22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Refleksi Study Tiru ke Baduy Luar 

I Nyoman Tingkat by I Nyoman Tingkat
May 27, 2026
in Tualang
Refleksi Study Tiru ke Baduy Luar 

Rombongan menyerbu warung di Cibungur sekitar 20 km dari Baduy Luar

PROGRAM Study Tiru selama tiga hari bersama Panglingsir/Bandesa Adat se-Badung dengan tujuan utama ke Baduy Luar pada Kamis Umanis Gumbreg, 14 Mei 2026 sampai  Sabtu Pon Gumbreg, 16 Mei 2026 secara umum berjalan lancar.  Pesawat Citylink yang memberangkatkan rombongan dari Bandara Ngurah Rai Denpasar menuju Bandara Soekarno – Hatta di Cengkareng juga lancar tanpa turbulensi. Sepanjang penerbangan cuaca cerah. Wajah para rombongan juga tampak sumringah sampai turun pesawat di Jakarta.

Di halte penjemputan bus, rombongan pakrimik antara lain karena lama menunggu lagi pula panas. Di Bus saya misalnya, ada operan penumpang yang jumlahnya melebihi kapasitas. Lalu, mereka kembali turun mencari bus yang kosong. Sore itu, Jakarta seperti sayong walaupun tidak ada hujan. Susah menemukan langit biru di Jakarta walaupun musim kemarau. Itu efek dari banyaknya bangunan pencakar langit dan terkonsentrasinya pabrik-pabrik industri yang membuat polusi menjadi keseharian ibu kota. Ibu tiri memang kejam, tetapi tidak melebihi kejamnya ibu kota. Di Ibu Kota kesenjangan tampak kasat mata. Bersebelahan dengan gedung pencakar langit, gubuk reot menjadi antithesis. Orang paling kaya ada di ibu kota, orang paling miskin juga. Gde Prama pernah berujar, “Seterang cahaya sama dengan segelap cahaya. Amen apa jeleke, amonto luuange”

 Edo Narayana sang tour leader paling awal minta maaf ketika memandu para panglingsir Desa Adat. Dengan komunikasi yang elegan, ia mencairkan suasana. Ketegangan pun menjadi tenang seketika. Tujuan pertama di Jakarta menuju Pura Aditya Jaya Rawamangun Jakarta Timur. Pakrimik kembali muncul. “Kenapa tidak ke hotel dulu, baru ke Pura sembahyang. Mandi dulu ke hotel, berganti pakaian. Badan segar. Sembahyang jadi nyaman. Tidak tergesa-gesa”, cetetuk seorang panglingsir yang awalnya menggunakan celana panjang dan senteng saja, lalu bergegas ke bus mengenakan pakaian adat madya.

Namun demikian, sambil menunggu Ibu-ibu yang berganti pakaian, kaum lelaki secara umum cepat berganti pakaian. Bahkan beberapa di antara mereka sempat menikmati tipat cantok, rujak,   dan kopi di kantin di Jaba Pura Aditya Jaya Rawangun. Lumayan menghilangkan kantuk dan menahan lapar menjelang sandikala. Persembahyangan berlangsung khusuk di antara deru suara kendaraan yang lalu-lalang di sekitar Pura tertua di Jakarta. Inilah uniknya umat Hindu, hening dalam keramaian. Bahkan ketika Melasti di pantai, turis berbikini pun tidak merobohkan keheningan sembahyang. Dalam pendekatan pembelajaran ini disebut pembelajaran mendalam (deep learning approach) yang sedang dikembangkan di sekolah-sekolah.

Mampir di Pos Ronda Desa Kanekes

Keheningan selama sembahyang di Utama Mandala Pura Aditya Jaya Rawamangun makin menemukan titik kulminasi saat makan malam bersama di Wantilan Jaba Pura yang representatif.             Masakannya khas Bali. Ada kuah ares ayam lengkap dengan satenya. Tersedia babi kecap.  Kerupuk tidak ketinggalan. Lahap semua sang penikmat. Bahkan, saya nambah dengan minta izin kepada Panglingsir MDA Badung. “Mo joo, sing kenken. Iraga ngelah”, begitu Patajuh MDA Badung, I Nyoman Sujapa.

