23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pertemuan William James dan Vivekananda

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
June 3, 2026
in Esai
Pertemuan William James dan Vivekananda

William James dan Vivekananda | Sumber foto: Wikipedia

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat

SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata, India. Ia tumbuh dalam lingkungan keluarga terpelajar, terpapar filsafat Barat, logika, dan tradisi intelektual modern. Sejak muda ia sudah menunjukkan kecenderungan kritis: ia tidak mudah menerima dogma agama tanpa pembuktian pengalaman langsung. Pendidikan formalnya di Presidency College dan University of Calcutta mempertemukannya dengan pemikiran rasional Barat, tetapi sekaligus menimbulkan kegelisahan eksistensial: apa makna Tuhan yang benar-benar bisa dialami, bukan sekadar dipercaya?

Pencarian itu berujung pada pertemuannya dengan Ramakrishna Paramahamsa. Dari sosok sederhana di Dakshineswar inilah Narendra menemukan sesuatu yang tidak ia temukan di filsafat Barat: pengalaman spiritual langsung ). Setelah itu ia dikenal sebagai Swami Vivekananda, dan menjadi jembatan besar antara Vedanta India dan dunia modern.

Di sisi lain dunia, William James lahir di New York pada 1842 dalam keluarga intelektual. Ia adalah salah satu pendiri psikologi modern dan tokoh utama pragmatisme. Karya terkenalnya The Principles of Psychology (1890) menjadikannya figur sentral dalam memahami pikiran manusia secara ilmiah. Namun James juga mengalami krisis spiritual dan kesehatan, yang membuatnya tertarik pada pengalaman kesadaran non-ordinary—termasuk pengalaman mistik, hipnosis, dan fenomena religius.

Dua tokoh ini datang dari arah berbeda: Vivekananda dari spiritualitas Timur, James dari rasionalisme ilmiah Barat. Namun keduanya bertemu di titik yang sama: kesadaran manusia.

Pertemuan di Amerika: Ketika Dua Dunia Saling Menatap

Pertemuan intelektual antara Vivekananda dan William James terjadi sekitar tahun 1896, ketika Vivekananda berada di Amerika Serikat setelah sukses besar di Parliament of the World’s Religions 1893.

Pada masa itu, Vivekananda mulai memberikan kuliah di Harvard dan Boston tentang Vedanta dan yoga. William James, yang saat itu mengajar di Harvard University, tertarik menghadiri beberapa ceramah tersebut.

Pertemuan mereka tidak selalu dicatat sebagai dialog formal panjang, tetapi lebih sebagai interaksi intelektual dan diskusi singkat yang meninggalkan kesan mendalam. James melihat Vivekananda bukan sekadar “guru agama Timur”, tetapi sebagai seorang pengamat fenomenologi kesadaran yang serius.

Bagi James, ini penting: Vivekananda tidak berbicara tentang Tuhan sebagai konsep metafisik abstrak, tetapi sebagai pengalaman langsung kesadaran tertinggi. Hal ini sejalan dengan minat James terhadap pengalaman religius sebagai data psikologis yang sah.

Dari pertemuan ini, terbentuk sebuah jembatan pemikiran: spiritualitas tidak lagi berada di luar sains, tetapi menjadi bagian dari studi kesadaran manusia.

Dialog Tak Tertulis: Pengalaman sebagai Sumber Kebenaran

Inti pertemuan intelektual mereka bukan pada debat, tetapi pada kesamaan paradigma baru: bahwa pengalaman manusia adalah sumber pengetahuan yang sah.

Vivekananda membawa gagasan Vedanta bahwa realitas tertinggi tidak bisa hanya dipahami lewat logika. Ia harus dialami secara langsung melalui meditasi, dan semua agama pada dasarnya mengarah pada pengalaman kesatuan (oneness)

Sementara William James mulai merumuskan bahwa pengalaman mistik adalah fenomena psikologis nyata. Kesadaran manusia memiliki lapisan yang belum dipahami sains dan nilai suatu pengalaman diukur dari dampaknya pada kehidupan (pragmatisme)

Dalam karya James kemudian, terutama The Varieties of Religious Experience (1902), jejak pemikiran ini terlihat jelas. Ia menulis tentang pengalaman spiritual sebagai sesuatu yang “nyata bagi subjek yang mengalaminya”, tanpa harus direduksi menjadi ilusi.

