3 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

Dodik Suprayogi by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
in Cerpen
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

Ilustrasi tatkala.co | Canva

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar.

“Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan nganggur, awas nanti disita negara loh,” kata Pak RT setiap kali lewat sambil membawa cangkul.

Aku, Bram Prayogi, hanya tersenyum tipis. Di kampung ini, menjadi diam adalah satu-satunya cara untuk menjaga rahasia tetap menjadi milik sendiri.

Semua orang berkata, bahwa tanah adalah investasi atau sekadar media tanam untuk komoditas yang harga pasarnya pas-pasan. Tapi bagiku, kebun itu adalah sebuah monumen. Sebuah pengingat paling nyata tentang bagaimana rasanya menunggu sesuatu yang sebenarnya sudah lama mati di kepala, tapi tetap tumbuh di dada.

Kebun itu tidak pernah ditanami, bukan karena aku malas, melainkan karena aku terlalu setia pada sebuah rencana lama dengan seseorang.

Sebelas tahun lalu, aku dan Elisa berdiri di sana. Aku adalah mahasiswa pertanian, sedangkan dia adalah mahasiswa ilmu komunikasi. Saat itu, kami sering berdiskusi panas di kantin tentang bagaimana komunikasi pemerintah kita yang banyak blunder.

Elisa membawa sebungkus benih melati yang katanya dia beli dari toko bunga paling mahal di pusat kota. Dia memegangnya seolah itu adalah varietas unggul paling berharga di dunia.

“Jangan ditanam sekarang, ya, Bram,” katanya sambil mengerucutkan bibir, gaya andalannya yang selalu membuatku menyerah pada permintaan apa pun tanpa syarat.

“Tunggu aku selesai magang di Bandung. Aku mau kita yang menyiapkan bedengannya bareng, kita yang melakukan transplanting ke tanah sama-sama. Biar melatinya tahu kalau dia punya insinyur pertanian yang bakal jaga nutrisinya sampai mekar.”

Aku tertawa, menganggapnya puitis yang agak berlebihan bagi seseorang yang biasanya berkutat dengan gaya komunikasi dan analisis kebijakan publik, tapi aku mengangguk mantap.

Aku berjanji, bagi seorang laki-laki bernama Bram Prayogi, yang tidak punya banyak hal untuk dibanggakan selain integritasnya, janji adalah satu-satunya harga diri yang aku miliki. Aku tidak tahu bahwa sore itu adalah terakhir kalinya aku melihat rona yang sama di matanya.

***

Bulan-bulan pertama, telepon kami adalah irama rindu yang konon terdengar candu. Tapi pelan-pelan, Bandung mengubah frekuensi suaranya. Elisa mulai bicara soal lembur di kantor yang tak ada hubungannya dengan jobdesknya.

Jarak itu bukan cuma soal kilometer, ternyata. Jarak adalah saat kita masih punya nomor telepon yang sama, tapi tidak punya alasan lagi untuk sekadar mengetik apa kabar.

Tahun kedua, aku masih rajin melakukan penyiangan, mencabuti rumput liar agar tidak terjadi kompetisi hara di kebun itu. Aku merasa kebun kosongku ini adalah satu dari sedikit benteng pertahanan yang tersisa, meski tak ada yang tumbuh di sana. Aku ingin saat Elisa pulang, lahan itu sudah siap.

Tapi tahun kelima, aku berhenti mencabuti rumput. Di media sosialnya, aku melihat Elisa berfoto di hamparan kebun yang penuh bunga matahari. Dia memakai syal tebal, menggandeng laki-laki yang kelihatannya tangannya bersih dari bau pupuk kendang.

Dia sudah menanam kehidupannya di tanah orang lain. Sementara aku di sini, masih memeluk bungkus benih melati yang sudah lama patah dormansi atau mungkin sudah mati sama sekali.

Anehnya, aku tetap tidak menanam apa pun di sana. Ibu pernah menyarankan supaya aku menanam pohon alpukat saja.

“Biar ada hasilnya, Bram. Lihat itu, harga pangan makin mahal, karena pemerintah cuma fokus pada food estate yang gagal itu. Pakailah tanahmu,” katanya suatu sore sambil membawakan wedang jahe.

Aku tidak bisa menjelaskan pada Ibu bahwa menanam pohon alpukat berarti aku menghkianati Elisa. Selama tanah itu kosong, selama itu pula aku bisa berbohong pada diriku sendiri bahwa musim tanamnya hanya sedang tertunda.

