7 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Refleksi Study Tiru ke Baduy Luar 

I Nyoman Tingkat by I Nyoman Tingkat
May 27, 2026
in Tualang
Refleksi Study Tiru ke Baduy Luar 

Rombongan menyerbu warung di Cibungur sekitar 20 km dari Baduy Luar

PROGRAM Study Tiru selama tiga hari bersama Panglingsir/Bandesa Adat se-Badung dengan tujuan utama ke Baduy Luar pada Kamis Umanis Gumbreg, 14 Mei 2026 sampai  Sabtu Pon Gumbreg, 16 Mei 2026 secara umum berjalan lancar.  Pesawat Citylink yang memberangkatkan rombongan dari Bandara Ngurah Rai Denpasar menuju Bandara Soekarno – Hatta di Cengkareng juga lancar tanpa turbulensi. Sepanjang penerbangan cuaca cerah. Wajah para rombongan juga tampak sumringah sampai turun pesawat di Jakarta.

Di halte penjemputan bus, rombongan pakrimik antara lain karena lama menunggu lagi pula panas. Di Bus saya misalnya, ada operan penumpang yang jumlahnya melebihi kapasitas. Lalu, mereka kembali turun mencari bus yang kosong. Sore itu, Jakarta seperti sayong walaupun tidak ada hujan. Susah menemukan langit biru di Jakarta walaupun musim kemarau. Itu efek dari banyaknya bangunan pencakar langit dan terkonsentrasinya pabrik-pabrik industri yang membuat polusi menjadi keseharian ibu kota. Ibu tiri memang kejam, tetapi tidak melebihi kejamnya ibu kota. Di Ibu Kota kesenjangan tampak kasat mata. Bersebelahan dengan gedung pencakar langit, gubuk reot menjadi antithesis. Orang paling kaya ada di ibu kota, orang paling miskin juga. Gde Prama pernah berujar, “Seterang cahaya sama dengan segelap cahaya. Amen apa jeleke, amonto luuange”

 Edo Narayana sang tour leader paling awal minta maaf ketika memandu para panglingsir Desa Adat. Dengan komunikasi yang elegan, ia mencairkan suasana. Ketegangan pun menjadi tenang seketika. Tujuan pertama di Jakarta menuju Pura Aditya Jaya Rawamangun Jakarta Timur. Pakrimik kembali muncul. “Kenapa tidak ke hotel dulu, baru ke Pura sembahyang. Mandi dulu ke hotel, berganti pakaian. Badan segar. Sembahyang jadi nyaman. Tidak tergesa-gesa”, cetetuk seorang panglingsir yang awalnya menggunakan celana panjang dan senteng saja, lalu bergegas ke bus mengenakan pakaian adat madya.

Namun demikian, sambil menunggu Ibu-ibu yang berganti pakaian, kaum lelaki secara umum cepat berganti pakaian. Bahkan beberapa di antara mereka sempat menikmati tipat cantok, rujak,   dan kopi di kantin di Jaba Pura Aditya Jaya Rawangun. Lumayan menghilangkan kantuk dan menahan lapar menjelang sandikala. Persembahyangan berlangsung khusuk di antara deru suara kendaraan yang lalu-lalang di sekitar Pura tertua di Jakarta. Inilah uniknya umat Hindu, hening dalam keramaian. Bahkan ketika Melasti di pantai, turis berbikini pun tidak merobohkan keheningan sembahyang. Dalam pendekatan pembelajaran ini disebut pembelajaran mendalam (deep learning approach) yang sedang dikembangkan di sekolah-sekolah.

Mampir di Pos Ronda Desa Kanekes

Keheningan selama sembahyang di Utama Mandala Pura Aditya Jaya Rawamangun makin menemukan titik kulminasi saat makan malam bersama di Wantilan Jaba Pura yang representatif.             Masakannya khas Bali. Ada kuah ares ayam lengkap dengan satenya. Tersedia babi kecap.  Kerupuk tidak ketinggalan. Lahap semua sang penikmat. Bahkan, saya nambah dengan minta izin kepada Panglingsir MDA Badung. “Mo joo, sing kenken. Iraga ngelah”, begitu Patajuh MDA Badung, I Nyoman Sujapa.

