28 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kesalahan-kesalahan Umum dalam Membaca Puisi —Catatan Juri Lomba Baca Puisi HUT SMAN 1 Petang

Wayan Esa Bhaskara by Wayan Esa Bhaskara
June 7, 2026
in Esai
Kesalahan-kesalahan Umum dalam Membaca Puisi —Catatan Juri Lomba Baca Puisi HUT SMAN 1 Petang

Peserta Lomba Baca Puisi HUT SMAN 1 Petang

Catatan ini diniatkan sebagai evaluasi bagi para peserta dan pembina lomba baca puisi serangkaian HUT ke-37 SMA Negeri 1 Petang. Mengingat lomba dilakukan secara daring, para juri menilai video pembacaan puisi, sehingga tidak sempat ada ruang tatap muka bagi juri dengan peserta. Duduk di bangku juri, bagi kami bukan hanya mendengarkan pembacaan puisi, memberi nilai, lalu mengumumkan pemenang lomba. Lebih dari itu, kami dituntut cermat mengamati berbagai aspek, sesuai dengan kriteria penilaian yang telah ditetapkan panitia.

Kegiatan yang bertajuk Firstsma Fun Day 6 (FFD 6) diselenggarakan dengan format lomba internal dan eksternal. Untuk tahun ini, baru pertama kali diselenggarakan lomba membaca puisi untuk peserta dari luar sekolah. Kami terkejut, peserta yang mendaftar sebanyak 38 orang yang berasal dari Tabanan, Buleleng, Denpasar, Jembrana, Kintamani, serta Badung. Ternyata antusias siswa dalam mengikuti lomba membaca puisi masih bagus. Kami membatasi usia peserta yaitu dari usia 9 – 15 tahun.

Peserta lomba

Para peserta harus membaca satu puisi wajib dan satu puisi pilihan yang telah disediakan panitia dalam buku panduan. Beberapa aspek penilaian yaitu, penghayatan, vokal, gesture, dan tafsir. Di sinilah peran pembina bersama peserta melakukan pengartikulasian estetik, semacam upaya mewujudkan teks puisi (tulisan) dihidupkan (diberi nyawa) dalam bentuk lisan dengan berbagai muatan emosi dan karakter ketika dibaca. Oleh karena itu, pembaca harus melakukan analisis (interpretasi) agar mengetahui unsur jiwa atau roh puisi: rasa (feeling), nada (tone), amanat/tujuan (intention), dan pokok persoalan (sense). 

Melalui arahan pembina, para peserta ‘dibebaskan’ dalam menciptakan dinamika pembacaan dan memahami suasana dramatik sebuah puisi. Persoalan kemudian, banyak peserta ternyata memiliki potensi sebagai MC, aktor pementasan drama, orator, atau storyteller yang baik. Namun, ‘dipaksakan’ atau belum menemukan pakem membaca puisi.

Sebuah lomba baca puisi selalu diawali dengan pertemuan teknis untuk mencapai kesepakatan antara peserta, panitia, dan dewan juri. Termasuk di dalamnya mengoreksi ulang puisi yang akan dibacakan, bahkan kami lanjutkan diskusi di grup WhatsApp peserta. Beberapa puisi dari panitia terkadang salah ketik, berbeda dari puisi aslinya. Proses, teknik, dan kriteria penilaian turut dijelaskan. Kami mengingatkan kembali kepada peserta untuk membaca ulang puisi, memberi interpretasi, menandai teks puisi: mana yang harus dibaca cepat, lambat, naik, turun menurut versi mereka masing-masing. 

Peserta lomba

Kami pun menjelaskan kembali, bahwa lomba yang diikuti adalah lomba membaca puisi, bukan deklamasi, terlebih dramatisasi atau teaterikalisasi puisi. Dengan begitu, penilaian memiliki parameter terukur dan disepakati bersama. Semuanya tetap dengan pakem-pakem membaca puisi yang telah diketahui secara umum.

