7 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kita Semua Saling Terkait: Membaca Yajña, Pancakosha, Chakra, Hawkins, dan Fritjof Capra dalam Satu Kesadaran

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
June 7, 2026
in Esai
Kita Semua Saling Terkait: Membaca Yajña, Pancakosha, Chakra, Hawkins, dan Fritjof Capra dalam Satu Kesadaran

Ilustrasi tatkala.co | Canva

Yajña: Dari Ritual Persembahan Menuju Laku Kehidupan

Banyak orang memandang yajña sebagai ritual keagamaan yang diwujudkan melalui sesajen, canang, bunga, dupa, atau berbagai bentuk persembahan lainnya. Namun jika dicermati lebih dalam, simbol-simbol tersebut sesungguhnya mengandung pesan yang jauh lebih luas daripada sekadar pelaksanaan ritual. Yajña adalah pengingat bahwa hidup ini berlangsung karena adanya pemberian yang terus-menerus.

Kita hidup karena matahari memberi energi. Kita bernapas karena pohon menghasilkan oksigen. Kita makan karena tanah menyediakan kesuburan dan petani mengolahnya. Kita belajar karena guru berbagi pengetahuan. Bahkan keberadaan kita saat ini tidak terlepas dari pengorbanan orang tua, leluhur, dan masyarakat yang membangun peradaban.

Dalam pengertian ini, yajña bukanlah upaya memberi kepada Tuhan yang dianggap membutuhkan persembahan. Justru manusialah yang membutuhkan simbol-simbol itu agar tidak lupa bahwa dirinya hidup di tengah jaringan hubungan yang sangat luas. Setiap persembahan adalah pengingat untuk bertanya kepada diri sendiri: “Sudahkah aku memberi kembali kepada kehidupan yang telah begitu banyak memberiku?”

Makna terdalam yajña adalah berbagi. Berbagi kepada sesama manusia, berbagi kepada flora dan fauna, menjaga sumber air, merawat lingkungan, melindungi kawasan suci, serta menjalankan kehidupan dengan kesadaran bahwa kita bukan pusat alam semesta. Kita adalah bagian dari suatu jaringan besar kehidupan.

Pesan inilah yang sering ditekankan oleh Guruji Anand Krishna melalui ungkapan sederhana namun mendalam: “Kita semua saling terkait.”

Fritjof Capra dan Sains tentang Keterkaitan

Menariknya, apa yang diajarkan dalam spiritualitas ternyata menemukan gema yang kuat dalam sains modern. Salah satu tokoh yang paling menonjol dalam menjelaskan hal ini adalah Fritjof Capra.

Dalam karya-karyanya, terutama The Tao of Physics dan The Web of Life, Capra menunjukkan bahwa paradigma sains sedang mengalami perubahan mendasar. Selama berabad-abad, dunia dipahami melalui paradigma mekanistik yang melihat alam semesta sebagai mesin besar yang terdiri atas bagian-bagian terpisah.

Namun perkembangan fisika, biologi, dan ekologi menunjukkan sesuatu yang berbeda. Kehidupan ternyata bukan kumpulan benda yang berdiri sendiri. Kehidupan adalah jaringan hubungan.

Seekor lebah tidak dapat dipahami tanpa bunga. Bunga tidak dapat dipahami tanpa tanah dan air. Hutan tidak dapat dipisahkan dari sungai. Sungai tidak dapat dipisahkan dari pegunungan. Manusia tidak dapat dipisahkan dari seluruh sistem ekologis yang menopangnya.

Capra bahkan mengemukakan bahwa hubungan sering kali lebih fundamental daripada objek itu sendiri. Yang membuat suatu sistem hidup bukanlah bagian-bagiannya, melainkan hubungan antarbagian tersebut.

Pandangan ini sangat relevan dengan krisis global saat ini. Kerusakan lingkungan, perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, dan berbagai konflik sosial pada dasarnya lahir dari ilusi keterpisahan. Ketika manusia merasa terpisah dari alam, eksploitasi menjadi mudah dilakukan. Ketika manusia merasa terpisah dari sesamanya, ketidakadilan menjadi sesuatu yang dianggap wajar.

Sains modern justru menunjukkan sebaliknya. Alam semesta adalah jaringan yang saling bergantung. Apa yang terjadi pada satu bagian akan memengaruhi bagian lainnya.

Pancakosha: Perjalanan dari Keterpisahan menuju Kesatuan

Konsep Pancakosha dalam Vedanta memberikan perspektif yang menarik untuk memahami perkembangan kesadaran manusia terhadap keterkaitan tersebut.

