16 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menakar Isi Piring, Meruntuhkan Dinding Sakral  —Narasi Domestik Sebagai Episentrum Perlawanan Politis Perupa Perempuan Bali

Oka Rusmini by Oka Rusmini
June 15, 2026
in Ulas Rupa
Menakar Isi Piring, Meruntuhkan Dinding Sakral  —Narasi Domestik Sebagai Episentrum Perlawanan Politis Perupa Perempuan Bali

Oka Rusmini bersama tiga perempuan pelukis saat pameran | Foto: Ist

SEBUAH pertanyaan tidak pernah lahir dari ruang hampa. Di balik kalimat pendek, “What’s for Dinner?” atau “Mau makan malam apa?”, yang kerap mengudara di penghujung hari, ada tubuh perempuan yang terus-menerus bergerak, menakar, dan menanggung beban domestik yang berlapis. Bagi masyarakat patriarki, meja makan adalah lambang kemapanan, harmoni, dan ketenteraman kosmis. Namun di bawah permukaan estetika yang rapi itu, ia adalah medan pertempuran batin, wilayah kerja tanpa upah, sekaligus ruang sunyi tempat pengorbanan dikunyah habis setiap hari.

Gagasan pameran ini menemukan akar spiritual dan konseptualnya yang kokoh dari bait-bait puisi dalam buku kumpulan puisi Saiban karya Oka Rusmini. Sebagai teks penuntun, Saiban—yang secara harfiah merujuk pada ritual persembahan makanan sehari-hari masyarakat Bali sebelum dinikmati—telah lebih dulu membongkar bagaimana ruang domestik, dapur, dan makanan adalah wilayah sakral sekaligus penuh represi bagi perempuan. Energi puitis dari teks Saiban inilah yang merembes ke dalam kanvas, mematangkan visi, dan memberi cetakan ide yang kuat bagi para perupa. Kolaborasi ini menjadi begitu organik dan bertenaga justru karena ia mempertemukan ketajaman teks dengan keliaran kuas serta kedalaman warna, melahirkan dialog interdisipliner yang solid antara sastra dan seni rupa.

Karya-karya pada pameran kolaboratif tiga perupa perempuan berbasis di Bali di Artotel Sanur | Foto: Ist

Pameran kolaboratif tiga perupa perempuan berbasis di Bali—Sandat Wangi, Mira El Amir, dan Dyah Ayu Wulandari (Wellwul)—yang terekam dalam Katalog Pameran Seni Rupa: Trio Art Exhibition “What’s for Dinner?” (Sandat Wangi, Mira El Amir, Wellwul), Juni 2026. Esai Kuratorial oleh Savitri Sastrawan. Dan saya buka dengan pidato kecil pada tanggal 8 Juni 2026.

Bagi saya pameran ini tidak sedang sekadar bicara tentang urusan urakan dapur atau pemenuhan biologis semata. Lewat kacamata feminisme yang menggugat—feminisme yang tidak silau oleh mistifikasi adat dan “kekudusan” tradisional yang menindas—pameran yang berlangsung dari 8 Juni hingga 8 Agustus 2026 di Artotel Sanur ini adalah sebuah pemberontakan kreatif yang intim. Mereka membongkar ritual keseharian yang dianggap sepele, lalu menggunakannya sebagai senjata untuk merebut kembali agensi tubuh, otoritas suara, dan kedaulatan perempuan.

Menolak Menjadi Liyan

Untuk menakar urgensi pameran “What’s for Dinner?”, kita tidak bisa melepaskannya dari bentang sejarah seni rupa kita yang sekian lama didominasi oleh narasi maskulin. Jika kita mundur sejenak, sejarah formal—mulai dari era Persagi pada tahun 1930-an hingga riuh rendahnya sanggar-sanggar pasca-kemerdekaan—kerap menempatkan perempuan hanya sebagai objek estetis. Perempuan adalah model, moleknya lekuk tubuh, penari yang eksotis, atau bagian dari lanskap alam yang romantis. Perempuan sebagai subjek pencipta harus merebut ruangnya dengan kerja keras yang berlipat ganda.

Suasana pameran kolaboratif tiga perupa perempuan berbasis di Bali di Artotel Sanur | Foto: Ist

Di tingkat nasional, kita berutang pada para perintis seperti Emiria Sunassa yang berani mendobrak kanon pada masanya, lalu disusul oleh generasi Kartika Affandi, Siti Ruliyati, hingga gerakan seni rupa kontemporer era 1990-an yang mulai mencairkan batas-batas medium. Namun di Bali, struktur komunal dan jerat adat memberikan tantangan yang jauh lebih spesifik dan berlapis bagi perupa perempuan.

