19 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

KEDAULATAN HIJAU DI TANGAN RAKYAT: Konservasi Berbasis Komunitas, Jalankah?

I Gede Joni Suhartawan by I Gede Joni Suhartawan
June 29, 2026
in Esai
KEDAULATAN HIJAU DI TANGAN RAKYAT: Konservasi Berbasis Komunitas, Jalankah?

Tradisi Alilitan, salah satunya untuk memuliakan hutan adat di Catur Desa Dalem Tamblingan | Foto: Dok. tatkala.co

KRISIS iklim bukan lagi ramalan apokaliptik di makalah-makalah seminar melainkan kenyataan di depan mata semua bangsa. Ayolah jujur mengakui ironi ini: hutan-hutan terbaik yang bertahan hari ini di planet Bumi, hampir selalu adalah hutan-hutan yang berada dan dirawat oleh masyarakat adat atau komunitas lokal. Mereka melakukannya bukan karena seabreg undang-undang negara atau peraturan pemerintah, bukan pula karena insentif karbon yang mulai seksi dilirik banyak mata, melainkan karena hutan adalah ibu, identitas, dan ruang hidup.

Ironi ini nampaknya dibiang-keroki justru sebagian besar oleh negara. Negara sering kali menghadirkan dirinya sebagai state-centric conservation—sebuah cara pandang kolonial yang menganggap  konservasi hanya sah jika distempel birokrasi dan dijaga oleh Polisi Kehutanan. Padahal, meminggirkan komunitas adat dari hutannya adalah bentuk bunuh diri ekologis massal sekaligus pelecehan terhadap konstitusi.

Wajah Hukum Pengelolaan Hutan Kita

Sejarah panjang ketegangan antara klaim sepihak negara (state claim) dan hak-hak inheren masyarakat adat (customary rights), dapat kita lacak mulai dari: Negara pemilik mutlak (Domein Verklaring) di era kolonial, Negara pemilik sekaligus penguasa di era kemerdekaan dengan puncak brutalnya di era orde baru (jutaan hektar hutan adat diubah menjadi konsesi HPH dan masyarakat adat mendadak menjadi warga asing/perambah hutan leluhurnya sendiri!), Hutan Adat adalah Hutan Negara, di era reformasi, yang segera dikoreksi total oleh Putusan MK 35/2012, “Hutan Adat bukan Hutan Negara” dan akhirnya kini menjadi Akselerasi Perhutanan Sosial versus Proyek Strategis Nasional dalam omnibus law UU Cipta Kerja.

Apa artinya wajah-wajah hukum ini? Artinya, secara regulasi kita mengalami kemajuan tekstual. Namun, kemajuan tekstual ini tidak serta merta terjadi pada ranah implementasi apalagi  political will. Proses pengakuan masyarakat hukum adat (MHA) sering kali kusut dalam belitan birokrasi, kontras dengan kecepatan keluarnya izin konsesi korporasi yang bahkan geledek pun kalah cepat.

Kembali ke Jiwa UUD 1945

Lantas, bagaimana mestinya mensikapi tata kelola hutan ini? Jawabannya ada pada konstitusi tertinggi bangsa ini: UUD 1945.

Pasal 18B Ayat (2) UUD 1945:

“Negara mengakui dan menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang diatur dalam undang-undang.”

Klausul ini jelas bukan aksesoris hukum. Ini adalah perintah bagi negara untuk proaktif, bukan pasif menanti masyarakat adat datang tersengal-sengal dari pelosok hutan untuk melengkapi berkas-berkas administratif yang ribet. Pengakuan terhadap masyarakat adat adalah kata kerja aktif bagi negara.

Sementara itu, Pasal 33 Ayat (3) UUD 1945 menegaskan bahwa bumi, air, dan kekayaan alam dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. Kata “dikuasai” oleh negara tidak bisa lagi diartikan sebagai “dimiliki secara mutlak oleh birokrasi” untuk kemudian diprivatisasi oleh segelintir oligarki. Hak menguasai negara adalah hak mengatur (beheersdaad), yang tujuannya adalah memastikan keadilan distributive yang berujung kemakmuran rakyat sebesar-besarnya itu.

