4 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

Dodik Suprayogi by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
in Cerpen
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

Ilustrasi tatkala.co | Canva

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar.

“Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan nganggur, awas nanti disita negara loh,” kata Pak RT setiap kali lewat sambil membawa cangkul.

Aku, Bram Prayogi, hanya tersenyum tipis. Di kampung ini, menjadi diam adalah satu-satunya cara untuk menjaga rahasia tetap menjadi milik sendiri.

Semua orang berkata, bahwa tanah adalah investasi atau sekadar media tanam untuk komoditas yang harga pasarnya pas-pasan. Tapi bagiku, kebun itu adalah sebuah monumen. Sebuah pengingat paling nyata tentang bagaimana rasanya menunggu sesuatu yang sebenarnya sudah lama mati di kepala, tapi tetap tumbuh di dada.

Kebun itu tidak pernah ditanami, bukan karena aku malas, melainkan karena aku terlalu setia pada sebuah rencana lama dengan seseorang.

Sebelas tahun lalu, aku dan Elisa berdiri di sana. Aku adalah mahasiswa pertanian, sedangkan dia adalah mahasiswa ilmu komunikasi. Saat itu, kami sering berdiskusi panas di kantin tentang bagaimana komunikasi pemerintah kita yang banyak blunder.

Elisa membawa sebungkus benih melati yang katanya dia beli dari toko bunga paling mahal di pusat kota. Dia memegangnya seolah itu adalah varietas unggul paling berharga di dunia.

“Jangan ditanam sekarang, ya, Bram,” katanya sambil mengerucutkan bibir, gaya andalannya yang selalu membuatku menyerah pada permintaan apa pun tanpa syarat.

“Tunggu aku selesai magang di Bandung. Aku mau kita yang menyiapkan bedengannya bareng, kita yang melakukan transplanting ke tanah sama-sama. Biar melatinya tahu kalau dia punya insinyur pertanian yang bakal jaga nutrisinya sampai mekar.”

Aku tertawa, menganggapnya puitis yang agak berlebihan bagi seseorang yang biasanya berkutat dengan gaya komunikasi dan analisis kebijakan publik, tapi aku mengangguk mantap.

Aku berjanji, bagi seorang laki-laki bernama Bram Prayogi, yang tidak punya banyak hal untuk dibanggakan selain integritasnya, janji adalah satu-satunya harga diri yang aku miliki. Aku tidak tahu bahwa sore itu adalah terakhir kalinya aku melihat rona yang sama di matanya.

***

Bulan-bulan pertama, telepon kami adalah irama rindu yang konon terdengar candu. Tapi pelan-pelan, Bandung mengubah frekuensi suaranya. Elisa mulai bicara soal lembur di kantor yang tak ada hubungannya dengan jobdesknya.

Jarak itu bukan cuma soal kilometer, ternyata. Jarak adalah saat kita masih punya nomor telepon yang sama, tapi tidak punya alasan lagi untuk sekadar mengetik apa kabar.

Tahun kedua, aku masih rajin melakukan penyiangan, mencabuti rumput liar agar tidak terjadi kompetisi hara di kebun itu. Aku merasa kebun kosongku ini adalah satu dari sedikit benteng pertahanan yang tersisa, meski tak ada yang tumbuh di sana. Aku ingin saat Elisa pulang, lahan itu sudah siap.

Tapi tahun kelima, aku berhenti mencabuti rumput. Di media sosialnya, aku melihat Elisa berfoto di hamparan kebun yang penuh bunga matahari. Dia memakai syal tebal, menggandeng laki-laki yang kelihatannya tangannya bersih dari bau pupuk kendang.

Dia sudah menanam kehidupannya di tanah orang lain. Sementara aku di sini, masih memeluk bungkus benih melati yang sudah lama patah dormansi atau mungkin sudah mati sama sekali.

Anehnya, aku tetap tidak menanam apa pun di sana. Ibu pernah menyarankan supaya aku menanam pohon alpukat saja.

“Biar ada hasilnya, Bram. Lihat itu, harga pangan makin mahal, karena pemerintah cuma fokus pada food estate yang gagal itu. Pakailah tanahmu,” katanya suatu sore sambil membawakan wedang jahe.

Aku tidak bisa menjelaskan pada Ibu bahwa menanam pohon alpukat berarti aku menghkianati Elisa. Selama tanah itu kosong, selama itu pula aku bisa berbohong pada diriku sendiri bahwa musim tanamnya hanya sedang tertunda.

Manusia memang lucu, kita lebih suka memelihara lahan bera yang gersang daripada membangun kebun baru, hanya karena kenangan lama terasa lebih akrab di kulit. Terdengar bodoh sekali.

***

Sore ini, aku duduk di teras, menatap kebun yang sekarang sudah jadi hutan kecil ilalang. Pohon kamboja di pojok kiri yang dulu hanya setinggi pinggang, sekarang sudah besar dan rimbun. Ia tumbuh liar, tak ada yang pernah melakukan pemangkasan, tapi tetap bertahan.

Aku masuk ke dalam, mengambil kotak kayu di atas meja penuh buku. Di dalamnya ada bungkusan benih melati itu. Benih ini pasti sudah kehilangan daya kecambahnya. Tidak mungkin ada kehidupan yang bisa bertahan setelah bertahun-tahun terjebak dalam plastik dan kegelapan, menunggu sebuah kepulangan yang fana.

Aku berjalan ke tengah kebun. Aku berjongkok di titik yang dulu kami tunjuk sebagai inti kebun. Tanah di bawahku keras dan kering. Aku tidak membawa sekop. Aku hanya menggunakan jari-jariku sendiri untuk mengorek tanah, membiarkan kuku-kukuku kotor dan perih. Aku membuat lubang tanam kecil, lalu merobek bungkus benih itu dengan gigi.

“Elisa,” bisikku pada angin sore yang dingin.

“Aku sudah menepati janji, sudah melakukan penanaman ini.”

Aku menaburkan benih-benih kering itu ke dalam lubang, lalu menutupnya kembali dengan tanah yang kasar. Aku tidak berharap besok akan ada tunas yang muncul. Aku menanamnya bukan untuk melihatnya mekar, tapi untuk membiarkannya kembali menyatu pada bumi.

Tahun silih berganti, aku akhirnya sadar bahwa kebun ini memang tidak pernah dimaksudkan untuk menanam melati. Kebun ini adalah laboratorium pribadiku untuk melatih kesabaran, tempat untuk memahami bahwa ada beberapa hal yang lebih indah saat dibiarkan menjadi rencana di atas kertas daripada dipaksa tumbuh di atas realita yang keras.

Aku berdiri, menepuk-nepuk debu di celanaku. Besok, aku akan memanggil tukang kebun atau menyewa traktor tangan. Aku akan menyuruhnya membabat semua ilalang ini. Berharap tanah ini kembali produktif, tidak lagi menjadi tempat penyimpanan limbah masa lalu.

Sore itu, hujan turun tipis-tipis, memberikan irigasi alami pada tanah yang baru saja kubongkar. Di bawah sana, benih-benih kering itu akhirnya bersentuhan dengan air setelah tahunan menanti.

Apakah mereka akan tumbuh? Mungkin tidak. Tapi itu bukan lagi urusanku. Tugasku untuk setia sudah lunas.

Ternyata, bagian paling melegakan dari sebuah penantian bukanlah saat yang ditunggu datang membawa hasil panen, melainkan saat kita sadar bahwa kita sudah tidak perlu menunggu musim tanam yang itu lagi.

Dunia memang tidak pernah menjanjikan keabadian pada kelopak yang layu sebelum sempat menyapa matahari. Namun, di balik tanah yang nampak sunyi itu, ada sebuah kuburan masa lalu.

Langkah kaki kini terasa lebih ringan, meninggalkan jejak-jejak usang yang mulai tertutup debu waktu. Tidak ada lagi ruang untuk mengenang tentang keindahan yang tertunda, yang ada hanyalah tekad untuk menyirami realitas dengan keringat dan kerja keras. [T]

Penulis: Dodik Suprayogi
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Putu Intan Juliantika | Lintang Perahu Pegat

Next Post

Wisatawan Eropa Masih Menjadi Andalan Indonesia

Dodik Suprayogi

Dodik Suprayogi

Mahasiswa Magister Ilmu Ekonomi Universitas Trisakti Jakarta. Ig @dodiksuprayogi_

Related Posts

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails

Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

by Hidayatul Ulum
May 30, 2026
0
Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

PRIA-PRIA yang kau semayamkan di awan kita, tak satu pun Mas kenal—awalnya. Setelah Mas membaca jejak hatimu yang kau tinggalkan...

