24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

I Nyoman Tingkat by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
in Tualang
Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

Barang oleh-oleh dari Baduy Luar

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami pedesaan juga merasakan nafas kemajuan sebagai daerah wisata berbasis desa adat. Secara toponomi, Baduy itu ada dua, yaitu Baduy Dalam dan Baduy Luar. Mereka menempati wilayah pedalaman Pegunungan Kendeng , Desa Kanekes. Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Suku Baduy secara historis adalah bagian dari Suku Sunda dengan kepercayaan Sunda Wiwitan.

 Berdasarkan informasi orang-orang yang pernah berkunjung dan menginap di Baduy Dalam, terdapat perbedaan yang tegas dengan Baduy Luar. Walaupun Baduy Luar dan Baduy Dalam  berada dalam satu desa adat,   Desa Kanekes, karakteristik keduanya sangat kontras. Baduy Luar sesuai dengan namanya relatif terbuka  menerima perubahan walaupun adat istiadat masih  dijaga sangat ketat. Mirip dengan Desa Tenganan Pagringsingan Karangasem atau Panglipuran Bangli.

Kedua desa adat di Bali ini juga terbuka terhadap kehadiran orang luar (wisatawan) tetapi ketat menjaga tradisi dan budayanya. Sebagai sesama desa wisata, baik Baduy Luar, Tenganan Pagringsingan, dan Panglipuran dikelola berbasis adat secara santun. Nilai-nilai sapta pesona diimani oleh pengelolanya. Jika ada wisatawan mau menginap, dilayani di rumah masing-masing. Pariwisata berbasis masyarakat hidup dalam laku keseharian. Bukan slogan kosong dalam baliho yang menyisakan sampah komunikasi. Mengganggu alam semesta raya.

Selamat Datang di Ciboleger gerbang masuk ke Desa Kanekes Baduy Luar

Berbeda dengan desa-desa wisata lainnya yang terbuka nyaris kebablasan, wisatawan selalu diuntit oleh pedagang acung bahkan membuat ketidaknyamanan. Tidak demikian dengan Baduy Luar, Tenganan Pagringsingan, dan Panglipuran. Di tiga desa itu, Trihita Karana diimani dan dibatinkan, walaupun mungkin Trihita Karana sebagai istilah tidak dikenal di Baduy. Namun, nyata dan tegas masyarakat adat Baduy Luar  lebih-lebih Baduy Dalam menolak  menyiksa alam. Itu pula sebabnya, Suku Baduy Dalam mengisolasi dari kemajuan dan perubahan. Listrik, PDAM, HP, Sekolah tidak diterima di Baduy Dalam. Mereka benar-benar alami dan terisolasi tetapi menyimpan peradaban adiluhung dan adiluhur. 

Anehnya, di Baduy Luar, walaupun tidak berpendidikan formal dalam arti menuntut ilmu di sekolah formal, warganya cerdas-cerdas. Mereka belajar secara otodidak dengan kesadaran sendiri menerima pembelajaran dari siapa saja. Itu pula sebabnya, walaupun mengaku buta huruf, mereka sangat fasih menggunakan media sosial dengan berbagai platform. Bahkan mereka menjajakan dan mempromosikan hasil kerajinan tenun, kopi, dan golok secara on line. Di Bali tempo dooeloe, banyak orang tak bersekolah secara formal, tetapi mahir nyastra, melebihi anak tamatan sekolah formal. Pun mereka berkesenian secara otodidak dari guru yang melanglangbuana dari desa ke desa.

Pada awalnya mereka saling terhubung, lama-kelamaan mereka yang sefrekuensi membentuk jangkar persahabatan dalam komunitas seni  sekaa sebunan berbasis banjar. Seni tabuh dan seni tari pun diturunkan, lalu diabadikan. Begitulah seni diturunkan dan dikembangkan sampai kini. Nilai-nilai agama (tatwa) dibumikan. Etika dikedepankan. Ritusnya sederhana dilakukan dengan lascarya. Tidak seperti sekarang, ritus besar digelar berbiaya besar. Hasilnya tidak seimbang dengan biaya yang dikeluarkan. Bahkan, yadnya seakan menjadi proyek.