Kesalahan umum dalam membaca puisi

Peserta yang ikut dalam kegiatan kami, mulai dari siswa SD hingga SMA. Kami menemukan banyak potensi yang bagus, terutama pada peserta SD. Kami mencoba mengurai beberapa catatan, untuk evaluasi peserta. Salah satu kekeliruan yang banyak ditemukan adalah mendahulukan nada sebelum memahami makna. Peserta cenderung mengedepankan lengkingan suara dan intonasi dramatis, padahal isi puisinya belum sepenuhnya dikuasai. Pada kasus ini, kami berasumsi ada intervensi pembina yang kuat.

Catatan berikutnya adalah pengubahan warna vokal. Banyak peserta memaksakan suara besar dengan membulatkan vokal secara tidak alami. Kembali kami berasumsi, mungkin ini dilakukan karena meniru atau ‘menuruti’ contoh entah dari pembina atau YouTube. Tentu dalam membaca puisi, suara terbaik adalah suara yang jujur, bukan yang ‘dipaksa’. Bahkan ada peserta yang membaca dengan volume suara terlalu keras. Tentu membaca puisi adalah perihal penyampaian makna, bukan sekadar volume suara.

Catatan lain tentang, gestur tubuh yang berlebihan atau tidak sesuai dengan pemaknaan puisi. Ada peserta yang tampil seperti sedang pentas tari alih-alih membaca puisi. Semestinya, gesture hanya menjadi penguat ekspresi, bukan justru menutupi pesan yang ingin disampaikan puisi.

Memahami pakem

Membaca puisi berbeda dengan mendeklamasikan puisi. Membaca puisi berarti membacakan puisi dengan melihat teks puisi. Mendeklamasikan puisi, berarti menghafal teks puisi, kemudian melakokankannya dalam ruang gerak yang luas dan bebas, ekspresif tanpa melihat teks. Perbedaan ini perlu menjadi perhatian juga.
Ketika membaca teks puisi, maka hal yang paling penting diperhatikan adalah intonasi, artikulasi, dan ekspresi.

Peserta lomba

Pada intonasi (tinggi-rendah suara), pembaca membaca puisi dengan penekanan-penekanan suara yang menafsirkan maksud atau arti puisi secara jelas dan tepat pemaknaannya. Dalam penilaian ada poin tafsir. Bagian berikutnya, artikulasi (kejelasan vokal dan ketepatan ujaran). Artikulasi hendaknya ditakar dengan teliti dan cermat. Ujaran yang diucapkan ketika membaca puisi tidak boleh meleset dan salah ucap, karena bisa menimbulkan pergeseran makna. Dalam penilaian ada poin vokal dan penghayatan. Pada ekspresi (mimik wajah), yakni raut wajah yang ditunjukkan ketika seseorang membaca puisi. Wajah ketika membaca puisi, haruslah wajah yang mencerminkan makna puisi yang dibaca, sehingga pendengar turut merasakan makna puisi yang dibacanya. Dalam penilaian ada poin gesture dan penghayatan.

Menilai 35 video (ada tiga peserta yang tidak mengirim video) baca puisi peserta cukup membuat kami ada dalam debat seru. Mengingat perbedaan yang tipis antar peserta. Akhirnya penghayatan yang menjadi pembedanya. Penghayatan baca puisi mulai dari pembacaan judul hingga isi. Pembaca puisi yang telah mahir lebih cepat memahami maksud baris dan bait puisi seketika dibaca setelah menahami judul. Dalam catatan kami, ada beberapa peserta yang memang telah akrab mengikuti lomba membaca puisi.

Akhirnya kami harus memutuskan tiga terbaik dari seluruh video yang masuk ke panitia baik melalui akun Youtube, TikTok, Instagram, dan tautan drive. Semua peserta telah menunaikan membaca puisi dengan versi paling maksimal. Setiap peserta memiliki cara sendiri untuk meresapi dan memahami teks puisi yang dibaca. Hanya saja, peserta yang paling unggul tentu yang paling sedikit kesalahannya, teknik membaca, dan penghayatan yang paling baik. [T]

Penulis: Wayan Esa Bhaskara, juri Bomba Baca Puisi HUT SMAN 1 Petang
Editor: Adnyana Ole

