14 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

Abdi Jaya Prawira by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
in Khas
‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

Menerjang bara -- Lambuk Baa Pura Parerepan Samuan Tiga, Denpasar Selatan

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang menyimak. Malam pertama Juni 2026, itulah kesempatan kedua saya nangkil ke Pura Parerepan Samuan Tiga, Denpasar Selatan. Namun ini adalah pertama kalinya saya bertemu dengan ritus Lambuk Baa. Ritus pingit ini hanya digelar ketika upacara piodalan di tersebut.

Saya tiba di pura ketika langit sudah benar-benar gelap. Motor saya parkirkan di depan sebuah teras, bersebelahan dengan plang penunjuk nama Gang Ciung Wanara. Dingin menyelinap di sela-sela jaket saya. Suhu Bali belakangan ini rasanya memang agak dingin, lebih-lebih bagi saya yang memang sedang tidak enak badan. Tetapi, begitu kaki melangkahi mandala pura, perasaan dingin itu hilang seketika. Bukan karena api, belum.

Menginjak anak tangga menuju mandala utama pura, alunan Kakawin Arjunawiwaha dapat saya kenali sekilas dengar. Para warga yang datang bersamaan dengan saya mempersembahkan banten yang mereka bawa, dipimpin pemangku di pura itu. Setelahnya, dilanjutkan dengan melakukan persembahyangan secara mandiri.

Tentang Nglambuk Baa

Lambuk. Kata inidalam keseharian orang Bali sering dipakai. Kurang lebih artinya yakni ‘menerobos’. Istilah ini dipakai juga ketika menembang kakawin, namun tidak mengikuti aturan terhadap guru-lagu. Orang akan menyebutnya menembang dengan nglambuk. Berbeda dengan alunan kakawin di pura malam itu. Merdu dan aturan penembangannya diikuti dengan setia oleh seorang pria yang saya tidak tahu namanya itu.

Nglambuk Baa, kalau bisa saya terjemahkan, berarti menerobos baa. Baa di sini adalah ‘bara’. Bara yang dihasilkan dari proses pembakaran batok kelapa kering. Kegiatan ‘menerobos bara’ ini bukan atraksi belaka. Bukan konsumsi untuk kamera. Kegiatan ini sakral, dan menjadi tonggak untuk menyatakan upacara piodalan di Pura Parerepan Samuan Tiga telah diselesaikan dengan lengkap.

Orang yang menerobos bara, tidak kepanasan. Tidak kesakitan. Mereka sangat semangat, seolah sedang bertemu dengan seseorang yang sudah lama tidak dijumpai. Mereka yang nglambuk baa berada dalam kondisi trans. Sarana utama yang dibawa ketika nglambuk baa adalah kuda-kudaan. Kuda-kudaan ini berbeda dengan sang hyang jaran yang dimiliki sejumlah desa lain, yang dihias sedemikian rupa dan memiliki bentuk solid. Kuda-kudaan yang digunakan di sini, dibuat dari pelepah pinang dan sifatnya temporer. Warnanya hijau polos, hanya diberi torehan sederhana di bagian yang menandai kepalanya. Sangat sederhana, sangat ekologis.

Apabila ritus ini disamakan dengan sang hyang jaran, maka ada sejumlah perbedaannya juga. Tidak ada Kukus Arum, atau Kembang Jenar yang merupakan gending-gending umum untuk mengiringi pementasan sang hyang jaran. Kendati demikian, kesunyian dipecah oleh alunan gamelan yang memainkan irama bernuansa jaran-jaranan.

Saya berdiri agak jauh di sebelah timur gundukan bara, tetapi panasnya tetap sampai ke wajah. “Bagaimana yang menerobos?” pikir saya.

