16 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kesalahan-kesalahan Umum dalam Membaca Puisi —Catatan Juri Lomba Baca Puisi HUT SMAN 1 Petang

Wayan Esa Bhaskara by Wayan Esa Bhaskara
June 7, 2026
in Esai
Kesalahan-kesalahan Umum dalam Membaca Puisi —Catatan Juri Lomba Baca Puisi HUT SMAN 1 Petang

Peserta Lomba Baca Puisi HUT SMAN 1 Petang

Catatan ini diniatkan sebagai evaluasi bagi para peserta dan pembina lomba baca puisi serangkaian HUT ke-37 SMA Negeri 1 Petang. Mengingat lomba dilakukan secara daring, para juri menilai video pembacaan puisi, sehingga tidak sempat ada ruang tatap muka bagi juri dengan peserta. Duduk di bangku juri, bagi kami bukan hanya mendengarkan pembacaan puisi, memberi nilai, lalu mengumumkan pemenang lomba. Lebih dari itu, kami dituntut cermat mengamati berbagai aspek, sesuai dengan kriteria penilaian yang telah ditetapkan panitia.

Kegiatan yang bertajuk Firstsma Fun Day 6 (FFD 6) diselenggarakan dengan format lomba internal dan eksternal. Untuk tahun ini, baru pertama kali diselenggarakan lomba membaca puisi untuk peserta dari luar sekolah. Kami terkejut, peserta yang mendaftar sebanyak 38 orang yang berasal dari Tabanan, Buleleng, Denpasar, Jembrana, Kintamani, serta Badung. Ternyata antusias siswa dalam mengikuti lomba membaca puisi masih bagus. Kami membatasi usia peserta yaitu dari usia 9 – 15 tahun.

Peserta lomba

Para peserta harus membaca satu puisi wajib dan satu puisi pilihan yang telah disediakan panitia dalam buku panduan. Beberapa aspek penilaian yaitu, penghayatan, vokal, gesture, dan tafsir. Di sinilah peran pembina bersama peserta melakukan pengartikulasian estetik, semacam upaya mewujudkan teks puisi (tulisan) dihidupkan (diberi nyawa) dalam bentuk lisan dengan berbagai muatan emosi dan karakter ketika dibaca. Oleh karena itu, pembaca harus melakukan analisis (interpretasi) agar mengetahui unsur jiwa atau roh puisi: rasa (feeling), nada (tone), amanat/tujuan (intention), dan pokok persoalan (sense). 

Melalui arahan pembina, para peserta ‘dibebaskan’ dalam menciptakan dinamika pembacaan dan memahami suasana dramatik sebuah puisi. Persoalan kemudian, banyak peserta ternyata memiliki potensi sebagai MC, aktor pementasan drama, orator, atau storyteller yang baik. Namun, ‘dipaksakan’ atau belum menemukan pakem membaca puisi.

Sebuah lomba baca puisi selalu diawali dengan pertemuan teknis untuk mencapai kesepakatan antara peserta, panitia, dan dewan juri. Termasuk di dalamnya mengoreksi ulang puisi yang akan dibacakan, bahkan kami lanjutkan diskusi di grup WhatsApp peserta. Beberapa puisi dari panitia terkadang salah ketik, berbeda dari puisi aslinya. Proses, teknik, dan kriteria penilaian turut dijelaskan. Kami mengingatkan kembali kepada peserta untuk membaca ulang puisi, memberi interpretasi, menandai teks puisi: mana yang harus dibaca cepat, lambat, naik, turun menurut versi mereka masing-masing. 

Peserta lomba

Kami pun menjelaskan kembali, bahwa lomba yang diikuti adalah lomba membaca puisi, bukan deklamasi, terlebih dramatisasi atau teaterikalisasi puisi. Dengan begitu, penilaian memiliki parameter terukur dan disepakati bersama. Semuanya tetap dengan pakem-pakem membaca puisi yang telah diketahui secara umum.

Kesalahan umum dalam membaca puisi

Peserta yang ikut dalam kegiatan kami, mulai dari siswa SD hingga SMA. Kami menemukan banyak potensi yang bagus, terutama pada peserta SD. Kami mencoba mengurai beberapa catatan, untuk evaluasi peserta. Salah satu kekeliruan yang banyak ditemukan adalah mendahulukan nada sebelum memahami makna. Peserta cenderung mengedepankan lengkingan suara dan intonasi dramatis, padahal isi puisinya belum sepenuhnya dikuasai. Pada kasus ini, kami berasumsi ada intervensi pembina yang kuat.

