27 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kesalahan-kesalahan Umum dalam Membaca Puisi —Catatan Juri Lomba Baca Puisi HUT SMAN 1 Petang

Wayan Esa Bhaskara by Wayan Esa Bhaskara
June 7, 2026
in Esai
Kesalahan-kesalahan Umum dalam Membaca Puisi —Catatan Juri Lomba Baca Puisi HUT SMAN 1 Petang

Peserta Lomba Baca Puisi HUT SMAN 1 Petang

Catatan ini diniatkan sebagai evaluasi bagi para peserta dan pembina lomba baca puisi serangkaian HUT ke-37 SMA Negeri 1 Petang. Mengingat lomba dilakukan secara daring, para juri menilai video pembacaan puisi, sehingga tidak sempat ada ruang tatap muka bagi juri dengan peserta. Duduk di bangku juri, bagi kami bukan hanya mendengarkan pembacaan puisi, memberi nilai, lalu mengumumkan pemenang lomba. Lebih dari itu, kami dituntut cermat mengamati berbagai aspek, sesuai dengan kriteria penilaian yang telah ditetapkan panitia.

Kegiatan yang bertajuk Firstsma Fun Day 6 (FFD 6) diselenggarakan dengan format lomba internal dan eksternal. Untuk tahun ini, baru pertama kali diselenggarakan lomba membaca puisi untuk peserta dari luar sekolah. Kami terkejut, peserta yang mendaftar sebanyak 38 orang yang berasal dari Tabanan, Buleleng, Denpasar, Jembrana, Kintamani, serta Badung. Ternyata antusias siswa dalam mengikuti lomba membaca puisi masih bagus. Kami membatasi usia peserta yaitu dari usia 9 – 15 tahun.

Peserta lomba

Para peserta harus membaca satu puisi wajib dan satu puisi pilihan yang telah disediakan panitia dalam buku panduan. Beberapa aspek penilaian yaitu, penghayatan, vokal, gesture, dan tafsir. Di sinilah peran pembina bersama peserta melakukan pengartikulasian estetik, semacam upaya mewujudkan teks puisi (tulisan) dihidupkan (diberi nyawa) dalam bentuk lisan dengan berbagai muatan emosi dan karakter ketika dibaca. Oleh karena itu, pembaca harus melakukan analisis (interpretasi) agar mengetahui unsur jiwa atau roh puisi: rasa (feeling), nada (tone), amanat/tujuan (intention), dan pokok persoalan (sense). 

Melalui arahan pembina, para peserta ‘dibebaskan’ dalam menciptakan dinamika pembacaan dan memahami suasana dramatik sebuah puisi. Persoalan kemudian, banyak peserta ternyata memiliki potensi sebagai MC, aktor pementasan drama, orator, atau storyteller yang baik. Namun, ‘dipaksakan’ atau belum menemukan pakem membaca puisi.

Sebuah lomba baca puisi selalu diawali dengan pertemuan teknis untuk mencapai kesepakatan antara peserta, panitia, dan dewan juri. Termasuk di dalamnya mengoreksi ulang puisi yang akan dibacakan, bahkan kami lanjutkan diskusi di grup WhatsApp peserta. Beberapa puisi dari panitia terkadang salah ketik, berbeda dari puisi aslinya. Proses, teknik, dan kriteria penilaian turut dijelaskan. Kami mengingatkan kembali kepada peserta untuk membaca ulang puisi, memberi interpretasi, menandai teks puisi: mana yang harus dibaca cepat, lambat, naik, turun menurut versi mereka masing-masing. 

Peserta lomba

Kami pun menjelaskan kembali, bahwa lomba yang diikuti adalah lomba membaca puisi, bukan deklamasi, terlebih dramatisasi atau teaterikalisasi puisi. Dengan begitu, penilaian memiliki parameter terukur dan disepakati bersama. Semuanya tetap dengan pakem-pakem membaca puisi yang telah diketahui secara umum.

