30 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

Asmaran Dani by Asmaran Dani
June 21, 2026
in Cerpen
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

Ilustrasi tatkala.co

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada.

Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol, lubang di setiap pengunci pintu, dan lubang lainnya. Semua lubang itu membuat tubuhku terbakar.

Bahkan seringkali, aku tidak membersihkan kotoran setelah buang air besar. Jika terpaksa dibersihkan, aku harus berjuang memadamkan api di area sekitar lubang pantat.

Sejak bangku Sekolah Dasar sampai Sekolah Menengah Pertama, aku habiskan waktu untuk menghitung jumlah lubang. Dengan menghitungnya, aku menjadi waspada karena semua lubang itu bisa membakar tubuhku.

Guru di sekolah sering mengacau fokus pikiranku.

“Rinto! Kamu dengar tidak penjelasan saya? Coba jelaskan maksud dari hukum Newton.”

“Setan memang, dia mengganggu ketika aku sedang berusaha keras menghitung jumlah lubang di angkot tadi.” Isi kepala menggerutu.

“Sekarang juga, pergi ke ruang Bimbingan Konseling!” tegas Pak Irfan, guru fisika, salah satu dari sekian guru yang sering mengusirku di saat jam belajar.

Aku bersiap menceritakan kepada Bu Sandra tentang jumlah lubang di angkot tadi.

“Kamu kenapa? Hampir semua guru mengusir kamu di kelas, Nak. Coba ceritakan penyebab kamu tidak fokus belajar di kelas.” Bu Sandra bertanya pelan. Ia adalah guru BK yang cukup memahami ketakutanku.

“Bu, pada dasarnya setiap manusia memiliki 9 lubang: 2 lubang mata, 2 lubang hidung, 1 lubang mulut, 2 lubang telinga, 1 lubang pantat, dan 1 lubang penis atau vagina. Seperti yang diajarkan di pelajaran biologi.”

“Ya, coba ungkapkan semua yang ada di pikiran kamu.” Sorot mata Bu Sandra seperti menonton cerita misteri.

“Jumlah lubang di angkot tadi ada 75. Hasil dari 8 orang yang bersamaku di angkot, ditambah 2 lubang pipet dari 2 orang yang sedang minum, dan 1 lubang kunci kontak angkot. Jadi 9 lubang X 8 orang + 2 lubang pipet + 1 lubang kunci kontak angkot =  75 lubang.” Telapak Tanganku basah, aku merasa sudah cukup menjelaskan.

“Nak, sepulang sekolah ibu ke rumah kamu, ya. Kita pulang bareng.” Kabar itu menenangkan. Aku semangat pulang. Namun, setiba di rumah. Ibuku dan Bu Sandra saling menatap seperti ada sesuatu di antara mereka. Ibu mengusir Bu Sandra, menitipkan salam untuk kepala sekolah.

Peristiwa itu membuatku berhenti sekolah tepat di usia 12 tahun, saat masih kelas 1 semester 2 di Sekolah Menengah Pertama.

**

Aku lahir di belakang mal tempat orang kaya menghamburkan uang. Tangis bayi, bau comberan bercampur aroma gorengan. Udara pengap melengkapi kehidupan melarat para penghuni.

Aku masih ingat, setiap malam bersembunyi di balik lubang kecil di kamar yang hanya dibatasi triplek setebal 2 mm. Mengintip dunia perempuan yang aku panggil ibu.

Tubuhnya diperlakukan seperti mainan. Ingatan itu melekat sejak umurku lima tahun. Terlalu kecil untuk mengerti bahwa ibu hanya bertahan hidup dengan cara itu.

Mereka menimpa badan ibu. Di antara mereka juga ada yang memperlakukan ibu dengan sangat kasar. Aku pernah melihat ibu terkulai lemas. Pipinya ditampar, rambutnya ditarik, lalu perutnya ditendang. Ibu memaksa meminta bayaran setelah melayani lelaki yang dikenal sebagai bandar sabu.

Semenjak itu hati meronta. Aku seperti malaikat. Menyaksikan kejahatan tanpa bisa berbuat, selain mengadu kepada tuhan. Malam demi malam terlewati, semakin aku merasa peristiwa itu menyusup masuk ke celah pembuluh darah otak. Meledak di umur 12 tahun, ketika aku harus memutuskan sesuatu demi kebahagiaan ibu.

Aku sudah tidak kuat melihat derita ibu dari balik lubang itu. Namun, aku masih sanggup menerima beban Kampang, asalkan ibu bahagia. Aku adalah anak Kampang, benih Sperma dari mereka yang pernah menimpa badan ibu. Ketika anak seusiaku tumbuh berkembang dari makanan, roti, susu, disertai doa dan kasih sayang orang tua. Sedang aku, tumbuh dari gosip tetangga.

“Memang anak Kampang jadi sial di sini.” Selalu aku dengar dari mulut mereka, setiap membeli jajanan sore di warung lantai satu.

Hidup di dunia dengan kenangan semacam itu. Membuat mengerti. Aku si Kampang memilukan. Meraih cinta di rumah susun. Tempat pengedar sabu, pelacur, pencuri motor, pekerja upah rendah, dan pedagang kaki lima mempertahankan hidup di kota.

***

23 tahun berlalu. Sekarang aku menikahi wanita baik hati. Namun, setiap kali mencoba mencintainya di puncak asmara, penisku loyo. Penisku panas terbakar, seperti masuk ke dalam neraka. Otak langsung mengingat kenangan dari lubang triplek itu.

“Tinggalkan saja suami lemah syahwat itu,” ucap mertua kepada istriku melalui pesan Whatsapp yang tidak sengaja terbaca.

