22 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

Asmaran Dani by Asmaran Dani
June 21, 2026
in Cerpen
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

Ilustrasi tatkala.co

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada.

Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol, lubang di setiap pengunci pintu, dan lubang lainnya. Semua lubang itu membuat tubuhku terbakar.

Bahkan seringkali, aku tidak membersihkan kotoran setelah buang air besar. Jika terpaksa dibersihkan, aku harus berjuang memadamkan api di area sekitar lubang pantat.

Sejak bangku Sekolah Dasar sampai Sekolah Menengah Pertama, aku habiskan waktu untuk menghitung jumlah lubang. Dengan menghitungnya, aku menjadi waspada karena semua lubang itu bisa membakar tubuhku.

Guru di sekolah sering mengacau fokus pikiranku.

“Rinto! Kamu dengar tidak penjelasan saya? Coba jelaskan maksud dari hukum Newton.”

“Setan memang, dia mengganggu ketika aku sedang berusaha keras menghitung jumlah lubang di angkot tadi.” Isi kepala menggerutu.

“Sekarang juga, pergi ke ruang Bimbingan Konseling!” tegas Pak Irfan, guru fisika, salah satu dari sekian guru yang sering mengusirku di saat jam belajar.

Aku bersiap menceritakan kepada Bu Sandra tentang jumlah lubang di angkot tadi.

“Kamu kenapa? Hampir semua guru mengusir kamu di kelas, Nak. Coba ceritakan penyebab kamu tidak fokus belajar di kelas.” Bu Sandra bertanya pelan. Ia adalah guru BK yang cukup memahami ketakutanku.

“Bu, pada dasarnya setiap manusia memiliki 9 lubang: 2 lubang mata, 2 lubang hidung, 1 lubang mulut, 2 lubang telinga, 1 lubang pantat, dan 1 lubang penis atau vagina. Seperti yang diajarkan di pelajaran biologi.”

“Ya, coba ungkapkan semua yang ada di pikiran kamu.” Sorot mata Bu Sandra seperti menonton cerita misteri.

“Jumlah lubang di angkot tadi ada 75. Hasil dari 8 orang yang bersamaku di angkot, ditambah 2 lubang pipet dari 2 orang yang sedang minum, dan 1 lubang kunci kontak angkot. Jadi 9 lubang X 8 orang + 2 lubang pipet + 1 lubang kunci kontak angkot =  75 lubang.” Telapak Tanganku basah, aku merasa sudah cukup menjelaskan.

“Nak, sepulang sekolah ibu ke rumah kamu, ya. Kita pulang bareng.” Kabar itu menenangkan. Aku semangat pulang. Namun, setiba di rumah. Ibuku dan Bu Sandra saling menatap seperti ada sesuatu di antara mereka. Ibu mengusir Bu Sandra, menitipkan salam untuk kepala sekolah.

Peristiwa itu membuatku berhenti sekolah tepat di usia 12 tahun, saat masih kelas 1 semester 2 di Sekolah Menengah Pertama.

**

Aku lahir di belakang mal tempat orang kaya menghamburkan uang. Tangis bayi, bau comberan bercampur aroma gorengan. Udara pengap melengkapi kehidupan melarat para penghuni.

Aku masih ingat, setiap malam bersembunyi di balik lubang kecil di kamar yang hanya dibatasi triplek setebal 2 mm. Mengintip dunia perempuan yang aku panggil ibu.

Tubuhnya diperlakukan seperti mainan. Ingatan itu melekat sejak umurku lima tahun. Terlalu kecil untuk mengerti bahwa ibu hanya bertahan hidup dengan cara itu.

Mereka menimpa badan ibu. Di antara mereka juga ada yang memperlakukan ibu dengan sangat kasar. Aku pernah melihat ibu terkulai lemas. Pipinya ditampar, rambutnya ditarik, lalu perutnya ditendang. Ibu memaksa meminta bayaran setelah melayani lelaki yang dikenal sebagai bandar sabu.

Semenjak itu hati meronta. Aku seperti malaikat. Menyaksikan kejahatan tanpa bisa berbuat, selain mengadu kepada tuhan. Malam demi malam terlewati, semakin aku merasa peristiwa itu menyusup masuk ke celah pembuluh darah otak. Meledak di umur 12 tahun, ketika aku harus memutuskan sesuatu demi kebahagiaan ibu.