Penyedia makanan memang pangemong Pura Aditya Jaya Rawamangun Jakarta Timur. Mereka melayani kami sepenuh hati. Ikhlas sesuai dengan konsep yadnya itu sendiri. Ini adalah manusa yadnya yang sebenarnya melayani umat dengan lancarya. Itu bila dilihat dari makna yadnya. Dilihat dari kaca mata Gerakan Swadeshi Mahatma Gandhi, fungsi pelayanan demikian mencitrakan kemandirian umat. Dilihat dari kaca mata pembelajaran, belajar dari dekat ke jauh. Dari ranah keluarga ke tetangga. Dari konkret di sini dan sekarang ke abstrak dan ke masa depan. Betapa indahnya. Pendidikan yang memperkuat jati diri lalu dielaborasi ke arah nasional dan global. Menerima kebangsaan sebagai semangat tidak menutup diri dari kesemestaan (globalisasi) asalkan bertumpu  pada kepribadian bangsa.

Begitulah makan bersama panglingsir krama Badung di Jaba Pura terasa manyama braya lintas provinsi. Tidak terasa ada sekat. Semua bebas beretika menikmati makanan. Ada yang duduk bersila di wantilan, ada pula yang duduk di taman. Tampak mereka santai menikmati kuliner Ibu Kota Jakarta rasa Bali. Sebagai mana di Bali orang beryadnya, biasanya ada kopi penundung. Kopi pun tersedia. Rasanya sesuai selera. Campur dan seduh sendiri. Di Jaba Pura Aditya Jaya Rawangun, saya menemukan kembali dapur kehidupan Bali di rantau. Nak rantau Bali yang tetap mem-Bali.

Nunas ica sampun. Makan malam dan ngopi bersama juga sudah. Jiwa lapar perlu pencerahan. Perut lapar perlu makanan. Keduanya didapat di Pura Aditya Jaya Rawamangun. Pura pertama di Ibu kota sejak 1972 telah membangunkan kesadaran kolektif umat Hindu di Jakarta hingga sekarang tersedia 15 Pura sebagai pilihan umat melaksanakan persembahyangan.

Selanjutnya, rombongan menuju hotel tempat menginap, The Tavia Heretage Hotel dengan persiapan ke Baduy Laur esok harinya, Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026. Pagi-pagi, pukul 07.00 siap-siap naik bus setelah sarapan di restoran hotel. Perjalanan jauh sampai-sampai tour leader Edo Narayana menyembunyikan waktu tempuh sembari memfasiltasi penumpang untuk berkaraoke ria sepanjang perjalanan dengan sesekali penumpang request tempat istirahat yang nyaman untuk melakukan ritus tubuh mencari kamar kecil strategis tapi tidak tragis.

Mendekati Baduy Luar, sampai di Desa Cibungur sekitar 20 km dari tujuan lokasi, bus menepi. Jalan tak bisa dilewati bus. Perbaikan jalan dengan teknik beton. Maka rombongan pun menyerbu warung dan rumah penduduk. Ada yang ngopi, ada yang ngobrol ke rumah penduduk, ada yang pergi ke semak-semak melakukan ritus tubuh pentas air seni. Berdialog dengan alam, sembari mohon izin. “Ngelang genah, ngelang galah” pada Gusti Allah mangda tan kacakra bawa. Begitulah orang Bali di tempat baru, kadang doanya tidak terpanjat secara verbal, tetapi selalu ning hati. Percaya bahwa Tuhan di hati masing-masing tetapi raga juga perlu refreshing, agar tidak pusing bikin pesing aroma tubuh.

Lalu rombongan pun pecah kongsi alat transpotasi menuju terminal Ciboleger, gerbang pertama memasuki Baduy Luar. Ada yang bertruk, ber-pick up, dan berojek. Saya bersama sejumlah panglingsir ikut naik pick up. Ada yang berdiri ada yang duduk sambil ngobrol ngalor-ngidul. Mengusir rasa takut. Jalanan menurun tanjakan pengkolan dengan alam pedesaan yang berhutan hijau kanan-kiri hanya sesekali tampak rumah penduduk. Benar-benar masih alami. Saya berdoa di hati. Tidak terasa sampai di terminal Ciboleger. Di terminal ini, sejumlah pengojek dan pedagang menawarkan jasa dan barang. Saya termasuk kena jebak dengan berojek  mengeluarkan kocek Rp 10.000,00. Teman yang lain mengeluarkan Rp 20.000,00. Artinya, di terminal Ciboleger dan terminal pada umumnya harga ojek tidak ada standarnya. Fenomena ini merusak citra jasa angkutan sekaligus merusak citra destinasi pariwisata Baduy Luar.

