SORAK sorai suporter terdengar dari sudut aula. Tepuk tangan menyambut setiap penampilan, sementara tawa pecah di antara adegan-adegan drama yang dimainkan para siswa. Panggung aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin, 10 Agustus 2026, berubah menjadi ruang ekspresi yang jauh dari suasana belajar di dalam kelas.
Hari itu, semangat kemerdekaan datang lebih awal di Kesbam. Meski Hari Kemerdekaan Republik Indonesia baru diperingati pada 17 Agustus, para siswa sudah lebih dahulu merayakannya melalui Hari Ekspresi dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan. Kegiatan yang berlangsung di aula sekolah tersebut menjadi panggung bagi siswa kelas X dan XI untuk menunjukkan keberanian tampil, kreativitas, sekaligus kekompakan kelas. Sementara itu, kelas XII memang tidak diikutsertakan karena sedang menjalani masa Praktik Kerja Lapangan (PKL).
Sejak awal acara, panggung tidak hanya diisi satu jenis pertunjukan. Panitia menyediakan empat kategori yang dilombakan, yakni seni pertunjukan, musik, tari, dan kreativitas. Pada kategori seni pertunjukan, siswa dapat memilih drama perjuangan, teater kesehatan, puisi kemerdekaan, monolog pahlawan, hingga storytelling. Sementara kategori musik membuka ruang bagi solo vokal lagu nasional, vocal group, band akustik, maupun paduan suara.


Keragaman itu tampak di atas panggung. Ada siswa yang tampil membawa suasana tradisional melalui busana dan gerak tari. Ada pula yang memainkan drama dengan adegan yang membuat penonton ikut menahan perhatian. Di sela-sela pertunjukan, musik dan suara vokal siswa mengisi aula. Panggung yang semula hanya menjadi tempat kegiatan sekolah berubah menjadi ruang tempat siswa berani menunjukkan kemampuan mereka di hadapan teman-temannya.
Bagi sebagian siswa, kesempatan tampil seperti ini mungkin terlihat sederhana. Namun, berdiri di depan banyak orang, menghafalkan dialog, mengatur gerakan, bernyanyi, atau memainkan sebuah karakter membutuhkan keberanian. Terlebih, setiap kelas datang membawa semangat untuk memberikan penampilan terbaiknya. Suporter dari masing-masing kelas pun ikut memainkan peran. Mereka tidak sekadar menonton, tetapi terus memberikan dukungan melalui sorakan dan tepuk tangan.


Salah satu momen yang mencuri perhatian adalah ketika panggung berubah menjadi arena drama. Para pemain bergerak mengikuti alur cerita, sementara beberapa siswa lain terbaring di lantai sebagai bagian dari adegan. Di sisi lain, penampilan musik juga menghadirkan suasana yang lebih santai. Seorang siswa tampil bernyanyi dengan iringan gitar, disusul penampilan vokal siswa lain yang mendapat sambutan penonton.
Ada pula penampilan yang memperlihatkan bagaimana kegiatan ini memberi ruang bagi siswa untuk menggabungkan unsur budaya dan kreativitas. Busana tradisional Bali, hingga pakaian bernuansa perjuangan hadir silih berganti. Di panggung yang sama, siswa tidak hanya dituntut tampil, tetapi juga belajar menerjemahkan gagasan menjadi sebuah pertunjukan.


Hanin Azzahra Alwiyah Al-Kaff selaku Ketua Panitia OSIS, mengungkapkan bahwa kegiatan tersebut cukup melelahkan karena menjadi pengalaman pertamanya sebagai ketua panitia. Meski skalanya tidak besar, menurut Hanin, kegiatan itu menguras energi sekaligus memberinya banyak pengalaman baru.
“Menjadi ketua panitia untuk pertama kalinya cukup melelahkan. Walaupun acaranya bukan acara yang besar, kegiatan ini sangat menguras energi. Tetapi dari sini saya banyak belajar dan mendapatkan banyak hal baru,” ujar Hanin.
Ia menilai pelaksanaan kegiatan secara umum berjalan lancar, meski sempat muncul sejumlah kendala pada hari pelaksanaan. Salah satunya berkaitan dengan durasi penampilan. Beberapa peserta tidak sepenuhnya mengikuti ketentuan waktu yang telah ditetapkan panitia. Pada kategori tari, misalnya, durasi penampilan telah diatur selama lima hingga tujuh menit, tetapi ada peserta yang tampil hingga sekitar 15 menit. Kondisi tersebut sempat membuat susunan acara sedikit bergeser. Meski demikian, panitia akhirnya dapat mengatasinya dan melanjutkan kegiatan hingga selesai.


Bagi I Wayan Agus Suardiana Putra, guru sekaligus salah satu dewan juri, kegiatan semacam ini memiliki manfaat bagi siswa. “Kegiatan ini bermanfaat karena memberi ruang bagi siswa untuk berani tampil, mengembangkan kreativitas, dan belajar bekerja sama dalam sebuah kegiatan,” ujarnya.
Apa yang berlangsung di aula hari itu pada akhirnya bukan semata-mata persoalan siapa yang tampil paling baik. Ada proses yang lebih panjang di balik setiap penampilan. Ada siswa yang berlatih, kelas yang menyusun konsep, panitia yang mengatur jalannya acara, serta suporter yang menjaga semangat teman-temannya.
Hari Ekspresi di Kesbam menjadi semacam pemanasan sebelum perayaan 17 Agustus. Kemerdekaan tidak hanya hadir dalam upacara dan pengibaran bendera. Di lingkungan sekolah, ia juga dapat dirayakan melalui keberanian untuk tampil, kesempatan untuk berkarya, dan kemauan untuk bekerja bersama.[T]
Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole































