9 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Membangun Buleleng, Membangun Ingatan Sejarah dan Membangun Masa Depan Kota dari Kawasan Titik Nol Singaraja

Jaswanto by Jaswanto
June 29, 2026
in Liputan Khusus
Membangun Buleleng, Membangun Ingatan Sejarah dan Membangun Masa Depan Kota dari Kawasan Titik Nol Singaraja

Aktivitas warga di Kawasan Titik Nol Kota Singaraja | Foto: Diskominfo Buleleng

“YANG kami bangun bukan sekadar ruang publik yang indah, tetapi juga ruang yang mampu mengingatkan masyarakat akan perjalanan panjang Kota Singaraja,” ujar Bupati Buleleng, dr. I Nyoman Sutjidra saat meninjau lokasi.

Sore hari yang berbeda. Wajah kawasan Tugu Singa tampak lebih ramai seperti biasanya. Sore hari sepertinya menjadi waktu paling ramai di kawasan ini. Cahaya matahari memantul di atas batu andesit yang baru dipasang. Anak-anak berlarian, beberapa remaja berhenti untuk berfoto, sementara orang-orang tua duduk di tepian kawasan yang kini dikenal sebagai Titik Nol Singaraja itu. Di tengah ruang publik yang sedang berbenah itu, Patung Singa Ambara Raja berdiri tegak, seolah menjaga lalu lintas manusia yang datang dan pergi.

Bagi sebagian orang, kawasan ini mungkin hanya ruang kota yang sedang dipercantik, tidak ada beda dengan ruang publik lainnya. Namun, seperti kata Bupati Sutjidra di atas, bagi sebagian lainnya, kawasan Titik Nol adalah simpul ingatan. Di tempat inilah, sejarah, kekuasaan, perdagangan, dan identitas sebuah kota bertemu. Ya, Singaraja bukan kota yang lahir dari jalan raya, memang, kota ini tumbuh dari laut.

Orang Singaraja lahir dari “panci pelebur” bernama Buleleng dan hidup di dalam “mangkuk salad” bernama Bali. Orang Singaraja lahir dari adukan bermacam ras dan suku bangsa yang mendiami Buleleng pada abad-abad silam. Karena itu, salah satu ciri terpenting orang Singaraja—yang selama ini barangkali sering diabaikan—adalah keterbukaan pola pikirnya.

Jamak tertulis dalam sejarah, orang-orang yang tinggal dan beranak-pinak di sepanjang pesisir adalah mereka yang memiliki pikiran egaliter, terbuka, dan mungkin sedikit blak-blakan—untuk tidak mengatakan “bar-bar”. Pikiran egaliter itu tumbuh karena wilayah pesisir biasanya memiliki keragaman kebudayaan (yang lebih) dibandingkan dengan wilayah agraris.

Sejak awal abad 19, jalur perdagangan Bali-Lombok-Batavia sudah berkembang pesat, terutama untuk kebutuhan komoditas sandang dan pangan, selain budak, tentu saja. Pada awalnya, upaya membangun rute perdagangan di Bali sebenarnya lebih tampak di daerah bagian selatan. Namun, setelah menjelang runtuhnya Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC)—perusahaan dagang Belanda yang didirikan pada 1602—perdagangan Bali Selatan, khususnya di Kuta, Denpasar, mengalami kemunduran.

Oleh karena itu, berkat perubahan sosial, ekonomi, dan politik pada masa itu, pusat perdagangan Bali bergeser ke utara, tepatnya ke Singaraja. Ini membuat Buleleng, diakui atau tidak, menjadi daerah penting pada awal abad 20. Hal ini disebabkan oleh dua faktor penting, yakni Singaraja sebagai kota pelabuhan dan Singaraja sebagai pusat pemerintahan (ibu kota) di Bali dan Nusa Tenggara pada masa pemerintah Hindia Belanda. Namun, perlu diketahui, jalur dagang di Bali Utara sebenarnya sudah dimulai jauh sebelum peristiwa itu terjadi.