Pada tingkat Annamaya Kosha, manusia mengidentifikasi dirinya sebagai tubuh fisik. Dunia dipandang sebagai kumpulan objek yang terpisah. Yang utama adalah kebutuhan jasmani dan keamanan diri.

Pada tingkat Pranamaya Kosha, seseorang mulai menyadari pentingnya energi kehidupan. Ia memahami bahwa hidup bergantung alam, dan lingkungan yang sehat. Kesadaran ekologis mulai tumbuh.

Pada Manomaya Kosha, yang diartikan Guruji Anand Krishna sebagai gugusan pikiran dan perasaan dengan segala anak pinaknya antara lain, obsesi atau keinginan, memori dari masa lalu, mimpi, halusinasi dan sebagainya. Manusia mulai menggunakan nalar dan hubungan emosional berkembang. Perkembangan pada kesadaran Manomaya Kosha, membuat manusia bisa menjadi seorang saintis sejati atau seniman sejati yang tiak lagi terjebak oleh insting hewani dalam diri

Namun pemahaman yang lebih mendalam muncul pada Vijnanamaya Kosha. Di sinilah seseorang mulai melihat pola besar yang menghubungkan segala sesuatu. Kesadaran tidak lagi terbatas pada kepentingan pribadi. Ia memahami bahwa manusia, alam, dan kosmos merupakan bagian dari jaringan kehidupan yang sama. Manusia mulai menjadi bijak.

Posisi pemikiran Capra sebenarnya sangat dekat dengan lapisan ini. Melalui sains, ia sampai pada kesimpulan bahwa realitas bersifat relasional dan saling terkait.

Sementara itu, pada Anandamaya Kosha, keterkaitan tidak lagi sekadar dipahami secara intelektual. Ia menjadi pengalaman langsung. Kesadaran akan kesatuan hadir bukan sebagai teori, melainkan sebagai kenyataan yang dialami.

Dalam keadaan ini, seseorang tidak lagi membantu sesama karena kewajiban etis semata. Ia membantu karena merasakan bahwa penderitaan orang lain juga merupakan bagian dari dirinya sendiri.

Tujuh Chakra dan Evolusi Kesadaran

Gagasan yang sama dapat dijelaskan melalui sistem tujuh chakra.

Pada tiga chakra pertama—Muladhara, Svadhisthana, dan Manipura—kesadaran masih berpusat pada diri sendiri. Fokusnya adalah keamanan, kesenangan, identitas, prestasi, dan kekuasaan.

Pertanyaan yang dominan adalah:

“Apa yang baik untukku?”

Namun pada Anahata Chakra, terjadi perubahan mendasar. Cinta, empati, dan kepedulian mulai berkembang. Kesadaran bergerak dari “aku” menuju “kita”.

Di sinilah seseorang mulai memahami bahwa kebahagiaan pribadi tidak dapat dipisahkan dari kebahagiaan orang lain.

Perjalanan berlanjut menuju Vishuddha Chakra, tempat nilai-nilai tersebut diekspresikan melalui komunikasi, pendidikan, kreativitas, dan pelayanan.

Pada Ajna Chakra, muncul kemampuan melihat keterhubungan yang lebih luas. Pola-pola kehidupan mulai terlihat secara utuh. Pemikiran sistemik yang dikembangkan Capra sangat dekat dengan kualitas Ajna Chakra ini.

Akhirnya, pada Sahasrara Chakra, dualitas antara diri dan yang lain mulai mencair. Kesadaran kesatuan menjadi pengalaman spiritual yang mendalam.

Dari perspektif ini, pesan “kita semua saling terkait” bukan sekadar ajaran etika, melainkan penanda perkembangan kesadaran dari chakra-chakra bawah menuju chakra-chakra yang lebih tinggi.

Hawkins, Kesadaran Global, dan Masa Depan Kemanusiaan

Pandangan serupa juga ditemukan dalam peta kesadaran yang dikembangkan oleh David R. Hawkins.

Pada tingkat kesadaran rendah yang didominasi rasa takut, marah, dan egoisme, dunia dipandang sebagai arena persaingan. Orang lain dianggap ancaman atau pesaing.

Namun ketika seseorang mencapai tingkat Courage, Willingness, dan Acceptance, ia mulai memahami pentingnya kerja sama dan tanggung jawab.

Pada tingkat Reason (400), pemahaman tentang keterkaitan muncul melalui ilmu pengetahuan, filsafat, dan refleksi rasional. Banyak ilmuwan besar berada pada tingkat ini.

Tingkat berikutnya adalah Love (500). Di sini keterkaitan tidak lagi dipahami semata-mata melalui logika. Ia dirasakan sebagai kasih yang nyata terhadap kehidupan.

