22 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

PKB dan SPMB, Drama yang Selalu Penuh Penonton

I Wayan Yudana by I Wayan Yudana
July 1, 2026
in Esai
PKB dan SPMB, Drama yang Selalu Penuh Penonton

MUSIM libur kenaikan kelas dan pascakelulusan sekolah di Bali selalu menghadirkan dua tontonan besar. Yang pertama, Pesta Kesenian Bali (PKB). Yang kedua, Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB). Bedanya, yang satu dipenuhi tari, tabuh, dan tepuk tangan. Yang satunya lagi dipenuhi doa, deg-degan, dan… grup WhatsApp.

PKB menjadi panggung hiburan masyarakat Bali. Anak-anak yang baru saja menyelesaikan ujian, guru yang akhirnya bisa menarik napas lebih panjang, hingga orang tua yang selama setahun menjadi “guru tambahan” di rumah, semua seolah mendapat hadiah berupa pesta budaya. Di Taman Budaya Art Center Denpasar, ribuan orang datang setiap hari. Ada yang benar-benar menikmati seni, ada pula yang menikmati kuliner, berfoto, atau sekadar memastikan unggahan media sosialnya tidak kalah estetik dari teman-temannya.

Begitulah seni bekerja. Ia mampu membuat orang rela berjalan jauh, berdesak-desakan, bahkan mencari parkir lebih lama daripada menikmati pertunjukannya.

Suasana Pementasan Tari dalam PKB 2026

Namun di saat yang sama, panggung lain sedang dibuka secara luas. Namanya SPMB.

Kalau PKB memiliki panggung terbuka, maka SPMB memiliki panggung digital. Para pemainnya bukan penari, penabuh gamelan atau seniman lainnya, melainkan para calon murid, orang tua, operator sekolah, dan tentu saja… sinyal internet. Semua memainkan perannya masing-masing.

Kalau di PKB orang berebut kursi penonton, di SPMB orang berebut kursi sekolah. Suasananya sama-sama menegangkan. Yang satu menunggu giliran tampil. Yang satu lagi menunggu pengumuman diterima.

Menariknya, setiap musim SPMB tahun-tahun sebelumnya, selalu muncul tokoh legendaris bernama “Yang Dituankan”. Tokoh ini hampir tidak pernah absen dari tahun ke tahun. Ia bisa muncul melalui telepon, pesan singkat, pertemuan tidak sengaja di warung kopi, bahkan melalui jalur silaturahmi yang tiba-tiba menjadi sangat akrab.

“Pak, siapa tahu masih bisa dibantu…”

Kalimat itu mungkin menjadi salah satu kalimat paling populer setiap musim penerimaan murid baru.

Suasana SPMB SMK 2026 yang Ramai Pendaftar

Pada tahun 2026 ini, sistem kini sudah berubah. Penilaian semakin berbasis data, semakin transparan, dan dalam banyak jalur semakin menempatkan Tes Kompetensi Akademik (TKA) sebagai salah satu dasar seleksi. Ruang untuk menitipkan harapan semakin sempit. Yang tersisa hanyalah ruang untuk menitipkan doa.

Karena itu, mungkin memang inilah pembelajaran terbesar bagi masyarakat kita. Bahwa sekolah bukan lagi panggung bagi siapa yang paling banyak mengenal orang penting, melainkan siapa yang paling siap menunjukkan kemampuan dirinya. Relasi tetap penting, tetapi kompetensi jauh lebih menentukan. Bukankah ini pelajaran yang sesungguhnya ingin diajarkan oleh pendidikan?

Suasana SPMB SMKN 2026 yang Sepi Pendaftar

Anak-anak belajar bahwa usaha memiliki nilai. Orang tua belajar bahwa tidak semua persoalan dapat diselesaikan dengan mencari kenalan. Sekolah belajar menjaga integritas. Dan masyarakat belajar mempercayai sistem.

Kalau dipikir-pikir, PKB dan SPMB sebenarnya memiliki filosofi yang sama. Dalam PKB, setiap kelompok seni tampil sebaik-baiknya karena tahu penonton akan menilai kualitas garapannya. Sementara itu, dalam SPMB, setiap calon murid juga berusaha menunjukkan kemampuan terbaiknya karena sistem akan menilai kompetensinya. Yang membedakan hanyalah tepuk tangannya. Di PKB, tepuk tangan terdengar di akhir pertunjukan. Di SPMB, tepuk tangan baru terdengar ketika nama anak muncul pada daftar yang dinyatakan diterima.

