13 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

Komang Sujana by Komang Sujana
June 3, 2026
in Panggung
Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

Lomba Membaca Teks Proklamasi di Desa Depeha, Buleleng | Foto: Dok. Penulis

SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng. Wantilan yang biasanya digunakan untuk kegiatan pelayanan masyarakat oleh Pemerintah Desa (Pemdes) Depeha—sering kali riuh oleh Musyawarah Desa, rembuk stunting, hingga pembagian bansos—kini bersolek menjadi sebuah panggung proklamasi yang sakral.

Namun, atmosfer di dalam gedung tetap terasa hangat bagi sekumpulan siswa berseragam putih-merah yang telah memenuhi area sejak pukul 07.30 WITA. Tak seirama dengan angin yang berembus pelan di luar, jantung mereka justru berdebar jauh lebih kencang. Sebuah kondisi personal yang normal, menandakan mereka sedang bersiap menghadapi situasi yang menantang: mengumandangkan kembali teks proklamasi, kalimat sakral penanda berdirinya republik ini.

Hari itu adalah pelaksanaan Lomba Membaca Teks Proklamasi Kemerdekaan Tingkat SD se-Desa Depeha dalam rangka Memperingati Bulan Bung Karno VIII Tahun 2026. Berdasarkan laporan Ketua Panitia kegiatan, Made Kembar Nesa Sariawan, S.Pd., lomba yang mengusung tema “Kawya Atma Kerthi” (Meraya Jiwa Perjuangan Proklamator) ini diikuti oleh 16 peserta yang mewakili 4 SD di wilayah Desa Depeha. Setiap sekolah diwakili oleh 4 peserta yang merupakan siswa kelas V dan/atau VI.

Sebelum unjuk keberanian, seluruh peserta didampingi guru pembina mengikuti rangkaian acara pembukaan dengan tertib. Perbekel Desa Depeha, I Gede Srinyarnya, membuka acara secara resmi dengan didampingi oleh Ketua BPD dan Ketua Karang Taruna Desa Depeha. Protokoler pembukaan ini tak pelak membuat debaran di dada para peserta cilik bertahan sedikit lebih lama.

Acara Pembukaan Lomba. Dari kiri-kanan: I Komang Gede Mahaputra Andi Winarga (Ketua Karang Taruna), I Ketut Budiartha (Ketua BPD), I Gede Srinyarnya (Perbekel Desa Depeha), Putu Dessi Rosdiani, S.Pd. (Dewan Juri), Made Kembar Nesa Sariawan, S.Pd. (Ketua Panitia) | Foto: Dok. Penulis

Dalam sambutannya, I Gede Srinyarnya menjelaskan bahwa giat positif peringatan Bulan Bung Karno yang diselenggarakan oleh Pemdes Depeha tidak sekadar seremonial tahunan yang digelar setiap bulan Juni. Namun, merupakan bentuk penghargaan nyata terhadap jasa-jasa Bapak Proklamator, Ir. Soekarno.

Bulan Juni memuat tiga peristiwa bersejarah yang sangat melekat dengan perjuangan Ir. Soekarno, Presiden Pertama Republik Indonesia. Pada tanggal 1 Juni 1945, Bung Karno pertama kali menyampaikan gagasan Pancasila sebagai dasar negara pada sidang BPUPKI, yang lantas diperingati sebagai Hari Lahir Pancasila. Tanggal 6 Juni merupakan hari lahir Bung Karno di Surabaya pada tahun 1901. Sementara pada tanggal 21 Juni, menjadi momen khidmat untuk mengenang wafatnya Sang Putra Fajar yang mengembuskan napas terakhirnya di Jakarta pada tahun 1970 silam.

“Inilah momentum kita untuk menghargai apa yang menjadi perjuangan beliau dalam mendirikan bangsa ini,” tegas Perbekel I Gede Srinyarnya.