Menjadi seniman perempuan di Bali bukan sekadar urusan memegang kuas, mencampur pigmen, atau memahat di atas kanvas. Ini adalah proses negosiasi tiada henti yang melelahkan antara tuntutan domestik, tanggung jawab ritual adat (makarya), dan dorongan ekspresi pribadi.                               

Maka, ketika Wellwul, Mira, dan Sandat Wangi hadir dengan konsistensi kerja bersama selama lima tahun terakhir, mereka tidak sedang berdiri di ruang hampa. Pameran ini adalah kelanjutan dari rantai perlawanan estetis para pendahulunya yang menolak menjadi “liyan” (the other) di tanah mereka sendiri.

Otoritas, Mistisisme, dan Brutalitas Ekologis

Pameran ini membalikkan cara pandang patriarki yang meremehkan ruang domestik sebagai wilayah sekunder yang sunyi dari pemikiran besar. Ketiga perupa ini justru membuktikan bahwa dapur dan meja makan adalah episentrum dari pergolakan batin dan politik tubuh yang paling radikal.

Karya-karya Sanfat Wangi | Foto: Ist

Sandat Wangi membuka narasi ini dari wilayah paling awal: pagi hari. Doktrin patriarki tradisional kerap menuntut perempuan untuk bersiap sejak fajar demi melayani seluruh isi rumah. Namun, Sandat mendekonstruksi ritme ini lewat prinsip “good dinner begins in the morning”.

Melalui goresan garis halus (fine line) dan figur-figur khasnya yang merawat bunga baby blue, morning glory, hingga tapak dara, ia membalikkan logika pelayan menjadi penguasa atas ruangnya sendiri. Bagi Sandat, makanan adalah nutrisi agar seluruh organ bekerja dengan baik—sebuah bekal dalam menggapai tujuan dan kesiapan diri. Proses berkebun dan menyiapkan makanan diubahnya menjadi ritus pemulihan otoritas tubuh: sebuah proses pendewasaan dan pemenuhan bagi diri sendiri terlebih dahulu, sebelum dipaksa siap menghadapi tuntutan luar dalam lembaran baru pernikahan. Tubuh perempuan di sini bertindak sebagai kurator kehidupan yang otonom.

Gugatan yang lebih transparan, magis, dan mistis hadir dalam karya Mira El Amir. Di Bali, perempuan adalah arsitek utama di balik estetika sesajen; mereka adalah penjaga spiritualitas yang sunyi namun tubuhnya dipahat oleh kelelahan. Mira melihat meja makan layaknya altar sesajen modern—sebuah wilayah di mana kasih sayang berjalin kelindan dengan kebosanan dan beban kebudayaan yang mematikan. Tindakan menyajikan makanan digeser dari sekadar kewajiban gender menjadi sebuah otoritas sakral untuk merawat peradaban dari unit terkecil.

Lewat sapuan warna terang bermedium kontemporer dan goresan garis pendek, Mira menghadirkan figur Barong Mother. Ini adalah metafora yang brutal sekaligus jujur: sosok ibu dipaksa menjadi ‘Barong’—penjaga keseimbangan kosmis antara terang dan gelap, yang menanggung seluruh beban emosional keluarga hingga mengalami kematian-kematian kecil (loss of self) demi menjaga nyala kehidupan rumah tangga. Dengan menyisipkan aksara Bali dan simbol spiritual leluhur, Mira merebut kembali ruang sakral tersebut. Ia menegaskan bahwa tubuh perempuan bukanlah alat reproduksi budaya yang pasif, melainkan medan perlawanan politik yang nyata dan berdaya.

Oka Rusmini (penulis) saat membuka pameran | Foto: Ist

Mira El Amir (kiri)

Sandat Wangi (kanan)

Dyah Ayu Wulandari “Wellwul” (kanan)

Sementara Wellwul menarik benturan ini keluar, menabrakkan narasi domestik dengan brutalitas sosio-kultural dan cengkeraman industrialisasi. Perempuan kerap kali menjadi korban pertama ketika alam dirusak dan pangan dikomodifikasi. Wellwul mengajukan pertanyaan eksistensial yang tajam: “Bagaimana mengolahnya?” agar hidup dan karya dapat dinikmati sesuai dengan apa yang kita harapkan.

