5 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Akurasi Sendratari ‘Lubdhaka Lelana’ Merefleksikan Tema ‘Atma Kerthi’ dalam PKB 2026

I Nyoman Darma Putra by I Nyoman Darma Putra
June 15, 2026
in Ulas Pentas
Akurasi Sendratari ‘Lubdhaka Lelana’ Merefleksikan Tema ‘Atma Kerthi’ dalam PKB 2026

Sendratari kolosal "Lubdhaka Lelana" yang dipentaskan pada pembukaan PKB 2026

MENERJEMAHKAN tema Pesta Kesenian Bali (PKB) ke dalam seni pertunjukan kerap menjadi tantangan bagi para seniman. Pertama, tema-tema PKB dirumuskan dalam bahasa Jawa Kuna agar memiliki bobot sastra yang tinggi sekaligus dalam. Kedua, tema tersebut umumnya bersifat abstrak dan terbuka bagi beragam penafsiran yang terkadang sulit dipilih.

Pada masa kepemimpinan Gubernur I Wayan Koster, tema PKB merujuk pada visi pembangunan Sad Kerthi. Setiap tahun, tema festival diambil dari salah satu unsur Sad Kerthi. Pada 2026, misalnya, tema yang diusung adalah “Atma Kerthi: Jiwa Sidha Parisudha” atau Pemuliaan Jiwa yang Paripurna.

Seiring berjalannya waktu, tantangan menerjemahkan tema-tema tersebut semakin mudah diatasi berkat pengalaman dan kreativitas para seniman Bali. Hal itu tampak jelas dalam sendratari kolosal “Lubdhaka Lelana” yang dipentaskan pada pembukaan PKB 2026. Garapan Institut Seni Indonesia (ISI) Bali ini berhasil menerjemahkan tema Atma Kerthi secara akurat melalui kisah perjalanan atma seorang pemburu yang penuh dosa, tetapi akhirnya mencapai surga karena pemujaannya kepada Dewa Siwa yang dilakukan tanpa disadari.

Acara Pembukaan Pesta Kesenian Bali ke-48 Tahun 2026 di panggung terbuka Ardha Chandra, Taman Budaya Bali, dimeriahkan dengan pertunjukan kolosal sendratari dengan kisah “Lubdhana Lelana”, perjalanan atma pemburu Lubdhaka ke alama sana. Dikisahkan seorang pemburu malang, Lubdhaka, yang sepanjang hari tidak memperoleh hasil buruan dan terjebak kemalaman di tengah hutan. Takut pulang dalam kegelapan, ia menyelamatkan diri dengan bertengger di dahan pohon bila (maja). Untuk mengusir kantuk, ia memetik daun satu per satu dan menjatuhkannya ke kolam di bawah, tempat berdirinya lingga-yoni sebagai simbol Dewa Siwa.

Tanpa disadarinya, tindakan sederhana itu justru menjadi bentuk pemujaan kepada Siwa. Ia tidak mengetahui bahwa malam tersebut bertepatan dengan Tilem, hari suci yang dimuliakan dalam tradisi Hindu sebagai malam Siwa (Siwaratri). Singkat cerita, meskipun sepanjang hidupnya dikenal sebagai pemburu yang membunuh banyak hewan dan dipenuhi dosa, Lubdhaka memperoleh surga ketika meninggal dunia berkat ketulusan bhaktinya yang tanpa pamrih. Dalam kisah ini, ketidaksengajaan justru menjadi jalan menuju kemuliaan spiritual.

Sendratari kolosal “Lubdhaka Lelana” yang dipentaskan pada pembukaan PKB 2026

Akurasi cerita tersebut menafsirkan tema PKB tahun ini, Atma Kerthi: Jiwa Sidha Parisudha sangat tinggi. Kisah Lubdhaka sendiri memang menarik, tetapi sangat relevan dengan tema PKB saat dipilih untuk pentas pembukaan. Tak hanya pada tema PKB, melalui narasi tentang transformasi spiritual dan penyucian jiwa, “Lubdhaka Lelana” juga menghadirkan pesan moral yang kuat sekaligus relevan dengan kehidupan masa kini.

