12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pertemuan William James dan Vivekananda

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
June 3, 2026
in Esai
Pertemuan William James dan Vivekananda

William James dan Vivekananda | Sumber foto: Wikipedia

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat

SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata, India. Ia tumbuh dalam lingkungan keluarga terpelajar, terpapar filsafat Barat, logika, dan tradisi intelektual modern. Sejak muda ia sudah menunjukkan kecenderungan kritis: ia tidak mudah menerima dogma agama tanpa pembuktian pengalaman langsung. Pendidikan formalnya di Presidency College dan University of Calcutta mempertemukannya dengan pemikiran rasional Barat, tetapi sekaligus menimbulkan kegelisahan eksistensial: apa makna Tuhan yang benar-benar bisa dialami, bukan sekadar dipercaya?

Pencarian itu berujung pada pertemuannya dengan Ramakrishna Paramahamsa. Dari sosok sederhana di Dakshineswar inilah Narendra menemukan sesuatu yang tidak ia temukan di filsafat Barat: pengalaman spiritual langsung ). Setelah itu ia dikenal sebagai Swami Vivekananda, dan menjadi jembatan besar antara Vedanta India dan dunia modern.

Di sisi lain dunia, William James lahir di New York pada 1842 dalam keluarga intelektual. Ia adalah salah satu pendiri psikologi modern dan tokoh utama pragmatisme. Karya terkenalnya The Principles of Psychology (1890) menjadikannya figur sentral dalam memahami pikiran manusia secara ilmiah. Namun James juga mengalami krisis spiritual dan kesehatan, yang membuatnya tertarik pada pengalaman kesadaran non-ordinary—termasuk pengalaman mistik, hipnosis, dan fenomena religius.

Dua tokoh ini datang dari arah berbeda: Vivekananda dari spiritualitas Timur, James dari rasionalisme ilmiah Barat. Namun keduanya bertemu di titik yang sama: kesadaran manusia.

Pertemuan di Amerika: Ketika Dua Dunia Saling Menatap

Pertemuan intelektual antara Vivekananda dan William James terjadi sekitar tahun 1896, ketika Vivekananda berada di Amerika Serikat setelah sukses besar di Parliament of the World’s Religions 1893.

Pada masa itu, Vivekananda mulai memberikan kuliah di Harvard dan Boston tentang Vedanta dan yoga. William James, yang saat itu mengajar di Harvard University, tertarik menghadiri beberapa ceramah tersebut.

Pertemuan mereka tidak selalu dicatat sebagai dialog formal panjang, tetapi lebih sebagai interaksi intelektual dan diskusi singkat yang meninggalkan kesan mendalam. James melihat Vivekananda bukan sekadar “guru agama Timur”, tetapi sebagai seorang pengamat fenomenologi kesadaran yang serius.

Bagi James, ini penting: Vivekananda tidak berbicara tentang Tuhan sebagai konsep metafisik abstrak, tetapi sebagai pengalaman langsung kesadaran tertinggi. Hal ini sejalan dengan minat James terhadap pengalaman religius sebagai data psikologis yang sah.

Dari pertemuan ini, terbentuk sebuah jembatan pemikiran: spiritualitas tidak lagi berada di luar sains, tetapi menjadi bagian dari studi kesadaran manusia.

Dialog Tak Tertulis: Pengalaman sebagai Sumber Kebenaran

Inti pertemuan intelektual mereka bukan pada debat, tetapi pada kesamaan paradigma baru: bahwa pengalaman manusia adalah sumber pengetahuan yang sah.

Vivekananda membawa gagasan Vedanta bahwa realitas tertinggi tidak bisa hanya dipahami lewat logika. Ia harus dialami secara langsung melalui meditasi, dan semua agama pada dasarnya mengarah pada pengalaman kesatuan (oneness)

Sementara William James mulai merumuskan bahwa pengalaman mistik adalah fenomena psikologis nyata. Kesadaran manusia memiliki lapisan yang belum dipahami sains dan nilai suatu pengalaman diukur dari dampaknya pada kehidupan (pragmatisme)

Dalam karya James kemudian, terutama The Varieties of Religious Experience (1902), jejak pemikiran ini terlihat jelas. Ia menulis tentang pengalaman spiritual sebagai sesuatu yang “nyata bagi subjek yang mengalaminya”, tanpa harus direduksi menjadi ilusi.

