12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menyigi Tejakula dan Sekitarnya [1]: Hikayat Jalur Dagang Bali Utara

Jaswanto by Jaswanto
January 28, 2026
in Liputan Khusus
Menyigi Tejakula dan Sekitarnya [1]: Hikayat Jalur Dagang Bali Utara

Pura Ponjok Batu, pintu masuk kawasan Tejakula, Buleleng, Bali | Foto: tatkala.co/Jaswanto

DALAM sejarah, Singaraja (Buleleng) di Bali Utara tercatat sebagai jalur perdagangan yang semarak dan hidup. Apalagi saat wilayah yang didirikan oleh Raja Panji Sakti itu didapuk sebagai ibu kota Karesidenan Bali pada masa penjajahan Belanda.

Sejak awal abad 19, jalur perdagangan Bali-Lombok-Batavia sudah berkembang pesat, terutama untuk kebutuhan komoditas sandang dan pangan, selain budak, tentu saja. Pada awalnya, upaya membangun rute perdagangan di Bali sebenarnya lebih tampak di daerah bagian selatan. Namun, setelah menjelang runtuhnya Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC)—perusahaan dagang Belanda yang didirikan pada 1602—perdagangan Bali Selatan, khususnya di Kuta, Denpasar, mengalami kemunduran.

Oleh karena itu, berkat perubahan sosial, ekonomi, dan politik pada masa itu, pusat perdagangan Bali bergeser ke utara, tepatnya ke Singaraja. Ini membuat Buleleng, diakui atau tidak, menjadi daerah penting pada awal abad 20. Hal ini disebabkan oleh dua faktor penting, yakni Singaraja sebagai kota pelabuhan dan Singaraja sebagai pusat pemerintahan (ibu kota) di Bali dan Nusa Tenggara pada masa pemerintah Hindia Belanda. Namun, perlu diketahui, jalur dagang di Bali Utara sebenarnya sudah dimulai jauh sebelum peristiwa itu terjadi.

Banyak peneliti mengakui, bahwa sejak zaman dulu, karena Bali Utara secara geografis letaknya sangat strategis, maka kontak-kontak dagang—hubungan antara Bali dengan Jawa dan wilayah lain di dalam maupun di luar Nusantara—lebih sering terjadi di wilayah Bali Utara dan sekitarnya daripada di Bali Selatan. Di samping itu, kondisi Laut Utara yang relatif kondusif sangat memudahkan perjalanan perahu-perahu dagang yang masih menggunakan sistem teknologi navigasi sederhana. (Bacalah kisah Raja Panji Sakti yang menyelamatkan perahu dagang Tiongkok di Pantai Penimbangan.)

Hal ini diperkuat dengan adanya hikayat pelabuhan-pelabuhan alam di wilayah Pesisir Utara, seperti Sangsit, Buleleng, Temukus, Gilimanuk, Pangkung Paruk, Tanjung Ser, Pacung, dan Sembiran—yang merupakan pintu masuk dan jalur perdagangan kuno di Bali Utara yang menghubungkan Bali dengan daerah lain di Nusantara.

Pada kisaran 1989, terbit sebuah penelitian berjudul “Ekskavasi Arkeologi di Situs Sembiran dan Pacung, Kecamatan Tejakula, Buleleng” yang ditulis oleh I Wayan Ardika dan diterbitkan Universitas Udayana. Dalam penelitian tersebut Ardika meyakini bahwa Sembiran, Pacung, Julah, dan sekitarnya sudah menjadi pemukiman sekaligus penguburan—dan terdapat beberapa bukti aktivitas kontak budaya melalui perdagangan—jauh sebelum Belanda menjadikan Buleleng sebagai pusat perekonomian.

Keyakinan Ardika didasarkan pada temuan artefak berupa gerabah India yang berhiaskan rolet—diyakini berasal dari awal abad Masehi—dan manik-manik di sekitaran pantai Sembiran dan Pacung. Tak hanya Ardika, belakangan Bagyo Prasetyo dan Ambra Calo juga menulis artikel di situs Pusat Penelitian Arkeologi Nasional dan memperlihatkan bahwa Pantai Utara Bali, khususnya di wilayah sekitar Sembiran dan Pacung, pernah menjadi bagian dari jaringan awal perdagangan Trans-Asiatic kuno.

Priuk-priuk bulat seperti yang ditemukan di kawasan pesisir Sembiran-Pacung memiliki kemiripan dengan temuan di situs Gilimanuk di Bali Barat. Para ahli memperkirakan benada-benda kuno itu berasal dari masa perundagian atau pra-Hindu. Priuk-priuk bulat seperti itu pada umumnya difungsikan sebagai bekal kubur yang ditempatkan dekat dengan jasad manusia. Temuan-temuan itu menguatkan apa yang tercantum dalam Prasasti Kintamani C yang menyebutkan antara lain pertemuan para saudagar di Manasa dengan menggunakan transfortasi air “jukung atau perahu”.

