26 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Akurasi Sendratari ‘Lubdhaka Lelana’ Merefleksikan Tema ‘Atma Kerthi’ dalam PKB 2026

I Nyoman Darma Putra by I Nyoman Darma Putra
June 15, 2026
in Ulas Pentas
Akurasi Sendratari ‘Lubdhaka Lelana’ Merefleksikan Tema ‘Atma Kerthi’ dalam PKB 2026

Sendratari kolosal "Lubdhaka Lelana" yang dipentaskan pada pembukaan PKB 2026

MENERJEMAHKAN tema Pesta Kesenian Bali (PKB) ke dalam seni pertunjukan kerap menjadi tantangan bagi para seniman. Pertama, tema-tema PKB dirumuskan dalam bahasa Jawa Kuna agar memiliki bobot sastra yang tinggi sekaligus dalam. Kedua, tema tersebut umumnya bersifat abstrak dan terbuka bagi beragam penafsiran yang terkadang sulit dipilih.

Pada masa kepemimpinan Gubernur I Wayan Koster, tema PKB merujuk pada visi pembangunan Sad Kerthi. Setiap tahun, tema festival diambil dari salah satu unsur Sad Kerthi. Pada 2026, misalnya, tema yang diusung adalah “Atma Kerthi: Jiwa Sidha Parisudha” atau Pemuliaan Jiwa yang Paripurna.

Seiring berjalannya waktu, tantangan menerjemahkan tema-tema tersebut semakin mudah diatasi berkat pengalaman dan kreativitas para seniman Bali. Hal itu tampak jelas dalam sendratari kolosal “Lubdhaka Lelana” yang dipentaskan pada pembukaan PKB 2026. Garapan Institut Seni Indonesia (ISI) Bali ini berhasil menerjemahkan tema Atma Kerthi secara akurat melalui kisah perjalanan atma seorang pemburu yang penuh dosa, tetapi akhirnya mencapai surga karena pemujaannya kepada Dewa Siwa yang dilakukan tanpa disadari.

Acara Pembukaan Pesta Kesenian Bali ke-48 Tahun 2026 di panggung terbuka Ardha Chandra, Taman Budaya Bali, dimeriahkan dengan pertunjukan kolosal sendratari dengan kisah “Lubdhana Lelana”, perjalanan atma pemburu Lubdhaka ke alama sana. Dikisahkan seorang pemburu malang, Lubdhaka, yang sepanjang hari tidak memperoleh hasil buruan dan terjebak kemalaman di tengah hutan. Takut pulang dalam kegelapan, ia menyelamatkan diri dengan bertengger di dahan pohon bila (maja). Untuk mengusir kantuk, ia memetik daun satu per satu dan menjatuhkannya ke kolam di bawah, tempat berdirinya lingga-yoni sebagai simbol Dewa Siwa.

Tanpa disadarinya, tindakan sederhana itu justru menjadi bentuk pemujaan kepada Siwa. Ia tidak mengetahui bahwa malam tersebut bertepatan dengan Tilem, hari suci yang dimuliakan dalam tradisi Hindu sebagai malam Siwa (Siwaratri). Singkat cerita, meskipun sepanjang hidupnya dikenal sebagai pemburu yang membunuh banyak hewan dan dipenuhi dosa, Lubdhaka memperoleh surga ketika meninggal dunia berkat ketulusan bhaktinya yang tanpa pamrih. Dalam kisah ini, ketidaksengajaan justru menjadi jalan menuju kemuliaan spiritual.

Sendratari kolosal “Lubdhaka Lelana” yang dipentaskan pada pembukaan PKB 2026

Akurasi cerita tersebut menafsirkan tema PKB tahun ini, Atma Kerthi: Jiwa Sidha Parisudha sangat tinggi. Kisah Lubdhaka sendiri memang menarik, tetapi sangat relevan dengan tema PKB saat dipilih untuk pentas pembukaan. Tak hanya pada tema PKB, melalui narasi tentang transformasi spiritual dan penyucian jiwa, “Lubdhaka Lelana” juga menghadirkan pesan moral yang kuat sekaligus relevan dengan kehidupan masa kini.

