6 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
in Cerpen
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia membawa rasa kehilangan yang mengambang. Galih melangkah perlahan, mengusap wajahnya yang basah oleh embun, tetapi yang basah sesungguhnya adalah dadanya, dadanya yang terasa lebih berat dari biasanya.

Di kampungnya, orang tua sering berkata: “Aya anu manggil lamun haté teu anteng.” (Ada yang memanggil ketika hati tak tenang). Galih tahu siapa yang memanggilnya. Ia hanya belum sanggup mengakui betapa besar panggilan itu menjerat hidupnya.

Ketika Galih memasuki hutan bambu, angin berhenti bergerak. Seolah alam menahan napas. Suara-suara kecil, serangga, daun, bahkan aliran sungai jauh, semua hilang. Yang tersisa hanya satu: bisikan halus, serupa suara perempuan yang menyebut namanya dengan lembut:

“Galih…”

Suara itu bukan dari luar. Suara itu muncul dari jauh di dalam dirinya. Dan dari balik kabut, perempuan itu muncul. Perempuan yang wajahnya sudah mengisi mimpi-mimpinya setiap malam, mengusir tidur nyenyaknya, menanam rindu yang tumbuh liar tanpa izin.

Ia mengenakan selendang putih yang berpendar seperti cahaya bulan. Wajahnya cantik dengan cara yang ganjil: cantik yang tidak tunduk pada waktu. Rambutnya panjang, berkilau basah, seolah ia baru keluar dari kolam rahasia di tengah hutan. Dia tersenyum. Dan dalam senyum itu, Galih merasakan dunia runtuh.

“Anjeun sumping,”(Kau datang) katanya.

Galih ingin menjawab, tetapi suaranya tak keluar. Ia hanya bisa menatap perempuan itu dengan dada yang terus mengencang, menahan rindu yang tidak ia pahami asalnya. Perempuan itu melangkah maju. Setiap langkahnya membuat tanah bergetar halus, seperti jantung bumi ikut berdebar.

“Kuring nyangka…” Galih akhirnya bisa berbicara. Suaranya patah. “Aku hanya bermimpi tentangmu.”

Perempuan itu tersenyum tipis, penuh rasa yang tak terucap. “Kadang mimpi adalah tempat yang lebih jujur dibandingkan hidup,” katanya. “Dan rindu selalu lebih dulu tiba daripada pertemuan.”

Kata-katanya menampar lembut dada Galih. Ia merasa seperti telah mencintai perempuan itu sejak sebelum lahir.

Perempuan itu mengangkat tangan. Jemarinya halus, pucat, dingin seperti purnama. Ia menyentuh pipi Galih. Sentuhan itu, pelan, ringan, namun membuat kaki Galih seperti kehilangan kekuatan. Napasnya tercekat. Dadanya terasa seperti retak oleh sesuatu yang ia tahan terlalu lama.

“Galih…” bisik perempuan itu, “Aku telah menunggumu.”

“Menungguku?” Galih menelan ludah.

“Sejak kapan?” Perempuan itu mendekat, begitu dekat hingga helai rambutnya menyentuh dagu Galih. Aromanya seperti tanah basah setelah hujan, bercampur harum bunga hutan yang hanya mekar sebelum subuh.

“Sejak kau belum menjadi kau.”
“Sejak dunia belum menjadi dunia.”
“Sejak aku kehilangan diriku.”

Ia meletakkan telapak tangannya di dada Galih. Tepat di tempat jantungnya berdetak. Dan jantung Galih…berhenti sesaat. Tidak mati. Hanya… berhenti, seperti berusaha mendengar sesuatu dari telapak tangan perempuan itu.

“Hatimu mengingatku,” ucap perempuan itu dengan suara lembut namun pasti. “Meski pikiranmu tidak.”

Kalimat itu menghancurkan Galih. Ia merasakan sesuatu mengalir di dadanya: hangat, getir, sangat tua, sangat dalam, seperti cinta yang sudah hidup ribuan tahun tetapi dipaksa tidur. Ia menutup mata. Lalu meletakkan tangannya di atas tangan perempuan itu, menekan lembut, agar perempuan itu tahu ia merasakannya.

“Jika aku benar-benar mengenalmu…” suara Galih bergetar, “…mengapa aku lupa?”

Perempuan itu tersenyum pahit. Senyum yang indah, namun membuat hati seperti diremas. “Karena aku mati sebelum sempat memelukmu,” bisiknya. “Dan lupa adalah cara dunia melindungimu dari patah.”

