SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami pedesaan juga merasakan nafas kemajuan sebagai daerah wisata berbasis desa adat. Secara toponomi, Baduy itu ada dua, yaitu Baduy Dalam dan Baduy Luar. Mereka menempati wilayah pedalaman Pegunungan Kendeng , Desa Kanekes. Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Suku Baduy secara historis adalah bagian dari Suku Sunda dengan kepercayaan Sunda Wiwitan.
Berdasarkan informasi orang-orang yang pernah berkunjung dan menginap di Baduy Dalam, terdapat perbedaan yang tegas dengan Baduy Luar. Walaupun Baduy Luar dan Baduy Dalam berada dalam satu desa adat, Desa Kanekes, karakteristik keduanya sangat kontras. Baduy Luar sesuai dengan namanya relatif terbuka menerima perubahan walaupun adat istiadat masih dijaga sangat ketat. Mirip dengan Desa Tenganan Pagringsingan Karangasem atau Panglipuran Bangli.
Kedua desa adat di Bali ini juga terbuka terhadap kehadiran orang luar (wisatawan) tetapi ketat menjaga tradisi dan budayanya. Sebagai sesama desa wisata, baik Baduy Luar, Tenganan Pagringsingan, dan Panglipuran dikelola berbasis adat secara santun. Nilai-nilai sapta pesona diimani oleh pengelolanya. Jika ada wisatawan mau menginap, dilayani di rumah masing-masing. Pariwisata berbasis masyarakat hidup dalam laku keseharian. Bukan slogan kosong dalam baliho yang menyisakan sampah komunikasi. Mengganggu alam semesta raya.

Berbeda dengan desa-desa wisata lainnya yang terbuka nyaris kebablasan, wisatawan selalu diuntit oleh pedagang acung bahkan membuat ketidaknyamanan. Tidak demikian dengan Baduy Luar, Tenganan Pagringsingan, dan Panglipuran. Di tiga desa itu, Trihita Karana diimani dan dibatinkan, walaupun mungkin Trihita Karana sebagai istilah tidak dikenal di Baduy. Namun, nyata dan tegas masyarakat adat Baduy Luar lebih-lebih Baduy Dalam menolak menyiksa alam. Itu pula sebabnya, Suku Baduy Dalam mengisolasi dari kemajuan dan perubahan. Listrik, PDAM, HP, Sekolah tidak diterima di Baduy Dalam. Mereka benar-benar alami dan terisolasi tetapi menyimpan peradaban adiluhung dan adiluhur.
Anehnya, di Baduy Luar, walaupun tidak berpendidikan formal dalam arti menuntut ilmu di sekolah formal, warganya cerdas-cerdas. Mereka belajar secara otodidak dengan kesadaran sendiri menerima pembelajaran dari siapa saja. Itu pula sebabnya, walaupun mengaku buta huruf, mereka sangat fasih menggunakan media sosial dengan berbagai platform. Bahkan mereka menjajakan dan mempromosikan hasil kerajinan tenun, kopi, dan golok secara on line. Di Bali tempo dooeloe, banyak orang tak bersekolah secara formal, tetapi mahir nyastra, melebihi anak tamatan sekolah formal. Pun mereka berkesenian secara otodidak dari guru yang melanglangbuana dari desa ke desa.
Pada awalnya mereka saling terhubung, lama-kelamaan mereka yang sefrekuensi membentuk jangkar persahabatan dalam komunitas seni sekaa sebunan berbasis banjar. Seni tabuh dan seni tari pun diturunkan, lalu diabadikan. Begitulah seni diturunkan dan dikembangkan sampai kini. Nilai-nilai agama (tatwa) dibumikan. Etika dikedepankan. Ritusnya sederhana dilakukan dengan lascarya. Tidak seperti sekarang, ritus besar digelar berbiaya besar. Hasilnya tidak seimbang dengan biaya yang dikeluarkan. Bahkan, yadnya seakan menjadi proyek.
Jika Bali kini menjadi etalase pariwisata Indonesia tentu sangat beralasan. Orang asing lebih mengenal Bali ketimbang Indonsia. “Indonesia, di sebelah mana Bali?”, begitu konon pertanyaan para bule kepada orang Indonesia. Artinya, popularitas Bali melampaui popularitas Indonesia. Maka, Indonesia (baca : Jakarta) sudah semestinya menjadikan Bali sebagai episentrum glo-BALI-sasi. Bali tidak ditelanjangi sebagaimana layaknya gadis cantik lalu dipreteli semua asesorisnya demi meraup devisa. Mestinya, Bali mendapat hasil bagi yang proporsional sebagaimana disampaikan oleh Gubernur Bali, Wayan Koster. Legislator dan DPD Bali mesti bersatu memperjuangkan Bali untuk kesejahteraan masyarakatnya.