Begitu upacara pembukaan usai, panggung sepenuhnya menjadi milik peserta. Satu per satu dari mereka melangkah maju, berdiri tegap, dan membacakan teks proklamasi dengan sangat lancar. Tidak ada kata atau baris kalimat yang luput dari kelantangan suara mereka. Di atas panggung itu, anak-anak Desa Depeha sukses menunjukkan mental pahlawan dan membangkitkan kembali ruh semangat 1945.

Ketiga dewan juri yang mengawal jalannya penilaian: Made Dwi Susanti, S.Pd.B. (guru SMPN 2 Kubutambahan), Putu Dessi Rosdiani, S.Pd. (guru SMPN Satu Atap 1 Sukasada), dan saya sendiri, merasa bangga melihat semangat para peserta. Bagi kami, mereka semua adalah pemenang karena telah tampil dengan berani. Untuk memberikan umpan balik serta sebagai pertanggungjawaban objektif, kami memberikan beberapa catatan evaluasi terkait empat aspek utama: vokal, intonasi, ekspresi, dan gestur.

Lomba Membaca Teks Proklamasi | Foto: Dok. Penulis

Putu Dessi Rosdiani menjelaskan bahwa mengumandangkan teks proklamasi tidak sekadar membaca teks mati, melainkan harus dijiwai untuk menghidupkan maknanya. Teks yang bernyawa melibatkan pancaindra dan emosi, sehingga setiap barisnya mampu menyentuh pendengar.

“Temponya jangan seperti dikejar anjing, melainkan harus dirasakan per kata,” jelasnya kepada seluruh peserta dengan senyum ramah.

Ia juga menyoroti sikap gestur peserta. Sebagai teks pengumuman kemerdekaan, pembawaannya harus didukung posisi badan yang tegap, siap, dan penuh keyakinan agar aura wibawanya keluar. Selain itu, pada aspek vokal, ia mengingatkan peserta agar berlatih lagi menggunakan napas diafragma untuk menghasilkan suara yang bulat. Beliau lantas memberikan contoh pembacaan baris pembuka dengan pelafalan bersih dan intonasi yang tepat.

Saya sendiri menambahkan catatan pada aspek pelafalan dan penampilan. Ada beberapa peserta yang masih keliru melafalkan kata ‘saksama’ (dibaca seksama) dan ‘Sukarno’ (dibaca Soekarno dengan vokal lama). Walau minor, saya ingin anak-anak terbiasa melafalkan kata sesuai kaidah Ejaan Bahasa Indonesia (EYD) modern yang berlaku sekarang. Untuk menunjang penampilan, saya mengingatkan pentingnya kontak mata dengan audiens. Mata yang terus menempel pada kertas akan mengikis karisma, dan teks proklamasi yang sakral bisa kehilangan daya magisnya.

Dengan perasaan lega setelah melewati momen menegangkan, para peserta mendengarkan evaluasi juri dengan penuh perhatian. Namun, ketegangan itu kembali memuncak saat lembar keputusan juara telah berada di tangan dewan juri.

Setelah melalui proses penilaian yang ketat, para pemenang akhirnya diumumkan. Juara 1 berhasil diraih oleh Ni Luh Suci Padma Putri dari SDN 4 Depeha. Juara 2 diraih oleh Luh Putu Ari Suartini (SDN 4 Depeha), dan Juara 3 diraih oleh I Gede Rama Sutapa Saputra (SDN 1 Depeha). Sementara untuk kategori harapan, Juara Harapan 1 diraih oleh Ni Putu Niki Lestari (SDN 4 Depeha), Juara Harapan 2 diraih oleh I Putu Celvin Aditya Putra (SDN 1 Depeha), dan Juara Harapan 3 diraih oleh Ni Kadek Putri Aditya Wardani (SDN 2 Depeha).