Catatan berikutnya adalah pengubahan warna vokal. Banyak peserta memaksakan suara besar dengan membulatkan vokal secara tidak alami. Kembali kami berasumsi, mungkin ini dilakukan karena meniru atau ‘menuruti’ contoh entah dari pembina atau YouTube. Tentu dalam membaca puisi, suara terbaik adalah suara yang jujur, bukan yang ‘dipaksa’. Bahkan ada peserta yang membaca dengan volume suara terlalu keras. Tentu membaca puisi adalah perihal penyampaian makna, bukan sekadar volume suara.

Catatan lain tentang, gestur tubuh yang berlebihan atau tidak sesuai dengan pemaknaan puisi. Ada peserta yang tampil seperti sedang pentas tari alih-alih membaca puisi. Semestinya, gesture hanya menjadi penguat ekspresi, bukan justru menutupi pesan yang ingin disampaikan puisi.

Memahami pakem

Membaca puisi berbeda dengan mendeklamasikan puisi. Membaca puisi berarti membacakan puisi dengan melihat teks puisi. Mendeklamasikan puisi, berarti menghafal teks puisi, kemudian melakokankannya dalam ruang gerak yang luas dan bebas, ekspresif tanpa melihat teks. Perbedaan ini perlu menjadi perhatian juga.
Ketika membaca teks puisi, maka hal yang paling penting diperhatikan adalah intonasi, artikulasi, dan ekspresi.

Peserta lomba

Pada intonasi (tinggi-rendah suara), pembaca membaca puisi dengan penekanan-penekanan suara yang menafsirkan maksud atau arti puisi secara jelas dan tepat pemaknaannya. Dalam penilaian ada poin tafsir. Bagian berikutnya, artikulasi (kejelasan vokal dan ketepatan ujaran). Artikulasi hendaknya ditakar dengan teliti dan cermat. Ujaran yang diucapkan ketika membaca puisi tidak boleh meleset dan salah ucap, karena bisa menimbulkan pergeseran makna. Dalam penilaian ada poin vokal dan penghayatan. Pada ekspresi (mimik wajah), yakni raut wajah yang ditunjukkan ketika seseorang membaca puisi. Wajah ketika membaca puisi, haruslah wajah yang mencerminkan makna puisi yang dibaca, sehingga pendengar turut merasakan makna puisi yang dibacanya. Dalam penilaian ada poin gesture dan penghayatan.

Menilai 35 video (ada tiga peserta yang tidak mengirim video) baca puisi peserta cukup membuat kami ada dalam debat seru. Mengingat perbedaan yang tipis antar peserta. Akhirnya penghayatan yang menjadi pembedanya. Penghayatan baca puisi mulai dari pembacaan judul hingga isi. Pembaca puisi yang telah mahir lebih cepat memahami maksud baris dan bait puisi seketika dibaca setelah menahami judul. Dalam catatan kami, ada beberapa peserta yang memang telah akrab mengikuti lomba membaca puisi.

Akhirnya kami harus memutuskan tiga terbaik dari seluruh video yang masuk ke panitia baik melalui akun Youtube, TikTok, Instagram, dan tautan drive. Semua peserta telah menunaikan membaca puisi dengan versi paling maksimal. Setiap peserta memiliki cara sendiri untuk meresapi dan memahami teks puisi yang dibaca. Hanya saja, peserta yang paling unggul tentu yang paling sedikit kesalahannya, teknik membaca, dan penghayatan yang paling baik. [T]

Penulis: Wayan Esa Bhaskara, juri Bomba Baca Puisi HUT SMAN 1 Petang
Editor: Adnyana Ole

Tags: lomba puisiPuisiSMAN 1 Petang
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kita Semua Saling Terkait: Membaca Yajña, Pancakosha, Chakra, Hawkins, dan Fritjof Capra dalam Satu Kesadaran

Next Post

Catatan Lomba Monolog Peksimida Bali 2026: Ada yang Masih Terjebak Pada Teriakan

Wayan Esa Bhaskara

Wayan Esa Bhaskara

Menulis esai, puisi, dan cerpen disela-sela pekerjaannya sebagai guru

Related Posts

Purbaya Yudhi Sadewa, Saatnya Berkarya Tanpa Pamrih di Luar Sistem

by Agung Sudarsa
September 16, 2026
0
Purbaya Yudhi Sadewa, Saatnya Berkarya Tanpa Pamrih di Luar Sistem

SENIN, 14 September 2026, tidak ada suara petir yang menggelegar. Namun, masyarakat cukup dikejutkan oleh sebuah kabar yang sesungguhnya sudah...