Semoga, seiring semakin baiknya sistem pendidikan kita, musim SPMB tidak lagi identik dengan drama mencari jalan belakang. Terkhusus SPMB 2026 mesti menjadi musim lahirnya kepercayaan bahwa prestasi memang layak menjadi pintu utama.

Lalu, mengapa Pemerintah Provinsi Bali menjadikan Tes Kompetensi Akademik (TKA) sebagai salah satu basis dalam SPMB? Jawabannya tentu bukan sekadar agar murid yang pintar berkumpul di sekolah favorit. Lebih dari itu, TKA diharapkan menjadi instrumen yang lebih objektif untuk memetakan kemampuan akademik calon murid. Dengan sistem yang semakin terukur, peluang praktik “siapa kenal siapa” diharapkan semakin mengecil bahkan nihil. Yang berbicara adalah kompetensi, bukan koneksi.

Di sisi lain, kebijakan ini sesungguhnya juga mengandung pesan bahwa semua sekolah berhak memperoleh kesempatan berkembang. Sekolah swasta bukan pelengkap penderita dalam sistem pendidikan. Banyak sekolah swasta di Bali yang memiliki guru-guru berkualitas, fasilitas yang lengkap, jejaring industri yang luas, bahkan prestasi yang tidak kalah membanggakan dibandingkan sekolah negeri. Mereka juga memiliki hak untuk tumbuh dan memperoleh kepercayaan masyarakat.

Selama bertahun-tahun, isu pemerataan peserta didik memang sering menjadi bahan diskusi. Sekolah swasta kerap merasa menjadi pilihan terakhir setelah kursi sekolah negeri penuh. Perasaan seperti ini tentu dapat dipahami. Namun, apabila kita melihat lebih luas, persoalannya ternyata tidak sesederhana dikotomi negeri dan swasta.

Ironisnya, sekolah negeri pun tidak semuanya “kebanjiran” murid. Di sejumlah SMK Negeri misalnya, masih ada program keahlian yang setiap tahun harus bekerja ekstra keras mencari peserta didik. Program seperti pertanian, peternakan, perikanan, seni, bahkan beberapa bidang keahlian lainnya, masih menghadapi tantangan besar untuk menarik minat generasi muda.

Kalau begitu, salah siapa?

Mudah sekali menjawab, “branding sekolahnya kurang.” Jawaban itu memang tidak sepenuhnya keliru. Di era media sosial, citra sering kali lebih cepat menyebar daripada prestasi. Sekolah yang pandai membangun reputasi digital kadang lebih mudah menarik perhatian masyarakat. Namun, rasanya terlalu sederhana jika semua kesalahan dibebankan kepada sekolah.

Bisa jadi akar persoalannya justru berada pada cara kita memandang masa depan. Banyak calon murid memilih sekolah bukan karena memahami potensi dirinya atau prospek bidang yang akan dipelajari, melainkan karena mengikuti pilihan teman, mengejar jurusan yang sedang viral, atau sekadar takut dianggap “kurang keren”. Fenomena FOMO (fear of missing out) ternyata bukan hanya urusan media sosial, tetapi juga sudah merambah hingga pemilihan sekolah. Akibatnya, satu sekolah atau jurusan dibanjirii pendaftar, sementara sekolah atau jurusan lain yang sebenarnya sangat dibutuhkan dunia kerja justru kekurangan peminat.

Padahal, dunia kerja tidak pernah bertanya, “Dulu kamu sekolah di jurusan yang sedang tren, ya?” Dunia kerja lebih sering bertanya, “Apa yang bisa kamu kerjakan?”

Mungkin sudah saatnya kita mengubah cara memandang pendidikan. Memilih sekolah bukan sedang memilih tempat nongkrong tiga tahun ke depan, melainkan sedang memilih bekal untuk tiga puluh atau empat puluh tahun kehidupan berikutnya. Tren bisa berganti setiap musim, tetapi kompetensi akan tetap dicari sepanjang zaman.

