6 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Refleksi Study Tiru ke Baduy Luar 

I Nyoman Tingkat by I Nyoman Tingkat
May 27, 2026
in Tualang
Refleksi Study Tiru ke Baduy Luar 

Rombongan menyerbu warung di Cibungur sekitar 20 km dari Baduy Luar

PROGRAM Study Tiru selama tiga hari bersama Panglingsir/Bandesa Adat se-Badung dengan tujuan utama ke Baduy Luar pada Kamis Umanis Gumbreg, 14 Mei 2026 sampai  Sabtu Pon Gumbreg, 16 Mei 2026 secara umum berjalan lancar.  Pesawat Citylink yang memberangkatkan rombongan dari Bandara Ngurah Rai Denpasar menuju Bandara Soekarno – Hatta di Cengkareng juga lancar tanpa turbulensi. Sepanjang penerbangan cuaca cerah. Wajah para rombongan juga tampak sumringah sampai turun pesawat di Jakarta.

Di halte penjemputan bus, rombongan pakrimik antara lain karena lama menunggu lagi pula panas. Di Bus saya misalnya, ada operan penumpang yang jumlahnya melebihi kapasitas. Lalu, mereka kembali turun mencari bus yang kosong. Sore itu, Jakarta seperti sayong walaupun tidak ada hujan. Susah menemukan langit biru di Jakarta walaupun musim kemarau. Itu efek dari banyaknya bangunan pencakar langit dan terkonsentrasinya pabrik-pabrik industri yang membuat polusi menjadi keseharian ibu kota. Ibu tiri memang kejam, tetapi tidak melebihi kejamnya ibu kota. Di Ibu Kota kesenjangan tampak kasat mata. Bersebelahan dengan gedung pencakar langit, gubuk reot menjadi antithesis. Orang paling kaya ada di ibu kota, orang paling miskin juga. Gde Prama pernah berujar, “Seterang cahaya sama dengan segelap cahaya. Amen apa jeleke, amonto luuange”

 Edo Narayana sang tour leader paling awal minta maaf ketika memandu para panglingsir Desa Adat. Dengan komunikasi yang elegan, ia mencairkan suasana. Ketegangan pun menjadi tenang seketika. Tujuan pertama di Jakarta menuju Pura Aditya Jaya Rawamangun Jakarta Timur. Pakrimik kembali muncul. “Kenapa tidak ke hotel dulu, baru ke Pura sembahyang. Mandi dulu ke hotel, berganti pakaian. Badan segar. Sembahyang jadi nyaman. Tidak tergesa-gesa”, cetetuk seorang panglingsir yang awalnya menggunakan celana panjang dan senteng saja, lalu bergegas ke bus mengenakan pakaian adat madya.

Namun demikian, sambil menunggu Ibu-ibu yang berganti pakaian, kaum lelaki secara umum cepat berganti pakaian. Bahkan beberapa di antara mereka sempat menikmati tipat cantok, rujak,   dan kopi di kantin di Jaba Pura Aditya Jaya Rawangun. Lumayan menghilangkan kantuk dan menahan lapar menjelang sandikala. Persembahyangan berlangsung khusuk di antara deru suara kendaraan yang lalu-lalang di sekitar Pura tertua di Jakarta. Inilah uniknya umat Hindu, hening dalam keramaian. Bahkan ketika Melasti di pantai, turis berbikini pun tidak merobohkan keheningan sembahyang. Dalam pendekatan pembelajaran ini disebut pembelajaran mendalam (deep learning approach) yang sedang dikembangkan di sekolah-sekolah.

Mampir di Pos Ronda Desa Kanekes

Keheningan selama sembahyang di Utama Mandala Pura Aditya Jaya Rawamangun makin menemukan titik kulminasi saat makan malam bersama di Wantilan Jaba Pura yang representatif.             Masakannya khas Bali. Ada kuah ares ayam lengkap dengan satenya. Tersedia babi kecap.  Kerupuk tidak ketinggalan. Lahap semua sang penikmat. Bahkan, saya nambah dengan minta izin kepada Panglingsir MDA Badung. “Mo joo, sing kenken. Iraga ngelah”, begitu Patajuh MDA Badung, I Nyoman Sujapa.

Penyedia makanan memang pangemong Pura Aditya Jaya Rawamangun Jakarta Timur. Mereka melayani kami sepenuh hati. Ikhlas sesuai dengan konsep yadnya itu sendiri. Ini adalah manusa yadnya yang sebenarnya melayani umat dengan lancarya. Itu bila dilihat dari makna yadnya. Dilihat dari kaca mata Gerakan Swadeshi Mahatma Gandhi, fungsi pelayanan demikian mencitrakan kemandirian umat. Dilihat dari kaca mata pembelajaran, belajar dari dekat ke jauh. Dari ranah keluarga ke tetangga. Dari konkret di sini dan sekarang ke abstrak dan ke masa depan. Betapa indahnya. Pendidikan yang memperkuat jati diri lalu dielaborasi ke arah nasional dan global. Menerima kebangsaan sebagai semangat tidak menutup diri dari kesemestaan (globalisasi) asalkan bertumpu  pada kepribadian bangsa.