Lalu, Tim Gabungan yang terdiri dari peneliti Pusat Arkeologi Nasional, Australian National University, Balai Arkeologi Denpasar Universitas Udayana, dll., selama kurun waktu 2012-2013 juga menemukan banyak bukti adanya aktivitas bandar kuno di Sembiran dan Pacung berupa keramik dan perhiasan yang terkubur ratusan tahun lalu. Sebagai bukti terkuat, 20 lempengan perunggu yang mempunyai inskripsi atau catatan tertulis yang diperkirakan para ahli berasal dari kurun 922-1181 Masehi, ditemukan di Desa Julah.

Selain temuan-teman itu, bukti lain yang menguatkan bahwa daerah Tejakula dan sekitarnya merupakan kawasan jalur dagang Bali Kuna, yakni di Bali Utara juga ditemukan adanya kultus-keyakinan terhadap Putri Ayu Mas Subandar. Menurut Prof. Pageh (2017), guru besar Universitas Pendidikan Ganesha, hal ini terkait dengan penguasaan perdagangan di pantai utara Bali pada zaman Kerajaan Bali Aga—zaman pemerintahan Jayapangus dan istrinya Kang Cheng Wie yang berasal dari Tiongkok—meski ada pendapat yang mengatakan ini hanya sekadar mitos.

Dalam catatan sejarah, hampir semua pelabuhan kuno di Bali dilengkapi dengan Pura Syahbandar, sebagai bentuk pemujaan Ratu Ayu Mas Subandar—yang diyakini sebagai penguasa perdagangan. Ini menjadi bukti bahwa semarak perdagangan di Bali Utara dan sekitarnya sudah ada jauh sebelum Belanda menjadikan Singaraja sebagai kota pabean—bahkan mungkin sudah berlangsung sejak zaman pra-aksara.

Prasasti Menjadi Bukti

Selain temuan benda-benda seperti yang disebut di atas, situs-situs prasasti yang berserak dan ditemukan di daerah Bali Utara, khususnya di kawasan Sawan sampai Tejakula, juga merupakan bukti yang kuat bahwa ada jejak jalur dagang kuno di Bali Utara. Situs-situs ini merupakan pintu masuk peradaban Bali pada abad ke-I hingga XII Masehi. Dalam beberapa situs diketahui bahwa Sembiran, Julah, dan sekitarnya, misalnya, merupakan salah satu pelabuhan kuno di Bali yang penting dan menjadi bukti kuat (primer) bahwa kawasan tersebut merupakan jalur dagang antarnegeri pada masa yang jauh.

Prasasti Sembiran A IV (1065 M) lembar IX b, misalnya, menyebutkan “…jika ada saudagar dari seberang laut datang dengan perahu kecil dan perahu besar yang berlabuh di Manasa, biaya bersandar maksimal 1 masaka, dan harga itu lebih mahal (dilebihkan) bagi orang terkemuka… Tidak dikenai sumbangan pengawasan (pacasaku) dan tidak ada pemaksaan jika mereka menunjukkan surat perintah membayar biaya berlabuh yang ditulis oleh paduka raja.”

Pada bagian lain, Prasasti Sembiran menyebutkan eksistensi Pelabuhan Julah—“Tidak mendapat halangan untuk menurunkan hewan seperti kerbau, sapi, kambing, babi di pesisir pantai Desa Julah [tumurun irikanang pasisi I Julah].” Secara eksplisit, prasasti tersebut menyampaikan bahwa pada masa itu di Julah dan Manasa (mungkin terletak di antara Bungkulan-Sangsit) terdapat pelabuhan besar yang ramai.

Penyataan di atas diperkuat dengan keterangan dalam Prasasti Sembiran B (873 Saka atau 951 Masehi) yang menyatakan bahwa di Julah sudah ada perkampungan saudagar (banigrama). Artinya, Julah juga memiliki pasar yang representatif yang menjadi ruang niaga bagi para pelaku ekonomi dari berbagai negeri. Itu terbukti dengan adanya jabatan ser pasar (kepala pasar) di Desa Julah yang dijabat oleh Kumpi Bahugya. Dalam prasasti ini pula disebutkan istilah banigrama yang merujuk pada pedagang atau saudagar timah.