Aku sudah tidak kuat melihat derita ibu dari balik lubang itu. Namun, aku masih sanggup menerima beban Kampang, asalkan ibu bahagia. Aku adalah anak Kampang, benih Sperma dari mereka yang pernah menimpa badan ibu. Ketika anak seusiaku tumbuh berkembang dari makanan, roti, susu, disertai doa dan kasih sayang orang tua. Sedang aku, tumbuh dari gosip tetangga.

“Memang anak Kampang jadi sial di sini.” Selalu aku dengar dari mulut mereka, setiap membeli jajanan sore di warung lantai satu.

Hidup di dunia dengan kenangan semacam itu. Membuat mengerti. Aku si Kampang memilukan. Meraih cinta di rumah susun. Tempat pengedar sabu, pelacur, pencuri motor, pekerja upah rendah, dan pedagang kaki lima mempertahankan hidup di kota.

***

23 tahun berlalu. Sekarang aku menikahi wanita baik hati. Namun, setiap kali mencoba mencintainya di puncak asmara, penisku loyo. Penisku panas terbakar, seperti masuk ke dalam neraka. Otak langsung mengingat kenangan dari lubang triplek itu.

“Tinggalkan saja suami lemah syahwat itu,” ucap mertua kepada istriku melalui pesan Whatsapp yang tidak sengaja terbaca.

“Bagaimana mau punya keturunan, kalau anu suami kamu bermasalah!” Pesan itu membuat istriku depresi.

Dia setia menemani berobat, namun solusi tak pernah ada karena aku tidak pernah jujur menjawab pertanyaan dokter. Aku menyembunyikan ketakutan dari lubang itu.

Pada suatu pagi, aku akhirnya memutuskan sikap. Aku pergi ke psikiater.

Aku bercerita tentang lubang itu.

“Trauma yang kamu alami bukan hanya tentang apa yang kamu lihat, tetapi tentang bagaimana pikiranmu terhubung dengan pengalaman itu. Pengalaman kelam itu memanipulasi kerja otak yang membuat panas seperti api. Kalau kamu mau serius sembuh, kita akan bekerja sama.”

Kata-katanya mencuci otak. Hari demi hari, aku kembali ke ruangannya. Setiap sesi pertemuan membuka lapisan ketakutan. Setiap kata yang diucapkan, memotivasi supaya semangat untuk sembuh dari ingatan tentang lubang itu.

Kenyataan yang tak pernah kuduga. Istriku, ternyata selingkuh dengan psikiater perempuan itu. Aku tak bisa membiarkan pengkhianatan ini berlalu begitu saja.

Dengan tangan gemetar, aku mengambil sesuatu yang ada di dekatku. Sebuah benda berat. Dalam sekejap, mereka berdua tergeletak mati. Tak ada ampun. Tak ada penyesalan. Hanya kebencian menguasai hatiku.

Aku menggali lubang di halaman belakang rumah. Mereka dikubur, di lubang tanah yang tak akan pernah ditemukan.

Saat pikiran semakin kacau, ada kabar kerinduan.

“Rinto, waktunya minum obat. Setelah itu, kamu ke ruang depan. Ada tamu.” Suara perawat itu membuatku tidak sabar berjumpa Bu Sandra. Perempuan yang mengurusku sejak ibu tiada.

****

“Saudara Rinto sudah 23 tahun di sini. Kawannya sudah pulang semua, tetapi dia belum bisa pulang. Dia mengalami trauma berat yang menyebabkan Skizofrenia kronis. Ia tidak bisa membedakan antara kenyataan dan khayalan. Di luar sana, ia menjadi ancaman. Rinto tidak segan membunuh kalau sedang berhalusinasi menghadapi situasi bahaya,” kata dokter spesialis kejiwaan yang sudah menangani Rinto selama 23 tahun.

Ucapan psikiater itu, selaras dengan perilaku Rinto setiap aku berkunjung ke sini. Tadi saja ia mengatakan, baru membunuh istrinya yang lesbian dengan psikiater. Setiap mengunjungi Rinto, selalu saja ada cerita. Semua cerita itu disebabkan Skizofrenia Rinto sudah di level kronis.

Aku tidak bisa berbuat lebih jauh. Setidaknya di tempat ini Rinto tidak membunuh lagi, seperti 23 tahun lalu ia membunuh ibunya di rumah susun lantai empat. Melubangi leher, dada, dan perut ibunya dengan membabi buta menggunakan pisau dapur. Proses hukum Rinto tidak dilanjutkan, ia tidak bisa dijebloskan ke dalam penjara karena divonis sakit jiwa oleh dokter pengadilan.