Buleleng Buleleng Nyoman Sutjidra berfoto bersama warga di Kawasan Titik Nol Singaraja | Foto: Diskominfo Buleleng

Banyak peneliti mengakui, bahwa sejak zaman dulu, karena Bali Utara secara geografis letaknya sangat strategis, maka kontak-kontak dagang—hubungan antara Bali dengan Jawa dan wilayah lain di dalam maupun di luar Nusantara—lebih sering terjadi di wilayah Bali Utara dan sekitarnya daripada di Bali Selatan. Di samping itu, kondisi Laut Utara yang relatif kondusif sangat memudahkan perjalanan perahu-perahu dagang yang masih menggunakan sistem teknologi navigasi sederhana. (Bacalah kisah Raja Panji Sakti yang menyelamatkan perahu dagang Tiongkok di Pantai Penimbangan.)

Hal ini diperkuat dengan adanya hikayat pelabuhan-pelabuhan alam di wilayah Pesisir Utara, seperti Sangsit, Buleleng, Temukus, Gilimanuk, Pangkung Paruk, Tanjung Ser, Pacung, dan Sembiran—yang merupakan pintu masuk dan jalur perdagangan kuno di Bali Utara yang menghubungkan Bali dengan daerah lain di Nusantara.

Ketika Belanda menduduki Buleleng, Singaraja memperoleh peran baru. Kota ini kemudian menjadi pusat administrasi kolonial Belanda di Bali. Gedung-gedung pemerintahan, sekolah, kantor dagang, hingga fasilitas publik dibangun di kawasan pusat kota yang kini masih menyisakan jejak arsitekturalnya. Jejak-jejak itu masih dapat ditemukan di sekitar kawasan Titik Nol hari ini.

Ruang Publik dan Ingatan Sejarah

Kini, di antara bangunan-bangunan tua peninggalan masa kolonial yang telah direvitalisasi itu, anak-anak berlarian. Sejumlah remaja sibuk mengabadikan momen dengan telepon genggam mereka. Beberapa keluarga memilih duduk di tepian trotoar yang baru ditata, menikmati suasana yang beberapa tahun lalu sulit dibayangkan hadir di pusat Kota Singaraja. Kawasan itu menjadi salah satu ruang publik favorit masyarakat Buleleng. Banyak orang datang bukan hanya karena tempatnya indah, melainkan karena ada sesuatu yang lain: perasaan sedang berada di ruang yang memiliki cerita panjang.

Di salah satu bangku yang menghadap Patung Singa Ambara Raja, Deny duduk bersama tiga temannya. Mahasiswa asal Buleleng itu mengaku hampir setiap minggu datang ke kawasan tersebut. Awalnya sekadar mengikuti tren yang ramai di media sosial. Namun lama-kelamaan ia mulai tertarik pada sejarah tempat yang selama ini hanya ia lewati begitu saja. “Kalau dulu lewat sini ya cuma lewat. Sekarang jadi penasaran kenapa ada gedung-gedung tua, kenapa namanya Titik Nol, kenapa Singaraja dulu pernah jadi ibu kota,” ujarnya.

Bagi generasi muda seperti Deny, kawasan itu menjadi pintu masuk yang tidak terduga untuk mengenal sejarah daerahnya sendiri. Sesuatu yang selama ini lebih banyak ditemukan di buku pelajaran daripada di ruang-ruang publik kota.

Belakangan, Titik Nol Singaraja viral di media sosial karena dianggap memiliki suasana yang mengingatkan banyak orang pada kawasan Malioboro di Yogyakarta. Pernyataan itu tampak biasa saja, namun sesungguhnya ia menyentuh inti persoalan yang lebih besar: identitas sebuah kota.

Buleleng Buleleng Nyoman Sutjidra berfoto bersama warga di Kawasan Titik Nol Singaraja | Foto: Diskominfo Buleleng

Titik Nol Singaraja bukan sekadar ruang publik baru, tempat ini berdiri di kawasan yang menyimpan lapisan-lapisan sejarah panjang Bali Utara. Karena itulah Pemerintah Kabupaten Buleleng memilih mengembangkan kawasan tersebut dengan konsep heritage. Bangunan-bangunan bersejarah dipertahankan, kabel utilitas dipindahkan ke bawah tanah, dan ruang publik dirancang agar warga dapat kembali berinteraksi dengan sejarah kotanya sendiri.