Pada tingkat Peace (600) dan lebih tinggi lagi, kesadaran kesatuan menjadi pengalaman langsung. Tidak ada lagi batas tegas antara “aku” dan “yang lain”.

Jika kita menggabungkan Pancakosha, Chakra, dan Hawkins, tampak bahwa ketiganya menggambarkan perjalanan yang sama: dari kesadaran keterpisahan menuju kesadaran kesatuan.

Di tengah berbagai krisis global saat ini—kerusakan lingkungan, konflik sosial, ketimpangan ekonomi, dan krisis kesehatan mental—pesan “kita semua saling terkait” menjadi semakin relevan. Barangkali masalah terbesar manusia modern bukanlah kurangnya teknologi atau pengetahuan, melainkan hilangnya kesadaran akan keterhubungan.

Yajña mengajarkan keterhubungan melalui simbol dan ritual. Capra menjelaskannya melalui sains. Pancakosha menggambarkannya sebagai evolusi kesadaran. Chakra memetakan perjalanannya dalam tubuh energi manusia. Hawkins menunjukkan skalanya dalam perkembangan spiritual.

Semua menunjuk ke arah yang sama: tidak ada makhluk yang hidup sendirian. Kita adalah simpul-simpul dalam jaringan kehidupan yang sangat luas. Ketika kita merawat sesama, alam, dan lingkungan, sesungguhnya kita sedang merawat diri kita sendiri. Ketika kita merusak yang lain, kita juga merusak jaringan yang menopang keberadaan kita.

Inilah makna terdalam yajña yang sesungguhnya: menyadari bahwa hidup adalah pemberian, dan karena itu hidup yang bermakna adalah hidup yang juga menjadi pemberian bagi yang lain. Dalam kesadaran itulah kita menemukan bahwa di balik segala perbedaan, seluruh kehidupan berakar pada satu kesatuan yang sama. Kita semua saling terkait. Dan swadharma kita semua adalah melayani sesama, termasuk flora dan fauna. [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

Tags: Hawkinskemanusiaankesadaransains
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

Next Post

Kesalahan-kesalahan Umum dalam Membaca Puisi —Catatan Juri Lomba Baca Puisi HUT SMAN 1 Petang

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Bali, Surga dengan Kemacetan Kronis

by Agung Sudarsa
August 6, 2026
0
Bali, Surga dengan Kemacetan Kronis

Dampak Pembangunan Brutal dan Ugal-ugalan, Ledakan Kendaraan Tanpa Jeda, atau Buruknya Transportasi Umum? "Sanur makin macet, namun kenapa fasilitas wisata...

Read moreDetails

Puisi dan Heidegger: Membebaskan Kata dari Cengkeraman Teknokrasi

by Arief Rahzen
August 6, 2026
0
Puisi dan Heidegger: Membebaskan Kata dari Cengkeraman Teknokrasi

COBA hentikan sejenak geseran jempol Anda di atas layar gawai. Di luar sana, dunia hari ini bergerak dalam ritme yang...

Read moreDetails

Menjadi Lebih “Sakti” di Luar Jembrana

by Angga Wijaya
August 6, 2026
0
Menjadi Lebih “Sakti” di Luar Jembrana

KALIMAT itu masih saya ingat dengan jelas. Mendiang Bang D.S. Putra mengucapkannya suatu sore, ketika kami berbincang santai bersama beberapa...

Read moreDetails

Pertemuan Rutin, Agenda Lama: Pilkada Lewat DPRD, Lagi

by Luthfi Hasanal Bolqiah
August 5, 2026
0
Sepiring Nasi, Sekeping Legitimasi

PERTEMUAN itu seharusnya selesai sebagai berita protokoler. Pada Senin, 3 Agustus 2026, jajaran pimpinan MPR datang ke Istana Kepresidenan. Mereka...

Read moreDetails

NOL KILOMETER ̶S̶I̶N̶G̶A̶R̶A̶J̶A̶ BULELENG : Titik Start Berbenah, Bukan Sekadar Bersolek dan Beautifikasi

by Sugi Lanus
August 4, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

ADA banyak sambutan positif dan keceriaan di tengah peresmian tugu Nol Kilometer di depan Kantor Bupati Buleleng. Titik yang dibenahi...

