JAUH sebelum psikolog modern David Dunning dan Justin Kruger merumuskan Dunning-Kruger Effect pada tahun 1999, pujangga Jawa Kuno telah meramalkan akan datang orang-orang yang dangkal pengetahuannya, merasa tahu dan merasa paham, tapi sebenarnya mereka tidak tahu dan tidak kompeten. Akan datang orang-orang yang merasa diri mereka sangat ahli tapi hanya sekedar bermain kata-kata dan silat lidah tanpa dasar. Merekalah yang akan mencederai dan menghancurkan Weda atau ajaran suci leluhur.
Ramalan tersebut berbentuk sloka terselip dalam lontar Sarasamuccaya, dalam bahasa Jawa Kuno berbunyi sebagai berikut:
Ndān Sang Hyang Weda, paripūrṇākĕna sira, makasādhana sang hyang itihāsa, sang hyang purāṇa;
apan atakut, sang hyang Weda ring akĕdik ajinya;
ling nira, kamung hyang, haywa tiki umarā ri kami, ling nira mangkana rakwa atakut.
Adapun Sang Hyang Weda, hendaknya dipelajari secara paripurna dengan sarana Sang Hyang Itihasa dan Sang Hyang Purana;
Karena Sang Hyang Weda takut kepada orang yang dangkal pengetahuannya;
Sabda Beliau: ‘Wahai tuan yang sok suci, jangan engkau mendekat padaku!’ Demikianlah konon sabda Beliau karena rasa takutnya.
Kitab Sarasamuccaya adalah kitab pedoman susila-etika para intelektual era kerajaan Majapahit dan teks-teks yang termuat dalam kitab ini sudah ada jauh sebelum Majapahit berdiri. Apa yang tersurat dalam Sarasamuccaya (sloka 45) sesungguhnya adalah cetak biru memahami gejala psikologis dari fenomena Dunning-Kruger Effect dalam tafsir Hindu.
Dunning-Kruger Effect dalam Tafsir Hindu
Dalam psikologi modern, orang yang memiliki pemahaman sangat dangkal (low competence) justru memiliki rasa percaya diri yang melambung tinggi (high confidence) — inilah yang disebut dengan Dunning-Kruger Effect. Mereka terjebak dalam apa yang disebut sebagai ”Mount Stupid” (Puncak Kebodohan). Dalam ranah hermeneutika Hindu Nusantara, manifestasi bias kognitif ini dapat dibedah menjadi tiga titik kritis:
- Alpasruta sebagai Penghuni “Mount Stupid”
Istilah alpasruta merujuk pada orang yang sedikit mendengarnya atau miskin literasi. Bahaya terbesar peradaban bukan datang dari orang yang sama sekali tidak tahu (avidya), melainkan dari si alpasruta yang bertindak seolah-olah mereka adalah otoritas tertinggi. Tanpa acuan konteks, mereka melompat pada kesimpulan dogmatis dan memaksakan tafsir kaku kepada masyarakat.
- Ketakutan Veda sebagai Metafora Pemerkosaan Makna
Kalimat terkenal “bibhetyalpaśrutād vedo” (Weda takut kepada orang yang sedikit pengetahuannya) adalah metafora atas dekonstruksi yang keliru. Seseorang yang terkena Dunning-Kruger Effect keagamaan tidak akan mampu melihat lapisan makna tersirat (paroksya). Mereka menyerang (prahariṣyati) teks suci dengan mencabutnya dari konteks budaya Nusantara, menjadikannya senjata untuk menghakimi tradisi luhur yang sudah mapan.
- Itihasa dan Purana sebagai Obat Penawar (The Cure)
Cara untuk turun dari “Puncak Kebodohan” menuju pemahaman yang sehat adalah dengan meningkatkan kompetensi: Itihāsapurāṇābhyāṁ vedaṁ samupabṛṁhayet, bibhetyalpaśrutād vedo māmaayaṁ prahariṣyati (Ādi Parva, 1.267). Leluhur Nusantara menawarkan Itihasa (sejarah/epos) dan Purana (mitologi/kosmologi) sebagai obatnya. Itihasa mengajarkan dialektika moral yang rumit di dunia nyata, sementara Purana menyediakan simbolisme kosmis yang menjembatani pikiran awam. Tanpa kedua instrumen ini, seseorang akan selamanya terjebak di puncak ego intelektualnya.
Fondasi Hermeneutika Hindu
Sloka tersebut merupakan fondasi hermeneutika (cara memahami teks) Hindu, keberadaannya dapat ditemukan dalam dua kitab penting—Sarasamuccaya dan Adi Parwa (versi Sanskerta) — memiliki takdir tekstual yang sangat penting:
- Sarasamuccaya: Sloka sebagai Hukum Sila dan Etika Perilaku
Sebagai kitab pedoman sila dan etika perilaku para Brahmana, Ksatria dan para intelektual era Majapahit dan sebelumnya, Sarasamuccaya memperlakukan sloka ini sebagai peringatan moralitas spiritual. Seseorang diwajibkan menguasai Itihasa (sejarah/epos) dan Purana (mitologi/kosmologi) terlebih dahulu agar mereka memahami konteks kemanusiaan dan dinamika sosial di dunia nyata, sebelum menyentuh Weda yang merupakan doktrin ketuhanan yang abstrak. Di sini, sloka menjadi benteng pertahanan harian dari bahaya radikalisme berpikir dan kesombongan intelektual.
- Adi Parwa: Sloka sebagai Validasi Hermeneutika Sastra
Berbeda dengan Sarasamuccaya, Adi Parwa (buku pertama dari Astadasaparwa Mahabharata versi Sansekerta) memperlakukan sloka ini sebagai pintu gerbang metodologis. Sloka ini diletakkan di bagian awal teks (manggala) bukan sekadar sebagai nasihat moral, melainkan sebagai justifikasi mengapa kisah Mahabharata itu perlu digubah. Para pujangga Adi Parwa menggunakan sloka ini untuk menegaskan bahwa kisah-kisah di dalamnya adalah instrumen wajib untuk membedah isi Weda. Fungsi sloka bergeser dari “peringatan perilaku” menjadi “metode interpretasi sastra dan teologi”.
Perbedaan posisi sloka di kedua kitab ini menunjukkan betapa kayanya tradisi intelektual Hindu masa lalu. Teks Sarasamuccaya menjaga perilaku manusia agar tidak menjadi sok tahu, sementara Adi Parwa menyediakan sarana literasinya agar manusia terbebas dari kebodohan nyata.
Kehancuran Hindu Nusantara terjadi ketika benang merah dari kedua kitab ini terputus. Ketika masyarakat mulai abai terhadap Itihasa dan Purana —mulai melupakan sejarah bangsanya sendiri dan lupa membaca dan menelaah kearifan lokal purana leluhurnya— mereka secara otomatis kehilangan alat menalar dan memberikan interpretasi mendalam dan teliti untuk memahami kebenaran. Di titik itulah Dunning-Kruger Effect massal terjadi: Orang-orang yang dangkal ilmunya naik ke permukaan, mengatasnamakan kesucian, menafsirkan ajaran dengan kaku, hingga akhirnya menghancurkan peradaban dari dalam. Apa yang ditakutkan oleh Weda ribuan tahun lalu dalam lembaran lontar itu, kini telah menjadi kenyataan sejarah. [T]




