Menurut Sutjidra, daya tarik kawasan tersebut bukan hanya pada sisi estetikanya, melainkan juga pada nilai historis yang dikandungnya. “Kawasan ini menyimpan banyak jejak sejarah yang sengaja kita hidupkan kembali melalui penataan kawasan heritage,” katanya.

Jelas, jejak sejarah yang dimaksud Sutjidra tidaklah kecil. Banyak orang mungkin tidak mengetahui bahwa setelah Indonesia merdeka pada 1945, Singaraja pernah menjadi ibu kota Provinsi Sunda Kecil. Provinsi tersebut mencakup Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur.

Pusat pemerintahannya berada di Singaraja. Gubernur pertamanya adalah I Gusti Ketut Pudja, putra asli Singaraja yang juga anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Pudja merupakan salah satu tokoh yang ikut menyaksikan proses perumusan naskah Proklamasi Kemerdekaan di Jakarta. Pada 19 Agustus 1945, ia ditunjuk menjadi Gubernur Sunda Kecil dan memimpin wilayah yang sangat luas tersebut hingga Januari 1946. Atas jasa-jasanya bagi bangsa, I Gusti Ketut Pudja kemudian dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pada tahun 2011.

Namun, perjalanan sejarah terus bergerak. Pada 14 Agustus 1958, Provinsi Sunda Kecil dibubarkan dan dimekarkan menjadi tiga provinsi baru: Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur. Sejak saat itu, Bali berdiri sebagai provinsi tersendiri dengan ibu kota di Denpasar. Keputusan tersebut mengubah arah perkembangan Bali. Pusat pemerintahan yang sebelumnya berada di utara berpindah ke selatan.

Perpindahan pusat pemerintahan ke Denpasar membawa konsekuensi yang tidak kecil. Arus investasi, pembangunan infrastruktur, pendidikan tinggi, hingga pertumbuhan sektor pariwisata perlahan terkonsentrasi di Bali Selatan. Dalam beberapa dekade berikutnya, Denpasar, Badung, dan kawasan sekitarnya berkembang menjadi pusat ekonomi baru Pulau Bali.

Aktivitas warga di Kawasan Titik Nol Kota Singaraja | Foto: Diskominfo Buleleng

Di sisi lain, Singaraja yang pernah menjadi jantung administrasi Bali dan Nusa Tenggara memasuki fase yang berbeda. Kota ini tidak lagi menjadi pusat pengambilan keputusan politik. Pelabuhan yang dahulu ramai perlahan kehilangan perannya seiring perubahan jalur transportasi dan perdagangan. Banyak bangunan bersejarah tetap berdiri, tetapi sebagian kisah yang melekat padanya mulai memudar dari ingatan masyarakat.

Singaraja perlahan kehilangan status politiknya, memang, tetapi tidak kehilangan jejak sejarahnya. Karena itulah, revitalisasi kawasan heritage hari ini sesungguhnya bukan hanya proyek penataan kota. Ia juga merupakan upaya menghubungkan kembali generasi sekarang dengan sejarah yang sempat menjauh dari kehidupan sehari-hari. Upaya tersebut mendapat perhatian dari kalangan pejuang kemerdekaan.

Ketua DPD Angkatan 45 Provinsi Bali, Bagus Ngurah Rai, menyebut revitalisasi kawasan tersebut sebagai langkah penting merawat memori sejarah bangsa. “Renovasi Titik Nol ini kami apresiasi. Ini bukan sekadar membangun taman, tapi merawat ingatan bangsa. Dari sinilah dulu pusat pemerintahan Sunda Kecil berdenyut,” tegasnya. Kalimat itu mengingatkan bahwa sejarah tidak selalu hadir melalui buku pelajaran. Kadang-kadang sejarah hidup melalui ruang kota, melalui jalan yang dilalui setiap hari, melalui bangunan yang masih berdiri, melalui patung, taman, dan ruang publik yang menyimpan cerita masa lalu.