Kompromi Historis demi Masa Depan

Dibutuhkan paradigma baru yang berakar pada konstitusi guna mengakhiri kekacauan agraria berkepanjangan di sektor kehutanan. Kedua belah pihak, negara dan masyarakat adat,  musti kompromi ego demi sang ibu pertiwi, hutan kita.

Pihak Pemerintah: “Penguasa” Menjadi “Mitra”

  • Debirokratisasi Pengakuan Wilayah Adat: Pemerintah harus memotong kompas regulasi mulai dari tingkat daerah hingga pusat  dan menggantinya dengan mekanisme pengakuan yang inklusif, cepat, dan partisipatif.
  • Pendanaan Langsung untuk Konservasi Komunitarian: Insentif pendanaan iklim (seperti dana Reduction of Emissions from Deforestation and Forest Degradation / REDD+) seharusnya dialokasikan langsung untuk memperkuat ekonomi komunitas adat yang menjaga hutan, bukan habis di tingkat birokrasi atau konsultan formal.
  • Integrasi Epistemologi: Akui ilmu pengetahuan lokal (indigenous wisdom/knowledge). Cara masyarakat adat membaca tanda-tanda alam, melakukan zonasi tradisional (seperti sasi di Maluku, lubuk larangan di Sumatra, atau taru pramana di Bali), sering kali jauh lebih efektif ketimbang teori kaku konservasi barat.

Pihak Masyarakat Adat: Konsolidasi dan Resiliensi

  • Penguatan Manajemen Internal: Masyarakat adat harus memperkuat kelembagaan adat, memastikan keterlibatan perempuan dan generasi muda dalam pengambilan keputusan, serta melakukan pemetaan partisipatif atas wilayahnya secara presisi agar tidak mudah dipecah belah.
  • Adaptasi Tanpa Kehilangan Akar: Terbuka terhadap kolaborasi sains modern—seperti penggunaan GPS atau pemantauan hutan berbasis digital—tanpa mengorbankan nilai-nilai spiritual dan lokalitas yang mendasari hubungan dengan alam.

Mendukung gerakan masyarakat adat dalam menjaga hutan bukanlah tindakan karitatif atau “hadiah sinterklas” dari pemerintah. Itu adalah bentuk pertobatan atas dosa sejarah. Hutan Indonesia tidak akan pernah selamat jika moncong senjata yang menjaga atau kawat=kawat berduri birokrasi yang memagari.

Hutan kita hanya akan selamat jika ia dijaga oleh rasa cinta, spiritualitas, dan lelaku berdaulat dari manusia-manusia yang telah menganggap pohon sebagai saudara dan tanah sebagai darah mereka sendiri.

Sudah saatnya negara berhenti menjadi mandor bagi korporasi, dan mulai menjadi pelindung bagi masyarakat adat. Itulah sejatinya jiwa dari UUD 1945. [T]

Prambanan, 28/6/2026

Penulis: I Gede Joni Suhartawan
Editor: Adnyana Ole

Tags: hutanhutan adatlingkungan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

KEHANCURAN HINDU NUSANTARA & DUNNING-KRUGER EFFECT

Next Post

Membangun Buleleng, Membangun Ingatan Sejarah dan Membangun Masa Depan Kota dari Kawasan Titik Nol Singaraja

I Gede Joni Suhartawan

I Gede Joni Suhartawan

Penulis tinggal di Prambanan Klaten Jawa Tengah. Pernah bekerja di SCTV dan pernah menjadi Head of Production Creative Development Center di Trans Corp (TransTV and Trans|7)

Related Posts

Krisis Baru Abad 21: Ketika Mesin Berpikir, Manusia Berhenti Merenung?

by Hairunnisa Br. Sagala
July 19, 2026
0
Krisis Baru Abad 21: Ketika Mesin Berpikir, Manusia Berhenti Merenung?

KONON, yang membedakan manusia dari makhluk lain bukan semata kemampuan berbicara, melainkan kemampuan merenung. Dari renungan lahir kebijaksanaan. Dari kebijaksanaan...

Read moreDetails

Langsung ke Intinya: Siapa Juara Piala Dunia?

by Nur Inayah Yushar
July 19, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

BAGI kelompok orang yang tidak mengikuti sepak bola, riuh rendah Piala Dunia sering kali terasa seperti latar belakang suara yang...