Aku mengenal ibunya, pelacur yang sering menolongku di rumah susun. Aku bisa saja bernasib seperti Rinto. Menjadi gila setelah ibu dan ayah dihukum mati. Mereka ditangkap di Boom Baru,hendak berangkat menuju Bangka Belitung menggunakan Speedboat menyelundupkan narkotika jenis sabu sebanyak 100 kilogram.

Setelah peristiwa itu. Ibu Rinto sering mengantarkan makanan, memberi uang untuk membayar iuran bulanan sekolah. Petak hunian kami berdampingan di lantai empat rumah susun. Tanpa pertolongan ibunya, sudah dipastikan saat itu aku tidak bisa menamatkan Sekolah Dasar. Dan tidak mungkin aku seperti sekarang, menjadi guru Pegawai Negeri Sipil. [T]

Glosarium:

*Kampang, kata makian kasar di Palembang, yang artinya anak tanpa bapak alias anak haram.

*Boom Baru, pelabuhan yang sudah ada sejak 1924 di Kota palembang.

Penulis: Asmaran Dani
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

Next Post

Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

Asmaran Dani

Asmaran Dani

Alumni Pascasarjana Sosiologi. Saat ini sedang aktif menulis fiksi di komunitas Opus Sastra Kota Palembang.

Related Posts

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails

Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

by Hidayatul Ulum
May 30, 2026
0
Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

PRIA-PRIA yang kau semayamkan di awan kita, tak satu pun Mas kenal—awalnya. Setelah Mas membaca jejak hatimu yang kau tinggalkan...

Read moreDetails

Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
May 29, 2026
0
Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

JAM menunjukkan pukul 05.15 pagi ketika kaki renta Pak Syukur mulai menyusuri gang sempit menuju pinggir jalan raya. Embun belum...

Read moreDetails

Mengikat Tali Sepatu | Cerpen Pitrus Puspito

by Pitrus Puspito
May 24, 2026
0
Mengikat Tali Sepatu | Cerpen Pitrus Puspito

Alfie percaya bahwa dunia dapat diringkas menjadi kolom-kolom rapi: pemasukan, pengeluaran, untung, rugi. Di layar ponselnya, angka-angka berpendar seperti doa...

Read moreDetails
Next Post
Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar
Tualang

Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

Saya sangat jarang bergaul dengan alumni apa pun. Dari sekian puluh undangan reuni sekolah, kedatangan saya bisa dihitung dengan jari....

by Made Wirya
June 21, 2026
Lubang | Cerpen Asmaran Dani
Cerpen

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

by Asmaran Dani
June 21, 2026
Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi
Puisi

Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

Pelancong Gersang Aku berhenti memikirkanmu.Jam-jam yang meruntuhkan angka-angka;berlarian masuk rumah. Aku berhenti memikirkanmu.Sejak kamu menggulir layar begitu pagi,memanen percakapan tentang...

by Mahesa Putra
June 21, 2026
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045
Esai

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar
Esai

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

by Made Chandra
June 21, 2026
“Aji Pemalik Sumpah” dari Sekaa Dramatari Arja Sudhamala di Pesta Kesenian Bali 2026: Pertama dan Total
Panggung

“Aji Pemalik Sumpah” dari Sekaa Dramatari Arja Sudhamala di Pesta Kesenian Bali 2026: Pertama dan Total

SEKAA Dramatari Arja Sudhamala ini baru pertamakali pentas di ajang Pesta Kesenian Bali (PKB). Bahkan, sekaa kesenian tradisional Bali yang...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
’A Salty Dog’, Pelayaran Terakhir di Cakrawala Sunyi
Ulas Musik

’A Salty Dog’, Pelayaran Terakhir di Cakrawala Sunyi

LAGU “A Salty Dog” oleh Procol Harum (1969), dengan lirik karya Keith Reid, adalah elegi tentang pelayaran terakhir, tentang manusia...

by Ahmad Sihabudin
June 21, 2026
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   
Esai

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
Mau Jadi Penulis Hebat? Tulislah Hal Unik dan Autentik!
Khas

Mau Jadi Penulis Hebat? Tulislah Hal Unik dan Autentik!

 “Kalau mau menjadi penulis hebat, tulis yang unik dan autentik.” Kalimat itu meluncur dari mulut sastrawan Bali, Gde Aryantha Soethama,...

by Dede Putra Wiguna
June 21, 2026
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital
Esai

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

by Angga Wijaya
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co