Read moreDetails

Suka-Duka di Rumah Sakit

by Angga Wijaya
September 15, 2026
0
Suka-Duka di Rumah Sakit

BEBERAPA minggu lalu, saya mengaitkan rumah sakit dengan konsep dukkha. Dalam Buddhisme, dukkha sering diterjemahkan sebagai penderitaan, tetapi maknanya jauh...

Read moreDetails

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

by Nanoq da Kansas
September 14, 2026
0
Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

SUDAH lama saya ingin membicarakan persoalan bahasa daerah, khususnya bahasa Bali, di tengah ingar-bingar berbagai lomba seni dan sastra berbahasa...

Read moreDetails

“In This Economy”: Ketika Ketakutan Finansial Mengalahkan Insting Biologis

by Faikar Ramadhan
September 14, 2026
0
“Anjirlah!” Gue Dicibir Gara-Gara Bilang “Anjir!”

SECARA biologis dan naluriah, dorongan untuk memelihara keberlanjutan spesies melalui reproduksi adalah fitrah paling mendasar bagi makhluk hidup. Namun, dalam...

Read moreDetails

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
0
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

Read moreDetails

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

Read moreDetails

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails
Next Post
Catatan Lomba Monolog Peksimida Bali 2026: Ada yang Masih Terjebak Pada Teriakan

Catatan Lomba Monolog Peksimida Bali 2026: Ada yang Masih Terjebak Pada Teriakan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar
Khas

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan
Panggung

21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

Kabupaten Badung tampil dominan pada Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 dengan memborong 21 dari 37 gelar juara...

by Nyoman Budarsana
September 16, 2026
Lift Rumah Mewah Kalea untuk Hunian Premium
Gaya

Lift Rumah Mewah Kalea untuk Hunian Premium

SAAT ini, banyak pemilik rumah mewah di Indonesia memilih menggunakan lift rumah mewah Indonesia dari Kalea karena lift ini dapat...

by tatkala
September 16, 2026
Membaca Naga Agus Kama Loedin
Ulas Rupa

Membaca Naga Agus Kama Loedin

---Venue Art, Batu & Studio, Batubulan, Gianyar, Bali | 12 September 2026 * Pameran "Jaga Raga Bara Jiwa" dibuka  Rektor...

by I Wayan Westa
September 16, 2026
Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan
Ulas Rupa

Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

Di Agung Rai Museum of Art atau ARMA, Ubud, Bali, pada Juli 2026, sebuah pohon penuh kuda hadir di antara...

by Angga Wijaya
September 16, 2026
Purbaya Yudhi Sadewa, Saatnya Berkarya Tanpa Pamrih di Luar Sistem
Esai

Purbaya Yudhi Sadewa, Saatnya Berkarya Tanpa Pamrih di Luar Sistem

SENIN, 14 September 2026, tidak ada suara petir yang menggelegar. Namun, masyarakat cukup dikejutkan oleh sebuah kabar yang sesungguhnya sudah...

by Agung Sudarsa
September 16, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026
Panggung

Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

KETIKA gitar dipetik, lantunan suara mulai merayap ke seluruh ruang gedung pementasan berbentuk prosenium itu. Rasa syukur, pujian, dan doa-doa...

by Nyoman Budarsana
September 15, 2026
Suka-Duka di Rumah Sakit
Esai

Suka-Duka di Rumah Sakit

BEBERAPA minggu lalu, saya mengaitkan rumah sakit dengan konsep dukkha. Dalam Buddhisme, dukkha sering diterjemahkan sebagai penderitaan, tetapi maknanya jauh...

by Angga Wijaya
September 15, 2026
Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI
Esai

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

SUDAH lama saya ingin membicarakan persoalan bahasa daerah, khususnya bahasa Bali, di tengah ingar-bingar berbagai lomba seni dan sastra berbahasa...

by Nanoq da Kansas
September 14, 2026
“Anjirlah!” Gue Dicibir Gara-Gara Bilang “Anjir!”
Esai

“In This Economy”: Ketika Ketakutan Finansial Mengalahkan Insting Biologis

SECARA biologis dan naluriah, dorongan untuk memelihara keberlanjutan spesies melalui reproduksi adalah fitrah paling mendasar bagi makhluk hidup. Namun, dalam...

by Faikar Ramadhan
September 14, 2026
Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik
Khas

Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

“Perdagangan bebas di Indo-Pasifik tidak berlangsung dalam arena yang setara. Dalam sektor pertanian, integrasi pasar tanpa perlindungan yang memadai justru...

by Afgan Fadilla
September 14, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co