2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

PKB dan SPMB, Drama yang Selalu Penuh Penonton

I Wayan Yudana by I Wayan Yudana
July 1, 2026
in Esai
PKB dan SPMB, Drama yang Selalu Penuh Penonton

MUSIM libur kenaikan kelas dan pascakelulusan sekolah di Bali selalu menghadirkan dua tontonan besar. Yang pertama, Pesta Kesenian Bali (PKB). Yang kedua, Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB). Bedanya, yang satu dipenuhi tari, tabuh, dan tepuk tangan. Yang satunya lagi dipenuhi doa, deg-degan, dan… grup WhatsApp.

PKB menjadi panggung hiburan masyarakat Bali. Anak-anak yang baru saja menyelesaikan ujian, guru yang akhirnya bisa menarik napas lebih panjang, hingga orang tua yang selama setahun menjadi “guru tambahan” di rumah, semua seolah mendapat hadiah berupa pesta budaya. Di Taman Budaya Art Center Denpasar, ribuan orang datang setiap hari. Ada yang benar-benar menikmati seni, ada pula yang menikmati kuliner, berfoto, atau sekadar memastikan unggahan media sosialnya tidak kalah estetik dari teman-temannya.

Begitulah seni bekerja. Ia mampu membuat orang rela berjalan jauh, berdesak-desakan, bahkan mencari parkir lebih lama daripada menikmati pertunjukannya.

Suasana Pementasan Tari dalam PKB 2026

Namun di saat yang sama, panggung lain sedang dibuka secara luas. Namanya SPMB.

Kalau PKB memiliki panggung terbuka, maka SPMB memiliki panggung digital. Para pemainnya bukan penari, penabuh gamelan atau seniman lainnya, melainkan para calon murid, orang tua, operator sekolah, dan tentu saja… sinyal internet. Semua memainkan perannya masing-masing.

Kalau di PKB orang berebut kursi penonton, di SPMB orang berebut kursi sekolah. Suasananya sama-sama menegangkan. Yang satu menunggu giliran tampil. Yang satu lagi menunggu pengumuman diterima.

Menariknya, setiap musim SPMB tahun-tahun sebelumnya, selalu muncul tokoh legendaris bernama “Yang Dituankan”. Tokoh ini hampir tidak pernah absen dari tahun ke tahun. Ia bisa muncul melalui telepon, pesan singkat, pertemuan tidak sengaja di warung kopi, bahkan melalui jalur silaturahmi yang tiba-tiba menjadi sangat akrab.

“Pak, siapa tahu masih bisa dibantu…”

Kalimat itu mungkin menjadi salah satu kalimat paling populer setiap musim penerimaan murid baru.

Suasana SPMB SMK 2026 yang Ramai Pendaftar

Pada tahun 2026 ini, sistem kini sudah berubah. Penilaian semakin berbasis data, semakin transparan, dan dalam banyak jalur semakin menempatkan Tes Kompetensi Akademik (TKA) sebagai salah satu dasar seleksi. Ruang untuk menitipkan harapan semakin sempit. Yang tersisa hanyalah ruang untuk menitipkan doa.

Karena itu, mungkin memang inilah pembelajaran terbesar bagi masyarakat kita. Bahwa sekolah bukan lagi panggung bagi siapa yang paling banyak mengenal orang penting, melainkan siapa yang paling siap menunjukkan kemampuan dirinya. Relasi tetap penting, tetapi kompetensi jauh lebih menentukan. Bukankah ini pelajaran yang sesungguhnya ingin diajarkan oleh pendidikan?

Suasana SPMB SMKN 2026 yang Sepi Pendaftar

Anak-anak belajar bahwa usaha memiliki nilai. Orang tua belajar bahwa tidak semua persoalan dapat diselesaikan dengan mencari kenalan. Sekolah belajar menjaga integritas. Dan masyarakat belajar mempercayai sistem.

Kalau dipikir-pikir, PKB dan SPMB sebenarnya memiliki filosofi yang sama. Dalam PKB, setiap kelompok seni tampil sebaik-baiknya karena tahu penonton akan menilai kualitas garapannya. Sementara itu, dalam SPMB, setiap calon murid juga berusaha menunjukkan kemampuan terbaiknya karena sistem akan menilai kompetensinya. Yang membedakan hanyalah tepuk tangannya. Di PKB, tepuk tangan terdengar di akhir pertunjukan. Di SPMB, tepuk tangan baru terdengar ketika nama anak muncul pada daftar yang dinyatakan diterima.

Semoga, seiring semakin baiknya sistem pendidikan kita, musim SPMB tidak lagi identik dengan drama mencari jalan belakang. Terkhusus SPMB 2026 mesti menjadi musim lahirnya kepercayaan bahwa prestasi memang layak menjadi pintu utama.

