3 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

Dodik Suprayogi by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
in Cerpen
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

Ilustrasi tatkala.co | Canva

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar.

“Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan nganggur, awas nanti disita negara loh,” kata Pak RT setiap kali lewat sambil membawa cangkul.

Aku, Bram Prayogi, hanya tersenyum tipis. Di kampung ini, menjadi diam adalah satu-satunya cara untuk menjaga rahasia tetap menjadi milik sendiri.

Semua orang berkata, bahwa tanah adalah investasi atau sekadar media tanam untuk komoditas yang harga pasarnya pas-pasan. Tapi bagiku, kebun itu adalah sebuah monumen. Sebuah pengingat paling nyata tentang bagaimana rasanya menunggu sesuatu yang sebenarnya sudah lama mati di kepala, tapi tetap tumbuh di dada.

Kebun itu tidak pernah ditanami, bukan karena aku malas, melainkan karena aku terlalu setia pada sebuah rencana lama dengan seseorang.

Sebelas tahun lalu, aku dan Elisa berdiri di sana. Aku adalah mahasiswa pertanian, sedangkan dia adalah mahasiswa ilmu komunikasi. Saat itu, kami sering berdiskusi panas di kantin tentang bagaimana komunikasi pemerintah kita yang banyak blunder.

Elisa membawa sebungkus benih melati yang katanya dia beli dari toko bunga paling mahal di pusat kota. Dia memegangnya seolah itu adalah varietas unggul paling berharga di dunia.

“Jangan ditanam sekarang, ya, Bram,” katanya sambil mengerucutkan bibir, gaya andalannya yang selalu membuatku menyerah pada permintaan apa pun tanpa syarat.

“Tunggu aku selesai magang di Bandung. Aku mau kita yang menyiapkan bedengannya bareng, kita yang melakukan transplanting ke tanah sama-sama. Biar melatinya tahu kalau dia punya insinyur pertanian yang bakal jaga nutrisinya sampai mekar.”

Aku tertawa, menganggapnya puitis yang agak berlebihan bagi seseorang yang biasanya berkutat dengan gaya komunikasi dan analisis kebijakan publik, tapi aku mengangguk mantap.

Aku berjanji, bagi seorang laki-laki bernama Bram Prayogi, yang tidak punya banyak hal untuk dibanggakan selain integritasnya, janji adalah satu-satunya harga diri yang aku miliki. Aku tidak tahu bahwa sore itu adalah terakhir kalinya aku melihat rona yang sama di matanya.

***

Bulan-bulan pertama, telepon kami adalah irama rindu yang konon terdengar candu. Tapi pelan-pelan, Bandung mengubah frekuensi suaranya. Elisa mulai bicara soal lembur di kantor yang tak ada hubungannya dengan jobdesknya.

Jarak itu bukan cuma soal kilometer, ternyata. Jarak adalah saat kita masih punya nomor telepon yang sama, tapi tidak punya alasan lagi untuk sekadar mengetik apa kabar.

Tahun kedua, aku masih rajin melakukan penyiangan, mencabuti rumput liar agar tidak terjadi kompetisi hara di kebun itu. Aku merasa kebun kosongku ini adalah satu dari sedikit benteng pertahanan yang tersisa, meski tak ada yang tumbuh di sana. Aku ingin saat Elisa pulang, lahan itu sudah siap.

Tapi tahun kelima, aku berhenti mencabuti rumput. Di media sosialnya, aku melihat Elisa berfoto di hamparan kebun yang penuh bunga matahari. Dia memakai syal tebal, menggandeng laki-laki yang kelihatannya tangannya bersih dari bau pupuk kendang.

Dia sudah menanam kehidupannya di tanah orang lain. Sementara aku di sini, masih memeluk bungkus benih melati yang sudah lama patah dormansi atau mungkin sudah mati sama sekali.

Anehnya, aku tetap tidak menanam apa pun di sana. Ibu pernah menyarankan supaya aku menanam pohon alpukat saja.

“Biar ada hasilnya, Bram. Lihat itu, harga pangan makin mahal, karena pemerintah cuma fokus pada food estate yang gagal itu. Pakailah tanahmu,” katanya suatu sore sambil membawakan wedang jahe.