Bagaimana nasib Baduy Luar yang menjadi etalase pariwisata bagi Provinsi Banten? Dari segi budaya, ketertutupan masyarakat Baduy Luar menerima Pendidikan formal tampaknya sulit ditelanjangi pihak luar. Ajeg Budaya Baduy Luar tampaknya bukanlah wacana yang dislogankan, tetapi dinyatakan dalam laku tindak. Sebagai etalase budaya tradisional di Provinsi Banten, Baduy Luar menawarkan model pariwisata berbasis adat dengan mempromosikan produk hasil kerajinan tradisional termasuk hasil ternak lebah (madu), hasil kebun kopi (kopi kemasan) yang rasanya gurih, tenun kerajinan Baduy Luar yang memikat, dan golok yang mirip senjata khas Baduy. Itulah hal pertama yang menjadi penguat kebertahanan budaya Baduy Luar.
Kedua, sebagai etalase menuju Baduy Dalam, pintu masuk menuju Baduy Luar adalah terminal Ciboleger. Di sini berdiri patung yang provokatif dengan ajakan ber-KB : dua anak cukup. Jelas ini pesan pembatasan jumlah anak : laki perempuan sama saja. Dari sini, wisatawan bisa berjalan kaki dan bertongkat yang ditawarkan masyarakat setempat secara humanis, jauh dari gaya pedagang acung yang kita temui di objek-objek wisata di Bali atau Yogyakarta.
Kesederhanaan dan kelugasan masyarakatnya menerima dan berkomunikasi dengan wisatawan adalah strategi pemasaran yang menjadi ciri pemerlain. Tidak perlu promosi dengan iklan berbayar, kehadiran wisatawan dengan minat khusus akan terpublikasikan secara lisan, dari mulut ke mulut. Seperti layaknya sastra lisan, proses transformasi terjadi bergantung pada pawang cerita membumbui.

Ketiga, Sebagai etalase pariwisata budaya Banten, Baduy Luar tampaknya sudah siap mengembangkan diri berdasarkan nilai-nilai adat dan kearifan lokalnya. Nilai lokal itu antara lain Ucapan Selamat Datang di Saba Budaya Baduy yang dipersembahkan oleh Krakatau Steel dengan slogan berbahasa Sunda : ”Lojor Teu Beunang dipotong, pendek Teu Beunang disambung” artinya panjang tidak boleh dipotong, pendek tak boleh disambung. Sebuah filosofi hidup yang menerima keadaan apa adanya, tanpa dilebihkan pun tanpa dikurangi. Ajaran Ahimsa dari Mahatma Gandhi menemukan formatnya. Begitu pula dalam menjaga alam. Rumahnya pun, semua memanfaatkan hasil alam sekitar.
Bentuk rumahnya berupa balai-balai dengan amben terbuka tempat menerima tetamu. Sementara itu, Pos Jaga Satpam yang disebut Saung Jaga dijaga dengan pakem adat. Piket ronda malam juga terjadwal dengan memanfaatkan rumah penduduk sebagai posko. Tanda masyarakat Baduy Luar sadar keamanan sebagai investasi pariwisata budaya.
Keempat, kemandirian sandang, pangan, dan papan mencerminkan Baduy Luar sebagai etalase pariwisata yang berswasembada. Pandangan ini selaras dengan ajaran Mahatma Gandhi tentang swadeshi. Swadeshi adalah Gerakan menolak bantuan bangsa lain (orang lain) dengan mengoptimalkan kemampuan sendiri. Soekarno menyebut sebagai trisakti : berdikari secara ekonomi, berkepribadian dalam kebudayaan, dan berdaulat secara politik. Prinsif Trisakti Bung Karno tampaknya diimani Suku Baduy baik oleh Baduy Luar maupun Baduy Dalam.


Mencermati peluang pola kebertahanan budaya Baduy Luar dan Baduy Dalam, tampaknya Program study tiru pejabat negeri ini seyogyanya kembali ke dalam negeri. Sambil belajar memahami budaya antardaerah yang tampaknya berbeda-beda tetapi satu tujuan : memartabatkan dan memuliakan Indonesia berdasarkan Pancasila.
Pancasila yang diakui oleh Soekarno digali dari persada Nusantara yang 350 tahun terpendam. Memuliakan budaya lokal dengan kearifannya adalah cara sederhana kita ber-Pancasila hari ini. Momentum Bulan Bung Karno sepanjang Juni setiap tahun adalah apresiasi terhadap pencapaian pendiri Bangsa dengan slogan Jasmerah (jangan sekali-kali meninggalkan sejarah). Salam Budaya! [T]





























