4 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Nenden Shintawati di SUVJF 2026: Dari Penyanyi Cilik ke Jazz Kelas Dunia

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
August 15, 2026
in Panggung
Nenden Shintawati di SUVJF 2026: Dari Penyanyi Cilik ke Jazz Kelas Dunia

Nenden Shintawati tampil bersama Salamander Big Band di SUVJF 2026, (7/8)│Foto: tatkala.co/Dede

SALAH satu momen menarik ketika Salamander Big Band tampil membuka Sthala Ubud Village Jazz Festival (SUVJF) 2026 pada Jumat, 7 Agustus 2026, adalah kemunculan Nenden Shintawati di panggung. Di antara denting piano, tiupan brass, dan permainan ritmis puluhan musisi, suara Nenden terdengar lantang dan merdu. Ia menyanyikan bagiannya dengan tenang, seolah panggung sebesar itu bukan sesuatu yang asing baginya.

Penampilannya malam itu sebenarnya hanyalah satu bagian dari perjalanan panjang Nenden Shintawati di industri musik. Jauh sebelum berdiri di panggung festival jazz di Ubud itu, ia telah mengenal dunia tarik suara sejak masih kecil. Ia tumbuh sebagai penyanyi cilik pada era 1980-an, ketika musik anak-anak masih memiliki ruang yang cukup besar dalam industri rekaman Indonesia. Dua karya yang pernah dibawakannya antara lain album ‘Kasih Mama’ (1985) dan ‘Matahatiku’ (1986).

Dari sana, perjalanan Nenden tidak berhenti sebagai penyanyi cilik. Ia terus tumbuh bersama musik, melewati perubahan zaman, genre, dan panggung yang berbeda. Lebih dari tiga dekade kemudian, ia masih berdiri di hadapan penonton dan bernyanyi dengan energi yang sama.

Kaset pita album ‘Kasih Mama’ oleh Nenden Shintawati

 

Kini Nenden dikenal sebagai penyanyi, pelatih vokal, sekaligus pencipta lagu. Jazz menjadi salah satu wilayah yang paling dekat dengannya, meski kemampuan vokalnya tidak berhenti pada satu genre. Ia dapat membawakan musik pop, melayu, hingga dangdut. Kemampuan berpindah karakter inilah yang membuat pengalaman panjangnya sebagai penyanyi terasa penting. Ia tidak sekadar memiliki suara, tetapi juga memahami bagaimana suara bekerja di dalam beragam bentuk musik.

Di panggung SUVJF 2026, kemampuan itu menemukan ruang yang berbeda. Bersama Salamander Big Band, Nenden menjadi bagian dari pertunjukan pembuka festival yang sejak 2013 mempertahankan jazz sebagai identitas utamanya. Pada penyelenggaraan ke-13 ini, SUVJF kembali mempertemukan musisi dari berbagai latar dengan penonton di kawasan Sthala, Mawang, Lodtunduh, Ubud. Festival tersebut tidak sekadar menyusun pertunjukan, tetapi juga menyediakan ruang untuk komunitas, edukasi, kolaborasi, dan pertemuan antarmusisi.

Di tengah lingkungan seperti itulah Nenden tampil. Tidak ada kebutuhan untuk menjelaskan siapa dirinya melalui kisah yang mengundang iba. Justru sebaliknya, kekuatan Nenden terletak pada bagaimana ia menempatkan musik sebagai pusat dari dirinya.

Ia tidak ingin dikenal terutama karena keterbatasan penglihatannya. Dalam perjalanan karier yang telah berlangsung lebih dari 30 tahun, Nenden memilih untuk berbicara melalui kemampuan bernyanyi dan bermusik. Baginya, keterbatasan bukan sesuatu yang perlu dijadikan komoditas untuk mendapatkan perhatian. Ia ingin penonton mengenalnya karena kualitas vokalnya.

