TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar.
“Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan nganggur, awas nanti disita negara loh,” kata Pak RT setiap kali lewat sambil membawa cangkul.
Aku, Bram Prayogi, hanya tersenyum tipis. Di kampung ini, menjadi diam adalah satu-satunya cara untuk menjaga rahasia tetap menjadi milik sendiri.
Semua orang berkata, bahwa tanah adalah investasi atau sekadar media tanam untuk komoditas yang harga pasarnya pas-pasan. Tapi bagiku, kebun itu adalah sebuah monumen. Sebuah pengingat paling nyata tentang bagaimana rasanya menunggu sesuatu yang sebenarnya sudah lama mati di kepala, tapi tetap tumbuh di dada.
Kebun itu tidak pernah ditanami, bukan karena aku malas, melainkan karena aku terlalu setia pada sebuah rencana lama dengan seseorang.
Sebelas tahun lalu, aku dan Elisa berdiri di sana. Aku adalah mahasiswa pertanian, sedangkan dia adalah mahasiswa ilmu komunikasi. Saat itu, kami sering berdiskusi panas di kantin tentang bagaimana komunikasi pemerintah kita yang banyak blunder.
Elisa membawa sebungkus benih melati yang katanya dia beli dari toko bunga paling mahal di pusat kota. Dia memegangnya seolah itu adalah varietas unggul paling berharga di dunia.
“Jangan ditanam sekarang, ya, Bram,” katanya sambil mengerucutkan bibir, gaya andalannya yang selalu membuatku menyerah pada permintaan apa pun tanpa syarat.
“Tunggu aku selesai magang di Bandung. Aku mau kita yang menyiapkan bedengannya bareng, kita yang melakukan transplanting ke tanah sama-sama. Biar melatinya tahu kalau dia punya insinyur pertanian yang bakal jaga nutrisinya sampai mekar.”
Aku tertawa, menganggapnya puitis yang agak berlebihan bagi seseorang yang biasanya berkutat dengan gaya komunikasi dan analisis kebijakan publik, tapi aku mengangguk mantap.
Aku berjanji, bagi seorang laki-laki bernama Bram Prayogi, yang tidak punya banyak hal untuk dibanggakan selain integritasnya, janji adalah satu-satunya harga diri yang aku miliki. Aku tidak tahu bahwa sore itu adalah terakhir kalinya aku melihat rona yang sama di matanya.
***
Bulan-bulan pertama, telepon kami adalah irama rindu yang konon terdengar candu. Tapi pelan-pelan, Bandung mengubah frekuensi suaranya. Elisa mulai bicara soal lembur di kantor yang tak ada hubungannya dengan jobdesknya.
Jarak itu bukan cuma soal kilometer, ternyata. Jarak adalah saat kita masih punya nomor telepon yang sama, tapi tidak punya alasan lagi untuk sekadar mengetik apa kabar.
Tahun kedua, aku masih rajin melakukan penyiangan, mencabuti rumput liar agar tidak terjadi kompetisi hara di kebun itu. Aku merasa kebun kosongku ini adalah satu dari sedikit benteng pertahanan yang tersisa, meski tak ada yang tumbuh di sana. Aku ingin saat Elisa pulang, lahan itu sudah siap.
Tapi tahun kelima, aku berhenti mencabuti rumput. Di media sosialnya, aku melihat Elisa berfoto di hamparan kebun yang penuh bunga matahari. Dia memakai syal tebal, menggandeng laki-laki yang kelihatannya tangannya bersih dari bau pupuk kendang.
Dia sudah menanam kehidupannya di tanah orang lain. Sementara aku di sini, masih memeluk bungkus benih melati yang sudah lama patah dormansi atau mungkin sudah mati sama sekali.
Anehnya, aku tetap tidak menanam apa pun di sana. Ibu pernah menyarankan supaya aku menanam pohon alpukat saja.
“Biar ada hasilnya, Bram. Lihat itu, harga pangan makin mahal, karena pemerintah cuma fokus pada food estate yang gagal itu. Pakailah tanahmu,” katanya suatu sore sambil membawakan wedang jahe.