Kesalahan umum dalam membaca puisi

Peserta yang ikut dalam kegiatan kami, mulai dari siswa SD hingga SMA. Kami menemukan banyak potensi yang bagus, terutama pada peserta SD. Kami mencoba mengurai beberapa catatan, untuk evaluasi peserta. Salah satu kekeliruan yang banyak ditemukan adalah mendahulukan nada sebelum memahami makna. Peserta cenderung mengedepankan lengkingan suara dan intonasi dramatis, padahal isi puisinya belum sepenuhnya dikuasai. Pada kasus ini, kami berasumsi ada intervensi pembina yang kuat.

Catatan berikutnya adalah pengubahan warna vokal. Banyak peserta memaksakan suara besar dengan membulatkan vokal secara tidak alami. Kembali kami berasumsi, mungkin ini dilakukan karena meniru atau ‘menuruti’ contoh entah dari pembina atau YouTube. Tentu dalam membaca puisi, suara terbaik adalah suara yang jujur, bukan yang ‘dipaksa’. Bahkan ada peserta yang membaca dengan volume suara terlalu keras. Tentu membaca puisi adalah perihal penyampaian makna, bukan sekadar volume suara.

Catatan lain tentang, gestur tubuh yang berlebihan atau tidak sesuai dengan pemaknaan puisi. Ada peserta yang tampil seperti sedang pentas tari alih-alih membaca puisi. Semestinya, gesture hanya menjadi penguat ekspresi, bukan justru menutupi pesan yang ingin disampaikan puisi.

Memahami pakem

Membaca puisi berbeda dengan mendeklamasikan puisi. Membaca puisi berarti membacakan puisi dengan melihat teks puisi. Mendeklamasikan puisi, berarti menghafal teks puisi, kemudian melakokankannya dalam ruang gerak yang luas dan bebas, ekspresif tanpa melihat teks. Perbedaan ini perlu menjadi perhatian juga.
Ketika membaca teks puisi, maka hal yang paling penting diperhatikan adalah intonasi, artikulasi, dan ekspresi.

Peserta lomba

Pada intonasi (tinggi-rendah suara), pembaca membaca puisi dengan penekanan-penekanan suara yang menafsirkan maksud atau arti puisi secara jelas dan tepat pemaknaannya. Dalam penilaian ada poin tafsir. Bagian berikutnya, artikulasi (kejelasan vokal dan ketepatan ujaran). Artikulasi hendaknya ditakar dengan teliti dan cermat. Ujaran yang diucapkan ketika membaca puisi tidak boleh meleset dan salah ucap, karena bisa menimbulkan pergeseran makna. Dalam penilaian ada poin vokal dan penghayatan. Pada ekspresi (mimik wajah), yakni raut wajah yang ditunjukkan ketika seseorang membaca puisi. Wajah ketika membaca puisi, haruslah wajah yang mencerminkan makna puisi yang dibaca, sehingga pendengar turut merasakan makna puisi yang dibacanya. Dalam penilaian ada poin gesture dan penghayatan.

Menilai 35 video (ada tiga peserta yang tidak mengirim video) baca puisi peserta cukup membuat kami ada dalam debat seru. Mengingat perbedaan yang tipis antar peserta. Akhirnya penghayatan yang menjadi pembedanya. Penghayatan baca puisi mulai dari pembacaan judul hingga isi. Pembaca puisi yang telah mahir lebih cepat memahami maksud baris dan bait puisi seketika dibaca setelah menahami judul. Dalam catatan kami, ada beberapa peserta yang memang telah akrab mengikuti lomba membaca puisi.