Begitulah makan bersama panglingsir krama Badung di Jaba Pura terasa manyama braya lintas provinsi. Tidak terasa ada sekat. Semua bebas beretika menikmati makanan. Ada yang duduk bersila di wantilan, ada pula yang duduk di taman. Tampak mereka santai menikmati kuliner Ibu Kota Jakarta rasa Bali. Sebagai mana di Bali orang beryadnya, biasanya ada kopi penundung. Kopi pun tersedia. Rasanya sesuai selera. Campur dan seduh sendiri. Di Jaba Pura Aditya Jaya Rawangun, saya menemukan kembali dapur kehidupan Bali di rantau. Nak rantau Bali yang tetap mem-Bali.

Nunas ica sampun. Makan malam dan ngopi bersama juga sudah. Jiwa lapar perlu pencerahan. Perut lapar perlu makanan. Keduanya didapat di Pura Aditya Jaya Rawamangun. Pura pertama di Ibu kota sejak 1972 telah membangunkan kesadaran kolektif umat Hindu di Jakarta hingga sekarang tersedia 15 Pura sebagai pilihan umat melaksanakan persembahyangan.

Selanjutnya, rombongan menuju hotel tempat menginap, The Tavia Heretage Hotel dengan persiapan ke Baduy Laur esok harinya, Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026. Pagi-pagi, pukul 07.00 siap-siap naik bus setelah sarapan di restoran hotel. Perjalanan jauh sampai-sampai tour leader Edo Narayana menyembunyikan waktu tempuh sembari memfasiltasi penumpang untuk berkaraoke ria sepanjang perjalanan dengan sesekali penumpang request tempat istirahat yang nyaman untuk melakukan ritus tubuh mencari kamar kecil strategis tapi tidak tragis.

Mendekati Baduy Luar, sampai di Desa Cibungur sekitar 20 km dari tujuan lokasi, bus menepi. Jalan tak bisa dilewati bus. Perbaikan jalan dengan teknik beton. Maka rombongan pun menyerbu warung dan rumah penduduk. Ada yang ngopi, ada yang ngobrol ke rumah penduduk, ada yang pergi ke semak-semak melakukan ritus tubuh pentas air seni. Berdialog dengan alam, sembari mohon izin. “Ngelang genah, ngelang galah” pada Gusti Allah mangda tan kacakra bawa. Begitulah orang Bali di tempat baru, kadang doanya tidak terpanjat secara verbal, tetapi selalu ning hati. Percaya bahwa Tuhan di hati masing-masing tetapi raga juga perlu refreshing, agar tidak pusing bikin pesing aroma tubuh.

Lalu rombongan pun pecah kongsi alat transpotasi menuju terminal Ciboleger, gerbang pertama memasuki Baduy Luar. Ada yang bertruk, ber-pick up, dan berojek. Saya bersama sejumlah panglingsir ikut naik pick up. Ada yang berdiri ada yang duduk sambil ngobrol ngalor-ngidul. Mengusir rasa takut. Jalanan menurun tanjakan pengkolan dengan alam pedesaan yang berhutan hijau kanan-kiri hanya sesekali tampak rumah penduduk. Benar-benar masih alami. Saya berdoa di hati. Tidak terasa sampai di terminal Ciboleger. Di terminal ini, sejumlah pengojek dan pedagang menawarkan jasa dan barang. Saya termasuk kena jebak dengan berojek  mengeluarkan kocek Rp 10.000,00. Teman yang lain mengeluarkan Rp 20.000,00. Artinya, di terminal Ciboleger dan terminal pada umumnya harga ojek tidak ada standarnya. Fenomena ini merusak citra jasa angkutan sekaligus merusak citra destinasi pariwisata Baduy Luar.

Makan siang bersama di rumah Pak Jarwo, Kepala Adat Kanekes Baduy Luar

Jika memperhatikan dengan seksama, Baduy Luar itu ibaratnya hallo efek untuk masuk Baduy Dalam yang konon sangat ketat dengan aturan adat. Bila masuk ke Baduy Dalam tidaklah mungkin dengan rombongan besar. Selain medannya relatif susah tanjakan bukit turunan lembah dengan suasana alam pedesaan yang alami hanya bisa ditempuh dengan jalan kaki. Penduduk setempat biasa berjalan berkilo-kilo tanpa sandal. Saya jadi ingat masa 1980-an di gumi Delod Ceking, Badung. Penduduk biasa berjalan berkilo-kilo tanpa sandal menahan haus dan lapar. Banyak yang blencongan (kelaparan) tak terberitakan karena akses informasi dan transportasi terbatas.

