9 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

Khairul A. El Maliky by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
in Cerpen
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

Ilustrasi tatkala.co | Canva

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai marmer rumah mewah di kawasan elit. Suara tembakan masih berdenging di telinga Ipda Dimas, memekakkan, menggetarkan setiap urat saraf. Ia masih bisa merasakan dorongan kuat yang menerpanya tubuhnya detik itu juga. Sebuah desakan yang menyelamatkan nyawanya, namun merenggut nyawa orang yang paling ia hormati.

Kompol Baharudin.

Sang komandan jatuh tepat di hadapannya, tubuh kokoh itu menjadi tameng hidup bagi Dimas saat peluru tajam meluncur dari arah yang tak terduga. Operasi penggerebekan sarang narkoba yang seharusnya menjadi kemenangan gemilang berubah menjadi neraka yang mencekam. Dimas memeluk tubuh atasan yang mulai dingin, sementara sirene meraung-raung memecah kesunyian malam. Di matanya, bukan hanya seorang pemimpin yang gugur, melainkan seorang ayah, seorang panutan, yang rela mati demi anak buahnya.

Sejak hari itu, hidup Dimas berubah menjadi beban yang berat. Trauma tidak hanya datang dalam bentuk mimpi buruk, tetapi juga dalam bentuk tanggung jawab yang tak tertulis. Ia merasa berhutang nyawa. Maka, setiap kali waktu luang tiba, Dimas akan menyempatkan diri datang ke rumah duka, membawa sembako, atau sekadar menemani istri dan anak-anak almarhum. Bagi Dimas, menjaga mereka adalah satu-satunya cara untuk menenangkan hati yang gelisah. Namun, rasa bersalah itu tetap saja seperti duri yang tak bisa dicabut.

“Kau tidak perlu merasa bersalah, Dimas. Pak Baharudin melakukan itu karena keinginannya sendiri,” kata rekan sesama tim, namun kata-kata itu tak mampu mengobati luka di dada.

Penyelidikan kasus ini seharusnya berhenti saat tersangka utama tewas dalam baku tembak. Namun, ada sesuatu yang mengganjal. Data yang ditemukan tidak sinkron, aliran dana yang terputus secara misterius, dan kesan bahwa operasi malam itu bocor sebelum dimulai. Atasan memutuskan untuk membentuk tim investigasi khusus, dan Dimas dimasukkan ke dalamnya.

***

Di hari pertama rapat, Dimas bertemu dengannya.

Ipda Vani Angelin.

Polwan dengan tatapan tajam, postur tegap, dan senyum tipis yang tak pernah sampai ke mata. Vani dikenal sebagai penyelidik handal, cerdas, dan sangat dingin. Berbeda dengan Dimas yang bertindak mengikuti naluri dan emosi, Vani bergerak berdasarkan data, logika, dan perhitungan matang.

“Menurutmu operasi ini murni kegagalan taktis, atau ada unsur lain, Ipda Dimas?” tanya Vani di tengah rapat, suaranya tenang namun menohok.

Dimas mendongak, menatap wanita itu dengan tatapan menantang. “Yang jelas, Pak Baharudin gugur karena melindungi kami. Bagi saya, itu sudah cukup bukti bahwa situasi di luar kendali.”

“Dan bagi saya,” potong Vani santai sambil membalikkan berkas, “Situasi di luar kendali karena ada yang memanipulasi kendali itu sendiri.”

Awalnya, hubungan mereka layak api dan es. Dimas merasa Vani terlalu kaku dan kurang menghormati perasaan rekan seprofesi yang baru saja kehilangan sosok penting. Sebaliknya, Vani menganggap Dimas terlalu emosional dan subjektif, sehingga sulit melihat fakta yang tersembunyi. Namun, saat mereka mulai bekerja di lapangan, perlahan tembok kebekuan itu mulai mencair.

Mereka menyusuri kembali lokasi kejadian. Rumah mewah itu kini kosong, sunyi, dan menyeramkan. Debu beterbangan di antara sinar matahari yang menembus jendela pecah.

“Coba lihat ini,” Vani menunjuk sebuah peta tata letak bangunan yang mereka sita. “Menurut denah, jumlah kamar seharusnya dua puluh tujuh. Tapi saat kami hitung fisiknya, ada dua puluh delapan pintu.”

Dimas mengerutkan kening. “Maksudmu?”

“Ada satu kamar yang tidak tercatat secara administrasi. Kamar di ujung lorong paling dalam. Nomor 28.”

Jantung Dimas berdegup kencang. Ia ingat betul malam kejadian itu, ia tidak pernah melewati atau melihat pintu bernomor itu. Seolah-olah kamar itu memang sengaja disembunyikan dari pandangan, atau hanya muncul saat kondisi tertentu.

