18 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kita Semua Saling Terkait: Membaca Yajña, Pancakosha, Chakra, Hawkins, dan Fritjof Capra dalam Satu Kesadaran

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
June 7, 2026
in Esai
Kita Semua Saling Terkait: Membaca Yajña, Pancakosha, Chakra, Hawkins, dan Fritjof Capra dalam Satu Kesadaran

Ilustrasi tatkala.co | Canva

Yajña: Dari Ritual Persembahan Menuju Laku Kehidupan

Banyak orang memandang yajña sebagai ritual keagamaan yang diwujudkan melalui sesajen, canang, bunga, dupa, atau berbagai bentuk persembahan lainnya. Namun jika dicermati lebih dalam, simbol-simbol tersebut sesungguhnya mengandung pesan yang jauh lebih luas daripada sekadar pelaksanaan ritual. Yajña adalah pengingat bahwa hidup ini berlangsung karena adanya pemberian yang terus-menerus.

Kita hidup karena matahari memberi energi. Kita bernapas karena pohon menghasilkan oksigen. Kita makan karena tanah menyediakan kesuburan dan petani mengolahnya. Kita belajar karena guru berbagi pengetahuan. Bahkan keberadaan kita saat ini tidak terlepas dari pengorbanan orang tua, leluhur, dan masyarakat yang membangun peradaban.

Dalam pengertian ini, yajña bukanlah upaya memberi kepada Tuhan yang dianggap membutuhkan persembahan. Justru manusialah yang membutuhkan simbol-simbol itu agar tidak lupa bahwa dirinya hidup di tengah jaringan hubungan yang sangat luas. Setiap persembahan adalah pengingat untuk bertanya kepada diri sendiri: “Sudahkah aku memberi kembali kepada kehidupan yang telah begitu banyak memberiku?”

Makna terdalam yajña adalah berbagi. Berbagi kepada sesama manusia, berbagi kepada flora dan fauna, menjaga sumber air, merawat lingkungan, melindungi kawasan suci, serta menjalankan kehidupan dengan kesadaran bahwa kita bukan pusat alam semesta. Kita adalah bagian dari suatu jaringan besar kehidupan.

Pesan inilah yang sering ditekankan oleh Guruji Anand Krishna melalui ungkapan sederhana namun mendalam: “Kita semua saling terkait.”

Fritjof Capra dan Sains tentang Keterkaitan

Menariknya, apa yang diajarkan dalam spiritualitas ternyata menemukan gema yang kuat dalam sains modern. Salah satu tokoh yang paling menonjol dalam menjelaskan hal ini adalah Fritjof Capra.

Dalam karya-karyanya, terutama The Tao of Physics dan The Web of Life, Capra menunjukkan bahwa paradigma sains sedang mengalami perubahan mendasar. Selama berabad-abad, dunia dipahami melalui paradigma mekanistik yang melihat alam semesta sebagai mesin besar yang terdiri atas bagian-bagian terpisah.

Namun perkembangan fisika, biologi, dan ekologi menunjukkan sesuatu yang berbeda. Kehidupan ternyata bukan kumpulan benda yang berdiri sendiri. Kehidupan adalah jaringan hubungan.

Seekor lebah tidak dapat dipahami tanpa bunga. Bunga tidak dapat dipahami tanpa tanah dan air. Hutan tidak dapat dipisahkan dari sungai. Sungai tidak dapat dipisahkan dari pegunungan. Manusia tidak dapat dipisahkan dari seluruh sistem ekologis yang menopangnya.

Capra bahkan mengemukakan bahwa hubungan sering kali lebih fundamental daripada objek itu sendiri. Yang membuat suatu sistem hidup bukanlah bagian-bagiannya, melainkan hubungan antarbagian tersebut.

Pandangan ini sangat relevan dengan krisis global saat ini. Kerusakan lingkungan, perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, dan berbagai konflik sosial pada dasarnya lahir dari ilusi keterpisahan. Ketika manusia merasa terpisah dari alam, eksploitasi menjadi mudah dilakukan. Ketika manusia merasa terpisah dari sesamanya, ketidakadilan menjadi sesuatu yang dianggap wajar.