Galih membuka mata. Luruh. Rusak oleh rindu yang datang begitu cepat, begitu kuat.

“Kalau begitu…” Ia memegang wajah perempuan itu dengan kedua tangannya, gemetar. “…biarkan aku mengingatmu sekarang.”

Perempuan itu memejamkan mata, seolah menerima. “Coba,” katanya lirih. “Tapi hati-hati. Cinta kadang lebih tajam dari takdir.”

Dan saat itulah dunia berhenti bergerak. Galih memeluknya. Erat. Penuh. Seolah seluruh hidupnya selama ini hanya menunggu pelukan itu. Perempuan itu merespons, pelan, tenang, tapi dalam, seperti seseorang yang akhirnya pulang setelah ribuan musim hilang. Pelukan mereka bukan sekadar tubuh.

Itu pelukan dua jiwa yang pernah dirobek waktu, kini dipaksa bersatu kembali oleh rindu yang tidak mau dikalahkan. Dalam pelukan itu, dunia menjadi kecil.

Hanya ada dua manusia saling melepas dahaga dalam kehangatan yang hampir sakral.

***

Mereka duduk di bawah pohon hanjuang. Perempuan itu menyandarkan kepalanya di bahu Galih.

“Boleh aku tahu namamu?” tanya Galih pelan.

Perempuan itu mengangguk kecil. “Namaku dulu… Nyi Laraswangi.”

Nama itu jatuh ke telinga Galih seperti mantra. “Mengapa kau kembali?”

Nyi Laraswangi mengangkat wajahnya, menatap Galih dengan mata yang seperti danau tenang yang menyimpan badai. “Karena hatimu memanggilku,” jawabnya. “Karena kau adalah jaga baru. Dan jaga baru… harus memilih cinta atau kewajiban.”

Ia menyentuh ujung dagu Galih, mengangkat sedikit, agar Galih melihat matanya langsung. “Dan biasanya… yang memilih cinta akan hancur.”

Galih tersenyum kecil. “Aku tidak peduli.”

Perempuan itu menggeleng. “Tapi aku peduli.”

Ia menyentuh dada Galih lagi, sentuhan yang membuat jantungnya kembali melompat. “Jika aku memilihmu,” katanya lirih, “kau akan kehilangan dunia.”

Galih diam.

“Jika aku melepaskanmu, aku akan kehilangan diriku.” Ia memejam, menggigit bibirnya dengan getir. ”Aku,” katanya, “cinta yang tidak boleh dimiliki.”

Galih memegang kedua pipinya, membingkai wajah yang terlalu halus itu. “Cinta tidak perlu dimiliki,” bisiknya. “Cukup dirasakan.”

Perempuan itu menatapnya lama. Sangat lama. Dan air mata menetes di wajahnya, air mata bening yang memantulkan cahaya obor yang masih jauh di tengah lapang.

Mereka tiba di lapang tengah hutan. Obor itu menyala tanpa kayu. Angin bergerak seperti tarikan napas makhluk raksasa. Para penjaga lama sudah menunggu. Dan satu per satu, mereka hancur.

Nyi Laraswangi menggenggam tangan Galih. Genggamannya kuat, terlalu kuat untuk seorang perempuan. Seolah ia berusaha menahan waktu agar tidak bergerak. “Galih,” katanya, suaranya retak. “Aku tidak mau kehilanganmu lagi.”

Galih memegang pipinya. “Kau tidak akan kehilangan apa pun.”

Perempuan itu menggeleng keras. “Obor itu akan masuk ke tubuhmu.” “Dan setelah itu, kau… bukan kau lagi.”

Ia merapatkan tubuhnya ke Galih, memeluk dengan seluruh ketakutan dan cinta yang selama ini ia simpan. Dalam pelukan itu, Nyi Laraswangi berkata dengan suara paling jujur dalam hidupnya: “Biarkan aku mencintaimu… untuk terakhir kali, sebelum dunia mengambilmu.”

Dan mereka berpelukan, bukan pelukan rindu biasa, bukan pelukan dua manusia, tetapi pelukan dua arwah yang menolak dipisah.

***

Obor terbang mendekat. Cahaya itu menyentuh dada Galih. Nyi Laraswangi menangis, untuk pertama kalinya sejak ia menjadi sosok dari alam lain. Ia memeluk Galih erat-erat agar waktu tidak bisa merampasnya. Galih memegang kepala perempuan itu, menempelkan bibirnya di rambut dinginnya, merasakan aroma tanah dan hujan terakhir kali.