Lalu, mengapa Pemerintah Provinsi Bali menjadikan Tes Kompetensi Akademik (TKA) sebagai salah satu basis dalam SPMB? Jawabannya tentu bukan sekadar agar murid yang pintar berkumpul di sekolah favorit. Lebih dari itu, TKA diharapkan menjadi instrumen yang lebih objektif untuk memetakan kemampuan akademik calon murid. Dengan sistem yang semakin terukur, peluang praktik “siapa kenal siapa” diharapkan semakin mengecil bahkan nihil. Yang berbicara adalah kompetensi, bukan koneksi.

Di sisi lain, kebijakan ini sesungguhnya juga mengandung pesan bahwa semua sekolah berhak memperoleh kesempatan berkembang. Sekolah swasta bukan pelengkap penderita dalam sistem pendidikan. Banyak sekolah swasta di Bali yang memiliki guru-guru berkualitas, fasilitas yang lengkap, jejaring industri yang luas, bahkan prestasi yang tidak kalah membanggakan dibandingkan sekolah negeri. Mereka juga memiliki hak untuk tumbuh dan memperoleh kepercayaan masyarakat.

Selama bertahun-tahun, isu pemerataan peserta didik memang sering menjadi bahan diskusi. Sekolah swasta kerap merasa menjadi pilihan terakhir setelah kursi sekolah negeri penuh. Perasaan seperti ini tentu dapat dipahami. Namun, apabila kita melihat lebih luas, persoalannya ternyata tidak sesederhana dikotomi negeri dan swasta.

Ironisnya, sekolah negeri pun tidak semuanya “kebanjiran” murid. Di sejumlah SMK Negeri misalnya, masih ada program keahlian yang setiap tahun harus bekerja ekstra keras mencari peserta didik. Program seperti pertanian, peternakan, perikanan, seni, bahkan beberapa bidang keahlian lainnya, masih menghadapi tantangan besar untuk menarik minat generasi muda.

Kalau begitu, salah siapa?

Mudah sekali menjawab, “branding sekolahnya kurang.” Jawaban itu memang tidak sepenuhnya keliru. Di era media sosial, citra sering kali lebih cepat menyebar daripada prestasi. Sekolah yang pandai membangun reputasi digital kadang lebih mudah menarik perhatian masyarakat. Namun, rasanya terlalu sederhana jika semua kesalahan dibebankan kepada sekolah.

Bisa jadi akar persoalannya justru berada pada cara kita memandang masa depan. Banyak calon murid memilih sekolah bukan karena memahami potensi dirinya atau prospek bidang yang akan dipelajari, melainkan karena mengikuti pilihan teman, mengejar jurusan yang sedang viral, atau sekadar takut dianggap “kurang keren”. Fenomena FOMO (fear of missing out) ternyata bukan hanya urusan media sosial, tetapi juga sudah merambah hingga pemilihan sekolah. Akibatnya, satu sekolah atau jurusan dibanjirii pendaftar, sementara sekolah atau jurusan lain yang sebenarnya sangat dibutuhkan dunia kerja justru kekurangan peminat.

Padahal, dunia kerja tidak pernah bertanya, “Dulu kamu sekolah di jurusan yang sedang tren, ya?” Dunia kerja lebih sering bertanya, “Apa yang bisa kamu kerjakan?”

Mungkin sudah saatnya kita mengubah cara memandang pendidikan. Memilih sekolah bukan sedang memilih tempat nongkrong tiga tahun ke depan, melainkan sedang memilih bekal untuk tiga puluh atau empat puluh tahun kehidupan berikutnya. Tren bisa berganti setiap musim, tetapi kompetensi akan tetap dicari sepanjang zaman.

Nah, saya akhiri dulu pergunjingan SPMB yang masih berproses ini. Mari kembali menikmati PKB. Karena setelah sekian hari berjibaku dengan angka, nilai, dan peringkat, sesekali kita memang perlu diingatkan oleh seni bahwa hidup tidak selalu soal siapa yang diterima di sekolah mana. Kadang-kadang, hidup juga tentang menikmati tabuh yang merdu, tarian yang indah, dan tertawa bersama di tengah riuhnya Bali yang selalu punya cerita.[T]

Penulis: I Wayan Yudana
Editor: Adnyana Ole

Tags: kesenian baliPendidikanPesta Kesenian BaliSPMB
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tabuh, Tari, dan Sendratari Karya Wayan Berata Bangkitkan Memori Seni Bali

Next Post

Resepsi Pernikahan Genderuwo di Bulan Suro

I Wayan Yudana

I Wayan Yudana

Kepala SMKN 1 Petang, Badung, Bali

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post

Resepsi Pernikahan Genderuwo di Bulan Suro

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co