Didukung tata pentas yang megah, koreografi kolosal yang inovatif, tata cahaya yang memukau, serta struktur naratif yang terjalin rapi melalui konflik dan resolusi, pertunjukan ini berhasil memikat perhatian penonton dari awal hingga akhir. Di sela-sela kisah spiritualnya, terselip pula kritik sosial yang disampaikan secara ringan dan jenaka, mulai dari harga Pertamax yang melambung hingga praktik spekulasi tanah di tengah pesatnya perkembangan pariwisata Bali. Karena itu, “Lubdhaka Lelana” hadir bukan sekadar sebagai tontonan yang menghibur, tetapi juga sebagai refleksi sosial yang sarat makna.

Memori tentang Sendratari

Seni drama tari lahir sebagai bentuk baru seni pertunjukan Bali tahun 1960-an, bagian dari kemunculan salah satu genre teater modern Bali. Dalam tulisannya “Two Modern Balinese Theatre Genres: Sendratari and Drama Gong” yang dimuat dalam buku Being Modern in Bali (1996), Frederik deBoer menyebut sendratari dan drama gong sebagai dua bentuk teater modern Bali yang berkembang sejak awal 1960-an.

Menurut deBoer, sendratari lahir dari upaya kreatif seniman Bali untuk menciptakan pertunjukan yang memadukan tari, drama, musik, dan narasi dalam format yang lebih ringkas serta sesuai dengan panggung modern.

Sendratari kolosal “Lubdhaka Lelana” yang dipentaskan pada pembukaan PKB 2026

Berbeda dengan drama gong yang para pemainnya berdialog secara langsung, dalam sendratari dialog disampaikan oleh dalang. Pada masa awal perkembangannya, terdapat dua lakon yang sangat populer, yakni Ramayana dan Jayaprana. Belakangan juga populer kisah Mayadenawa. Bentuk pertunjukan sendratari bisa disusun relatif singkat, sekitar satu jam, berbeda dengan drama gong yang dapat berlangsung tiga hingga empat jam. Pentas malam mulai pk. 22.00, bisa berakhir saat ayam berkokok.

Momentum penting perkembangan sendratari terjadi ketika Bali mulai menyelenggarakan PKB pada 1979. Malam pembukaan hampir selalu diisi oleh garapan ASTI (kini ISI Bali) atau KOKAR (kini SMKN 3 Sukawati). Cerita yang diangkat pun beragam dan terus berganti, umumnya mengambil episode dari epos Ramayana dan Mahabharata. DeBoer mencatat bahwa salah satu kekuatan genre ini terletak pada kelenturannya dalam mengadaptasi berbagai kisah menjadi pertunjukan yang komunikatif bagi penonton modern.

Pada dekade 1980-an, terutama pada masa-masa awal PKB, pementasan sendratari menjadi salah satu tontonan paling diminati. Karena tingginya antusiasme penonton, pertunjukan sering kali diulang pada hari Minggu setelah pembukaan resmi yang berlangsung pada Sabtu malam. Popularitasnya saat itu dapat disejajarkan dengan drama gong.

Salah satu pencapaian penting dalam sejarah PKB yang dahulu sangat dikenal, tetapi kini mulai terlupakan, adalah lahirnya Tari Manukrawa. Tarian ini berawal dari sebuah ilustrasi dalam pementasan sendratari. Geraknya diciptakan oleh Prof. I Wayan Dibia, sedangkan tabuhnya digarap maestro I Wayan Beratha pada 1981. Setahun kemudian, Tari Manukrawa dipentaskan di hadapan Ibu Negara Amerika Serikat, Nancy Reagan, saat berkunjung ke Bali dan diterima di Jaya Sabha, Denpasar.