Manusia memang lucu, kita lebih suka memelihara lahan bera yang gersang daripada membangun kebun baru, hanya karena kenangan lama terasa lebih akrab di kulit. Terdengar bodoh sekali.

***

Sore ini, aku duduk di teras, menatap kebun yang sekarang sudah jadi hutan kecil ilalang. Pohon kamboja di pojok kiri yang dulu hanya setinggi pinggang, sekarang sudah besar dan rimbun. Ia tumbuh liar, tak ada yang pernah melakukan pemangkasan, tapi tetap bertahan.

Aku masuk ke dalam, mengambil kotak kayu di atas meja penuh buku. Di dalamnya ada bungkusan benih melati itu. Benih ini pasti sudah kehilangan daya kecambahnya. Tidak mungkin ada kehidupan yang bisa bertahan setelah bertahun-tahun terjebak dalam plastik dan kegelapan, menunggu sebuah kepulangan yang fana.

Aku berjalan ke tengah kebun. Aku berjongkok di titik yang dulu kami tunjuk sebagai inti kebun. Tanah di bawahku keras dan kering. Aku tidak membawa sekop. Aku hanya menggunakan jari-jariku sendiri untuk mengorek tanah, membiarkan kuku-kukuku kotor dan perih. Aku membuat lubang tanam kecil, lalu merobek bungkus benih itu dengan gigi.

“Elisa,” bisikku pada angin sore yang dingin.

“Aku sudah menepati janji, sudah melakukan penanaman ini.”

Aku menaburkan benih-benih kering itu ke dalam lubang, lalu menutupnya kembali dengan tanah yang kasar. Aku tidak berharap besok akan ada tunas yang muncul. Aku menanamnya bukan untuk melihatnya mekar, tapi untuk membiarkannya kembali menyatu pada bumi.

Tahun silih berganti, aku akhirnya sadar bahwa kebun ini memang tidak pernah dimaksudkan untuk menanam melati. Kebun ini adalah laboratorium pribadiku untuk melatih kesabaran, tempat untuk memahami bahwa ada beberapa hal yang lebih indah saat dibiarkan menjadi rencana di atas kertas daripada dipaksa tumbuh di atas realita yang keras.

Aku berdiri, menepuk-nepuk debu di celanaku. Besok, aku akan memanggil tukang kebun atau menyewa traktor tangan. Aku akan menyuruhnya membabat semua ilalang ini. Berharap tanah ini kembali produktif, tidak lagi menjadi tempat penyimpanan limbah masa lalu.

Sore itu, hujan turun tipis-tipis, memberikan irigasi alami pada tanah yang baru saja kubongkar. Di bawah sana, benih-benih kering itu akhirnya bersentuhan dengan air setelah tahunan menanti.

Apakah mereka akan tumbuh? Mungkin tidak. Tapi itu bukan lagi urusanku. Tugasku untuk setia sudah lunas.

Ternyata, bagian paling melegakan dari sebuah penantian bukanlah saat yang ditunggu datang membawa hasil panen, melainkan saat kita sadar bahwa kita sudah tidak perlu menunggu musim tanam yang itu lagi.

Dunia memang tidak pernah menjanjikan keabadian pada kelopak yang layu sebelum sempat menyapa matahari. Namun, di balik tanah yang nampak sunyi itu, ada sebuah kuburan masa lalu.

Langkah kaki kini terasa lebih ringan, meninggalkan jejak-jejak usang yang mulai tertutup debu waktu. Tidak ada lagi ruang untuk mengenang tentang keindahan yang tertunda, yang ada hanyalah tekad untuk menyirami realitas dengan keringat dan kerja keras. [T]

Penulis: Dodik Suprayogi
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Putu Intan Juliantika | Lintang Perahu Pegat

Next Post

Wisatawan Eropa Masih Menjadi Andalan Indonesia

Dodik Suprayogi

Dodik Suprayogi

Mahasiswa Magister Ilmu Ekonomi Universitas Trisakti Jakarta. Ig @dodiksuprayogi_

Related Posts

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

by Sigit Susanto
October 18, 2026
0
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

Read moreDetails

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails
Next Post
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Wisatawan Eropa Masih Menjadi Andalan Indonesia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

COCA Ubud, Merajut Musik, Film, Kuliner, dan Seni dalam Satu Rumah Kreatif
Pariwisata

COCA Ubud, Merajut Musik, Film, Kuliner, dan Seni dalam Satu Rumah Kreatif

DI Ubud, pengalaman menikmati musik, menonton film, menyantap hidangan, dan mengapresiasi seni kini memiliki satu ruang pertemuan. Namanya COCA Ubud....

