15 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menakar Isi Piring, Meruntuhkan Dinding Sakral  —Narasi Domestik Sebagai Episentrum Perlawanan Politis Perupa Perempuan Bali

Oka Rusmini by Oka Rusmini
June 15, 2026
in Ulas Rupa
Menakar Isi Piring, Meruntuhkan Dinding Sakral  —Narasi Domestik Sebagai Episentrum Perlawanan Politis Perupa Perempuan Bali

Oka Rusmini bersama tiga perempuan pelukis saat pameran | Foto: Ist

SEBUAH pertanyaan tidak pernah lahir dari ruang hampa. Di balik kalimat pendek, “What’s for Dinner?” atau “Mau makan malam apa?”, yang kerap mengudara di penghujung hari, ada tubuh perempuan yang terus-menerus bergerak, menakar, dan menanggung beban domestik yang berlapis. Bagi masyarakat patriarki, meja makan adalah lambang kemapanan, harmoni, dan ketenteraman kosmis. Namun di bawah permukaan estetika yang rapi itu, ia adalah medan pertempuran batin, wilayah kerja tanpa upah, sekaligus ruang sunyi tempat pengorbanan dikunyah habis setiap hari.

Gagasan pameran ini menemukan akar spiritual dan konseptualnya yang kokoh dari bait-bait puisi dalam buku kumpulan puisi Saiban karya Oka Rusmini. Sebagai teks penuntun, Saiban—yang secara harfiah merujuk pada ritual persembahan makanan sehari-hari masyarakat Bali sebelum dinikmati—telah lebih dulu membongkar bagaimana ruang domestik, dapur, dan makanan adalah wilayah sakral sekaligus penuh represi bagi perempuan. Energi puitis dari teks Saiban inilah yang merembes ke dalam kanvas, mematangkan visi, dan memberi cetakan ide yang kuat bagi para perupa. Kolaborasi ini menjadi begitu organik dan bertenaga justru karena ia mempertemukan ketajaman teks dengan keliaran kuas serta kedalaman warna, melahirkan dialog interdisipliner yang solid antara sastra dan seni rupa.

Karya-karya pada pameran kolaboratif tiga perupa perempuan berbasis di Bali di Artotel Sanur | Foto: Ist

Pameran kolaboratif tiga perupa perempuan berbasis di Bali—Sandat Wangi, Mira El Amir, dan Dyah Ayu Wulandari (Wellwul)—yang terekam dalam Katalog Pameran Seni Rupa: Trio Art Exhibition “What’s for Dinner?” (Sandat Wangi, Mira El Amir, Wellwul), Juni 2026. Esai Kuratorial oleh Savitri Sastrawan. Dan saya buka dengan pidato kecil pada tanggal 8 Juni 2026.

Bagi saya pameran ini tidak sedang sekadar bicara tentang urusan urakan dapur atau pemenuhan biologis semata. Lewat kacamata feminisme yang menggugat—feminisme yang tidak silau oleh mistifikasi adat dan “kekudusan” tradisional yang menindas—pameran yang berlangsung dari 8 Juni hingga 8 Agustus 2026 di Artotel Sanur ini adalah sebuah pemberontakan kreatif yang intim. Mereka membongkar ritual keseharian yang dianggap sepele, lalu menggunakannya sebagai senjata untuk merebut kembali agensi tubuh, otoritas suara, dan kedaulatan perempuan.

Menolak Menjadi Liyan

Untuk menakar urgensi pameran “What’s for Dinner?”, kita tidak bisa melepaskannya dari bentang sejarah seni rupa kita yang sekian lama didominasi oleh narasi maskulin. Jika kita mundur sejenak, sejarah formal—mulai dari era Persagi pada tahun 1930-an hingga riuh rendahnya sanggar-sanggar pasca-kemerdekaan—kerap menempatkan perempuan hanya sebagai objek estetis. Perempuan adalah model, moleknya lekuk tubuh, penari yang eksotis, atau bagian dari lanskap alam yang romantis. Perempuan sebagai subjek pencipta harus merebut ruangnya dengan kerja keras yang berlipat ganda.

Suasana pameran kolaboratif tiga perupa perempuan berbasis di Bali di Artotel Sanur | Foto: Ist

Di tingkat nasional, kita berutang pada para perintis seperti Emiria Sunassa yang berani mendobrak kanon pada masanya, lalu disusul oleh generasi Kartika Affandi, Siti Ruliyati, hingga gerakan seni rupa kontemporer era 1990-an yang mulai mencairkan batas-batas medium. Namun di Bali, struktur komunal dan jerat adat memberikan tantangan yang jauh lebih spesifik dan berlapis bagi perupa perempuan.

