12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

Abdi Jaya Prawira by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
in Khas
‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

Menerjang bara -- Lambuk Baa Pura Parerepan Samuan Tiga, Denpasar Selatan

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang menyimak. Malam pertama Juni 2026, itulah kesempatan kedua saya nangkil ke Pura Parerepan Samuan Tiga, Denpasar Selatan. Namun ini adalah pertama kalinya saya bertemu dengan ritus Lambuk Baa. Ritus pingit ini hanya digelar ketika upacara piodalan di tersebut.

Saya tiba di pura ketika langit sudah benar-benar gelap. Motor saya parkirkan di depan sebuah teras, bersebelahan dengan plang penunjuk nama Gang Ciung Wanara. Dingin menyelinap di sela-sela jaket saya. Suhu Bali belakangan ini rasanya memang agak dingin, lebih-lebih bagi saya yang memang sedang tidak enak badan. Tetapi, begitu kaki melangkahi mandala pura, perasaan dingin itu hilang seketika. Bukan karena api, belum.

Menginjak anak tangga menuju mandala utama pura, alunan Kakawin Arjunawiwaha dapat saya kenali sekilas dengar. Para warga yang datang bersamaan dengan saya mempersembahkan banten yang mereka bawa, dipimpin pemangku di pura itu. Setelahnya, dilanjutkan dengan melakukan persembahyangan secara mandiri.

Tentang Nglambuk Baa

Lambuk. Kata inidalam keseharian orang Bali sering dipakai. Kurang lebih artinya yakni ‘menerobos’. Istilah ini dipakai juga ketika menembang kakawin, namun tidak mengikuti aturan terhadap guru-lagu. Orang akan menyebutnya menembang dengan nglambuk. Berbeda dengan alunan kakawin di pura malam itu. Merdu dan aturan penembangannya diikuti dengan setia oleh seorang pria yang saya tidak tahu namanya itu.

Nglambuk Baa, kalau bisa saya terjemahkan, berarti menerobos baa. Baa di sini adalah ‘bara’. Bara yang dihasilkan dari proses pembakaran batok kelapa kering. Kegiatan ‘menerobos bara’ ini bukan atraksi belaka. Bukan konsumsi untuk kamera. Kegiatan ini sakral, dan menjadi tonggak untuk menyatakan upacara piodalan di Pura Parerepan Samuan Tiga telah diselesaikan dengan lengkap.

Orang yang menerobos bara, tidak kepanasan. Tidak kesakitan. Mereka sangat semangat, seolah sedang bertemu dengan seseorang yang sudah lama tidak dijumpai. Mereka yang nglambuk baa berada dalam kondisi trans. Sarana utama yang dibawa ketika nglambuk baa adalah kuda-kudaan. Kuda-kudaan ini berbeda dengan sang hyang jaran yang dimiliki sejumlah desa lain, yang dihias sedemikian rupa dan memiliki bentuk solid. Kuda-kudaan yang digunakan di sini, dibuat dari pelepah pinang dan sifatnya temporer. Warnanya hijau polos, hanya diberi torehan sederhana di bagian yang menandai kepalanya. Sangat sederhana, sangat ekologis.

Apabila ritus ini disamakan dengan sang hyang jaran, maka ada sejumlah perbedaannya juga. Tidak ada Kukus Arum, atau Kembang Jenar yang merupakan gending-gending umum untuk mengiringi pementasan sang hyang jaran. Kendati demikian, kesunyian dipecah oleh alunan gamelan yang memainkan irama bernuansa jaran-jaranan.

Saya berdiri agak jauh di sebelah timur gundukan bara, tetapi panasnya tetap sampai ke wajah. “Bagaimana yang menerobos?” pikir saya.

Ritus padatengan yang digelar di mandala utama sebelum nglambuk baa. | Dok. pribadi

Anak-anak menepuk tangan dengan nada yang harmonis, dibarengi komando seseorang yang menyuruh orang-orang di sekitar masuryak ‘bersorak’. Dua orang yang mundut atau membawa jaran-jaranan dari pelepah pinang itu lalu menerjunkan diri ke tengah bara, diikuti seorang pemangku dan seorang perempuan yang juga trans. Sangat cepat, bara berserak ke berbagai penjuru. Setelahnya, mereka semua kembali ke mandala utama pura. Kesadaran orang-orang yang trans dikembalikan dengan sarana berupa tirta atau air suci.

Tidak ada pakem berapa kali mereka terjun ke bara. Tahun lalu, kata seorang ibu yang berdiri di sebelah saya, ada dua kali ronde nglambuk baa. Kiranya itu penyebab bara kembali dikumpulkan dan tidak dimatikan setelah orang-orang kembali ke mandala utama pura. Tidak ada salahnya berjaga-jaga. Setelah sekian lama, penjaga bara menyakini jika para pemangku yang trans di mandala utama sudah ngluur. Sebuah selang pun memadamkan bara yang masih menyala. Kaki seorang yang tidak trans jika menginjaknya, minimal pasti akan kembung.

***

Ada cerita tua yang tidak tertulis di lontar. Hanya hidup di ujung lidah orang-orang yang masih percaya pada ingatan kolektif leluhurnya.