by tatkala
November 3, 2026
Peringati Bulan Bahasa dan Sumpah Pemuda, Prima Mandiri School Asah Kreativitas dan Keberanian Siswa Lewat Berbagai Lomba
Pendidikan

Peringati Bulan Bahasa dan Sumpah Pemuda, Prima Mandiri School Asah Kreativitas dan Keberanian Siswa Lewat Berbagai Lomba

TIGA bendera kecil terangkat hampir bersamaan. Pertanyaan demi pertanyaan menguji ketangkasan para peserta. Ada yang sigap menjawab, ada pula yang...

by Dede Putra Wiguna
November 3, 2026
Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam
Esai

Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam

BAHASA masyarakat tradisional menyimpan cara pandang yang khas dalam memahami dunia. Alam tidak hanya menjadi ruang tempat manusia hidup dan...

by I Ketut Suar Adnyana
November 3, 2026
Road to Bali Digifest 2026, UPMI Bali Dorong Mahasiswa Berani Berinovasi
Pendidikan

Road to Bali Digifest 2026, UPMI Bali Dorong Mahasiswa Berani Berinovasi

KECERDASAN buatan atau artificial intelligence (AI) semakin dekat dengan kehidupan mahasiswa. Teknologi ini menawarkan kemudahan dalam belajar dan berkarya. Namun,...

by Dede Putra Wiguna
November 3, 2026
Tak Sekadar Memburu Juara, Jurnalis Muda Bali Belajar Memaknai Fakta di Pekan Jurnalistik UPMI Bali 2026
Pendidikan

Tak Sekadar Memburu Juara, Jurnalis Muda Bali Belajar Memaknai Fakta di Pekan Jurnalistik UPMI Bali 2026

FAKTA bisa menjadi cerita yang menggugah ketika berada di tangan yang tepat. Semangat itulah yang mengemuka dalam Pekan Jurnalistik Universitas...

by Dede Putra Wiguna
November 3, 2026
Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026
Esai

Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

PADA hari ketika manusia diajak menegakkan pagar, sebuah panggung kebudayaan justru dibuka selebar-lebarnya. Rabu, 4 November 2026, menjadi sebuah momentum...

by I Gusti Made Darma Putra
November 2, 2026
Poem by Sugi Lanus | Yamuna
Poetry

Poem by Sugi Lanus | Yamuna

My Yamuna, I bow down to your love,which has kept me awake while drowning in your flow for thousands of...

by Sugi Lanus
November 2, 2026
Bentrok Tafsir: Ketika Teks Membelah Persepsi — Membicarakan Cerpen “Ketika Kentongan Dipukul di Balai Banjar” karya I Nyoman Rasta Sindhu
Kritik Sastra

Bentrok Tafsir: Ketika Teks Membelah Persepsi — Membicarakan Cerpen “Ketika Kentongan Dipukul di Balai Banjar” karya I Nyoman Rasta Sindhu

SATU cerpen mampu menghasilkan dua tafsir yang saling bertolak belakang. Fenomena ini muncul dan menarik perhatian saya ketika melakukan penilaian...

by I Kadek Adhi Dwipayana
November 2, 2026
Hal-Hal Tak Biasa dari Lontar “Kidung Bhuwana Wināśa” sebagai “Memory of the World”
Kritik Sastra

Hal-Hal Tak Biasa dari Lontar “Kidung Bhuwana Wināśa” sebagai “Memory of the World”

Sejarah Ditulis oleh Korban yang Kalah Karya sastra Kidung Bhuwana Wināśa ‘Nyanyian Kehancuran Dunia’ yang ditulis oleh Ida Pedanda Ngurah...

by Putu Eka Guna Yasa
November 2, 2026
Musik, Agama dan Politik
Esai

Musik, Agama dan Politik

ADA sebuah pertanyaan sederhana yang menggelitik di tengah polemik konser Andrea Bocelli di Indonesia: apakah musik itu punya identitas agama...

by Agung Sudarsa
November 2, 2026
Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur
Pameran

Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur

SUASANA ARTOTEL Sanur Bali tampak ramai pada Jumat (30/10/2026). Sejumlah pengunjung, baik masyarakat lokal maupun wisatawan mancanegara, terlihat mengamati berbagai...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional
Khas

“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional

CAHAYA lilin menerangi meja-meja yang dihiasi bunga. Para staf menyambut tamu yang berdatangan, sementara aroma hidangan perlahan mengisi ruang makan...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co