DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang masih asli, semua ini sudah jadi daya tarik alami. Tapi masalahnya, pariwisata sekarang sudah berubah. Wisatawan tidak lagi datang cuma untuk bermalam dan foto-foto. Mereka mulai cari pengalaman. Mereka ingin merasa “tinggal” di desa, bukan sekadar mampir.
Di titik ini, pelatihan akomodasi jadi penting, dan menariknya, hal ini mulai disentuh lewat kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang diinisiasi oleh Fakultas Vokasi melalui Program Studi D3 Perhotelan, Institut Pariwisata dan Bisnis Internasional, Denpasar. Jadi bukan sekadar datang, memberi materi, lalu selesai. Tapi benar – benar mendampingi warga, melihat langsung kondisi homestay, dan bermasa mencari cara supaya pengalaman tamu bisa lebih berkesan tanpa menghilangkan identitas lokal. Yang penting dipahami, pelatihan ini bukan buat mengubah homestay jadi hotel. Justru sebaliknya.
Daya tarik Kedisan itu ada di kesederhanaannya. Tinggal bagaimana hal-hal sederhana itu “dipoles” sedikit supaya terasa lebih nyaman dan berkesan. Mulai dari cara menyambut tamu dengan hangat, menjaga kamar tetap bersih dan rapi, sampai bisa cerita santai tentang kehidupan desa, kelihatannya sepele, tapi dampaknya besar.
Menariknya, dalam beberapa kegiatan pengabdian kepada masyarakat, pelatihan tidak hanya fokus pada pengelolaan kamar, tetapi juga mulai menyentuh aspek kuliner sederhana berbasis bahan lokal. Misalnya, bagaimana mengolah kopi lokal Kintamani, membuat minuman herbal tradisional, atau menyajikan camilan khas desa dengan tampilan yang lebih menarik.
Ini bukan sekadar soal “masak”, tetapi bagaimana menjadikan makanan dan minuman sebagai bagian dari pengalaman menginap. Wisatawan seringkali justru lebih mengingat sarapan sederhana dengan bahan lokal dibanding menu standar hotel. Di sinilah nilai dari Gastronomy Tourism mulai terasa, bahwa rasa, cerita, dan bahan lokal bisa jadi daya tarik utama.

Selain itu, pelatihan juga mulai mengarah pada bagaimana memberikan service excellent yang sederhana tapi berkesan. Bukan layanan formal yang kaku, tetapi pelayanan yang tulus, responsif, dan personal. Misalnya, menyapa tamu dengan nama, membantu memberikan rekomendasi aktivitas lokal, atau sekadar memastikan tamu merasa “dianggap ada”. Dalam banyak studi pariwisata, kualitas interaksi seperti ini justru lebih berpengaruh dibanding fasilitas mewah. Faktanya, banyak pelaku homestay di desa wisata sebenarnya sudah punya potensi, tapi belum punya cukup akses ke pengetahuan dan pendampingan. Mereka mau berkembang, tapi sering bingung mulai dari mana. Di sinilah pengabdianmasyarakat jadi “jembatan”.

Pelatihan bukan cuma ngajarin teknis, tapi juga mengubah cara pandang, bahwa menerima tamu itu bukan sekadar menyewakan kamar, tapi menghadirkan pengalaman.
Yang tidak kalah penting, pelatihan ini juga membantu desa tetap jadi “dirinya sendiri”. Kedisan tidak perlu berubah jadi destinasi yang seragam seperti tempat lain. Justru kekuatannya ada di keaslian itu. Tinggal bagaimana keaslian tersebut dikemas dengan cara yang lebih relevan dengan ekspektasi wisatawan sekarang. Dalam perspektif Cultural Tourism, ini adalah kunci menjaga daya tarik tanpa kehilangan identitas.
Akhirnya, pertanyaannya sederhana: kalau wisatawan datang ke Kedisan, mereka cuma dapat tempat tidur… atau pulang dengan cerita? [T]






