Didukung tata pentas yang megah, koreografi kolosal yang inovatif, tata cahaya yang memukau, serta struktur naratif yang terjalin rapi melalui konflik dan resolusi, pertunjukan ini berhasil memikat perhatian penonton dari awal hingga akhir. Di sela-sela kisah spiritualnya, terselip pula kritik sosial yang disampaikan secara ringan dan jenaka, mulai dari harga Pertamax yang melambung hingga praktik spekulasi tanah di tengah pesatnya perkembangan pariwisata Bali. Karena itu, “Lubdhaka Lelana” hadir bukan sekadar sebagai tontonan yang menghibur, tetapi juga sebagai refleksi sosial yang sarat makna.

Memori tentang Sendratari

Seni drama tari lahir sebagai bentuk baru seni pertunjukan Bali tahun 1960-an, bagian dari kemunculan salah satu genre teater modern Bali. Dalam tulisannya “Two Modern Balinese Theatre Genres: Sendratari and Drama Gong” yang dimuat dalam buku Being Modern in Bali (1996), Frederik deBoer menyebut sendratari dan drama gong sebagai dua bentuk teater modern Bali yang berkembang sejak awal 1960-an.

Menurut deBoer, sendratari lahir dari upaya kreatif seniman Bali untuk menciptakan pertunjukan yang memadukan tari, drama, musik, dan narasi dalam format yang lebih ringkas serta sesuai dengan panggung modern.

Sendratari kolosal “Lubdhaka Lelana” yang dipentaskan pada pembukaan PKB 2026

Berbeda dengan drama gong yang para pemainnya berdialog secara langsung, dalam sendratari dialog disampaikan oleh dalang. Pada masa awal perkembangannya, terdapat dua lakon yang sangat populer, yakni Ramayana dan Jayaprana. Belakangan juga populer kisah Mayadenawa. Bentuk pertunjukan sendratari bisa disusun relatif singkat, sekitar satu jam, berbeda dengan drama gong yang dapat berlangsung tiga hingga empat jam. Pentas malam mulai pk. 22.00, bisa berakhir saat ayam berkokok.

Momentum penting perkembangan sendratari terjadi ketika Bali mulai menyelenggarakan PKB pada 1979. Malam pembukaan hampir selalu diisi oleh garapan ASTI (kini ISI Bali) atau KOKAR (kini SMKN 3 Sukawati). Cerita yang diangkat pun beragam dan terus berganti, umumnya mengambil episode dari epos Ramayana dan Mahabharata. DeBoer mencatat bahwa salah satu kekuatan genre ini terletak pada kelenturannya dalam mengadaptasi berbagai kisah menjadi pertunjukan yang komunikatif bagi penonton modern.

Pada dekade 1980-an, terutama pada masa-masa awal PKB, pementasan sendratari menjadi salah satu tontonan paling diminati. Karena tingginya antusiasme penonton, pertunjukan sering kali diulang pada hari Minggu setelah pembukaan resmi yang berlangsung pada Sabtu malam. Popularitasnya saat itu dapat disejajarkan dengan drama gong.

Salah satu pencapaian penting dalam sejarah PKB yang dahulu sangat dikenal, tetapi kini mulai terlupakan, adalah lahirnya Tari Manukrawa. Tarian ini berawal dari sebuah ilustrasi dalam pementasan sendratari. Geraknya diciptakan oleh Prof. I Wayan Dibia, sedangkan tabuhnya digarap maestro I Wayan Beratha pada 1981. Setahun kemudian, Tari Manukrawa dipentaskan di hadapan Ibu Negara Amerika Serikat, Nancy Reagan, saat berkunjung ke Bali dan diterima di Jaya Sabha, Denpasar.

Sendratari kolosal “Lubdhaka Lelana” yang dipentaskan pada pembukaan PKB 2026

Awalnya, tarian yang menggambarkan gerak-gerik burung tersebut hanya berfungsi sebagai selingan. Namun karena daya tarik artistiknya yang kuat, karya itu kemudian dikembangkan menjadi tari lepas. Dari proses tersebut lahirlah Tari Manukrawa, sebuah tari kelompok yang menampilkan gerak estetis dan dinamis. Jumlah penarinya biasanya lima atau enam orang untuk menghadirkan kesan sekawanan burung yang bergerak serempak. Setelah keberhasilannya, lahir pula berbagai tari kreasi bertema fauna, termasuk Tari Belibis.