“Bagaimana mau punya keturunan, kalau anu suami kamu bermasalah!” Pesan itu membuat istriku depresi.

Dia setia menemani berobat, namun solusi tak pernah ada karena aku tidak pernah jujur menjawab pertanyaan dokter. Aku menyembunyikan ketakutan dari lubang itu.

Pada suatu pagi, aku akhirnya memutuskan sikap. Aku pergi ke psikiater.

Aku bercerita tentang lubang itu.

“Trauma yang kamu alami bukan hanya tentang apa yang kamu lihat, tetapi tentang bagaimana pikiranmu terhubung dengan pengalaman itu. Pengalaman kelam itu memanipulasi kerja otak yang membuat panas seperti api. Kalau kamu mau serius sembuh, kita akan bekerja sama.”

Kata-katanya mencuci otak. Hari demi hari, aku kembali ke ruangannya. Setiap sesi pertemuan membuka lapisan ketakutan. Setiap kata yang diucapkan, memotivasi supaya semangat untuk sembuh dari ingatan tentang lubang itu.

Kenyataan yang tak pernah kuduga. Istriku, ternyata selingkuh dengan psikiater perempuan itu. Aku tak bisa membiarkan pengkhianatan ini berlalu begitu saja.

Dengan tangan gemetar, aku mengambil sesuatu yang ada di dekatku. Sebuah benda berat. Dalam sekejap, mereka berdua tergeletak mati. Tak ada ampun. Tak ada penyesalan. Hanya kebencian menguasai hatiku.

Aku menggali lubang di halaman belakang rumah. Mereka dikubur, di lubang tanah yang tak akan pernah ditemukan.

Saat pikiran semakin kacau, ada kabar kerinduan.

“Rinto, waktunya minum obat. Setelah itu, kamu ke ruang depan. Ada tamu.” Suara perawat itu membuatku tidak sabar berjumpa Bu Sandra. Perempuan yang mengurusku sejak ibu tiada.

****

“Saudara Rinto sudah 23 tahun di sini. Kawannya sudah pulang semua, tetapi dia belum bisa pulang. Dia mengalami trauma berat yang menyebabkan Skizofrenia kronis. Ia tidak bisa membedakan antara kenyataan dan khayalan. Di luar sana, ia menjadi ancaman. Rinto tidak segan membunuh kalau sedang berhalusinasi menghadapi situasi bahaya,” kata dokter spesialis kejiwaan yang sudah menangani Rinto selama 23 tahun.

Ucapan psikiater itu, selaras dengan perilaku Rinto setiap aku berkunjung ke sini. Tadi saja ia mengatakan, baru membunuh istrinya yang lesbian dengan psikiater. Setiap mengunjungi Rinto, selalu saja ada cerita. Semua cerita itu disebabkan Skizofrenia Rinto sudah di level kronis.

Aku tidak bisa berbuat lebih jauh. Setidaknya di tempat ini Rinto tidak membunuh lagi, seperti 23 tahun lalu ia membunuh ibunya di rumah susun lantai empat. Melubangi leher, dada, dan perut ibunya dengan membabi buta menggunakan pisau dapur. Proses hukum Rinto tidak dilanjutkan, ia tidak bisa dijebloskan ke dalam penjara karena divonis sakit jiwa oleh dokter pengadilan.

Aku mengenal ibunya, pelacur yang sering menolongku di rumah susun. Aku bisa saja bernasib seperti Rinto. Menjadi gila setelah ibu dan ayah dihukum mati. Mereka ditangkap di Boom Baru,hendak berangkat menuju Bangka Belitung menggunakan Speedboat menyelundupkan narkotika jenis sabu sebanyak 100 kilogram.

Setelah peristiwa itu. Ibu Rinto sering mengantarkan makanan, memberi uang untuk membayar iuran bulanan sekolah. Petak hunian kami berdampingan di lantai empat rumah susun. Tanpa pertolongan ibunya, sudah dipastikan saat itu aku tidak bisa menamatkan Sekolah Dasar. Dan tidak mungkin aku seperti sekarang, menjadi guru Pegawai Negeri Sipil. [T]

Glosarium:

*Kampang, kata makian kasar di Palembang, yang artinya anak tanpa bapak alias anak haram.

*Boom Baru, pelabuhan yang sudah ada sejak 1924 di Kota palembang.

Penulis: Asmaran Dani
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

Next Post

Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

Asmaran Dani

Asmaran Dani

Alumni Pascasarjana Sosiologi. Saat ini sedang aktif menulis fiksi di komunitas Opus Sastra Kota Palembang.

Related Posts

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails
Next Post
Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas
Khas

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi
Ulas Buku

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali...

by Abdul Karim Abraham
September 29, 2026
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?
Esai

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra
Esai

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

by Emi Suy
September 29, 2026
Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival
Tualang

Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

SAYA datang ke Toyooka dengan niat yang sederhana: mengikuti Intersecting Peripheries dan melihat bagaimana sebuah festival teater bekerja di sebuah...

by I Putu Ardiyasa
September 30, 2026
Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938
Kuliner

Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938

CUKUP dengan uang tiga ribu rupiah saja, segelas penuh minuman es santan yang creamy dan menyegarkan sudah bisa mengalir di...

by Wahyu Mahaputra
September 28, 2026
Jalan Sore di Lintas Royal Baroe
Tualang

Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

SUDAH cukup lama sebenarnya kami ingin berjalan-jalan di kawasan Royal Baroe, Kota Serang, Provinsi Banten. Bukan untuk mencari sesuatu yang...

by Ahmad Sihabudin
September 28, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co