Menjadi seniman perempuan di Bali bukan sekadar urusan memegang kuas, mencampur pigmen, atau memahat di atas kanvas. Ini adalah proses negosiasi tiada henti yang melelahkan antara tuntutan domestik, tanggung jawab ritual adat (makarya), dan dorongan ekspresi pribadi.                               

Maka, ketika Wellwul, Mira, dan Sandat Wangi hadir dengan konsistensi kerja bersama selama lima tahun terakhir, mereka tidak sedang berdiri di ruang hampa. Pameran ini adalah kelanjutan dari rantai perlawanan estetis para pendahulunya yang menolak menjadi “liyan” (the other) di tanah mereka sendiri.

Otoritas, Mistisisme, dan Brutalitas Ekologis

Pameran ini membalikkan cara pandang patriarki yang meremehkan ruang domestik sebagai wilayah sekunder yang sunyi dari pemikiran besar. Ketiga perupa ini justru membuktikan bahwa dapur dan meja makan adalah episentrum dari pergolakan batin dan politik tubuh yang paling radikal.

Karya-karya Sanfat Wangi | Foto: Ist

Sandat Wangi membuka narasi ini dari wilayah paling awal: pagi hari. Doktrin patriarki tradisional kerap menuntut perempuan untuk bersiap sejak fajar demi melayani seluruh isi rumah. Namun, Sandat mendekonstruksi ritme ini lewat prinsip “good dinner begins in the morning”.

Melalui goresan garis halus (fine line) dan figur-figur khasnya yang merawat bunga baby blue, morning glory, hingga tapak dara, ia membalikkan logika pelayan menjadi penguasa atas ruangnya sendiri. Bagi Sandat, makanan adalah nutrisi agar seluruh organ bekerja dengan baik—sebuah bekal dalam menggapai tujuan dan kesiapan diri. Proses berkebun dan menyiapkan makanan diubahnya menjadi ritus pemulihan otoritas tubuh: sebuah proses pendewasaan dan pemenuhan bagi diri sendiri terlebih dahulu, sebelum dipaksa siap menghadapi tuntutan luar dalam lembaran baru pernikahan. Tubuh perempuan di sini bertindak sebagai kurator kehidupan yang otonom.

Gugatan yang lebih transparan, magis, dan mistis hadir dalam karya Mira El Amir. Di Bali, perempuan adalah arsitek utama di balik estetika sesajen; mereka adalah penjaga spiritualitas yang sunyi namun tubuhnya dipahat oleh kelelahan. Mira melihat meja makan layaknya altar sesajen modern—sebuah wilayah di mana kasih sayang berjalin kelindan dengan kebosanan dan beban kebudayaan yang mematikan. Tindakan menyajikan makanan digeser dari sekadar kewajiban gender menjadi sebuah otoritas sakral untuk merawat peradaban dari unit terkecil.

Lewat sapuan warna terang bermedium kontemporer dan goresan garis pendek, Mira menghadirkan figur Barong Mother. Ini adalah metafora yang brutal sekaligus jujur: sosok ibu dipaksa menjadi ‘Barong’—penjaga keseimbangan kosmis antara terang dan gelap, yang menanggung seluruh beban emosional keluarga hingga mengalami kematian-kematian kecil (loss of self) demi menjaga nyala kehidupan rumah tangga. Dengan menyisipkan aksara Bali dan simbol spiritual leluhur, Mira merebut kembali ruang sakral tersebut. Ia menegaskan bahwa tubuh perempuan bukanlah alat reproduksi budaya yang pasif, melainkan medan perlawanan politik yang nyata dan berdaya.

Oka Rusmini (penulis) saat membuka pameran | Foto: Ist

Mira El Amir (kiri)

Sandat Wangi (kanan)

Dyah Ayu Wulandari “Wellwul” (kanan)

Sementara Wellwul menarik benturan ini keluar, menabrakkan narasi domestik dengan brutalitas sosio-kultural dan cengkeraman industrialisasi. Perempuan kerap kali menjadi korban pertama ketika alam dirusak dan pangan dikomodifikasi. Wellwul mengajukan pertanyaan eksistensial yang tajam: “Bagaimana mengolahnya?” agar hidup dan karya dapat dinikmati sesuai dengan apa yang kita harapkan.