Makan siang bersama di rumah Pak Jarwo, Kepala Adat Kanekes Baduy Luar

Jika memperhatikan dengan seksama, Baduy Luar itu ibaratnya hallo efek untuk masuk Baduy Dalam yang konon sangat ketat dengan aturan adat. Bila masuk ke Baduy Dalam tidaklah mungkin dengan rombongan besar. Selain medannya relatif susah tanjakan bukit turunan lembah dengan suasana alam pedesaan yang alami hanya bisa ditempuh dengan jalan kaki. Penduduk setempat biasa berjalan berkilo-kilo tanpa sandal. Saya jadi ingat masa 1980-an di gumi Delod Ceking, Badung. Penduduk biasa berjalan berkilo-kilo tanpa sandal menahan haus dan lapar. Banyak yang blencongan (kelaparan) tak terberitakan karena akses informasi dan transportasi terbatas.

Begitu pula yang terasa ketika rombongan panglingsir Badung study tiru ke Baduy Luar merefleksikan beragama, beradat, berbudaya secara sederhana tetapi nekeng tuas. Tulus ikhlas sebagai landasan beritus. Beryadnya sederhana tampak di permukaan, tetapi mendalam secara spirit. Indikator keberhasilannya, selesai yadnya mereka tetap guyub pakedek pakenyung paras paros sarpa na ya. Salunglung sabayantaka. [T]

Tags: Badungdesa adatmasyarakat adatSuku BaduySuku Baduy Luar
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Rekonstruksi Hak Waris dalam Perkawinan Beda Agama: Perspektif Hukum Keluarga dan Agraria

Next Post

Ruang Publik [Semestinya] Menjadi Cermin Jiwa

I Nyoman Tingkat

I Nyoman Tingkat

Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali

Related Posts

Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

by Made Wirya
June 21, 2026
0
Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

Saya sangat jarang bergaul dengan alumni apa pun. Dari sekian puluh undangan reuni sekolah, kedatangan saya bisa dihitung dengan jari....

Read moreDetails

Dua Malam di Banyuwangi dan Ingatan Sepintas Lalu —Catatan Perjalanan Studi Komparasi Dinas Kominfosanti Buleleng

by Wahyu Mahaputra
June 11, 2026
0
Dua Malam di Banyuwangi dan Ingatan Sepintas Lalu —Catatan Perjalanan Studi Komparasi Dinas Kominfosanti Buleleng

DARI balik kaca bus berkapasitas empat puluh lima kursi saya melihat malam hari di Banyuwangi, Jawa Timur, cukup gemerlap. Lampu-lampu...

Read moreDetails

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
0
Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

Read moreDetails

Ke Pacet Mereka Kembali

by Jaswanto
June 2, 2026
0
Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

Read moreDetails

Mereka Menunggu di Setia Darma 

by Dede Putra Wiguna
May 29, 2026
0
Mereka Menunggu di Setia Darma 

LANGIT mendung siang itu terasa menenangkan. Sepasang turis asing berjalan pelan menyusuri jalan kecil yang dikelilingi semak dan rimbun pohon....

Read moreDetails

Menilik Petilasan Gajah Mada di Kebumen: Upaya Literasi Sejarah

by Chusmeru
May 25, 2026
0
Menilik Petilasan Gajah Mada di Kebumen: Upaya Literasi Sejarah

MENYIMPAN jejak sejarah panjang, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah mungkin tak setenar kota-kota besar di Indonesia. Namun keberadaan Kebumen tak bisa...

Read moreDetails

Kota Tua Tak Pernah Mati

by I Nyoman Tingkat
May 24, 2026
0
Kota Tua Tak Pernah Mati

PROGRAM Study Tiru selama tiga hari bersama Panglingsir/Bandesa Adat se- Badung dengan tujuan utama ke Baduy Luar pada Jumat Paing...

Read moreDetails

Oleh-Oleh dari Baduy Luar

by I Nyoman Tingkat
May 23, 2026
0
Oleh-Oleh dari Baduy Luar

MENGIKUTI rombongan Desa Adat se-Kabupaten Badung melakukan Study Tiru ke Baduy Luar, Provinsi Banten, Jumat Paing Gumbreg 15 Mei 2026,...

Read moreDetails

Berguru ke Baduy Luar

by I Nyoman Tingkat
May 21, 2026
0
Berguru ke Baduy Luar

SETELAH rombongan Desa Adat se-Kabupaten Badung melakukan persembahyangan di Pura Aditya Jaya Rawangun Jakarta Timur pada Kamis Umanis Gumbreg, 14...

Read moreDetails

BTR Ultra 2026 dan Hal-hal yang Menjadikannya Prestisius

by Julio Saputra
May 20, 2026
0
BTR Ultra 2026 dan Hal-hal yang Menjadikannya Prestisius

Roses are red Violets are blue 106,20 KM? WTF is wrong with you? SEBUAH papan merah bertuliskan kata-kata di atas...