“Laras…” suara Galih pecah. “Aku mencintaimu.”

Perempuan itu menggigil, lalu menatapnya dengan tubuh yang hampir transparan karena cahaya obor. “Aku juga mencintaimu… jauh sebelum kau mengenal kata cinta.”

Obor masuk ke tubuh Galih. Cahaya pecah seperti matahari lahir dari dada manusia. Dan Nyi Laraswangi, dengan tubuh yang setengah kabut, mencium kening Galih. Pelan. Menyerah.
Mengirim seluruh cintanya ke dalam tubuh yang sebentar lagi berubah. Saat bibirnya menyentuh kulit Galih, ia berbisik:

“Lamun aya kahayang nu teu padam… éta nya éta cinta.” (Andai ada keinginan yang tak padam… itulah cinta.)

Dan tepat setelah itu. Tubuh perempuan itu menjadi kabut. Hilang.

Galih terbangun di depan gerbang. Sendiri. Namun ada sesuatu di dadanya: Hangat. Berdenyut. Seperti sisa pelukan. Seperti sisa ciuman. Seperti cinta yang menolak mati meski yang dicintai telah hilang. Ia menengadah ke langit. Kabut mulai naik. Ia tahu: Nyi Laraswangi tidak akan kembali dalam wujudnya.

Namun sesuatu dari perempuan itu, cinta itu, rindu itu, sentuhan itu, tinggal di dalam dirinya.

Dan Galih berbisik pada angin: “Lamun kuring jaga anyar…maka rasa ieu… bakal jadi cahaya nu ngajaga.” (Jika aku penjaga baru… maka cinta ini akan jadi cahaya penjaga)

Cinta yang tidak berakhir. Cinta yang tidak dimiliki. Cinta yang menyelamatkan dunia kecil yang mereka miliki hanya sebentar. Cinta yang tetap hidup dalam cahaya. [T]

Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-Puisi Angga Wijaya | Doa untuk Tetangga

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails

Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

by Hidayatul Ulum
May 30, 2026
0
Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

PRIA-PRIA yang kau semayamkan di awan kita, tak satu pun Mas kenal—awalnya. Setelah Mas membaca jejak hatimu yang kau tinggalkan...

Read moreDetails

Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
May 29, 2026
0
Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

JAM menunjukkan pukul 05.15 pagi ketika kaki renta Pak Syukur mulai menyusuri gang sempit menuju pinggir jalan raya. Embun belum...

Read moreDetails

Mengikat Tali Sepatu | Cerpen Pitrus Puspito

by Pitrus Puspito
May 24, 2026
0
Mengikat Tali Sepatu | Cerpen Pitrus Puspito

Alfie percaya bahwa dunia dapat diringkas menjadi kolom-kolom rapi: pemasukan, pengeluaran, untung, rugi. Di layar ponselnya, angka-angka berpendar seperti doa...

Read moreDetails

Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

by Luh Aninditha Wiralaba
May 23, 2026
0
Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

PAGI di desa Bugbeg selalu dimulai dengan cara yang sama. Bau dupa yang menyeruak, ayam-ayam berkokok ria, dan dentingan gamelan...

Read moreDetails

Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto

by Dody Widianto
May 22, 2026
0
Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto

RASA-RASANYA kau tak akan kuat memendam sendiri masalahmu ini. Kau yang semata wayang, kau yang ditinggal ayahmu saat umurmu angka...

Read moreDetails

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

Read moreDetails

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
May 10, 2026
0
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

PAGI di Desa Batu Pangeran selalu datang dengan langkah pelan, seolah ia tahu bahwa tempat itu tidak suka tergesa-gesa. Langit...

Read moreDetails

Puting Beliung | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
May 9, 2026
0
Puting Beliung | Cerpen Supartika

Sial! Neraka dilanda puting beliung. Porak-poranda. Api neraka yang berkobar-kobar ikut tersapu puting beliung yang hebat itu. Angin membuat api...