Di titik ini, Vivekananda dan James secara tidak langsung membangun fondasi awal bagi apa yang sekarang disebut psikologi transpersonal—bidang yang mengkaji kesadaran di luar ego biasa.

Dampak Intelektual: Dari Psikologi ke Kesadaran Global

Pertemuan ide ini tidak berhenti pada dua individu. Ia menyebar menjadi arus besar dalam perkembangan intelektual modern.

Dari sisi Barat, William James membuka jalan bagi psikologi pengalaman religius, kemudian mempengaruhi psikologi humanistik (Maslow, Rogers), dan berkembang menjadi psikologi transpersonal (Grof, Wilber).

Dari sisi Timur, Vivekananda memperkenalkan Vedanta sebagai filsafat universal. Ia menekankan “strength is life” sebagai etika spiritual modern dan menghubungkan yoga dengan kehidupan praktis, bukan sekadar ritual.

Yang menarik, keduanya bertemu pada satu titik: manusia sebagai pusat eksplorasi kesadaran.

Di sini, batas antara sains dan spiritualitas mulai kabur. Kesadaran tidak lagi dianggap sekadar fungsi otak, tetapi sebagai medan pengalaman yang luas dan bertingkat.

Resonansi dalam Pemikiran Soekarno: Spiritualitas dan Kebangkitan Bangsa

Gagasan Vivekananda kemudian menyebar ke banyak pemikir dunia, termasuk Soekarno. Dalam berbagai pidato dan refleksi kebangsaannya, Soekarno menunjukkan kekaguman terhadap tokoh-tokoh kebangkitan spiritual Timur seperti Vivekananda.

Bagi Soekarno, Vivekananda bukan hanya tokoh agama, tetapi simbol kebangkitan harga diri bangsa Timur, penolakan terhadap inferioritas kolonial dan integrasi antara kekuatan spiritual dan politik.

Soekarno melihat bahwa kemerdekaan tidak hanya bersifat politik, tetapi juga kemerdekaan jiwa (mental independence). Dalam kerangka ini, gagasan Vivekananda tentang “kekuatan adalah kehidupan, kelemahan adalah kematian” sangat resonan dengan semangat revolusi Indonesia.

Lebih jauh, Soekarno mengaitkan kebangkitan spiritual dengan kebangkitan nasional: bangsa yang merdeka harus memiliki kesadaran diri yang kuat, bukan hanya struktur negara yang berdiri sendiri.

Dalam konteks ini, pertemuan intelektual antara Vivekananda dan William James menjadi penting secara tidak langsung: ia menunjukkan bahwa kesadaran manusia adalah medan universal yang melampaui batas bangsa, agama, dan ideologi.

Jembatan Kesadaran yang Masih Terbuka

Pertemuan antara Vivekananda dan William James bukan hanya peristiwa sejarah intelektual, tetapi simbol dari dialog besar antara Timur dan Barat. Dari satu sisi, spiritualitas yang berakar pada pengalaman langsung; dari sisi lain, sains yang mulai membuka diri terhadap misteri kesadaran.

Apa yang mereka mulai pada akhir abad ke-19 kini terus berkembang dalam psikologi modern, studi kesadaran, dan dialog antaragama.

Dan jika kita membaca ulang jejak ini melalui perspektif Soekarno, kita melihat satu benang merah: kebangkitan manusia selalu dimulai dari kebangkitan kesadaran.

Di titik itu, Vivekananda dan William James bukan hanya tokoh sejarah—mereka adalah dua suara yang masih berdialog dalam cara kita memahami diri sampai hari ini.[T]

Tags: filsafatSwami WiwekanandaWilliam James
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

Next Post

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails
Next Post
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni ---Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co