Seperti seni pertunjukan Bali lainnya, sendratari bersifat dinamis. Lakonnya dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan konteks zamannya. Dalam PKB, misalnya, cerita yang dipilih sering kali mengikuti tema festival. Karena itu, selain mengangkat kisah klasik dari epos Hindu, sendratari juga dapat menampilkan tokoh dan cerita lokal, seperti Ni Dyah Tantri yang dipentaskan pada 1998 maupun Lubdhaka Lelana yang membuka PKB 2026.

Sebagai penonton yang mengikuti perkembangannya sejak masa awal, saya merasa beruntung dapat menyaksikan perjalanan salah satu inovasi terbesar dalam seni pertunjukan Bali modern.

Sendratari kolosal “Lubdhaka Lelana” yang dipentaskan pada pembukaan PKB 2026

Dari Ramayana, Mahabharata, Jayaprana, Mayadenawa hingga berbagai garapan tematik yang lahir dalam Pesta Kesenian Bali, sendratari telah membuktikan dirinya sebagai bentuk seni yang lentur dan tetap relevan. Mungkin masa ketika ribuan penonton memadati arena pertunjukan PKB tidak lagi sama seperti dahulu, tetapi daya pikatnya tetap hidup. Setiap kali kisah dituturkan melalui gerak tari, gamelan, dan suara dalang, sendratari mengingatkan kita bahwa tradisi yang kuat bukanlah tradisi yang membeku, melainkan tradisi yang terus menemukan cara baru untuk berbicara kepada zamannya.

Kisah “Lubdhaka Lelana” adalah contohnya, seni yang menghibur sekaligus sarat dengan renungan spiritual dan kritik sosial. [T]

Tags: Pesta Kesenian BaliPesta Kesenian Bali 2026sendratariseni pertunjukan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menakar Isi Piring, Meruntuhkan Dinding Sakral  —Narasi Domestik Sebagai Episentrum Perlawanan Politis Perupa Perempuan Bali

Next Post

Peed Aya PKB 2026, Seni Keberlanjutan

I Nyoman Darma Putra

I Nyoman Darma Putra

Juri Hadiah Sastera Rancage untuk Bali sejak 2000. Dia adalah dosen Prodi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana. Bukunya yang berkaitan dengan sastra Bali modern adalah Tonggak Baru Sastra Bali Modern (2010). Sejak 2011, dia menjadi pemimpin redaksi Jurnal Kajian Bali, awalnya teakreditasi Sinta-2, sejak 2024 terindeks Scopus Q1, dan kemudian Sinta-1.

Related Posts

Sinaps Ingatan dari Pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot

by Asmaran Dani
September 4, 2026
0
Sinaps Ingatan dari Pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot

Catatan pendek, sebagai pengantar diskusi menonton ulang dokumentasi pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot melalui Youtube, Sabtu 05 Septemper 2026 di...

Read moreDetails

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

by Yanik Parta
August 24, 2026
0
Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

SEBAGAI penari, aku bergerak dari kode satu ke kode gerak lainnya, sementara ayahku yang merupakan seorang pematung, bergerak dalam duduknya....

Read moreDetails

Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

by Dewa Made Ari Kurniawan
August 4, 2026
0
Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

Di Ambang Dualitas Eksistensial Dalam ruang pertunjukan yang temaram, pendar cahaya proyektor perlahan menghidupkan bidang panggung. Karya pertunjukan bertajuk DWI...

Read moreDetails

Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

by Dewa Purwita Sukahet
July 31, 2026
0
Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

MALAM itu, 20 Juli 2026, jam di ponsel menunjukan pukul 18:52 Wita, di depan gedung Ni Ketut Reneng, kampus Institut...

Read moreDetails

Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

by Anselmus Dore Woho Atasoge
July 31, 2026
0
Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

MALAM pembukaan Festival Bale Nagi 2026 di Taman Kota Felix Fernandez, Larantuka, Flores Timur, NTT, menyuguhkan sebuah pertunjukan yang memicu...