Fenomena semacam ini sebenarnya sedang terjadi di banyak kota di dunia. Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai kota bersejarah berusaha menghidupkan kembali kawasan lamanya melalui pendekatan placemaking, yakni menciptakan ruang publik yang tidak hanya nyaman digunakan, tetapi juga mampu memperkuat identitas kota. Di Indonesia, kawasan Kota Lama Semarang, Kota Tua Jakarta, Kota Lama Surabaya, dan koridor Malioboro Yogyakarta menjadi contoh bagaimana ruang publik dapat berfungsi sekaligus sebagai tempat rekreasi, ruang ekonomi, dan ruang belajar sejarah.

Titik Nol Singaraja tampaknya sedang menempuh jalan yang serupa. Bedanya, kawasan ini membawa cerita khas Bali Utara yang selama puluhan tahun sering berada di luar sorotan utama perkembangan Pulau Bali.

Membayangkan Masa Depan Kota

Dalam banyak kajian perencanaan kota modern, ruang publik tidak lagi dipandang sekadar tempat orang berkumpul, pula menjadi instrumen penting untuk membangun kualitas hidup, identitas kota, dan daya saing daerah. Kota-kota yang berhasil mempertahankan warisan sejarahnya sembari menghadirkan ruang publik yang nyaman cenderung memiliki ikatan sosial yang lebih kuat serta daya tarik yang lebih besar bagi wisatawan dan generasi muda. Menariknya, penataan kawasan ini tidak hanya berbicara tentang masa lalu, tapi juga berbicara tentang masa depan.

Pada akhir Juni 2026, Pemerintah Kabupaten Buleleng memperkenalkan inovasi bernama Buleleng Terra Sign, yakni papan nama jalan yang dibuat dari sampah plastik daur ulang. Program hasil kolaborasi Dinas Perhubungan Kabupaten Buleleng dengan Rumah Plastik Mandiri Buleleng itu mulai diterapkan di kawasan Titik Nol ini.

Sebanyak sepuluh papan nama jalan dipasang pada lima ruas jalan di jantung Kota Singaraja. Untuk memproduksinya dibutuhkan sekitar 1,2 ton sampah plastik mentah yang dikumpulkan dari jaringan bank sampah dan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) di seluruh Kabupaten Buleleng.

“Melalui inovasi ini, sampah plastik yang selama ini menjadi masalah lingkungan kami ubah menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat. Ini bukan sekadar papan nama jalan, tetapi simbol komitmen Buleleng dalam membangun daerah yang bersih, hijau, dan berkelanjutan,” kata Sutjidra.

Aktivitas warga di Kawasan Titik Nol Kota Singaraja | Foto: Diskominfo Buleleng

Penggunaan material hasil daur ulang sampah merupakan pilihan yang tepat. Di tengah meningkatnya persoalan sampah plastik di berbagai daerah pesisir Indonesia, kota-kota dituntut mencari cara agar limbah tidak berhenti sebagai masalah, melainkan menjadi sumber daya baru. Dengan pendekatan itu, kawasan Titik Nol tidak hanya mengajak warga mengingat masa lalu Singaraja sebagai kota pelabuhan yang kosmopolit, tetapi juga memperkenalkan cara pandang baru tentang masa depan kota yang lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan.

Menurut Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Buleleng Gede Gunawan Adnyana Putra, konsep tersebut lahir dari keinginan menghadirkan penataan kota yang aman, tertib, sekaligus ramah lingkungan. “Penataan kawasan tidak hanya harus aman dan tertib, tetapi juga ramah lingkungan. Lampu penerangan jalan menggunakan PJUTS, kabel ditanam di bawah tanah, dan papan nama jalan kami hadirkan dari material hasil daur ulang sampah plastik,” ujarnya.

Transformasi kawasan tersebut juga mencerminkan perubahan cara pemerintah memandang ruang kota. Jika dahulu pembangunan lebih banyak berorientasi pada kendaraan dan infrastruktur fisik, kini perhatian mulai bergeser pada pengalaman manusia yang menggunakan ruang tersebut. Trotoar yang lebih nyaman, pencahayaan yang baik, ruang terbuka yang aman, serta penataan visual yang rapi menjadi bagian dari upaya menghadirkan kota yang lebih ramah bagi pejalan kaki.