Nenden Shintawati tampil bersama Salamander Big Band di SUVJF 2026, (7/8)│Foto: tatkala.co/Dede

Pilihan itu terasa semakin kuat ketika melihat cara Nenden bernyanyi. Nada rendah maupun tinggi dapat ia olah dengan leluasa. Suaranya tidak hanya terdengar lantang, tetapi juga mampu mengikuti kebutuhan aransemen. Dalam format big band, ketika banyak instrumen bekerja dalam satu komposisi, seorang vokalis harus mampu menemukan ruangnya sendiri tanpa kehilangan hubungan dengan keseluruhan musik. Dan Nenden, memiliki pengalaman untuk itu.

Perjalanan Panjang itu juga membawanya ke berbagai bentuk karya dan profesi. Ia pernah terlibat sebagai pencipta lagu, termasuk ikut menciptakan dan menyanyikan “Cuma Rindu” atau “Dan Kau Hadir” bersama Atalia Praratya sebagai persembahan untuk mendiang Emmeril Kahn Mumtadz. Ia juga pernah membuat karya untuk penyanyi lain. Semua itu menunjukkan bahwa perjalanan Nenden tidak hanya berlangsung di depan mikrofon, tetapi juga di balik proses penciptaan musik.

Sebelumnya, Nenden juga telah melewati berbagai panggung kompetisi. Ia merupakan jebolan Cipta Pesona Bintang 1995 dan dikenal kerap meraih prestasi dalam sejumlah ajang bernyanyi.

Karena itu, penampilannya bersama Salamander Big Band di SUVJF 2026 tidak tepat jika hanya dilihat sebagai penampilan seorang penyanyi yang datang mengisi festival. Ada perjalanan panjang yang ikut naik ke atas panggung malam itu. Perjalanan seorang anak yang mulai bernyanyi pada dekade 1980-an, melewati industri musik yang terus berubah, mencoba berbagai genre, menciptakan lagu, melatih vokal, hingga akhirnya berdiri sebagai penyanyi jazz yang matang.

Nenden Shintawati tampil bersama Salamander Big Band di SUVJF 2026, (7/8)│Foto: tatkala.co/Dede

Di Sthala, perjalanan itu bertemu dengan sebuah festival yang juga memiliki perjalanan panjangnya sendiri. SUVJF telah berlangsung selama tiga belas tahun penyelenggaraan dan tetap memilih jazz sebagai identitas, meski pilihan tersebut tidak selalu menjadi jalan yang paling mudah di tengah tuntutan pasar musik. Festival ini bahkan menempatkan musisi muda dan senior dalam ruang yang sama, membuka kemungkinan regenerasi sekaligus menjaga hubungan antargenerasi dalam komunitas jazz.

Di titik itulah penampilan Nenden terasa memiliki makna lebih. Ia bukan hanya bagian dari sebuah pertunjukan, tetapi juga representasi dari bagaimana seorang musisi dapat bertahan melewati perubahan zaman tanpa kehilangan hubungan dengan musik.

Dari penyanyi cilik yang pernah direkam dalam bentuk kaset hingga vokalis yang berdiri di tengah panggung jazz dengan aransemen big band, Nenden Shintawati telah melewati perjalanan yang panjang. Empat dekade mungkin mengubah banyak hal di sekelilingnya, tetapi satu hal tetap sama, ia masih bernyanyi.[T]

Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole

Tags: festival musik jazzmusik jazzSthala UbudSthala Ubud Village Jazz FestivalSthala Ubud Village Jazz Festival 2026UbudUbud Village Jazz FestivalUVJFUVJF 2026
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sebelum Merah Putih Berkibar, SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar Sudah Riuh Lebih Awal Lewat Panggung Ekspresi

Next Post

Bercakap-cakap tentang Sabung Ayam bersama Clifford Geertz

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama

by tatkala
November 1, 2026
0
Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama

Sekitar 6.000 pengunjung menghadiri hari pertama Jembrana Creative Festival (JCF) 2026 di Taman Pecangakan, Negara, Sabtu (31/10/2026). Berdasarkan catatan panitia,...