Lewat garis ekspresif dan palet warna yang terbatas, seri karyanya seperti Behind the Plate dan Pesta Plastik di Muara menyoroti bagaimana keserakahan industri (seperti ekspansi kelapa sawit) telah merusak ruang hidup, sementara masyarakat modern terjebak dalam budaya konsumtif yang rakus—melahap gosip, informasi, hingga sampah plastik kemasan tanpa jeda. Bagi Wellwul, momen makan malam adalah ruang krusial untuk berhenti: sebuah jeda untuk menginterogasi kembali apa yang telah masuk ke dalam tubuh kita, dan sejauh mana kita ikut andil dalam kerusakan alam di luar piring kita.

Solidaritas Saling Sulang: Politik Etika Merawat (Caring)

Pameran ini mencapai puncaknya pada karya kolaborasi yang diberi judul Saling Sulang. Selama lima hari di Karangasem, ketiga perupa ini berkumpul, menurunkan ego penciptaan individu, dan berkarya bersama dalam satu kanvas spiritual.

Di tengah struktur sosial yang sering kali mengadu domba sesama perempuan demi status adat, kasta, atau standarisasi domestik, Saling Sulang hadir sebagai bentuk solidaritas politik perempuan (sisterhood). Mereka tidak sekadar berbagi ruang fisik, melainkan saling menutrisi, menguatkan, dan merayakan agensi kolektif mereka sebagai sesama subjek yang berdaulat.

Apa yang mungkin dianggap sepele oleh sejarah besar—mengiris bawang, menakar garam, menghidangkan mangkuk—oleh ketiga perupa ini diangkat menjadi sebuah “ritual” penciptaan. Ini adalah tindakan-tindakan kecil yang penuh makna. Sebuah simbolisasi tentang “merawat” (caring) yang kini menjadi diskursus penting dalam kritik seni kontemporer dan gerakan gender dunia.

Savitri Sastrawan (nomor dua dari kiri) bersama tiga perempuan pelukis | Foto: Ist

Di tengah riuhnya perdebatan teoritis tentang keperempuanan yang kerap berjarak di menara gading, pameran “What’s for Dinner?” menjadi sangat kuat justru karena ia membumi. Ia mengembalikan teori-teori gender yang rumit itu ke dalam pengalaman yang paling dekat, paling intim, dan paling jujur dari tubuh mereka sendiri. Menyajikan makanan, pada akhirnya, adalah cara mereka merepresentasikan diri. Ini bukan bentuk ketundukan pasrah pada slogan klasik sumur-dapur-kasur, melainkan sebuah proklamasi: bahwa dari ruang domestik inilah mereka saling mengingatkan, menguatkan, mendukung, dan merawat bersama ke depannya.

Pameran ini adalah sebuah dekolonisasi pikiran dari struktur patriarki yang telah membeku selama ribuan tahun dalam tatanan teologis maupun sosiologis. Sandat Wangi, Mira El Amir, dan Wellwul telah membuktikan dengan bertenaga bahwa urusan domestik, isi piring, dan tubuh perempuan tidak pernah sepele. Mereka adalah pusat perlawanan, sebuah kuali sejarah yang diaduk dengan kesadaran penuh untuk meruntuhkan dinding-dinding kekudusan semu yang selama ini memenjarakan suara perempuan.

Selamat atas lima tahun kerja kultural yang sunyi namun meledak ini. Meja makan telah resmi menjadi mimbar politik yang sah. [T]

Padangsabian Kelod, Denpasar, Juni 2026

Tags: Artotel SanurOka RusminiPameranPameran Seni RupaPerempuanperempuan pelukis
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Wisatawan Eropa Masih Menjadi Andalan Indonesia

Next Post

Akurasi Sendratari ‘Lubdhaka Lelana’ Merefleksikan Tema ‘Atma Kerthi’ dalam PKB 2026

Oka Rusmini

Oka Rusmini

Sastrawan & Jurnalis

Related Posts

Kekuatan Warna, I Wayan Santrayana dan I Wayan Gede Budayana

by Hartanto
August 13, 2026
0
Kekuatan Warna, I Wayan Santrayana dan I Wayan Gede Budayana

MASIH berlanjut soal pameran The Power of Colours , perhelatan ini berlangsung 25 hingga 31 Agustus mendatang. Pameran digelar  di...