Akhirnya kami harus memutuskan tiga terbaik dari seluruh video yang masuk ke panitia baik melalui akun Youtube, TikTok, Instagram, dan tautan drive. Semua peserta telah menunaikan membaca puisi dengan versi paling maksimal. Setiap peserta memiliki cara sendiri untuk meresapi dan memahami teks puisi yang dibaca. Hanya saja, peserta yang paling unggul tentu yang paling sedikit kesalahannya, teknik membaca, dan penghayatan yang paling baik. [T]

Penulis: Wayan Esa Bhaskara, juri Bomba Baca Puisi HUT SMAN 1 Petang
Editor: Adnyana Ole

Tags: lomba puisiPuisiSMAN 1 Petang
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kita Semua Saling Terkait: Membaca Yajña, Pancakosha, Chakra, Hawkins, dan Fritjof Capra dalam Satu Kesadaran

Next Post

Catatan Lomba Monolog Peksimida Bali 2026: Ada yang Masih Terjebak Pada Teriakan

Wayan Esa Bhaskara

Wayan Esa Bhaskara

Menulis esai, puisi, dan cerpen disela-sela pekerjaannya sebagai guru

Related Posts

BARONG BRUTUK: Dari Tarian Sakral ke Cerita Bergambar

by I Ketut Suar Adnyana
August 27, 2026
0
BARONG BRUTUK: Dari Tarian Sakral ke Cerita Bergambar

Kebudayaan tidak pernah benar-benar hidup hanya karena diwariskan. Sebuah tradisi akan tetap hidup apabila pengetahuan, nilai, simbol, dan ingatan yang...

Read moreDetails

Destinasi “Detour”: Tren Wisata Alternatif Menyimpang Rute Utama

by Chusmeru
August 27, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BERWISATA kadang berjalan tidak sesuai dengan yang direncanakan. Di awal perjalanan sudah ditentukan destinasi wisata mana yang akan dikunjungi. Namun...

Read moreDetails

Melampaui Ingatan di Batas-batas Desa ——Catatan dari Karya Agung Ngusaba Desa dan Ngusaba Nini Desa Sibanggede

by Dharma Yuda
August 26, 2026
0
Melampaui Ingatan di Batas-batas Desa ——Catatan dari Karya Agung Ngusaba Desa dan Ngusaba Nini Desa Sibanggede

RANGKAIAN Karya Pedudusan Agung, Ngusaba Desa, dan Ngusaba Nini yang berpusat di Pura Puseh Sibanggede sudah mencapai akhir melalui upacara...

Read moreDetails

Kalau Rakyat Harus Naik Bus ke Jakarta Agar Didengar, Ada Apa dengan Telinga Kekuasaan?

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 26, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

ADA yang menarik dari perjalanan sejumlah warga Pati menuju Jakarta menjelang aksi 27 Agustus 2026.  Mereka tidak sedang piknik. Empat...

Read moreDetails

Ibu Memasak di Kota

by Angga Wijaya
August 25, 2026
0
Ibu Memasak di Kota

MEMASAK, aktivitas yang sering diidentikkan dengan para ibu, baik yang usianya muda ataupun juga tua. Di kota, saya tidak tahu...

Read moreDetails

PROFESOR BAHASA BALI TERBAIK DARI JEPANG  — Kiprah Profesor Mayuko Hara dalam Riset Bahasa Bali Aga Pedawa dan Bahasa Indonesia

by Sugi Lanus
August 25, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 25 Agustus 2027 Siapa pakar terbaik Bahasa Bali di Jepang? Jika pertanyaan itu ditujukan ke...

Read moreDetails

Karnaval dan Kemacetan Sosial

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
0
Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

Read moreDetails

Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

by Agung Sudarsa
August 24, 2026
0
Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

Bali Sebagai Rumah yang Terbuka Bali sejak dahulu dikenal sebagai ruang perjumpaan. Laut yang mengelilinginya bukanlah tembok yang memisahkan, melainkan...

Read moreDetails

Mengantar Saut Situmorang ke Salon

by Angga Wijaya
August 24, 2026
0
Telenovela

MENJADI panitia Kongres Cerpen II di Negara, Jembrana, Bali, pada 2001, ada satu kejadian yang hingga kini masih saya ingat....