Lewat garis ekspresif dan palet warna yang terbatas, seri karyanya seperti Behind the Plate dan Pesta Plastik di Muara menyoroti bagaimana keserakahan industri (seperti ekspansi kelapa sawit) telah merusak ruang hidup, sementara masyarakat modern terjebak dalam budaya konsumtif yang rakus—melahap gosip, informasi, hingga sampah plastik kemasan tanpa jeda. Bagi Wellwul, momen makan malam adalah ruang krusial untuk berhenti: sebuah jeda untuk menginterogasi kembali apa yang telah masuk ke dalam tubuh kita, dan sejauh mana kita ikut andil dalam kerusakan alam di luar piring kita.

Solidaritas Saling Sulang: Politik Etika Merawat (Caring)

Pameran ini mencapai puncaknya pada karya kolaborasi yang diberi judul Saling Sulang. Selama lima hari di Karangasem, ketiga perupa ini berkumpul, menurunkan ego penciptaan individu, dan berkarya bersama dalam satu kanvas spiritual.

Di tengah struktur sosial yang sering kali mengadu domba sesama perempuan demi status adat, kasta, atau standarisasi domestik, Saling Sulang hadir sebagai bentuk solidaritas politik perempuan (sisterhood). Mereka tidak sekadar berbagi ruang fisik, melainkan saling menutrisi, menguatkan, dan merayakan agensi kolektif mereka sebagai sesama subjek yang berdaulat.

Apa yang mungkin dianggap sepele oleh sejarah besar—mengiris bawang, menakar garam, menghidangkan mangkuk—oleh ketiga perupa ini diangkat menjadi sebuah “ritual” penciptaan. Ini adalah tindakan-tindakan kecil yang penuh makna. Sebuah simbolisasi tentang “merawat” (caring) yang kini menjadi diskursus penting dalam kritik seni kontemporer dan gerakan gender dunia.

Savitri Sastrawan (nomor dua dari kiri) bersama tiga perempuan pelukis | Foto: Ist

Di tengah riuhnya perdebatan teoritis tentang keperempuanan yang kerap berjarak di menara gading, pameran “What’s for Dinner?” menjadi sangat kuat justru karena ia membumi. Ia mengembalikan teori-teori gender yang rumit itu ke dalam pengalaman yang paling dekat, paling intim, dan paling jujur dari tubuh mereka sendiri. Menyajikan makanan, pada akhirnya, adalah cara mereka merepresentasikan diri. Ini bukan bentuk ketundukan pasrah pada slogan klasik sumur-dapur-kasur, melainkan sebuah proklamasi: bahwa dari ruang domestik inilah mereka saling mengingatkan, menguatkan, mendukung, dan merawat bersama ke depannya.

Pameran ini adalah sebuah dekolonisasi pikiran dari struktur patriarki yang telah membeku selama ribuan tahun dalam tatanan teologis maupun sosiologis. Sandat Wangi, Mira El Amir, dan Wellwul telah membuktikan dengan bertenaga bahwa urusan domestik, isi piring, dan tubuh perempuan tidak pernah sepele. Mereka adalah pusat perlawanan, sebuah kuali sejarah yang diaduk dengan kesadaran penuh untuk meruntuhkan dinding-dinding kekudusan semu yang selama ini memenjarakan suara perempuan.

Selamat atas lima tahun kerja kultural yang sunyi namun meledak ini. Meja makan telah resmi menjadi mimbar politik yang sah. [T]

Padangsabian Kelod, Denpasar, Juni 2026

Tags: Artotel SanurOka RusminiPameranPameran Seni RupaPerempuanperempuan pelukis
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Wisatawan Eropa Masih Menjadi Andalan Indonesia

Next Post

Akurasi Sendratari ‘Lubdhaka Lelana’ Merefleksikan Tema ‘Atma Kerthi’ dalam PKB 2026

Oka Rusmini

Oka Rusmini

Sastrawan & Jurnalis

Related Posts

Karya Rupa Saka Rosanta, Dari Reinkarnasi, Pohon Kasih sampai Avatar Word

by Mas Ruscitadewi
June 13, 2026
0
Karya Rupa Saka Rosanta, Dari Reinkarnasi, Pohon Kasih sampai Avatar Word

Ida Kade Saka Rosanta, yang kerap dipanggil Gus Moyo memamerkan karya rupanya di Rumah Berdaya, jalan Raya Sesetan 280 Denpasar....

Read moreDetails

Stasiun Buraq : Arsitektur Mimpi Seorang Ilham Gusti Syahadat

by Made Chandra
June 8, 2026
0
Stasiun Buraq : Arsitektur Mimpi Seorang Ilham Gusti Syahadat

DERAP langkah beranjak naik, kain tirai perlahan mulai disingkapkan, lalu dengan segera bunyi-bunyian kendang, tembang dan segala perangkat kesenian jaranan,...