Ritus padatengan yang digelar di mandala utama sebelum nglambuk baa. | Dok. pribadi

Anak-anak menepuk tangan dengan nada yang harmonis, dibarengi komando seseorang yang menyuruh orang-orang di sekitar masuryak ‘bersorak’. Dua orang yang mundut atau membawa jaran-jaranan dari pelepah pinang itu lalu menerjunkan diri ke tengah bara, diikuti seorang pemangku dan seorang perempuan yang juga trans. Sangat cepat, bara berserak ke berbagai penjuru. Setelahnya, mereka semua kembali ke mandala utama pura. Kesadaran orang-orang yang trans dikembalikan dengan sarana berupa tirta atau air suci.

Tidak ada pakem berapa kali mereka terjun ke bara. Tahun lalu, kata seorang ibu yang berdiri di sebelah saya, ada dua kali ronde nglambuk baa. Kiranya itu penyebab bara kembali dikumpulkan dan tidak dimatikan setelah orang-orang kembali ke mandala utama pura. Tidak ada salahnya berjaga-jaga. Setelah sekian lama, penjaga bara menyakini jika para pemangku yang trans di mandala utama sudah ngluur. Sebuah selang pun memadamkan bara yang masih menyala. Kaki seorang yang tidak trans jika menginjaknya, minimal pasti akan kembung.

***

Ada cerita tua yang tidak tertulis di lontar. Hanya hidup di ujung lidah orang-orang yang masih percaya pada ingatan kolektif leluhurnya.

Konon, di Pura Samuan Tiga, Bedulu, Gianyar pada zaman dahulu ada sejumlah ritus yang saling bergandengan. Nampiog, ngombak, siat sampian, maplengkungan, dan nglambuk baa. Mereka seperti saudara sekandung yang tidak bisa dipisahkan. Perubahan adalah keniscayaan, karena di hari ini ritus nglambuk baa tidak ada lagi di Samuan Tiga Gianyar. Tradisi ini pun punya cara sendiri untuk melawan punah, yakni dengan diwariskan di Pura Parerepan Samuan Tiga, Desa Sidakarya.

Nama yang serupa, menjadi pengingat jika pura ini seolah cabang dari sebuah pokok, bukan pohon baru. Generasi sekarang juga masih mewarisi ingatan kolektif tentang leluhur mereka yang aslinya adalah pengabdi setia Pura Samuan Tiga di Gianyar. Leluhur mereka berasal dari Gianyar, yakni Tengkulak Dulu. Piodalan di sini berselisih satu purnama lebih belakang dari Pura Samuan Tiga di Gianyar pada Purnama Jyesta lalu. Sejarah pura ini juga tidak dapat dipisahkan dari kisah leluhur yang memperoleh anugerah berupa karas di pesisir. Karas ini yang diyakini sebagai due Samuan Tiga. 

Sebelum dimulai, ritus ini diawali dengan sederet ritus seperti persembahan banten piodalan yang dipimpin seorang pedanda. Dilanjutkan dengan panglokacara, seperti pamendak, purwadaksina, pamendetan, hingga pangrarauhan/padatengan. Ketika proses padatengan, para pemangku mulai trans. Beberapa di antaranya menyebut gelar dari sungsungan yang diyakini masyarakat setempat. Samar-samar saya mendengar gelar beliau masih punya relasi dengan api.

Sekarang, Lambuk Baa sedang diinventarisasi. Dinas Kebudayaan Kota Denpasar ingin mengusulkannya sebagai Warisan Budaya Takbenda. Tentu itu penting. Tentu itu membuat saya dan teman-teman mengamini. Ritus ini layak dan wajib dilindungi. Ritus ini kami yakini memiliki nilai-nilai spiritual, psikologis dan sosiologis yang kuat dan mantap. Kajian terhadap nilai-nilai tersebut menjadi pekerjaan rumah setelah pulang.

***

Saya tidak ikut menembus bara. Jelas karena saya bukan orang pilihan. Tetapi saat ritus usai, dan ketika masyarakat mulai membubarkan diri, saya merasakan sesuatu yang hangat di telapak tangan. Padahal saya hanya berdiri, tanpa menyentuh apa pun. [T]

Penulis: Abdi Jaya Prawira
Editor: Adnyana Ole

Tags: denpasarHindu Baliritualritus
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

Next Post

Pertemuan William James dan Vivekananda

Abdi Jaya Prawira

Abdi Jaya Prawira

Pande Putu Abdi Jaya Prawira, tinggal di Tulikup, Gianyar. Alumnus Sastra Jawa Kuno Udayana.

