SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng. Wantilan yang biasanya digunakan untuk kegiatan pelayanan masyarakat oleh Pemerintah Desa (Pemdes) Depeha—sering kali riuh oleh Musyawarah Desa, rembuk stunting, hingga pembagian bansos—kini bersolek menjadi sebuah panggung proklamasi yang sakral.
Namun, atmosfer di dalam gedung tetap terasa hangat bagi sekumpulan siswa berseragam putih-merah yang telah memenuhi area sejak pukul 07.30 WITA. Tak seirama dengan angin yang berembus pelan di luar, jantung mereka justru berdebar jauh lebih kencang. Sebuah kondisi personal yang normal, menandakan mereka sedang bersiap menghadapi situasi yang menantang: mengumandangkan kembali teks proklamasi, kalimat sakral penanda berdirinya republik ini.
Hari itu adalah pelaksanaan Lomba Membaca Teks Proklamasi Kemerdekaan Tingkat SD se-Desa Depeha dalam rangka Memperingati Bulan Bung Karno VIII Tahun 2026. Berdasarkan laporan Ketua Panitia kegiatan, Made Kembar Nesa Sariawan, S.Pd., lomba yang mengusung tema “Kawya Atma Kerthi” (Meraya Jiwa Perjuangan Proklamator) ini diikuti oleh 16 peserta yang mewakili 4 SD di wilayah Desa Depeha. Setiap sekolah diwakili oleh 4 peserta yang merupakan siswa kelas V dan/atau VI.
Sebelum unjuk keberanian, seluruh peserta didampingi guru pembina mengikuti rangkaian acara pembukaan dengan tertib. Perbekel Desa Depeha, I Gede Srinyarnya, membuka acara secara resmi dengan didampingi oleh Ketua BPD dan Ketua Karang Taruna Desa Depeha. Protokoler pembukaan ini tak pelak membuat debaran di dada para peserta cilik bertahan sedikit lebih lama.

Dalam sambutannya, I Gede Srinyarnya menjelaskan bahwa giat positif peringatan Bulan Bung Karno yang diselenggarakan oleh Pemdes Depeha tidak sekadar seremonial tahunan yang digelar setiap bulan Juni. Namun, merupakan bentuk penghargaan nyata terhadap jasa-jasa Bapak Proklamator, Ir. Soekarno.
Bulan Juni memuat tiga peristiwa bersejarah yang sangat melekat dengan perjuangan Ir. Soekarno, Presiden Pertama Republik Indonesia. Pada tanggal 1 Juni 1945, Bung Karno pertama kali menyampaikan gagasan Pancasila sebagai dasar negara pada sidang BPUPKI, yang lantas diperingati sebagai Hari Lahir Pancasila. Tanggal 6 Juni merupakan hari lahir Bung Karno di Surabaya pada tahun 1901. Sementara pada tanggal 21 Juni, menjadi momen khidmat untuk mengenang wafatnya Sang Putra Fajar yang mengembuskan napas terakhirnya di Jakarta pada tahun 1970 silam.
“Inilah momentum kita untuk menghargai apa yang menjadi perjuangan beliau dalam mendirikan bangsa ini,” tegas Perbekel I Gede Srinyarnya.
Begitu upacara pembukaan usai, panggung sepenuhnya menjadi milik peserta. Satu per satu dari mereka melangkah maju, berdiri tegap, dan membacakan teks proklamasi dengan sangat lancar. Tidak ada kata atau baris kalimat yang luput dari kelantangan suara mereka. Di atas panggung itu, anak-anak Desa Depeha sukses menunjukkan mental pahlawan dan membangkitkan kembali ruh semangat 1945.
Ketiga dewan juri yang mengawal jalannya penilaian: Made Dwi Susanti, S.Pd.B. (guru SMPN 2 Kubutambahan), Putu Dessi Rosdiani, S.Pd. (guru SMPN Satu Atap 1 Sukasada), dan saya sendiri, merasa bangga melihat semangat para peserta. Bagi kami, mereka semua adalah pemenang karena telah tampil dengan berani. Untuk memberikan umpan balik serta sebagai pertanggungjawaban objektif, kami memberikan beberapa catatan evaluasi terkait empat aspek utama: vokal, intonasi, ekspresi, dan gestur.