Papan nama jalan di kawasan Titik Nol Singaraja yang terbuat dari olahan sampah plastik | Foto: Prokom Buleleng

Sementara itu, pemilik Rumah Plastik Mandiri Buleleng Eka Darmawan menjelaskan bahwa material yang digunakan adalah plastik jenis HDPE yang memiliki daya tahan tinggi terhadap cuaca dan aman digunakan untuk fasilitas publik. Dengan demikian, kawasan heritage yang dibangun untuk mengenang masa lalu juga menjadi ruang untuk memperkenalkan gagasan masa depan: ekonomi sirkular, pengelolaan sampah, dan pembangunan berkelanjutan.

Berabad-abad lalu, Singaraja berkembang karena kemampuannya berhubungan dengan dunia luar melalui jalur perdagangan laut. Hari ini, ketika tantangan zaman berubah, keterbukaan yang sama tampaknya kembali dibutuhkan—bukan lagi untuk berdagang rempah, budak, atau hasil bumi, melainkan untuk menyerap gagasan-gagasan baru tentang lingkungan, teknologi, dan pembangunan berkelanjutan. Dengan kata lain, masa depan Singaraja mungkin tidak dibangun dengan meninggalkan sejarahnya, melainkan dengan memanfaatkan sejarah itu sebagai fondasi untuk melangkah lebih jauh.

Malam tiba. Lampu-lampu kawasan mulai menyala. Orang-orang terus berdatangan. Sebagian mungkin hanya ingin berfoto, menikmati udara sore, atau sekadar mencari tempat berkumpul bersama teman dan keluarga. Namun, tanpa mereka sadari, setiap langkah yang mereka ambil sesungguhnya sedang melintasi sebuah ruang yang menyimpan sejarah panjang Pulau Bali modern.

Dari masa pelabuhan dagang, masa kolonial, masa Singaraja sebagai ibu kota Sunda Kecil, hingga masa kini ketika kota berusaha menemukan kembali identitasnya, dari I Gusti Ketut Pudja di Singaraja, kepada para pemimpin Bali setelahnya di Denpasar, hingga generasi muda yang kini memenuhi kawasan Titik Nol setiap sore, sejarah bergerak seperti estafet.

Sampai di sini, revitalisasi ini membuktikan bahwa sebuah kota tidak hanya dibangun oleh beton, trotoar, atau lampu jalan semata, tapi juga dibangun oleh ingatan masyarakatnya. Dan di Singaraja, ingatan itu sedang dirawat kembali, tepat dari titik pusat kotanya.[T]

Reporter/Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

Catatan: Artikel ini ditulis dan disiarkan atas kerjasama tatkala.co dan Dinas Komunikasi, Informatika, Persandian dan Statistik (Kominfosanti) Kabupaten Buleleng.

Tags: bulelengKota Singaraja
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

KEDAULATAN HIJAU DI TANGAN RAKYAT: Konservasi Berbasis Komunitas, Jalankah?

Next Post

Teringat Mendiang Bang DS. Putra

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Betapa Kompaknya Seniman Buleleng Membangun Karakter Buleleng Lewat Berbagai Karya Seni dan Kebudayaan

by Jaswanto
June 28, 2026
0
Betapa Kompaknya Seniman Buleleng Membangun Karakter Buleleng Lewat Berbagai Karya Seni dan Kebudayaan

TEPAT hari Sabtu, 13 Juni 2026, saat Renon sedang menyengat, ribuan orang memadati kawasan Monumen Perjuangan Rakyat Bali di Denpasar....

Read moreDetails

Hikayat Tuak

by Jaswanto
May 30, 2026
0
Hikayat Tuak

KAKEK tua itu memanjat pohon lontar—yang tinggi—sesantai menaiki anak tangga. Meski sudah berumur, tangannya masih kuat mencengkeram, sedang sedikit pun...