Sains modern justru menunjukkan sebaliknya. Alam semesta adalah jaringan yang saling bergantung. Apa yang terjadi pada satu bagian akan memengaruhi bagian lainnya.

Pancakosha: Perjalanan dari Keterpisahan menuju Kesatuan

Konsep Pancakosha dalam Vedanta memberikan perspektif yang menarik untuk memahami perkembangan kesadaran manusia terhadap keterkaitan tersebut.

Pada tingkat Annamaya Kosha, manusia mengidentifikasi dirinya sebagai tubuh fisik. Dunia dipandang sebagai kumpulan objek yang terpisah. Yang utama adalah kebutuhan jasmani dan keamanan diri.

Pada tingkat Pranamaya Kosha, seseorang mulai menyadari pentingnya energi kehidupan. Ia memahami bahwa hidup bergantung alam, dan lingkungan yang sehat. Kesadaran ekologis mulai tumbuh.

Pada Manomaya Kosha, yang diartikan Guruji Anand Krishna sebagai gugusan pikiran dan perasaan dengan segala anak pinaknya antara lain, obsesi atau keinginan, memori dari masa lalu, mimpi, halusinasi dan sebagainya. Manusia mulai menggunakan nalar dan hubungan emosional berkembang. Perkembangan pada kesadaran Manomaya Kosha, membuat manusia bisa menjadi seorang saintis sejati atau seniman sejati yang tiak lagi terjebak oleh insting hewani dalam diri

Namun pemahaman yang lebih mendalam muncul pada Vijnanamaya Kosha. Di sinilah seseorang mulai melihat pola besar yang menghubungkan segala sesuatu. Kesadaran tidak lagi terbatas pada kepentingan pribadi. Ia memahami bahwa manusia, alam, dan kosmos merupakan bagian dari jaringan kehidupan yang sama. Manusia mulai menjadi bijak.

Posisi pemikiran Capra sebenarnya sangat dekat dengan lapisan ini. Melalui sains, ia sampai pada kesimpulan bahwa realitas bersifat relasional dan saling terkait.

Sementara itu, pada Anandamaya Kosha, keterkaitan tidak lagi sekadar dipahami secara intelektual. Ia menjadi pengalaman langsung. Kesadaran akan kesatuan hadir bukan sebagai teori, melainkan sebagai kenyataan yang dialami.

Dalam keadaan ini, seseorang tidak lagi membantu sesama karena kewajiban etis semata. Ia membantu karena merasakan bahwa penderitaan orang lain juga merupakan bagian dari dirinya sendiri.

Tujuh Chakra dan Evolusi Kesadaran

Gagasan yang sama dapat dijelaskan melalui sistem tujuh chakra.

Pada tiga chakra pertama—Muladhara, Svadhisthana, dan Manipura—kesadaran masih berpusat pada diri sendiri. Fokusnya adalah keamanan, kesenangan, identitas, prestasi, dan kekuasaan.

Pertanyaan yang dominan adalah:

“Apa yang baik untukku?”

Namun pada Anahata Chakra, terjadi perubahan mendasar. Cinta, empati, dan kepedulian mulai berkembang. Kesadaran bergerak dari “aku” menuju “kita”.

Di sinilah seseorang mulai memahami bahwa kebahagiaan pribadi tidak dapat dipisahkan dari kebahagiaan orang lain.

Perjalanan berlanjut menuju Vishuddha Chakra, tempat nilai-nilai tersebut diekspresikan melalui komunikasi, pendidikan, kreativitas, dan pelayanan.

Pada Ajna Chakra, muncul kemampuan melihat keterhubungan yang lebih luas. Pola-pola kehidupan mulai terlihat secara utuh. Pemikiran sistemik yang dikembangkan Capra sangat dekat dengan kualitas Ajna Chakra ini.