Aku tidak bisa menjelaskan pada Ibu bahwa menanam pohon alpukat berarti aku menghkianati Elisa. Selama tanah itu kosong, selama itu pula aku bisa berbohong pada diriku sendiri bahwa musim tanamnya hanya sedang tertunda.

Manusia memang lucu, kita lebih suka memelihara lahan bera yang gersang daripada membangun kebun baru, hanya karena kenangan lama terasa lebih akrab di kulit. Terdengar bodoh sekali.

***

Sore ini, aku duduk di teras, menatap kebun yang sekarang sudah jadi hutan kecil ilalang. Pohon kamboja di pojok kiri yang dulu hanya setinggi pinggang, sekarang sudah besar dan rimbun. Ia tumbuh liar, tak ada yang pernah melakukan pemangkasan, tapi tetap bertahan.

Aku masuk ke dalam, mengambil kotak kayu di atas meja penuh buku. Di dalamnya ada bungkusan benih melati itu. Benih ini pasti sudah kehilangan daya kecambahnya. Tidak mungkin ada kehidupan yang bisa bertahan setelah bertahun-tahun terjebak dalam plastik dan kegelapan, menunggu sebuah kepulangan yang fana.

Aku berjalan ke tengah kebun. Aku berjongkok di titik yang dulu kami tunjuk sebagai inti kebun. Tanah di bawahku keras dan kering. Aku tidak membawa sekop. Aku hanya menggunakan jari-jariku sendiri untuk mengorek tanah, membiarkan kuku-kukuku kotor dan perih. Aku membuat lubang tanam kecil, lalu merobek bungkus benih itu dengan gigi.

“Elisa,” bisikku pada angin sore yang dingin.

“Aku sudah menepati janji, sudah melakukan penanaman ini.”

Aku menaburkan benih-benih kering itu ke dalam lubang, lalu menutupnya kembali dengan tanah yang kasar. Aku tidak berharap besok akan ada tunas yang muncul. Aku menanamnya bukan untuk melihatnya mekar, tapi untuk membiarkannya kembali menyatu pada bumi.

Tahun silih berganti, aku akhirnya sadar bahwa kebun ini memang tidak pernah dimaksudkan untuk menanam melati. Kebun ini adalah laboratorium pribadiku untuk melatih kesabaran, tempat untuk memahami bahwa ada beberapa hal yang lebih indah saat dibiarkan menjadi rencana di atas kertas daripada dipaksa tumbuh di atas realita yang keras.

Aku berdiri, menepuk-nepuk debu di celanaku. Besok, aku akan memanggil tukang kebun atau menyewa traktor tangan. Aku akan menyuruhnya membabat semua ilalang ini. Berharap tanah ini kembali produktif, tidak lagi menjadi tempat penyimpanan limbah masa lalu.

Sore itu, hujan turun tipis-tipis, memberikan irigasi alami pada tanah yang baru saja kubongkar. Di bawah sana, benih-benih kering itu akhirnya bersentuhan dengan air setelah tahunan menanti.

Apakah mereka akan tumbuh? Mungkin tidak. Tapi itu bukan lagi urusanku. Tugasku untuk setia sudah lunas.

Ternyata, bagian paling melegakan dari sebuah penantian bukanlah saat yang ditunggu datang membawa hasil panen, melainkan saat kita sadar bahwa kita sudah tidak perlu menunggu musim tanam yang itu lagi.

Dunia memang tidak pernah menjanjikan keabadian pada kelopak yang layu sebelum sempat menyapa matahari. Namun, di balik tanah yang nampak sunyi itu, ada sebuah kuburan masa lalu.