Begitu pula yang terasa ketika rombongan panglingsir Badung study tiru ke Baduy Luar merefleksikan beragama, beradat, berbudaya secara sederhana tetapi nekeng tuas. Tulus ikhlas sebagai landasan beritus. Beryadnya sederhana tampak di permukaan, tetapi mendalam secara spirit. Indikator keberhasilannya, selesai yadnya mereka tetap guyub pakedek pakenyung paras paros sarpa na ya. Salunglung sabayantaka. [T]

Tags: Badungdesa adatmasyarakat adatSuku BaduySuku Baduy Luar
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Rekonstruksi Hak Waris dalam Perkawinan Beda Agama: Perspektif Hukum Keluarga dan Agraria

Next Post

Ruang Publik [Semestinya] Menjadi Cermin Jiwa

I Nyoman Tingkat

I Nyoman Tingkat

Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali

Related Posts

Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

by Dewa Ayu Windu
August 31, 2026
0
Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

GEMERICIK air Sungai Pakerisan terdengar bak nada alam yang konstan, membelah kesunyian lembah di Desa Adat Penaka, Tampaksiring, Gianyar, Bali....

Read moreDetails

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
0
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

Read moreDetails

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
0
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

Read moreDetails

“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

by Luh Putu Sendratari
August 18, 2026
0
“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

SABTU, 15 Agustus 2026 tanpa direncanakan sebelumnya saya ada di Desa Bengkala. Bersama teman2 dari Universitas Pancasila (Dr Kunthi Tridewiyanti,...

Read moreDetails

Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

by I Nyoman Tingkat
August 16, 2026
0
Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

PEMILIHAN Duta SMA Tingkat Nasional Tahun 2026 dipusatkan di Kota Yogyakarta tepatnya di Indoluxe Hotel sebagai tempat belajar di kelas....

Read moreDetails

Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

by Laurensia Junita Della
August 15, 2026
0
Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

Ada kalanya rutinitas yang padat membuat kita ingin sejenak menjauh dari hiruk-pikuk kehidupan. Di tengah kesibukan yang seolah tidak ada...

Read moreDetails

Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

by Ahmad Sihabudin
August 10, 2026
0
Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

"Tempat-tempat tertentu tidak pernah benar-benar kita tinggalkan. Yang pergi sesungguhnya hanyalah usia kita." KEMARIN saya kembali mengunjungi Situ Cipondoh. Niatnya...

Read moreDetails

Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  

by I Nyoman Tingkat
August 7, 2026
0
Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  

Sejak dahulu, Jimbaran, Kedonganan, Kelan, dan Kuta adalah daerah nelayan. Namun, yang terkenal hanya Jimbaran dan Kuta. Ketika Asosiasi Kepala...

Read moreDetails

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
0
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

Read moreDetails

Mencari Rasa di Ranah Minang: Negeri yang Berbicara Lewat Masakan

by Ahmad Sihabudin
July 27, 2026
0
Mencari Rasa di Ranah Minang: Negeri yang Berbicara Lewat Masakan

"Perjalanan yang baik bukan sekadar memindahkan tubuh dari satu kota ke kota lain. Ia memindahkan cara pandang kita terhadap kehidupan."...

Read moreDetails
Next Post
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

Ruang Publik [Semestinya] Menjadi Cermin Jiwa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul
Khas

Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

"CERAKEN BALI: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul". Itulah tema HUT VII SMA Negeri 2 Kuta Selatan...

by I Nyoman Tingkat
September 6, 2026
Ubud Art Collect: Antara Batas dan Persimpangan
Kritik Seni

Ubud Art Collect: Antara Batas dan Persimpangan

MULANYA saya kira peristiwa akbar semacam art fair hanya bisa dijangkau oleh orang-orang berduit, tentunya dari para kolektor yang siap...

by Made Chandra
September 6, 2026
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’
Opini

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
Topi Para Penyintas Kanker
Esai

Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

by Angga Wijaya
September 5, 2026
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri
Cerpen

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery
Puisi

Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

Mother's Bakery Hari-hari terasa menghisap paracetamolPahitnya mengendap hingga ke ujung hatiBumi menyediakan sirup, namun maple pun sulit menyatukan yang retakIbu...

by Ni Putu Puspa Trisnawati
September 5, 2026
Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan
Esai

Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan

Kita mengajarkan anak mencintai lingkungan. Tetapi, berapa banyak sekolah yang benar-benar memberi anak pengalaman mencintai lingkungan? PERTANYAAN sederhana itu patut...

by I Wayan Yudana
September 5, 2026
Labirin Bahasa di Sekitar Kita
Bahasa

Labirin Bahasa di Sekitar Kita

PERNAHKAH Anda memperhatikan bagaimana sebuah kata bekerja di media sosial atau di obrolan sehari-hari? Kita sering mengira bahasa itu seperti...

by I Made Sudiana
September 4, 2026
Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang
Esai

Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang

 “Mau diberikan ke mama. Karena di rumah tidak ada nasi.” Muhammad Suleman Datau mengatakannya ketika teman-temannya mulai membuka kotak makanan...

by Ahmad Fatoni
September 4, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [9]: Seperti Dendam, Seperti Ronggeng: Karya yang Bertahan

DIAGNOSIS tentang Sastra Perhatian bukan pernyataan bahwa seluruh ekosistem sastra Indonesia sudah menyerah pada logikanya. Pernyataan semacam itu terlalu mudah...

by Andre Syahreza
September 4, 2026
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana
Opini

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co