Read moreDetails

Bangkitlah Bali: Kesadaran Selalu Dimulai dari Keberanian Mengakui Kenyataan

by Agung Sudarsa
July 19, 2026
0
Bangkitlah Bali: Kesadaran Selalu Dimulai dari Keberanian Mengakui Kenyataan

"People will do anything, no matter how absurd, in order to avoid facing their own souls." Manusia rela melakukan apa...

Read moreDetails

Dari Stres Jadi Rileks: Menjadikan Musik Sebagai Pertolongan Pertama Emosi

by Muhammad Syahrul Wafda
July 19, 2026
0
Mengapa Desain ‘User Interface’ Aplikasi Meditasi Selalu Bernuansa Pastel?

MENGINGAT banyaknya pengguna media sosial saat ini, orang-orang gemar membagikan musik yang mereka dengarkan di platform seperti Instagram, WhatsApp, dan...

Read moreDetails

Kepemimpinan Transformasional sebagai Jantung Kebijakan Publik dan Komunikasi Politik Modern

by Jerry Indrawan
July 16, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

TANTANGAN birokrasi di era disrupsi global saat ini menuntut perubahan fundamental dalam paradigma pengelolaan pemerintahan dan cara pemimpin berinteraksi dengan...

Read moreDetails

Dunia adalah Cermin Kesadaran Manusia

by Agung Sudarsa
July 16, 2026
0
Dunia adalah Cermin Kesadaran Manusia

Kita Melihat Dunia Sebagaimana Diri Kita Mengamati perilaku sang istri selama belasan tahun sebagai guru TK, saya punya ungkapan: Seorang...

Read moreDetails

Satu Bahasa Dua Realitas: Mengapa Roy Suryo dan Jokowi Mustahil Saling Memahami?

by Nur Inayah Yushar
July 16, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

DALAM panggung politik kontemporer Indonesia, perseteruan antara mantan Menteri Pemuda dan Olahraga, Roy Suryo, dan mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi)...

Read moreDetails

Korupsi, Kekuasaan dan Keserakahan —Ketika Alam Sedang Bersih-Bersih

by Agung Sudarsa
July 15, 2026
0
Korupsi, Kekuasaan dan Keserakahan —Ketika Alam Sedang Bersih-Bersih

"Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely." Kalimat legendaris dari Lord Acton itu kembali terasa relevan ketika bangsa...

Read moreDetails

Dari Sekolah Sepi Menuju Sekolah Rakyat: Pendidikan Bukan Sekadar Transfer Informasi, tetapi Transformasi Kesadaran

by Agung Sudarsa
July 15, 2026
0
Sekolah Rakyat Vs Sekolah Reguler   

Ironi Pendidikan di Tengah Semangat Membangun Masa Depan Berita tentang SDN 6 Bhuana Giri di Bali yang selama empat tahun...

Read moreDetails

Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital

by Surfian Rahmat AP
July 15, 2026
0
Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital

DALAM beberapa tahun terakhir, lanskap media sosial seperti Instagram dan TikTok didominasi oleh proliferasi estetika “baddie”. Secara visual, seorang baddie...

Read moreDetails
Next Post
Membangun Buleleng, Membangun Ingatan Sejarah dan Membangun Masa Depan Kota dari Kawasan Titik Nol Singaraja

Membangun Buleleng, Membangun Ingatan Sejarah dan Membangun Masa Depan Kota dari Kawasan Titik Nol Singaraja

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya
Ulas Pentas

Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

 “Teng! Tong! Teng! Tong! Teng! Tung! Pagi tiba alarm berbunyi...” Itu adalah suara dering alarm saya pukul tiga pagi yang...

by Putu Intan Juliantika
July 19, 2026
Krisis Baru Abad 21: Ketika Mesin Berpikir, Manusia Berhenti Merenung?
Esai

Krisis Baru Abad 21: Ketika Mesin Berpikir, Manusia Berhenti Merenung?

KONON, yang membedakan manusia dari makhluk lain bukan semata kemampuan berbicara, melainkan kemampuan merenung. Dari renungan lahir kebijaksanaan. Dari kebijaksanaan...

by Hairunnisa Br. Sagala
July 19, 2026
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK
Esai

Langsung ke Intinya: Siapa Juara Piala Dunia?