Jika Bali kini menjadi etalase pariwisata Indonesia tentu sangat beralasan. Orang asing lebih mengenal Bali ketimbang Indonsia. “Indonesia, di sebelah mana Bali?”, begitu konon pertanyaan para bule kepada orang Indonesia. Artinya, popularitas Bali melampaui popularitas Indonesia. Maka, Indonesia (baca : Jakarta) sudah semestinya menjadikan Bali sebagai episentrum glo-BALI-sasi. Bali tidak ditelanjangi sebagaimana layaknya gadis cantik lalu dipreteli semua asesorisnya demi meraup devisa. Mestinya, Bali mendapat hasil bagi yang proporsional sebagaimana disampaikan oleh Gubernur Bali, Wayan Koster. Legislator dan DPD Bali mesti bersatu memperjuangkan Bali untuk kesejahteraan masyarakatnya.

Barang kerajinan Baduy Luar yang khas

Bagaimana nasib Baduy Luar yang menjadi etalase pariwisata bagi Provinsi Banten? Dari segi budaya, ketertutupan masyarakat Baduy Luar menerima Pendidikan formal tampaknya sulit ditelanjangi pihak luar. Ajeg Budaya Baduy Luar tampaknya bukanlah wacana yang dislogankan, tetapi dinyatakan dalam laku tindak. Sebagai etalase budaya tradisional di Provinsi Banten, Baduy Luar menawarkan model pariwisata berbasis adat dengan mempromosikan produk hasil kerajinan tradisional termasuk hasil ternak lebah (madu), hasil kebun kopi (kopi kemasan) yang rasanya gurih, tenun kerajinan Baduy Luar yang memikat, dan golok yang mirip senjata khas Baduy.  Itulah hal pertama yang menjadi penguat kebertahanan budaya Baduy Luar.

Kedua, sebagai etalase menuju Baduy Dalam, pintu masuk menuju Baduy Luar adalah terminal Ciboleger. Di sini berdiri patung yang provokatif dengan ajakan ber-KB : dua anak cukup. Jelas ini pesan pembatasan jumlah anak : laki perempuan sama saja.  Dari sini, wisatawan bisa berjalan kaki dan bertongkat yang ditawarkan masyarakat setempat  secara humanis, jauh dari gaya pedagang acung yang kita temui di objek-objek wisata di Bali atau Yogyakarta.

Kesederhanaan dan kelugasan masyarakatnya menerima dan berkomunikasi dengan wisatawan adalah strategi pemasaran yang menjadi ciri pemerlain. Tidak perlu promosi dengan iklan berbayar, kehadiran wisatawan dengan minat khusus akan terpublikasikan secara lisan, dari mulut ke mulut. Seperti layaknya sastra lisan, proses transformasi terjadi bergantung pada pawang cerita membumbui.

Bersama keluarga Pak Jakim menjual barang kerajinan tenun, madu, golok, kopi Baduy

Ketiga, Sebagai etalase pariwisata budaya Banten, Baduy Luar tampaknya sudah siap mengembangkan diri berdasarkan nilai-nilai adat dan kearifan lokalnya. Nilai lokal itu antara lain Ucapan Selamat Datang di Saba Budaya Baduy  yang dipersembahkan oleh Krakatau Steel dengan slogan berbahasa Sunda :  ”Lojor Teu Beunang dipotong, pendek Teu Beunang disambung” artinya panjang tidak boleh dipotong, pendek tak boleh disambung. Sebuah filosofi hidup yang menerima keadaan apa adanya, tanpa dilebihkan pun tanpa dikurangi. Ajaran Ahimsa dari Mahatma Gandhi menemukan formatnya.  Begitu pula dalam menjaga alam. Rumahnya pun, semua memanfaatkan hasil alam sekitar.

Bentuk rumahnya berupa balai-balai dengan amben terbuka tempat menerima tetamu. Sementara itu, Pos Jaga Satpam yang disebut Saung Jaga dijaga dengan pakem adat. Piket ronda  malam juga terjadwal dengan memanfaatkan rumah penduduk sebagai posko.  Tanda masyarakat Baduy Luar sadar keamanan sebagai investasi pariwisata budaya.