Jika kita telusuri lebih dalam, pada kisaran abad X Masehi, tampaknya perkampungan saudagar tidak hanya ada di Desa Julah saja. Tapi juga di beberapa tempat yang menjadi, katakanlah, wilayah pabean di Bali Utara, seperti misalnya di Manasa dan sekitarnya. Asumsi ini diperkuat dengan adanya ungkapan juru kling (keling) yang terekam dalam Prasasti Bulian A (1103 Saka atau 1181 Masehi) yang diterbitkan atas nama Raja Jayapangus dengan permaisurinya. Juru keling (atau kling) diartikan para ahli sebagai petugas pemerintah lokal yang khusus mendata atau mencatat penduduk asing yang berkewarganegaraan India. Pandataan tersebut barangkali ada kaitannya dengan pembayaran pajak atau semacamnya yang diperuntukan kepada warga negara asing.

Selain itu, beberapa prasasti menunjukkan bahwa sudah terdapat struktur dalam perdagangan di pelabuhan sejak dulu, seperti tertuang dalam Prasasti Bebetin A1 (896 M) yang menyebutkan “…jika ada para saudagar (seberang pulau) yang baru datang di sana (Pelabuhan Julah) agar yang bersangkutan didaftar dan dikenakan kewajiban (pajak) untuk bangunan suci Hyang Api.” Selanjutnya, “…jika ada saudagar (seberang pulau) yang meninggal di sana, agar harta warisannya dibagi dua.” Ini salah satu bentuk peraturan yang tegas tanpa tedeng aling-aling dan sebagai bukti kuatnya penguasaan atas wilayah tersebut.

Perdagangan antarpulau juga terekam dalam Prasasti Ujung (962 Saka /1040 Masehi) yang menyatakan “…apabila ada penduduk yang hendak berlayar ke Jawa [mare Jawa], ke Gurun [mare Gurun], atau daerah jauh di seberang dengan memakai perahu dan semacamnya, penduduk Desa Jung Hyang tidak dikenai pungutan.”

Sampai di sini, Tejakula (dalam hal ini sebut saja misalnya Desa Julah, Sembiran, Pacung, dan sekitarnya) mempunyai peranan penting dalam perdagangan pada masa Bali Kuna yang dapat dibuktikan dengan adanya Prasasti Sembiran atau Prasasti Kintamani D yang berangka tahun 1200 Masehi—yang menyebutkan bahwa hanya penduduk Kintamani yang boleh berjualan kapas di Desa Julah, Buhundalem, Peminggir, dan Les—atau prasasti-prasasti lainnya.

Jadi, mengacu pada isi prasasti-prasasti di atas, tak dapat dimungkiri bahwa, sekali lagi, Bali Utara menjadi wilayah yang memegang peranan penting dalam sejarah perdagangan intersuler (antarpulau) maupun antara kerajaan Bali Kuna dengan kerajaan-kerajaan lain di dalam dan di luar wilayah Nusantara.[T]

Daftar Bacaan

Ardika, I Wayan. (1989). Ekskavasi Arkeologi di Situs Sembiran dan Pacung, Kecamatan Tejakula, Buleleng. Denpasar: Universitas Udayana.

Arta, Ketut Sedana. (2019). Perdagangan Di Bali Utara Zaman Kerajaan Bali Kuno Perspektif Geografi Kesejarahan. Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial, Vol. 5, No. 2.

Martini, Ni Kadek, Dewa Made Alit. Peranan Pelabuhan Buleleng Sebagai Pusat Pelayaran Dan Jalur Perdagangan Pada Masa Pemerintahan Hindia BelandaTahun 1846-1939. Denpasar: Pendidikan Sejarah FKIP Universitas Mahadewa Indonesia.

Pageh, I. M. (2017). Model Revitalisasi Ideologi Desa Pakraman Bali Aga Berbasis Kearifan Lokal. Jakarta: Rajawali Pers.

Sumerata, Wayan, Gendro Keling, Ati Rati Hidayah. (2017). Potensi Sumberdaya Arkeologi Maritim di Pesisir Pantai Tejakula, Buleleng, Bali. SBA VOL.20 NO.1/2017 Hal 66-78.

Sumarta, I Ketut. (2015). Batur: Jantung Peradaban Air Bali. Kuta: Wisnu Press.

Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

  • BACA ARTIKEL BERIKUTNYA:
Menyigi Tejakula dan Sekitarnya [2]: Hikayat Niaga Kapas di Bali Utara  
Menyigi Tejakula dan Sekitarnya [3]: Hikayat Tenun di Kawasan Tejakula dan Pewarna Alaminya
Tags: bulelengsejarahTejakula
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dari Piring Makan ke Masa Depan Indonesia: Gizi Optimal sebagai Fondasi Generasi Emas 2045

Next Post

Menyigi Tejakula dan Sekitarnya [2]: Hikayat Niaga Kapas di Bali Utara  

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Membangun Buleleng, Membangun Ingatan Sejarah dan Membangun Masa Depan Kota dari Kawasan Titik Nol Singaraja

by Jaswanto
June 29, 2026
0
Membangun Buleleng, Membangun Ingatan Sejarah dan Membangun Masa Depan Kota dari Kawasan Titik Nol Singaraja

"YANG kami bangun bukan sekadar ruang publik yang indah, tetapi juga ruang yang mampu mengingatkan masyarakat akan perjalanan panjang Kota...