Putu Dessi Rosdiani menjelaskan bahwa mengumandangkan teks proklamasi tidak sekadar membaca teks mati, melainkan harus dijiwai untuk menghidupkan maknanya. Teks yang bernyawa melibatkan pancaindra dan emosi, sehingga setiap barisnya mampu menyentuh pendengar.
“Temponya jangan seperti dikejar anjing, melainkan harus dirasakan per kata,” jelasnya kepada seluruh peserta dengan senyum ramah.
Ia juga menyoroti sikap gestur peserta. Sebagai teks pengumuman kemerdekaan, pembawaannya harus didukung posisi badan yang tegap, siap, dan penuh keyakinan agar aura wibawanya keluar. Selain itu, pada aspek vokal, ia mengingatkan peserta agar berlatih lagi menggunakan napas diafragma untuk menghasilkan suara yang bulat. Beliau lantas memberikan contoh pembacaan baris pembuka dengan pelafalan bersih dan intonasi yang tepat.
Saya sendiri menambahkan catatan pada aspek pelafalan dan penampilan. Ada beberapa peserta yang masih keliru melafalkan kata ‘saksama’ (dibaca seksama) dan ‘Sukarno’ (dibaca Soekarno dengan vokal lama). Walau minor, saya ingin anak-anak terbiasa melafalkan kata sesuai kaidah Ejaan Bahasa Indonesia (EYD) modern yang berlaku sekarang. Untuk menunjang penampilan, saya mengingatkan pentingnya kontak mata dengan audiens. Mata yang terus menempel pada kertas akan mengikis karisma, dan teks proklamasi yang sakral bisa kehilangan daya magisnya.
Dengan perasaan lega setelah melewati momen menegangkan, para peserta mendengarkan evaluasi juri dengan penuh perhatian. Namun, ketegangan itu kembali memuncak saat lembar keputusan juara telah berada di tangan dewan juri.
Setelah melalui proses penilaian yang ketat, para pemenang akhirnya diumumkan. Juara 1 berhasil diraih oleh Ni Luh Suci Padma Putri dari SDN 4 Depeha. Juara 2 diraih oleh Luh Putu Ari Suartini (SDN 4 Depeha), dan Juara 3 diraih oleh I Gede Rama Sutapa Saputra (SDN 1 Depeha). Sementara untuk kategori harapan, Juara Harapan 1 diraih oleh Ni Putu Niki Lestari (SDN 4 Depeha), Juara Harapan 2 diraih oleh I Putu Celvin Aditya Putra (SDN 1 Depeha), dan Juara Harapan 3 diraih oleh Ni Kadek Putri Aditya Wardani (SDN 2 Depeha).


Ekspresi luar biasa pun terpancar dari wajah para pemenang. Mereka tersenyum lebar dengan mata berbinar saat menerima trofi juara, piagam, dan hadiah buku yang diserahkan langsung oleh Perbekel Desa Depeha.
Usai gemuruh tepuk tangan dan sesi foto bersama mereda, saya berkesempatan berbincang sejenak dengan Ni Luh Suci Padma Putri, sang peraih Juara 1. Dengan mata berbinar polos, ia menceritakan perjuangannya berlatih membaca teks proklamasi dalam waktu kurang lebih satu minggu. Lantas, apa yang menjadi kendala terbesarnya sebelum berhasil menaklukkan panggung proklamasi yang sakral itu?
“Ini kan saya sudah dibilang dengan guru saya, disuruh lambatin dikit tapi saya tidak bisa,” katanya dengan gemas.
Namun, semangat untuk bisa tampil maksimal membuatnya menolak menyerah. Ia terus berlatih keras mengatur tempo serta ekspresi wajah di bawah bimbingan telaten gurunya, Ni Made Tini Sulasmi, S.Pd.
Tak hanya sang juara, saya juga berkesempatan berbincang dengan peserta lomba lainnya, Kadek Redipa. Hari itu, ia memang belum berkesempatan merasakan sensasi berdiri di podium tertinggi. Namun, tidak ada rona kesedihan di wajahnya; ia tetap merasa sangat senang karena telah berhasil tampil membacakan teks proklamasi. Baginya, ini adalah sebuah pengalaman yang sangat berharga.
“Dapat ke panggung, dapat ikut lomba,” cetusnya dengan nada bangga yang jujur.