Penyedia makanan memang pangemong Pura Aditya Jaya Rawamangun Jakarta Timur. Mereka melayani kami sepenuh hati. Ikhlas sesuai dengan konsep yadnya itu sendiri. Ini adalah manusa yadnya yang sebenarnya melayani umat dengan lancarya. Itu bila dilihat dari makna yadnya. Dilihat dari kaca mata Gerakan Swadeshi Mahatma Gandhi, fungsi pelayanan demikian mencitrakan kemandirian umat. Dilihat dari kaca mata pembelajaran, belajar dari dekat ke jauh. Dari ranah keluarga ke tetangga. Dari konkret di sini dan sekarang ke abstrak dan ke masa depan. Betapa indahnya. Pendidikan yang memperkuat jati diri lalu dielaborasi ke arah nasional dan global. Menerima kebangsaan sebagai semangat tidak menutup diri dari kesemestaan (globalisasi) asalkan bertumpu  pada kepribadian bangsa.

Begitulah makan bersama panglingsir krama Badung di Jaba Pura terasa manyama braya lintas provinsi. Tidak terasa ada sekat. Semua bebas beretika menikmati makanan. Ada yang duduk bersila di wantilan, ada pula yang duduk di taman. Tampak mereka santai menikmati kuliner Ibu Kota Jakarta rasa Bali. Sebagai mana di Bali orang beryadnya, biasanya ada kopi penundung. Kopi pun tersedia. Rasanya sesuai selera. Campur dan seduh sendiri. Di Jaba Pura Aditya Jaya Rawangun, saya menemukan kembali dapur kehidupan Bali di rantau. Nak rantau Bali yang tetap mem-Bali.

Nunas ica sampun. Makan malam dan ngopi bersama juga sudah. Jiwa lapar perlu pencerahan. Perut lapar perlu makanan. Keduanya didapat di Pura Aditya Jaya Rawamangun. Pura pertama di Ibu kota sejak 1972 telah membangunkan kesadaran kolektif umat Hindu di Jakarta hingga sekarang tersedia 15 Pura sebagai pilihan umat melaksanakan persembahyangan.

Selanjutnya, rombongan menuju hotel tempat menginap, The Tavia Heretage Hotel dengan persiapan ke Baduy Laur esok harinya, Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026. Pagi-pagi, pukul 07.00 siap-siap naik bus setelah sarapan di restoran hotel. Perjalanan jauh sampai-sampai tour leader Edo Narayana menyembunyikan waktu tempuh sembari memfasiltasi penumpang untuk berkaraoke ria sepanjang perjalanan dengan sesekali penumpang request tempat istirahat yang nyaman untuk melakukan ritus tubuh mencari kamar kecil strategis tapi tidak tragis.

Mendekati Baduy Luar, sampai di Desa Cibungur sekitar 20 km dari tujuan lokasi, bus menepi. Jalan tak bisa dilewati bus. Perbaikan jalan dengan teknik beton. Maka rombongan pun menyerbu warung dan rumah penduduk. Ada yang ngopi, ada yang ngobrol ke rumah penduduk, ada yang pergi ke semak-semak melakukan ritus tubuh pentas air seni. Berdialog dengan alam, sembari mohon izin. “Ngelang genah, ngelang galah” pada Gusti Allah mangda tan kacakra bawa. Begitulah orang Bali di tempat baru, kadang doanya tidak terpanjat secara verbal, tetapi selalu ning hati. Percaya bahwa Tuhan di hati masing-masing tetapi raga juga perlu refreshing, agar tidak pusing bikin pesing aroma tubuh.

Lalu rombongan pun pecah kongsi alat transpotasi menuju terminal Ciboleger, gerbang pertama memasuki Baduy Luar. Ada yang bertruk, ber-pick up, dan berojek. Saya bersama sejumlah panglingsir ikut naik pick up. Ada yang berdiri ada yang duduk sambil ngobrol ngalor-ngidul. Mengusir rasa takut. Jalanan menurun tanjakan pengkolan dengan alam pedesaan yang berhutan hijau kanan-kiri hanya sesekali tampak rumah penduduk. Benar-benar masih alami. Saya berdoa di hati. Tidak terasa sampai di terminal Ciboleger. Di terminal ini, sejumlah pengojek dan pedagang menawarkan jasa dan barang. Saya termasuk kena jebak dengan berojek  mengeluarkan kocek Rp 10.000,00. Teman yang lain mengeluarkan Rp 20.000,00. Artinya, di terminal Ciboleger dan terminal pada umumnya harga ojek tidak ada standarnya. Fenomena ini merusak citra jasa angkutan sekaligus merusak citra destinasi pariwisata Baduy Luar.

