23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ruang Publik [Semestinya] Menjadi Cermin Jiwa

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
May 28, 2026
in Esai
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

Ahmad Sihabudin

RUANG publik dalam sebuah negara semestinya menjadi tempat di mana akal sehat, etika, dan tanggung jawab bertemu. Ia bukan sekadar panggung tampil, melainkan ruang perjumpaan gagasan demi kepentingan bersama. Namun yang kita saksikan hari ini, di berbagai isu kenegaraan, dari kebijakan ekonomi, penegakan hukum, konflik sosial, hingga tata kelola pemerintahan, justru menunjukkan kecenderungan yang mengkhawatirkan.

Elite politik, juru bicara, bahkan figur publik yang seharusnya menjaga martabat diskursus, kerap hadir dengan narasi dikotomis: membelah realitas menjadi hitam-putih, kami-mereka, benar-salah secara simplistik.

Fenomena ini bukan hanya muncul dalam momentum pemilihan umum, tetapi juga dalam respons terhadap berbagai persoalan bangsa. Ketika terjadi krisis, alih-alih menghadirkan ketenangan dan kejernihan berpikir, sebagian elite justru memperkeruh keadaan dengan retorika yang menyudutkan pihak lain. Kritik yang semestinya menjadi bagian dari mekanisme kontrol berubah menjadi serangan personal. Perbedaan pandangan dipersepsikan sebagai ancaman, bukan kekayaan perspektif.

Dalam kerangka Jürgen Habermas, ruang publik ideal adalah arena deliberatif yang bebas dari dominasi, di mana argumen diuji melalui rasionalitas, bukan melalui kekuasaan atau manipulasi emosi. Namun yang terjadi kini adalah kolonisasi ruang publik oleh kepentingan, bahasa menjadi alat propaganda, bukan sarana komunikasi. Diskursus publik kehilangan kedalaman, karena yang ditonjolkan bukan substansi, melainkan sensasi.

Lebih jauh, jika kita menengok tradisi filsafat sufi, persoalan ini tidak hanya dilihat sebagai krisis komunikasi, tetapi juga krisis batin. Dalam pandangan Jalaluddin Rumi, kata-kata adalah cermin dari keadaan jiwa. “Apa yang keluar dari mulutmu, menunjukkan siapa dirimu,” kira-kira demikian esensinya. Ketika ruang publik dipenuhi oleh ujaran kasar, sindiran merendahkan, dan dikotomi yang memecah, itu bukan sekadar kesalahan strategi komunikasi itu adalah refleksi dari jiwa yang belum jernih.

Sufisme mengajarkan tentang tazkiyatun nafs, penyucian diri. Seorang manusia, apalagi yang tampil di ruang publik, dituntut untuk menundukkan ego (nafs) sebelum berbicara tentang kebenaran. Sebab ego yang tidak terkendali akan selalu mencari pembenaran, bukan kebenaran itu sendiri. Dalam konteks ini, dikotomi narasi yang sering digunakan elit politik dapat dibaca sebagai ekspresi dari ego kolektif: keinginan untuk selalu benar, untuk selalu unggul, bahkan jika harus merendahkan yang lain.

Pandangan serupa juga dapat kita temukan dalam pemikiran Al-Ghazali, yang menekankan pentingnya adab dalam berbicara. Bagi Al-Ghazali, ilmu tanpa adab adalah kehampaan. Maka, kepandaian retorika yang tidak disertai etika hanya akan melahirkan kerusakan. Dalam banyak kasus hari ini, kita melihat bagaimana kecakapan berbicara digunakan untuk membingkai realitas secara manipulatif, bukan untuk menerangi kebenaran.

Ketika elite tampil di media; baik televisi, forum diskusi, maupun media sosial, mereka sejatinya tidak hanya membawa suara pribadi atau kelompok, tetapi juga membawa tanggung jawab moral sebagai representasi negara. Sayangnya, kesadaran ini sering kali memudar. Ruang publik diperlakukan seperti arena kompetisi tanpa batas, di mana yang penting adalah menang argumen, bukan menemukan titik temu.

Dikotomi narasi yang terus diproduksi ini memiliki dampak yang serius. Ia membentuk cara berpikir masyarakat menjadi serba instan dan dangkal. Publik didorong untuk memilih sisi, bukan untuk memahami persoalan. Dalam jangka panjang, hal ini melemahkan kapasitas kolektif bangsa untuk berdialog secara sehat. Kita menjadi mudah terpolarisasi, mudah tersulut emosi, dan sulit membangun konsensus.

Padahal, dalam tradisi sufi, perbedaan bukanlah ancaman, melainkan jalan menuju pemahaman yang lebih dalam. Ibn Arabi pernah mengungkapkan bahwa kebenaran memiliki banyak wajah, dan manusia hanya mampu menangkap sebagian darinya. Kesadaran ini melahirkan kerendahan hati intelektual, sebuah sikap yang tampaknya semakin langka dalam diskursus publik kita.

***

Apa yang hilang dari ruang publik kita hari ini bukan sekadar etika komunikasi, tetapi juga kebijaksanaan. Kita memiliki banyak orang pintar, tetapi sedikit yang benar-benar bijak. Banyak yang mampu berbicara panjang lebar, tetapi sedikit yang mampu mendengar dengan sungguh-sungguh. Dalam kondisi seperti ini, ruang publik tidak lagi menjadi tempat mencari kebenaran bersama, melainkan arena mempertahankan posisi masing-masing.

Mengembalikan kesehatan ruang publik bukan perkara mudah, tetapi bukan pula mustahil. Ia harus dimulai dari kesadaran individu, terutama para elite dan juru bicara, untuk menahan diri dari godaan retorika yang memecah. Berbicara dengan adab, menyampaikan kritik dengan hormat, dan menghindari dikotomi yang menyederhanakan realitas adalah langkah awal yang penting.

Di sisi lain, masyarakat juga perlu mengembangkan kedewasaan dalam menerima informasi. Tidak semua yang keras itu benar, dan tidak semua yang halus itu lemah. Literasi tidak hanya soal memahami teks, tetapi juga memahami niat di balik teks.

Pada akhirnya, ruang publik adalah cerminan dari kualitas batin kolektif kita. Jika ia dipenuhi oleh kebisingan ego, maka yang lahir adalah kekacauan. Namun jika ia diisi dengan kejernihan hati dan ketulusan mencari kebenaran, maka di sanalah harapan akan negara yang lebih adil dan beradab menemukan jalannya.

Seperti yang diajarkan dalam tradisi sufi: memperbaiki dunia tidak dimulai dari mengalahkan orang lain, tetapi dari menaklukkan diri sendiri. Dan mungkin, di situlah kita perlu memulai kembali, dari dalam, sebelum berbicara ke luar. [T]

Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole

Tags: demokrasiPolitikpublic speakingruang publik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Refleksi Study Tiru ke Baduy Luar 

Next Post

Dilatih Prof. Dibia, Mahasiswa Korea Siap Pentaskan Kecak di Pesta Kesenian Bali 2026

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Dilatih Prof. Dibia, Mahasiswa Korea Siap Pentaskan Kecak di Pesta Kesenian Bali 2026

Dilatih Prof. Dibia, Mahasiswa Korea Siap Pentaskan Kecak di Pesta Kesenian Bali 2026

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co