Cerita jujur dari Kadek Redipa membuktikan bahwa esensi lomba ini memang bukan sekadar tentang siapa yang membawa pulang piala, melainkan tentang pembentukan mental pahlawan, jiwa yang tangguh seperti yang disampaikan oleh Perbekel I Gede Srinyarnya. Ungkapan polos Kadek menyadarkan kita pada sebuah kebenaran yang sering diulas dalam buku Atomic Habits: Perubahan Kecil yang Memberikan Hasil Luar Biasa karya James Clear: bahwa terlalu fokus pada sasaran atau hasil akhir (outcome-oriented) justru seringkali menghambat pertumbuhan positif dalam hidup. Kita kerap menunda kebahagiaan dan baru merasa berhasil jika target utama tercapai.
Padahal, esensi dari sebuah kompetisi dan kegiatan positif apa pun—terlepas dari apa pun hasil akhirnya—perlu dirayakan dengan bahagia di setiap prosesnya. James Clear menyebutnya ‘berfokus pada sistem’. Komitmen terhadap proses dapat menentukan kemajuan jangka panjang.
Sebelum anak-anak ini sampai dan berdiri tegap di atas panggung, ada serangkaian ‘kemenangan atomik’ (kemenangan kecil) yang sudah berhasil mereka taklukkan: mereka berhasil menghafal teks, berkomitmen meluangkan waktu bermainnya untuk berlatih, hingga berhasil menjinakkan rasa gugup di dalam dada. Semua lompatan kecil ini adalah sebuah pencapaian besar bagi seorang anak. Semua ini harus dirayakan sebagai kemenangan sejati.
Panggung Proklamasi Bulan Bung Karno VIII di Desa Depeha telah usai. Satu per satu peserta meninggalkan panggung. Namun, Perbekel I Gede Srinyarnya berharap gema proklamasi yang dikumandangkan anak-anak tidak pernah mati, senantiasa hidup dan tumbuh besar di jiwa generasi penerus Desa Depeha.

Seperti harapan kita semua, Perbekel I Gede Srinyarnya ingin anak-anak merasakan kemerdekaan sejati–tidak hanya dirasakan di atas kertas, tapi juga di setiap embusan napas. Penanaman jiwa nasionalisme Bung Karno sejak dini bukan sekadar pemanis peringatan tahunan. Ini adalah fondasi untuk membentuk generasi Desa Depeha yang bermental tangguh dan memiliki kemandirian. Mereka telah sukses menaklukkan panggung proklamasi yang sakral. Esok, anak-anak hebat ini diharapkan berdiri dengan berani di panggung-panggung kehidupan.
Harapannya sejalan dengan konsep Berdikari (Berdiri di Atas Kaki Sendiri) yang dicetuskan Bung Karno. Perbekel I Gede Srinyarnya tak ingin kelak anak-anak Desa Depeha menjadi tamu di rumah sendiri. Sebuah realitas getir yang pernah dilukiskan oleh sastrawan sekaligus Redaktur Harian Kompas, Putu Fajar Arcana, dalam puisinya yang berjudul “Di Depan Arca Saraswati”:
“…Garis yang kau gores di atas debu, diterbangkan angin ke awan. Kita sedang bertamu di pelataran sendiri. Tak bebas lagi memetik bunga atau terlentang di pasir menciumi hangat matahari…”
Ia tak ingin riuh di negeri yang kosong ini menjadi warisan abadi dari generasi ke generasi di desanya.

“Anak-anak Desa Depeha harus menjadi anak yang tangguh, yang kuat, baik dalam tenaga, kesehatan jasmani dan rohani,” ucap perbekel yang memilih mengabdikan dirinya membangun Desa Depeha sejak 15 Desember 2021 dengan penuh keyakinan. [T]
Reprter/Penulis: Komang Sujana
Editor: Adnyana Ole






