Makan siang bersama di rumah Pak Jarwo, Kepala Adat Kanekes Baduy Luar

Jika memperhatikan dengan seksama, Baduy Luar itu ibaratnya hallo efek untuk masuk Baduy Dalam yang konon sangat ketat dengan aturan adat. Bila masuk ke Baduy Dalam tidaklah mungkin dengan rombongan besar. Selain medannya relatif susah tanjakan bukit turunan lembah dengan suasana alam pedesaan yang alami hanya bisa ditempuh dengan jalan kaki. Penduduk setempat biasa berjalan berkilo-kilo tanpa sandal. Saya jadi ingat masa 1980-an di gumi Delod Ceking, Badung. Penduduk biasa berjalan berkilo-kilo tanpa sandal menahan haus dan lapar. Banyak yang blencongan (kelaparan) tak terberitakan karena akses informasi dan transportasi terbatas.

Begitu pula yang terasa ketika rombongan panglingsir Badung study tiru ke Baduy Luar merefleksikan beragama, beradat, berbudaya secara sederhana tetapi nekeng tuas. Tulus ikhlas sebagai landasan beritus. Beryadnya sederhana tampak di permukaan, tetapi mendalam secara spirit. Indikator keberhasilannya, selesai yadnya mereka tetap guyub pakedek pakenyung paras paros sarpa na ya. Salunglung sabayantaka. [T]

Tags: Badungdesa adatmasyarakat adatSuku BaduySuku Baduy Luar
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Rekonstruksi Hak Waris dalam Perkawinan Beda Agama: Perspektif Hukum Keluarga dan Agraria

Next Post

Ruang Publik [Semestinya] Menjadi Cermin Jiwa

I Nyoman Tingkat

I Nyoman Tingkat

Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali

Related Posts

Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

by Ahmad Sihabudin
October 12, 2026
0
Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

SUDAH cukup lama saya ingin menuliskan kembali tiga kali perjalanan saya ke Ambon, Maluku. Setiap perjalanan memiliki tujuan yang berbeda....

Read moreDetails

Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

by I Putu Ardiyasa
September 30, 2026
0
Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

SAYA datang ke Toyooka dengan niat yang sederhana: mengikuti Intersecting Peripheries dan melihat bagaimana sebuah festival teater bekerja di sebuah...

Read moreDetails

Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

by Ahmad Sihabudin
September 28, 2026
0
Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

SUDAH cukup lama sebenarnya kami ingin berjalan-jalan di kawasan Royal Baroe, Kota Serang, Provinsi Banten. Bukan untuk mencari sesuatu yang...

Read moreDetails

Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

by Ahmad Sihabudin
September 7, 2026
0
Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

ADA tempat yang awalnya kita kenal hanya sebagai pusat pemerintahan, tetapi ternyata memiliki wajah lain yang lebih dekat dengan kehidupan...

Read moreDetails

Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

by Dewa Ayu Windu
August 31, 2026
0
Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

GEMERICIK air Sungai Pakerisan terdengar bak nada alam yang konstan, membelah kesunyian lembah di Desa Adat Penaka, Tampaksiring, Gianyar, Bali....

Read moreDetails

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
0
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

Read moreDetails

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
0
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

Read moreDetails

“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

by Luh Putu Sendratari
August 18, 2026
0
“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

SABTU, 15 Agustus 2026 tanpa direncanakan sebelumnya saya ada di Desa Bengkala. Bersama teman2 dari Universitas Pancasila (Dr Kunthi Tridewiyanti,...

Read moreDetails

Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

by I Nyoman Tingkat
August 16, 2026
0
Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

PEMILIHAN Duta SMA Tingkat Nasional Tahun 2026 dipusatkan di Kota Yogyakarta tepatnya di Indoluxe Hotel sebagai tempat belajar di kelas....

Read moreDetails

Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

by Laurensia Junita Della
August 15, 2026
0
Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

Ada kalanya rutinitas yang padat membuat kita ingin sejenak menjauh dari hiruk-pikuk kehidupan. Di tengah kesibukan yang seolah tidak ada...

Read moreDetails
Next Post
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

Ruang Publik [Semestinya] Menjadi Cermin Jiwa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran
Bahasa

“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran

DUNIA kuliner di Bali saat ini sedang ramai-ramainya dengan berbagai pilihan olahan. Dari tradisi babi guling yang legendaris hingga tren...

by I Made Sudiana
October 19, 2026
Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional
Pendidikan

Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional

SINGARAJA | TATKALA.CO -- Kabar membanggakan datang dari dunia pendidikan teknologi di Kabupaten Buleleng. Langit Biru, siswa Timedoor Academy Singaraja,...

by Rusdy Ulu
October 19, 2026
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni
Esai

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co