Lomba Membaca Teks Proklamasi | Foto: Dok. Penulis

Perbekel I Gede Srinyarnya Memberikan Apresiasi kepada Peraih Juara 1 | Foto: Dok. Panitia

Ekspresi luar biasa pun terpancar dari wajah para pemenang. Mereka tersenyum lebar dengan mata berbinar saat menerima trofi juara, piagam, dan hadiah buku yang diserahkan langsung oleh Perbekel Desa Depeha.

Usai gemuruh tepuk tangan dan sesi foto bersama mereda, saya berkesempatan berbincang sejenak dengan Ni Luh Suci Padma Putri, sang peraih Juara 1. Dengan mata berbinar polos, ia menceritakan perjuangannya berlatih membaca teks proklamasi dalam waktu kurang lebih satu minggu. Lantas, apa yang menjadi kendala terbesarnya sebelum berhasil menaklukkan panggung proklamasi yang sakral itu?

“Ini kan saya sudah dibilang dengan guru saya, disuruh lambatin dikit tapi saya tidak bisa,” katanya dengan gemas.

Namun, semangat untuk bisa tampil maksimal membuatnya menolak menyerah. Ia terus berlatih keras mengatur tempo serta ekspresi wajah di bawah bimbingan telaten gurunya, Ni Made Tini Sulasmi, S.Pd.

Tak hanya sang juara, saya juga berkesempatan berbincang dengan peserta lomba lainnya, Kadek Redipa. Hari itu, ia memang belum berkesempatan merasakan sensasi berdiri di podium tertinggi. Namun, tidak ada rona kesedihan di wajahnya; ia tetap merasa sangat senang karena telah berhasil tampil membacakan teks proklamasi. Baginya, ini adalah sebuah pengalaman yang sangat berharga.

“Dapat ke panggung, dapat ikut lomba,” cetusnya dengan nada bangga yang jujur.

Dewan Juri. Dari kiri-kanan: Putu Dessi Rosdiani, S.Pd., Penulis, Made Dwi Susanti, S.Pd.B | Foto: Dok. Penulis

Cerita jujur dari Kadek Redipa membuktikan bahwa esensi lomba ini memang bukan sekadar tentang siapa yang membawa pulang piala, melainkan tentang pembentukan mental pahlawan, jiwa yang tangguh seperti yang disampaikan oleh Perbekel I Gede Srinyarnya. Ungkapan polos Kadek menyadarkan kita pada sebuah kebenaran yang sering diulas dalam buku Atomic Habits: Perubahan Kecil yang Memberikan Hasil Luar Biasa karya James Clear: bahwa terlalu fokus pada sasaran atau hasil akhir (outcome-oriented) justru seringkali menghambat pertumbuhan positif dalam hidup. Kita kerap menunda kebahagiaan dan baru merasa berhasil jika target utama tercapai.

Padahal, esensi dari sebuah kompetisi dan kegiatan positif apa pun—terlepas dari apa pun hasil akhirnya—perlu dirayakan dengan bahagia di setiap prosesnya. James Clear menyebutnya ‘berfokus pada sistem’. Komitmen terhadap proses dapat menentukan kemajuan jangka panjang. 

Sebelum anak-anak ini sampai dan berdiri tegap di atas panggung, ada serangkaian ‘kemenangan atomik’ (kemenangan kecil) yang sudah berhasil mereka taklukkan: mereka berhasil menghafal teks, berkomitmen meluangkan waktu bermainnya untuk berlatih, hingga berhasil menjinakkan rasa gugup di dalam dada. Semua lompatan kecil ini adalah sebuah pencapaian besar bagi seorang anak. Semua ini harus dirayakan sebagai kemenangan sejati.

Panggung Proklamasi Bulan Bung Karno VIII di Desa Depeha telah usai. Satu per satu peserta meninggalkan panggung. Namun, Perbekel I Gede Srinyarnya berharap gema proklamasi yang dikumandangkan anak-anak tidak pernah mati, senantiasa hidup dan tumbuh besar di jiwa generasi penerus Desa Depeha.

