DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus penjaga nilai-nilai kehidupan. Melalui bahasa gerak, bunyi, dan ekspresi artistik, seni menjadi medium untuk merawat harmoni antara manusia, alam, dan kekuatan spiritual yang selama ini menjadi fondasi kehidupan masyarakat Bali.
Semangat itulah yang mewarnai Diseminasi Karya Tugas Akhir (TA) Proyek Inovatif Seni Pertunjukan mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Drama, Tari, dan Musik (Sendratasik), Fakultas Bahasa dan Seni Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali. Kegiatan yang berlangsung pada Sabtu, 30 Mei 2026 di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, menghadirkan lima karya inovatif mahasiswa angkatan 2022 yang merepresentasikan capaian pembelajaran mereka di bidang seni pertunjukan.
Tak sekadar menjadi bagian dari ujian akademik, diseminasi ini menjadi panggung pembuktian kemampuan mahasiswa dalam mengolah gagasan, mewujudkan kreativitas artistik, mengelola produksi, hingga membangun kolaborasi untuk menghadirkan sebuah pertunjukan yang utuh.

Lima Karya, Lima Tafsir Harmoni
Ketua Program Studi Pendidikan Sendratasik FBS UPMI Bali, I Gede Gusman Adigunawan, S.Sn., M.Sn., menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan implementasi tugas akhir non-skripsi yang memberi ruang bagi mahasiswa untuk menghasilkan karya inovatif yang dapat dipertanggungjawabkan, baik secara akademik maupun artistik.
Menurut Gusman yang akrab disapa Wawan, melalui proses tersebut mahasiswa tidak hanya diuji dari sisi teori, tetapi juga melalui praktik penciptaan seni yang melibatkan berbagai unsur pendukung.
“Lima karya yang dipentaskan dalam diseminasi tersebut terdiri atas karya tabuh kreasi, baleganjur kreasi, dan tari kreasi yang berangkat dari kekayaan tradisi lokal Bali,” ujarnya.


Karya pertama yang tampil adalah “Ruwating Bumi”, sebuah tabuh kreasi ciptaan I Made Upadana. Terinspirasi dari tradisi sakral Perang Gandu di Desa Adat Tumbak Bayuh, karya ini mengeksplorasi konsep Rwa Bhineda, pertarungan antara dua kekuatan yang berbeda. Melalui olahan musikal yang kaya, karya tersebut menggambarkan proses penyucian sekaligus upaya menciptakan keseimbangan antara manusia dan alam semesta.
Selanjutnya, “Nalaskara”, tari kreasi kekebyaran karya I Kadek Oka Prawira Wibawa, mengangkat inspirasi dari ritual Siat Geni. Dalam karya ini, api dimaknai sebagai simbol energi kehidupan. Gerak-gerak dinamis yang ditampilkan merepresentasikan perjuangan manusia dalam mengendalikan diri demi mencapai keseimbangan dan harmoni hidup.
Nuansa kebersamaan kemudian hadir melalui karya tabuh kreasi inovatif “Samagama” garapan I Gusti Lanang Agung Aditya Darma Putra. Berangkat dari tradisi Memasar dalam upacara Ngusaba Desa di Desa Adat Menanga, Karangasem, karya ini menerjemahkan nilai gotong royong dan kebersamaan ke dalam bahasa musikal. Pengolahan ritme, dinamika, dan struktur bunyi gamelan Bali menghadirkan gambaran suasana pertemuan sosial dan spiritual masyarakat.