Read moreDetails

Kekuatan Warna Made Gunawan, I Ketut Suasana Kabul, dan I Ketut Suwidiarta

by Hartanto
August 11, 2026
0
Kekuatan Warna Made Gunawan, I Ketut Suasana Kabul, dan I Ketut Suwidiarta

PADA tanggal 25 hingga 31 Agustus mendatang akan digelar pameran seni rupa yang bertajuk The Power of Colour. Pameran akan...

Read moreDetails

Naif Karya Noe, Naif Karya Suklu

by I Wayan Sujana Suklu
August 11, 2026
0
Naif Karya Noe, Naif Karya Suklu

---Catatan seorang seniman tentang ketidaktahuan, pengetahuan, dan keberanian menggambar kembali Noe mengambar karena belum mengenal aturan, saya menjadi naif karena...

Read moreDetails

Bhisma yang Tak Pernah Mati di Kurukshetra: Membaca “Satya–Tyagya–Dharma” Karya Prof. Dr. Drs. I Wayan Suardana, M.Sn.

by Angga Wijaya
August 7, 2026
0
Bhisma yang Tak Pernah Mati di Kurukshetra: Membaca “Satya–Tyagya–Dharma” Karya Prof. Dr. Drs. I Wayan Suardana, M.Sn.

DI Bali, mitos tidak pernah benar-benar menjadi masa lalu. Ia tidak hanya tinggal dalam lembar-lembar lontar atau cerita yang dituturkan...

Read moreDetails

“Rumah”, Seni Instalasi Ni Nyoman Sani

by Hartanto
August 7, 2026
0
“Rumah”, Seni Instalasi Ni Nyoman Sani

PADA 10 April hingga 30 Juni 2026 lalu digelar pameran 12 Perupa Perempuan Indonesia. Perhelatan ini diinisiasi Indonesian Women Artists...

Read moreDetails

Mantra Visual Made Wiradana

by Hartanto
August 2, 2026
0
Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

Read moreDetails

SAMATRA: Membaca Isyarat-Isyarat Kecil dari Buki Gallery di Bumi Kinar Ubud

by Gustra Adnyana
July 31, 2026
0
SAMATRA: Membaca Isyarat-Isyarat Kecil dari Buki Gallery di Bumi Kinar Ubud

Di tepian aliran sungai Petanu, sebuah ruang seni baru tumbuh di tengah lanskap hijau Ubud. Buki Gallery di Bumi Kinar...

Read moreDetails

Ketika Semut Membangun Seorang Ratu—Membaca “Memayu Hayuning Bawana: Build the Queen” karya Dyan Brew

by Angga Wijaya
July 30, 2026
0
Ketika Semut Membangun Seorang Ratu—Membaca “Memayu Hayuning Bawana: Build the Queen” karya Dyan Brew

ADA perubahan yang menarik dalam lanskap seni kriya Indonesia dalam dua dekade terakhir. Jika dahulu kriya lebih sering dipahami sebagai...

Read moreDetails

Empat Jejak Abstraksi dan Figurasi Bali Kontemporer

by Hartanto
July 30, 2026
0
Empat Jejak Abstraksi dan Figurasi Bali Kontemporer

EMPAT karya dari empat pelukis Bali kontemporer yang turut berpartisipasi dalam Jogja Annual Art ke-11, yakni I Made Ruta, Ida...

Read moreDetails

Tanah yang Mengingat ——Membaca “Pataka Majapahit III” Karya Dr. Noor Sudiyati

by Angga Wijaya
July 28, 2026
0
Tanah yang Mengingat ——Membaca “Pataka Majapahit III” Karya Dr. Noor Sudiyati

TIDAK semua peninggalan masa lalu hadir sebagai bangunan megah atau artefak yang tersimpan di museum. Ada warisan yang jauh lebih...

Read moreDetails
Next Post
Akurasi Sendratari ‘Lubdhaka Lelana’ Merefleksikan Tema ‘Atma Kerthi’ dalam PKB 2026

Akurasi Sendratari ‘Lubdhaka Lelana’ Merefleksikan Tema ‘Atma Kerthi’ dalam PKB 2026

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Trilogi Cinta Puspadiana: Refleksi Kebahasaan tentang Nama dan Harapan
Bahasa

Trilogi Cinta Puspadiana: Refleksi Kebahasaan tentang Nama dan Harapan

 “Kenapa nama anakmu keindia-indiaan banget? Agak aneh rasanya.” Pertanyaan dan pernyataan itu terlontar dari seorang teman yang penasaran saat mendengar...