Aku tidak bisa menjelaskan pada Ibu bahwa menanam pohon alpukat berarti aku menghkianati Elisa. Selama tanah itu kosong, selama itu pula aku bisa berbohong pada diriku sendiri bahwa musim tanamnya hanya sedang tertunda.
Manusia memang lucu, kita lebih suka memelihara lahan bera yang gersang daripada membangun kebun baru, hanya karena kenangan lama terasa lebih akrab di kulit. Terdengar bodoh sekali.
***
Sore ini, aku duduk di teras, menatap kebun yang sekarang sudah jadi hutan kecil ilalang. Pohon kamboja di pojok kiri yang dulu hanya setinggi pinggang, sekarang sudah besar dan rimbun. Ia tumbuh liar, tak ada yang pernah melakukan pemangkasan, tapi tetap bertahan.
Aku masuk ke dalam, mengambil kotak kayu di atas meja penuh buku. Di dalamnya ada bungkusan benih melati itu. Benih ini pasti sudah kehilangan daya kecambahnya. Tidak mungkin ada kehidupan yang bisa bertahan setelah bertahun-tahun terjebak dalam plastik dan kegelapan, menunggu sebuah kepulangan yang fana.
Aku berjalan ke tengah kebun. Aku berjongkok di titik yang dulu kami tunjuk sebagai inti kebun. Tanah di bawahku keras dan kering. Aku tidak membawa sekop. Aku hanya menggunakan jari-jariku sendiri untuk mengorek tanah, membiarkan kuku-kukuku kotor dan perih. Aku membuat lubang tanam kecil, lalu merobek bungkus benih itu dengan gigi.
“Elisa,” bisikku pada angin sore yang dingin.
“Aku sudah menepati janji, sudah melakukan penanaman ini.”
Aku menaburkan benih-benih kering itu ke dalam lubang, lalu menutupnya kembali dengan tanah yang kasar. Aku tidak berharap besok akan ada tunas yang muncul. Aku menanamnya bukan untuk melihatnya mekar, tapi untuk membiarkannya kembali menyatu pada bumi.
Tahun silih berganti, aku akhirnya sadar bahwa kebun ini memang tidak pernah dimaksudkan untuk menanam melati. Kebun ini adalah laboratorium pribadiku untuk melatih kesabaran, tempat untuk memahami bahwa ada beberapa hal yang lebih indah saat dibiarkan menjadi rencana di atas kertas daripada dipaksa tumbuh di atas realita yang keras.
Aku berdiri, menepuk-nepuk debu di celanaku. Besok, aku akan memanggil tukang kebun atau menyewa traktor tangan. Aku akan menyuruhnya membabat semua ilalang ini. Berharap tanah ini kembali produktif, tidak lagi menjadi tempat penyimpanan limbah masa lalu.
Sore itu, hujan turun tipis-tipis, memberikan irigasi alami pada tanah yang baru saja kubongkar. Di bawah sana, benih-benih kering itu akhirnya bersentuhan dengan air setelah tahunan menanti.
Apakah mereka akan tumbuh? Mungkin tidak. Tapi itu bukan lagi urusanku. Tugasku untuk setia sudah lunas.
Ternyata, bagian paling melegakan dari sebuah penantian bukanlah saat yang ditunggu datang membawa hasil panen, melainkan saat kita sadar bahwa kita sudah tidak perlu menunggu musim tanam yang itu lagi.
Dunia memang tidak pernah menjanjikan keabadian pada kelopak yang layu sebelum sempat menyapa matahari. Namun, di balik tanah yang nampak sunyi itu, ada sebuah kuburan masa lalu.
Langkah kaki kini terasa lebih ringan, meninggalkan jejak-jejak usang yang mulai tertutup debu waktu. Tidak ada lagi ruang untuk mengenang tentang keindahan yang tertunda, yang ada hanyalah tekad untuk menyirami realitas dengan keringat dan kerja keras. [T]
Penulis: Dodik Suprayogi
Editor: Adnyana Ole





