Read moreDetails

Fragmentari “Jro Luh” dan Sinkronisitas: Sebuah Pembacaan Estetika atas Pertemuan Dramaturgi dan Fenomena Alam

by I Gusti Made Darma Putra
July 28, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

PANGGUNG seni pertunjukan pada dasarnya merupakan ruang rekayasa artistik. Di dalamnya, setiap unsur dirancang dengan cermat, struktur dramatik disusun melalui...

Read moreDetails

Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

by I Wayan Sujana Suklu
July 25, 2026
0
Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

  Tubuh berjalan pelandi antara bukit, rumah, dan laut yang tidak selesai. Angin membawa nama-namayang pernah singgah di pelabuhan,lalu hilang...

Read moreDetails

Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

by Chandra Manikan
July 22, 2026
0
Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

Asap mengepul perlahan hingga menutupi sebagian panggung, sementara cahaya merah merambat dan menerangi Ocha Diartini yang saat itu berperan sebagai...

Read moreDetails

Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

by Satria Aditya
July 20, 2026
0
Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

PARADE Monolog dalam Festival Seni Bali Jani 2016 yang digelar pada 14 Juli  di Gedung Ksirarnawa, dibuka pukul 17.00 Wita,...

Read moreDetails

Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

by Putu Intan Juliantika
July 19, 2026
0
Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

 “Teng! Tong! Teng! Tong! Teng! Tung! Pagi tiba alarm berbunyi...” Itu adalah suara dering alarm saya pukul tiga pagi yang...

Read moreDetails
Next Post
Tari Siwanataraja, Simbol Awal Penciptaan yang Selalu Hadir dalam Peed Aya Pesta Kesenian Bali

Peed Aya PKB 2026, Seni Keberlanjutan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’
Opini

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
Topi Para Penyintas Kanker
Esai

Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

by Angga Wijaya
September 5, 2026
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri
Cerpen

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery
Puisi

Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

Mother's Bakery Hari-hari terasa menghisap paracetamolPahitnya mengendap hingga ke ujung hatiBumi menyediakan sirup, namun maple pun sulit menyatukan yang retakIbu...

by Ni Putu Puspa Trisnawati
September 5, 2026
Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan
Esai

Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan

Kita mengajarkan anak mencintai lingkungan. Tetapi, berapa banyak sekolah yang benar-benar memberi anak pengalaman mencintai lingkungan? PERTANYAAN sederhana itu patut...

by I Wayan Yudana
September 5, 2026
Labirin Bahasa di Sekitar Kita
Bahasa

Labirin Bahasa di Sekitar Kita

PERNAHKAH Anda memperhatikan bagaimana sebuah kata bekerja di media sosial atau di obrolan sehari-hari? Kita sering mengira bahasa itu seperti...

by I Made Sudiana
September 4, 2026
Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang
Esai

Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang

 “Mau diberikan ke mama. Karena di rumah tidak ada nasi.” Muhammad Suleman Datau mengatakannya ketika teman-temannya mulai membuka kotak makanan...

by Ahmad Fatoni
September 4, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [9]: Seperti Dendam, Seperti Ronggeng: Karya yang Bertahan

DIAGNOSIS tentang Sastra Perhatian bukan pernyataan bahwa seluruh ekosistem sastra Indonesia sudah menyerah pada logikanya. Pernyataan semacam itu terlalu mudah...

by Andre Syahreza
September 4, 2026
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana
Opini

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
AI Membuat Musik Semakin Mudah, Bukan Semakin Gampang
Esai

AI Membuat Musik Semakin Mudah, Bukan Semakin Gampang

PHIL COLLINS pernah melakukan sesuatu yang pada zamannya terasa luar biasa. Dalam album Both Sides yang dirilis tahun 1993, ia...

by Nanoq da Kansas
September 4, 2026
Nusa Dua Memang Tiada Satunya
Esai

Nusa Dua Memang Tiada Satunya

NUSA DUA lebih dikenal daripada Desa Adat Bualu yang menaunginya.  Sebelum akhir tahun 1950-an, Nusa Dua berada di bawah naungan...

by I Nyoman Tingkat
September 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co