Sendratari kolosal “Lubdhaka Lelana” yang dipentaskan pada pembukaan PKB 2026

Awalnya, tarian yang menggambarkan gerak-gerik burung tersebut hanya berfungsi sebagai selingan. Namun karena daya tarik artistiknya yang kuat, karya itu kemudian dikembangkan menjadi tari lepas. Dari proses tersebut lahirlah Tari Manukrawa, sebuah tari kelompok yang menampilkan gerak estetis dan dinamis. Jumlah penarinya biasanya lima atau enam orang untuk menghadirkan kesan sekawanan burung yang bergerak serempak. Setelah keberhasilannya, lahir pula berbagai tari kreasi bertema fauna, termasuk Tari Belibis.

Seperti seni pertunjukan Bali lainnya, sendratari bersifat dinamis. Lakonnya dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan konteks zamannya. Dalam PKB, misalnya, cerita yang dipilih sering kali mengikuti tema festival. Karena itu, selain mengangkat kisah klasik dari epos Hindu, sendratari juga dapat menampilkan tokoh dan cerita lokal, seperti Ni Dyah Tantri yang dipentaskan pada 1998 maupun Lubdhaka Lelana yang membuka PKB 2026.

Sebagai penonton yang mengikuti perkembangannya sejak masa awal, saya merasa beruntung dapat menyaksikan perjalanan salah satu inovasi terbesar dalam seni pertunjukan Bali modern.

Sendratari kolosal “Lubdhaka Lelana” yang dipentaskan pada pembukaan PKB 2026

Dari Ramayana, Mahabharata, Jayaprana, Mayadenawa hingga berbagai garapan tematik yang lahir dalam Pesta Kesenian Bali, sendratari telah membuktikan dirinya sebagai bentuk seni yang lentur dan tetap relevan. Mungkin masa ketika ribuan penonton memadati arena pertunjukan PKB tidak lagi sama seperti dahulu, tetapi daya pikatnya tetap hidup. Setiap kali kisah dituturkan melalui gerak tari, gamelan, dan suara dalang, sendratari mengingatkan kita bahwa tradisi yang kuat bukanlah tradisi yang membeku, melainkan tradisi yang terus menemukan cara baru untuk berbicara kepada zamannya.

Kisah “Lubdhaka Lelana” adalah contohnya, seni yang menghibur sekaligus sarat dengan renungan spiritual dan kritik sosial. [T]

Tags: Pesta Kesenian BaliPesta Kesenian Bali 2026sendratariseni pertunjukan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menakar Isi Piring, Meruntuhkan Dinding Sakral  —Narasi Domestik Sebagai Episentrum Perlawanan Politis Perupa Perempuan Bali

Next Post

Peed Aya PKB 2026, Seni Keberlanjutan

I Nyoman Darma Putra

I Nyoman Darma Putra

Juri Hadiah Sastera Rancage untuk Bali sejak 2000. Dia adalah dosen Prodi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana. Bukunya yang berkaitan dengan sastra Bali modern adalah Tonggak Baru Sastra Bali Modern (2010). Sejak 2011, dia menjadi pemimpin redaksi Jurnal Kajian Bali, awalnya teakreditasi Sinta-2, sejak 2024 terindeks Scopus Q1, dan kemudian Sinta-1.

Related Posts

Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

by I Wayan Sujana Suklu
July 25, 2026
0
Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

  Tubuh berjalan pelandi antara bukit, rumah, dan laut yang tidak selesai. Angin membawa nama-namayang pernah singgah di pelabuhan,lalu hilang...

Read moreDetails

Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

by Chandra Manikan
July 22, 2026
0
Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

Asap mengepul perlahan hingga menutupi sebagian panggung, sementara cahaya merah merambat dan menerangi Ocha Diartini yang saat itu berperan sebagai...