Nah, saya akhiri dulu pergunjingan SPMB yang masih berproses ini. Mari kembali menikmati PKB. Karena setelah sekian hari berjibaku dengan angka, nilai, dan peringkat, sesekali kita memang perlu diingatkan oleh seni bahwa hidup tidak selalu soal siapa yang diterima di sekolah mana. Kadang-kadang, hidup juga tentang menikmati tabuh yang merdu, tarian yang indah, dan tertawa bersama di tengah riuhnya Bali yang selalu punya cerita.[T]

Penulis: I Wayan Yudana
Editor: Adnyana Ole

Tags: kesenian baliPendidikanPesta Kesenian BaliSPMB
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tabuh, Tari, dan Sendratari Karya Wayan Berata Bangkitkan Memori Seni Bali

Next Post

Resepsi Pernikahan Genderuwo di Bulan Suro

I Wayan Yudana

I Wayan Yudana

Kepala SMKN 1 Petang, Badung, Bali

Related Posts

Siapa yang Berhak Menentukan Kebebasan Tubuh Perempuan? —-[Menanggapi Tulisan Surfian Rahmat AP]

by Early NHS
July 20, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

SEJAK dulu, tubuh perempuan selalu menjadi objek analisis dan justifikasi orang lain. Kita sering mendengar komentar terhadap cara seorang perempuan...

Read moreDetails

Trauma KUD dan Hasrat Politik 2029 Lewat KDMP

by Chusmeru
July 20, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

POLEMIK seputar Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) hingga kini belum juga surut. Namun the show must go on. Program andalan...

Read moreDetails

Nasib Antek-Antek Ronaldo dan Real Madrid di Piala Dunia 2026

by Rusdy Ulu
July 20, 2026
0
Nasib Antek-Antek Ronaldo dan Real Madrid di Piala Dunia 2026

ISTILAH antek-antek Ronaldo bukan saya yang bikin. Saya mencurinya dari unggahan akun virdian_aurellio di media sosial. Waktu Argentina comeback melawan...

Read moreDetails

Krisis Baru Abad 21: Ketika Mesin Berpikir, Manusia Berhenti Merenung?

by Hairunnisa Br. Sagala
July 19, 2026
0
Krisis Baru Abad 21: Ketika Mesin Berpikir, Manusia Berhenti Merenung?

KONON, yang membedakan manusia dari makhluk lain bukan semata kemampuan berbicara, melainkan kemampuan merenung. Dari renungan lahir kebijaksanaan. Dari kebijaksanaan...

Read moreDetails

Langsung ke Intinya: Siapa Juara Piala Dunia?

by Nur Inayah Yushar
July 19, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

BAGI kelompok orang yang tidak mengikuti sepak bola, riuh rendah Piala Dunia sering kali terasa seperti latar belakang suara yang...

Read moreDetails

Bangkitlah Bali: Kesadaran Selalu Dimulai dari Keberanian Mengakui Kenyataan

by Agung Sudarsa
July 19, 2026
0
Bangkitlah Bali: Kesadaran Selalu Dimulai dari Keberanian Mengakui Kenyataan

"People will do anything, no matter how absurd, in order to avoid facing their own souls." Manusia rela melakukan apa...

Read moreDetails

Dari Stres Jadi Rileks: Menjadikan Musik Sebagai Pertolongan Pertama Emosi

by Muhammad Syahrul Wafda
July 19, 2026
0
Mengapa Desain ‘User Interface’ Aplikasi Meditasi Selalu Bernuansa Pastel?

MENGINGAT banyaknya pengguna media sosial saat ini, orang-orang gemar membagikan musik yang mereka dengarkan di platform seperti Instagram, WhatsApp, dan...

Read moreDetails

Kepemimpinan Transformasional sebagai Jantung Kebijakan Publik dan Komunikasi Politik Modern

by Jerry Indrawan
July 16, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

TANTANGAN birokrasi di era disrupsi global saat ini menuntut perubahan fundamental dalam paradigma pengelolaan pemerintahan dan cara pemimpin berinteraksi dengan...

Read moreDetails

Dunia adalah Cermin Kesadaran Manusia

by Agung Sudarsa
July 16, 2026
0
Dunia adalah Cermin Kesadaran Manusia

Kita Melihat Dunia Sebagaimana Diri Kita Mengamati perilaku sang istri selama belasan tahun sebagai guru TK, saya punya ungkapan: Seorang...

Read moreDetails

Satu Bahasa Dua Realitas: Mengapa Roy Suryo dan Jokowi Mustahil Saling Memahami?

by Nur Inayah Yushar
July 16, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

DALAM panggung politik kontemporer Indonesia, perseteruan antara mantan Menteri Pemuda dan Olahraga, Roy Suryo, dan mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi)...