Sesi Foto Bersama | Foto: Dok. Panitia

Seperti harapan kita semua, Perbekel I Gede Srinyarnya ingin anak-anak merasakan kemerdekaan sejati–tidak hanya dirasakan di atas kertas, tapi juga di setiap embusan napas. Penanaman jiwa nasionalisme Bung Karno sejak dini bukan sekadar pemanis peringatan tahunan. Ini adalah fondasi untuk membentuk generasi Desa Depeha yang bermental tangguh dan memiliki kemandirian. Mereka telah sukses menaklukkan panggung proklamasi yang sakral. Esok, anak-anak hebat ini diharapkan berdiri dengan berani di panggung-panggung kehidupan.

Harapannya sejalan dengan konsep Berdikari (Berdiri di Atas Kaki Sendiri) yang dicetuskan Bung Karno. Perbekel I Gede Srinyarnya tak ingin kelak anak-anak Desa Depeha menjadi tamu di rumah sendiri. Sebuah realitas getir yang pernah dilukiskan oleh sastrawan sekaligus Redaktur Harian Kompas, Putu Fajar Arcana, dalam puisinya yang berjudul “Di Depan Arca Saraswati”:

“…Garis yang kau gores di atas debu, diterbangkan angin ke awan. Kita sedang bertamu di pelataran sendiri. Tak bebas lagi memetik bunga atau terlentang di pasir menciumi hangat matahari…”

Ia tak ingin riuh di negeri yang kosong ini menjadi warisan abadi dari generasi ke generasi di desanya.

Apresiasi dari Peserta dan Pembina kepada Peserta yang Sudah Berhasil Mengumandangkan Teks Proklamasi | Foto: Dok. Panitia

“Anak-anak Desa Depeha harus menjadi anak yang tangguh, yang kuat, baik dalam tenaga, kesehatan jasmani dan rohani,” ucap perbekel yang memilih mengabdikan dirinya membangun Desa Depeha sejak 15 Desember 2021 dengan penuh keyakinan. [T]

Reprter/Penulis: Komang Sujana
Editor: Adnyana Ole

Tags: Bulan Bung KarnoBung KarnoDesa DepehaPendidikanproklamasiproklamator
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

Next Post

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

Komang Sujana

Komang Sujana

Guru SMP Negeri 2 Sawan. Suka menulis puisi Bali. Biasa jadi komentar dalam turnamen bola voli

Related Posts

‘The Adventure Seekers’, Drama Musikal yang Menghidupkan Makna Perpisahan di SDN 1 Ungasan

by Dede Putra Wiguna
June 10, 2026
0
‘The Adventure Seekers’, Drama Musikal yang Menghidupkan Makna Perpisahan di SDN 1 Ungasan

PULUHAN pesawat kertas melayang serentak dari atas panggung SD Negeri 1 Ungasan, Badung. Para siswa bersama guru yang berdiri berdampingan...

Read moreDetails

I Gusti Ngurah Rai di Atas Panggung Marga Fest II : Perang yang Dramatis dan Tragis dalam Balutan Teater Tari

by Nyoman Budarsana
June 8, 2026
0
I Gusti Ngurah Rai di Atas Panggung Marga Fest II : Perang yang Dramatis dan Tragis dalam Balutan Teater Tari

“Dini lade Pak Ngurah Rai nginep ajak pasukanne. Likangi ada, dini ada. Kak sing nawang, nak teka peteng. Di kenkenne,...

Read moreDetails

Peed Aya PKB 2026 Dirancang Tampil Lebih Dinamis Sebagai Pertunjukan Seni Berjalan

by Nyoman Budarsana
June 8, 2026
0
Spesies Bapak Pongah | Etnosentris di Parade PKB 2022

PEED Aya atau Pawai Budaya dalam rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII tahun 2026 akan hadir dengan wajah baru yang...

