2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ruang Publik [Semestinya] Menjadi Cermin Jiwa

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
May 28, 2026
in Esai
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

Ahmad Sihabudin

RUANG publik dalam sebuah negara semestinya menjadi tempat di mana akal sehat, etika, dan tanggung jawab bertemu. Ia bukan sekadar panggung tampil, melainkan ruang perjumpaan gagasan demi kepentingan bersama. Namun yang kita saksikan hari ini, di berbagai isu kenegaraan, dari kebijakan ekonomi, penegakan hukum, konflik sosial, hingga tata kelola pemerintahan, justru menunjukkan kecenderungan yang mengkhawatirkan.

Elite politik, juru bicara, bahkan figur publik yang seharusnya menjaga martabat diskursus, kerap hadir dengan narasi dikotomis: membelah realitas menjadi hitam-putih, kami-mereka, benar-salah secara simplistik.

Fenomena ini bukan hanya muncul dalam momentum pemilihan umum, tetapi juga dalam respons terhadap berbagai persoalan bangsa. Ketika terjadi krisis, alih-alih menghadirkan ketenangan dan kejernihan berpikir, sebagian elite justru memperkeruh keadaan dengan retorika yang menyudutkan pihak lain. Kritik yang semestinya menjadi bagian dari mekanisme kontrol berubah menjadi serangan personal. Perbedaan pandangan dipersepsikan sebagai ancaman, bukan kekayaan perspektif.

Dalam kerangka Jürgen Habermas, ruang publik ideal adalah arena deliberatif yang bebas dari dominasi, di mana argumen diuji melalui rasionalitas, bukan melalui kekuasaan atau manipulasi emosi. Namun yang terjadi kini adalah kolonisasi ruang publik oleh kepentingan, bahasa menjadi alat propaganda, bukan sarana komunikasi. Diskursus publik kehilangan kedalaman, karena yang ditonjolkan bukan substansi, melainkan sensasi.

Lebih jauh, jika kita menengok tradisi filsafat sufi, persoalan ini tidak hanya dilihat sebagai krisis komunikasi, tetapi juga krisis batin. Dalam pandangan Jalaluddin Rumi, kata-kata adalah cermin dari keadaan jiwa. “Apa yang keluar dari mulutmu, menunjukkan siapa dirimu,” kira-kira demikian esensinya. Ketika ruang publik dipenuhi oleh ujaran kasar, sindiran merendahkan, dan dikotomi yang memecah, itu bukan sekadar kesalahan strategi komunikasi itu adalah refleksi dari jiwa yang belum jernih.

Sufisme mengajarkan tentang tazkiyatun nafs, penyucian diri. Seorang manusia, apalagi yang tampil di ruang publik, dituntut untuk menundukkan ego (nafs) sebelum berbicara tentang kebenaran. Sebab ego yang tidak terkendali akan selalu mencari pembenaran, bukan kebenaran itu sendiri. Dalam konteks ini, dikotomi narasi yang sering digunakan elit politik dapat dibaca sebagai ekspresi dari ego kolektif: keinginan untuk selalu benar, untuk selalu unggul, bahkan jika harus merendahkan yang lain.

Pandangan serupa juga dapat kita temukan dalam pemikiran Al-Ghazali, yang menekankan pentingnya adab dalam berbicara. Bagi Al-Ghazali, ilmu tanpa adab adalah kehampaan. Maka, kepandaian retorika yang tidak disertai etika hanya akan melahirkan kerusakan. Dalam banyak kasus hari ini, kita melihat bagaimana kecakapan berbicara digunakan untuk membingkai realitas secara manipulatif, bukan untuk menerangi kebenaran.

Ketika elite tampil di media; baik televisi, forum diskusi, maupun media sosial, mereka sejatinya tidak hanya membawa suara pribadi atau kelompok, tetapi juga membawa tanggung jawab moral sebagai representasi negara. Sayangnya, kesadaran ini sering kali memudar. Ruang publik diperlakukan seperti arena kompetisi tanpa batas, di mana yang penting adalah menang argumen, bukan menemukan titik temu.

Dikotomi narasi yang terus diproduksi ini memiliki dampak yang serius. Ia membentuk cara berpikir masyarakat menjadi serba instan dan dangkal. Publik didorong untuk memilih sisi, bukan untuk memahami persoalan. Dalam jangka panjang, hal ini melemahkan kapasitas kolektif bangsa untuk berdialog secara sehat. Kita menjadi mudah terpolarisasi, mudah tersulut emosi, dan sulit membangun konsensus.

Padahal, dalam tradisi sufi, perbedaan bukanlah ancaman, melainkan jalan menuju pemahaman yang lebih dalam. Ibn Arabi pernah mengungkapkan bahwa kebenaran memiliki banyak wajah, dan manusia hanya mampu menangkap sebagian darinya. Kesadaran ini melahirkan kerendahan hati intelektual, sebuah sikap yang tampaknya semakin langka dalam diskursus publik kita.

***

Apa yang hilang dari ruang publik kita hari ini bukan sekadar etika komunikasi, tetapi juga kebijaksanaan. Kita memiliki banyak orang pintar, tetapi sedikit yang benar-benar bijak. Banyak yang mampu berbicara panjang lebar, tetapi sedikit yang mampu mendengar dengan sungguh-sungguh. Dalam kondisi seperti ini, ruang publik tidak lagi menjadi tempat mencari kebenaran bersama, melainkan arena mempertahankan posisi masing-masing.

Mengembalikan kesehatan ruang publik bukan perkara mudah, tetapi bukan pula mustahil. Ia harus dimulai dari kesadaran individu, terutama para elite dan juru bicara, untuk menahan diri dari godaan retorika yang memecah. Berbicara dengan adab, menyampaikan kritik dengan hormat, dan menghindari dikotomi yang menyederhanakan realitas adalah langkah awal yang penting.

Di sisi lain, masyarakat juga perlu mengembangkan kedewasaan dalam menerima informasi. Tidak semua yang keras itu benar, dan tidak semua yang halus itu lemah. Literasi tidak hanya soal memahami teks, tetapi juga memahami niat di balik teks.

Pada akhirnya, ruang publik adalah cerminan dari kualitas batin kolektif kita. Jika ia dipenuhi oleh kebisingan ego, maka yang lahir adalah kekacauan. Namun jika ia diisi dengan kejernihan hati dan ketulusan mencari kebenaran, maka di sanalah harapan akan negara yang lebih adil dan beradab menemukan jalannya.

Seperti yang diajarkan dalam tradisi sufi: memperbaiki dunia tidak dimulai dari mengalahkan orang lain, tetapi dari menaklukkan diri sendiri. Dan mungkin, di situlah kita perlu memulai kembali, dari dalam, sebelum berbicara ke luar. [T]

Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole

Tags: demokrasiPolitikpublic speakingruang publik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Refleksi Study Tiru ke Baduy Luar 

Next Post

Dilatih Prof. Dibia, Mahasiswa Korea Siap Pentaskan Kecak di Pesta Kesenian Bali 2026

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Dilatih Prof. Dibia, Mahasiswa Korea Siap Pentaskan Kecak di Pesta Kesenian Bali 2026

Dilatih Prof. Dibia, Mahasiswa Korea Siap Pentaskan Kecak di Pesta Kesenian Bali 2026

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co