Keempat, kemandirian  sandang, pangan, dan papan mencerminkan Baduy Luar sebagai etalase pariwisata yang berswasembada. Pandangan ini selaras dengan ajaran Mahatma Gandhi tentang swadeshi. Swadeshi adalah Gerakan menolak bantuan bangsa lain (orang lain) dengan mengoptimalkan kemampuan sendiri. Soekarno menyebut sebagai trisakti :  berdikari secara ekonomi, berkepribadian dalam kebudayaan, dan berdaulat secara politik. Prinsif Trisakti Bung Karno tampaknya diimani Suku Baduy baik oleh Baduy Luar maupun Baduy Dalam.

Barang kerajinan Baduy Luar yang khas

Mencermati peluang pola kebertahanan budaya Baduy Luar dan Baduy Dalam, tampaknya Program study tiru pejabat negeri ini seyogyanya kembali ke dalam negeri. Sambil belajar memahami budaya antardaerah yang tampaknya berbeda-beda tetapi satu tujuan : memartabatkan dan memuliakan Indonesia berdasarkan Pancasila.

Pancasila yang diakui oleh Soekarno digali dari persada Nusantara yang 350 tahun terpendam. Memuliakan budaya lokal dengan kearifannya adalah cara sederhana kita ber-Pancasila hari ini. Momentum Bulan Bung Karno sepanjang Juni setiap tahun adalah apresiasi terhadap pencapaian pendiri Bangsa dengan slogan Jasmerah (jangan sekali-kali meninggalkan sejarah). Salam Budaya! [T]

Tags: pariwisata provinsi bantenProvinsi BantenSuku BaduySuku Baduy Luar
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa

Next Post

Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

I Nyoman Tingkat

I Nyoman Tingkat

Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali

Related Posts

Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

by Ahmad Sihabudin
October 12, 2026
0
Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

SUDAH cukup lama saya ingin menuliskan kembali tiga kali perjalanan saya ke Ambon, Maluku. Setiap perjalanan memiliki tujuan yang berbeda....

Read moreDetails

Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

by I Putu Ardiyasa
September 30, 2026
0
Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

SAYA datang ke Toyooka dengan niat yang sederhana: mengikuti Intersecting Peripheries dan melihat bagaimana sebuah festival teater bekerja di sebuah...

Read moreDetails

Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

by Ahmad Sihabudin
September 28, 2026
0
Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

SUDAH cukup lama sebenarnya kami ingin berjalan-jalan di kawasan Royal Baroe, Kota Serang, Provinsi Banten. Bukan untuk mencari sesuatu yang...

Read moreDetails

Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

by Ahmad Sihabudin
September 7, 2026
0
Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

ADA tempat yang awalnya kita kenal hanya sebagai pusat pemerintahan, tetapi ternyata memiliki wajah lain yang lebih dekat dengan kehidupan...

Read moreDetails

Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

by Dewa Ayu Windu
August 31, 2026
0
Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

GEMERICIK air Sungai Pakerisan terdengar bak nada alam yang konstan, membelah kesunyian lembah di Desa Adat Penaka, Tampaksiring, Gianyar, Bali....

Read moreDetails

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
0
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

Read moreDetails

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
0
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

Read moreDetails

“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

by Luh Putu Sendratari
August 18, 2026
0
“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

SABTU, 15 Agustus 2026 tanpa direncanakan sebelumnya saya ada di Desa Bengkala. Bersama teman2 dari Universitas Pancasila (Dr Kunthi Tridewiyanti,...

Read moreDetails

Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

by I Nyoman Tingkat
August 16, 2026
0
Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

PEMILIHAN Duta SMA Tingkat Nasional Tahun 2026 dipusatkan di Kota Yogyakarta tepatnya di Indoluxe Hotel sebagai tempat belajar di kelas....

Read moreDetails

Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

by Laurensia Junita Della
August 15, 2026
0
Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

Ada kalanya rutinitas yang padat membuat kita ingin sejenak menjauh dari hiruk-pikuk kehidupan. Di tengah kesibukan yang seolah tidak ada...

Read moreDetails
Next Post
Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co