by I Made Sudiana
August 15, 2026
Bercakap-cakap tentang Sabung Ayam bersama Clifford Geertz
Esai

Bercakap-cakap tentang Sabung Ayam bersama Clifford Geertz

SAYA kembali membuka buku The Interpretation of Cultures karya Clifford Geertz setelah membaca sebuah berita tentang seorang lelaki yang tewas...

by Angga Wijaya
August 15, 2026
Nenden Shintawati di SUVJF 2026: Dari Penyanyi Cilik ke Jazz Kelas Dunia
Panggung

Nenden Shintawati di SUVJF 2026: Dari Penyanyi Cilik ke Jazz Kelas Dunia

SALAH satu momen menarik ketika Salamander Big Band tampil membuka Sthala Ubud Village Jazz Festival (SUVJF) 2026 pada Jumat, 7...

by Dede Putra Wiguna
August 15, 2026
Sebelum Merah Putih Berkibar, SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar Sudah Riuh Lebih Awal Lewat Panggung Ekspresi
Panggung

Sebelum Merah Putih Berkibar, SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar Sudah Riuh Lebih Awal Lewat Panggung Ekspresi

SORAK sorai suporter terdengar dari sudut aula. Tepuk tangan menyambut setiap penampilan, sementara tawa pecah di antara adegan-adegan drama yang...

by Dede Putra Wiguna
August 15, 2026
Dari Duta SMA ke Duta Besar
Esai

Dari Duta SMA ke Duta Besar

SEJAK Nadiem Makarim menjadi Mendikbud Ristekdikti, Program Duta SMA sudah diluncurkan tepatnya pada 2022 melalui  Direktorat SMA dan terus dilanjutkan...

by I Nyoman Tingkat
August 15, 2026
Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026
Tualang

Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

Ada kalanya rutinitas yang padat membuat kita ingin sejenak menjauh dari hiruk-pikuk kehidupan. Di tengah kesibukan yang seolah tidak ada...

by Laurensia Junita Della
August 15, 2026
Ubud FolkFest 2026: Menanam Seni dan Budaya untuk Masa Depan
Panggung

Ubud FolkFest 2026: Menanam Seni dan Budaya untuk Masa Depan

KETIKA suling mulai dimainkan, suasana seketika berubah. Para pemain Genjek Pondok Pekak, Ubud, bergerak dengan ekspresi yang kuat. Penari laki-laki...

by Nyoman Budarsana
August 15, 2026
Merawat “Briuk Siu”: Menghidupkan Kembali Wajah Solidaritas Kolektif di Bali
Esai

Merawat “Briuk Siu”: Menghidupkan Kembali Wajah Solidaritas Kolektif di Bali

MASYARAKAT Bali sejak lama dikenal memiliki fondasi sosial yang sangat kuat, yang hidup dan bernapas melalui nilai-nilai gotong royong tradisional....

by Nur Kamilia
August 14, 2026
AWINDO Perkuat Legalitas UMKM Disabilitas, Pelatihan Dilanjutkan Pendampingan
Pendidikan

AWINDO Perkuat Legalitas UMKM Disabilitas, Pelatihan Dilanjutkan Pendampingan

Asosiasi Wirausaha Inklusif Indonesia (AWINDO) memperkuat dukungan bagi pelaku UMKM disabilitas melalui training legalitas usaha. Kegiatan ini menjadi bagian dari...

by Angga Wijaya
August 14, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Kalau Kecerdasan Bukan dari Sekolah, Buat Apa Bangun Sekolah?

ADA kalimat Presiden Prabowo Subianto yang menarik perhatian saya. Bukan karena saya hendak meributkan atau memperdebatkan benar-salahnya. Jauh dari soal...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 14, 2026
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik
Esai

Merdeka: Dari Pekik ke Pengabdian

TUJUH Belas Agustus selalu datang dengan warna merah putih, upacara, lomba, pidato, lagu-lagu perjuangan, dan pekik Merdeka! Tahun ini kita...

by Ahmad Sihabudin
August 14, 2026
Kekuatan Warna, I Wayan Santrayana dan I Wayan Gede Budayana
Ulas Rupa

Kekuatan Warna, I Wayan Santrayana dan I Wayan Gede Budayana

MASIH berlanjut soal pameran The Power of Colours , perhelatan ini berlangsung 25 hingga 31 Agustus mendatang. Pameran digelar  di...

by Hartanto
August 13, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co