Related Posts

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
0
Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif

DI tengah semarak pertunjukan seni yang mewarnai Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII, hadir sebuah ruang yang menawarkan pengalaman berbeda....

Read moreDetails

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
0
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

Read moreDetails

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
0
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

Read moreDetails

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
0
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

Read moreDetails

Festival Seni Bali Jani VIII, Panggung Kolaborasi dan Eksperimentasi Seni Bali

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
0
Festival Seni Bali Jani VIII, Panggung Kolaborasi dan Eksperimentasi Seni Bali

FESTIVAL Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 dipastikan hadir lebih semarak. Festival yang menjadi ruang apresiasi seni modern, kontemporer,...

Read moreDetails

Lepas 52 Tukik dan Tanam Kelapa, Prama Sanur Beach Bali Rayakan HUT dengan Aksi Peduli Lingkungan

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
0
Lepas 52 Tukik dan Tanam Kelapa, Prama Sanur Beach Bali Rayakan HUT dengan Aksi Peduli Lingkungan

PAGI itu, suasana Pantai Cemara, Sanur, mulai dipenuhi antusiasme. Meski sinar matahari sudah terasa menyengat, puluhan orang tetap bersemangat mengikuti...

Read moreDetails

Sukses Digelar, PEKSIMASIF 2026 Lahirkan Talenta Seni Baru di FISIP Unsoed

by Rohmah Nia Chandra Sari
July 9, 2026
0
Sukses Digelar, PEKSIMASIF 2026 Lahirkan Talenta Seni Baru di FISIP Unsoed

RANGKAIAN ajang bergengsi Pekan Seni Mahasiswa FISIP (PEKSIMASIF) 2026 yang berlangsung selama tiga hari, sejak 28 hingga 30 April 2026,...

Read moreDetails

Memupuh Desa, Memupuk Dualitas

by Chandra Manikan
July 9, 2026
0
Memupuh Desa, Memupuk Dualitas

SAMPAI HARI INI, pupuh itu mengendap lebih lama di pikiranku. Buku “Bali, Pandemi, Refleksi: Dinamika Politik Kebijakan dan Kritisme Komunitas”,...

Read moreDetails

Membincangkan Puisi dan Kesadaran Kolektif di Singaraja Literary Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
July 8, 2026
0
Membincangkan Puisi dan Kesadaran Kolektif di Singaraja Literary Festival 2026

“SETIAP penyair kalau ia menyuarakan lukanya, ia sebenarnya menyuarakan luka manusia.” Kalimat itu meluncur dari Yahya Umar, Sabtu, 4 Juli...

Read moreDetails

Aroma Kopi, Kuliner, dan Percakapan yang Menghidupkan Singaraja Literary Festival 2026

by Nyoman Budarsana
July 7, 2026
0
Aroma Kopi, Kuliner, dan Percakapan yang Menghidupkan Singaraja Literary Festival 2026

AROMA kopi yang baru diseduh bercampur dengan wangi siobak dan tipat santok menyambut setiap langkah pengunjung di belakang panggung utama...

Read moreDetails
Next Post
Pertemuan William James dan Vivekananda

Pertemuan William James dan Vivekananda

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif
Khas

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif

DI tengah semarak pertunjukan seni yang mewarnai Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII, hadir sebuah ruang yang menawarkan pengalaman berbeda....

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”
Panggung

Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”

BAYANGAN adalah jiwa dari wayang kulit. Di tangan seorang dalang, lembar-lembar kulit hidup melalui permainan cahaya. Namun, Wayang Ental memilih...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Ketika Waktu Berpindah Tangan
Ulas Musik

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka
Tualang

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

by Chusmeru
July 13, 2026
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co