Read moreDetails

Betapa Kompaknya Seniman Buleleng Membangun Karakter Buleleng Lewat Berbagai Karya Seni dan Kebudayaan

by Jaswanto
June 28, 2026
0
Betapa Kompaknya Seniman Buleleng Membangun Karakter Buleleng Lewat Berbagai Karya Seni dan Kebudayaan

TEPAT hari Sabtu, 13 Juni 2026, saat Renon sedang menyengat, ribuan orang memadati kawasan Monumen Perjuangan Rakyat Bali di Denpasar....

Read moreDetails

Hikayat Tuak

by Jaswanto
May 30, 2026
0
Hikayat Tuak

KAKEK tua itu memanjat pohon lontar—yang tinggi—sesantai menaiki anak tangga. Meski sudah berumur, tangannya masih kuat mencengkeram, sedang sedikit pun...

Read moreDetails

Ritual Menanam Beras Merah

by Jaswanto
May 28, 2026
0
Ritual Menanam Beras Merah

“RASANYA legit, gurih, dan lebih bertekstur,” ujar I Wayan Agus Saputra di suatu siang yang mendung di Kantor Desa Jatiluwih,...

Read moreDetails

Hikayat Rempah dalam Prasasti dan Lontar Bali

by Jaswanto
May 15, 2026
0
Hikayat Rempah dalam Prasasti dan Lontar Bali

LIMA tahun lalu, kawan saya, Dian Suryantini—jurnalis sekaligus akademisi yang tinggal di Singaraja, Bali—bercerita tentang neneknya, Nyoman Landri, warga Banjar...

Read moreDetails

Spirit Panji Sakti, Spirit Membangun Buleleng —Catatan dari Denyut Perayaan 422 Tahun Singaraja

by Jaswanto
April 14, 2026
0
Spirit Panji Sakti, Spirit Membangun Buleleng —Catatan dari Denyut Perayaan 422 Tahun Singaraja

PERAYAAN Hari Ulang Tahun (HUT) ke-422 Kota Singaraja tahun 2026 berlangsung sepanjang Maret dengan berbagai kegiatan yang melibatkan masyarakat luas....

Read moreDetails

Kisah Hari Raya Nyepi Umat Hindu di Surabaya

by Jaswanto
March 20, 2026
0
Kisah Hari Raya Nyepi Umat Hindu di Surabaya

“SAYA belum pernah merasakan Nyepi di Bali; tapi sering diberitahu orang-orang kalau Nyepi di Bali itu kebanyakan tidak diisi dengan...

Read moreDetails

Menyigi Tejakula dan Sekitarnya [3]: Hikayat Tenun di Kawasan Tejakula dan Pewarna Alaminya

by Jaswanto
January 28, 2026
0
Menyigi Tejakula dan Sekitarnya [3]: Hikayat Tenun di Kawasan Tejakula dan Pewarna Alaminya

HINGGA saat ini, di daerah Tejakula, sebut saja seperti Sembiran, Pacung, Julah, dan Bondalem, masih banyak perajin tenun. Tentu saja...

Read moreDetails

Menyigi Tejakula dan Sekitarnya [2]: Hikayat Niaga Kapas di Bali Utara  

by Jaswanto
January 28, 2026
0
Menyigi Tejakula dan Sekitarnya [2]: Hikayat Niaga Kapas di Bali Utara  

PADA tulisan sebelumnya, saya telah uraikan bukti-bukti kuat yang menyatakan bahwa Bali Utara—khususnya wilayah Tejakula dan sekitarnya—merupakan jalur dagang pada...

Read moreDetails

Melihat Gambuh dari Kacamata Hitam dan Percakapan yang Menerus

by Agus Wiratama
January 9, 2026
0
Melihat Gambuh dari Kacamata Hitam dan Percakapan yang Menerus

BERJUMPA dengan pelaku Gambuh Batuan, membuat saya bertanya: “Tubuh yang membentuk tari, atau tari yang membentuk tubuh? Karya yang membentuk...

Read moreDetails
Next Post
Menyigi Tejakula dan Sekitarnya [2]: Hikayat Niaga Kapas di Bali Utara  

Menyigi Tejakula dan Sekitarnya [2]: Hikayat Niaga Kapas di Bali Utara  

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co