BAGI kelompok orang yang tidak mengikuti sepak bola, riuh rendah Piala Dunia sering kali terasa seperti latar belakang suara yang...

by Nur Inayah Yushar
July 19, 2026
The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus
Ulas Film

The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

SUDAH tentu, Christopher Nolan bukan sutradara pertama yang mengadaptasi epos Odyssey milik Homer. Kisah itu sudah ada sekitar 2.800 tahun...

by Bayu Wira Handyan
July 19, 2026
Agung Pramana Hadirkan “After Exotic 1931” di ARTJOG 2026 —Menelisik Jejak Kolonial di Balik Eksotisme Bali
Pameran

Agung Pramana Hadirkan “After Exotic 1931” di ARTJOG 2026 —Menelisik Jejak Kolonial di Balik Eksotisme Bali

BALI selama bertahun-tahun dikenal dunia sebagai pulau yang eksotis. Namun, di balik citra itu, tersimpan sejarah panjang tentang bagaimana representasi...

by Dede Putra Wiguna
July 19, 2026
Bangkitlah Bali: Kesadaran Selalu Dimulai dari Keberanian Mengakui Kenyataan
Esai

Bangkitlah Bali: Kesadaran Selalu Dimulai dari Keberanian Mengakui Kenyataan

"People will do anything, no matter how absurd, in order to avoid facing their own souls." Manusia rela melakukan apa...

by Agung Sudarsa
July 19, 2026
Membaca Alam yang Tersimpan dalam Serat —Menafsir “Barik” Karya Dr. Sn. Inty Nahari
Ulas Rupa

Membaca Alam yang Tersimpan dalam Serat —Menafsir “Barik” Karya Dr. Sn. Inty Nahari

ADA kecenderungan menarik dalam perkembangan seni kriya beberapa tahun terakhir. Para perupa tidak lagi hanya berbicara tentang keterampilan mengolah bahan,...

by Angga Wijaya
July 19, 2026
Mengapa Desain ‘User Interface’ Aplikasi Meditasi Selalu Bernuansa Pastel?
Esai

Dari Stres Jadi Rileks: Menjadikan Musik Sebagai Pertolongan Pertama Emosi

MENGINGAT banyaknya pengguna media sosial saat ini, orang-orang gemar membagikan musik yang mereka dengarkan di platform seperti Instagram, WhatsApp, dan...

by Muhammad Syahrul Wafda
July 19, 2026
Lomba Cerpen Festival Seni Bali Jani 2026 Diikuti 172 Peserta, Juri Soroti Orisinalitas Karya di Era AI
Khas

Lomba Cerpen Festival Seni Bali Jani 2026 Diikuti 172 Peserta, Juri Soroti Orisinalitas Karya di Era AI

MINAT masyarakat terhadap dunia sastra kembali menunjukkan geliat yang menggembirakan. Lomba Menulis Cerpen dalam rangka Festival Seni Bali Jani (FSBJ)...

by Nyoman Budarsana
July 18, 2026
Band Legendaris Bali Bangkitkan Nostalgia di Panggung Festival Seni Bali Jani 2026
Panggung

Band Legendaris Bali Bangkitkan Nostalgia di Panggung Festival Seni Bali Jani 2026

RASA rindu terhadap lagu-lagu Bali yang sempat mewarnai awal dekade 2000-an terobati dalam Pergelaran Musik "Bintang 5 Musik Jani" persembahan...

by Nyoman Budarsana
July 18, 2026
Dermaga Seni Buleleng Suguhkan “Sura Atma”, Ajak Penonton Merenungi Makna Kehidupan
Panggung

Dermaga Seni Buleleng Suguhkan “Sura Atma”, Ajak Penonton Merenungi Makna Kehidupan

TAWA penonton sesekali pecah mengikuti dialog-dialog jenaka yang menghidupkan panggung. Namun perlahan suasana berubah. Musik mengalun semakin sendu, puisi dilantunkan...

by Nyoman Budarsana
July 18, 2026
Ketika Kata Menjelma Jiwa: Pesona Lomba Baca Puisi di Festival Seni Bali Jani 2026
Panggung

Ketika Kata Menjelma Jiwa: Pesona Lomba Baca Puisi di Festival Seni Bali Jani 2026

SUASANA Citta Kelangen Institut Seni Indonesia (ISI) Bali, Jumat, 17 Juli 2026, terasa berbeda. Tak terdengar dentuman gamelan atau hingar-bingar...

by Nyoman Budarsana
July 17, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co