Read moreDetails
Next Post

Resepsi Pernikahan Genderuwo di Bulan Suro

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Sastra Masuk Kurikulum: Guru Menjadi Kunci Penguatan Literasi di Sekolah
Khas

Sastra Masuk Kurikulum: Guru Menjadi Kunci Penguatan Literasi di Sekolah

PROGRAM Sastra Masuk Kurikulum menjadi salah satu isu penting yang mengemuka dalam rangkaian Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun...

by Nyoman Budarsana
July 21, 2026
“Di Bawah Pohon Sukun”, Teater Selem Putih Menghidupkan Kembali Pergulatan Lahirnya Pancasila
Panggung

“Di Bawah Pohon Sukun”, Teater Selem Putih Menghidupkan Kembali Pergulatan Lahirnya Pancasila

TEATER Selem Putih kembali menunjukkan kekuatan estetikanya dalam Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026. Melalui pementasan Di Bawah...

by Nyoman Budarsana
July 21, 2026
Ketua DPRD Kabupaten Buleleng Berikan Catatan Penting Mengenai Postur APBD serta Fenomena Pencatatan SiLPA
Pemerintahan

Ketua DPRD Kabupaten Buleleng Berikan Catatan Penting Mengenai Postur APBD serta Fenomena Pencatatan SiLPA

SINGARAJA | TATKALA.CO -- Ketua DPRD Kabupaten Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan penting mengenai postur APBD serta fenomena pencatatan...

by tatkala
July 20, 2026
Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026
Ulas Pentas

Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

PARADE Monolog dalam Festival Seni Bali Jani 2016 yang digelar pada 14 Juli  di Gedung Ksirarnawa, dibuka pukul 17.00 Wita,...

by Satria Aditya
July 20, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

Siapa yang Berhak Menentukan Kebebasan Tubuh Perempuan? —-[Menanggapi Tulisan Surfian Rahmat AP]

SEJAK dulu, tubuh perempuan selalu menjadi objek analisis dan justifikasi orang lain. Kita sering mendengar komentar terhadap cara seorang perempuan...

by Early NHS
July 20, 2026
Membangun Buleleng, Membangun Ingatan Sejarah dan Membangun Masa Depan Kota dari Kawasan Titik Nol Singaraja
Opini

Potensi Ekonomi yang Menguap di Titik 0 Singaraja

PADA awal tahun 2026, sebuah proyek bernilai fantastis menjadi bahan perbincangan hangat di kalangan masyarakat Buleleng. Nama proyek itu sebenarnya...

by I Gede Sena Putrawan
July 20, 2026
Ketika Barang Bekas Menjelma Produk Bernilai Guna di Pameran Kreativitas Ignite Fest Kesbam 2026
Khas

Ketika Barang Bekas Menjelma Produk Bernilai Guna di Pameran Kreativitas Ignite Fest Kesbam 2026

KALA itu, pada hari keempat Ignite Fest, Kamis, 16 Juli 2026, kawasan di depan aula hingga halaman SMKS Kesehatan Bali...

by Dede Putra Wiguna
July 20, 2026
Genesis: Rahim Bumi, Rahim Kehidupan —[Membaca Karya Keramik Ida Ayu Gede Artayani]
Ulas Rupa

Genesis: Rahim Bumi, Rahim Kehidupan —[Membaca Karya Keramik Ida Ayu Gede Artayani]

"Kita tidak mewarisi bumi dari leluhur. Kita meminjamnya dari anak cucu." Kalimat yang sering dikutip dalam berbagai diskusi lingkungan itu...

by Angga Wijaya
July 20, 2026
Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]
Ulas Musik

Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

DALAM musik rock, ada lagu-lagu yang tidak hanya didengar, tetapi direnungkan. Salah satunya adalah Child in Time dari band legendaris...

by Ahmad Sihabudin
July 20, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Trauma KUD dan Hasrat Politik 2029 Lewat KDMP

POLEMIK seputar Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) hingga kini belum juga surut. Namun the show must go on. Program andalan...

by Chusmeru
July 20, 2026
Nasib Antek-Antek Ronaldo dan Real Madrid di Piala Dunia 2026
Esai

Nasib Antek-Antek Ronaldo dan Real Madrid di Piala Dunia 2026

ISTILAH antek-antek Ronaldo bukan saya yang bikin. Saya mencurinya dari unggahan akun virdian_aurellio di media sosial. Waktu Argentina comeback melawan...

by Rusdy Ulu
July 20, 2026
Menelisik Napas Puisi di Bali, Ketika Kata-Kata Bertahan Melawan Zaman
Khas

Menelisik Napas Puisi di Bali, Ketika Kata-Kata Bertahan Melawan Zaman

DI Beranda Pustaka Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII tahun 2026 yang dipenuhi percakapan hangat pada Sabtu (18/7), para penyair...

by Nyoman Budarsana
July 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co