Read moreDetails

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

by Made Chandra
June 2, 2026
0
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

Read moreDetails

Pameran ‘Roots & Routes’: Refleksi Tentang Identitas, Ingatan dan Perjalanan Hidup

by I Gede Made Surya Darma
May 7, 2026
0
Pameran ‘Roots & Routes’: Refleksi Tentang Identitas, Ingatan dan Perjalanan Hidup

DI tengah geliat seni rupa kontemporer yang semakin cair dan lintas disiplin, pameran “Roots & Routes” yang berlangsung di Biji...

Read moreDetails

Refracted — Perspektif yang Menolak Keutuhan

by Made Chandra
May 4, 2026
0
Refracted — Perspektif yang Menolak Keutuhan

Artikel ini adalah catatan kuratorial pameran seni rupa “Refracted” pada 2 Mei 2026 di Ruang Arta Derau, Tegallalang. Tak pernah...

Read moreDetails

Kenapa sih Harus Solo Exhibition?

by Made Chandra
April 14, 2026
0
Kenapa sih Harus Solo Exhibition?

HARI itu rasanya begitu spesial, hari dimana buku-buku tersusun bertumpuk untuk dirayakan kehadirannya. Semerebak wangi dupa menyeruak sampai menyentil dalam-dalam...

Read moreDetails

Apa yang ‘Ada’ dalam Sebuah Lukisan? —Membaca ‘Aurora Blue’ dan ‘Red Blossom’ Karya Wayan Kun Adnyana

by I Wayan Sujana Suklu
March 27, 2026
0
Apa yang ‘Ada’ dalam Sebuah Lukisan?  —Membaca ‘Aurora Blue’ dan ‘Red Blossom’ Karya Wayan Kun Adnyana

Membaca Aurora Blue dan Red Blossom karya Wayan Kun Adnyana, pameran Parama Paraga Retrospective of Biographical Metaphoric Figure to New...

Read moreDetails

SAPA WARANG: Tubuh yang Terbakar di Batas Liminal

by I Wayan Sujana Suklu
March 24, 2026
0
SAPA WARANG: Tubuh yang Terbakar di Batas Liminal

Liminalitas sebagai Ambang Kosmologis LIMINALITAS, dalam pengertian paling mendasar, bukan sekadar fase peralihan, melainkan kondisi ontologis di mana batas-batas eksistensi...

Read moreDetails

Retakan, Api, dan Cara Melihat Diri Sendiri — Membaca Ogoh-ogoh ‘Sapa Warang’ Karya Marmar Herayukti

by Agung Bawantara
March 23, 2026
0
Retakan, Api, dan Cara Melihat Diri Sendiri — Membaca Ogoh-ogoh ‘Sapa Warang’ Karya Marmar Herayukti

Di tengah hiruk-pikuk malam pengerupukan, sehari menjelang Hari Raya Nyepi Tahun Baru Çaka 1948, ketika ogoh-ogoh diarak dalam gegap gempita, sosok...

Read moreDetails

Maestro Tjokot, Gus Tilem, dan Gus Nyana Pulang ke Tugu Mayang Ubud

by Agung Bawantara
March 17, 2026
0
Maestro Tjokot, Gus Tilem, dan Gus Nyana Pulang ke Tugu Mayang Ubud

Karya ogoh-ogoh berjudul “Tugu Mayang” dari ST. Pandawa Banjar Tarukan, Desa Adat Mas, Ubud, Gianyar, menguatkan sebuah kecenderungan estetika yang...

Read moreDetails
Next Post
Akurasi Sendratari ‘Lubdhaka Lelana’ Merefleksikan Tema ‘Atma Kerthi’ dalam PKB 2026

Akurasi Sendratari ‘Lubdhaka Lelana’ Merefleksikan Tema ‘Atma Kerthi’ dalam PKB 2026

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Akurasi Sendratari ‘Lubdhaka Lelana’ Merefleksikan Tema ‘Atma Kerthi’ dalam PKB 2026
Ulas Pentas

Akurasi Sendratari ‘Lubdhaka Lelana’ Merefleksikan Tema ‘Atma Kerthi’ dalam PKB 2026

MENERJEMAHKAN tema Pesta Kesenian Bali (PKB) ke dalam seni pertunjukan kerap menjadi tantangan bagi para seniman. Pertama, tema-tema PKB dirumuskan...