Read moreDetails

Wajah Indonesia Bopeng

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

Read moreDetails
Next Post
Catatan Lomba Monolog Peksimida Bali 2026: Ada yang Masih Terjebak Pada Teriakan

Catatan Lomba Monolog Peksimida Bali 2026: Ada yang Masih Terjebak Pada Teriakan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

BARONG BRUTUK: Dari Tarian Sakral ke Cerita Bergambar
Esai

BARONG BRUTUK: Dari Tarian Sakral ke Cerita Bergambar

Kebudayaan tidak pernah benar-benar hidup hanya karena diwariskan. Sebuah tradisi akan tetap hidup apabila pengetahuan, nilai, simbol, dan ingatan yang...

by I Ketut Suar Adnyana
August 27, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Destinasi “Detour”: Tren Wisata Alternatif Menyimpang Rute Utama

BERWISATA kadang berjalan tidak sesuai dengan yang direncanakan. Di awal perjalanan sudah ditentukan destinasi wisata mana yang akan dikunjungi. Namun...

by Chusmeru
August 27, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [7]: Rezim Algoritma dan Pembubaran Standar Sastra

Semua tekanan yang sudah diuraikan dalam bagian-bagian sebelumnya bisa dibaca sebagai masalah-masalah yang terpisah. Namun semuanya adalah gejala dari satu...

by Andre Syahreza
August 26, 2026
Melampaui Ingatan di Batas-batas Desa ——Catatan dari Karya Agung Ngusaba Desa dan Ngusaba Nini Desa Sibanggede
Esai

Melampaui Ingatan di Batas-batas Desa ——Catatan dari Karya Agung Ngusaba Desa dan Ngusaba Nini Desa Sibanggede

RANGKAIAN Karya Pedudusan Agung, Ngusaba Desa, dan Ngusaba Nini yang berpusat di Pura Puseh Sibanggede sudah mencapai akhir melalui upacara...

by Dharma Yuda
August 26, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Kalau Rakyat Harus Naik Bus ke Jakarta Agar Didengar, Ada Apa dengan Telinga Kekuasaan?

ADA yang menarik dari perjalanan sejumlah warga Pati menuju Jakarta menjelang aksi 27 Agustus 2026.  Mereka tidak sedang piknik. Empat...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 26, 2026
Kekuatan Warna; I Gusti Nengah Nurata dan I Made Sutarjaya
Ulas Rupa

Kekuatan Warna; I Gusti Nengah Nurata dan I Made Sutarjaya

DI penghujung bulan Agustus, tepatnya pada tanggal 25 hingga 31 agustus mendatang – akan digelar Pameran senirupa yang bertajuk “The...

by Hartanto
August 26, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
Ibu Memasak di Kota
Esai

Ibu Memasak di Kota

MEMASAK, aktivitas yang sering diidentikkan dengan para ibu, baik yang usianya muda ataupun juga tua. Di kota, saya tidak tahu...

by Angga Wijaya
August 25, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

PROFESOR BAHASA BALI TERBAIK DARI JEPANG  — Kiprah Profesor Mayuko Hara dalam Riset Bahasa Bali Aga Pedawa dan Bahasa Indonesia

— Catatan Harian Sugi Lanus, 25 Agustus 2027 Siapa pakar terbaik Bahasa Bali di Jepang? Jika pertanyaan itu ditujukan ke...

by Sugi Lanus
August 25, 2026
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?
Opini

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan
Panggung

Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan

TANAH LOT kembali menjadi ruang perjumpaan seni, tradisi, dan kuliner dalam Tanah Lot Art & Food Festival ke-7. Festival yang...

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII, Merawat Tradisi Lisan dan Menanamkan Dharma kepada Generasi Muda
Budaya

Utsawa Dharmagita XXXIII, Merawat Tradisi Lisan dan Menanamkan Dharma kepada Generasi Muda

UTSAWA Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 kembali digelar. Itu artinya, lantunan sloka, palawakya, kakawin, kidung, hingga gaguritan kembali...

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co