biasa. Dalam album Both Sides yang dirilis tahun 1993, ia...

by Nanoq da Kansas
September 4, 2026
Nusa Dua Memang Tiada Satunya
Esai

Nusa Dua Memang Tiada Satunya

NUSA DUA lebih dikenal daripada Desa Adat Bualu yang menaunginya.  Sebelum akhir tahun 1950-an, Nusa Dua berada di bawah naungan...

by I Nyoman Tingkat
September 4, 2026
Sinaps Ingatan dari Pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot
Ulas Pentas

Sinaps Ingatan dari Pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot

Catatan pendek, sebagai pengantar diskusi menonton ulang dokumentasi pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot melalui Youtube, Sabtu 05 Septemper 2026 di...

by Asmaran Dani
September 4, 2026
Maklor dan Cilor, Jajanan Jadul yang Bertahan di Tikungan Jalan Merak Singaraja
Kuliner

Maklor dan Cilor, Jajanan Jadul yang Bertahan di Tikungan Jalan Merak Singaraja

MATAHARI pagi belum genap sejengkal naik ketika sebuah gerobak biru berhenti di pinggir Jalan Merak, Singaraja. Di belakangnya, truk-truk besar...

by Putu Gangga Pradipta
September 4, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Membaca Trilogi Kejujuran Wong Banyumas dari Dapur, Panggung, dan Mulut

Tubuh yang Bicara Sore di Banyumas tidak dimulai dengan jam. Ia dimulai dengan suara wajan. "Sesss" minyak panas ketemu adonan...

by Tri Nugroho Adi
September 4, 2026
“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif
Ulas Rupa

“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

PADA tanggal 29 Agustus hingga 29 September 2026 nanti, digelar pameran lukisan karya I Ketut Suasana ‘Kabul’. Pameran bertajuk  Nectar...

by Hartanto
September 3, 2026
Gol versus Gul
Bahasa

Gol versus Gul

KITA teriak “gol” manakala tim sepak bola yang kita dukung memasukkan bola ke gawang lawan. Ketika bola mengenai tiang gawang,...

by I Made Sudiana
September 3, 2026
Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana
Ulas Rupa

Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

DI tengah lingkungan yang rusak, belantara  Kalimantan terbakar, ribuan hektar tanah Subak di Bali   menyusut.  Sebab, dari 80.000 hektar di...

by I Wayan Westa
September 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co