Sementara itu, Putu Ayu Kartika Dewi menghadirkan karya tari kreasi “Madedari” yang terinspirasi dari tradisi sakral Dedari di Desa Duda Utara. Karya ini menelusuri perjalanan batin manusia dalam ruang spiritual yang mempertemukan kesadaran manusia dengan kekuatan suci yang hidup dalam tradisi. Melalui gerak yang lembut dan ekspresif, “Madedari” merefleksikan nilai kesucian, keseimbangan, dan spiritualitas masyarakat Bali.
Sebagai penutup, baleganjur kreasi “Temurun Warsa” karya I Putu Rizky Anggara Putra menggema dengan semangat dan harapan masyarakat. Terinspirasi dari Upacara Mendak Hujan di Desa Adat Pecatu, karya ini menggambarkan kegelisahan, harapan, serta keyakinan masyarakat terhadap turunnya hujan sebagai sumber kehidupan. Dentuman ritmis baleganjur yang dinamis menjadi suara hubungan spiritual antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.
Lebih dari sekadar pementasan, diseminasi ini juga menjadi ruang pembelajaran yang menghadirkan pengalaman nyata bagi mahasiswa. Menariknya, seluruh penyelenggaraan kegiatan merupakan hasil kolaborasi antara mahasiswa Semester VIII yang menempuh mata kuliah Tugas Akhir dan mahasiswa Semester VI pada mata kuliah Manajemen Produksi Seni Pertunjukan.
“Seluruh proses, mulai dari perencanaan, produksi, hingga publikasi pertunjukan, dikelola secara kolaboratif sehingga menjadi laboratorium nyata bagi mahasiswa dalam mengelola sebuah produksi seni pertunjukan profesional,” tandas pemilik Sanggar Gumi Art tersebut.

Rektor UPMI Bali yang diwakili Wakil Rektor II, Dr. Drs. I Wayan Sudiarsa, M.Si., memberikan apresiasi terhadap pelaksanaan diseminasi karya tugas akhir proyek inovatif seni pertunjukan tersebut.
Menurut Sudiarsa, kegiatan ini menunjukkan bahwa Prodi Pendidikan Sendratasik telah menerapkan kurikulum Outcome Based Education (OBE) yang menekankan pada luaran atau produk nyata. Karya-karya inovatif yang ditampilkan menjadi bentuk kontribusi lulusan Sendratasik kepada masyarakat.
Senada dengan itu, Dekan Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) UPMI Bali, Dr. I Made Sujaya, S.S., M.Hum., menjelaskan bahwa sejak tahun 2025 FBS memberikan ruang bagi mahasiswa untuk memilih tugas akhir non-skripsi sesuai amanat Permendiktisaintek Nomor 39 Tahun 2025 tentang Penjaminan Mutu Pendidikan Tinggi.
Menurutnya, kebijakan tersebut merupakan terobosan yang menghadirkan sistem pendidikan tinggi yang lebih fleksibel, relevan, dan berorientasi masa depan. Selain itu, pendekatan tersebut juga memperkaya cara perguruan tinggi dalam menilai kecakapan dan kontribusi lulusan.
Khusus di Prodi Pendidikan Sendratasik, tugas akhir dapat diwujudkan dalam bentuk proyek inovatif seni pertunjukan. Meski demikian, setiap proyek tetap dilengkapi laporan tugas akhir sebagai bentuk pertanggungjawaban proses kreatif sekaligus penjelasan mengenai relevansi karya dengan pembelajaran seni budaya maupun pendidikan seni budaya secara umum.

Diseminasi ini turut mendapat dukungan dari berbagai pihak, mulai dari tokoh masyarakat Desa Adat Batuan, civitas academika UPMI Bali, komunitas seni, sanggar, hingga masyarakat pecinta seni pertunjukan yang memadati lokasi pementasan.
Kehadiran berbagai unsur tersebut memperlihatkan bahwa seni pertunjukan tidak hanya menjadi ruang ekspresi akademik, tetapi juga wahana mempererat hubungan antara perguruan tinggi dan masyarakat.
Melalui diseminasi ini, Program Studi Pendidikan Sendratasik UPMI Bali kembali menegaskan komitmennya untuk melahirkan lulusan yang tidak hanya memiliki kompetensi pedagogis dan akademik, tetapi juga mampu menciptakan karya seni yang inovatif, berakar kuat pada kearifan lokal, serta tetap relevan dengan perkembangan masyarakat dan budaya masa kini. [T]
Reprter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole
- SELANJUTNYA BACA:






