by I Nyoman Darma Putra
June 15, 2026
Menakar Isi Piring, Meruntuhkan Dinding Sakral  —Narasi Domestik Sebagai Episentrum Perlawanan Politis Perupa Perempuan Bali
Ulas Rupa

Menakar Isi Piring, Meruntuhkan Dinding Sakral  —Narasi Domestik Sebagai Episentrum Perlawanan Politis Perupa Perempuan Bali

SEBUAH pertanyaan tidak pernah lahir dari ruang hampa. Di balik kalimat pendek, “What’s for Dinner?” atau “Mau makan malam apa?”,...

by Oka Rusmini
June 15, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Wisatawan Eropa Masih Menjadi Andalan Indonesia

MASA tinggal terlama wisatawan mancanegara (wisman) di Indonesia didominasi oleh wisatawan asal negara-negara Eropa. Hal ini menunjukkan bahwa wisatawan Eropa...

by Chusmeru
June 15, 2026
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi
Cerpen

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
Puisi-puisi Putu Intan Juliantika | Lintang Perahu Pegat
Puisi

Puisi-puisi Putu Intan Juliantika | Lintang Perahu Pegat

LINTANG PERAHU PEGAT Dari perut bundaPertama kalinya aku hidupDari perut bundaPertama kali aku dipeluknya Tak ingat apa yang terjadi sebelumnyaTak...

by Putu Intan Juliantika
June 14, 2026
Mendengar Kembali Bunyi yang Terlupakan: Catatan atas Pertunjukan Gula Gending 2.0 di Taman Budaya NTB
Panggung

Mendengar Kembali Bunyi yang Terlupakan: Catatan atas Pertunjukan Gula Gending 2.0 di Taman Budaya NTB

ADA bunyi-bunyi yang hidup begitu lama di sekitar kita hingga akhirnya menghilang dari ingatan. Ia pernah hadir setiap hari, melintas...

by Jaswanto
June 14, 2026
 ‘Sang Jaratkaru’ dari Buleleng pada Peed Aya PKB 2026: Presentasi Kejayaan dan Karakteristik Budaya Bali Utara
Budaya

 ‘Sang Jaratkaru’ dari Buleleng pada Peed Aya PKB 2026: Presentasi Kejayaan dan Karakteristik Budaya Bali Utara

DENPASAR – TATKALA.CO |  Seniman-seniman dari Kabupaten Buleleng tampil dengan ciri khas Bali Utara pada Peed Aya (Pawai) Pembukaan Pesta...

by Nyoman Budarsana
June 14, 2026
Takdir dan Kehendak Bebas: Membaca Ulang Kehidupan melalui Pancakosha dan Peta Kesadaran Hawkins
Esai

Takdir dan Kehendak Bebas: Membaca Ulang Kehidupan melalui Pancakosha dan Peta Kesadaran Hawkins

Antara Takdir dan Kebebasan: Pertanyaan Tua yang Tak Pernah Usai Sejak manusia mulai bertanya tentang dirinya sendiri, satu pertanyaan selalu...

by Agung Sudarsa
June 14, 2026
Tari Siwanataraja, Simbol Awal Penciptaan yang Selalu Hadir dalam Peed Aya Pesta Kesenian Bali
Panggung

Tari Siwanataraja, Simbol Awal Penciptaan yang Selalu Hadir dalam Peed Aya Pesta Kesenian Bali

Tari Siwanataraja selalu menjadi bagian penting dalam Peed Aya (Pawai Budaya) pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) setiap tahunnya. Tari yang...

by Nyoman Budarsana
June 14, 2026
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti
Cerpen

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
Puisi-puisi IRZI | Jazz Buat Para Puan
Puisi

Puisi-puisi IRZI | Jazz Buat Para Puan

JESS BUAT PRANITA DEWI Meong-meong alih je bikule—suara itu melintas dari pelataran purake satelit, kabel bawah laut, ruang transit;atma mengikutinya...

by IRZI
June 13, 2026
Bupati Sutjidra Buka Banjar Festival 2026: Wujudkan Kolaborasi Budaya dan Penguatan Ekonomi Kerakyatan
Budaya

Bupati Sutjidra Buka Banjar Festival 2026: Wujudkan Kolaborasi Budaya dan Penguatan Ekonomi Kerakyatan

BULELENG – TATKALA.CO | “Festival ini merupakan ruang bersama untuk menunjukkan potensi dan kreativitas masyarakat. Melalui kegiatan seperti ini, kita...

by tatkala
June 13, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co