Read moreDetails

Presiden di Dalam Kepala Saya

by Angga Wijaya
August 3, 2026
0
Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

Read moreDetails

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

by Chusmeru
August 3, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

Read moreDetails

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails
Next Post
Kesalahan-kesalahan Umum dalam Membaca Puisi —Catatan Juri Lomba Baca Puisi HUT SMAN 1 Petang

Kesalahan-kesalahan Umum dalam Membaca Puisi ---Catatan Juri Lomba Baca Puisi HUT SMAN 1 Petang

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan
Khas

Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan

“Pentingnya kursus bahasa Inggris untuk semua kalangan tidak bisa diragukan lagi. Bahasa Inggris penting sebagai bahasa global, untuk dunia kerja,...

by tatkala
August 6, 2026
Bali, Surga dengan Kemacetan Kronis
Esai

Bali, Surga dengan Kemacetan Kronis

Dampak Pembangunan Brutal dan Ugal-ugalan, Ledakan Kendaraan Tanpa Jeda, atau Buruknya Transportasi Umum? "Sanur makin macet, namun kenapa fasilitas wisata...

by Agung Sudarsa
August 6, 2026
Puisi dan Heidegger: Membebaskan Kata dari Cengkeraman Teknokrasi
Esai

Puisi dan Heidegger: Membebaskan Kata dari Cengkeraman Teknokrasi

COBA hentikan sejenak geseran jempol Anda di atas layar gawai. Di luar sana, dunia hari ini bergerak dalam ritme yang...

by Arief Rahzen
August 6, 2026
Menjadi Lebih “Sakti” di Luar Jembrana
Esai

Menjadi Lebih “Sakti” di Luar Jembrana

KALIMAT itu masih saya ingat dengan jelas. Mendiang Bang D.S. Putra mengucapkannya suatu sore, ketika kami berbincang santai bersama beberapa...

by Angga Wijaya
August 6, 2026
Meninggal Seperti Pepes Ikan
Fiksi

Kencan Pertama di Kafe Pinggir Sungai

KENCAN pertama untuk sebagian besar orang dianggap sesuatu yang mendebarkan. Begitu pun yang dirasakan Heru Pambudi dan Tuty Rosdiana. Belum...

by Chusmeru
August 6, 2026
Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur
Ulas Musik

Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

SENIN tanggal 3 Agustus 2026 Institut Seni Indonesia (ISI) BALI melalui program Diseminasi Penelitian, Penciptaan, dan Diseminasi Seni-Desain (P2DSD) tahun...

by Wayan Diana Putra
August 5, 2026
Sepiring Nasi, Sekeping Legitimasi
Esai

Pertemuan Rutin, Agenda Lama: Pilkada Lewat DPRD, Lagi

PERTEMUAN itu seharusnya selesai sebagai berita protokoler. Pada Senin, 3 Agustus 2026, jajaran pimpinan MPR datang ke Istana Kepresidenan. Mereka...

by Luthfi Hasanal Bolqiah
August 5, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

BENEFICIAL OWNERSHIP (BO) ——Ketika Perseroan Menjadi Topeng Kepemilikan

"Di atas kertas, pemegang saham dapat berganti. Namun kendali sesungguhnya sering kali tetap berada di tangan orang yang tidak pernah...

by I Made Pria Dharsana
August 5, 2026
Buku “Under the Spell of the Batur Volcano” Dibincangkan di Batur Village Festival 2026 untuk Mengenang Kerja Akademik Brigitta Hauser-Schäublin
Khas

Buku “Under the Spell of the Batur Volcano” Dibincangkan di Batur Village Festival 2026 untuk Mengenang Kerja Akademik Brigitta Hauser-Schäublin

TAK bisa dipungkiri, "Under the Spell of the Batur Volcano" adalah sebuah buku penting tentang Batur. Dalam buku itu Batur...

by Wahyu Mahaputra
August 5, 2026
Kemah Budaya  Ajang Penguatan SDM Bali Unggul  
Khas

Kemah Budaya  Ajang Penguatan SDM Bali Unggul  

SAYA bersyukur  menjadi Panyarikan Majelis Desa Adat (MDA) Kecamatan Kuta Selatan merangkap sebagai Kepala Sekolah yang membina  remaja SMA. Posisi...

by I Nyoman Tingkat
August 4, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

NOL KILOMETER ̶S̶I̶N̶G̶A̶R̶A̶J̶A̶ BULELENG : Titik Start Berbenah, Bukan Sekadar Bersolek dan Beautifikasi

ADA banyak sambutan positif dan keceriaan di tengah peresmian tugu Nol Kilometer di depan Kantor Bupati Buleleng. Titik yang dibenahi...

by Sugi Lanus
August 4, 2026
Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita
Ulas Pentas

Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

Di Ambang Dualitas Eksistensial Dalam ruang pertunjukan yang temaram, pendar cahaya proyektor perlahan menghidupkan bidang panggung. Karya pertunjukan bertajuk DWI...

by Dewa Made Ari Kurniawan
August 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co