Di titik ini, Vivekananda dan James secara tidak langsung membangun fondasi awal bagi apa yang sekarang disebut psikologi transpersonal—bidang yang mengkaji kesadaran di luar ego biasa.

Dampak Intelektual: Dari Psikologi ke Kesadaran Global

Pertemuan ide ini tidak berhenti pada dua individu. Ia menyebar menjadi arus besar dalam perkembangan intelektual modern.

Dari sisi Barat, William James membuka jalan bagi psikologi pengalaman religius, kemudian mempengaruhi psikologi humanistik (Maslow, Rogers), dan berkembang menjadi psikologi transpersonal (Grof, Wilber).

Dari sisi Timur, Vivekananda memperkenalkan Vedanta sebagai filsafat universal. Ia menekankan “strength is life” sebagai etika spiritual modern dan menghubungkan yoga dengan kehidupan praktis, bukan sekadar ritual.

Yang menarik, keduanya bertemu pada satu titik: manusia sebagai pusat eksplorasi kesadaran.

Di sini, batas antara sains dan spiritualitas mulai kabur. Kesadaran tidak lagi dianggap sekadar fungsi otak, tetapi sebagai medan pengalaman yang luas dan bertingkat.

Resonansi dalam Pemikiran Soekarno: Spiritualitas dan Kebangkitan Bangsa

Gagasan Vivekananda kemudian menyebar ke banyak pemikir dunia, termasuk Soekarno. Dalam berbagai pidato dan refleksi kebangsaannya, Soekarno menunjukkan kekaguman terhadap tokoh-tokoh kebangkitan spiritual Timur seperti Vivekananda.

Bagi Soekarno, Vivekananda bukan hanya tokoh agama, tetapi simbol kebangkitan harga diri bangsa Timur, penolakan terhadap inferioritas kolonial dan integrasi antara kekuatan spiritual dan politik.

Soekarno melihat bahwa kemerdekaan tidak hanya bersifat politik, tetapi juga kemerdekaan jiwa (mental independence). Dalam kerangka ini, gagasan Vivekananda tentang “kekuatan adalah kehidupan, kelemahan adalah kematian” sangat resonan dengan semangat revolusi Indonesia.

Lebih jauh, Soekarno mengaitkan kebangkitan spiritual dengan kebangkitan nasional: bangsa yang merdeka harus memiliki kesadaran diri yang kuat, bukan hanya struktur negara yang berdiri sendiri.

Dalam konteks ini, pertemuan intelektual antara Vivekananda dan William James menjadi penting secara tidak langsung: ia menunjukkan bahwa kesadaran manusia adalah medan universal yang melampaui batas bangsa, agama, dan ideologi.

Jembatan Kesadaran yang Masih Terbuka

Pertemuan antara Vivekananda dan William James bukan hanya peristiwa sejarah intelektual, tetapi simbol dari dialog besar antara Timur dan Barat. Dari satu sisi, spiritualitas yang berakar pada pengalaman langsung; dari sisi lain, sains yang mulai membuka diri terhadap misteri kesadaran.

Apa yang mereka mulai pada akhir abad ke-19 kini terus berkembang dalam psikologi modern, studi kesadaran, dan dialog antaragama.

Dan jika kita membaca ulang jejak ini melalui perspektif Soekarno, kita melihat satu benang merah: kebangkitan manusia selalu dimulai dari kebangkitan kesadaran.

Di titik itu, Vivekananda dan William James bukan hanya tokoh sejarah—mereka adalah dua suara yang masih berdialog dalam cara kita memahami diri sampai hari ini.[T]

Tags: filsafatSwami WiwekanandaWilliam James
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

Next Post

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong...

Read moreDetails

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

by Afgan Fadilla
June 18, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada...

Read moreDetails
Next Post
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni ---Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026

DRAMA gong ternyata masih memiliki tempat di hati masyarakat Bali. Hal itu terlihat saat Sanggar Seni Nong Nong Kling dari...

by Nyoman Budarsana
June 23, 2026
Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara
Budaya

Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara

SINGARAJA – TATKALA.CO | Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra mendukung terselenggaranya Singaraja Literary Festival (SLF) ke-4 tahun 2026 yang diadakan...

by tatkala
June 23, 2026
Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng
Khas

Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng

PETANI garam dan musim panas ibarat dua sejoli yang saling merindukan. Setelah berbulan-bulan berpisah oleh hujan, mendung, dan gelombang yang...

by Nyoman Nadiana
June 23, 2026
’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co