Akhirnya, pada Sahasrara Chakra, dualitas antara diri dan yang lain mulai mencair. Kesadaran kesatuan menjadi pengalaman spiritual yang mendalam.

Dari perspektif ini, pesan “kita semua saling terkait” bukan sekadar ajaran etika, melainkan penanda perkembangan kesadaran dari chakra-chakra bawah menuju chakra-chakra yang lebih tinggi.

Hawkins, Kesadaran Global, dan Masa Depan Kemanusiaan

Pandangan serupa juga ditemukan dalam peta kesadaran yang dikembangkan oleh David R. Hawkins.

Pada tingkat kesadaran rendah yang didominasi rasa takut, marah, dan egoisme, dunia dipandang sebagai arena persaingan. Orang lain dianggap ancaman atau pesaing.

Namun ketika seseorang mencapai tingkat Courage, Willingness, dan Acceptance, ia mulai memahami pentingnya kerja sama dan tanggung jawab.

Pada tingkat Reason (400), pemahaman tentang keterkaitan muncul melalui ilmu pengetahuan, filsafat, dan refleksi rasional. Banyak ilmuwan besar berada pada tingkat ini.

Tingkat berikutnya adalah Love (500). Di sini keterkaitan tidak lagi dipahami semata-mata melalui logika. Ia dirasakan sebagai kasih yang nyata terhadap kehidupan.

Pada tingkat Peace (600) dan lebih tinggi lagi, kesadaran kesatuan menjadi pengalaman langsung. Tidak ada lagi batas tegas antara “aku” dan “yang lain”.

Jika kita menggabungkan Pancakosha, Chakra, dan Hawkins, tampak bahwa ketiganya menggambarkan perjalanan yang sama: dari kesadaran keterpisahan menuju kesadaran kesatuan.

Di tengah berbagai krisis global saat ini—kerusakan lingkungan, konflik sosial, ketimpangan ekonomi, dan krisis kesehatan mental—pesan “kita semua saling terkait” menjadi semakin relevan. Barangkali masalah terbesar manusia modern bukanlah kurangnya teknologi atau pengetahuan, melainkan hilangnya kesadaran akan keterhubungan.

Yajña mengajarkan keterhubungan melalui simbol dan ritual. Capra menjelaskannya melalui sains. Pancakosha menggambarkannya sebagai evolusi kesadaran. Chakra memetakan perjalanannya dalam tubuh energi manusia. Hawkins menunjukkan skalanya dalam perkembangan spiritual.

Semua menunjuk ke arah yang sama: tidak ada makhluk yang hidup sendirian. Kita adalah simpul-simpul dalam jaringan kehidupan yang sangat luas. Ketika kita merawat sesama, alam, dan lingkungan, sesungguhnya kita sedang merawat diri kita sendiri. Ketika kita merusak yang lain, kita juga merusak jaringan yang menopang keberadaan kita.

Inilah makna terdalam yajña yang sesungguhnya: menyadari bahwa hidup adalah pemberian, dan karena itu hidup yang bermakna adalah hidup yang juga menjadi pemberian bagi yang lain. Dalam kesadaran itulah kita menemukan bahwa di balik segala perbedaan, seluruh kehidupan berakar pada satu kesatuan yang sama. Kita semua saling terkait. Dan swadharma kita semua adalah melayani sesama, termasuk flora dan fauna. [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

Tags: Hawkinskemanusiaankesadaransains
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

Next Post

Kesalahan-kesalahan Umum dalam Membaca Puisi —Catatan Juri Lomba Baca Puisi HUT SMAN 1 Petang

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Kepemimpinan Transformasional sebagai Jantung Kebijakan Publik dan Komunikasi Politik Modern

by Jerry Indrawan
July 16, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

TANTANGAN birokrasi di era disrupsi global saat ini menuntut perubahan fundamental dalam paradigma pengelolaan pemerintahan dan cara pemimpin berinteraksi dengan...