Read moreDetails
Next Post
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

Ruang Publik [Semestinya] Menjadi Cermin Jiwa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bagai Pasukan Perang, Tim Volunteer AVIRAMA “Kejar Sampah” di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Bagai Pasukan Perang, Tim Volunteer AVIRAMA “Kejar Sampah” di Singaraja Literary Festival 2026

BAGAI pasukan di medan perang, petugas kebersihan dalam ajang Singaraja Literary Festival (SLF) 2026 tak membiarkan sepotong sampah pun tertinggal....

by Nyoman Budarsana
July 6, 2026
Disobedience Day dan For Hati Baki, Ketika Keberanian Bertanya Menjadi Bentuk Cinta kepada Bali
Esai

Disobedience Day dan For Hati Baki, Ketika Keberanian Bertanya Menjadi Bentuk Cinta kepada Bali

TIDAK semua bentuk ketidakpatuhan merupakan tindakan negatif. Dalam sejarah peradaban manusia, justru banyak perubahan besar lahir dari keberanian seseorang mengatakan...

by Agung Sudarsa
July 6, 2026
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK
Esai

Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

BISA jadi akan muncul celetukan ‘kalo gak cocok sama gaji yah keluar saja, cari perguruan tinggi yang gajinya besar’. Celetukan...

by Nur Inayah Yushar
July 6, 2026
Pentingnya Menggali Tradisi agar Tidak Mati
Esai

Pentingnya Menggali Tradisi agar Tidak Mati

Tradisi merupakan akar kehidupan suatu masyarakat. Ia bukan sekadar kumpulan kebiasaan yang diwariskan dari generasi ke generasi, melainkan fondasi yang...

by Nyoman Mariyana
July 6, 2026
Membongkar Praktik Artistik Pada Puisi Sebatang Kara: Dalam Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”
Ulas Rupa

Membongkar Praktik Artistik Pada Puisi Sebatang Kara: Dalam Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”

SEPERTI sajian pada menu makan bergizi, yang ditimbang, ditakar, hingga diukur kepada siapa porsi makan ini layak dihidangkan. Kepada tubuh...

by Mahesa Putra
July 6, 2026
Perhelatan Perupa dan Penyair: Pekan Kedua Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”
Pameran

Perhelatan Perupa dan Penyair: Pekan Kedua Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”

PALEMBANG pada 21 Juni 2026 memang sedang garang-garangnya, seolah tidak menyisakan kulit untuk bersantai dan dibelai lembut oleh kehadirannya. Asmaran...

by Adwan SA
July 6, 2026
Antara Sakral dan Profan: Nyongkolan di Persimpangan Budaya Sasak
Kritik Seni

Antara Sakral dan Profan: Nyongkolan di Persimpangan Budaya Sasak

BENTANG alam Lombok tidak hanya sajikan keindahan panorama geografis, juga hadirkan teater kebudayaan yang terus bergerak. Kebudayaan Sasak, inti dari...

by Arief Rahzen
July 6, 2026
Lomba Baca Puisi SLF 2026: Bukti Generasi Muda Bali Tetap Mencintai Sastra
Panggung

Lomba Baca Puisi SLF 2026: Bukti Generasi Muda Bali Tetap Mencintai Sastra

JIKA menyaksikan Lomba Baca Puisi tingkat SMP dalam rangka Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, kekhawatiran bahwa generasi muda semakin jauh...

by Nyoman Budarsana
July 6, 2026
Fingerboard, Lebih dari Sekadar Mainan Anak-Anak
Khas

Fingerboard, Lebih dari Sekadar Mainan Anak-Anak

UJUNG telunjuk dan jari tengah itu bergerak lincah di atas papan beroda sepanjang tak lebih dari sepuluh sentimeter. Sesaat papan...

by Jaswanto
July 6, 2026
Tari Kontemporer “Perempuan di Sawah” Membuka Singaraja Literary Festival 2026
Panggung

Tari Kontemporer “Perempuan di Sawah” Membuka Singaraja Literary Festival 2026

PEMBUKAAN Singaraja Literary Festival (SLF), Jumat, 3 Juli 2026, berlangsung berbeda dari kebiasaan. Bukannya diawali dengan tari penyambutan tradisional seperti...

by Nyoman Budarsana
July 4, 2026
Singaraja Literary Festival 2026, Mengaktivasi Warisan Lontar Melalui Stri Sasana
Khas

Singaraja Literary Festival 2026, Mengaktivasi Warisan Lontar Melalui Stri Sasana

SOSOK-SOSOK perempuan bergerak perlahan menari di atas panggung, mengenakan caping petani dan membawa slepan (daun kelapa yang sudah tua) sebagai...

by Komang Puja Savitri
July 4, 2026
“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana
Ulas Buku

“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love...

by I Nyoman Darma Putra
July 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co