Read moreDetails
Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
Puisi-Puisi Angga Wijaya | Doa untuk Tetangga
Puisi

Puisi-Puisi Angga Wijaya | Doa untuk Tetangga

DOA UNTUK TETANGGA Di beranda kos, aku kerap duduk sendiri. Dalam hatimengucap doa. Aku berdoa, semoga semua tetanggadiberi rezeki yang...

by Angga Wijaya
June 6, 2026
Belajar Tentang Laut Bersama Para Ahli di Peninsula Island, Bali
Lingkungan

Belajar Tentang Laut Bersama Para Ahli di Peninsula Island, Bali

KEMENTERIAN Kelautan dan Perikanan bersama WWF-Indonesia, Konservasi Indonesia, GIZ Indonesia, CTI-CFF, Coral Triangle Center, Yayasan Pesisir Lestari, dan Coca-Cola Europacific...

by Nyoman Budarsana
June 6, 2026
Arsitektur Bali Bukan Sekadar Pilihan Desain —Mengapa Begitu?
Esai

Arsitektur Bali Bukan Sekadar Pilihan Desain —Mengapa Begitu?

JIKA seseorang ditanya mengapa datang ke Bali, jarang sekali jawabannya karena ingin melihat gedung tinggi, kawasan bisnis modern, atau deretan...

by I Gede Janitra Rad Winatha
June 6, 2026
Tabanan Menuju Era Baru: Revitalisasi Infrastruktur, Semangat GADARATA, dan Energi Baru AGATA
Khas

Tabanan Menuju Era Baru: Revitalisasi Infrastruktur, Semangat GADARATA, dan Energi Baru AGATA

KABUPATEN Tabanan saat ini tengah memasuki fase penting dalam pembangunan daerah. Di bawah kepemimpinan Bupati Dr. I Komang Gede Sanjaya,...

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
June 6, 2026
Pameran Tabula Rasa Vol 3, Ruang Tumbuh yang Menjaga Nyala Kreativitas Mahasiswa Pendidikan Seni Rupa UPMI Bali
Pameran

Pameran Tabula Rasa Vol 3, Ruang Tumbuh yang Menjaga Nyala Kreativitas Mahasiswa Pendidikan Seni Rupa UPMI Bali

DI salah satu sudut ruang pamer lantai dasar gedung Fakultas Bahasa dan Seni UPMI Bali, sebuah lukisan terpajang dalam bingkai...

by Dede Putra Wiguna
June 6, 2026
Talkshow Virtual YLAI dan Penerbit Pelangi: Literasi Lingkungan Anak, Peduli Bumi Sejak Dini
Pendidikan

Talkshow Virtual YLAI dan Penerbit Pelangi: Literasi Lingkungan Anak, Peduli Bumi Sejak Dini

PERINGATAN Hari Lingkungan Hidup Sedunia tahun ini menjadi momentum penting bagi dunia pendidikan anak di Indonesia. Melalui kolaborasi antara Yayasan...

by tatkala
June 6, 2026
Chairil Anwar Menjaga Bung Karno 
Esai

Chairil Anwar Menjaga Bung Karno 

ANTARA Bung Karnodan Chairil Anwar adalah Bung Sjahrir. Chairil Anwar sebagai pengarang berhasil mengintip dan menguntit Bung Sjahrir untuk mengorek...

by I Nyoman Tingkat
June 6, 2026
‘Temurun Warsa’, Tradisi Mendak Hujan di Desa Adat Pecatu yang Menjelma dalam Tabuh Kreasi Baleganjur
Panggung

‘Temurun Warsa’, Tradisi Mendak Hujan di Desa Adat Pecatu yang Menjelma dalam Tabuh Kreasi Baleganjur

DI Desa Adat Pecatu, hujan tidak hanya dimaknai sebagai peristiwa alam. Ia adalah harapan, doa, sekaligus sumber kehidupan yang dinantikan...

by Dede Putra Wiguna
June 6, 2026
Cerita Rakyat Sebagai Identitas
Khas

Cerita Rakyat Sebagai Identitas

Setelah direvitalisasi, kini sejumlah cerita rakyat Bali aga Desa Pedawa hidup kembali. I Jaum misalnya telah dijadikan cerita pertunjukan. Kini...

by I Wayan Artika
June 6, 2026
Niels Bohr, Spiritualitas, dan Pancakosha: Ketika Fisika Kuantum Bertemu Kebijaksanaan Timur
Esai

Niels Bohr, Spiritualitas, dan Pancakosha: Ketika Fisika Kuantum Bertemu Kebijaksanaan Timur

Niels Bohr dan Kerendahan Hati di Hadapan Misteri DALAM sejarah sains modern, nama Niels Bohr sering dikaitkan dengan lahirnya mekanika...

by Agung Sudarsa
June 6, 2026
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane
Cerpen

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co