Read moreDetails

Ritual Menanam Beras Merah

by Jaswanto
May 28, 2026
0
Ritual Menanam Beras Merah

“RASANYA legit, gurih, dan lebih bertekstur,” ujar I Wayan Agus Saputra di suatu siang yang mendung di Kantor Desa Jatiluwih,...

Read moreDetails

Hikayat Rempah dalam Prasasti dan Lontar Bali

by Jaswanto
May 15, 2026
0
Hikayat Rempah dalam Prasasti dan Lontar Bali

LIMA tahun lalu, kawan saya, Dian Suryantini—jurnalis sekaligus akademisi yang tinggal di Singaraja, Bali—bercerita tentang neneknya, Nyoman Landri, warga Banjar...

Read moreDetails

Spirit Panji Sakti, Spirit Membangun Buleleng —Catatan dari Denyut Perayaan 422 Tahun Singaraja

by Jaswanto
April 14, 2026
0
Spirit Panji Sakti, Spirit Membangun Buleleng —Catatan dari Denyut Perayaan 422 Tahun Singaraja

PERAYAAN Hari Ulang Tahun (HUT) ke-422 Kota Singaraja tahun 2026 berlangsung sepanjang Maret dengan berbagai kegiatan yang melibatkan masyarakat luas....

Read moreDetails

Kisah Hari Raya Nyepi Umat Hindu di Surabaya

by Jaswanto
March 20, 2026
0
Kisah Hari Raya Nyepi Umat Hindu di Surabaya

“SAYA belum pernah merasakan Nyepi di Bali; tapi sering diberitahu orang-orang kalau Nyepi di Bali itu kebanyakan tidak diisi dengan...

Read moreDetails

Menyigi Tejakula dan Sekitarnya [3]: Hikayat Tenun di Kawasan Tejakula dan Pewarna Alaminya

by Jaswanto
January 28, 2026
0
Menyigi Tejakula dan Sekitarnya [3]: Hikayat Tenun di Kawasan Tejakula dan Pewarna Alaminya

HINGGA saat ini, di daerah Tejakula, sebut saja seperti Sembiran, Pacung, Julah, dan Bondalem, masih banyak perajin tenun. Tentu saja...

Read moreDetails

Menyigi Tejakula dan Sekitarnya [2]: Hikayat Niaga Kapas di Bali Utara  

by Jaswanto
January 28, 2026
0
Menyigi Tejakula dan Sekitarnya [2]: Hikayat Niaga Kapas di Bali Utara  

PADA tulisan sebelumnya, saya telah uraikan bukti-bukti kuat yang menyatakan bahwa Bali Utara—khususnya wilayah Tejakula dan sekitarnya—merupakan jalur dagang pada...

Read moreDetails

Menyigi Tejakula dan Sekitarnya [1]: Hikayat Jalur Dagang Bali Utara

by Jaswanto
January 28, 2026
0
Menyigi Tejakula dan Sekitarnya [1]: Hikayat Jalur Dagang Bali Utara

DALAM sejarah, Singaraja (Buleleng) di Bali Utara tercatat sebagai jalur perdagangan yang semarak dan hidup. Apalagi saat wilayah yang didirikan...

Read moreDetails

Melihat Gambuh dari Kacamata Hitam dan Percakapan yang Menerus

by Agus Wiratama
January 9, 2026
0
Melihat Gambuh dari Kacamata Hitam dan Percakapan yang Menerus

BERJUMPA dengan pelaku Gambuh Batuan, membuat saya bertanya: “Tubuh yang membentuk tari, atau tari yang membentuk tubuh? Karya yang membentuk...