Read moreDetails

Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
0
Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung

HUJAN deras mengguyur Ubud pada Sabtu sore, 24 Oktober 2026. Namun, di Rumah Kayu, Taman Baca Ubud, suasana tetap hangat...

Read moreDetails

Menulis yang Tak Tertahankan, Menyuarakan yang Terbungkam

by Dede Putra Wiguna
October 29, 2026
0
Menulis yang Tak Tertahankan, Menyuarakan yang Terbungkam

BAGAIMANA menuliskan luka yang sulit diungkapkan? Ketika trauma, kehilangan, dan ketidakadilan terasa begitu berat, mampukah kata-kata menggambarkan pengalaman yang menyakitkan...

Read moreDetails

Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia

by Nyoman Budarsana
October 29, 2026
0
Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia

PERAGAAN busana yang mengusung konsep tekstil berkelanjutan tampil memikat dalam Labdanation Fashion Week Season III di panggung terbuka Sira Village,...

Read moreDetails

Luncurkan “Penasaran”, Henry Manampiring Ingin Marah-Marah Lewat Cerpen

by Dede Putra Wiguna
October 29, 2026
0
Luncurkan “Penasaran”, Henry Manampiring Ingin Marah-Marah Lewat Cerpen

SELAMA ini Henry Manampiring dikenal sebagai penulis nonfiksi, terutama melalui Filosofi Teras yang mengupas filsafat Stoikisme. Namun, lewat kumpulan cerpen...

Read moreDetails

Sutasoma vs Purusada: Satire Kekuasaan di Panggung Swara SeadaNya

by tatkala
October 28, 2026
0
Sutasoma vs Purusada: Satire Kekuasaan di Panggung Swara SeadaNya

GUNAWAN Wicaksono membawakan tokoh Purusada dengan riasan tebal, didominasi garis merah dan hitam yang mempertegas wajahnya. Matanya melotot, suaranya menggelegar...

Read moreDetails

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Ditutup, Samarasā Dirayakan lewat Tari, Puisi, dan Musik

by Dede Putra Wiguna
October 27, 2026
0
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Ditutup, Samarasā Dirayakan lewat Tari, Puisi, dan Musik

HUJAN mengguyur Ubud ketika malam penutupan Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) hendak dimulai. Namun, hujan perlahan mereda seiring berlangsungnya...

Read moreDetails

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
0
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

Read moreDetails

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
0
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

Read moreDetails

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
0
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

Read moreDetails
Next Post
Bercakap-cakap tentang Sabung Ayam bersama Clifford Geertz

Bercakap-cakap tentang Sabung Ayam bersama Clifford Geertz

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Esai

Kuasa dalam Perjanjian Jual Beli Tanah dan Bangunan

PEMBERIAN kuasa adalah suatu perjanjian yang memberikan kekuasaan kepada seseorang untuk menerima dan melaksanakan suatu urusan atas nama pemberi kuasa...

by I Made Pria Dharsana
November 4, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

LONTAR USADA KERALA

— Catatan Harian Sugi Lanus, 1 Nov 2026 * Kerala (sebuah negara bagian di India Selatan) memiliki kesamaan kultural yang...

by Sugi Lanus
November 4, 2026
Sastrawan di Seberang Lautan Tampak, Ada yang Tak Tampak di Pelupuk Mata
Esai

Sastrawan di Seberang Lautan Tampak, Ada yang Tak Tampak di Pelupuk Mata

SILATURAHMI, sembari menghitung almanak yang tanggal demi tanggalnya bergerak seirama dengan perputaran jarum jam dan garis edar matahari, kami—saya, dr....

by Hartanto
November 4, 2026
COCA Ubud, Merajut Musik, Film, Kuliner, dan Seni dalam Satu Rumah Kreatif
Pariwisata