Read moreDetails

Warna-warni Layang-layang di Atas Laut Peninsula Island —Cerita dari ‘World Ocean Day’ dan ‘Coral Triangle Day 2026’ di Nusa Dua

by Nyoman Budarsana
June 7, 2026
0
Warna-warni Layang-layang di Atas Laut Peninsula Island —Cerita dari ‘World Ocean Day’ dan ‘Coral Triangle Day 2026’ di Nusa Dua

LANGIT biru di atas pantai dan laut, di daerah Peninsula Island, Nusa Dua, Bali, dipenuhi warna-warni layang-layang yang menari mengikuti...

Read moreDetails

‘Temurun Warsa’, Tradisi Mendak Hujan di Desa Adat Pecatu yang Menjelma dalam Tabuh Kreasi Baleganjur

by Dede Putra Wiguna
June 6, 2026
0
‘Temurun Warsa’, Tradisi Mendak Hujan di Desa Adat Pecatu yang Menjelma dalam Tabuh Kreasi Baleganjur

DI Desa Adat Pecatu, hujan tidak hanya dimaknai sebagai peristiwa alam. Ia adalah harapan, doa, sekaligus sumber kehidupan yang dinantikan...

Read moreDetails

‘Madedari’ Karya Putu Ayu Kartika Dewi: Menafsir Jejak ‘Dedari’ dalam Tari Kreasi yang Kontemplatif

by Dede Putra Wiguna
June 5, 2026
0
‘Madedari’ Karya Putu Ayu Kartika Dewi: Menafsir Jejak ‘Dedari’ dalam Tari Kreasi yang Kontemplatif

CAHAYA panggung perlahan meredup. Alunan musik mengalir lembut, mengisi ruang Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, yang malam itu...

Read moreDetails

‘Samagama’, Tabuh Kreasi Inovatif dari Gung Lanang yang Menyuarakan Semangat Tradisi Ngusaba Desa di Menanga, Karangasem

by Dede Putra Wiguna
June 5, 2026
0
‘Samagama’, Tabuh Kreasi Inovatif dari Gung Lanang yang Menyuarakan Semangat Tradisi Ngusaba Desa di Menanga, Karangasem

SUASANA Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, malam itu terasa berbeda ketika denting pertama gamelan Selonding mulai mengalun dari...

Read moreDetails

‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat

by Dede Putra Wiguna
June 4, 2026
0
‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat

SOROT lampu panggung perlahan menghangatkan Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, Sabtu malam, 30 Mei 2026. Setelah denting gamelan...

Read moreDetails

‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
0
‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir...

Read moreDetails

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
0
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus...

Read moreDetails
Next Post
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa ---Cerita Desa Kedisan Berbenah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Prasasti Keluar dari Kamus Arkeologi
Bahasa

Ketika Prasasti Keluar dari Kamus Arkeologi

SEJAK kapan sebuah kata harus tunduk pada makna yang kaku? Padahal, di tengah masyarakat, makna kata itu justru tumbuh dan...

by I Made Sudiana
June 13, 2026
‘Brown Sugar’ dari The Rolling Stones dan Ingatan Perbudakan
Ulas Musik

‘Brown Sugar’ dari The Rolling Stones dan Ingatan Perbudakan

MUSIK populer kerap dipahami sebagai hiburan ringan, namun sejarah menunjukkan bahwa ia sering kali menjadi medium artikulasi pengalaman sosial yang...

by Ahmad Sihabudin
June 13, 2026
Bung Karno dalam Puisi   
Esai

Bung Karno dalam Puisi   

BUNG Karno adalah presiden Indonesia yang memiliki cita rasa seni yang tinggi. Dari 8 PresidenIndonesia,Bung Karno, Abdul Rachman Wahid (Gus...

by I Nyoman Tingkat
June 13, 2026
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan
Esai

Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

SAYA menulis ini bukan hanya untuk diri saya sendiri, tetapi untuk banyak seniman yang mungkin merasakan hal yang sama. Mereka...

by Ahmad Prasetya Hady
June 12, 2026
Storynomics Tourism Berbasis Kearifan Lokal —Catatan dari PkM Undiksha di Komunitas Wanayana Kayoman dan Sekolah Adat Manik Empul, Desa Pedawa
Pendidikan

Storynomics Tourism Berbasis Kearifan Lokal —Catatan dari PkM Undiksha di Komunitas Wanayana Kayoman dan Sekolah Adat Manik Empul, Desa Pedawa

DESA Pedawa di Kecamatan banjar, Buleleng, yang dikenal dengan adat dan budaya yang unik kembali menjadi tujuan pengabdian akademik. Pada...

by tatkala
June 12, 2026
OSIS dan MPK SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Gelar Bakti Sosial di Yayasan Bali Baby Home dan Yayasan Sayangi Bali
Pendidikan

OSIS dan MPK SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Gelar Bakti Sosial di Yayasan Bali Baby Home dan Yayasan Sayangi Bali

Hari itu, Kamis, 11 Juni 2026, para siswa yang tergabung dalam OSIS dan MPK (Majelis Perwakilan Kelas) SMK Kesehatan Bali...

by Dede Putra Wiguna
June 12, 2026
Orang yang Hadir Kok Diminta Absen?
Bahasa

Orang yang Hadir Kok Diminta Absen?

DALAM kehidupan sehari-hari, kata "absen" sangat akrab digunakan oleh masyarakat. Di sekolah, guru sering mengatakan, "Ayo, sebelum belajar kita absen...

by Ni Wayan Suwini
June 12, 2026
Bali Lupa Menyembuhkan Dirinya Sendiri
Esai

Bali Lupa Menyembuhkan Dirinya Sendiri

SUATU pagi di Ubud, seorang wisatawan asing duduk bersila di atas matras yoga. Ia memejamkan mata. Di hadapannya terbentang hamparan...

by Angga Wijaya
June 11, 2026
Beach Cleaning di Pantai Mertasari, Aksi Peduli Lingkungan Mahasiswa Fakultas Vokasi IPB Internasional
Lingkungan

Beach Cleaning di Pantai Mertasari, Aksi Peduli Lingkungan Mahasiswa Fakultas Vokasi IPB Internasional

KOMITMEN dalam menjaga kelestarian lingkungan terus ditunjukkan oleh Fakultas Vokasi Institut Pariwisata dan Bisnis Internasional (IPB Internasional). Melalui Program Studi...

by Ni Luh Gde Sari Dewi Astuti
June 11, 2026
Dua Malam di Banyuwangi dan Ingatan Sepintas Lalu —Catatan Perjalanan Studi Komparasi Dinas Kominfosanti Buleleng
Tualang

Dua Malam di Banyuwangi dan Ingatan Sepintas Lalu —Catatan Perjalanan Studi Komparasi Dinas Kominfosanti Buleleng

DARI balik kaca bus berkapasitas empat puluh lima kursi saya melihat malam hari di Banyuwangi, Jawa Timur, cukup gemerlap. Lampu-lampu...

by Wahyu Mahaputra
June 11, 2026
Tempe dan Ekonomi yang Teriris
Esai

Tempe dan Ekonomi yang Teriris

DI atas meja makan rumah tangga Indonesia, tempe bukan sekadar lauk pendamping yang hadir sebagai pelengkap nasi. Melainkan pilar ketahanan...

by Dodik Suprayogi
June 11, 2026
Fiksi

Diikuti Makhluk Gaib Seusai Piknik

BERWISATA atau piknik ke Bali adalah dambaan banyak siswa sekolah. Pulau ini sudah dikenal di seluruh dunia. Bahkan banyak masyarakat...

by Chusmeru
June 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co