Read moreDetails

Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

by Satria Aditya
July 20, 2026
0
Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

PARADE Monolog dalam Festival Seni Bali Jani 2016 yang digelar pada 14 Juli  di Gedung Ksirarnawa, dibuka pukul 17.00 Wita,...

Read moreDetails

Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

by Putu Intan Juliantika
July 19, 2026
0
Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

 “Teng! Tong! Teng! Tong! Teng! Tung! Pagi tiba alarm berbunyi...” Itu adalah suara dering alarm saya pukul tiga pagi yang...

Read moreDetails

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
0
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

Read moreDetails

‘The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark’ di TMII —Cahaya Menghidupkan Hanoman Duta

by Azzahra Naya R
July 1, 2026
0
‘The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark’ di TMII —Cahaya Menghidupkan Hanoman Duta

SAAT menyaksikan The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark: Hanoman Duta, Amfiteater Panggung Budaya, Taman Mini Indonesia Indah (TMII),...

Read moreDetails

Kembalinya Roh Teo-Estetika —Menguatkan Kembali Konsolidasi Sosial Masyarakat Banjar Bukit Buwung Kesiman Melalui Kesenian Dramatari Arja

by IM Gede Nesa Saputra
June 30, 2026
0
Kembalinya Roh Teo-Estetika —Menguatkan Kembali Konsolidasi Sosial Masyarakat Banjar Bukit Buwung Kesiman Melalui Kesenian Dramatari Arja

KEMBALINYA seni Arja di Banjar Bukit Buwung, Kesiman, tidak dapat dipahami semata sebagai upaya revitalisasi kesenian tradisional, melainkan sebagai proses...

Read moreDetails

‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

by Yudi Laksana
June 24, 2026
0
‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di...

Read moreDetails

Tembang Propaganda dan Atraksi Silat yang Memberi Warna pada Liuk Janger Kerobokan di Pesta Kesenian Bali 2026 —Sebuah Catatan

by Kadek Surya Jayadi
June 20, 2026
0
Tembang Propaganda dan Atraksi Silat yang Memberi Warna pada Liuk Janger Kerobokan di Pesta Kesenian Bali 2026 —Sebuah Catatan

 “Mari kawan bersama kita bekerja, bersihkan lingkungan….”  ITU adalah penggalan tembang yang menjadi salah satu hal menarik dari pementasan kesenian...

Read moreDetails

Aura dan Ruang Aman : Catatan dari Suara-Suara yang Dikecilkan

by Rezky Chiki
June 9, 2026
0
Aura dan Ruang Aman : Catatan dari Suara-Suara yang Dikecilkan

“Salah satu hal yang membuat pelecehan sulit dikenali adalah karena ia sering hadir dalam bentuk yang tampak biasa: candaan, gurauan,...

Read moreDetails
Next Post
Tari Siwanataraja, Simbol Awal Penciptaan yang Selalu Hadir dalam Peed Aya Pesta Kesenian Bali

Peed Aya PKB 2026, Seni Keberlanjutan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

“Kapan Nikah?”: Ketika Usia Jadi Alat untuk Menghakimi Perempuan

"Kapan Nikah?" Dua kata yang terdengar ringan di telinga yang menanyakannya, tapi menjadi beban yang dibawa pulang bagi perempuan yang...

by Fitria Hani Aprina
July 25, 2026
Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi
Ulas Pentas

Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

  Tubuh berjalan pelandi antara bukit, rumah, dan laut yang tidak selesai. Angin membawa nama-namayang pernah singgah di pelabuhan,lalu hilang...

by I Wayan Sujana Suklu
July 25, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Tidak semua orang membatik untuk menghasilkan kain. Ada yang membatik agar hatinya tetap utuh." Di ruang terbuka lantai atas rumahnya,...

by Tri Nugroho Adi
July 25, 2026
‘Tak Sepatah Kata’: Ketika 100 Tahun Puisi Indonesia di Bali Menjelma Menjadi Sebuah Pertunjukan
Panggung