COCA Ubud, Merajut Musik, Film, Kuliner, dan Seni dalam Satu Rumah Kreatif

DI Ubud, pengalaman menikmati musik, menonton film, menyantap hidangan, dan mengapresiasi seni kini memiliki satu ruang pertemuan. Namanya COCA Ubud....

by tatkala
November 3, 2026
Peringati Bulan Bahasa dan Sumpah Pemuda, Prima Mandiri School Asah Kreativitas dan Keberanian Siswa Lewat Berbagai Lomba
Pendidikan

Peringati Bulan Bahasa dan Sumpah Pemuda, Prima Mandiri School Asah Kreativitas dan Keberanian Siswa Lewat Berbagai Lomba

TIGA bendera kecil terangkat hampir bersamaan. Pertanyaan demi pertanyaan menguji ketangkasan para peserta. Ada yang sigap menjawab, ada pula yang...

by Dede Putra Wiguna
November 3, 2026
Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam
Esai

Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam

BAHASA masyarakat tradisional menyimpan cara pandang yang khas dalam memahami dunia. Alam tidak hanya menjadi ruang tempat manusia hidup dan...

by I Ketut Suar Adnyana
November 3, 2026
Road to Bali Digifest 2026, UPMI Bali Dorong Mahasiswa Berani Berinovasi
Pendidikan

Road to Bali Digifest 2026, UPMI Bali Dorong Mahasiswa Berani Berinovasi

KECERDASAN buatan atau artificial intelligence (AI) semakin dekat dengan kehidupan mahasiswa. Teknologi ini menawarkan kemudahan dalam belajar dan berkarya. Namun,...

by Dede Putra Wiguna
November 3, 2026
Tak Sekadar Memburu Juara, Jurnalis Muda Bali Belajar Memaknai Fakta di Pekan Jurnalistik UPMI Bali 2026
Pendidikan

Tak Sekadar Memburu Juara, Jurnalis Muda Bali Belajar Memaknai Fakta di Pekan Jurnalistik UPMI Bali 2026

FAKTA bisa menjadi cerita yang menggugah ketika berada di tangan yang tepat. Semangat itulah yang mengemuka dalam Pekan Jurnalistik Universitas...

by Dede Putra Wiguna
November 3, 2026
Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026
Esai

Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

PADA hari ketika manusia diajak menegakkan pagar, sebuah panggung kebudayaan justru dibuka selebar-lebarnya. Rabu, 4 November 2026, menjadi sebuah momentum...

by I Gusti Made Darma Putra
November 2, 2026
Poem by Sugi Lanus | Yamuna
Poetry

Poem by Sugi Lanus | Yamuna

My Yamuna, I bow down to your love,which has kept me awake while drowning in your flow for thousands of...

by Sugi Lanus
November 2, 2026
Bentrok Tafsir: Ketika Teks Membelah Persepsi — Membicarakan Cerpen “Ketika Kentongan Dipukul di Balai Banjar” karya I Nyoman Rasta Sindhu
Kritik Sastra

Bentrok Tafsir: Ketika Teks Membelah Persepsi — Membicarakan Cerpen “Ketika Kentongan Dipukul di Balai Banjar” karya I Nyoman Rasta Sindhu

SATU cerpen mampu menghasilkan dua tafsir yang saling bertolak belakang. Fenomena ini muncul dan menarik perhatian saya ketika melakukan penilaian...

by I Kadek Adhi Dwipayana
November 2, 2026
Hal-Hal Tak Biasa dari Lontar “Kidung Bhuwana Wināśa” sebagai “Memory of the World”
Kritik Sastra

Hal-Hal Tak Biasa dari Lontar “Kidung Bhuwana Wināśa” sebagai “Memory of the World”

Sejarah Ditulis oleh Korban yang Kalah Karya sastra Kidung Bhuwana Wināśa ‘Nyanyian Kehancuran Dunia’ yang ditulis oleh Ida Pedanda Ngurah...

by Putu Eka Guna Yasa
November 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co