***

Mereka berdua berjalan menyusuri lorong panjang yang gelap. Udara di sana terasa dingin dan pengap, berbau obat nyamuk dan sesuatu yang logam, mungkin darah kering. Di ujung sana, benar adanya, sebuah pintu kayu jati berukir sederhana dengan plat nomor kuning bertuliskan angka 28.

Pintu itu terkunci rapat. Namun bukan Vani namanya jika sekadar berdiri diam. Dengan keahliannya, atau mungkin dengan bantuan alat yang ia bawa, bunyi klik terdengar jelas. Pintu terbuka pelan, berdecit memekakkan telinga.

Apa yang mereka lihat di dalamnya bukanlah gudang atau ruang simpan barang biasa. Ruangan itu luas, dilengkapi dengan peralatan pemantauan canggih, layar monitor yang masih menyimpan rekaman, dan tumpukan dokumen rahasia. Di dinding, tergambar skema jaringan yang sangat rapi, menghubungkan nama-nama bandar dengan logo-logo perusahaan ternama, dan yang paling mengejutkan, terdapat simbol-simbol yang mengarah ke oknum berpakaian seragam.

“Jadi dugaanmu benar,” bisik Dimas, matanya menelusuri setiap detail. “Ada ‘kutu’ di dalam tubuh kita sendiri. Mereka yang menjual informasi, mereka yang merancang jebakan.”

Vani mendekati sebuah meja, mengambil sebuah map tebal. “Operasi malam itu bukan gagal, Dimas. Itu memang dirancang untuk gagal. Pak Baharudin tahu terlalu banyak, dan dia menjadi ancaman bagi mereka.”

Darah Dimas mendidih. Marah, kecewa, dan rasa sakit bercampur menjadi satu. Jadi kematian sang komandan bukan sekadar nasib buruk dalam tugas, melainkan pembunuhan terencana!

Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar dari luar. Bukan satu atau dua orang, melainkan rombongan.

“Kita kedatangan tamu,” kata Vani cepat, ia langsung menarik pistol dari sarungnya. Dimas melakukan hal yang sama.

Pintu kamar 28 ditendang terbuka lebar. Beberapa pria bersenjata lengkap menerobos masuk, namun bukan seragam polisi, melainkan preman bayaran yang bekerja untuk jaringan itu.

“Habisi mereka!” teriak salah satu pria itu.

DAR! DAR! DAR!

Suara tembakan kembali berkumandang, kali ini di dalam ruangan sempit itu. Dimas dan Vani bertarung bahu-membahu. Dimas dengan gaya bertarungnya yang agresif dan penuh tenaga, sementara Vani bergerak lincah, presisi, dan dingin. Mereka saling melindungi punggung satu sama lain. Di tengah hujan peluru, di antara asap mesiu dan debu yang beterbangan, terjalin sebuah kepercayaan yang kokoh.

“Ambil datanya, Van! Aku tutupin!” teriak Dimas sambil melepaskan tembakan perlindungan.

“Gak ada gunanya kalau lo mati, Dim!” balas Vani, ia melempar granat kejut yang membuat musuh-musuh mereka tersentak.

Mereka berhasil mundur perlahan, membawa bukti-bukti krusial itu. Aksi tembak-menembak itu sengit, nyaris merenggut nyawa mereka, namun entah bagaimana, keberuntungan ada di pihak mereka. Mereka berhasil lolos dari sarang iblis itu, membawa rahasia besar yang selama ini terkunci mati di Balik Kamar 28.

***

Malam harinya, di atap kantor polisi, angin malam berhembus kencang. Dimas dan Vani duduk bersisian, memandang lampu-lampu kota Surabaya yang gemerlap. Luka memar di wajah mereka belum sembuh, napas mereka masih terdengar berat, namun hati mereka terasa lebih lega.

“Terima kasih,” kata Dimas pelan. “Kalau tidak ada lo, mungkin gue sudah hancur karena emosi sendiri.”

Vani menoleh, tersenyum. Kali ini senyumnya tulus, hangat, melelehkan es di hatinya. “Gue juga harus terima kasih. Lo mengajarkan gue kalau di balik tugas dan aturan, ada kemanusiaan yang harus diperjuangkan. Lo setia kawan, Dim. Itu langka.”

Dimas menatap wajah wanita itu di bawah cahaya rembulan. Rasa hormat yang tadinya ada, kini bercampur dengan sesuatu yang lain. Sesuatu yang hangat, sesuatu yang disebut cinta. Tidak terucap, tidak perlu terburu-buru. Mereka tahu, perjalanan masih panjang. Musuh mereka bukan orang sembarangan, mereka adalah hantu-hantu yang bersembunyi di balik jubah kebenaran.

“Tugas kita belum selesai, Van,” ujar Dimas.

“Belum,” jawab Vani mantap. “Tapi kita akan selesaikan. Bersama-sama.”

Mereka telah membuka pintu kamar 28, menguak tabir gelap pengkhianatan, dan kini mereka siap untuk menuntaskan balas dendam demi kehormatan Kompol Baharudin. Dan di tengah dunia yang penuh kejahatan dan kebohongan itu, mereka menemukan satu hal yang nyata: kebersamaan. [T]

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

Next Post

KEHANCURAN HINDU NUSANTARA & DUNNING-KRUGER EFFECT

Khairul A. El Maliky

Khairul A. El Maliky

Pengarang novel yang lahir di Kota Probolinggo. Buku terbarunya yang sudah terbit antara lain, Akad, Pintu Tauhid, Kalam, Kalam Cinta (Penerbit MNC, 2024) dan Pernikahan & Prasangka Cinta (Segera). Di sela-sela mengajar Sastra Indonesia, pengarang juga menulis dan mengirimkan cerpennya ke berbagai media massa.

Related Posts

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails
Next Post
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

KEHANCURAN HINDU NUSANTARA & DUNNING-KRUGER EFFECT

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

“In Money We Trust”, Kembalikan Baliku Padaku

SIDANG pembaca yang budiman, akhir-akhir ini ramai dibicarakan orang, menyoal lontaran Arya Wedakarna (AWK). Di tengah polemik tentang pengalaman sejumlah...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 9, 2026
Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik
Buku Tatkala

Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik

Judul: Sandyakalaning Demokrasi - Sekumpulan Esai Sosial dan Politik Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Teddy Chrisprimanata Putra ISBN: Masih...

by Buku Tatkala
October 9, 2026
 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki
Ulas Film

 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki

SUDAH bertahun-tahun semenjak film ini lahir, saya tak pernah sekalipun menonton film-film Ghibli. Karena terhalang kendala biaya, juga karena saya...

by Wisnu Oktaditya
October 9, 2026
Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University
Persona

Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

APA yang terjadi ketika tradisi dipakai sebagai ruang dialog dan ruang untuk bertanya secara kritis? Pertanyaan semacam itu terasa penting...

by Wayan Jengki Sunarta
October 9, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya
Panggung

“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

MEMAHAMI orang lain tidak selalu mudah. Apalagi ketika perbedaan pandangan semakin sering memisahkan, percakapan berubah menjadi perdebatan, dan orang lebih...

by Dede Putra Wiguna
October 8, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Kita Semua Sehat, Sampai Tubuh Menuntut Tagihannya

KAPAN terakhir kali kita bertanya, "Gimana kabar mental gue hari ini?" Kita hafal jadwal servis motor. Kita ingat tanggal bayar...

by Tri Nugroho Adi
October 8, 2026
Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca
Esai

Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

MEMBACA selama ini kerap diposisikan sebagai keterampilan reseptif dalam pembelajaran bahasa. Bersama menyimak, membaca dipahami sebagai keterampilan untuk menerima bahasa,...

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 8, 2026
Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti
Ulas Buku

Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti

KITA sering berangkat dengan tujuan yang telah ditentukan, seolah jalan hanya perlu mengantar tubuh sampai ke sebuah tempat. Padahal, perjalanan...

by Emi Suy
October 8, 2026
Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal
Esai

Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal

LOMBA ceng-ceng kreasi diselenggarakan oleh Kelurahan Kapal sebagai bagian dari rangkaian Porseni dan Jong Fest 2026. Sebagai salah satu tangkai...

by Wayan Diana Putra
October 8, 2026
Pameran “EVOLUSI” Kawan Nusantara 2026: Warisan Nusantara yang Menemukan Bentuk Baru
Pameran

Pameran “EVOLUSI” Kawan Nusantara 2026: Warisan Nusantara yang Menemukan Bentuk Baru

KETIKA mengunjungi pameran ini, jangan kaget jika menemukan warisan budaya seperti tenun, batik, dan berbagai perhiasan yang beradaptasi dengan zaman,...

by Nyoman Budarsana
October 8, 2026
Belajar Mengenal Prancis dari Meja Makan
Kuliner

Belajar Mengenal Prancis dari Meja Makan

BAGI orang Indonesia, keju bukan makanan yang hadir setiap hari di meja makan. Karena itu, ketika dua belas peserta berkumpul...

by Rusdy Ulu
October 8, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co