Read moreDetails
Next Post
Teringat Mendiang Bang DS. Putra

Teringat Mendiang Bang DS. Putra

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Merawat Kebersamaan Melalui Tradisi ‘Sambelan’
Kuliner

Merawat Kebersamaan Melalui Tradisi ‘Sambelan’

"BU, kulo mung mbekto kuluban godhong kates nggih? Lha ya mung niku sing wonten teng  nggriyo ." (Bu, saya hanya...

by Tri Nugroho Adi
August 9, 2026
Sastra Terjemahan sebagai Diplomasi Budaya: Mengenang Peran Vern Cork sebagai Penerjemah Sastra Indonesia dari Australia
Esai

Sastra Terjemahan sebagai Diplomasi Budaya: Mengenang Peran Vern Cork sebagai Penerjemah Sastra Indonesia dari Australia

SASTRA terjemahan telah lama menjadi salah satu media diplomasi budaya Indonesia. Namun, keberadaannya sebagai bagian dari kegiatan diplomasi budaya yang...

by I Nyoman Darma Putra
August 8, 2026
Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz
Khas

Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

“JAZZ itu musik yang meneduhkan, tapi mengajak berpikir,” ujar Gede Diarta, seorang pemuda asal Denpasar yang sehari-hari bekerja sebagai karyawan...

by Dede Putra Wiguna
August 8, 2026
Bhisma yang Tak Pernah Mati di Kurukshetra: Membaca “Satya–Tyagya–Dharma” Karya Prof. Dr. Drs. I Wayan Suardana, M.Sn.
Ulas Rupa

Bhisma yang Tak Pernah Mati di Kurukshetra: Membaca “Satya–Tyagya–Dharma” Karya Prof. Dr. Drs. I Wayan Suardana, M.Sn.

DI Bali, mitos tidak pernah benar-benar menjadi masa lalu. Ia tidak hanya tinggal dalam lembar-lembar lontar atau cerita yang dituturkan...

by Angga Wijaya
August 7, 2026
Sudahi Isme-Ismemu Itu!
Kritik Seni

Sudahi Isme-Ismemu Itu!

ADA satu pertanyaan yang masih menjadi survei teratas ketika publik bertanya tentang karya seorang seniman. Karyamu ini gayanya apa? Abstrak,...

by Made Chandra
August 7, 2026
Indonesia dalam Secangkir Kopi
Esai

Indonesia dalam Secangkir Kopi

PAGI itu saya duduk di sebuah cafe kecil di pinggiran kota. Tidak ada yang istimewa. Meja kayu yang mulai kusam,...

by Ahmad Fatoni
August 7, 2026
Fakultas Bahasa dan Seni, UPMI Bali, Lepas 67 Sarjana dan Magister—‘Jangan Jadi Sarjana Kertas!
Pendidikan

Fakultas Bahasa dan Seni, UPMI Bali, Lepas 67 Sarjana dan Magister—‘Jangan Jadi Sarjana Kertas!

“HARI ini saya tidak sedang melihat sekelompok calon wisudawan. Saya sedang melihat sekumpulan wajah yang menyimpan cerita perjalanan yang berbeda-beda.”...

by Dede Putra Wiguna
August 7, 2026
“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan
Ulas Film

“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

ADA satu hal yang langsung terasa begitu duduk menonton Tung Tung Uma, bagaimana Amrita Dharma memetakan setiap adegannya dengan begitu...

by Satria Aditya
August 7, 2026
Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  
Tualang

Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  

Sejak dahulu, Jimbaran, Kedonganan, Kelan, dan Kuta adalah daerah nelayan. Namun, yang terkenal hanya Jimbaran dan Kuta. Ketika Asosiasi Kepala...

by I Nyoman Tingkat
August 7, 2026
“Rumah”, Seni Instalasi Ni Nyoman Sani
Ulas Rupa

“Rumah”, Seni Instalasi Ni Nyoman Sani

PADA 10 April hingga 30 Juni 2026 lalu digelar pameran 12 Perupa Perempuan Indonesia. Perhelatan ini diinisiasi Indonesian Women Artists...

by Hartanto
August 7, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

“Gigolo Pendidikan”, Oemar Bakrie, dan Saat Kasih Sayang Guru Menjadi Barang Premium

BEBERAPA hari lalu saya iseng melontarkan istilah yang terdengar keterlaluan.  Gigodik, “Gigolo Pendidikan”. Bayangan saya sederhana. Jangan-jangan sekarang ada "profesi"...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 7, 2026
Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak
Khas

Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

DI ruang aula SMAN 4 Praya, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, beberapa pemuda-pemudi dari Sanggar Putri Nyale duduk di kursi...

by Jaswanto
August 7, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co