Tags: lomba puisiPuisiSMAN 1 Petang
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kita Semua Saling Terkait: Membaca Yajña, Pancakosha, Chakra, Hawkins, dan Fritjof Capra dalam Satu Kesadaran

Next Post

Catatan Lomba Monolog Peksimida Bali 2026: Ada yang Masih Terjebak Pada Teriakan

Wayan Esa Bhaskara

Wayan Esa Bhaskara

Menulis esai, puisi, dan cerpen disela-sela pekerjaannya sebagai guru

Related Posts

Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri

by Angga Wijaya
October 27, 2026
0
Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri

BERKENDARA di jalanan Denpasar dan Badung, Bali, belakangan ini membuat saya ketar-ketir. Saya beberapa kali mengalami situasi ketika sudah berkendara...

Read moreDetails

Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung

by I Wayan Yudana
October 27, 2026
0
Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung

Oktober selalu menjadi bulan istimewa bagi dunia pendidikan. Sekolah-sekolah menyelenggarakan Bulan Bahasa melalui berbagai kegiatan, mulai dari lomba membaca puisi,...

Read moreDetails

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
0
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

Read moreDetails

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

Read moreDetails

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
0
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

Read moreDetails

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails
Next Post
Catatan Lomba Monolog Peksimida Bali 2026: Ada yang Masih Terjebak Pada Teriakan

Catatan Lomba Monolog Peksimida Bali 2026: Ada yang Masih Terjebak Pada Teriakan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tatkala Seniman Tak Lagi Bersuara
Opini

Tatkala Seniman Tak Lagi Bersuara

SENIN pagi, 26 Oktober 2026, saya mengikuti sebuah diskusi di Markas Besar UNESCO, Paris, yang bertajuk Artists at Risk: Voices...

by I.G.A.K. Satrya Wibawa
October 27, 2026
Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri
Esai

Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri

BERKENDARA di jalanan Denpasar dan Badung, Bali, belakangan ini membuat saya ketar-ketir. Saya beberapa kali mengalami situasi ketika sudah berkendara...

by Angga Wijaya
October 27, 2026
Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung
Esai

Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung

Oktober selalu menjadi bulan istimewa bagi dunia pendidikan. Sekolah-sekolah menyelenggarakan Bulan Bahasa melalui berbagai kegiatan, mulai dari lomba membaca puisi,...

by I Wayan Yudana
October 27, 2026
Membaca  Ulang “Ubud is Winter”
Ulas Rupa

Membaca  Ulang “Ubud is Winter”

SORE menjelang senja di Gajah Mas Gallery, Pengosekan, Ubud-Gianyar, matahari kian sorong ke batas laut. Cahaya jingga yang kerap memantul...

by I Wayan Westa
October 27, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Ditutup, Samarasā Dirayakan lewat Tari, Puisi, dan Musik
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Ditutup, Samarasā Dirayakan lewat Tari, Puisi, dan Musik

HUJAN mengguyur Ubud ketika malam penutupan Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) hendak dimulai. Namun, hujan perlahan mereda seiring berlangsungnya...

by Dede Putra Wiguna
October 27, 2026
Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital
Liputan Khusus

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital

TELEPON belum lama ditutup ketika Luh Sukerti kembali sibuk di depan tungku. Puluhan tusuk sate dibolak-balik di atas bara, dilumuri...

by Jaswanto
October 26, 2026
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan
Esai

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”
Bahasa

Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”

ADA seorang guru sekaligus penulis senior asal Bali yang bernama Nyoman Tingkat. Suatu ketika, dengan permainan kata yang cerdas dan menggelitik, melalui unggahan...

by I Made Sudiana
October 26, 2026
Belajar dari Senat, Menyapa Semeru
Tualang

Belajar dari Senat, Menyapa Semeru

ADA perjalanan yang kita tempuh karena tugas. Ada perjalanan yang kita jalani karena kewajiban. Namun, sering kali justru di balik...

by Ahmad Sihabudin
October 26, 2026
Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026
Olahraga

Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026

SUASANA siang di kawasan dekat Pantai Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali, mendadak bergemuruh pada Minggu 25 Oktober 2026....

by Nyoman Budarsana
October 26, 2026
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan
Esai

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co