Langkah kaki kini terasa lebih ringan, meninggalkan jejak-jejak usang yang mulai tertutup debu waktu. Tidak ada lagi ruang untuk mengenang tentang keindahan yang tertunda, yang ada hanyalah tekad untuk menyirami realitas dengan keringat dan kerja keras. [T]

Penulis: Dodik Suprayogi
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Putu Intan Juliantika | Lintang Perahu Pegat

Next Post

Wisatawan Eropa Masih Menjadi Andalan Indonesia

Dodik Suprayogi

Dodik Suprayogi

Mahasiswa Magister Ilmu Ekonomi Universitas Trisakti Jakarta. Ig @dodiksuprayogi_

Related Posts

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails
Next Post
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Wisatawan Eropa Masih Menjadi Andalan Indonesia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [8]: Ketika AI Ikut Menulis: Kata-kata Tanpa Manusia

SETIAP era memiliki ancamannya masing-masing terhadap proses berpikir yang dalam. Pada masa otoritarianisme, ancamannya adalah sensor. Negara menentukan apa yang...

by Andre Syahreza
September 2, 2026
Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang
Persona

Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang

“Saya adalah seorang anak yang tumbuh tanpa kasih sayang seorang ayah,” kata Maria Margarheta Indrawati dengan wajah sendu ketika mengenang...

by Yohana Purnama Fajar
September 2, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
Mendorong Nilai-Nilai Kemanusiaan Lewat Film Pendek: Minikino Film Week 12 Bersiap Hadir di Bali dengan Perspektif Generasi Muda
Panggung

Mendorong Nilai-Nilai Kemanusiaan Lewat Film Pendek: Minikino Film Week 12 Bersiap Hadir di Bali dengan Perspektif Generasi Muda

Di tengah ketegangan geopolitik global, perpecahan, dan krisis kemanusiaan yang terus membayangi dunia hari ini, ruang pertemuan budaya yang tulus...

by Nyoman Budarsana
September 2, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

BALI DALAM “FENOMENA KUTUKAN ORANG BAIK”

— Sugi Lanus “Hukuman bagi orang-orang baik yang menolak untuk terlibat dalam politik adalah mereka akan diperintah oleh orang-orang yang...

by Sugi Lanus
September 2, 2026
Sepi Tak Berarti Tiada
Esai

Sepi Tak Berarti Tiada

DIBANDINGKAN poliklinik lain, Poliklinik Psikiatri memang lebih sepi pasien, apalagi di rumah sakit kecil. Namun, bagi saya, mereka yang memiliki...

by Angga Wijaya
September 2, 2026
Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan
Esai

Saat Daya Beli Melemah, Bisakah Keuangan Syariah Menjadi Penopang Ekonomi?

DAYA beli masyarakat menjadi salah satu cermin penting dalam melihat denyut perekonomian. Ketika masyarakat masih leluasa berbelanja, pelaku usaha memiliki...

by Muhammad Farras Hanif
September 1, 2026
Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding
Khas

Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

ADA sesuatu yang terasa ganjil ketika pertama kali melihatnya. Selonding, sebuah gamelan yang selama ini begitu dekat dengan kayu, tradisi,...

by Dian Suryantini
September 1, 2026
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik
Esai

Ketika Api Menjadi Cermin

ADA sesuatu yang terasa ganjil dari api. Ia kecil ketika kita menyalakan kompor. Ia jinak ketika berada di tungku. Ia...

by Ahmad Sihabudin
September 1, 2026
Ulam Carik, Jejak Kuliner Persawahan dalam Tanah Lot Art and Food Festival VI 2026
Kuliner

Ulam Carik, Jejak Kuliner Persawahan dalam Tanah Lot Art and Food Festival VI 2026

UDARA pagi terasa panas ketika rangkaian Tanah Lot Art and Food Festival VII 2026 memasuki penghujung acara. Usai menutup festival,...

by Nyoman Budarsana
September 1, 2026
Apakah Buku Fisik Masih Asik?
Esai

Apakah Buku Fisik Masih Asik?

KITA mungkin mengingat bahwa pandemi membekaskan banyak hal dalam kehidupan hari ini. Saat-saat dimana secara fisik tubuh kita diharuskan terpisah...

by Made Chandra
August 31, 2026
Dongeng Sebelum Tidur: Simfoni Abu-Abu di Pelataran Kota
Esai

Dongeng Sebelum Tidur: Simfoni Abu-Abu di Pelataran Kota

KOTA ini tidak pernah benar-benar tidur; ia hanya ditenangkan oleh dongeng-dongeng yang ditulis oleh jemari tak berwajah. Di atas aspalnya...

by Wayan Gde Yudane
August 31, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co