Read moreDetails

Dunia adalah Cermin Kesadaran Manusia

by Agung Sudarsa
July 16, 2026
0
Dunia adalah Cermin Kesadaran Manusia

Kita Melihat Dunia Sebagaimana Diri Kita Mengamati perilaku sang istri selama belasan tahun sebagai guru TK, saya punya ungkapan: Seorang...

Read moreDetails

Satu Bahasa Dua Realitas: Mengapa Roy Suryo dan Jokowi Mustahil Saling Memahami?

by Nur Inayah Yushar
July 16, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

DALAM panggung politik kontemporer Indonesia, perseteruan antara mantan Menteri Pemuda dan Olahraga, Roy Suryo, dan mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi)...

Read moreDetails

Korupsi, Kekuasaan dan Keserakahan —Ketika Alam Sedang Bersih-Bersih

by Agung Sudarsa
July 15, 2026
0
Korupsi, Kekuasaan dan Keserakahan —Ketika Alam Sedang Bersih-Bersih

"Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely." Kalimat legendaris dari Lord Acton itu kembali terasa relevan ketika bangsa...

Read moreDetails

Dari Sekolah Sepi Menuju Sekolah Rakyat: Pendidikan Bukan Sekadar Transfer Informasi, tetapi Transformasi Kesadaran

by Agung Sudarsa
July 15, 2026
0
Sekolah Rakyat Vs Sekolah Reguler   

Ironi Pendidikan di Tengah Semangat Membangun Masa Depan Berita tentang SDN 6 Bhuana Giri di Bali yang selama empat tahun...

Read moreDetails

Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital

by Surfian Rahmat AP
July 15, 2026
0
Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital

DALAM beberapa tahun terakhir, lanskap media sosial seperti Instagram dan TikTok didominasi oleh proliferasi estetika “baddie”. Secara visual, seorang baddie...

Read moreDetails

Membaca Made Budhiana dari Sebuah Puisi

by Angga Wijaya
July 15, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

SAYA tidak mengenal Made Budhiana pertama kali melalui sebuah pameran lukisan. Bukan pula dari buku sejarah seni rupa Bali. Saya...

Read moreDetails

Hari Pertama Sekolah, Awal Membangun Budaya Sekolah yang Aman dan Inklusif

by Lailatus Sholihah
July 15, 2026
0
Hari Pertama Sekolah, Awal Membangun Budaya Sekolah yang Aman dan Inklusif

Pagi itu, gerbang-gerbang sekolah kembali dipenuhi wajah-wajah penuh harap. Ada anak yang dengan antusias mengenakan seragam baru, ada yang menggenggam...

Read moreDetails

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
0
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

Read moreDetails

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails
Next Post
Kesalahan-kesalahan Umum dalam Membaca Puisi —Catatan Juri Lomba Baca Puisi HUT SMAN 1 Petang

Kesalahan-kesalahan Umum dalam Membaca Puisi ---Catatan Juri Lomba Baca Puisi HUT SMAN 1 Petang

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Kata Menjelma Jiwa: Pesona Lomba Baca Puisi di Festival Seni Bali Jani 2026
Panggung

Ketika Kata Menjelma Jiwa: Pesona Lomba Baca Puisi di Festival Seni Bali Jani 2026

SUASANA Citta Kelangen Institut Seni Indonesia (ISI) Bali, Jumat, 17 Juli 2026, terasa berbeda. Tak terdengar dentuman gamelan atau hingar-bingar...

by Nyoman Budarsana
July 17, 2026
Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye
Ulas Buku

Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

Singkarak, Riang dan Sendunya merupakan kumpulan cerpen karya Ragdi F Daye yang diterbitkan Rumahkayu Pustaka pada Mei 2026. Buku ini...

by Azwar
July 17, 2026
“Dasa Muka, The Face of Humanity”, Saat Penonton Diajak Berkaca pada Wajah-Wajah dalam Diri Manusia
Panggung

“Dasa Muka, The Face of Humanity”, Saat Penonton Diajak Berkaca pada Wajah-Wajah dalam Diri Manusia

