MASA tinggal terlama wisatawan mancanegara (wisman) di Indonesia didominasi oleh wisatawan asal negara-negara Eropa. Hal ini menunjukkan bahwa wisatawan Eropa betah tinggal di Indonesia, dan karenanya masih menjadi andalan sektor pariwisata Indonesia.
Berdasarkan data yang bersumber dari Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2025 sebagaimana dikutip GoodStats (10/3/2026), Rusia menempati urutan pertama masa tinggal di Indonesia, yaitu 24,39 hari. Berikutnya wisatawan asal Belanda lama tinggalnya 19,81 hari, Jerman 17,45 hari, Swiss 17,32, Denmark 17,21, Norwegia 16,77, Prancis 16,72, Belgia 16,62, dan Swedia 16, 52 hari.
Lama tinggal wisawatan Eropa yang rata-rata di atas 16 hari itu tentunya sangat menguntungkan bagi Indonesia. Semakin lama wisatawan tinggal di Indonesia, semakin banyak destinasi wisata yang akan dikunjungi, dan semakin banyak pengeluaran yang dibelanjakan selama berwisata. Sektor pariwisata bergairah, transportasi dan akomodasi terdampak secara positif.
Banyak faktor yang memberi kemudahan bagi wisatawan sehingga memiliki masa tinggal yang panjang. Aksesibilitas dan konektivitas secara perlahan mengalami perbaikan, terutama jalur udara. Dari total kunjungan pada 2025, mayoritas wisatawan mancanegara masuk ke Indonesia melalui pintu udara atau dengan moda angkutan udara.
Tercatat, jumlah kunjungan melalui pintu udara mencapai 10,81 juta kunjungan atau berkontribusi sebesar 70,31% dari total kunjungan wisman pada 2025. Jumlah kunjungan wisman yang masuk melalui pintu udara terus mengalami peningkatan dan masih mendominasi dibandingkan pintu masuk laut maupun darat (Bisnis.com, 9/3/2026).
Keberadaan jaringan rute maskapai asing menjadi faktor strategis dalam meningkatkan arus kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia lewat udara. Pengaruh jaringan maskapai asing terhadap arus wisatawan asing ke Indonesia sangat signifikan, apalagi dengan adanya penerbangan langsung (direct flight) dari negara-negara Eropa ke Indonesia.
Dominasi kapasitas kursi pada penerbangan internasional yang dioperasikan maskapai asing dapat mendorong mobilitas wisman menuju berbagai destinasi di Tanah Air. Kehadiran maskapai asing juga mampu menutup keterbatasan maskapai domestik yang memiliki pangsa pasar dan jangkauan rute internasional yang relatif terbatas, sehingga pasar pariwisata Indonesia menjadi lebih mudah dijangkau wisatawan dari berbagai negara (Chusmeru, 9/3/2026).
Selain itu, jaringan maskapai asing juga menciptakan persaingan yang lebih ketat di industri penerbangan internasional. Kondisi tersebut berpotensi menekan harga tiket penerbangan sehingga meningkatkan daya beli wisatawan Eropa untuk berkunjung ke Indonesia, selama tetap diimbangi dengan standar pelayanan yang optimal.
Di sisi lain, keberadaan maskapai asing turut memperkuat konektivitas pariwisata Indonesia dengan berbagai kota di benua Eropa, sehingga aksesibilitas Indonesia sebagai destinasi wisata global menjadi semakin terbuka. Kehadiran maskapai asing meningkatkan konektivitas pariwisata Indonesia dengan pasar Eropa. Aksesibilitas Indonesia sebagai destinasi wisata dunia semakin mudah dikunjungi wisman Eropa.
Preferensi Wisatawan Eropa
Wisatawan Eropa termasuk wisatawan elite yang memiliki preferensi berwisata berbeda dengan wisatawan dari negara lain. Bukan hanya lama tinggal yang panjang, wisatawan Eropa juga memiliki pengeluaran (spending money) yang tinggi. Maka layak bila wisatawan Eropa menjadi andalan bagi pertumbuhan pariwisata Indonesia.