Read moreDetails
Next Post
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Wisatawan Eropa Masih Menjadi Andalan Indonesia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tari Kontemporer “Perempuan di Sawah” Membuka Singaraja Literary Festival 2026
Panggung

Tari Kontemporer “Perempuan di Sawah” Membuka Singaraja Literary Festival 2026

PEMBUKAAN Singaraja Literary Festival (SLF), Jumat, 3 Juli 2026, berlangsung berbeda dari kebiasaan. Bukannya diawali dengan tari penyambutan tradisional seperti...

by Nyoman Budarsana
July 4, 2026
Singaraja Literary Festival 2026, Mengaktivasi Warisan Lontar Melalui Stri Sasana
Khas

Singaraja Literary Festival 2026, Mengaktivasi Warisan Lontar Melalui Stri Sasana

SOSOK-SOSOK perempuan bergerak perlahan menari di atas panggung, mengenakan caping petani dan membawa slepan (daun kelapa yang sudah tua) sebagai...

by Komang Puja Savitri
July 4, 2026
“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana
Ulas Buku

“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love...

by I Nyoman Darma Putra
July 4, 2026
Unconditional Love: Cinta Tanpa Syarat
Ulas Rupa

Unconditional Love: Cinta Tanpa Syarat

PADA 3 Juli 2026 digelar pameran senirupa yang cukup menarik, pameran senirupa ini, menurut saya, lahir dari keyakinan bahwa seni...

by Hartanto
July 4, 2026
“Let Them Cook”: Saat Klinik Seni Taxu Hadir Mengacak-ngacak Arena Percaturan Seni Rupa Bali.
Kritik Seni

“Let Them Cook”: Saat Klinik Seni Taxu Hadir Mengacak-ngacak Arena Percaturan Seni Rupa Bali.

DUA PULUH lima tahun lalu, tepat saat 2 bulan setelah Milenium ketiga dimulai,  segerombol anak muda yang menyebut diri mereka...

by Made Chandra
July 4, 2026
Di Mana Penciptaan Berlangsung: Sebuah Refleksi tentang Kehadiran, Waktu, dan Lahirnya Karya
Kritik Seni

Di Mana Penciptaan Berlangsung: Sebuah Refleksi tentang Kehadiran, Waktu, dan Lahirnya Karya

MANUSIA adalah makhluk yang gemar mengembara. Tubuhnya berada di sini, tetapi pikirannya berlari ke hari esok. Atau sebaliknya, tubuhnya telah...

by Wayan Gde Yudane
July 4, 2026
Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen
Ulas Buku

Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen

Judul             : Rumah Penulis          : JS Khairen Penerbit        : PT Elex Media Komputindo Editor             : Trian Lesmana dan Dion Rahman...

by Dede Putra Wiguna
July 3, 2026
Matajog, Terompah, dan Hadang Semarakkan Jantra Tradisi Bali
Panggung

Matajog, Terompah, dan Hadang Semarakkan Jantra Tradisi Bali

Sorak-sorai penonton menyemangati temannya ketika tampil sebagai peserta lomba Matajog (egrang bambu) dalam ajang Jantra Tradisi Bali serangkaian Pesta Kesenian...

by Nyoman Budarsana
July 3, 2026
Bali Sedang Menghancurkan Dirinya Sendiri? —Refleksi tentang Pembangunan, Kesadaran, dan Masa Depan Pulau Dewata
Esai

Bali Sedang Menghancurkan Dirinya Sendiri? —Refleksi tentang Pembangunan, Kesadaran, dan Masa Depan Pulau Dewata

Sebuah Slide yang Mengusik Kesadaran TERKADANG, inspirasi lahir bukan dari buku tebal atau hasil penelitian yang rumit, melainkan dari sebuah...

by Agung Sudarsa
July 3, 2026
Etika Lingkungan: Bayang-bayang Kebertahanan Pangan di Tengah Masifnya Konversi Lahan
Esai

Etika Lingkungan: Bayang-bayang Kebertahanan Pangan di Tengah Masifnya Konversi Lahan

ETIKA lingkungan merupakan suatu perspektif moral yang menempatkan alam sebagai entitas yang memiliki nilai intrinsik, bukan sekadar objek eksploitasi untuk...

by IM Gede Nesa Saputra
July 2, 2026
Kisah Anak Kucing Penakut dan Lukisan di Atas Batu dari Festival Cerita Rasa 0.4
Panggung

Kisah Anak Kucing Penakut dan Lukisan di Atas Batu dari Festival Cerita Rasa 0.4

SETELAH sempat absen pada tahun 2025, Festival Cerita Rasa di Desa Tukadaya, Jembrana kembali hadir dengan membubuhkan angka 0.4, pada...

by I Komang Sutirtayasa
July 2, 2026
Lokalisme dalam Revitalisasi Cerita Rakyat Pedawa
Esai

Lokalisme dalam Revitalisasi Cerita Rakyat Pedawa

PERJALANAN nasib hidup dan mati cerita rakyat ditentukan oleh sikap pemiliknya. Cerita rakyat pun dengan beberapa alasan dikubur. Hal ini...

by I Wayan Artika
July 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co