MALAM itu Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, dipenuhi penonton dari berbagai penjuru. Kamis, 16 Juli 2026, kursi-kursi tribun tak...

by Nyoman Budarsana
July 17, 2026
“Kera Wuhan”, Ketika Sun Go Kong dan Hanoman Menertawakan Ego Manusia
Panggung

“Kera Wuhan”, Ketika Sun Go Kong dan Hanoman Menertawakan Ego Manusia

GELAK tawa pecah bahkan sebelum adegan pertama benar-benar usai. Di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Rabu malam, 15 Juli 2026,...

by Nyoman Budarsana
July 17, 2026
Panggung Teater Modern Festival Seni Bali Jani 2026 Dipenuhi Tafsir Kreatif
Panggung

Panggung Teater Modern Festival Seni Bali Jani 2026 Dipenuhi Tafsir Kreatif

KEMAJUAN seni teater di Bali kembali menemukan panggungnya melalui Pawimba (Lomba) Teater Modern Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun...

by Nyoman Budarsana
July 17, 2026
Tetap Harus Ada Pembaruan pada Pesta Kesenian Bali, Lewat Rekonstruksi dan Penciptaan Karya Baru
Khas

Tetap Harus Ada Pembaruan pada Pesta Kesenian Bali, Lewat Rekonstruksi dan Penciptaan Karya Baru

MEMASUKI penyelenggaraan ke-48, Pesta Kesenian Bali (PKB) telah menempuh perjalanan panjang sebagai festival seni budaya terbesar di Pulau Dewata. Selama...

by Nyoman Budarsana
July 16, 2026
Merawat Masa Depan Pesta Kesenian Bali Lewat Dialog Antargenerasi
Khas

Merawat Masa Depan Pesta Kesenian Bali Lewat Dialog Antargenerasi

MENJELANG usianya yang mengarah pada setengah abad, Pesta Kesenian Bali (PKB) dihadapkan pada tantangan yang tidak ringan. Festival seni terbesar...

by Nyoman Budarsana
July 16, 2026
Menjernihkan Informasi dan Mendokumentasikan Pesta Kesenian Bali Lewat Jurnalisme
Khas

Menjernihkan Informasi dan Mendokumentasikan Pesta Kesenian Bali Lewat Jurnalisme

DI tengah riuh tepuk tangan yang mengiringi setiap pementasan Pesta Kesenian Bali (PKB), ada pekerjaan lain yang berlangsung tanpa sorot...

by Nyoman Budarsana
July 16, 2026
Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Kepemimpinan Transformasional sebagai Jantung Kebijakan Publik dan Komunikasi Politik Modern

TANTANGAN birokrasi di era disrupsi global saat ini menuntut perubahan fundamental dalam paradigma pengelolaan pemerintahan dan cara pemimpin berinteraksi dengan...

by Jerry Indrawan
July 16, 2026
Dunia adalah Cermin Kesadaran Manusia
Esai

Dunia adalah Cermin Kesadaran Manusia

Kita Melihat Dunia Sebagaimana Diri Kita Mengamati perilaku sang istri selama belasan tahun sebagai guru TK, saya punya ungkapan: Seorang...

by Agung Sudarsa
July 16, 2026
“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan
Ulas Buku

“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

Novel Koloni pertama kali diluncurkan oleh Gramedia pada 22 Agustus 2025. Sejak diluncurkan hingga kini, novel ini terus mendapat perhatian...

by I Made Sujaya
July 16, 2026
Menyingkap Relasi Kuasa dalam Novel ‘Koloni’ Karya Ratih Kumala di Singaraja Literary Festival 2026
Panggung

Menyingkap Relasi Kuasa dalam Novel ‘Koloni’ Karya Ratih Kumala di Singaraja Literary Festival 2026

 “Bagi laki-laki yang masih menganut patriarki, saya sarankan jangan membaca buku ini.” Ucapan itu langsung disambut gelak tawa peserta bedah...

by Dede Putra Wiguna
July 16, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co