Faktor yang paling menjadi pertimbangan wisatawan Eropa berkunjung adalah ikim tropis Indonesia yang dianggap eksotis. Iklim semacam ini didukung oleh pantai, pegunungan, dan air terjun yang menawan, yang sangat relate dengan motivasi kunjungan wisata, yaitu escape dari rutinitas kerja.
Setelah iklim dan alam, wisatawan Eropa juga sangat tertarik budaya, tradisi, dan objek wisata sejarah yang ada di Indonesia. Bali, Lombok, Toraja, Yogya, menjadi destinasi wisata yang diminati wisatawan Eropa karena budaya dan tradisinya. Situs sejarah Borobudur dan Prambanan juga banyak dikunjungi.
Faktor keramahtamahan penduduk Indonesia dan keamanan menjadi pertimbangan bagi wisatawan Eropa berkunjung ke Indonesia. Sikap ramah tamah dan kondisi negara yang aman membuat wisatawan merasa nyaman dan betah tinggal lama di Indonesia. Konflik politik yang terjadi di Indonesia tidak sampai menimbulkan gangguan keamanan bagi wisatawan.
Kuliner yang khas Indonesia juga menjadi daya tarik wisatawan Eropa, terutama yang berbahan rempah khas Indonesia, seperti nasi Padang, Gudeg Yogya, dan ayam Betutu Bali. Selain kuliner, Indonesia menjadi destinasi yang ramah keluarga bagi wisatawan Eropa. Destinasi wisata seperti Bali dan Yogya sangat ramah keluarga bagi wisatawan Eropa.
Faktor yang cukup menentukan juga adalah masalah harga produk wisata Indonesia yang tergolong murah bagi wisatawan Eropa. Biaya hotel, restoran, dan transportasi di Indonesia masih sangat ramah di kantong wisatawan Eropa. Nilai mata uang Eropa lebih kuat dibanding nilai tukar rupiah, sehingga produk wisata Indonesia dinilai masih murah bagi mereka.
Langkah Strategis
Bukan hanya lama tinggal, strategi pengembangan pariwisata Indonesia juga perlu menyasar pengeluaran wisatawan. Untuk itu diperlukan langkah-langkah strategis. Promosi yang masif di berbagai media tentang potensi pariwisata Indonesia penting dilakukan dengan melibatkan para influencer yang mempunyai jumlah pengikut hingga jutaan orang.
Diplomasi kebudayaan dan ekonomi perlu dilakukan secara berkelanjutan oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia di berbagai negara Eropa dengan upaya peningkatan kunjungan wisata ke Indonesia. Selain itu dapat pula melibatkan para diaspora yang tinggal di negara-negara Eropa.
Untuk meningkatkan lama tinggal dan pengeluaran wisatawan, diperlukan diversifikasi objek dan daya tarik wisata di beberapa destinasi wisata favorit agar tidak menimbulkan kejenuhan. Perlu juga dirancang agenda event sosial, budaya, dan olah raga yang berskala internasional yang sesuai dengan karakteristik wisatawan Eropa.
Wisatawan Eropa sangat sensitif terhadap kemacetan lalu lintas dan persoalan sampah. Pemerintah perlu membuat kebijakan yang dapat mengurai kemacetan lalu lintas dan mengatasi polusi sampah di beberapa destinasi. Kemacetan lalu lintas dan sampah membuat wisatawan tidak nyaman dan berpengaruh terhadap masa tinggal.
Kebijakan Bebas Visa Kunjungan bagi wisatawan negara-negara Eropa perlu diperluas dan bila memungkinan diperpanjang durasi masa berlakunya. Sehingga wisatawan Eropa bisa lebih lama tinggal di Indonesia dengan berkunjung ke beberapa destinasi wisata.
Kebijakan di sektor pariwisata yang berkaitan dengan quality tourism dan sustainable tourism harus konsisten diterapkan, karena wisatawan Eropa sangat concern terhadap isu keberlanjutan lingkungan. Semua langkah strategis tersebut bukan semata untuk meningkatkan lama tinggal dan pengeluaran wisatawan Eropa, tetapi juga upaya mempertahankan citra positif pariwisata Indonesia. [T]
Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole






