‘Tak Sepatah Kata’: Ketika 100 Tahun Puisi Indonesia di Bali Menjelma Menjadi Sebuah Pertunjukan

RUANGAN Gedung Ksirarnawa mendadak sunyi. Lampu panggung meredup, hanya menyisakan seberkas cahaya yang jatuh pada seorang lelaki yang duduk di...

by Dede Putra Wiguna
July 25, 2026
“Katarsis Jiwa Kelam”: Ketika Geguritan ‘Bagus Diarsa’ Menjelma Drama Musikal Kontemporer di Festival Seni Bali Jani 2026
Panggung

“Katarsis Jiwa Kelam”: Ketika Geguritan ‘Bagus Diarsa’ Menjelma Drama Musikal Kontemporer di Festival Seni Bali Jani 2026

KETIKA Bagus Diarsa tampak sibuk menatap layar telepon genggamnya, di sampingnya berdiri sosok berwajah penuh riasan, berbusana merah menyala. Dialah...

by Dede Putra Wiguna
July 25, 2026
Menapak Jejak Rarud Batur, Mengenang Seratus Tahun Ketangguhan dari Lereng Gunung Batur
Budaya

Menapak Jejak Rarud Batur, Mengenang Seratus Tahun Ketangguhan dari Lereng Gunung Batur

DI kaki Gunung Batur, sejarah tidak hanya tersimpan dalam arsip atau cerita para tetua; tapi hidup di jalan-jalan yang pernah...

by tatkala
July 25, 2026
Orkestra Warna Kun Adnyana
Ulas Rupa

Orkestra Warna Kun Adnyana

YOGYA Annual Art ke-11 tahun 2026 dengan tema Direction (Arah) ini, menurut saya, dibuka dengan sebuah kesadaran yang tajam: bahwa...

by Hartanto
July 25, 2026
Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”
Khas

Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”

PERJALANAN panjang musik pop Bali menjadi sorotan dalam bedah buku Kéné Kéto: Musik Pop Bali karya I Made Adnyana pada...

by Nyoman Budarsana
July 25, 2026
Kebaya Hari Ini, Masihkah Menutup Sesuai Adabnya?
Esai

Kebaya Hari Ini, Masihkah Menutup Sesuai Adabnya?

KEMERIAHAN saya sebagai generasi milenial dalam berpakaian pada masa kanak kanak sangat jauh berbeda dengan gen alpha dan gen beta...

by Pande Susan
July 24, 2026
Lewat Digitalisasi dan “Green Tourism”, Mahasiswa Politeknik Negeri Bali Menghidupkan Potensi Desa Muncan, Karangasem
Pendidikan

Lewat Digitalisasi dan “Green Tourism”, Mahasiswa Politeknik Negeri Bali Menghidupkan Potensi Desa Muncan, Karangasem

BANYAK program pengabdian masyarakat berakhir sebagai seremoni. Datang, memberi pelatihan, lalu pulang. Namun, program Bina Desa yang digagas Badan Eksekutif...

by Dede Putra Wiguna
July 24, 2026
Kesetiaan Itu Mahal ——Ketika Gotawa Menafsirkan “Satya” Lewat Pameran Tunggal di Toke, Toko Kopi & Seni
Pameran

Kesetiaan Itu Mahal ——Ketika Gotawa Menafsirkan “Satya” Lewat Pameran Tunggal di Toke, Toko Kopi & Seni

DI tengah denting musik elektronik yang berpadu dengan aroma dupa dan canang, Gotawa berdiri di depan kanvas. Tangannya bergerak, menumpahkan...

by Dede Putra Wiguna
July 24, 2026
Siap-siap ke Lovina Festival 2026
Panggung

Siap-siap ke Lovina Festival 2026

"Hari ini kesiapan sudah seratus persen," ucap Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra membuka jumpa pers di Spice Dive Beach Club,...

by Komang Puja Savitri
July 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co