Konon, di Pura Samuan Tiga, Bedulu, Gianyar pada zaman dahulu ada sejumlah ritus yang saling bergandengan. Nampiog, ngombak, siat sampian, maplengkungan, dan nglambuk baa. Mereka seperti saudara sekandung yang tidak bisa dipisahkan. Perubahan adalah keniscayaan, karena di hari ini ritus nglambuk baa tidak ada lagi di Samuan Tiga Gianyar. Tradisi ini pun punya cara sendiri untuk melawan punah, yakni dengan diwariskan di Pura Parerepan Samuan Tiga, Desa Sidakarya.

Nama yang serupa, menjadi pengingat jika pura ini seolah cabang dari sebuah pokok, bukan pohon baru. Generasi sekarang juga masih mewarisi ingatan kolektif tentang leluhur mereka yang aslinya adalah pengabdi setia Pura Samuan Tiga di Gianyar. Leluhur mereka berasal dari Gianyar, yakni Tengkulak Dulu. Piodalan di sini berselisih satu purnama lebih belakang dari Pura Samuan Tiga di Gianyar pada Purnama Jyesta lalu. Sejarah pura ini juga tidak dapat dipisahkan dari kisah leluhur yang memperoleh anugerah berupa karas di pesisir. Karas ini yang diyakini sebagai due Samuan Tiga. 

Sebelum dimulai, ritus ini diawali dengan sederet ritus seperti persembahan banten piodalan yang dipimpin seorang pedanda. Dilanjutkan dengan panglokacara, seperti pamendak, purwadaksina, pamendetan, hingga pangrarauhan/padatengan. Ketika proses padatengan, para pemangku mulai trans. Beberapa di antaranya menyebut gelar dari sungsungan yang diyakini masyarakat setempat. Samar-samar saya mendengar gelar beliau masih punya relasi dengan api.

Sekarang, Lambuk Baa sedang diinventarisasi. Dinas Kebudayaan Kota Denpasar ingin mengusulkannya sebagai Warisan Budaya Takbenda. Tentu itu penting. Tentu itu membuat saya dan teman-teman mengamini. Ritus ini layak dan wajib dilindungi. Ritus ini kami yakini memiliki nilai-nilai spiritual, psikologis dan sosiologis yang kuat dan mantap. Kajian terhadap nilai-nilai tersebut menjadi pekerjaan rumah setelah pulang.

***

Saya tidak ikut menembus bara. Jelas karena saya bukan orang pilihan. Tetapi saat ritus usai, dan ketika masyarakat mulai membubarkan diri, saya merasakan sesuatu yang hangat di telapak tangan. Padahal saya hanya berdiri, tanpa menyentuh apa pun. [T]

Penulis: Abdi Jaya Prawira
Editor: Adnyana Ole

Tags: denpasarHindu Baliritualritus
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

Next Post

Pertemuan William James dan Vivekananda

Abdi Jaya Prawira

Abdi Jaya Prawira

Pande Putu Abdi Jaya Prawira, tinggal di Tulikup, Gianyar. Alumnus Sastra Jawa Kuno Udayana.

Related Posts

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

by Emi Suy
September 10, 2026
0
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

Read moreDetails

Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

by Nyoman Budarsana
September 8, 2026
0
Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

PELAKSANAAN Utsawa Dharma Gita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 tinggal menghitung hari. Perlombaan tersebut bakal dimulai Jumat, 11 September...

Read moreDetails

Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

by tatkala
September 7, 2026
0
Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

RAK di sudut kamar dulu menjadi penanda seberapa serius seseorang mengikuti sebuah judul. Penanda itu perlahan berpindah ke daftar bacaan...

Read moreDetails

Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

by Nyoman Budarsana
September 6, 2026
0
Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

DIIRINGI gending gamelan yang dinamis, gerak, seledet, dan perpindahan posisi para penari mengalir membentuk jalinan yang hidup. Setiap gerakan seolah...

Read moreDetails

Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

by I Nyoman Tingkat
September 6, 2026
0
Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

"CERAKEN BALI: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul". Itulah tema HUT VII SMA Negeri 2 Kuta Selatan...

Read moreDetails

Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

by Dian Suryantini
September 1, 2026
0
Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

ADA sesuatu yang terasa ganjil ketika pertama kali melihatnya. Selonding, sebuah gamelan yang selama ini begitu dekat dengan kayu, tradisi,...

Read moreDetails

Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

by Ega Surya Mahendra
August 31, 2026
0
Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

MALAM, pukul 21.30, 10 Agustus 2026. Saya baru saja usai melewati jalan yang nestapa dari Tanjung Benua menuju kampung halaman...

Read moreDetails

Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

by Nyoman Budarsana
August 31, 2026
0
Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

ANGGIN itu sahabat para Rare Angon. Ketika embusannya mulai menguat di Pantai Mertasari, Sanur, kesibukan pun muncul di antara para...

Read moreDetails

Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

by Nyoman Budarsana
August 29, 2026
0
Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

“Dug dug, dag, dug dug.., dag dug dag…, jedug kapak, jedug kapak…!” SUARA kendang dan okokan menggema mengiringi pembukaan Tanah...

Read moreDetails

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026
0
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

Read moreDetails
Next Post
Pertemuan William James dan Vivekananda

Pertemuan William James dan Vivekananda

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co